CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLVII
Saling Jegal, Raden Rangga vs Prabu Jannapati


Di perbatasan Kadipaten Serayu, pertempuran sudah berjalan setengah hari lamanya tanpa kemajuan yang berarti. Kedua pasukan secara bergantian, sesekali menyerang dari sayap pasukan.

Sesekali mereka mengirimkan satuan kecil untuk membuat gerakan-gerakan tipuan.

Namun tidak ada serangan yang benar-benar mengubah jalannya pertempuran di hari itu. Setelah berhari-hari menjalani situasi yang sama, kelelahan sudah mulai menguasai sebagian besar prajurit dari kedua pasukan. Kelelahan dari segi fisik, tapi lebih utamanya kelelahan dari segi mental.

Prabu Jannapati mengamati medan pertempuran dengan tegang. Perasaannya tak tenteram seharian ini. Jika biasanya dia masih turun ke garis depan, menantang lawan, atau sekedar berkuda sepanjang garis pertempuran untuk menyemangati pasukannya, kali ini dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya di garis belakang.

Prabu Jannapati menoleh ke arah Patih Nandini dan baru saja dia membuka mulut hendak bertanya ketika tiba-tiba dari sudut matanya dia menangkap kepulan asap di kejauhan.

Tiba-tiba saja jantungnya berdebaran keras.

“Nandini, kirim pasukan berkuda untuk memeriksa!”, serunya dengan suara terdengar sedikit gemetar.

Para senapati dan tumenggung memandang ke arah Prabu Jannapati dengan wajah terkejut. Sejak dia diangkat menjadi putera mahkota, sejak dia masih kanak-kanak, belum permah Prabu Jannapati menunjukkan sikap gentar di depan para abdinya. Baru kali ini, terlihat ada terbersit, Prabu Jannapati merasa yang namanya takut dan gentar.

“Jika diijinkan, hamba ingin memimpin langsung pasukan itu baginda prabu.”, jawab Patih Nandini tak kalah tegang dan cemas.

Para senapati dan tumenggung merasakan kejutan untuk kedua kalinya di hari yang sama dan dalam waktu yang berdekatan. Patih Nandini, sejak dia masih remaja dan dijadikan pembantu dan pengiring Prabu Jannapati yang masih seorang pangeran waktu itu, terkenal dengan ketenangannya. Yang berbeda hanyalah waktu remaja, Patih Nandini terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tertutup, tapi seiring bertambah dewasanya dia, sikap dingin dan tertutup itu mulai berubah menjadi hangat. Tanpa disadari ada banyak pejabat dan abdi dalem kerajaan yang mendapatkan sandaran kekuatan dari keberadaan patih yang masih muda ini.

Ketika dua pilar utama yang menjadi penyangga mereka terlihat goyah, goyah pula keyakinan para perwira yang hadir di tempat itu.

“Perhatikan medan tempur! Jangan sampai kehilangan kesiagaan kalian!”, tegur Prabu Jannapati seperti menggugah mereka dari alam mimpi.

Ketika mereka menengok ke arah Prabu Jannapati, wajahnya tak lagi terlihat tegang dan gentar, melainkan penuh keteguhan, mengamati lawan, menghadapi ribuan pasukan lawan yang berbaris rapi di seberang sana.

“Sudah ada Nandini yang mengurus. Sekarang tugas kita adalah mereka.”, ujar Prabu Jannapati dengan sorot mata tajam menatap pasukan gabungan para adipati yang mulai memperlihatkan gerakan-gerakan dalam barisan mereka.

Kepercayaan yang sempat goyah itu pun kembali dalam dada mereka.

'Benar, sudah ada Patih Nandini dan di sini masih ada Prabu Jannapati.', demikian pikir para perwira itu, dan tiba-tiba mereka menyadari, Prabu Jannapati yang menakutkan itu bisa mendatangkan rasa aman.

Rasa aman, karena kali ini tajamnya Prabu Jannapati mengacu ke lawan yang ada di seberang sana.

-----

Prabu Jannapati tidak salah, lawan mereka ada di depan mata. Adipati Gading Kencana dan para sekutunya tentu saja juga melihat kepulan asap dari arah utara mereka. Jauh di belakang garis pertahanan pasukan Kerajaan Watu Galuh.

