CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXXVII
Permainan Memasuki Babak Pertengahan


Senapati Arya Pameling menyampaikan laporannya dengan dada berdebar. Butuh waktu beberapa minggu sebelum akhirnya dia mendapatkan kabar yang mungkin menjelaskan alasan Rangga akhirnya memutuskan bergerak menuju Kadipaten Jambangan.

Ketika dia sudah selesai menyampaikan laporannya, Senapati Arya Pameling menunggu tanggapan Prabu Jannapati.

Keringat perlahan terbentuk di dahinya dan menetes ke atas tanah.

“Bagus....”, ujar Prabu Jannapati perlahan.

Senapati Arya Pameling terkejut dan tanpa sadar melihat ke arah Prabu Jannapati. Dia berusaha menangkap kekesalan dari ekspresi wajah Prabu Jannapati, tapi tidak menemukannya. Justru sebaliknya Prabu Jannapati memuji dirinya sekali lagi.

“Bagus, kerja yang bagus.”, ujar Prabu Jannapati dengan sungguh-sungguh.

“Maaf, jika hamba terlambat mendapatkan kabar ini.”, ucap Senapati Arya Pameling ragu-ragu.

Prabu Jannapati melambaikan tangannya tak sabar, “Baik, lupakan saja. Lawan pasti berusaha agar rahasianya tak ketahuan, wajar jika butuh waktu untuk mendeteksi pergerakan mereka.”

“Nandini, sekarang yang penting memperkirakan rencana mereka dan menyiapkan rencana balasan, coba kau jabarkan pemikiranmu.”, Prabu Jannapati mengalihkan perhatiannya ke Patih Nandini.

Patih Nandini mengangguk hormat sebelum mulai menjelaskan pemikirannya, “Dari informasi yang didapat pasukan telik sandi kita, Raden Rangga sudah menjalin kerja sama dengan Adipati Gading Kencana. Pastinya ada hubungannya dengan keinginan Adipati Gading Kencana untuk meluaskan pengaruhnya ke dalam Kerajaan Watu Galuh dan rencana Raden Rangga dengan penduduk Kademangan Jati Asih.”

“Kalau Adipati Gading Kencana mudah saja ditebak. Dia menempatkan diri sebagai pengikut Pangeran Adiyasa yang sedang berusaha mencari legitimasi atas hak-nya sebagai penguasa Kerajaan Watu Galuh. Tidak mungkin ada dua matahari di atas langit yang sama. Sekarang dua pasukan sudah berhadapan, hanya jika dia bisa memenangkan pertempuran di perbatasan, maka dia bisa mempertahankan dukungan dari para sekutunya, bahkan mendapat lebih banyak dukungan.”, Patih Nandini menjelaskan dengan lancar, sebelum terhenti dan harus berpikir cukup lama.

Prabu Jannapati menyahut, “Hmm, tentang Gading bangkotan itu kita tidak perlu menebak-nebak. Bagaimana dengan Rangga? Kira-kira apa yang dia tawarkan sehingga mereka mau mengumumkan perjanjian untuk tidak saling menyerang?”

Patih Nandini tidak langsung menjawab, “Hmm... Raden Rangga... saat ini dia tidak punya kekuatan untuk mengincar kekuasaan, yang dia perlukan adalah bertahan hidup dan waktu untuk memperkuat kekuatan militernya.”

Prabu Jannapati tidak memotong analisa Patih Nandini, tidak seperti biasanya dia bisa bersabar.

Patih Nandini dengan hati-hati, sambil berpikir, melanjutkan penjelasannya, “Raden Rangga membawa pengikutnya pergi dari Kademangan Jati Asih, karena berada di tengah-tengah Kerajaan Watu Galuh, di timur tertutup oleh hutan dan pegunungan. Jika dia tidak bersedia mengabdi pada baginda prabu, memang pilihan satu-satunya adalah menyingkir.”

“Jika dia berhasil merebut Kadipaten Jambangan dari Adipati Jalak Kenikir, maka dia akan memiliki wilayah yang cukup luas dan kaya, di mana dia bisa memupuk kekuatannya perlahan-lahan. Dari sisi itu, tidak aneh jika Raden Rangga mengusahakan perjanjian untuk tidak saling menyerang dengan Adipati Gading Kencana.”, Patih Nandini berusaha menganalisa, tapi tidak ada keyakinan dalam nadanya saat menyampaikan penjelasan.

