CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXXVI
Senapati Arya Pameling Memecahkan Rencana Rahasia Raden Rangga


Senapati Arya Pameling menyampaikan laporannya sesingkat mungkin tanpa menghilangkan detail-detail yang penting. Prabu Jannapati mendengarkan dengan bersemangat, beberapa kali dia menepuk pahanya dan berseru.

“Bagus... Bagus... Nandini, kau beri perintah pada Jatiyudha, tarik semua kesatuan Darespati. Sementara kau Pameling, tetap awasi pergerakan mereka dari kejauhan.”, ujar Prabu Jannapati setelah selesai mendengarkan laporan Senapati Arya Pameling.

“Siap baginda, apakah ada perintah yang lain?”, jawab Patih Nandini.

Prabu Jannapati berpikir sebentar, lalu menjawab. “Tak perlu, untuk saat ini cukup itu saja. Hanya saja aku berpesan padamu, pasukan telik sandi kita harus lebih cermat dalam bekerja.”

“Siap baginda.”, ujar Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling hampir bersamaan.

Ketika mereka berdua sudah berjalan cukup jauh meninggalkan tenda tempat Prabu Jannapati beristirahat, Senapati Arya Pameling bertanya pada Patih Nandini, “Ki Patih, kenapa Prabu Jannapati menghentikan perintah bagi Kesatuan Darespati untuk berhenti mengganggu mereka?”

Patih Nandini yang lebih mudah diajak berbicara daripada Prabu Jannapati dengan sabar menjelaskan, “Prabu Jannapati menurunkan Kesatuan Darespati untuk mengganggu pasukan Rangga, tujuan utamanya bukan untuk melemahkan mereka. Tujuan pertama adalah untuk memperlambat perjalanan mereka, supaya Adipati Jalak Kenikir memiliki kesempatan untuk memperkuat pasukannya. Hal ini dilakukan karena dari pertempuran mereka melawan begal-begal Gunung Awu, kami sadar bahwa kekuatan pasukan mereka ternyata jauh di atas perkiraan kita.”

Senapati Arya Pameling mendengarkan dengan rasa tertarik, “Lalu apa ada alasan yang kedua?”

Patih Nandini tersenyum, “Yang kedua, diputuskan setelah pasukan Rangga memilih untuk meminimalkan korban dengan menghentikan perjalanan mereka dan membangun pertahanan sementara. Prabu Jannapati tidak ingin pasukan Kadipaten Jambangan terlalu lemah, sehingga gagal menghentikan pasukan Raden Rangga. Namun di saat yang sama, Prabu Jannapati juga tidak ingin pasukan Kadipaten Jambangan punya waktu untuk menjadi terlalu kuat bagi pasukan Raden Rangga. Dengan mengganggu penduduk Kademangan Jati Asih untuk mengumpulkan makanan, Prabu Jannapati membatasi waktu mereka untuk diam bertahan.”

Senapati Arya Pameling mengangguk-angguk paham, “Ah... saya paham sekarang, dan segala sesuatunya berjalan seperti keinginan Prabu Jannapati. Kekuatan Kadipaten Jambangan dan pasukan Raden Rangga sudah cukup berimbang, yang kalah jadi abu, yang menang jadi arang.”

Setelah mereka berjalan beberapa jauhnya, tiba-tiba Senapati Arya Pameling bertanya, “Tapi bagaimana Prabu Jannapati yakin tujuannya bisa tercapai? Misalnya, bagaimana kalau Raden Rangga memilih untuk tetap bertahan, sementara pasukan Kadipaten Jambangan menjadi semakin kuat.”

“Mudah saja, jika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, artinya kita harus mengubah strategi kita. Itu sebabnya tugasmu sebagai pemimpin satuan telik sandi sangatlah penting, karena dari berita-berita yang kalian kumpulkan, kami sebagai pimpinan bisa selalu mengetahui situasi yang terakhir dan sebenar-benarnya.”, jawab Patih Nandini.

