CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXXIII
Ki Ageng Aras Mengangkat Murid


Ki Ageng Aras menoleh ke arah Senapati Manggala, “Ki Senapati, bisakah aku minta tolong kau untuk mengawasi yang lain? Aku ingin bercakap-cakap secara pribadi dengan Gagak Seta.”

Untuk sesaat mata Senapati Manggala berkilat, senapati itu mengangguk paham, “Tentu saja ki, jangan kuatir.”

Sebelum dia pergi mengamati anak-anak muda yang sedang duduk bersila di tempat pilihan mereka masing-masing, Senapati Manggala mengangguk ke arah Gagak Seta dan berkata, “Jangan sia-siakan kesempatan ini.”

Mendengar dan melihat percakapan antara Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala, jantung Gagak Seta jadi berdebar-debar. Berbagai macam ide dan bayangan berkelebatan dalam benaknya. Perasaannya bercampur-campur antara melambung oleh harapan, dan rasa takut akan mengalami kekecewaan karena salah mengartikan apa yang dia lihat.

Anak-anak muda, prajurit telik sandi yang lain tidak menyadari apa yang terjadi, mereka sedang berkonsentrasi penuh untuk menguasai dan mengontrol hawa murni yang saat ini ada dalam tubuh mereka.

Ki Ageng Aras menepuk pundak Gagak Seta dengan ramah dan berkata. “Mari, kita cari tempat untuk bisa bercakap-cakap dengan bebas, tanpa mengganggu saudara-saudaramu.”

Gagak Seta yang biasanya tak memiliki rasa takut, kali ini hanya bisa diam dan mengikuti Ki Ageng Aras, mulutnya serasa terkunci, khawatir salah berucap.

Ki Ageng Aras berjalan mencari tempat yang tenang, dan Gagak Seta mengikuti dari belakang. Tak lama mereka berjalan, akhirnya Ki Ageng Aras memilih satu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berkumpul.

Nyala api obor masih ada yang menyusup dan ikut menerangi tempat itu.

Ki Ageng Aras dengan lega menjatuhkan pantatnya, duduk di atas sebuah akar pohon besar yang menonjol di atas permukaan tanah, dan berkata pada Gagak Seta “Duduklah.”

Gagak Seta dengan cepat menemukan tempat untuk duduk di dekat Ki Ageng Aras.

Ki Ageng Aras tidak segera memulai percakapan, matanya memandang jauh ke depan ke arah prajurit-prajurit telik sandi yang lain masih bersila dan berkonsentrasi mengatur hawa murni. Gagak Seta tidak berani mengganggunya dan menunggu saja tanpa berucap apa-apa.

“Aku sudah tua...”, Ki Ageng Aras tiba-tiba berkata.

Gagak Seta masih diam, tak tahu harus berkata apa.

“Sebenarnya masalah usia tidak ada orang yang tahu, tapi mati itu pasti dan sepanjang-panjangnya usiaku juga tidak mungkin melewati seratusan tahun.”, ujar Ki Ageng Aras sambil mengalihkan perhatiannya kembali pada Gagak Seta.

Gagak Seta hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan Ki Ageng Aras.

Ki Ageng Aras melihat ekspresi wajah Gagak Seta dan tertawa, “Hahaha, sebenarnya aku tidak suka berbelit-belit, atau berbicara berputar-putar, tapi rupanya setiap orang yang beranjak tua selalu suka berbicara panjang lebar.”

Gagak Seta ikut tertawa, “Hahaha, iya ki... dan seringnya berkata, kalian ini nggak ada apa-apanya, jaman dulu simbah...”

Ki Ageng Aras tertawa, “Hahahaha, ya ya ya, bagi kami memang kalian yang muda-muda ini terlalu lembek dan manja.”

Gagak Seta tertawa dengan lepas, melihat Ki Ageng Aras tidak tersinggung, dalam hati dia berpikir, 'Ki Ageng Aras ternyata mudah juga diajak bicara.'

“Tapi kau jangan kuatir, kalau kau mau menjadi muridku, akan aku dadar kau dengan latihan-latihan yang paling berat, berkali-kali lebih berat dari latihan yang kau jalani sekarang. Tidak akan ada orang yang bisa berkata seperti itu padamu.”, lanjut Ki Ageng Aras dengan kilatan di matanya, membuat Gagak Seta berhenti tertawa tiba-tiba.

Ki Ageng Aras menatap tajam Gagak Seta, dengan senyum simpul bertanya, “Bagaimana? Kau mau menjadi muridku?”

“Eh... tentang latihan yang berat itu...?”, Gagak Seta balik bertanya terbata-bata.

“Kau takut?”, tanya Ki Ageng Aras balik.

“Hmm... Ki Ageng Aras serius ingin mengangkatku menjadi murid?”, tanya Gagak Seta tidak buru-buru memberi jawaban.

