CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XL
Gagak Seta Terluka


Tapakdara dan Gagak Seta tidak berani terburu-buru menyerang lawan, dengan senjata di tangan sedikit kesalahan bisa berakhir fatal.

Prajurit-prajurit yang lain menonton dengan tegang. Pertarungan kali ini lebih menegangkan dibanding pertarungan-pertarungan sebelumnya, karena kali ini keduanya sudah menarik senjata andalan mereka masing-masing.

Senjata tak punya mata, demikian salah satu perkataan dalam dunia persilatan.

Sebagian besar prajurit yang menonton tidak peduli siapa yang akan menang. Berbeda dengan prajurit-prajurit telik sandi Raden Rangga dan belasan orang yang selama ini menjadi semacam pengikut Tapakdara, meskipun Tapakdara tidak pernah membentuk perguruan atau persekutuan pendekar. Bagi mereka pertarungan ini memiliki pertaruhan yang lebih besar.

Namun bagi Gagak Seta dan Tapakdara, ribuan orang di sekeliling mereka tidak ada bagi mereka. Dalam dunia mereka hanya ada lawan di depan dan senjata di tangan lawan.

Tapakdara memiliki pengalaman yang lebih banyak dari Gagak Seta, dan Gagak Seta menyadari hal itu. Kesadaran itu membuat beban dalam hati Gagak Seta. Sebagai murid Ki Ageng Aras, dia merasa membawa beban untuk mencapai hasil yang terbaik bagi pasukan telik sandi mereka. Dia menyadari pada saat ini Tapakdara adalah tantangan terberat bagi mereka untuk meraih pangkat Senapati Muda.

Gagak Seta sudah mengambil keputusan, kalaupun dia tidak memenangkan pertarungan ini, dia harus berhasil menghentikan Tapakdara untuk melanjutkan sayembara ini.

Tapakdara menangkap ketegangan Gagak Seta dan menanti dengan konsentrasi penuh kesempatan yang dia yakin akan muncul setiap saat. Benar saja, pada sekejapan mata saja, dia melihat Gagak Seta kehilangan fokusnya.

Pada saat itu juga Golok Emas di tangan Tapakdara berkelebat cepat.

“Trang !!!”, meskipun terburu-buru, Gagak Seta masih sempat menggerakkan kerisnya untuk menahan sabetan golok Tapakdara.

Namun serangan Tapakdara tak berhenti dengan satu sabetan, susul-menyusul.

“Trang! Trang! Trang!”

Berkali-kali, mungkin belasan kali, susul menyusul terdengar benturan antara golok dan keris. Gagak Seta dipaksa terus menghindar mundur, terdesak semakin lama posisinya semakin buruk.

Semakin lama, gerakan Gagak Seta terlihat makin gugup dan kalah cepat setengah langkah dari serangan Tapakdara. Prajurit-prajurit telik sandi dari Kademangan Jati Asih menonton dengan keringat dingin membasahi punggung mereka.

Senapati Lesmana menoleh ke arah Senapati Rendra, “Harusnya kau menebak dari tadi Kakang, sekarang sudah terlambat untuk menebak.”

Senapati Rendra tersenyum tipis, “Ya... anak muda itu akan menang.”

Senapati Lesmana terkejut, “Maksud kakang?”

Senapati Rendra menghela nafas panjang, “Jadi kau pun tertipu?”

Senapati Rendra terdiam beberapa saat sebelum berkata, “Kalian berdua terlalu meremehkan anak muda itu, ketika aku mengamati gerak-geriknya, untuk sekilas aku menangkap kesan yang berbeda. Kukira anak muda itu tentu punya latar belakang yang tidak sederhana.”

“Maksud kakang?”, tanya Senapati Lesmana.

“Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja, tapi seperti ada yang menyentuh batinku.”, jawab Senapati Rendra tak jelas.

Senapati Lesmana memandangi Senapati Rendra, tapi tak ada penjelasan lebih lanjut darinya, dan Senapati Lesmana pun kembali memusatkan perhatiannya pada pertarungan yang terjadi di tengah panggung, Kali ini dia mengamati dengan lebih serius.

Tapakdara dan Gagak Seta bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tapakdara terus memburu Gagak Seta, sementara pemuda itu mati-matian berusaha menyelamatkan diri dari serangan Golok Emas milik Tapakdara. Golok Emas Tapakdara berkelebat makin lama makin cepat, dan Gagak Seta semakin kerimpungan dalam menghindarinya.

