CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXXVIII
Kadipaten Jambangan Mulai Memanas


Di Kadipaten Jambangan, di dalam sebuah taman, terlihat dua orang yang sudah melewati masa paruh baya, duduk memancing di pinggir sebuah kolam ikan buatan.

“Jadi Adipati Seroja dan Adipati Talitaman memindahkan lokasi pasukan mereka mendekati perbatasan Kadipaten Jambangan?”, tanya Adipati Jalak Kenikir.

“Benar Ki...”, laki-laki yang kedua adalah Senapati Glagah Wiru.

Adipati Jalak Kenikir menghela nafas panjang, “Hahh.... ada kabar dari Prabu Jannapati? Dia dulu yang menjamin akan menjaga agar Adipati Gading Kencana dan sekutunya tetap terkonsentrasi di Kadipaten Serayu.”

Senapati Glagah Wiru mendengus kesal, “Nandini..., kata-katanya manis, tapi celaka orang yang percaya dengan dia.”

Adipati Jalak Kenikir tertawa kecil, “Prabu Jannapati sepertinya percaya seratus persen pada orang itu.”

Senapati Glagah Wiru membuka mulut untuk menyanggah, tapi beberapa saat kemudian dia hanya mendengus kesal dan Adipati Jalak Kenikir tertawa melihat Senapati Glagah Wiru terdiam.

“Baiklah, bagaimana dengan prajurit-prajurit yang baru?”, tanya Adipati Jalak Kenikir setelah tawanya mereda.

“Adi Lesmana sedang mengumpulkan mereka saat ini untuk pemilihan perwira-perwira tingkat bawah dan menengah.”, jawab Senapati Glagah Wiru.

Adipati Jalak Kenikir terdiam cukup lama, sebelum dia berkata, “Sebenarnya aku tak suka dengan cara ini.”

Senapati Glagah Wiru mengangkat bahu dan menggelengkan kepala menyerah, “Situasinya tidak mengijinkan kita menggabungkan prajurit yang lama dengan yang baru.”

“Menurutmu aku sudah mengambil keputusan yang salah?”, tanya Adipati Jalak Kenikir.

Senapati Glagah Wiru berpikir sejenak dan menjawab, “Tidak ada yang pasti dalam kehidupan. Sesekali kita harus bertaruh dengan nasib.”

Adipati Jalak Kenikir mengangguk setuju, lalu menambahkan, “Pastikan saja, titik-titik yang penting harus tetap berada dalam kontrol orang-orang yang bisa kita percaya sepenuhnya. Kalaupun pertaruhan ini gagal, jangan sampai kita kehilangan Kadipaten Jambangan.”

“Tentu, kami selalu berhati-hati untuk hal itu.”, Jawab Senapati Glagah Wiru.

-----

Puluhan kilo meter lainnya dari taman itu, di sebuah tanah lapang yang cukup besar untuk menampung ribuan prajurit yang baru. Sebuah panggung setinggi pundak orang dewasa dibangun di tengah-tengah tanah lapang itu.

Panggung itu dibangun sangat luas, kira-kira 12x12 m2. Senapati Lesmana berdiri di tengah-tengah panggung, ditemani oleh Senapati Rendra.

Ribuan prajurit baru berjalan ke arah tanah lapang itu, berkumpul dan membentuk barisan mengelilingi panggung tersebut.

Setelah hampir dua bulan lebih latihan baris-berbaris dan dikenalkan pada disiplin keprajuritan, mereka bersikap jauh displin dibandingkan ketika mereka baru bergabung. Namun sikap=sikap sebagai orang dunia persilatan belum hilang sepenuhnya.

Meskipun mereka semua berdiri dengan tegak, dalam barisan yang rapi, tapi masih terlihat sesekali di sana-sini, ada yang bercakap-cakap dengan orang di sebelahnya.

Senapati Lesmana menghela nafas panjang dan berbisik pada Senapati Rendra yang berdiri di sebelahnya, “Hhh.... aku benci memilih lurah, bekel dan senapati pengiring dengan cara ini, tapi orang-orang ini tidak akan bisa menerima dipimpin oleh orang yang lebih lemah dari mereka.”

