CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLI
Senapati Gagak Seta

Agak lama Gagak Seta berpikir, sementara Senapati Lesmana menunggu jawabannya dengan sabar, ingin tahu pula bagaimana Gagak Seta akan memutuskan.

Akhirnya pemuda itu menjawab, “Aku ingin mencoba meneruskan Ki Senapati, siapa tahu pula lawanku nanti juga dalam kondisi terluka? Dan juga sebelum memasuki putaran berikutnya, masih ada tujuh pertarungan lain, aku masih memiliki kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri. Jika nanti ternyata aku mendapat lawan yang terasa berat, belum terlambat untuk mengaku kalah. Aku tidak ingin mundur sebelum memastikan situasinya. Mundur karena takut pada sesuatu yang belum tentu.”

Senapati Lesmana mengangguk puas, dan semakin kagum dengan sikap dan watak pemuda itu, “Bagus, baiklah, sekarang kau bergeser ke pinggir sana.”

“Ki, kau rawat lukanya sampai selesai, pastikan dia sejauh mungkin bisa memulihkan tubuhnya, sebelum memulai pertarungan yang berikutnya.”, ujar Senapati Lesmana pada tabib yang merawat Gagak Seta.

Demikianlah maka sayembara itu pun kembali berlangsung. Gagak Seta duduk bersila di pinggiran panggung, seluruh luka-lukanya sudah dibersihkan, diolesi obat dan dibebat dengan rapi.

Sementara Tapakdara sudah digotong pergi ke salah satu barak yang memang disiapkan untuk prajurit-prajurit yang terluka, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.

Senapati Lesmana dan Senapati Rendra kembali bercakap-cakap sambil mengamati pertarungan yang terjadi di depan mereka. Namun setelah menyaksikan pertarungan antara Gagak Seta dan Tapakdara, pertarungan yang berikutnya jadi terlihat sedikit membosankan.

Bukan hanya kedua senapati itu saja, di bawah panggung pun, prajurit-prajurit yang menonton masih juga membicarakan pertarungan antara Gagak Seta melawan Tapakdara. Apalagi nama Tapakdara sudah dikenal sebagai seorang pendekar yang pilih tanding, setidaknya di sekitaran Kadipaten Jambangan.

“Kakang, kulihat pemuda tadi tidak menyembunyikan sesuatu, atau memiliki suatu rahasia. Mungkin dia memang seorang pengelana saja.”, ujar Senapati Lesmana pada Senapati Rendra.

“Hmm... aku juga merasa begitu, tapi kau harus tetap berhati-hati.”, ujar Senapati Rendra.

“Tentu saja, hanya saja, sekarang dengan terlukanya Tapakdara, aku tidak tahu siapa lagi yang pantas menempati posisi sebagai Senapati Pengiringku. Kalau dari segi kemampuan dan sikap, sepertinya pemuda itu, Gagak Seta, justru orang yang paling pantas untuk menempatinya.”, jawab Senapati Lesmana.

Senapati Rendra hanya bisa mengangkat bahu, “Ya... dengan kalahnya dan terlukanya Tapakdara, sekarang kita hanya bisa menyerahkan hasilnya pada nasib.”

Senapati Lesmana memandangi mereka-mereka yang sudah memenangkan pertarungan, dan yang masih menunggu gilirannya, dan akhirnya berkata, “Benar Kang, kali ini siapapun yang menang, aku tidak punya keyakinan penuh mereka itu aman untuk dipercayai.”

Untuk sesaat lamanya, Senapati Rendra memejamkan mata, dia merasa ada bayangan gelap yang sekilas menaungi rasa batinnya.

Ketika dia membuka matanya lagi, Senapati Rendra melihat rekannya yang masih muda, sedang mengamati pertarungan yang sedang terjadi. Senapati yang berusia cukup lanjut itu menekan perasaannya dan ikut menyaksikan pertarungan dalam diam.

'Kuharap Ki Adipati tidak mengambil keputusan yang salah.', pikir Senapati Rendra dalam hati.

Pertarungan putaran pertama berakhir dengan empat orang prajurit telik sandi Rangga berhasil lolos ke putaran kedua.

Gagak Seta akhirnya memutuskan untuk mengikuti putaran yang kedua dan berhasil menang melawan lawannya. Perebutan gelar pangkat Senapati Muda sepertinya mencapai puncaknya justru pada pertarungan antara Gagak Seta melawan Tapakdara.