Ki Ageng Aras mengangguk dengan yakin, “Tentu saja.”

Tanpa sadar Gagak Seta menegakkan badannya. Dia terdiam untuk beberapa lama dan kemudian menjawab dengan serius, “Jika Ki Ageng Aras mempercayaiku... dan berkenan,,,, tentu saja aku bersedia.”

Ki Ageng Aras memandangi pemuda itu dengan serius untuk beberapa lama, “Hmm..., tidak perlu upacara dan tetek bengek yang tidak perlu, tapi aku harap kau menyadari benar-benar, apa artinya bagimu menjadi murid dan apa artinya bagiku menjadi seorang guru.”

Gagak Seta terdiam untuk beberapa saat dan dengan berhati-hati dia bertanya, “Apa yang Ki Ageng Aras harapkan dari seorang murid?”

Ki Ageng Aras menghela nafas sebelum menjawab, “Tidak banyak, umurku sudah semakin tua dan aku ingin seseorang mewarisi ilmu-ilmuku sebelum aku meninggalkan dunia ini. Yang aku harapkan orang ini bisa melanjutkan dan mengembangkan ilmu yang sudah kupelajari supaya ilmu ini tidak lenyap begitu saja.”

Gagak Seta berpikir baik-baik sebelum menjawab, “Tapi Ki Ageng Aras tentu tahu dalam tugasku sebagai prajurit telik sandi, bisa saja aku justru meninggalkan dunia ini lebih dulu dari Ki Ageng Aras.”

Ki Ageng Aras tertawa kecil, “Ya... tidak ada yang pernah tahu, tapi batas umur itu suatu kepastian. Jadi kemungkinanmu untuk hidup lebih lama dariku itu lebih besar.”

“Hmm... tapi maksusku Ki... jika dalam tugasku aku berhadapan dengan bahaya, aku memilih untuk mempertaruhkan nyawaku untuk menunaikan tugasku sebagai prajurit, dibandingkan berusaha menyelamatkan nyawaku sebagai pewaris ilmu Ki Ageng Aras yang punya kewajiban untuk melestarikan ilmu itu.”, Gagak Seta berusaha menerangkan apa yang tadi dia pikirkan.

Ki Ageng Aras tersenyum puas, “Bagus... bagus... justru itu syarat kedua yang aku tuntut dari muridku, punya jiwa kesatria dan tidak mempermalukan nama gurunya dengan bersikap pengecut. Tentu saja, bernai tidak sama dengan sembrono.”

Gagak Seta mengangguk, “Tentu, aku yakin aku bisa membedakan berani dan nekat, beda antara pengecut atau berhati-hati.”

“Bagus..., jadi bagaimana kau bersedia menjadi muridku?”, tanya Ki Ageng Aras.

Gagak Seta menggaruk-garuk kepalanya, “Apa tidak terbalik ya ki? Seharusnya aku yang memohon jadi muridmu.”

Ki Ageng Aras tertawa, “Hahahaha, apa aku terlihat murahan?“

Gagak Seta buru-buru menjawab, “Bukan seperti itu Ki, siapa yang tidak berharap menjadi murid Ki Ageng Aras. Justru kami-kami ini merasa tidak layak, makanya tidak berani meminta Ki Ageng Aras menjadi guru kami.”

Ki Ageng Aras masih diam menunggu dan Gagak Seta menyadari pendekar tua itu sungguh-sungguh dengan tawarannya.

“Ki... aku bukannya tidak tertarik untuk menjadi muridmu. Tapi aku tidak yakin apa bisa memenuhi harapan Ki Ageng Aras.”, ujar Gagak Seta berhati-hati.

“Namun jika hanya dua itu saja tuntutan Ki Ageng Aras... aku siap ki. Aku mohon terima aku sebagai muridmu.”, ujar Gagak Seta dengan serius, dan berlutut di depan Ki Ageng Aras.

Ki Ageng Aras memandangnya dengan puas dan berkata, “Bangunlah, hanya dua itu yang kuminta darimu. Pertama, berusaha semampumu untuk menyerap, meneruskan dan mengembangkan ilmu yang aku ajarkan padamu. Kedua, menjaga nama gurumu dengan hidup sesuai nilai-nilai seorang kesatria.”

“Siap guru,” jawab Gagak Seta singkat dan tegas.

“Bangunlah, duduk kembali, Kita tidak perlu terlalu banyak aturan, yang penting rasa penghormatan yang tulus dari dalam hati. Guru menghormati muridnya dengan mengajarkan apa yang benar-benar penting dan tidak membuang-buang waktu muridnya dengan hal yang tidak penting. Seorang murid menghormati gurunya dengan menggunakan apa yang diajarkan untuk hal-hal yang baik.”, ujar Ki Ageng Aras.

