CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLIV
Teka-Teki Seribu Prajurit yang Menghilang.


Beberapa kilometer di depan tembok ibu kota Kadipaten Jambangan, pasukan Rangga berbaris dengan rapi, dipimpin oleh Rangga dan Tumenggung Widyaguna. Di sayap kiri ada Rakryan Rangga Aswatama, di sayap kanan ada Rakryan Rangga Wirapati. Tak kurang dari empat ribu orang pasukan berdiri di belakang mereka.

Menghadang di depan mereka adalah pasukan baru Adipati Jalak Kenikir yang dipimpin Senapati Lesmana. Tidak kurang dari dua ribu pasukan berbaris rapi di belakang senapati itu. Jumlah mereka lebih sedikit, namun mereka memiliki persenjataan yang lebih lengkap, perisai kecil, pedang pendek dan tombak.

Kemudian ada seribu orang prajurit berkuda yang bisa bergerak dengan cepat dari satu posisi ke posisi lain dalam medan peperangan. Satu ancaman besar bagi Rangga yang selain prajurit, juga membawa belasan ribu penduduk biasa yang terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak.

“Raden Rangga, aku tidak ingin bermusuhan denganmu, bagaimana kalau kalian mundur kembali ke Kademangan Jati Asih saja?”, seru Senapati Lesmana dari atas kudanya.

“Dengan siapa aku berbicara?”, tanya Rangga dari atas kudanya.

“Senapati Lesmana, dari pasukan Kadipaten Jambangan.”, jawab Senapati Lesmana dengan lantang.

“Ah... rupanya Ki Lesmana, aku pun tidak ingin bermusuhan dengan Kadipaten Jambangan, begini saja, bagaimana kalau kalian ijinkan kami lewat? Tidak perlu ada pertempuran.”, jawab Rangga dengan santai.

Senapati Lesmana pun menjawab, “Tak mungkin raden, perintah Prabu Jannapati, Raden Rangga dan pengikutnya tidak boleh meninggalkan wilayah Kerajaan Watu Galuh.”

“Ki Lesmana, cobalah Ki Lesmana lihat, jumlah pasukanku jauh lebih banyak dari pasukanmu dan jangan kira penduduk Kademangan Jati Asih yang ada di belakang kami ini tak bertaring, setiap orang sudah berlatih memanah semenjak kami mulai meninggalkan rumah kami.”, gertak Rangga.

“Raden Rangga, tak perlu menakuti kami, kalau memang kau yakin, kenapa tidak maju menyerang?”, tanya Senapati Lesmana.

Rangga menjawab sambil tertawa, “Karena aku ingin memberi kalian kesempatan untuk hidup Ki, sayang keluargamu kalau kau harus gugur demi ambisi Prabu Jannapati.”

Senapati Lesmana tidak menjadi marah, namun balas tertawa, “Hahahaha, Raden Rangga, jangan kau pikir kami bodoh. Kau punya pasukan pemanah, aku pun punya. Jadi silahkan maju, biar kubuat anak-anak muda Kademangan Jati Asih sebagai latihan memanah untuk prajurit-prajuritku yang baru.”

Seorang Senapati berlari maju beberapa puluh meter ke depan barisan dan berseru, “Lesmana, kalau kau pemberani, maju sini, hadapi aku, Tunggul Manikam.”

Senapati Lesmana tertawa mengejek, “Hahaha, apa kau kira ini permainan anak kecil? Di pihak kalian ada puluhan senapati, sementara di pihakku hanya ada aku sendiri dan ada ribuan pasukan yang butuh pimpinanku, lalu aku harus maju menghadapimu bertarung satu lawan satu? Cis... tidak tahu malu.”

“Lalu apa maumu?”, tanya Senapati Tunggul Manikam.

“Silahkan kalian maju kalau kalian memang pemberani.”, seru Senapati Lesmana tak mau mengalah.

Demikianlah mereka sudah saling berhadapan, tapi pertempuran belum dimulai. Di atas tembok kota, Adipati Jalak Kenikir dan tiga orang senapati yang lain mengamati.

“Apa yang mereka tunggu?”, tanya Adipati Jalak Kenikir.

Senapati Glagah Wiru menjawab, “Kukira, pertempuran yang sesungguhnya bukan di tempat ini. Kalau Ki Adipati perhatikan, informasi yang diberikan Prabu Jannapati benar. Di sini hanya terlihat belasan orang senapati dan ribuan anak-anak muda. Pertempuran yang sesungguhnya kukira terjadi di perbatasan Kadipaten Serayu.”