Kecepatannya setengah lapis di bawah kecepatan gerak Tapakdara, beruntung dia masih selalu sempat menghindar, terkadang dengan gerakan yang sembarangan dan akhirnya menempatkan dirinya dalam posisi yang buruk.

Di belasan tempat di tubuh, tangan dan kakinya sudah terlihat goresan-goresan luka bekas sabetan golok Tapakdara.

Rambutnya terurai awut-awutan, tali pengikat rambutnya sudah tertebas putus oleh golok Tapakdara beberapa gebrakan yang lalu. Demikian pula satu sandal kulit yang dipakai sudah terpotong setengahnya, menyisakan pula luka yang cukup dalam di telapak kaki Gagak Seta sehingga di permukaan panggung kali ini sudah dihiasi ceceran darah di mana-mana.

Untuk beberapa saat lamanya Senapati Lesmana mulai meragukan ketajaman mata rekannya yang lebih tua.

Namun beberapa saat kemudian, Senapati Lesmana merasa dadanya mencelos, tanpa sadar tangannya setengah bergerak meraih keris yang diselipkan di pinggang, “Kakang...”

Senapati Rendra menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan yang terjadi, “Kau menyadarinya sekarang?”

“Tapakdara belum menyadarinya, setiap kali pemuda itu selalu berhasil menghindari serangan yang mematikan. Meskipun dengan demikian, dia juga menempatkan dirinya dalam situasi yang berbahaya, tapi sekarang dia sudah tahu seluruh kartu terbaik dari Tapakdara. Sementara dirinya sendiri masih menyimpan kejutan.”, ujar Senapati Lesmana dengan tatapan khawatir.

“Ya, Tapakdara terlalu dekat dengan permasalahannya, dia sudah terbawa dengan irama pertarungan kali ini, pikirannya sudah tenggelam dengan hawa membunuh. Setiap kali serangannya berhasil melukai lawan, setiap kali dia melihat darah lawan membasahi goloknya, semakin dia tenggelam dalam ilusi bahwa dia berada di atas angin, bahwa sedikit lagi dan lawan akan gugur di bawah serangan goloknya.”, desah Senapati Rendra.

Kedua senapati itu terdiam untuk beberapa saat, kemudian Senapati Rendra bertanya, “Tapakdara, apa dia orang yang kau siapkan untuk menjadi Senapati Pengiringmu?”

Senapati Lesmana menghela nafas panjang beberapa kali dan akhirnya menjawab, “Ya, tadinya aku berharap dia yang memenangkan sayembara ini dan menjadi Senapati Pengiringku. Dari semua orang yang punya kemampuan, dia yang paling menonjol dan latar belakangnya pun jelas.”

Senapati Rendra berpikir untuk beberapa saat lamanya, lalu berkata, “Kalau kau mau, aku bisa membantu Tapakdara diam-diam.”

“Kakang yakin tidak akan ketahuan?”, tanya Senapati Lesmana sambil menoleh ke arah Senapati Rendra penuh harap.

“Hmph... jika di antara mereka ada yang bisa menangkap getaran batin yang aku lontarkan, sudah pasti dia orang yang berkepandaian tinggi dan menyembunyikan kemampuannya. Tak perlu banyak tanya, langsung saja tangkap sebagai mata-mata. Hanya saja aku ingat, bahwa Gagak Seta ini sempat membuat Kakang Glagah Wiru tertarik.”, jawab Senapati Rendra sambil tersenyum sinis.

“Benar dan memang pemuda itu punya sikap yang tepat untuk dijadikan seorang prajurit, tapi latar belakangnya sebagai perantauan tak sejelas Tapakdara yang kita ketahui siapa orang tuanya, gurunya dan latar belakangnya selama belasan tahun ini.”, jawab Senapati Lesmana.

“Jadi bagaimana? Dalam situasi ini, jika aku ikut campur, kemungkinan besar pemuda itu akan kehilangan nyawanya.”, tanya Senapati Rendra menegaskan.

Senapati Lesmana mengamati pertarungan yang sengit di depannya itu, setiap saat bisa saja berarti akhir bagi salah satu dari mereka yang sedang bertarung, kemudian dia pun mengeraskan hati dan menjawab, “Baiklah kakang, jabatan Senapati Pengiring terlalu penting untuk dipegang orang yang tidak kita ketahui dengan jelas latar belakangnya.”

Namun belum sempat Senapati Rendra menjawab, dia yang terus mengawasi pertarungan itu dengan penuh perhatian, wajahnya tiba-tiba berubah. Senapati Lesmana pun buru-buru menengok kembali ke arah pertarungan antara Gagak Seta dan Tapakdara.