Gagak Seta duduk kembali, sebagian dari dirinya masih tidak bisa percaya apa yang baru terjadi, “Guru... guru tidak sedang bercanda kan?”

“Hahahaha, tentu saja tidak.”, Ki Ageng Aras tertawa.

Gagak Seta ragu-ragu dan bertanya, “Guru.... kalau teman-temanku... juga ada yang ingin menjadi murid guru."

Ki Ageng Aras dengan cepat menggelengkan kepala, “Tidak, tidak, tidak... aku lebih suka mengamati dan memilih siapa yang akan aku angkat sebagai murid.”

“Apakah aku perlu merahasiakan kalau aku ini murid guru?”, tanya Gagak Seta.

Ki Ageng Aras menggelengkan kepala, “Tidak perlu juga, tapi juga tidak perlu menyiarkannya ke mana-mana juga kan?”

Gagak Seta mengangguk, “Mengerti guru.”

“Hmm... baik sekarang kita jangan membuang waktu lagi. Tentang Aji Braja Apsara aku tidak bisa menambah apa-apa lagi selain dari yang tertulis di gulungan lontar yang kalian terima. Ilmu itu berasal dari Raden Rangga. Yang akan aku ajarkan padamu lebih dalam adalah Silat Sembilan Cakar Garuda.”, kata Ki Ageng Aras setelah menengok sebentar ke arah prajurit-prajurit lain yang masih dengan tekun duduk bersila.

“Kebetulan sekali guru, dari tiga ilmu yang menjadi bekal kami itu, memang Silat Sembilan Cakar Garuda yang aku sukai.”, jawab Gagak Seta dengan bersemangat.

Ki Ageng Aras terlihat puas, “Hmm hmm... bagus kalau begitu. Jadi perlu kau ketahui, Silat Sembilan Cakar Garuda itu bukan ilmu yang lengkap, hanya sebagian dari sebuah sistem bela diri yang lengkap. Tapi saat ini waktu kita tidak terlalu banyak, jadi aku hanya akan melengkapi apa yang kurang dari Silat Sembilan Cakar Garuda yang kalian terima.”

Ki Ageng Aras kemudian berdiri dan berkata, “Sekarang kau cepat duduk bersila dan ikuti seperti yang tadi aku jelaskan pada rekan-rekanmu. Namun kali ini bukan titik pusat energi Aji Braja Apsara yang aku bukakan, melainkan titik pusat energi yang akan menunjang Silat Sembilan Cakar Garuda yang tertulis di gulungan lontar yang sudah kau terima.”

“Siap guru.”, jawab Gagak Seta dan cepat-cepat, antara tak ingin membuang waktu dan bersemangat karena tadinya ada juga sedikit rasa kecewa, mengira dirinya tidak akan mendapat hasil apa-apa malam ini.

Ki Ageng Aras meletakkan telapak tangannya di atas ubun-ubun Gagak Seta dan mulai mengalirkan hawa murninya dengan hati-hati.

“Jangan dilawan, aku akan melancarkan garis-garis energi yang menghubungkan pusat-pusat energi yang sudah kau aktifkan sendiri.”, ujar Ki Ageng Aras dan Gagak Seta merasakan aliran energi mengalir dalam tubuhnya.

Sesekali Gagak Seta bisa merasakan ada bagian-bagian yang tersumbat dan dipaksa terbuka oleh hawa murni Ki Ageng Aras yang menerobos dan menggempur sumbatan-sumbatan itu. Peluh pun mulai menetes di dahi Gagak Seta, setiap kali ada sumbatan yang dibuka, pemuda itu merasakan rasa nyeri yang tidak bisa dia jelaskan seperti apa rasanya.

Beberapa saat kemudian, tubuh Gagak Seta terasa ringan dan penuh dengan tenaga. Lima pusat energi yang sudah dia aktifkan sendiri, terasa berdenyut-denyut penuh tenaga, hawa murni yang dialirkan Ki Ageng Aras dengan lancar bergerak membentuk satu siklus putaran dari satu titik ke titik yang lain.

“Sekarang aku akan mengaktifkan satu titik pusat energi dan enam titik pusat energi kecil yang lain. Kau perhatikan baik-baik, kau ingat-ingat di mana letaknya dan bagaimana hawa murni ini dialirkan.”, kata Ki Ageng Aras beberapa saat kemudian.

Gagak Seta pun kali ini merasakan tekanan yang lebih berat lagi pada tubuhnya. Sekali lagi terasa energi mengaliri dirinya, memaksa jalur yang masih tertutup agar terbuka.

Bersambung Ke Bab XXXIV
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
gaban05
aktivis kaskus
mantap gan .. lanjut terus jangan bosen ya emoticon-Angkat Beer
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@gaban05 Sama2 gan, moga2 yg baca jg blm bosen.
emoticon-Leh Ugaemoticon-Shakehand2
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 2 dari 2 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di