Setelah berhenti sejenak, Patih Nandini menambahkan, “Selain itu, kecil kemungkinan Raden Rangga tidak bergerak sementara cadangan makanan mereka menipis. Yang sedikit di luar perkiraan adalah, mereka bergerak sekarang.”

Senapati Arya Pameling menoleh ke arah Patih Nandini, “Maksud Ki Patih, mereka bergerak terlalu cepat? Atau terlalu lambat?”

Patih Nandini mengerutkan alis, “Terlalu cepat dan terlalu lambat.... Kenapa tidak secepat mungkin memukul Kadipaten Jambangan ketika mereka belum siap? Kenapa sekarang ketika kekuatan Kadipaten Jambangan sudah mengimbangi mereka, mereka justru bergerak ke arah Kadipaten Jambangan?”

Senapati Arya Pameling ikut mengerutkan alis, “Menurut Ki Patih, Raden Rangga menyembunyikan sesuatu?”

Patih Nandini mengangguk, “Ya, karena itu tugasmu jadi lebih berat. Tidak mungkin Raden Rangga bergerak menyerang Kadipaten Jambangan jika dia tidak punya rencana rahasia, yang saat ini belum kita ketahui.”

Senapati Arya Pameling menggertakkan rahang dan berkata, “Aku akan berusaha mengungkap rencana itu Ki.”

Patih Nandini menepuk pundaknya, “Sebaiknya demikian, sebelum semuanya terlambat.”

------

Beberapa hari kemudian Senapati Arya Pameling duduk di dalam tendanya, dengan serius membaca laporan yang dia terima dari pasukan telik sandi yang mengawasi gerak-gerik pasukan Rangga. Di depannya berdiri seorang prajurit.

“Kau yakin dengan laporanmu ini?”, tanya Senapati Arya Pameling pada prajurit yang ada di hadapannya.

“Kami belum memastikan Ki Senapati, tapi setelah beberapa hari mengamati, banyak dari kami yang merasa seperti itu.”, jawab prajurit tersebut.

Senapati Arya Pameling berpikir cukup lama, jarinya mengetuk-ngetuk meja tak berani terlalu cepat mengambil keputusan.

Akhirnya dia memberikan perintah, “Kerahkan lebih banyak orang dan kali ini kalian pastikan apa benar jumlah mereka dari hari ke hari memang menyusut. Selain itu, jika benar jumlah mereka menyusut, maka lacak, cari tahu ke mana sejumlah orang itu menghilang.”

“Siap laksanakan ki.”, jawab prajurit itu.

“Aku ingin kalian memberikan laporan setiap hari. Apa pun hasil yang kalian dapatkan, sedikit apapun, atau bahkan ketika tidak ada perkembangan sekalipun, aku ingin ada yang melapor. Sampaikan itu pada semua Lurah prajurit yang bertugas.”, ujar Senapati Arya Pameling sebelum mengirim prajurit itu kembali ke lapangan.

Setelah prajurit itu pergi, Senapati Arya Pameling berjalan mondar-mandir di dalam tendanya, sebelum kemudian berjalan bergegas keluar dan berseru pada dua pengawal yang berjaga, “Ikuti aku, kita pergi ke tempat Ki Patih Nandini.”

------

Dua hari kemudian adegan yang hampir sama terjadi, tapi kali ini wajah Senapati Arya Pameling dan prajurit yang melaporkan, jauh lebih serius dari beberapa hari sebelumnya.

Senapati Arya Pameling sedikit bergetar ketika dia membaca laporan yang tertulis di atas gulungan lontar itu, “Ratusan orang, bahkan mungkin lebih dari seribu orang menghilang dari pasukan Raden Rangga, dan sebagian besar adalah prajurit yang sudah mengikuti para senapati selama belasan bahkan puluhan tahun.”

“Benar Ki...”, jawab prajurit itu.

“Kau yakin dengan jumlah ini?”, Senapati Arya Pameling bertanya.

