CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLII
Firasat Buruk


Dengan gesit Ki Ageng Aras memasuki barak prajurit Kademangan Jambangan. Jangankan kompleks prajurit baru yang disiplinnya longgar, untuk memasuki area gedung Kadipaten di mana Adipati Jalak Kenikir tinggal pun, bisa dilakukan Ki Ageng Aras tanpa halangan yang berarti.

Pendekar tua itu berkelebat ringan, melompati tembok luar yang setinggi dua kali tinggi badan orang dewasa.

Pendengaran dan perasaannya yang tajam, membantunya menghindari baik prajurit yang berjaga, maupun yang berpatroli dari satu tempat ke tempat lain. Perlahan-lahan dan hati-hati Ki Ageng Aras menyusuri barisan rumah-rumah panjang yang berderet-deret. Hidungnya sesekali mengendus-endus udara.

Ketika sampai di satu persimpangan, pendekar tua itu berdiri diam, beberapa kali dia mengendus ke kiri dan kanan.

'Hmm... bau ramuan obat.' , pikir orang tua itu.

'Menurut laporan, mereka yang terluka dalam pertarungan hari ini, semuanya tinggal di barak pengobatan. Moga-moga Gagak Seta juga ada di sana.', Ki Ageng Aras perlahan-lahan mendekati tempat asal bau obat-obatan tersebut.

Melihat tidak ada orang di sekitar lokasi itu, Ki Ageng Aras berjalan dengan tenang, seperti selayaknya orang yang memang punya hak untuk berada di tempat itu. Jika ada prajurit yang melihat dari kejauhan, mungkin mereka akan berpikir dia seorang tabib yang hendak memeriksa pasiennya. Tanpa kesulitan yang berarti Ki Ageng Aras memasuki rumah panjang itu.

'Terlalu ceroboh...', pikir Ki Ageng Aras dengan dahi berkerut.

Jika muridnya tidak ada di dalam rumah panjang itu, tentu dia tidak peduli dengan keamanan-nya yang terlalu longgar. Perlahan-lahan, tanpa suara Ki Ageng Aras berjalan memeriksa isi ruangan itu. Terlihat beberapa dipan kayu berjajar di dua sisinya, ada beberapa yang terisi, sebagian besar lainnya kosong.

Hanya ada beberapa lampu minyak, yang tempatnya juga berjauhan, menerangi ruangan yang memanjang itu.

Mata Ki Ageng Aras seperti berpendar saat dia merapal ilmunya, hingga dengan mudah dia bisa melihat dalam kegelapan. Kebetulan Gagak Seta berada di ujung yang terdekat. Dengan langkah yang ringan, Ki Ageng Aras berjalan ke tempat Gagak Seta beristirahat.

Ketika Ki Ageng Aras baru saja sampai di samping tempat tidurnya, Gagak Seta tiba-tiba membuka mata, dan dengan gesit dia meraih kursi kecil yang ada di samping tempat tidurnya, bersiap hendak melemparkan kursi itu ke arah Ki Ageng Aras.

Namun Ki Ageng Aras jauh lebih cekatan.

“Ini aku.”, bisiknya sambil menahan tangan Gagak Seta.

“Guru..”, bisik Gagak Seta tak percaya.

“Hmm... kita keluar.”, bisik Ki Ageng Aras, lalu tanpa menunggu jawaban dari Gagak Seta dai berjalan dengan ringan meninggalkan bangunan itu.

Gagak Seta bangkit dari tempat tidurnya sambil mengucak-ucak mata, butuh beberapa lama sebelum dia yakin, bahwa dia tidak sedang bermimpi. Anak muda itu melihat ke pasien-pasien yang lain yang masih tertidur pulas, kemudian dengan hati-hati, tanpa suara meninggalkan tempat tidurnya.

Di luar Ki Ageng Aras dengan santai duduk di salah satu anak tangga kayu.