Meskipun pertarungan-pertarungan berikutnya sesekali menarik perhatian mereka yang menonton, tapi percakapan mereka tak pernah lepas dari pertarungan Gagak Seta dan Tapakdara.

Di putaran kedua itu, kemenangan Gagak Seta diikuti oeh kemenangan rekan-rekannya yang lain, mereka berhasil lolos seluruhnya ke putaran ke-tiga, sehingga dari lima orang yang lolos ke putaran ke-tiga, empat orang adalah prajurit telik sandi Rangga.

Dengan jumlah yang tidak genap tersebut, Senapati Lesmana mengistirahatkan Gagak Seta.

Dalam pertarungan antara Hambali, salah seorang rekan Gagak Seta, melawan satu-satunya peserta yang masih tersisa, yang bukan merupakan prajurit telik sandi Rangga, Hambali dengan susah payah berhasil memenangkan pertarungan itu.

Senapati Lesmana diam-diam berhitung, dari segi kemampuan sebenarnya Gagak Seta dan Tapakdara adalah yang terbaik, dan Gagak Seta berhasil mengalahkan Tapakdara.

Namun kondisi Gagak Seta tidak memungkinkan untuk memenangkan sayembara itu, Partajaya dan Sembara, dua prajurit lain selain Gagak Seta dan Hambali, masih dalam keadaan yang relatif baik, tanpa luka berat, seperti Gagak Seta dan Hambali.

“Agar pertandingan berikutnya berimbang, kau lawan dia.”, ujar Senapati Lesmana menunjuk Partajaya dan Sembara.

“Kemudian kau, melawan kau.”, ujar Senapati Lesmana menunjuk Gagak Seta dan Hambali.

Mereka berempat saling berpandangan, apapun hasil dari pertarungan berikutnya, bagi mereka berempat tak terlalu penting lagi.

Hambali membuka mulut, “Maaf, Ki Senapati, aku memutuskan untuk mundur dari sayembara ini. Lukaku cukup berat dan setelah melihat pertarungan antara Gagak Seta melawan Ki Tapakdara, sebenarnya aku merasa kepandaianku jauh di bawah mereka berdua. Sehingga setelah aku pertimbangkan dengan masak, rasanya tak pantas aku memaksakan diri, seakan-akan aku bertarung hanya untuk menjegal Gagak Seta agar gagal menjadi juara.”

Wajah Senapati Lesmana terlihat puas, “Ah... begitu? Bagus.. bagus... aku terima alasanmu.”

“Kalau begitu tinggal kalian berdua sekarang, mari kita lanjutkan.”, ujar Senapati Lesmana ke arah Partajaya dan Sembara.

Kedua pemuda itu saling memandang dan tersenyum kecut, kemudian Partajaya berkata pada Senapati Lesmana, “Maaf Ki, sebenarnya kata-kata Hambali tadi mungkin mewakili kita semua. Sekalian teman-teman yang menyaksikan sayembara ini pun rasanya tidak akan rela jika salah satu dari kami berdua yang nantinya menang.”

“Benar Ki, karena jika mau jujur, rasanya semua akan setuju bahwa yang terbaik dari kami, mungkin adalah Ki Tapakdara dan Kakang Gagak Seta. Sayangnya undian justru mempertemukan mereka bukan di pertarungan terakhir.”, sambung Sembara.

Senapati Lesmana mengangguk-anggukkan kepala senang, kemudian dia berbalik ke arah ribuan prajurit yang masih menonton dan bertanya dengan suara keras, “Apa kalian juga berpikir seperti itu? Menurut kalian apakah Gagak Seta yang layak menjadi Senapati Pengiring-ku?”

“Pilih Gagak Seta!”, seorang di bawah panggung berseru keras.

“Gagak Seta jadi Senapati Muda!”, di arah yang lain menyusul terdengar seruan yang serupa.

Siapa lagi mereka ini, kalau bukan prajurit-prajurit telik sandi Rangga sendiri yang diam-diam menyebar di berbagai tempat. Namun karena memang pertarungan antara Gagak Seta dan Tapakdara sebelumnya sudah merebut hati mereka semua, maka cukup dengan sedikit pancingan saja, ribuan prajurit itu pun tergerak.

Seruan demi seruan, sambung menyambung, sampai akhirnya secara serempak mereka berseru-seru, “Gagak Seta! Gagak Seta! Gagak Seta!”

Gagak Seta bagaimana pun masih muda, mendengar seruan bertalu-talu itu dadanya terasa mekar oleh rasa bangga. Senyum lebar pun terbentuk di wajahnya, tapi ketika pandang matanya bertemu pandang mata rekan-rekannya yang masih berada di atas panggung, Partajaya, Sembara dan Hambali, dia diingatkan kembali atas tugasnya yang utama.