Gagak Seta yang sudah berlumuran darah di mana-mana, bergulingan di atas lantai panggung, menghindari serangan Tapakdara. Seperti yang sudah-sudah Tapakdara memburu ke depan, tapi tanpa sengaja kakinya sedikit terpeleset ketika menginjak genangan darah yang membasahi lantai panggung.

“Dug!”, jantung Tapakdara terasa seperti jatuh ke perutnya, ketika kedudukan kakinya menggeser di atas genangan darah yang licin, dan membuat dia kehilangan keseimbangan sekejapan mata saja.

Di saat yang sekejap mata itu, Tapakdara melihat pemuda yang dari tadi dia buru, seperti seekor kucing memburu seekor tikus, tiba-tiba matanya mencorong tajam.

Sorot mata mereka bertemu dan Tapakdara melihat sorot mata Gagak Seta yang tajam bagai elang dan tiba-tiba dia tersadar, sedari tadi bukan dia yang memburu Gagak Seta. Pemuda itu yang sedang memburu dia. Menanti saat yang tepat untuk melontarkan satu serangan penghabisan.

Kesadaran yang terlambat.

Ketika pikiran itu sedang berkelebat dalam benaknya, keris di tangan Gagak Seta berkelebat jauh lebih cepat lagi.

“Crass....!! Srkkk...!”, keris di tangan Gagak Seta meluncur tajam, memaku telapak kaki kanan Tapakdara ke atas panggung.

Begitu deras dan kuat tenaga yang dipakai Gagak Seta, hingga kerisnya menembus kaki Tapakdara dan masih terus bergerak menancap ke atas panggung, sampai seluruh bilahnya tertanam dan hanya gagangnya saja yang menyembul keluar dari telapak kaki Tapakdara.

“UAARHHH....!!”, terdengar teriakan Tapakdara menahan rasa sakit yang tak terperi.

Belum habis teriakan Tapakdara, tubuh Gagak Seta yang tadi bergulingan di atas lantai panggung, sekarang sudah melenting dengan gesit di udara. Tubuhnya melayang di atas tubuh Tapakdara yang setengah menunduk karena sebelumnya sedang menyabetkan golok ke arah Gagak Seta yang bergulingan di bawah.

Dua tangan Gagak Seta terkembang seperti seekor garuda, satu kakinya menekuk di depan dada melindungi tubuh, sementara satu kakinya lagi dengan sebat bergerak menendang ke bawah.

“DUG!”, tanpa bisa dihindari, kaki Gagak Seta menghantam punggung Tapakdara yang terbuka lebar.

Tubuh Tapakdara pun terhajar jatuh dengan wajah mencium lantai panggung, tapi Gagak Seta tidak berhenti di situ. Kesepuluh tangannya yang sudah membentuk cakar, bergerak cepat ke arah tangan Tapakdara yang masih menggenggam golok.

“CUKUP!!!”, tiba-tiba terdengar seruan dari arah Senapati Lesmana.

Hampir di saat yang bersamaan terdengar suara, “KRAAK!!”

Gagak Seta dengan tubuh terhuyung-huyung mundur ke belakang, sambil memandang ke arah Senapati Lesmana dan Senapati Rendra dengan wajah terkejut dan takut. Ya, anak muda itu benar-benar terlambat mendengar seruan Senapati Lesmana.

Ketika dia menyadari seruan Senapati Lesmana itu, kesepuluh jarinya sudah mengempos tenaga dan mematahkan lengan Tapakdara.

Senapati Lesmana melotot marah, tapi dia melihat ekspresi wajah Gagak Seta dan menyadari bahwa pemuda itu benar-benar tidak sengaja.

Senapati Rendra yang memiliki mata batin yang tajam juga menangkap ketulusan dari ekspresi wajah pemuda itu, dengan tak kentara dia menggamit lengan Senapati Lesmana dan berbisik, “Anak muda itu benar-benar tak sengaja.”

Senapati Lesmana dengan cepat menguasai dirinya. Bagaimana pun juga dia seorang senapati yang sudah terlatih bukan hanya dari segi ilmu kanuragan, tapi dari mental dan batinnya pun sudah tertempa.

“Tabib, cepat naik ke atas panggung, rawat kedua prajurit ini.”, serunya ke arah tabib-tabib yang sudah bersiap di bawah.”