-------

Di perbatasan Kadipaten Serayu, sedang terjadi pertempuran dalam gelar terbuka. Dari sisi pasukan Kerajaan Watu Galuh, ribuan prajurit dipimpin beberapa senapati bergerak menghentikan sayap-sayap pasukan gabungan para adipati yang mencoba bergerak maju.

Akan tetapi pasukan utama dari kedua belah pihak masih diam menanti.

Tak berapa lama kemudian, serangan dari pasukan para adipati terpukul mundur. Namun tidak banyak korban yang jatuh, karena mereka mundur dengan teratur. Sementara ketika pasukan Kerajaan Watu Galuh hendak mengejar, justru korban berjatuhan dari pihak mereka disambar panah-panah dari sisi pasukan para adipati.

Demikian beberapa kali, kedua pihak saling menjajagi lawan, puluhan prajurit gugur, ratusan yang terluka. Belum ada perwira yang jatuh korban. Dan kedua pimpinan utama pasukan belum bergerak.

Ke empat adipati yaitu Ki Gading Kencana, Ki Karangpandan, Ki Guntur Aji dan Ki Panjalu, memimpin pasukan utama bersama-sama.

“Belum juga ada tanda-tanda dari pasukan Raden Rangga.”, gumam Adipati Panjalu.

“Hmm...”, jawab Adipati Gading Kencana dengan wajah tegang.

“Bagaimana kalau Raden Rangga menipu kita?”, desis Adipati Karangpandan.

“Tidak mungkin, jangan kuatir, prajurit telik sandi barusan mengabarkan, saat ini pasukan mereka sudah berhadapan dengan pasukan Kadipaten Jambangan.”, ujar Adipati Panjalu.

“Lalu apa yang mereka tunggu?”, geram Adipati Karangpandan.

“Aku kira, kuncinya ada pada seribu pasukan yang diam-diam menyelinap pergi itu.”, kata Adipati Guntur Aji.

“Di mana mereka sekarang...”, gumam Adipati Gading Kencana sambil menajamkan mata, berusaha mencari-cari tanda keberadaan mereka, jauh di belakang garis pertahanan pasukan Kerajaan Watu Galuh.

-------

Di seberang sana, Prabu Jannapati duduk di atas kuda, di sisi kanan-nya ada Patih Nandini, berjajar tiga orang tumenggung dan beberapa senapati.

“Belum terlihat jejak seribu orang itu?”, tanya Prabu Jannapati.

“Belum...”, geram Patih Nandini tak kalah risaunya.

Menghilangnya seribu orang prajurit Raden Rangga dari pengamatan mereka membuat mereka harus membagi kekuatan di mana-mana. Meskipun Patih Nandini yakin pasukan mereka yang ada di medan pertempuran saat ini tidak akan kalah dari pasukan gabungan para adipati yang menjadi lawan mereka, tapi seribu prajurit yang bersembunyi dalam gelap ini yang justru menakutkan.

“Bagaimana dengan persiapan untuk menghadapi mereka?”, tanya Prabu Jannapati.

“Hamba sudah menyiapkan seribu orang prajurit berkuda, yang siap bergerak kapan saja.”, jawab Patih Nandini.

“Belum ada kabar dari perbekalan kita?”, tanya Prabu Jannapati.

“Belum ada kabar, tapi seharusnya seribu orang prajurit dari Kadipaten Jambangan selambat-lambatnya sudah bergabung dengan mereka hari ini.”, jawab Patih Nandini.

“Baik...”, Prabu Jannapati kembali memperhatikan medan pertempuran, tapi jelas kerisauan masih membayangi wajahnya.

-------

Mundur ke beberapa hari sebelumnya, Gagak Seta memimpin pasukannya dengan waktu istirahat yang minim, sampai mereka kira-kira satu hari perjalanan jauhnya dari iring-iringan perbekalan Kerajaan Watu Galuh.

“Berhenti...!”, Gagak Seta memberi perintah sambil mengangkat tangan.

“Berhenti..”

“Berhenti...”

Bersahut-sahutan satu demi satu para Lurah Prajurit menyampaikan perintah. Beberapa orang Bekel mengarahkan kudanya mendekat ke arah Gagak Seta.

“Gagak Seta, bagaimana?”, tanya seorang dari mereka.

Gagak Seta melompat turun dari kuda dan menjawab, “Aku lihat ini tempat yang baik untuk beristirahat, lihat di sana ada hutan kecil dan ada sungai juga, kita bisa coba mencari buruan di hutan itu, sementara kita bangun tenda-tenda di pinggiran sungai.”

