CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXXI
Pertemuan Rahasia Di Tengah Hutan


Gagak Seta tertidur cukup lama, setelah tiga hari menghabiskan waktu di dalam ruangan yang sempit dan pengap, merasakan udara yang segar rasanya seluruh organ-organ tubuhnya seperti diguyur air yang segar.

Ketika dia terbangun, hari sudah malam, sebagian besar rekan-rekan sesama prajurit sudah tertidur pulas.

Gagak Seta perlahan-lahan meninggalkan baraknya. Seorang prajurit terbangun, tapi kembali tidur tanpa banyak bertanya.

Di luar barak, terlihat prajurit-prajurit berjaga di berbagai titik, dalam kelompok-kelompok kecil. Namun sebagian besar dari mereka, hanya duduk-duduk di sekitar api unggun sambil makan dan minum, bercanda menunggu waktu berlalu.

Gagak Seta berdiri diam di luar baraknya untuk beberapa saat, mengamati keadaan dan memilih-milih, lewat mana dia akan keluar tanpa terlihat, sambil menunggu waktu yang tepat.

Dengan mudah Gagak Seta pergi keluar dari tempat itu tanpa terlihat oleh mereka yang bertugas berjaga. Tanpa membuang waktu dia berlari kecil menuju hutan yang sudah diberitakan Partajaya padanya. Gagak Seta memasang mata dan telinganya baik-baik. Sesekali dia akan berkelebat melompat dan bersembunyi di balik pohon, atau semak-semak, untuk beberapa lama. Mengamati keadaan di sekitarnya, sebelum melanjutkan perjalanannya ke hutan itu.

Semakin dekat dengan hutan itu, semakin dia berhati-hati.

Beberapa ratus meter jauhnya dari hutan itu, ketika Gagak Seta berdiri di bawah bayang-bayang sebuah pohon yang cukup besar dan dengan hati-hati mengamati keadaan, tiba-tiba terdengar, “Psssttt....”

“Dug..!”, jantung Gagak Seta berdebar keras, cepat dia menggeser kedudukannya sambil melihat ke atas.

“Pssttt... ini aku...”, terdengar bisikan dari salah satu dahan yang lebat.

Gagak Seta menajamkan matanya dan melihat seseorang nangkring di atas dahan itu, tersembunyi oleh lebatnya daun.

“Sabrang?”, tanya Gagak Seta sambil berbisik pula.

“Ya, cepat naik ke sini.”, jawab sosok yang bersembunyi di atas pohon itu.

Gagak Seta menghela nafas lega, lalu tanpa ragu dan dengan cekatan memanjat pohon itu. Hanya butuh beberapa saat saja bagi Gagak Seta untuk sampai di atas, dia memilih dahan lain di dekat tempat Sabrang bersembunyi, dahan yang juga sama tersembunyinya.

“Sudah berapa lama kau di sini?”, tanya Gagak Seta berbisik.

“Barusan saja.”, jawab Sabrang.

“Sudah ada berapa orang yang lewat?”, tanya Gagak Seta.

“Yang aku lihat baru tiga orang dengan dirimu, tapi bisa saja sudah ada yang lebih awal lagi dibanding aku.”, jawab Sabrang.

“Jadi menunggu apa kita sekarang?”, tanya Gagak Seta.

Sabrang tertawa tertahan dan menjawab, “Hehe, aku di sini menunggu dirimu, Kakang Partajaya bilang, dia lupa memberitahumu kode pertemuan malam ini.”

“Ah... begitu, pantas saja...”, gumam Gagak Seta.

“Hehe, kau bingung mau ke mana dan mau apa malam ini?”, tanya Sabrang.

Gagak Seta tertawa kecil, “Ya, aku cuma tahu harus pergi ke hutan ini, tapi tak tahu lalu mau apa.”

“Tiap beberapa saat akan terdengar bunyi burung hantu, jika kau mendengarnya dalam urutan bunyi dua kali, berhenti dua hitungan, lalu bunyi lagi dua kali, sebanyak tiga kali. Ke tempat sumber bunyi itu kita berkumpul.”, Sabrang menjelaskan dengan berbisik.

