CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLVI
Pertaruhan Besar Sudah DImulai, Dadu Sudah Dilemparkan


Bayu Bayanaka yang mengerahkan segenap ilmu meringankan tubuhnya, berhasil mendahului derap lari kuda, pasukan Senapaati Subangsana. Dengan nafas memburu, tanpa membuang waktu, Bayu Bayanaka berlarian ke arah pasukan Gagak Seta, sambil melambai-lambaikan panji kecil penanda pasukan Kerajaan Watu Galuh.

“Bersiap! Bersiap! Pasukan Rangga menyerang kami! Cepat kirim bantuan!”, Bayu Bayanaka berlari sambil berseru-seru.

Sontak saja pasukan Gagak Seta yang sedang beristirahat jadi berlompatan bangun dengan tangan siap di gagang senjata mereka masing-masing.

“TENANG!”, Gagak Seta berteriak keras.

“Kalian berdua, bawa prajurit itu ke mari.”, ujar Gagak Seta sambil menunjuk dua orang prajuritnya.

Kemudian dia berjalan mencari-cari para Bekel yang sedang beristirahat, “Kau Jupri, Warsila, Rangket, beritahukan pada para Bekel yang lain, sekarang juga siapkan pasukan.”

“Kalian dengar? Segera bersiap!”, ujar Gagak Seta pada prajurit-prajurit yang ada di sekitarnya.

Setelah dibuat heboh oleh teriakan Bayu Bayanaka, dalam keadaan gamang, maka seruan-seruan Gagak Seta yang dengan cepat mengarahkan mereka, memberi perintah-perintah dengan tegas, membuat prajurit-prajurit yang biasanya tidak berdisiplin itu bergerak mengikuti perintah Gagak Seta. Tentu saja, tetap dengan ketidak teraturan mereka.

Dengan suara keras Gagak Seta bertanya pada Bayu Bayanaka, “Cepat laporkan apa yang terjadi!”

Kemudian menengok ke arah para prajurit yang sedang berbenah, beberapa sudah berlari mengambil kuda, ada yang ikut mendengarkan dan ada pula yang sudah memacu kudanya mendekat.

Dengan suara lantang Gagak Seta berteriak, “Tinggalkan yang tidak perlu, siapkan diri kalian untuk bertempur dan setelah siap, segera berkumpul di tempat ini. Salah satu, cepat bawakan kudaku ke mari.”

Bayu Bayanaka yang menunggu Gagak Seta mengalihkan kembali perhatian ke arahnya, berpikir dalam hati, 'Hehehe, sialan, boleh juga pemuda ini berakting. Jadi ini anak muda yang diangkat jadi murid Aras...'

“Kenapa diam saja? Cepat sampaikan laporan yang mau kau sampaikan!”, seru Gagak Seta tak sabar.

Prajurit-prajurit yang ada di sekitarnya diam-diam ikut memasang telinga dan Bayu Bayanaka mengumpat dalam hati, 'Ai ai... sialan... Tunggu saja kau Gagak Seta, setelah selesai pertempuran ini aku bikin kau babak belur...'

“Baik.. Siap Ki.. Senapati, kami sedang mengawal perbekalan ketika tiba-tiba segerombolan prajurit berkuda menyerang kami. Awalnya kami sangka mereka prajurit yang dikirim Prabu Jannapati untuk membantu, karena tanda keprajuritan dan umbul-umbul mereka menunjukkan mereka pasukan Kerajaan Watu Galuh.”, Bayu Bayanaka berpura-pura menjawab dengan sedikit takut oleh sikap garang Gagak Seta.

Pada saat itu terlihat pasukan berkuda menderap ke arah mereka.

Gagak Seta menunjuk ke depan, “Apakah itu mereka?”

Bayu Bayanaka menengok ke belakang dan melihat Senapati Subangsana memacu kuda, memimpin pasukannya.

Dalam hati dia tertawa, 'Goblok.... Gajah Petak saja tidak grusa-grusu seperti dia...'