Salah seorang Bekel mengerutkan alis, “Tapi Gagak Seta, bukankah perintah dari Ki Lesmana supaya kita bergabung secepatnya dengan iring-iringan pengawal perbekalan itu?”

Gagak Seta menggelengkan kepala, “Jupri, kau bayangkan kalau kita bertemu dengan iring-iringan perbekalan itu hari ini. Apa kita bisa beristirahat? Bisa-bisa kita dipaksa lagi mengikuti mereka mengawal perbekalan dalam keadaan kelelahan.”

Sabrang yang ikut menjadi Bekel menyahut, “Aku pilih istirahat dululah. Pegal badanku beberapa hari ini hampir tidak pernah meninggalkan punggung kuda.”

Para bekel saling pandang dan berpikir, 'Benar juga...'

“Jupri, jangan sok rajin kau.”, goda seorang Bekel.

“Ah, kampret, tak usah banyak ngomong. Aku hanya takut Ki Lesmana marah pada kita.”, sahut si Jupri dengan mata melotot.

Gagak Seta tertawa, “Hahaha, sudah-sudah, Ki Lesmana tidak bakalan tahu asal kalian juga tidak bocor mulutnya, kalaupun dia tahu, nanti aku yang bertanggung jawab.”

“Benar kau yang bertanggung jawab?”, tanya Jupri menegaskan.

“Tentu saja, bukankah kita punya alasan yang kuat? Kita datang untuk bantu mengawal, bagaimana kita bisa membantu mengawal dalam kondisi kelelahan? Bayangkan kalau benar-benar pasukan Raden Rangga menyerang saat kita baru bergabung dalam kondisi kelelahan? Kau mau mengantar nyawa sia-sia?”, jawab Gagak Seta sambil mulai menuntun kudanya ke arah sungai kecil yang tidak jauh dari mereka.

“Dasar cerewet “, seru Sabrang ke arah Jupri sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian melompat turun dari kudanya dan meregangkan otot-ototnya yang pegal dengan nikmat.

Jupri pun ikut melompat turun sambil bersungut-sungut. Tak lama kemudian perintah untuk beristirahat itu sudah menyebar dan disambut dengan gembira oleh pasukan yang dipimpin Gagak Seta itu. Meskipun sebagai prajurit mereka tidak disiplin, tapi sebagai orang yang biasa berkelana dalam dunia persilatan, dalam waktu singkat mereka sudah selesai menyiapkan tempat untuk beristirahat.

Kuda-kuda, sesuai perintah Gagak Seta dikumpulkan sedikit tersembunyi di dalam hutan yang kecil itu.

Hanya saja ketidak teraturan mereka masih terlihat dari cara mereka mengatur tempat perhentian sementara itu, tidak ada pengaturan yang jelas, mereka berkumpul sesuai keinginan masing-masing saja.

Gagak Seta sebagai pemimpin membiarkan hal itu terjadi, meskipun beberapa Bekel berusaha mengatur prajurit di bawah pimpinannya, tapi karena Gagak Seta dan beberapa Bekel yang lain tidak, usaha mereka pun jadi tidak efektif.

“Sabrang, kau dan Kakang Partajaya, setelah kalian cukup beristirahat, dului kami untuk menemui pasukan yang mengawal perbekalan itu. Beritahukan keadaan kita pada mereka, kita akan menunggu mereka di sini.”, setelah mereka beristirahat beberapa saat, Gagak Seta berteriak memberi perintah pada dua orang itu.

“Aish... sial, kenapa aku yang kena?”, dengus Sabrang sambil berdiri dengan kemalas-malasan, mengundang tawa dari rekan-rekannya yang lain.

“Nanti saja, kau beristirahat dulu, tapi jangan terlalu lama.”, ujar Gagak Seta sambil tertawa.

Bukan hanya Bekel, bahkan mereka yang pangkatnya di bawah Sabrang dan Partajaya juga ikut mentertawakan mereka berdua. Partajaya hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu merebahkan tubuhnya untuk tiduran di atas tanah. Sabrang yang kemudian jadi sasaran ejekan rekan-rekannya yang lain.

Demikian mereka bergurau dan beristirahat.

-----

Ketika prajurit-prajurit muda Kadipaten Jambangan sedang menikmati istirahat mereka, saat ini Partajaya dan Sabrang memacu kudanya. Saat ini penampilan mereka tidak seperti ketika mereka baru berangkat dari tempat rekan-rekan mereka beristirahat.