“Itukah sinyal dari pasukan Raden Rangga?”, Adipati Karangpandan berseru sambil menunjuk ke arah kepulan asap itu.

“Itu bukan dari arah Kadipaten Serayu...”, ujar seorang adipati.

“Tapi kalian lihat, Patih Nandini meninggalkan barisan. Sesuatu yang penting pasti tejradi.”, kata Adipati Guntur Aji, matanya menyipit, menajamkan pandangan, berusaha melihat ke barisan lawan yang ada di kejauhan.

Adipati Karangpandan dengan pandangan ragu-ragu, memandang ke arah Adipati Gading Kencana, “Kakang, bagaimana menurut kakang? Raden Rangga memenuhi janjinya? Atau sebaiknya kita menunggu ada kepastian?”

“Kita tidak boleh ragu-ragu, kalian ingat perjanjian yang kita buat dengan Tumenggung Widyaguna, mereka akan melakukan sesuatu yang memberi kita kesempatan untuk menang melawan Prabu Jannapati. Tapi bisa atau tidaknya kita memanfaatkan kesempatan itu, itu bukan tanggung jawab mereka.”, sahut Adipati Panjalu.

Adipati Gading Kencana mengangguk, “Benar, jika kita tidak bergerak sekarang dan kesempatan ini lepas karena kita tidak bergerak, maka mereka akan beralasan baha ini kesalahan kita, bukan kesalahan mereka.”

“Hmm.... licik... dengan kata lain, Raden Rangga memaksa kita untuk bergerak. Bagaimana jika setelah kita mengerahkan pasukan, ternyata kepulan asap itu tidak berarti apa-apa?
”, desis Adipati Karangpandan.

Adipati Gading Kencana tidak mau banyak menanggapi Adipati Karangpandan, “Kita tidak punya pilihan, siapkan pasukan. Adi Panjalu, Adi Guntur Aji, kali ini aku minta kalian memimpin serangan. Ki Adipati Bayu dan Ki Adipati Cakrawahyu, aku minta kalian ambil alih memimpin pasukan di sayap kiri dan kanan. Kali ini waktunya kita bertempur dengan sungguh-sungguh.”

“Siap”

“Siap”

Mereka bersahut-sahutan menyahut, sambil bergegas bersiap ke posisi masing-masing, tanpa banyak cakap.

Beberapa saat kemudian, pertempuran pun mulai mengganas, dari tempatnya Prabu Jannapati melihat lawan bergerak dalam jumlah yang lebih besar. Seperti ombak di lautan, ribuan prajurit bergerak maju.

Adipati Guntur Aji, memimpin tak kurang dari lima ribu orang prajurit maju sebagai ujung tombak dari serangan. Seluruh pasukan gabungan pun bergerak menaikkan garis pertahanan mereka, bersiap mendukung kesatuan yang dipimpin oleh Adipati Guntur Aji.

Prabu Jannapati tidak terburu nafsu memapak serangan lawan.

“Pasukan panah bersiap!”, seru Prabu Jannapati pada mereka yang berdiri di belakangnya.

Seorang prajurit meniup sangkakala, dan seorang prajurit yang lain mengibarkan panji-panji khusus yang menjadi perintah.

Begitu mereka mendengar suara sangkakala, maka sudah menjadi tugas para senapati yang memipin pasukan untuk menengok ke arah Prabu Jannapati dan mengamati tanda perintah apa yang diberikan. Dengan sigap, sesuai dengan perintah yang mereka lihat, beberapa orang senapati memimpin pasukannya untuk maju ke posisi yang diperintahkan.

Belasan ribu prajurit yang terlatih untuk memanah, dengan serentak sudah memasang anak panah di busur mereka, bersiap menunggu perintah, sasaran mereka adalah pasukan yang dipimpin Adipati Guntur Aji.

Adipati Gading Kencana dari tempatnya mengamati, memberikan perintah baru, “Ki Adipati Seroja, siapakan pasukan berkudamu. Cari celah untuk menyerang dan mengganggu pasukan pemanah itu. Beri kesempatan pada pasukan pembuka kita untuk mendekat.”