Di luar dia berbalik ke arah Gagak Seta dengan wajah panik, “Benar! Itu mereka! Aku masih ingat pemimpin pasukan itu! Itu dia orangnya!”

Gagak Seta meludah ke tanah, lalu dengan gesit melompat ke atas kudanya, “Puih.. pengecut, baru melihat mereka saja kau sudah ketakutan!”
“SEMUANYA SIAAP!!!”, seru Gagak Seta dengan suara keras.

“SIAAP!!!”, terdengar pasukan yang dipimpinnya menyahut.

“Kawan-kawan! Mari kita tunjukkan siapa kita! Pendekar-pendekar yang sudah kenyang makan asam-garam dunia persilatan! Persetan dengan prajurit-prajurit sombong itu! Nyatanya mereka hanya pengecut! Maju! Ikuti aku!”, seru Gagak Seta sambil memacu kudanya memapak Senapati Subangsana dengan keris teracung tinggi di udara.

Prajurit-prajurit dari Kadipaten Jambangan itu pun memacu kuda mereka berderap mengikuti Gagak Seta yang memimpin di depan. Senjata-senjata sudah dicabut dari sarungnya. Bilah golok dan pedang yang tajam, berkilauan ditimpa matahari.

Tidak semuanya memacu kuda penuh semangat mengikuti Gagak Seta, sebagian dari mereka lebih berhati-hati dan membiarkan rekan-rekannya yang berdarah panas untuk berpacu di depan, mendampingi Gagak Seta. Bayu Bayanaka yang mengamati mereka, diam-diam menggelengkan kepala.

'Moga-moga saudara-saudara yang lain cepat menyusul, kalau tidak Gagak Seta akan kesulitan untuk mempertahankan moral pasukannya.', pikir Bayu Bayanaka.

Tidak berdiam diri saja, begitu prajurit yang terakhir sudah melewati dirinya, Bayu Bayanaka pun ikut berlari di belakang mereka, bersiap membantu Gagak Seta bila diperlukan. Bayu Bayanaka tidak tahu seberapa tinggi ilmu Gagak Seta. Sementara lawan Gagak Seta adalah Senapati Subangsana, seorang senapati dari salah satu Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Watu Galuh. Seburuk-buruknya Subangsana, dia berhasil mendapat kedudukan senapati, tentu ilmunya tidak rendah.

“SERANG!!! SERANG!!!”, seru Gagak Seta sambil memacu kudanya.

Beberapa orang Bekel dan Lurah Prajurit yang masih bisa berpikir jernih, dalam hati mengeluh akan sikap Gagak Seta yang menurut mereka terlalu cepat mengambil keputusan. Namun bukan mereka yang menjadi senapati dari pasukan ini. Juga sebagian besar dari rekan-rekan mereka yang lain sudah terbawa oleh semangat Gagak Seta, sehingga kata-kata di mulut mereka yang ragu inipun akhirnya batal terucap, dan mau tidak mau terbawa arus saja.

Senapati Subangsana yang memimpin pasukan Kerajaan Watu Galuh tak kalah berangasannya, “Pasukan! Hajar mereka! Tunjukkan kegarangan prajurit Kadipaten Lemah Abang!”

Seorang Bekel memacu kudanya mendekati Gagak Seta, “Gagak Seta, kau dengar itu? Apa kita tidak--”

Tentu saja Gagak Seta tidak membiarkan Bekel itu menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa berkakakan Gagak Seta mengacungkan kerisnya ke arah Senapati Subangsana, “Kambing tua, bersiap-siaplah mati di ujung kerisku!”

Senapati Subangsana yang membanggakan jenggot lancipnya yang dia rawat baik-baik, langsung melotot marah, “Bah! Anak muda bau kencur, kubeset mulutmu!”

Jarak mereka semakin mendekat, Bekel itu semakin panik, “Gagak Seta coba pikir dulu!”

Gagak Seta diam-diam memaki-maki Bekel yang berniat baik itu, tapi di sisi lain dia juga merasa harus menghargai niat baik Bekel itu. Terjepit antara tugas dan perasaan, emosi Gagak Seta akhirnya benar-benar meluap.