Beberapa luka dengan darah masih mengucur, menghiasi tubuh mereka.

Bukan hanya mereka berdua, demikian juga kuda yang ditunggangi terlihat kelelahan karena terus menerus dipacu tanpa henti.

“Lihat kakang, itu mereka.”, ujar Sabrang tiba-tiba.

Partajaya yang kondisinya lebih buruk dari Sabrang, mengangkat kepala dan melihat ke arah yang ditunjuk Sabrang. Terlihat di kejauhan debu tipis mengepul, lamat-lamat Partajaya bisa mendengar suara derit gerobak dan derap langkah kaki kuda.

“Bagus... Kau pacu kudamu lebih cepat, aku akan menyusul sebisaku.”, jawab Partajaya dengan suara lemah.

“Bagaimana dengan kondisimu kakang?”, tanya Sabrang dengan cemas.

“Tidak masalah, tidak ada luka di tempat yang penting bukan? Hanya terasa pening dan lemas saja. Sudahlah, cepat kau temui mereka, semakin cepat kau berhasil meyakinkan mereka, semakin cepat pula mereka menolongku.”, jawab Partajaya sebelum kemudian memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke atas leher kuda yang terus berpacu.

“Baiklah, kau hati-hati kakang, jangan sampai jatuh.”, jawab Sabrang sebelum kemudian melepaskan pegangannya dari tali kekang kuda Partajaya dan memacu kudanya sendiri secepat mungkin menuju ke rombongan pengawal perbekalan yang ada di depan.

“Tahan...!”, tiba-tiba terdengar suara dari sisi jalan, beberapa puluh merter sebelum Sabrang sampai ke tempat tujuannya.

Beberapa orang prajurit terlihat berlompatan menghadang jalan, salah seorang dari mereka bertanya, “Siapa kalian?”

Sabrang menghentikan kudanya dan menjawab. “Apakah kalian prajurit Kerajaan Watu Galuh? Aku Sabrang salah seorang prajurit dari Kadipaten Jambangan. Kami diperintahkan untuk membantu mengawal perbekalan, tapi di tengah jalan kami disergap oleh pasukan Raden Rangga.”

“Kalian bertemu dengan pasukan Raden Rangga?”, tanya prajurit yang menghadang Sabrang dengan cemas dan tegang.

“Tunggu, jika kau pasukan Kadipaten Jambangan, tunjukkan tanda pengenalmu.”, salah seorang prajurit yang lain menyela.

Sabrang mengambil medali pangkat yang dia selipkan di pinggang, penanda sebagai Bekel dari pasukan Kadipaten Jambangan.

“Kalau benar kalian pasukan Kerajaan Watu Galuh, cepat tolong rekanku, dia ada di belakangku. Laporkan juga pada pemimpin kalian.”, ujar Sabrang sambil melemparkan tanda pangkatnya ke salah seorang prajurit yang menghadang dirinya itu.

Pada saat mereka masih bercakap-cakap, kuda yang membawa Partajaya sudah menyusul pula dengan kecepatan yang jauh lebih rendah. Sementara Partajaya terlihat terayun-ayun di atas kuda tunggangannya, kedua lengannya memeluk erat leher kuda itu.

Pimpinan dari para prajurit yang menghadang Sabrang segera menggamit salah seorang anak buahnya dan berseru, “Cepat kau tolong orang itu.”

Kemudian menoleh ke arah Sabrang dan bertanya, “Itu rekanmu?”

“Benar”, Jawab Sabrang dengan rasa lelah yang tiba-tiba menyerbu tubuhnya.

Sepanjang perjalanan darah mereka tidak berhentinya mengucur dan pemuda itu tiba-tiba merasa kepalanya ringan, dan sesaat kemudian pandangannya menjadi gelap.

--------

Siapa yang menyerang Sabrang dan Partajaya? Benarkah seribu orang prajurit Raden Rangga yang memisahkan diri dari pasukan utama itu menyerang bantuan yang dikirim oleh Adipati Jalak Kenikir untuk mengamankan perbekalan Kerajaan Watu Galuh?

Jika benar, mengapa mereka melukai rekan-rekannya sendiri? Apakah mereka tidak tahu bahwa Sabrang dan Partajaya adalah prajurit telik sandi pasukan mereka sendiri?

Inikah arti firasat buruk yang dirasakan Gagak Seta?

Bersambung ke Bab XLV
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di