CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLVIII
Barisan Malaikat Pencabut Nyawa

Jauh sebelum Prabu Jannapati dan para adipati yang menjadi lawannya melihat kepulan asap dari terbakarnya perbekalan Kerajaan Watu Galuh, Rangga dan para pimpinan yang lain sudah mendapat kabar lebih dahulu.

Senapati Branjangan yang berlari cepat, menyampaikan berita.

“Sebentar lagi, kira-kira sepenanakan nasi lagi, rombongan perbekalan itu mungkin sudah sampai.”, ujar Senapati Branjangan melapor pada Raden Rangga.

Raden Rangga mengangguk, “Bagus, paman sekarang ingin beristirahat dulu? Atau bergabung dengan kita untuk bertempur?”

“Tentu saja bertempur Raden.”, jawab Senapati Branjangan cepat.

Raden Rangga tersenyum, “Kalau begitu, paman ikut jadi senapati pengiringku.”

“Siap raden”, jawab Senapati Branjangan.

Tidak membuang waktu lagi, Rangga menggerakkan kudanya maju ke depan barisan, dan berbalik menghadap ke arah pasukannya yang berbaris rapi. Sekilas barisan Senapati Lesmana tak kalah rapi, tapi jika mau melihat lebih teliti akan terlihat bedanya. Sikap disiplin dan semangat yang menyatu tergambar dengan jelas dari pasukan Raden Rangga.

“Pasukan! Bersiap!”, suara Rangga lantang terdengar, anak-anak muda yang menjadi prajurit dengan segera memasang telinga baik-baik.

“Dengar! Dalam beberapa kali pertempuran sebelumnya, kita beruntung tak banyak dari kita yang gugur...”, kata Rangga dengan suara yang jernih mencapai sudut-sudut yang terjauh dari pasukannya.

“Namun jangan pernah berpikir, ada perjuangan tanpa pengorbanan. Jangan pernah bermimpi kita akan mencapai cita-cita sebagai sebuah bangsa, tanpa ada darah yang tertumpah.”, seru Rangga dengan serius.

“Sekarang kalian lihat di depan kalian, ribuan prajurit yang menghadang jalan kita untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Mereka berdiri, berbaris di sana dengan senjata di tangan, bukan karena kita menyerang mereka! Bukan karena kita mengancam kehidupan mereka! Bukan karena suatu perjuangan atau cita-cita! Mereka berdiri di sana dengan senjata di tangan, karena perintah tuannya! Karena kedegilan dan keserakahan tuan mereka!”, seru Rangga membakar emosi pasukannya.

Senapati Lesmana yang mendengar seruan Rangga pada prajurit-prajuritnya tak mau tinggal diam, dengan suara lantang dia berseru, “Jangan berbohong Rangga! Kau menggerakkan pasukanmu untuk menyerang Kadipaten Serayu! Rumah kami! Penduduk yang sekarang berlindung di belakang tembok kota akan menjadi korban kekerasan jika kami tidak menghentikan kau di sini!”

Raden Rangga berbalik menghadap ke arah Senapati Lesmana, tertawa dan menyahut, “Kalau begitu, kalian mundurlah ke dekat tembok kota, dan lihat bagaimana kami hanya akan berjalan melewati Kadipaten Serayu tanpa sedikitpun menyerang kalian!'

“Hah! Aku tak percaya pada kata-katamu!”, jawab Senapati Lesmana.

“Jadi bagaimana? Kau meminta kami diam di sini? Menunggu Prabu Jannapati membantai kami?”, tanya Rangga dengan nada mengejek.

Tanpa menunggu Senapati Lesmana menjawab, Rangga berbalik kembali menghadap ke arah prajuritnya, “Kalian lihat, mereka tidak akan menyingkir, sementara masa depan kita ada di depan sana! Akan tetapi yang kita hadapi kali ini adalah pasukan yang utuh, bukan seperti gerombolan begal yang pernah kita hadapi sebelumnya.”