“Nandini, kekuatan Rangga berimbang dengan kekuatan Adipati Jalak Kenikir. Kekuatan Adipati Gading Kencana, kurang lebih masih berimbang dengan kekuatan kita. Bersatunya mereka tidak akan mengubah banyak keadaan, kecuali jika mereka menyatukan kekuatan untuk menyerang salah satu sasaran. Kadipaten Serayu, atau Kadipaten Jambangan. Kenapa sepertinya kau masih ragu?”, ujar Prabu Jannapati.

Patih Nandini menghela nafas, “Rasanya ada yang tidak sesuai. Kenapa perjanjian yang dibuat terlalu menguntungkan Adipati Gading Kencana? Apakah Raden Rangga sebodoh itu?”

Prabu Jannnapati mengangguk, “Memang terasa aneh, tapi jika menilik sifat Adipati Gading Kencana, tentu dia akan menuntut Rangga untuk bergerak membantu dia, bukan sebaliknya dia yang bergerak membantu Rangga untuk menguasai Kadipaten Jambangan.”

“Jika Raden Rangga menggunakan kekuatan militernya untuk membantu Adipati Gading Kencana untuk memenangkan pertempuran melawan kita, apa dia pikir dia akan masih memiliki cukup kekuatan militer untuk menguasai Kadipaten Jambangan? Akan terasa masuk akal, jika dalam perjanjian itu Adipati Gading Kencana menjanjikan bantuan bagi dia untuk menguasai Kadipaten Jambangan, setelah mereka berhasil merebut Kadipaten Serayu dari kita.”, Patih Nandini menjelaskan dasar keraguannya.

Prabu Jannapati menggelengkan kepala, “Jangan lupa, di antara kita berempat, situasi Rangga adalah yang paling terjepit. Baik kita, Adipati Gading Kencana, maupun Adipati Jalak Kenikir, memiliki cadangan makanan dan wilayah-wilayah yang bisa memasok makanan untuk pasukan kita, cukup untuk bertahan sampai setahun bahkan dua tahun. Rangga harus melakukan sesuatu untuk memecahkan kebuntuan.”

Patih Nandini masih terdiam dan tidak menyetujui, maupun menyanggah argumentasi Prabu Jannapati.

“Ini juga sesuai dengan informasi yang lain, bahwa ada seribu sampai dua ribu prajurit yang menghilang dari rombongan yang mengikuti Raden Rangga. Artinya Raden Rangga berencana membagi dua kekuatannya, satu untuk membantu Adipati Gading Kencana memenangkan peperangan melawan kita, dan satu lagi untuk merebut Kadipaten Jambangan dari Adipati Jalak Kenikir.”, sambung Prabu Jannapati ketika melihat Patih Nandini masih juga belum menjawab.

“Benar kata baginda prabu, tetapi dihitung seperti apa pun, dengan membagi pasukannya menjadi dua, apa mungkin Raden Rangga bisa menang melawan pasukan Adipati Jalak Kenikir?”, tanya Patih Nandini.

Prabu Jannapati termenung memikirkan sanggahan Patih Nandini. Cukup lama mereka semua terdiam, Senapati Arya Pameling hanya duduk merenungi tikar yang dia duduki. Dalam hati dia bersyukur, Prabu Jannapati tidak menanyakan pendapatnya, karena Senapati Arya Pameling sudah merasa pening hanya dengan mendengarkan percakapan mereka berdua.

“Nandini..., aku pikir kau ada benarnya, dua ribu prajurit yang menghilang itu, kita harus bisa menemukan jejak mereka. Jika tidak kita tidak bisa memastikan, apa tujuan Raden Rangga memisahkan mereka dari pasukan utama.”, ujar Prabu Jannapati setelah terdiam cukup lama.

Mendengar perintah Prabu Jannapati itu, Patih Nandini seperti tersadar, “Baginda prabu ada benarnya, bisa saja Raden Rangga dan Adipati Gading Kencana, dengan sengaja membuat kesan, seakan-akan mereka akan bersatu untuk menyerang Kadipaten Serayu. Padahal bisa saja, justru sasaran pertama mereka adalah menguasai Kadipaten Jambangan.”

Prabu Jannapati mengangguk dengan wajah serius, “Benar dengan informasi yang kita pegang saat ini, yang bisa kita pastikan hanyalah bahwa Rangga dan Adipati Gading Kencana bekerja sama. Itu aku rasa sudah suatu kepastian. Akan tetapi bagaimana mereka berencana menggerakkan kekuatan militer mereka, masih ada banyak kemungkinan.”