Tak lama kemudian, tiga ribu pasukan berkuda dipimpin oleh Adipati Seroja berderap memasuki medan pertempuran dengan barisan yang longgar. Adipati Seroja memimpin pasukannya dengan taktis, tidak langsung menyerbu ke arah pasukan pemanah yang sudah bersiap itu, mereka terlebih dahulu bergerak, seakan hendak menyerang ke ujung sayap lawan.

Tentu saja Prabu Jannapati dengan cepat juga mengirimkan instruksi pada kesatuan-kesatuan yang ada, sesuai dengan perkembangan yang terjadi.

Demikianlah situasi di medan perang, dengan cepat terus berubah-ubah. Prabu Jannapati dan Adipati Gading Kencana seperti dua orang pemain catur yang secara bergantian berusaha menekan posisi lawan, mengambil posisi yang lebih baik, mengantisipasi gerakan lawan dan juga berusaha memancing lawan untuk melakukan keputusan yang salah.

Belasan ribu prajurit bergerak mengikuti perintah-perintah mereka. Para senapati yang memimpin pasukan, bukan hanya harus menghadapi lawan, tapi juga memastikan bahwa apa yang mereka lakukan, sesuai dengan perintah dari pimpinan besar mereka.

Korban pun mulai berjatuhan, pasukan gabungan para adipati sebagai pihak yang menyerang, mau tidak mau harus merasakan tajamnya anak panah pasukan Kerajaan Watu Galuh. Meskipin Adipati Seroja dan pasukan berkudanya berusaha mengurangi tekanan pada pasukan Adipati Guntur Aji, tapi merekapun harus melewati kesatuan lawan untuk mencapai pasukan pemanah itu.

Tentu saja sebagai pasukan pendobrak, prajurit-prajurit yang dipimpin oleh Adipati Guntur Aji juga memiliki perlengkapan yang tepat, dengan perisai dan baju pelindung, korban bisa ditekan sesedikit mungkin.

Bagaimana pun juga, sebagai pasukan yang bertahan, pasukan Kerajaan Watu Galuh memiliki keuntungan dalam memilih posisi yang mereka inginkan dalam pertempuran ini. Pasukan Adipati Gading Kencana harus mendatangi mereka, mengambil resiko dan mengorbankan prajuritnya untuk merebut posisi yang lebih baik bagi pasukan mereka untuk melancarkan serangan.

Beruntung bagi pasukan Adipati Gading Kencana, karena Prabu Jannapati tidak berani mengerahkan seluruh kesatuan yang dia miliki untuk menghadapi pasukan mereka. Dia masih menyimpan dua kesatuan, untuk berjaga-jaga terhadap serangan tiba-tiba dari pasukan Raden Rangga yang bagi dia, belum jelas ada di mana.

-----

Ketika Patih Nandini dan pasukan yang dia pimpin sampai di tempat kepulan api itu berasal, mereka melihat kobaran api yang besar dan dengan cepat merambat, membakar rumput dan semak kering, bahkan pepohonan di sekitarnya.

Begitu mereka mendekat untuk memeriksa, panasnya kobaran api yang menyengat kulit wajah dan bau daging yang terbakar, menyambut mereka. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Tidak juga dari pelaku pembakaran itu.

Dari tebalnya asap dan kobaran api, Patih Nandini melihat gerobak-gerobak perbekalan di tengah api yang berkobar itu. Ribuan mayat-mayat prajurit bergelimpangan. Tidak mungkin untuk melihat keadaan di tengah kobaran itu dengan jelas, tapi apa yang mereka lihat sudah memberitahukan Patih Nandini apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.

Atau setidaknya, apa yang dia pikir telah terjadi.

Patih Nandini tidak berlama-lama di tempat itu, apalagi ketika dia menangkap tubuh Senapati Subangsana yang tergeletak di antara tumpukan mayat lainnya.

“Kembali! Kembali! Pacu kuda kalian!”, ujar Patih Nandini tanpa mengatur kembali pasukannya.

Dengan perasaan tidak karuan, Patih Nandini memacu kudanya secepat mungkin untuk menyampaikan kabar itu pada Prabu Jannapati. Pasukan mereka tidak akan bisa bertahan lebih dari beberapa hari tanpa tambahan pasokan perbekalan.