“Apa kalian merasa takut!?”, Rangga bertanya menantang pasukannya.

“TIDAK!”, jawab seluruh prajurit dengan serempak.

“Beberapa orang dari kita akan menderita luka, bahkan mungkin harus menyerahkan nyawa, menjadi tumbal bagi masa depan kita semua. Apa kalian takut!?”, tantang Rangga untuk kedua kalinya.

“TIDAK!”, jawab seluruh prajurit dengan bergemuruh.

“Bagus! Sekarang pasukan, bersiap! Pasukan perisai maju ke barisan depan!”, seru Rangga memberikan perintah.

“Pasukan panah! Berbaris di lapis kedua!”

“Pasukan bertombak! Lindungi sayap kanan dan kiri!”

Berturut-turut Rangga memberikan perintah. Tiap perintah juga dibarengi panji-panji yang menandakan kesatuan mana yang ditugaskan berkibar bergantian. Pasukannya bergerak dengan cepat, namun tidak membuat barisan mereka berantakan. Senapati Lesmana mengamati dari kejauhan, dalam hati dia menimbang-nimbang.

Mungkin ini kesempatan untuk mengirimkan serangan yang cepat, mencuri kesempatan ketika barisan Rangga belum tertata.

Senapati Lesmana ragu-ragu, dilihatnya pasukan Rangga bergerak dengan rapih, tak memberikan kesan mereka akan bubar berantakan jika diserang. Selain itu ada kesatuan-kesatuan Rangga di sayap barisan yang bisa bergerak bebas dan bisa menerima perintah setiap saat.

'Hmm... apa aku harus berbalik menjadi penyerang...', Senapati Lesmana tak bisa memutuskan.

Sebagai pasukan yang bertahan, memberi dia waktu dan kesempatan untuk memilih posisi yang terbaik di medan pertempuran. Jika Rangga ingin menerobos garis pertahanan mereka, dia harus mengorbankan pasukannya hanya untuk bergerak memasuki jarak serang.

Saat ini mungkin kesempatan yang baik untuk memberikan satu pukulan pada pasukan Rangga, tapi jika dia mengirim kesatuan yang tidak cukup kuat, tidak akan ada gunanya. Jika dia mengirimkan seluruh pasukan, maka dia harus meninggalkan posisi pertahanan yang sudah baik ini.

'Mereka bergerak sangat cepat...', Senapati Lesmana berseru dalam hati dengan perasaan terkejut.

Dalam waktu yang relatif sangat singkat, pasukan Rangga sudah berubah formasi sesuai dengan perintah-perintah yang diberikan. Inilah hasil latihan selama berbulan-bulan. Berulang-ulang melatih mereka bagaimana berbaris, bagaimana mengikuti instruksi dan sebagainya. Secara orang per orangan, mungkin prajurit Rangga tak sekuat prajurit yang dipimpin Senapati Lesmana.

Namun sebagai satu kesatuan, mereka bekerja dengan ketepatan, kecepatan dan kedisiplinan, yang jauh lebih baik.

“Pasukan! Serang!”, seru Rangga sambil berderap maju ke depan, sebagai pemimpin dia memilih memimpin di depan seluruh pasukan.

Seperti gelombang ombak, ribuan orang berbaris maju dengan serempak.

Rangga mengatur barisannya menyebar dalam garis yang memanjang. Butuh kepemimpinan yang kuat dari masing-masing pimpinan kesatuan agar garis yang panjang itu bisa berbaris maju dalam satu garis yang lurus, tapi mereka berhasil melakukannya.

Gerakan yang serempak, membuat ribuan orang itu tampak bukan seperti ribuan prajurit, tapi satu raksasa yang bergerak maju.

Baru kali ini prajurit-prajurit di bawah pimpinan Senapati Lesmana menghadapi lawan yang seperti itu. Selama ini mereka mengunggulkan kehebatan pribadinya masing-masing. Bahkan ketika bertarung sebagai satu kelompok, melawan kelompok lain, yang terjadi adalah sekian puluh orang, melawan sekian puluh orang.