Prajurit itu sedikit ragu-ragu sebelum menjawab, “Tidak Ki, kami tidak bisa yakin dengan pasti mengenai jumlah, tapi setelah kami berdiskusi, menurut kami setidak-tidaknya tujuh ratus orang dan tidak mungkin lebih dari dua ribu orang.”

“Dan menurut kalian, mereka adalah pasukan inti dari Raden Rangga, bukan anak-anak muda Kademangan Jati Asih yang baru diangkat menjadi prajurit?”, tanya Senapati Arya Pameling.

“Dari prajurit yang tersisa dalam rombongan pasukan Raden Rangga, itulah yang kami tangkap Ki. Selain itu ada belasan Senapati yang tak terlihat lagi di antara rombongan pasukan Raden Rangga yang berbaris menuju Kadipaten Jambangan.”, jawab prajurit itu.

“Kau ikut aku dengan sekarang untuk menghadap Ki Patih Nandini.”, ujar Senapati Arya Pameling dengan wajah pucat.

Tidak lama kemudian, Senapati Arya Pameling dan prajurit telik sandi yang membawa pesan, sudah berada di hadapan Patih Nandini. Patih Nandini membaca laporan yang tertulis di atas gulungan lontar itu dengan seksama, sambil mendengarkan penjelasan Senapati Arya Pameling.

Cepat saja Patih Nandini membaca isi gulungan lontar itu, setelah itu perhatiannya tertuju penuh untuk mendengarkan penjelasan Senapati Arya Pameling. Patih Nandini tidak terburu-buru memotong penjelasan Senapati Arya Pameling. Dia mendengarkan dengan seksama hingga Senapati Arya Pameling menyelesaikan semua laporannya.

“Selidiki, ke mana mereka menghilang, sebarkan anak buahmu ke semua penjuru. Jangan berpikir tempat ini tidak mungkin, tempat ini yang paling mungkin, dan seterusnya. Sebarkan anak buahmu, pasang mata dan telinga.”, Patih Nandini dengan tegas mulai memberikan perintah.

“Bagaimana dengan mereka yang mengawasi perjalanan rombongan pasukan dan penduduk Kademangan Jati Asih?”, tanya Senapati Arya Pameling.

Patih Nandini berpikir sebentar sebelum menjawab, “Prioritaskan anak buahmu untuk menyebar dan mencari jejak prajurit yang menghilang dari rombongan utama. Sisakan satu-dua kesatuan kecil saja untuk mengikuti dan mengamati rombongan pasukan Raden Rangga yang berjalan menuju Kadipaten Jambangan.”

Patih Nandini masih memberikan beberapa arahan lagi pada Senapati Arya Pameling, sebelum membiarkan Senapati Arya Pameling pergi untuk melakukan tugasnya.

Kemudian tanpa ragu-ragu, Patih Nandini pergi menemui Prabu Jannapati untuk melaporkan temuan pasukan telik sandi mereka.

------

Malam itu, di tempat perhentian sementara penduduk Kademangan Jati Asih, di dalam salah satu tenda para prajurit yang cukup besar, terlihat belasan orang prajurit yang ditempatkan di tenda itu menggali dua lubang di tanah. Tiap lubang kira-kira seukuran tubuh orang dewasa.

Semua dikerjakan diam-diam, tak terlihat dari luar.

“Cukup, cukup, sudah cukup dalam. Sekarang semuanya beristirahat, ingat setelah aku tidak ada bersama kalian, maka Jaka Segaran yang menjadi pimpinan kesatuan kecil ini. Patuhi dan ikuti perintahnya.”, ujar seorang prajurit yang sudah berumur, salah satu prajurit yang sudah puluhan tahun mengikuti salah seorang senapati.

Bukan hanya di satu tenda itu saja, di tenda-tenda lain tempat prajurit Rangga beristirahat, terjadi hal yang sama.

Kemudian keesokan paginya, pagi-pagi sekali ketika orang-orang belum bangun dari tidurnya, dua orang prajurit merebahkan diri di dalam lubang itu. Mereka menggigit buluh di mulut mereka, kemudian rekan-rekannya yang lain mulai menutupi tubuh mereka dengan tanah.