Dengan ringan Gagak Seta melompat ke atas punggung kudanya yang masih berpacu ke depan. Dikerahkannya hawa murni mengikuti ajaran gurunya, lalu bagai kilat dia melompat ke depan. Berkelebat bagaikan terbang menyambar Senapati Subangsana yang masih belasan meter jauhnya.

“Celaka!”, desis Bekel yang berusaha menghentikan Gagak Seta.

'Celaka!', desis Bayu Bayanaka dalam hati.

'Anak muda itu terlalu terburu-buru.', keluh Bayu Bayanaka sambil berlari lebih cepat.

Namun sebelum dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat ke depan untuk membantu Gagak Seta, Bayu Bayanaka melihat Gagak Seta dengan sebat melemparkan kerisnya ke arah Senapati Subangsana, sebelum daya lompatannya habis dan dia mendarat ke tanah. Seperti anak panah, keris Gagak Seta meluncur dengan deras ke arah Senapati Subangsana yang sedang memacu kudanya untuk memapak Gagak Seta.

Tergagap Senapati Subangsana berusaha menangkis keris yang meluncur dengan laju itu. Dia tidak menyangka Gagak Seta akan menggunakan kerisnya, seperti orang menggunakan senjata rahasia. Dalam bayangan Senapati Subangsana, keris yang menjadi senjata utama seorang senapati seperti Gagak Seta tentunya adalah sebilah keris pusaka, senjata yang akan dijaga baik-baik oleh pemiliknya. Bukan dilemparkan seperti senjata rahasia yang sekali pakai.

Padahal Gagak Seta yang baru menjadi murid Ki Ageng Aras, saat ini justru lebih nyaman berkelahi dengan tangan kosong. Kalaupun memakai senjata, maka pilihannya adalah tombak pendek seperti yang diajarkan dalam gulungan lontar yang menjadi bekal prajurit pasukan telik sandi-nya Raden Rangga.

“Trang!!”, Senapati Subangsana berhasil menangkis keris Gagak Seta, meskipun tidak sempurna.

Keris itu berbelok arah dan meluncur deras ke arah prajurit yang berada di belakang Senapati Subangsana.

“Arggh....!”

Prajurit itu berteriak kesakitan dan terguling jatuh dari kudanya, keris Gagak Seta menancap dalam-dalam di dada prajurit itu.

“HAHAHAHA, MATI SATU! LAIN KALI GILIRANMU KAMBING!”, seru Gagak Seta sambil tertawa terbahak-bahak, tubuhnya tidak berhenti sekejap pun, begitu dia menginjak tanah dengan gesit dia sudah melenting maju dengan kuda-kuda yang rendah, menyambar ke arah kaki kuda Senapati Subangsana.

“KEPARAT! KUBUNUH KAU!”, teriak Senapati Subangsana sambil menarik tali kekang kudanya, sehingga kudanya itu meringkik dan menaikkan kedua kakinya, lolos dari sambarang jari-jari Gagak Seta yang berkesiuran menyambar dengan keras.

Kedua pasukan pun mulai bergebrak, darah sudah membasahi permukaan tanah, satu nyawa sudah meregang, membuat mata prajurit-prajurit itu nyalang oleh hawa peperangan, nafsu membunuh, keinginan untuk bertahan hidup, membunuh atau dibunuh, menguasai pikiran mereka.

Dalam waktu singkat, bau darah mulai memenuhi udara.

Gagak Seta dengan gesitnya menyerang Senapati Subangsana, melompat dari satu posisi ke posisi lain. Sesekali menyerang rendah, sesekali melompat tinggi di udara dan menyerang dari atas. Kali ini Gagak Seta menguras seluruh ilmu yang dia miliki. Bayu Bayanaka yang menonton dari kejauhan, terhenti untuk beberapa saat dan mengagumi kecepatan anak muda itu.

'Lumayan... Ki Ageng Aras tidak salah memilih murid.', ujar Bayu Bayanaka dalam hati.

