CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLV
Jawaban Atas Teka-Teki Menghilangnya Seribu Orang Prajurit .


Perlahan-lahan kesadaran Sabrang kembali, hidungnya mencium bau ramun obat-obatan yang menusuk hidung. Luka-luka di badannya terasa jauh lebih nyaman. Tubuhnya terasa jauh lebih segar, ditopang oleh tempat berbaring yang cukup empuk dan dilapisi kain.

Mungkin pembaringannya jauh lebih keras dan padat, dibandingkan kasur yang empuk.

Namun terasa sangat nyaman, setelah beberapa hari hampir selalu berada di atas punggung kuda, kalau pun tidur hanya beralaskan tanah, ditambah lagi kelelahan yang amat saat dia harus berpacu dengan waktu untuk sampai secepat-cepatnya ke tempat tujuan.

Sabrang masih menutup matanya agak lama, sambil menikmati istirahat yang dia rindukan, sebelum akhirnya dengan berat hati membuka mata.

“Kau sudah sadar?”, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.

Sabrang menoleh dan hendak membuka mulut, ketika dia melihat berdiri di depannya adalah Senapati Watu Gunung, tapi Senapati Watu Gunung yang saat ini memakai baju prajurit Kerajaan Watu Galuh. Sabrang berkedip-kedip sebentar, otaknya berputar, mencerna keadaaan. Dengan cepat dia mulai mengingat semua yang terjadi, siapa dia, di mana sekarang dia berada, sebagai siapa dan apa tugas yang dia emban.

“Kisanak ini...?”, tanya Sabrang ragu-ragu, berpura-pura tak mengenali Senapati Watu Gunung yang ada di depannya.

“Aku Senapati Mundingsari, yang bertugas memimpin pengawalan perbekalan dari ibukota ke perbatasan di selatan.”, jawab Senapati Watu Gunung membelakangi seseorang di belakangnya, dia mengedipkan sebelah matanya pada Sabrang.

“Bersama denganku ada Senapati Subangsana yang dikirimkan Prabu Jannapati untuk membantu pengawalan, beberapa hari sebelum Adipati Jalak Kenikir mengirimkan kalian untuk membantu juga.”, ujar Senapati Watu Gunung sambil menggeser badan, sehingga Sabrang bisa melihat orang di belakangnya.

Sabrang melihat ke arah orang yang ada di belakang Senapati Watu Gunung, seraut wajah yang tidak dikenal. Anak muda itu menganggukkan kepala.

“Baik Ki Senapati, aku mengerti.”, kata anak muda itu pada Senapati Watu Gunung.

“Sekarang sampaikan apa yang terjadi, sesingkat mungkin tanpa melupakan hal yang penting, agar kami dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.”, ujar Senapati Subangsana dengan nada tak sabar.

“Siap Ki...”, ujar Sabrang.

“Sesuai perintah dari pimpinan kami, Senapati Lesmana, kami berpacu dan hanya sesekali beristirahat untuk mengistirahatkan kuda-kuda kami. Pimpinan kami... Senapati Gagak Seta.. dia masih muda dan kurang pengalaman---”, Sabrang memulai ceritanya, tapi Senapati Subangsana menyela dia.

“Tidak perlu terlalu panjang menjelaskan, apa yang terjadi dalam perjalanan kalian menuju ke tempat ini?”, sela Senapati Subangsana.

“... pasukan Raden Rangga menyergap kami dan dalam keadaan kelelahan dan barisan yang tidak teratur karena memburu waktu, kami mengalami kekalahan.”, lanjut Sabrang dengan alis berkerut.

“Kenapa hanya ada kalian berdua? Bagaimana dengan sisa pasukan yang lain?”, tanya Senapati Watu Gunung.

“Aku tidak tahu ki..., pada saat itu aku dan Kakang Partajaya mendampingi Senapati Gagak Seta memimpin di depan. Mereka menyerang dari sisi kiri, kanan dan belakang barisan. Kami bertempur sengit, tapi mereka sangat tangguh. Senapati Gagak Seta kemudian memerintahkan kami berdua untuk meninggalkan pertempuran dan mencari bala bantuan dari kalian.”, jawab Sabrang.