Setelah mereka terkubur di dalam tumpukan tanah yang tidak terlalu padat itu, prajurit yang lain mulai meratakan tanah galian yang masih tersisa sampai tak terlihat lagi ada bekas galian di dalam tenda mereka.

Perlahan-lahan matahari menunjukkan sinarnya, perkemahan itu pun penuh dengan suara kesibukan mereka yang berbenah, memasak dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Tanpa ada penduduk Kademangan Jati Asih yang menyadari, rombongan besar itu pun beranjak pergi, melanjutkan perjalanan mereka menuju ke tempat di mana mereka akan mendirikan kerajaan yang baru.

Mereka tidak tahu, ke mana Rangga akan membawa mereka pergi. Mereka tahu jauh di depan sana, setidaknya satu bulan perjalanan jauhnya, ada pasukan besar yang sedang bersiap untuk menghentikan perjalanan mereka. Namun mereka mempercayakan masa depan dan keselamatan mereka di tangan Rangga.

Lama setelah rombongan itu pergi. Lama setelah para pengintai yang ditugaskan Senapati Arya Pameling untuk mengikuti rombongan pasukan Rangga itu berlalu. Hampir setengah hari lamanya tidak terjadi apa-apa di tanah lapang itu.

Hanya ada kesunyian, bekas api unggun, dan jejak-jejak yang ditinggalkan puluhan ribu orang.

Ketika matahari sudah hampir tenggelam, tiba-tiba terlihat tanah-tanah berterbangan ke udara. Tangan, kaki menyembul muncul dari tanah. Tak lama kemudian tidak kurang dari lima puluhan orang bermunculan dari dalam tanah.

“Rapikan, usahakan serapi mungkin, sampai tidak terlihat bekas lubang.”, terdengar seruan setengah berbisik dari beberapa tempat.

Lima puluh orang prajurit, sebagian adalah prajurit veteran yang sudah berpengalaman, dan sebagian lagi prajurit-prajurit muda yang terpilih dari antara prajurit muda yang lain. Tanpa banyak suara prajurit-prajurit itu bekerja menghilangkan jejak mereka.

Kemudian dalam senyap pula, mereka menghilang dalam lebatnya hutan.

-----

Sekitar dua minggu sejak penduduk Kademangan Jati Asih dan pasukan Rangga mulai bergerak, Senapati Arya Pameling, setengah berlari menuju ke tenda Patih Nandini.

“Ki Patih, ada berita penting.”, serunya begitu dia diijinkan oleh penjaga untuk masuk ke dalam tenda dan melihat Patih Nandini.

“Tenang dulu Ki, silahkan duduk, dan sampaikan laporanmu perlahan-lahan.”, ujar Patih Nandini tetap tenang.

Senapati Arya Pameling menenangkan dirinya, ketika dia hendak membuka mulut, dia melihat Patih Nandini mengangkat tangannya sedikit dan memberi tanda agar dia tidak buru-buru bicara. Setelah beberapa tarikan nafas panjang, barulah Senapati Arya Pameling menyampaikan laporannya.

Waktu jeda sebelum dia menyampaikan laporan itu, membuat dia cukup tenang dan berhasil menyampaikan laporan dengan baik.

Patih Nandini mendengarkan dengan sabar, sesekali dia bertanya, dan Senapati Arya Pameling menjawab apa yang ditanyakan. Ketika Senapati Arya Pameling selesai menyampaikan seluruh laporannya, Patih Nandini berdiri dan memuji Senapati Arya Pameling, “Bagus Ki, kau berhasil mendapatkan berita yang sangat penting. Sepertinya kita sudah berhasil memecahkan rahasia apa yang membuat Raden Rangga mulai menggerakkan pasukannya.”

Kemudian dia berjalan ke arah luar tenda sambil menepuk pundak Senapati Arya Pameling, “Mari, ikut aku menghadap Prabu Jannapati.”

Bersambung ke Bab XXXVII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Cendol ajah...
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di