Dengan sedikit terpincang, Gagak Seta berjalan mendekat. Telapak kaki kirinya, yang bekas tersabet Golok Emas Tapakdara masih dibebat kain, dan dia harus berjalan dengan hati-hati agar lukanya tidak terbuka kembali.

“Duduklah di sini.”, ujar Ki Ageng Aras sambil menepuk anak tangga di sebelahnya.

Ki Ageng Aras tidak membantu Gagak Seta yang sedikit kesulitan untuk bergerak, dengan banyaknya luka di tubuh. Dia hanya diam memperhatikan.

Ketika Gagak Seta akhirnya duduk dengan nyaman di sisinya, pendekar tua itu bertanya, “Hmm, bagaimana? Kau sudah bisa mengukur seberapa tinggi ilmumu? Masih merasa hebat?”

Gagak Seta menyengir sambil menggaruk jidatnya yang tak gatal.

“Aduh.”, tak sengaja dia menggaruk salah satu bagian yang luka.

“Hahaha... iya guru, kapok sudah merasa paling hebat.”, jawab pemuda itu sambil menyengir.

Ki Ageng Aras tertawa kecil, “Hehe, sudahlah, aku tahu kau juga tidak merasa jumawa dengan kepandaianmu. Tapi kuharap dengan pengalamanmu kali ini, kau bisa merasakan dengan tubuhmu juga, di atas langit masih ada langit.”

“Iya guru.”, jawab Gagak Seta dengan patuh.

“Tapi aku juga harus memuji dirimu, meskipun aku tidak melihat secara langsung, tapi aku bisa membayangkan bagaimana jalannya pertarungan itu. Ini juga harus kau jadikan sebagai pengalaman. Kekuatan bukan satu-satunya penentu kemenangan, baik dalam pertarungan maupun peperangan.”, ujar Ki Ageng Aras.

“Terima kasih guru.”, jawab Gagak Seta tanpa merasa tinggi hati.

“Dari pengalamanmu kali ini, bagaimana menurutmu kemenangan seperti yang berhasil kau dapatkan hari ini?”, tanya Ki Ageng Aras.

Gagak Seta merasa harus berpikir lebih lama dan berhati-hati sebelum menjawab, dia merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan gurunya. Gurunya ingin dia berpikir lebih luas dari pengalamannya hari ini, dia harus menggunakannya sebagai batu lompatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih penting dari pertarungan itu sendiri.

Ki Ageng Aras diam menunggu, tidak memburu-buru Gagak Seta yang sedang terdiam dan berpikir.

Setelah cukup lama, Gagak Seta akhirnya menjawab, “Seandainya saja kekuatanku seimbang dengan Tapakdara, belum ada kepastian aku bisa menang, ada banyak faktor di luar diri kami yang bisa menentukan hasil akhirnya. Istilahnya, untung-untungan guru.”

Ki Ageng Aras mengangguk, “Hmm..”

“Ilmu dan kemampuan Tapakdara saat itu, kira-kira selapis lebih tinggi dari kemampuanku. Itu pun tidak ada jaminan pada kemenangan, sedikit saja salah perhitungan, bisa berakhir pada kekalahan.”, Gagak Seta melanjutkan.

“Lanjut...”, ujar Ki Ageng Aras.

“Ketika perbedaan kekuatan itu sangat jauh berbeda, sampai pada titik tertentu, barulah menang dan kalah itu ada kepastiannya.”, jawab Gagak Seta.

“Terus, lanjut”, ujar Ki Ageng Aras.

Gagak Seta terdiam sebentar, kemudian dengan hati-hati menjawab. “Keadaan kita saat ini, pasukan yang dipimpin Raden Rangga, bisa dikatakan berjalan di jalan yang sangat sempit, kiri-kanannya ada jurang yang dalam. Salah langkah sedikit saja, kita akan menghadapi kekalahan.”

Kali ini Ki Ageng Aras terdiam dan tidak menuntut jawaban yang lebih jauh lagi.

Sampai akhirnya Gagak Seta memecahkan kebisuan itu, “Menurut guru, kita akan gagal?”