Senapati Watu Gunung melihat ke arah Senapati Subangsana dan Senapati Subangsana berkata. “Kita keluar dulu.”

Kedua senapati itu pun berjalan meninggalkan tenda.

“Bagaimana menurut Ki Subangsana?”, tanya Senapati Watu Gunung.

“Kau tahu? Kukira prajurit yang dikirimkan Adipati Jalak Kenikir, sudah pasti bukan pasukan utamanya. Melainkan sebagian dari prajurit yang baru beberapa bulan yang lalu diangkat menjadi prajurit.” jawab Senapati Subangsana.

Senapati Watu Gunung pura-pura berpikir agak lama dan kemudian dengan wajah prihatin, “Hmm..., maksud Ki Subangsana... mereka sudah kalah?”

“Hmph... melihat keadaan anak muda itu, kukira dia bukan diperintahkan mundur, tapi kabur. Kukira teman-temannya yang lain juga sudah tersebar-sebar, ada yang lari dan ada yang gugur.”, dengus Senapati Subangsana.

Senapati Watu Gunung terdiam untuk beberapa saat kemudian dengan tegas mengatakan, “Perbekalan ini tidak boleh jatuh ke tangan mereka.”

“Tentu saja.”, sahut Senapati Subangsana.

“Apa perlu kita mengambil jalan memutar? Jika benar mereka disergap ketika melalui jalan ini, jangan-jangan saat ini mereka juga sudah menunggu untuk menyergap kita pula.”, tanya Senapati Watu Gunung.

Senapati Subangsana berpikir cukup lama, sebelum kemudian menggelengkan kepala, “Tidak bisa Ki, satu-satunya jalan memutar ada beberapa hari perjalanan di belakang kita. Itupun akhirnya kita harus memutar cukup jauh. Kita akan membuang waktu terlalu lama, semangat pasukan di perbatasan bisa turun jika perbekalan tidak segera sampai.”

Mereka berdua sama-sama terdiam, Senapati Subangsana merasa pusing menghadapi masalah ini, sementara Senapati Watu Gunung hanya berpura-pura pusing. Ketika melihat Senapati Subangsana, tidak juga menemukan ide, Senapati Watu Gunung pun melontarkan rencana yang sudah Rangga buat jauh-jauh hari.

“Begini saja Ki, jika kita menggabungkan kekuatan pasukan kita, jumlahnya lebih dari seribu. Apalagi lawan juga baru saja bertempur mati-matian. Kita punya kesempatan besar untuk menang. Kenapa tidak kita satukan kekuatan kita? Dan bergerak cepat untuk menyergap mereka sekarang juga, ketika mereka masih belum siap!”, ujar Senapati Watu Gunung dengan sorot mata berapi-api.

“Tapi bagaimana dengan perbekalan yang kita bawa?”, tanya Senapati Subangsana ragu-ragu.

“Untuk sementara kita tinggalkan perbekalan itu di sini, dan akan aku tinggalkan dua ratus orang pasukanku untuk menjaga perbekalan itu.”, ujar Senapati Watu Gunung dengan berani.

Senapati Subangsana mulai merasa ikut bersemangat, “Kau yakin?”

“Tidak ada jalan lain, perbekalan itu lebih aman berada di sini sampai kita berhasil membereskan pasukan Rangga itu.”, Senapati Watu Gunung menjawab.

Ketika dia melihat Senapati Subangsana masih terlihat agak ragu-ragu, Senapati Watu Gunung menambahkan, “Aku nanti yang akan bertanggung jawab di depan Prabu Jannapati jika sampai terjadi sesuatu atas perbekalan ini.”

Senapati Subangsana memandangi Senapati Watu Gunung dalam-dalam, “Apa aku bisa pegang kata-katamu itu?”