Tentu saja, apa yang ditunjukkan Gagak Seta itu belum ada apa-apanya bagi pendekar macam Bayu Bayanaka, tapi untuk sementara ini, kenekatan, kegesitan dan kegarangan Gagak Seta cukup membuat Senapati Subangsana kerepotan. Dan itu membuat pasukan yang dipimpin Gagak Seta punya keberanian untuk bergebrak melawan pasukan yang dipimpin Senapati Subangsana.

Korban-korban mulai berjatuhan, diam-diam Bayu Bayanaka membantu Gagak Seta dengan sesekali melontarkan keriki-kerikil kecil untuk mengganggu Senapati Subangsana.

Bayu Bayanaka tidak perlu menunggu lama, ketika pertempuran mulai bergeser, karena pasukan Senapati Subangsana berhasil mendesak mundur pasukan Gagak Seta, tiba-tiba terjadi keributan di barisan belakang mereka.

Bayu Bayanaka bersorak dalam hati, kemudian dengan suara lantang dia berseru, “DATANG! DATANG! BANTUAN DATANG! SERANG MEREKA KAWAN-KAWAN!”

Diserang dari dua arah, barisan pasukan Senapati Subangsana pun jadi berantakan, apalagi serangan gelap dari arah belakang itu jauh lebih dahsyat dan tidak disangka-sangka, dibanding dari serangan yang ada di depan mereka. Dalam gebrakan pertama saja, langsung ratusan prajurit Senapati Subangsana gugur tanpa pernah mengerti, mengapa rekan-rekan mereka tiba-tiba berbalik membunuh mereka.

Dalam keadaan kacau balau itu, Senapati Subangsana sempat menoleh ke belakang dan tertegun sejenak, “APA-APAAN INI!?”

“Pengkhianatan!?”, desis Senapati Subangsana tak percaya.

“Salam dari Raden Rangga Ki Senapati.”, tiba-tiba Senapati Subangsana mendengar seseorang berbisik dekat di telinganya.

Seketika itu juga bulu kuduknya berdiri karena dengan mudahnya orang itu bisa mendekat tanpa dia sadari. Cepat dia melompat turun dari kuda sambil menoleh ke arah sumber suara itu. Dilihatnya Bayu Bayanaka duduk berjongkok di atas punggung kudanya, seperti berjongkok di atas tanah yang tak bergerak.

“Kau... kau...”, terbata Senapati Subangsana, hilang semua kata-kata dalam kepalanya.

“Maafkan aku Ki Subangsana, tapi inilah perang.”, seru Bayu Bayanaka dengan tenang.

Gagak Seta berdiri dengan tegak, memandangi Senapati Subangsana dengan perasaan campur aduk. Di sekelilingnya prajurit-prajurit yang dia pimpin sedang bertarung menyabung nyawa melawan pasukan yang seharusnya mereka bantu.

Senapati Subangsana menunduk, melihat ke arah dadanya, dilihatnya gagang keris menyembul dan darah mengalir deras, mengucur ke atas permukaan tanah. Kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang.

“Raden Rangga....”, bisik Senapati Subangsana, pandang matanya mulai mengabur, seiring pemahaman yang mulai memasuki otaknya.

Senapati itu pun jatuh tertelungkup di atas tanah. Tanpa sempat menyesali kesalahan yang dia buat.

“SUBANGSANA MATI! SUBANGSANA MATI!”, teriak Bayu Bayanaka sambil menyambar panji-panji yang dibawa pengiring Senapati Subangsana.

Gagak Seta pun berkelebat merebut seekor kuda dari prajurit yang kebetulan ada di dekatnya dan dengan suara keras berteriak pula, “HENTIKAN PERTEMPURAN! MENYERAHLAH! PEMIMPIN KALIAN SUDAH MATI!”

Teriakan-teriakan pun saling sahut menyahut dari segala penjuru, mengabarkan kematian Senapati Subangsana. Satu per satu, prajurit yang dipimpin Subangsana, melemparkan senjata ke tanah dan menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi ke atas.