Ki Ageng Aras menggelengkan kepala, “Tidak... Raden Rangga... mungkin kau belum cukup mengenal dia, tapi aku sudah cukup lama mengenal dia, bahkan ketika dia masih sangat muda, belum dewasa... Dia memiliki sesuatu yang bisa mengubah keadaan.”

“Tapi guru terlihat prihatin dan... khawatir?”, tanya Gagak Seta hati-hati.

“Karena yang aku lihat, sama seperti yang kau lihat dan uraikan tadi.”, jawab Ki Ageng Aras.

Gagak Seta mendesah panjang, beban di pundaknya jadi terasa makin berat, “Sekarang apa yang haris kita lakukan guru?”

Ki Ageng Aras memandang ke arah Gagak Seta dan tersenyum menenangkan, “Kita jangan terlalu mengkhawatirkan tentang hasil akhirnya. Aku mengingatkanmu pada hal ini, karena aku ingin mengingatkan dirimu, tiap-tiap dari diri kita harus berusaha yang terbaik untuk melakukan apa yang menjadi tugas kita, karena situasi kita saat ini, sangat dekat sekali dengan bahaya. Seperti yang kau katakan, salah langkah sedikit saja, hasilnya akan berantakan.”

Gagak Seta menganggukkan kepala, “Aku mengerti guru.”

“Baguslah kalau begitu...”, kata Ki Ageng Aras sambil menepuk-nepuk pundak Gagak Seta.

Dalam hati Gagak Seta merasa sedikit tersentuh dan terharu, tumbuh besar kehilangan sosok seorang ayah, tiba-tiba sekarang hadir sosok seorang guru. Setelah untuk sekian tahun lamanya dia tidak mempunyai sandaran, sekian tahun hanya bisa mengandalkan kerasnya tulang dan liatnya otot, tiba-tiba sekarang ada sosok yang memberi dia rasa aman.

“Malam ini aku mengunjungimu, pertama untuk melihat keadaanmu. Yang kedua untuk menyampaikan keputusan kami mengenai jabatanmu saat ini. Jika nanti Senapati Lesmana memberi kau kesempatan untuk memilih Bekel yang membantumu. Pilih satu Bekel dari orang kita, dan satu Bekel lagi dari orang di luar kesatuan kita.”, Ki Ageng Aras melanjutkan.

“Siap guru.”, jawab Gagak Seta.

“Sekarang coba kau pejamkan matamu, buang segala ketegangan dari tubuhmu dan kekuatiran dari pikiranmu. Fokuskan saja pada nafasmu.”, Ki Ageng Aras berdiri dan meletakkan satu telapak tangannya ke atas kepala Gagak Seta.

Gagak Seta pun dengan cepat memahami apa yang diminta gurunya, dalam waktu singkat dia sudah duduk bersila dengan pikiran dan hati yang diam tenang. Perlahan-lahan dia bisa merasakan hawa yang hangat dan nyaman mengaliri tubuhnya.

“Sekarang kau perhatikan baik-baik, sebelumnya aku sudah mengajarkan padamu bagaimana melambari jurus pertama sampai ketiga dari Silat Sembilan Cakar Garuda dengan hawa murni. Sekarang aku akan berusaha menunjukkan setiap perubahan dan bagaimana sirkulasi energi dalam tubuhmu, berhubungan dengan enam jurus yang berikutnya.”, Gagak Seta mendengar Ki Ageng Aras.

Sejenak kemudian, sambil menggerakkan hawa murni di dalam tubuh Gagak Seta, Ki Ageng Aras menyebutkan bait demi bait yang menjelaskan.

“Nah sambil kau menunggu tubuhmu pulih seperti sedia kala, kau bisa lebih berkonsetrasi berlatih bagaimana mengendalikan dan menyalurkan hawa murni dalam tubuhmu.”, Ki Ageng Aras berkata sambil menarik kembali telapak tangannya dari atas kepala Gagak Seta.

Perlahan-lahan Gagak Seta membuka mata, kemudian berbalik dan memberi hormat pada gurunya.