Patih Nandini tiba-tiba teringat sesuatu, “Sebaiknya kita mengirimkan utusan pada Adipati Jalak Kenikir untuk berhati-hati. Jangan terburu bergerak, lebih baik mereka menunggu pasukan Rangga datang, daripada maju manyambut mereka.”

“Jalak Kenikir tentu tidak sebodoh itu, dia tahu ada Adipati Gading Kencana yang bisa mengambil keuntungan jika dia menggerakkan pasukannya terlalu jauh meninggalkan Kadipaten Jambangan.”, ujar Prabu Jannapati.

Namun kemudian menambahkan, “Tapi tidak ada salahnya kau mengirimkan utusan untuk membagi apa yang kita ketahui dengan dia. Belum tentu dia tahu tentang seribu-duaribu prajurit yang menghilang dari rombongan Rangga.”

Prabu Jannapati tidak lupa memberikan perintah pada Senapati Arya Pameling, “Dan kau Pameling, tugasmu belum selesai, Amati pergerakan pasukan Adipati Gading Kencana dan Rangga. Jangan lupa, kau juga masih harus mencari jejak prajurit Rangga yang menghilang itu.”

“Siap baginda.”, jawab Senapati Arya Pameling merasa lega karena pertemuan sudah hampir selesai.

“Nandini, apa ada yang ingin kau tambahkan?”, tanya Prabu Jannapati.

Patih Nandini menggelengkan kepala, “Untuk sementara ini tidak ada baginda.”

Prabu Jannapati berpikir sebentar lalu menambahkan, “Dalam dua sampai tiga minggu, Rangga akan memasuki perbatasan Kadipaten Jambangan. Semuanya akan terjadi dengan cepat begitu mereka sudah mulai memasuki wilayah Kadipaten Jambangan, karena itu persiapkan pasukan, tingkatkan kewaspadaan dan kesiapan mereka.”

Prabu Jannapati masih memberikan beberapa perintah, sebelum pertemuan itu pun ditutup.

-------

Di tempat Adipati Gading Kencana dan sekutunya berkemah, terjadi pertemuan yang berbeda lagi.

Tumenggung Widyaguna sedang melakukan pertemuan terakhir dengan para adipati dan Prabu Jayabhuanna.

“Jadi kalian akan kembali bergabung dengan Kakang Rangga hari ini?”, tanya Prabu Jayabhuanna.

“Benar sekali baginda.”, Jawab Tumenggung Widyaguna dengan sopan.

“Kalau begitu sampaikan salamku pada Kakang Rangga, aku harap kalian berhasil memenangkan pertempuran melawan Adipati Jalak Kenikir. Aku tidak sabar menunggu kita menjadi dua negara tetangga.”, kata Prabu Jayabhuanna dengan tulus.

Terdengar suara mendengus dari arah Adipati Karangpandan, membuat wajah Prabu Jayabhuanna tersipu malu. Anak muda itu pun menggertakkan rahang, dan berusaha berpura-pura tidak mendengar dengusan Adipati Karangpandan.

“Terima kasih baginda, kami pergi sekarang.”, ujar Tumenggung Widyaguna dengan sikap hormat.

Ketika Tumenggung Widyaguna dan kedua senapati akhirnya pergi meninggalkan tenda besar pertemuan itu, dari raut wajah Prabu Jayabhuanna terlihat ekspresi kehilangan. Sementara ekspresi para adipati berubah jadi lebih serius, tak ada lagi basa-basi.

“Kakang Gading Kencana, apa rencana kita selanjutnya, menunggu saja?”, tanya Adipati Panjalu.

Adipati Gading Kencana berpikir sejenak kemudian bertanya pada salah seorang sekutu mereka, “Prajurit pengintaimu bertugas mengawasi pergerakan pasukan Raden Rangga bukan? Bagaimana situasi di sana?”

“Mereka sudah bergerak sejak dua minggu yang lalu, dengan kecepatan mereka saat ini, mereka akan memasuki Kadipaten Jambangan dalam 12-14 hari.”, jawab adipati tersebut.

Kemudian sebelum ada yang sempat bertanya lebih lanjut, adipati itu menambahkan, “Kami juga melihat pasukan Adipati Jalak Kenikir sudah mulai bersiap. Dari beberapa orang prajurit telik sandi yang menyusup ke kesatuan itu, ada pengumuman bahwa Adipati Jalak Kenikir akan mengadakan semacam sayembara untuk memilih perwira-perwira tingkat bawah dan menengah yang akan memimpin satuan-satuan kecil dari kesatuan yang baru itu.”