“Tentu saja, jika tetap pada rencana semula, lalu kita disergap dan terjadi sesuatu atas perbekalan itu. Bukankah aku juga yang akan dituntut pertanggung jawabannya secara hukum keprajuritan? Karena itu aku memilih rencana ini.”, jawab Senapati Watu Gunung dengan yakin.

“Baiklah, kalau begitu kita harus segera bersiap, sebelum keparat-keparat itu menghilang lagi.”, akhirnya Senapati Subangsana menyetujui rencana Senapati Watu Gunung.

Bergegas kedua orang senapati itu menyiapkan pasukan mereka, ketika Senapati Subangsana sudah siap, dia menemukan Senapati Watu Gunung masih mengatur pertahanan di sekeliling perbekalan yang ditinggalkan.

“Ki Mundingsari, kau belum siap?”, tanya Senapati Subangsana tak sabar.

Senapati Watu Gunung berpura-pura merasa malu, “Sebentar lagi Ki, aku harus memastikan dua ratus orang itu bisa bertahan bila ternyata pasukan Rangga entah dengan cara bagaimana, berhasil melewati kita dan menyerbu.”

Senapati Subangsana terlihat tak sabar, “Jika kau terlalu lama, mereka akan keburu pergi.”

“Eh... bagaimana kalau Ki Subangsana berangkat sekarang juga? Aku akan menyusul secepatnya.”, Senapati Watu Gunung dengan ragu dan sungkan menjawab.

Senapati Subangsana terlihat ragu, tapi ketika melihat prajurit-prajurit Senapati Watu Gunung masih sibuk memindahkan dan mengatur beberapa gerobak agar membentuk tembok pertahanan, akhirnya dia mengambil keputusan.

“Baiklah aku akan memimpin pasukanku lebih dulu, tapi kau secepat mungkin menyusul.”, tegas Senapati Subangsana.

“Tentu saja, aku hanya akan mengarahkan mereka, begitu mereka sudah paham yang aku mau, aku akan segera memimpin pasukanku menyusul Ki Subangsana.”, jawab Senapati Watu Gunung.

“Baik, aku pergi sekarang.”, ujar Senapati Subangsana yang dengan segera memacu kudanya ke arah pasukannya yang sudah menunggu.

Senapati Watu Gunung berpura-pura melanjutkan pekerjaannya mengatur pertahanan. Namun ketika pasukan Senapati Subangsana sudah tak terlihat, Senapati Watu Gunung dan prajurit-prajuritnya pun berhenti bekerja. Sambil saling berpandangan mereka tertawa kecil.

“Hehehe, kita berhasil Di”, ujar salah seorang prajurit.

“Hmm... tapi kita belum boleh berpuas diri Kakang, kita baru berhasil setengahnya.”, jawab Senapati Watu Gunung dengan senyum terkulum.

“Kau benar, ayolah kita jangan membuang waktu lagi. Aku akan berangkat sekarang untuk menemui Gagak Seta, kalian atur sendiri bagaimana yang di sini.”, ujar prajurit tadi, dia adalah Senapati Bayu Bayanaka.

“Baik kakang, cepatlah, sebelum Senapati Subangsana terlalu dekat dengan pasukan Gagak Seta.”, jawab Senapati Watu Gunung.

“Hmm..”, jawab Bayu Bayanaka singkat, sebelum mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan berkelebat pergi.

------

Dua puluh lima orang senapati yang dikerahkan Raden Rangga untuk tugas rahasia ini. Jauh sebelum Prabu Jannapati mengirimkan Senapati Subangsana untuk membantu pengawalan, pasukan Raden Rangga yang diam-diam menghilang, sudah memanfaatkan waktu ketika kepergian mereka belum diketahui, untuk secepat-cepatnya menyerang perbekalan Prabu Jannapati di tengah perjalanan.

Kemudian alih-alih melarikan perbekalan itu, atau membakarnya, pasukan Rangga berpura-pura menjadi pengawal perbekalan itu dan melanjutkan perjalanan, membawa perbekalan menuju ke selatan, ke arah Kadipaten Serayu.