Maka bergegaslah mereka yang bertugas melompat ke atas panggung dan dengan cekatan mulai merawat luka Tapakdara dan Gagak Seta. Sekilas mata Gagak Seta yang berdiri tak tegak, terlihat lebih parah dengan rambut awut-awutan, tubuh penuh luka dan pakaian sobek di mana-mana.

Namun mereka yang melihat akhir dari pertarungan mereka pun tahu, Tapakdara yang sekarang tertelungkup di atas panggung, menerima serangan yang lebih mematikan. Baju Tapakdara masih bersih dari darah, rambutnya masih terikat rapi. Bahkan dari seluruh tubuhnya hanya dari telapak kakinya saja ada luka dan darah mengucur, tapi pendekar itu sudah tak sadarkan diri dengan luka dalam yang parah dan tulang lengannya patah.

Senapati Lesmana berjalan mendekat dan bertanya, “Bagaimana?”

Tabib yang memeriksa keadaan Tapakdara, menengok ke arah Senapati Lesmana dan menjawab, “Nyawanya bisa diselamatkan, demikian pula tulang lengannya yang patah, dalam waktu beberapa bulan akan kembali seperti sedia kala.”

Senapati Lesmana menghela nafas panjang, dalam hatinya dia berpikir, 'Dalam beberapa bulan... sementara pasukan Rangga akan menyerang kurang dari sebulan lagi.'

“Baiklah, kau bawa dia turun dan rawat dia baik-baik.”, ujar Senapati Lesmana menahan rasa kesal.

Kemudian dia berjalan ke arah tabib yang merawat luka-luka Gagak Seta dan bertanya, “Bagaimana keadaan-nya?”

“Tidak parah Ki, luka-lukanya memang banyak, tapi kebanyakan hanya luka luar. Dalam hitungan hari akan pulih seperti sedia kala.”, jawab tabib tersebut sambil tak hentinya mengoleskan obat dan membebat luka-luka yang terbuka, untuk menghentikan pendarahan.

Gagak Seta dengan takut-takut bertanya pada Senapati Lesmana, “Bagaimana dengan keadaan Kakang Tapakdara Ki? Maafkan aku Ki, tadi aku terlambat mendengar seruan Ki Senapati.”

Senapati Lesmana menoleh, memandang ke arah Gagak Seta, melihat ekspresi anak muda itu, setengah dari kemarahannya menguap, dalam hati dia berpikir, 'Anak muda ini benar-benar tak sengaja. Sepertinya dia juga bukan mata-mata yang menyusup, jika dia mata-mata yang menyusup, kenapa pula dia harus merasa menyesal dan ketakutan telah melukai Tapakdara.'

“Jangan kuatir, menurut tabib, dalam beberapa bulan lagi Tapakdara akan pulih seperti sedia kala.”, jawab Senapati Lesmana dengan nada menghibur.

Kemudian dia menambahkan, “Kau pun tak perlu kuatir, kami paham dalam pertarungan, tak mudah menarik kembali serangan. Apalagi ketika kita sudah terbawa oleh suasana hati kita.”

“Terimakasih Ki Senapati, untuk pengertiannya.”, ujar Gagak Seta dengan lega.

Sekali lagi, ketika Senapati Lesmana melihat kewajaran dan kesungguhan pemuda itu dalam bersikap, dalam hatinya merasa semakin yakin bahwa Gagak Seta bukanlah seorang mata-mata.

Yang tidak dia ketahui, Gagak Seta sesungguhnya merasa takut dan kuatir, karena yang tertanam dalam benaknya adalah dia harus menjadi prajurit yang baik, yang mematuhi Senapati Lesmana sebagai pimpinan, agar dia bisa mendapatkan kepercayaan.

Ketika menyadari tanpa sengaja dia mematahkan lengan Tapakdara, padahal Senapati Lesmana memberikan perintah untuk berhenti bertarung, Gagak Seta berpikir dia sudah merusak rencana yang dibuat para senapati dan membuat malu nama gurunya. Melihat ternyata Senapati Lesmana bisa memahami situasinya, pemuda ini pun merasa lega.

Jadi memang dia benar-benar takut dan kuatir, tapi bukan untuk alasan yang dikira Senapati Lesmana. Kesalah pahaman ini, tentu saja masing-masing dari mereka tidak ada yang tahu.

“Bagaimana, kau ingin mencoba meneruskan pertandingan ini?”, tanya Senapati Lesmana pada Gagak Seta.

Gagak Seta berpikir untuk beberapa saat, Tapakdara sebagai penghalang terberat sudah tersingkir, apakah dia masih perlu melanjutkan?


Bersambung ke Bab XLI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di