Bukan seperti saat ini, ribuan orang prajurit Rangga seakan melebur, menjadi satu eksistensi, satu kekuatan yang tidak terpisahkan.

Bayangkan bedanya menghadapi ribuan batu-batu kecil yang terserak, sebanyak-banyaknya mereka, mereka tetaplah batu. Tetapi jika mereka tersusun, bahkan melebur menjadi satu kesatuan, mereka menjadi bukit batu.

Melihat hujan ribuan batu kecil berjatuhan dari langit, atau satu bukit besar jatuh dari langit, meskipun secara mana yang lebih berbahaya memiliki lebih dan kurangnya sendiri, tapi dari sisi psikologis, jatuh satu bukit batu besar ternyata membawa perbawa yang lebih menakutkan.

Pasukan Rangga tampak seperti satu kekuatan raksasa yang tidak bisa ditaklukkan.

Prajurit-prajurit di bawah pimpinan Senapati Lesmana, tiba-tiba merasa dirinya kecil di hadapan pasukan Rangga. Merasa tidak aman, meskipun mereka berada dalam satu barisan bersama ribuan prajurit yang lain.

Senapati Lesmana berseru keras, “PASUKAN BERSIAP!”

Meskipun tidak menghilangkan rasa takut dalam hati prajuritnya, setidaknya seruan itu menggugah mereka untuk kembali menjejak bumi.

“Siapkan panah!”, seru Senapati Lesmana.

Di pihak Rangga, pasukannya berbaris maju tanpa terburu-buru, berbaris dalam langkah-langkah yang tetap dan tegap.

“Pasukan perisai bersiap menghadang serangan panah lawan!”, seru Rangga pada pasukannya.

Tiba-tiba dari beberapa tempat yang terpisah-pisah, di antara barisan pasukan Kadipaten Jambangan, terlihat puluhan panah meluncur menyerang ke arah pasukan Rangga. Prajurit Kadipaten Jambangan yang sudah menunggu dengan perasaan tegang, saat itu juga mulai melepaskan serangan panah ke arah pasukan Rangga.

“BERHENTI!”, seru Rangga sambil mengankat tangan.

Para pimpinan kesatuan dengan sigap, memberikan komando pada prajurit di bawah pimpinan mereka masing-masing, “Satu...dua.... Berhenti!”

“Satu.. dua... berhenti!”

Demikian terdengar dengan serempak di sepanjang barisan, seluruh barisan yang panjang itu pun, dalam dua langkah setelah Rangga memberikan perintah, berhenti. Seluruhnya berhenti dengan serempak.

Diam, tegap, tidak ada suara, tidak ada yang berdiri sambil bergoyang atau apa pun. Benar-benar diam, sementara di atas langit, ribuan panah berterbangan.

Senapati Lesmana terkejut melihat prajurit-prajuritnya mulai memanah pasukan Rangga tanpa aba-aba dari dirinya. Namun yang membuat dia tertegun lebih lama, bukanlah ketidak disiplinan prajuritnya sendiri, yang sedikit banyak sudah dia ketahui.

Yang membuat dia tertegun dan lupa memerintahkan pasukannya untuk berhenti memanah adalah kedisiplinan pasukan Rangga. Bagaimana dengan satu perintah, ribuan orang berhenti bergerak, tidak ada yang mundur, tidak ada yang bergeming, melihat ribuan, bahkan belasan ribu anak panah terbang di atas langit.

Untuk sesaat seperti awan yang terbang dengan pesat, belasan ribu panah itu membuat sebagian langit terlihat hitam.

Dan sesaat kemudian mereka mulai berjatuhan seperti tetesan air hujan.

“Pu! Pu! Pu! Pu! Pu! Pu! Pu! Pu!”

Anak-anak panah itu meluncur menancap ke atas permukaan tanah, beberapa langkah jauhnya dari pasukan Rangga.