Mereka sudah bersiap-siap, selama penyamaran mereka tidak terbongkar, mereka akan meneruskan perjalanan, membawa perbekalan, sebagai pasukan Kerajaan Watu Galuh.

Namun jika sampai penyamaran mereka terbongkar, maka jalan kedua akan mereka ambil, yaitu membakar perbekalan dan kembali menghilang, untuk terus mengganggu pengiriman perbekalan untuk pasukan Prabu Jannapati yang sedang berada di medan perang.

Rupanya dewi keberuntungan memilih untuk berpihak pada Rangga Wijaya. Penyamaran mereka tidak terbongkar, beberapa orang utusan yang dikirim, tidak mengenal Watu Gunung. Maklum saja, pasukan yang dibawa Prabu Jannapati untuk melawan gabungan pasukan para adipati, juga berasal dari berbagai kadipaten di Kerajaan Watu Galuh, sehingga banyak di antara mereka yang tidak saling kenal.

Berbekal kata sandi yang mereka dapatkan dengan cara menyiksa prajurit pengawal perbekalan yang asli, akhirnya pasukan Rangga ini bisa lolos tak terdeteksi sampai saat-saat yang paling penting sekarang ini.

Lalu siapa yang melukai Sabrang dan Partajaya? Mereka berdua yang saling melukai diri mereka sendiri, agar seakan-akan mereka baru saja lolos dari pertempuran yang berat.

Apa tujuannya? Ya untuk memancing Senapati Subangsana.

--------

“Baik kakang, jadi bagaimana pembagiannya? Siapa yang akan membawa perbekalan dan siapa yang maju menyerang?”, tanya Watu Gunung pada beberapa orang senapati yang ikut berkumpul.

“Aku ingin bertarung, beberapa hari ini terlalu membosankan.”, ujar Senapati Gajah Petak disambut tawa senapati yang lain.

Senapati Respati yang lebih tenang pembawaannya berkata, “Sudahlah, biar aku, Adi Trengganu dan Adi Arcayama yang mengawal perbekalan. Aku tahu kalian semua sudah gatal untuk bertarung.”

“Hahahaha.... bagus-bagus, itu baru saudara yang baik.”, sahut Senapati Gajah Petak sambil menepuk-nepuk pundak Senapati Arcayama dengan puas.

Tidak terlihat ketegangan di wajah-wajah mereka, baik para senapati itu, maupun prajurit yang mereka pimpin.

Dalam waktu singkat, tanpa membuang waktu mereka sudah membagi pasukan mereka menjadi dua bagian. Sebagian besar menaiki kudanya dan menyusul Senapati Subangsana yang sedang memimpin pasukannya ke arah Kadipaten Serayu, menuju ke pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin oleh Gagak Seta.

Sementara sisanya yang lebih sedikit, dengan bergegas mengarahkan gerobak-gerobak berisi perbekalan yang disiapkan untuk pasukan Prabu Jannapati selama beberapa bulan ke depan, menyusul di belakang mereka dengan perlahan-lahan. Partajaya dan Sabrang yang dalam kondisi luka-luka, ikut juga bersama dengan rombongan yang membawa perbekalan itu.

--------

Sekarang apa yang akan terjadi nanti ketika pasukan Senapati Subangsana bertemu dengan pasukan yang dipimpin Gagak Seta?

Bagaimana pula kelanjutan rencana Rangga? Apakah mereka berhasil mengelabui Prabu Jannapati?

Lalu bagaimana dengan pertempuran antara pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin Senapati Lesmana, melawan pasukan Raden Rangga? Akan berhasilkah Rangga merebut Kadipaten Jambangan? Bagaimana dia akan memanfaatkan sisa pasukan telik sandinya yang masih berada dalam pasukan Senapati Lesmana?

Bersambung ke Bab XLVI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Daweeeet...
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@pulaukapok Cendool...
profile picture
kardison
kaskus addict
Joss gandoss
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 4 dari 4 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di