Senapati Rendra tertawa pelan, “Yang paling penting dari mereka adalah tidak berlari saat bertemu lawan.”

Senapati Lesmana melihat ke sekelilingnya, dia sudah cukup mengenal secara sekilas karakter orang-orang ini dan mendengus pelan, “Hmph.... ada beberapa orang yang bisa dipercaya, tapi kukira cukup banyak yang bakal lari begitu melihat mereka tidak bisa memenangkan pertempuran.”

Senapati Rendra mendengus, “Penggal saja yang berani mundur, saat kau perintahkan mereka untuk maju.”

Senapati Lesmana mengangguk, “Hmm... aku harap aku bisa mengendalikan situasi, jika kami sampai pada titik itu.”

Ketika Senapati Lesmana melihat semuanya telah siap, dia berseru keras, “PERHATIAN!!”

Setelah suasana di tempat itu hening, Senapati Lesmana melanjutkan, “Hari ini kita akan memilih dan mengangkat perwira dari tingkat Lurah Prajurit, Bekel, sampai dengan satu orang Senapati Muda yang nanti akan menjadi senapati pengiringku.”

“Mereka akan dipilih berdasarkan kemampuan dan kekuatan merea, bukan senioritas ataupun berdasarkan suka atu tidak suka.”, ujar Senapati Lesmana disambut sorakan dari para prajurit itu.

Rahang Senapati Lesmana terlihat mengeras melihat ketidak disiplinan mereka, Senapati Rendra menahan tertawa melihat ekspresi rekannya yang lebih muda itu.

Menunggu sorak sorai itu sedikit mereda, Senapati Lesmana melanjutkan, “UJIAN PERTAMA!”

Dan tanah lapang itu pun kembali hening, setiap orang memperhatikan baik-baik, karena mereka semua berharap dan merasa punya cukup bekal untuk merebut setidaknya tingkatan Lurah Prajurit.

“Barangsiapa berhasil naik ke atas panggung ini, dia akan mendapat pangkat Lurah Prajurit.”, ujar Senapati Lesmana.

Untuk sesaat prajurit-prajurit itu saling memandang dengan heran? Namun beberapa saat kemudian, beberapa orang mulai berlari ke arah panggung. Dengan segera melihat itu, memancing prajurit yang lain untuk ikut berlomba menaiki panggung lebih dahulu dan dalam waktu yang singkat, ribuan orang itu mulai berebutan untuk mencapai panggung lebih dahulu.

Namun tiba-tiba mereka mendengar geraman rendah dari atas panggung, Sebelumnya saat Senapati Lesmana memberikan pengumuman, diam-diam Senapati Rendra memejamkan mata, merapal satu mantra dan ketika dia membuka matanya, sorot matanya terlihat membawa hawa yang mengerikan.

Ketika prajurit-prajurit itu mulai berlari menuju panggung, Senapati Rendra menggeram rendah, “GRRRRRRR.....!'

Dan prajurit-prajurit itu tiba-tiba merasakan rasa takut yang amat sangat, merasakan ada sesuatu yang sedang mengancam hidup mereka saat itu. Mereka merasa seakan-akan mereka berdiri cuma satu langkah saja jauhnya dari kematian.

Seketika itu juga mereka semua berhenti di tempatnya masing-masing.

Barulah setarikan nafas kemudian terlihat perbedaan di antara prajurit-prajurit itu, hampir setengah perlahan-lahan mundur, atau diam membeku di tempatnya. Sementara setengah yang lain berhasil mendapatkan keseimbangan jiwa mereka kembali dan mulai kembali bergerak maju ke depan.

Gagak Seta berada di antara mereka yang berjalan maju ke arah panggung dengan berhati-hati. Malam sebelumnya, prajurit-prajurit telik sandi berkumpul kembali, untuk mendapatkan pengarahan terakhir dari Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras. Mengetahui mereka akan menghadapi ujian esok harinya, Ki Ageng Aras sekali lagi menggunakan cadangan hawa murninya untuk membekali anak-anak muda Kademangan Jati Asih itu.