Bukan berarti rasa bangga itu hilang begitu saja, tapi Gagak Seta masih bisa menempatkannya di tempat yang tepat.

“Terima kasih.”, ucapnya pada ketiga rekannya yang juga ikut merasa senang karena berhasil menjalankan tugas dengan baik.

Tiga puluh tujuh orang menyusup, seorang dari mereka berhasil menjadi Senapati Muda, jabatan kedua tertinggi setelah Senapati Lesmana sendiri. Tujuh orang lain berhasil mendapatkan pangkat Bekel, sementara sisanya yang lain berhasil mendapatkan pangkat Lurah Prajurit.

Jika mereka berhasil memainkan peran mereka dengan baik, kesatuan baru yang berada di bawah Senapati Lesmana, bisa jadi senjata makan tuan saat pasukan Kadipaten Jambangan berhadapan dengan pasukan Rangga nanti.

Wajah Gagak Seta pun berubah jadi serius ketika mulai memikirkan hal itu. Rasa tanggung jawab yang berat, terasa membebani pundaknya, menggantikan euforia yang sesaat dia rasakan.

Ekspresi wajah Gagak Seta tak lepas dari pengamatan Senapati Lesmana, yang membuat senapati itu semakin yakin dia tidak salah memilih. Begitulah, seorang senapati yang berpengalaman pun tidak bisa lepas dari kelemahan sebagai manusia yang seringkali menilai sesuatu secara subyektif.

Seruan dari prajurit-prajurit di bawah mereda, ketika Senapati Lesmana mengangkat tangannya, kemudian dengan suara yang jelas Senapati Lesmana mengumumkan, “Bagus, aku bangga melihat kejantanan kalian semua, bisa mengakui kelebihan seseorang tanpa harus merendahkan diri sendiri.”

“Dengan ini aku nyatakan, Gagak Seta aku angkat sebagai Senapati Pengiring-ku.”, seru Senapati Lesmana disambut sorak sorai yang membuat panggung itu serasa akan rubuh.

Menunggu mereka mereda, Senapati Lesmana mengumumkan kembali, “Dan menilik bahwa Tapakdara juga tidak kalah digdaya-nya dengan Gagak Seta, maka aku putuskan, setelah Tapakdara nanti pulih dari cederanya, aku juga akan mengangkatnya sebagai Senapati Pengiring.”

Kali ini terdengar sorak-sorai, namun tak seramai sebelumnya. Bagaimana pun juga Tapakdara sangat dikenal di Kadipaten Jambangan, dan tidak sedikit prajurit-prajurit yang hadir di situ mengaguminya. Juga memang kenyataannya bisa dikatakan ilmu Tapakdara sebenarnya justru selapis atau setengah lapis lebih tinggi dari Gagak Seta.

Jika saja dia tidak terpancing oleh taktik Gagak Seta yang mengorbankan dirinya sendiri, kemungkinan besar dia akan menang, kalaupun kalah tentu tidak akan kalah setelak itu.

----

Hari itu Senapati Lesmana menutup semua acara dengan acara singkat berupa pengangkatan mereka-mereka yang terpilih sebagai Lurah Prajurit, Bekel dan Senapati Pengiring.

Sekaligus mengorganisasi pasukan yang baru itu, berdasarkan jumlah perwira yang ada. Tiap Lurah Prajurit mengepalai 10 sampai 12 orang prajurit. Kemudian setiap Bekel akan mengepalai 10 orang Lurah Prajurit.

Gagak Seta sebagai senapati berhak memiliki pasukan khususnya sendiri dengan dua Bekel dan dua puluh Lurah Prajurit. Artinya Gagak Seta sendiri memiliki dua ratus orang prajurit yang sepenuhnya berada di bawah pimpinannya.

Penugasan itu sendiri masih membutuhkan waktu yang tidak singkat, tapi setidaknya prajurit-prajurit telik sandi dari pasukan Rangga itu sudah memililki bayangan, bagaimana mereka nanti bisa berperan.

----

Malam itu, prajurit-prajurit telik sandi pasukan Rangga diliburkan dari latihan malam hari mereka. Hanya beberapa orang yang datang menemui Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala untuk melaporkan hasil yang mereka capai di hari itu.

Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras mendengarkan laporan mereka dengan wajah berseri-seri, bagaimana tidak? Hasil yang mereka dapatkan sudah sangat maksimal. Meskipun hanya tujuh orang dari mereka menjadi Bekel, tapi tiap Bekel mengepalai 10 orang Lurah Prajurit, artinya setidaknya ada 700 orang prajurit yang berada di bawah kepemimpinan mereka. Belum termasuk 29 orang Lurah Prajurit dan Gagak Seta.

Jika mereka ditempatkan menyebar, setidaknya kurang lebih ada 1200 orang prajurit yang berada di bawah pimpinan mereka., sejelek-jeleknya, ada 700 orang prajurit.

Setelah prajurit-prajurit itu kembali ke baraknya masing-masing, dalam gelapnya malam, hanya ditemani api unggun yang kecil, Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras membahas hasil yang mereka capai hari itu.

“Hmm.... tentang bagaimana Senapati Lesmana mengatur siapa di bawah pimpinan siapa, itu di luar jangkauan kita.”, ujar Ki Ageng Aras.

“Benar, tapi mungkin Gagak Seta sebagai senapati, masih punya suara untuk memilih, siapa dua Bekel yang akan dia jadikan tangan kanan dan tangan kirinya. Menurut Ki Ageng Aras, bagaimana sebaiknya?”, sahut Senapati Manggala.

Ki Ageng Aras terdiam beberapa lama, “Hmm.... jika seluruh Lurah Prajurit dan Bekel yang berada di bawah pimpinan Gagak Seta adalah orang-orang kita, maka kecil kemungkinan 200 orang prajurit yang ada di bawah Gagak Seta akan melawan perintah Gagak Seta.”

“Benar, akan tetapi ada masalah waktu, apakah dalam waktu yang singkat ini, mereka bisa menanamkan ketaatan mutlak dari prajurit-prajurit yang mereka pimpin? Jika tidak, lebih baik mereka menyebar, dengan demikian meskipun tenaga mereka tidak bisa digunakan secara langsung untuk kepentingan kita, tapi mereka bisa menimbulkan kekacauan yang besar dalam organisasi pasukan Senapati Lesmana.”, sahut Senapati Manggala.

“Benar juga...”, gumam Ki Ageng Aras sambil berpikir.

Senapati Manggala dengan hati-hati berkata, “Atau mungkin Ki Ageng Aras merasa khawatir dengan keselamatan Gagak Seta?”

Ki Ageng Aras menghela nafas, memandang rekannya yang jauh lebih muda, tapi punya pandangan mata yang tajam itu.

Sambil tersenyum pasrah Ki Ageng Aras menjawab, “Ya... mungkin ini keegoisanku sebagai seorang guru. Jika dua Bekel yang membantu Gagak Seta adalah orang kita sendiri, tentu kedudukannya jadi lebih aman.”

Senapati Manggala mengangguk maklum, “Aku mengerti perasaan Ki Ageng Aras..., namun sebagai pimpinan pasukan, tentu kita memikirkan yang terbaik bagi pasukan kita secara keseluruhan, terutama pada keberhasilan kita mencapai tujuan.”

Ki Ageng Aras mengangguk dengan berat hati, “Ki Manggala benar, biarlah untuk hal ini, aku serahkan pada Ki Manggala, karena terus terang, sepertinya perasaanku belum cukup mengendap untuk dapat mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh perasaanku sebagai seorang guru.”

Ki Manggala berpikir sejenak, kemudian menjawab. “Mungkin kita ambil jalan tengahnya saja, jika memang Senapati Lesmana memberikan kesempatan pada Gagak Seta untuk memilih siapa yang menjadi Bekel pembantu utamanya, dia bisa memilih yang seorang dari orang kita untuk membantu dia.”

“Hmm.... baiklah aku kira itu yang terbaik.”, Ki Ageng Aras menerima usualan Senapati Manggala.

“Ijinkan aku menemui Gagak Seta malam ini, untuk menilik keadaannya, sekaligus menyampaikan keputusan Ki Manggala.”, ujar Ki Ageng Aras kemudian.

“Silahkan Ki, silahkan.”, ucap Senapati Manggala dengan hormat.

Tak lama kemudian, Ki Ageng Aras pun menghilang, bersembunyi dalam gelapnya malam, menyusup ke dalam markas pasukan Kadupaten Jambangan. Entah kenapa, Ki Ageng Aras merasa tak tenang dengan semakin dekatnya mereka dengan pertempuran yang akan terjadi.

Bersambung ke Bab XLII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture


Muantap kisanak, semua balance ga ada yg over power
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di