Di atas kudanya yang berderap dengan cepat, otak Patih Nandini pun dipaksa untuk berputar tidak kalah cepatnya.

----------

Kedatangan Patih Nandini membuat para pimpinan pasukan Kerajaan Watu Galuh geger. Memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, Nandini tidak melompat turun bahkan sebelum kudanya berhenti. Tanpa membuang waktu dia berlari ke tempat Prabu Jannapati menunggu.

“Baginda! Rangga membakar perbekalan kita!”, serunya tanpa melihat kiri dan kanan.

Untuk beberapa saat Prabu Jannapati terlihat hendak meledak amarahnya, tapi kemarahannya itu menghilang, ketika dia melihat ekspresi wajah Patih Nandini yang terlihat cemas dan panik untuk pertama kalinya dalam sekian tahun mengabdi.

“Nandini, apakah tepat dan layak menyampaikan laporan seperti itu?”, tanya Prabu Jannapati dengan tenang.

Ketenangan Prabu Jannapati seperti air dingin yang mengguyur kepala mereka semua yang hadir di situ. Menyadarkan mereka dan mengembalikan mereka berpijak pada kedudukan mereka sebagai pemimpin pasukan.

Patih Nandini terbata dan akhirnya menunduk malu, ujarnya, “Hamba bersalah...”

“Berapa lama pasukan kita bisa bertahan dengan perbekalan yang ada?”, tanya Prabu Jannapati dengan tenang.

“Empat atau lima hari.”, jawab Patih Nandini.

“Kadipaten mana saja yang bisa mengirimkan pasokan perbekalan dengan cepat?”, tanya Prabu Jannapati.

“Kadipaten Sendang Ayu, Kadipaten Rawa Biru, Kadipaten Salaka, Kadipaten Asemrawa dan Kadipaten Punggung. Tapi secepat-cepatnya mereka mengumpulkan dan mengirimkan pasokan perbekalan, setidaknya butuh waktu satu sampai dua minggu.”, jawab Patih Nandini dengan cepat.

Prabu Jannapati diam berpikir, tidak ada yang berani mengganggu dia. Kali ini Patih Nandini pun tidak.

Setelah beberapa saat akhirnya Prabu Jannapati memberikan perintah, “Kirimkan pesan ke Kadipaten Sendang Ayu, kita akan mundur ke sana dan membentuk garis pertahanan yang baru.”

Seorang senapati dengan cepat memanggil seorng prajurit untuk menyampaikan pesan. Belum sampai prajurit itu berangkat, Prabu Jannapati menyampaikan perintah berikutnya.

“Pada keempat kadipaten yang lain, kirimkan perintah untuk mengirimkan perbekalan. Seberapa yang mereka bisa kumpulkan dan kirimkan ke Kadipaten Sendang Ayu dalam waktu empat hari.”, ujar Prabu Jannapati.

“Bagaimana dengan Kadipaten Serayu?”, tanya Patih Nandini.

“Katakan pada para Adipati Arum Amerta, kita mundur. Terserah padanya apakah hendak menyerah pada Adipati Gading Kencana, atau mau membawa pasukannya mengikuti kita. Pasukan kita tidak mungkin bisa mempertahankan Kadipaten Serayu.”, jawab Prabu Jannapati dengan tenang.

“Bagaimana dengan pasukan Raden Rangga?”, tanya Patih Nandini dengan hati-hati.

Untuk sekilas, terlihat mata Prabu Jannapati berkilat marah. Namun hanya sejenak saja.

“Hmm... kirimkan utusan pada Adipati Gading Kencana, sampaikan jika dia menahan serangan dan tidak mengejar, maka pasukan kita akan mundur dari Kadipaten Serayu. Apa gunanya mengorbankan pasukan, untuk kemenangan yang sudah pasti?”, jawab Prabu Jannapati sambil tersenyum tipis.

Patih Nandini tertegun dan kemudian berseru, “Bagus! Radeng Rangga boleh saja merusak rencana kita. Kita bisa balas merusak rencananya. Jika mereka sudah menang di Kadipaten Serayu, artinya pasukan Adipati Gading Kencana bisa bergerak untuk merebut Kadipaten Jambangan dari tangan Raden Rangga!”

Bersambung ke Bab XLVIII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di