----

Malam itu, Senapati Manggala sebagai pimpinan mereka berpesan, “Ingat semua latihan yang sudah kalian terima dari Ki Ageng Aras. Teguhkan semangat kalian, dalam sebuah pertarungan, terkadang menang atau kalah bukan ditentukan oleh kemampuan dan tehnik, tapi semangat.”

Setelah mereka semua bubar, Ki Ageng Aras secara khusus memberi nasihat-nasihat pada Gagak Seta. Baik nasihat yang berkaitan dengan bela diri, maupun bagaimana Gagak Seta harus bersikap. Dengan tekun dan hormat, Gagak Seta mendengarkan Ki Ageng Aras.

“Ingat, sekarang semua orang sudah tahu, kau adalah muridku, murid tunggal Ki Ageng Aras. Jangan kau permalukan nama gurumu. Aku tidak memintamu memenangkan sayembara besok pagi, tapi tunjukkan semangat seorang ksatria. Berani menghadapi tantangan, pantang menyerah, tapi juga tidak malu mengakui kekurangannya. Tidak malu mengakui kekalahan secara jujur dan terbuka.”, uap Ki Ageng Aras di akhir nasihatnya yang cukup panjang.

“Hmm.... aku mengerti guru.”, jawab Gagak Seta dengan hormat.

Ki Ageng Aras memandangi muridnya itu dengan rasa sayang, meski hanya beberapa minggu dia mengenal dan mengangkat pemuda ini sebagai murid, tapi sikap pemudai ini membuat dia puas dan bangga. Ki Ageng Aras yang tidak memiliki keturunan, memandang Gagak Seta sebagai puteranya sendiri.

“Bagus kalau kau mengerti. Sebisa mungkin kau mencapai peringkat teratas dalam sayembara besok pagi. Namun kau juga harus ingat, sayembara besok pagi bukanlah pertempuran yang paling penting. Jaga dirimu, karena peranmu masih dibutuhkan nanti saat pertempuran yang sesungguhnya. Jangan mengambil resiko yang sia-sia.”, ujar Ki Ageng Aras sambil menepuk-nepuk pundak Gagak Seta dan mengirimnya pergi.

-----

Gagak Seta merasakan tekanan dari arah panggung, bukan tekanan yang terasa secara fisik, namun kekuatan yang menyerang batin dan perasaan-nya.

Meskipun sempat terkejut, mundur selangkah sambil mengambil sikap bertahan, tapi dia dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ketika meyadari serangan tersebut bersumber dari tengah panggung, di mana Senapati Lesmana dan Senapati Rendra berdiri, Gagak Seta menyadari serangan ini adalah bagian dari ujian.

'Hmm.... pintar juga, dengan cara ini mereka bisa melihat siapa yang benar-benar bernyali dan siapa yang hanya bermulut besar.', pikir pemuda itu sambil mengamati ratusan, bahkan mungkin seribu lebih rekan-rekannya yang terdiam atau memilih mundur.

Sambil menenangkan hati, Gagak Seta pun berjalan kembali ke arah panggung. Ketika dia melihat prajurit-prajurit yang lain, tidak lagi berlari dan berlomba untuk mencapai panggung secepatnya, Gagak Seta memutuskan untuk melangkah ke depan dengan waspada.

Semakin mereka mendekati panggung itu, tekanan yang mereka rasakan pun semakin besar.

Senapati Rendra perlahan-lahan meningkatkan tekanan, sambil mengamati jumlah mereka yang berjalan maju ke atas panggung. Dari catatan yang mereka miliki, ada tiga ribu dua ratus orang prajurit yang baru bergabung.

Mereka membutuhkan setidaknya ratusan Lurah Prajurit, puluhan Bekel dan sesuai keputusan Senapati Lesmana, satu orang Senapati Muda untuk membantu dia mengatur pasukannya.