Gagak Seta mengumpulkan pasukannya, memerintahkan mereka untuk berbaris rapi. Ketika semangat mereka yang meluap-luap mulai mereda, bahkan yang paling bodoh di antara mereka pun mulai merasakan kejanggalan yang terjadi. Gagak Seta sekarang bersikap hormat pada prajurit pembawa pesan yang tadi dia maki.

Pasukan yang datang bergabung dengan mereka, dan menyerang pasukan Subangsana dari belakang, berbaris dengan rapi menghadapi mereka dengan mata yang garang menyala-nyala.

Di tengah-tengah, di antara kedua barisan, adalah prajurit-prajurit yang sudah melemparkan senjata mereka ke atas tanah.

Senapati Watu Gunung berjalan menemui Gagak Seta.

“Kerja bagus.”, ujarnya sambil menepuk pundak anak muda itu.

“Terima kasih Ki Senapati.”, ucap Gagak Seta dengan hormat, membuat mata prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan terbelalak.

Seseorang dari mereka menunjuk Gagak Seta dan dengan terbata berseru,”Kau...--”

Kata makian yang hendak dia lemparkan itu menghilang seperti ditelan bumi, ketika dia menyadari keadaan mereka. Seribu orang pasukan berkuda, sekarang tinggal beberapa ratus orang saja. Sementara di depan mereka berdiri sepasukan prajurit yang garang.

Senapati Watu Gunung maju ke depan dan dengan suara lantang berkata, “Kami pasukan khusus Raden Rangga! Barangsiapa menyerah akan diampuni nyawanya! Yang berani melawan...”

Untuk sesaat lamanya seluruh medan pertempuran hening tanpa suara.

“TUMPAS HABIS!”, dan dipecahkan oleh suara lantang Senapati Watu Gunung.

“HOOOAAAAAAAAAAA!!!!”, terdengar suara gemuruh geraman dari seribu orang pasukan yang berbaris rapi di belakang Senapati Watu Gunung.

Para prajurit Kadipaten Jambangan pun termangu tak bisa memutuskan. Saling pandang, bingung dan ragu. Sesekali mereka memandang ke arah Gagak Seta yang seharusnya menjadi pemimpin mereka, orang yang memberi keputusan dan perintah.

Gagak Seta menghela nafas dan berkata, “Kalian boleh saja membenciku, aku tidak akan membela diri di depan kalian. Satu hal saja yang perlu kalian tahu. Kami ingin rahasia ini tetap terjaga untuk setidaknya satu-dua hari. Tidak ada yang lebih bisa menjaga mulutnya untuk tetap tertutup, kecuali mayat.”

Hening...

Tiba-tiba beberapa orang prajurit menengok ke sekitar mereka, dan entah sejak kapan sudah muncul barisan di empat penjuru, mengepung mereka semua.

“Tapi kami tidak ingin membunuh bila itu tidak benar-benar perlu.”, ujar Gagak Seta.

“Menyerahlah.”, ujar Senapati Watu Gunung dengan tenang tanpa emosi.

Ketika satu orang melemparkan senjatanya ke tanah, segera yang lain mulai mengikuti. Mereka belum lama bergabung dengan pasukan Kadipaten Jambangan, alasan mereka bergabung pun lebih pada janji-janji pangkat dan uang.

Ketika tidak ada pemimpin yang bisa menjaga semangat mereka, pasukan Kadipaten Jambangan yang baru ini pun tak ubahnya benteng yang dibangun menggunakan pasir yang basah di tepian pantai.

Runtuh berguguran begitu terkena ombak.

Dengan mudah pasukan Rangga mematahkan semangat mereka dan menyelesaikan pertempuran dengan sempurna.

Bersambung ke Bab XLVII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
Mantab ceritanya. Semangat terus ya agan @lonelylontong emoticon-Blue Guy Cendol (S)
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@pintokowindardi Terimakasih gan, kl nulis perang2 gini sih ane semangat gan
emoticon-Ngakak
profile picture
Mantafff . Jgan sampe bikin kentang
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@teknika Siaap gan, tinggal brp bab lagi kok
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 4 dari 4 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di