Adipati Karangpandan menyahut, “Kalau prajuritmu berhasil mendapatkan kedudukan dalam kesatuan Adipati Jalak Kenikir, mereka mungkin akan berguna pada saat kita bergerak untuk menyerang Kadipaten Jambangan.”

“Tentu saja, aku sudah menyampaikan hal yang sama pada mereka.”, jawab adipati tersebut.

“Hmm... kuharap mereka cukup tangguh untuk itu.”, ujar Adipati Karangpandan sambil tersenyum mengejek.

“Kenapa tidak kau kirimkan pula prajurit telik sandimu ke sana kalau kau tak yakin pada kemampuan prajuritku?”, jawab adipati itu tak senang.

“Sudah, cukup.”, Adipati Gading Kencana menggeram.

Kemudian dia bertanya kembali pada adipati yang bertugas mengumpulkan informasi tadi, “Apakah ada kabar tentang strategi yang akan diambil Adipati Jalak Kenikir? Apakah mereka akan menunggu dan bertahan, atau mereka memilih strategi yang lebih agresif?”

“Dari kabar yang mereka dengar, ada dua pendapat. Senapati Glagah Wiru menyarankan untuk menunggu dan bertahan dari balik tembok pertahanan. Sementara Senapati Lesmana yang lebih muda dan memimpin kesatuan yang baru, beberapa kali menginginkan strategi yang lebih agresif, dan beberapa kali terdengar meminta Adipati Jalak Kenikir untuk mempercayai kesatuannya untuk menyongsong pasukan Raden Rangga sebelum mereka memasuki Kadipaten Jambangan.”, jawab adipati tersebut.

Adipati Gading Kencana mengerutkan alisnya, “Hmm.... kita butuh pasukan Raden Rangga untuk menciptakan kesempatan bagi kita menyerang Kadipaten Serayu. Jika Senapati Lesmana memimpin kesatuannya untuk menyongsong pasukan Raden Rangga sebelum mereka sempat melakukan sesuatu untuk melemahkan pasukan Prahu Jannapati, kesempatan kita akan hilang.”

“Kakang, kita bisa berpura-pura menggeser beberapa kesatuan kita ke arah Kadipaten Jambangan. Dengan demikian saran Senapati Glagah Wiru akan memiliki dasar yang lebih kuat, daripada saran Senapati Lesmana.”, ujar Adipati Guntur Aji.

“Kenapa tidak benar-benar menempatkan kesatuan dari satu atau dua kadipaten, supaya saat Raden Rangga menyerang Kadipaten Jambangan, mereka bisa terlebih dahulu merebut Kadipaten Jambangan.”, sela Adipati Karangpandan dengan senyum licik.

“Aku tidak setuju, prioritas utama kita harus tetap pada memenangkan pertempuran melawan pasukan Prabu Jannapati yang berjaga di perbatasan. Jangan sampai kita gagal mencapai tujuan utama, karena tergoda keuntungan yang lebih kecil.”, jawab Adipati Guntur Aji dengan tegas.

Sebelum Adipati Karangpandan sempat berargumen, Adipati Gading Kencana menegaskan, “Adi Guntur Aji benar. Saat ini fokus utama kita harus pada pasukan Prabu Jannapati.”

Kemudian dia menoleh ke arah Adipati Karangpandan, “Adi Karangpandan tak perlu kuatir, jika kita berhasil memaksa pasukan Kadipaten Jambangan untuk bertahan, maka tak akan mudah bagi Raden Rangga untuk merebut Kadipaten Jambangan. Jumlah pasukan mereka tidak jauh berbeda, sesakti-saktinya Raden Rangga dan Tumenggung Widyaguna, mereka tidak akan bisa merebut Kadipaten Jambangan dalam hitungan hari.”

Tanpa menunggu jawaban dari Adipati Karangpandan, Adipati Gading Kencana menoleh ke salah seorang adipati, “Adi Seroja dan Talitaman, kalian atur bagaimana caranya, supaya seakan-akan kalian memimpin pasukan kalian ke arah Jambangan, tanpa benar-benar membawa kekuatan inti kalian ke sana.”

Adipati Seroja dan Adipati Talitaman saling berpandangan, kemudian dengan yakin Adipati Sroja menjawab, “Jangan kuatir Kakang, kami akan mengatur semuanya.”

Adipati Gading Kencana mengangguk puas, “Bagus.”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 10 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di