Ketika prajurit-prajurit itu sudah kira-kira sepuluh langkah jauhnya dari panggung, jumlah yang masih berjalan ke arah panggung sudah jauh berkurang, kira-kira lima ratusan orang yang masih bisa berjalan. Beberapa orang terlihat masih bisa berjalan dengan mantap, sementara sebagian besar dari mereka harus berjuang keras untuk melawan rasa takut yang makin lama makin besar, mencengkeram dada mereka dan berusaha menguasai hati mereka.

Senapati Lesmana masih mengamati tanpa banyak bicara, dalam hati dia cukup merasa puas dengan nyali sebagian besar dari prajuritnya ini. Setidaknya setengah dari mereka, mendekati dua ribu orang bisa dipercaya untuk tidak lari mundur ketika tekanan pertempuran mulai berat.

Ratusan orang yang sekarang masih berjalan maju, bisa diangkat menjadi Lurah Prajurit yang akan menjaga agar prajurit di bawah pimpinan mereka akan tetap bertempur, tidak lari dari medan pertempuran.

Senapati Lesmana sangat menyadari apa tujuannya pasukan ini dibentuk, mereka disiapkan untuk dikorbankan. Jika da sepertiga saja dari mereka yang maish bertahan setelah pertempuran dengan Raden Rangga selesai, dia sudah cukup puas.

Semakin dekat dengan panggung, semakin terlihat perbedaan antara seorang prajurit dengan prajurit yang lain.

Satu per satu mulai ada prajurit yang berhasil memanjat naik ke atas panggung, Senapati Lesmana diam-diam menghitung jumlah mereka.

Senapati Lesmana sudah menghitung 320 orang berhasil naik ke atas panggung, ketika dia masih melihat belasan orang yang berusaha maju ke depan. Untuk sesaat dia sedikit ragu, tapi akhirnya memutuskan untuk memberi orang-orang itu kesempatan.

Ketika akhirnya tidak ada lagi prajurit yang masih berusaha melangkah maju dan naik ke atas panggung, Total berdiri 346 orang prajurit di atas panggung.

“Cukup..!”, suara Senapati Lesmana terdengar jelas di tanah lapang yang sekarang sunyi senyap itu.

Tekanan yang tadi terasa pun menghilang, begitu Senapati Rendra menarik kembali ilmunya. Setelah mereka merasakan ilmu Senapati Rendra, tidak ada prajurit yang bersikap meremehkan sayembara ini dan bercakap-cakap dengan prajurit lain. Mereka mungkin tidak punya kedisiplinan seorang prajurit, tapi sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan, mereka tahu pentingnya bersikap hormat terhadap orang yang berilmu tinggi.

Bersikap kurang ajar pada orang yang berilmu tinggi dalam dunia persilatan, bisa berakhir dengan luka parah, cacat seumur hidup bahkan kematian.

“Semua orang yang berhasil naik ke atas panggung, saat ini juga akan mendapatkan pangkat Lurah Prajurit.”, ujar Senapati Lesmana.

“Sekarang kalian yang berada di atas panggung, bentuk kelompok-kelompok, masing-masing kelompok berisi sepuluh orang.”, sambung Senapati Lesmana.

Mereka yang gagal naik, memandang dengan rasa iri, melihat dalam satu hari saja, rekan-rekan mereka tiba-tiba sudah naik pangkat. Namun mereka bisa menerima hasil ujian ini, karena benar-benar yang diuji dan berhasil lolos memiliki kemampuan untuk itu.

Tanpa disuruhpun, perlahan-lahan mereka yang berada di bawah panggung, membentuk barisan dan menonton apa yang terjadi di atas panggung dengan rasa tertarik.

Sifat lain dari orang-orang dunia persilatan, yang mendapat kesenangan dengan menonton pertarungan antar pendekar. Tanpa diumumkan pun, mereka bisa merasakan ketegangan yang mulai meningkat di atas panggung sana.

Bersambung ke Bab XXXIX
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
Kurang banyak ki....minim 2 partlah....
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@Gurabessi Ane belum bisa nulis selancar itu gan

emoticon-Hammer2
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 2 dari 2 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di