“Terimakasih guru...”, ucapnya dengan tulus.

“Aku akan pergi sekarang, tapi sebelum aku pergi, kau terimalah ini.”, Ki Ageng Aras mengambil sesuatu dari balik bajunya.

Gagak Seta melihat sebilah keris yang cukup panjang, dia ingat, biasanya keris itu diselipkan di pinggang, tapi tersembunyi di balik baju Ki Ageng Aras. Meskipun karena ukurannya yang cukup panjang, bentuknya terlihat dari luar baju.

“Ini...”, Gagak Seta ragu-ragu hendak menerima keris itu.

Ki Ageng Aras tersenyum, “Terimalah, keris itu aku dapat dari guruku dan sekarang aku serahkan padamu.”

Gagak Seta menerima keris itu, namun dengan ragu dia memandang ke arah gurunya, “Bagaimana dengan guru? Kalau keris ini aku bawa, guru akan memakai senjata apa nanti?”

Ki Ageng Aras tertawa geli, “Hahahaha...., keris itu bukan senjataku, tapi semacam warisan turun temurun saja.”

Gagak Seta bergantian memandang ke arah keris yang ada di tangannya, lalu ke arah Ki Ageng Aras, tak mengerti apa yang membuat gurunya geli.

Ki Ageng Aras kemudian berkata, “Coba kau cabut keris itu.”

Gagak Seta mengerutkan alis tak paham, tapi dengan segara dengan penuh rasa ingin tahu bergerak menarik keris itu dari warangkanya. Seketika itu juga matanya terbuka lebar, kemudian kembali memandang ke arah Ki Ageng Aras tak mengerti.

“Bagaimana?”, tanya Ki Ageng Aras sambil tersenyum.

“Tidak bisa kutarik guru.”, ujar Gagak Seta sambil ragu-ragu, sekali lagi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencabut keris itu dari warangkanya.

“Hahahahaha.”, Ki Ageng Aras merasa geli dan tertawa tergelak, bahkan agak keras.

“Apa memang keris ini... tidak bisa dicabut? Lalu... cuma hiasan?”, tanya Gagak Seta sambil menggaruk kepalanya.

“Aduh...”, seru pemuda itu karena sekali lagi tak sengaja menggaruk luka yang belum sembuh.

“Hahaha... sudahlah, kau simpan saja keris itu. Anggap itu sebagai barang kenangan dariku sebagai seorang guru pada muridnya.”, ujar Ki Ageng Aras tak menjelaskan lebih lanjut.

Sambil sedikit bersungut-sungut, Gagak Seta menyimpan keris itu di balik bajunya, sama seperti Ki Ageng Aras biasa menyimpan keris itu, “Hmm.. keris aneh..”

“Sudahlah, kau simpan saja, dan sekarang aku akan pergi dulu. Kau sendiri jaga dirimu baik-baik. Ingat situasi kita saat ini cukup genting, jadi kalian semua harus bertugas dengan sungguh-sungguh hati.”, ujar Ki Ageng Aras berpesan, sebelum kemudian menghilang dalam kegelapan tanpa menunggu jawaban dari Gagak Seta.

Gagak Seta berdiri diam, memandangi kegelapan yang menelan bayangan gurunya. Tangannya masih meraba keris yang baru saja diberikan Ki Ageng Aras padanya. Entah kenapa, hatinya merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Entah apa dan kapan, tapi kemudian Gagak Seta menghalau pergi perasaan itu.

“Hahh.... oedulit setan dengan firasat buruk... Ke depan ini sudah jelas akan ada pertempuran besar. Aku, guru, Senapati Manggala, Kakang Partajaya, semuanya... bisa sjaa setiap saat gugur...”, Gagak Seta menghembuskan nafas panjang-panjang, mengusir pergi perasaan yang mengganggu hatinya.

“Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar sesuai rencana Raden Rangga.”, gumam pemuda itu sambil berbalik, berjalan kembali ke dalam barak pengobatan.

Bersambung ke Bab XLIII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Lanjutkan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di