Pasukan Rangga hanya diam menatap lurus ke depan. Rangga, Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan yang memimpin jauh di depan, dengan tenang memutar senjata mereka masing-masing dan beberapa anak-anak panah yang menuju ke arah mereka dengan mudah mereka jatuhkan.

Namun masih ada pemandangan yang lebih menggetarkan Senapati Lesmana.

Belasan atau puluhan anak panah, meluncur lebih jauh dari anak panah yang lain. Maklum karena prajurit-prajuritnya yang asal memanah, sehingga sasaran mereka pun asal sesuai dengan hati mereka yang gundah itu.

Belasan anak panah ini meluncur cukup jauh dan mencapai barisan lawan.

Namun semua prajurit Rangga tetap diam tak bergerak, sesuai dengan perintah yang diberikan.

“Serr.... wzz....!”, sebatang panah lewat dekat, menggores paha seorang prajurit sebelum menancap ke atas tanah, dekat kaki prajurit yang satu barisan di belakang prajurit tersebut.

Namun keduanya tetap diam dan berdiri tegak, dengan sorot mata tajam menatap ke arah barisan lawan.

“Serr... crap! Ugh..!”, sebatang anak panah meluncur dan menancap di telapak kaki seorang prajurit di barisan depan.

Prajurit itu pun sempat terbungkuk menahan sakit, tapi dengan segera dia kembali berdiri tegak. Prajurit-prajurit lain di sekitarnya, tetap diam dan berdiri tegak. Tatapan mata mereka tak goyah, menatap tajam barisan lawan.

Demikian di beberapa tempat terjadi hal yang kurang lebih sama, dan tak ada prajurit Rangga yang goyah oleh kejadian itu.

Raden Rangga menengok ke beberapa prajurit yang berdesis menahan sakit dan memberi perintah, “Seluruh pasukan! Diam di tempat! Para pimpinan kesatuan! Rawat prajuritmu yang luka, yang tidak mampu bertempur, kirim ke garis belakang!”

Segera pimpinan kesatuan yang terkecil, memeriksa keadaan prajuritnya, mencabut anak panah yang menancap, membebat luka jika perlu dibebat, dan sebagainya. Hanya sedikit riak di antara barisan yang panjang itu.

Di pihak lain, Senapati Lesmana pun berteriak-teriak, “HENTIKAN SERANGAN! HENTIKAN SERANGAN! MEREKA MASIH TERLALU JAUH!”

Perlahan-lahan prajurit-prajurit itu pun berhenti memanah, tapi selain membuang puluhan ribu anak panah dengan sia-sia, efek yang terbesar adalah tekanan psikologis yang mereka rasakan. Pasukan Rangga terlihat semakin membesar dan semakin menakutkan, dalam benak mereka.

Dari jarak yang sudah semakin dekat itu, mereka bisa melihat wajah-wajah yang keras seperti batu, dengan sorot mata yang menyala-nyala.

Mereka tidak terlihat manusiawi, tapi prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan saat ini merasa seperti berhadapan dengan barisan malaikat pencabut nyawa yang tak punya rasa takut, tak punya rasa sakit.

“Barangsiapa berani melepaskan panah tanpa aba-aba, aku penggal kepala kalian!”, seru Senapati Lesmana dengan marah.

Belum selesai dia berucap, di seberang sana sudah terdengar. “PASUKAN MAJU!”

Barisan yang panjang itu pun kembali berderap maju. Langkah kaki mereka terdengar seperti gemuruh ombak di lautan. Jantung prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan, serasa ikut melompat-lompat, seirama dengan derap kaki pasukan Rangga.

Bersambung ke Bab XLIX
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
Semakin sempurna cerita dan cara juragan menggambarkan situasi perangnya....
Gas terus gan ts...
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@Gurabessi
Terimakasih gan, moga2 cepet selesai bagian kedua ini.

Pingin istirahat dulu otaknya. Nunggu kerjaan juga agak senggang lagi.
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 2 dari 2 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di