“Ah... baik, kau sudah mendengar kode itu?”, tanya Gagak Seta mengangguk-angguk paham.

“Sudah, kalau kau siap, kita pergi ke sana sekarang.”, jawab Sabrang.

“Baik, kita berangkat sekarang.”, jawab Gagak Seta sambil melompat ringan ke bawah.

Sabrang tertegun untuk sepersekian tarikan nafas, sebelum ikut melompat turun dengan suara yang lebih keras saat kakinya menyentuh tanah.

“Gagak Seta... kau... apa kau berhasil mempelajari Aji Braja Apsara?”, Sabrang bertanya hati-hati.

“Hehe... hanya kulit luarnya saja.”, jawab Gagak Seta sambil tertawa kecil.

“Kampret...! Kadal, kambing! Demit... Setan Alas! Curut!”, Sabrang memaki-maki tertahan sambil tak hentinya memandangi Gagak Seta tak percaya.

“He, tutup mulut busukmu itu, ayo cepat jalan.”, ujar Gagak Seta sambil mendorong Sabrang.

Sabrang pun bergerak menuju ke arah bunyi burung hantu itu terdengar, tapi tiap beberapa langkah, mulutnya mengeluarkan kata makian. Setelah beberapa lama mereka berlari kecil, terdengarlah suara burung hantu berkukuk dua kali, berhenti dua tarikan nafas dan berulang lagi, demikian suara itu terdengar tiga kali.

Arah mereka sudah benar dan dari kerasnya suara itu, rasa-rasanya mereka sudah cukup dekat. Tiba-tiba Sabrang menoleh ke arah Gagak Seta dan bertanya, “Benar, kau sudah berhasil mempelajari Aji Bajra Apsara?”

“Hee... sudah kubilang juga.”, jawab Gagak Seta.

“Hmm... tiga hari di dalam kurungan itu kau berpuasa.”, kata Sabrang,

“Benar.”, jawab Gagak Seta.

Terdengar Sabrang memaki sekali lagi, lalu berkata, “Kau orang pertama yang berhasil, kau tahu itu?”

Gagak Seta mengangkat bahu, “Entahlah, mungkin saja ada sedulur lain yang juga sudah berhasil.”

Sabrang menggelengkan kepala dengan yakin, “Tidak, aku yakin tidak, kita semua sudah sempat mencoba, bahkan Kakang Kartapati sudah mencoba tiga kali dan tidak berhasil.”

“Kebetulan saja, mungkin situasi di penjara itu juga membantu.”, jawab Gagak Seta.

“Ceritakan bagaimana kau bisa berhasil.”, desis Sabrang.

“Psst... lihat kita sudah sampai.”, jawab Gagak Seta tertahan, beberapa puluh langkah di depan mereka, terlindung oleh lebatnya hutan, terlihat satu tempat yang diterangi beberapa obor.

“Ah sial. Baiklah, tapi nanti kau harus cerita.”, ujar Sabrang tak sabar.

“Tentu, tentu, tidak ada rahasia antara saudara sendiri.”, jawab Gagak Seta sambil tertawa geli.

Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat tujuan. Di tanah yang bisa dikatakan cukup lapang, untuk sebuah tempat yang ada di tengah hutan, sudah berkumpul sekitar tiga puluh sampai empat puluh orang laki-laki, membentuk setengah lingkaran kecil.

Di depan barisan itu berdiri dua orang yang sudah mereka semua kenal.

Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala.

“Bagus, semuanya sudah berkumpul.”, ujar Senapati Manggala.

Tanpa suara mereka yang berkumpul di tempat itu serempak memberi hormat pada Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras.

Mereka semua berdiri dengan tegak dalam postur tubuh siap siaga, berbaris cukup rapi dan diam tidak mengeluarkan suara.

Senapati Manggala dengan suara yang cukup jelas, tanpa berteriak, menjelaskan, “Sebagian dari kalian mungkin sudah bisa merasakan kondisi pasukan Kadipaten Jambangan saat ini. Tidak ada disiplin, tidak terorganisasi dengan baik. Kami para pimpinan berpendapat, situasi saat ini adalah kesempatan yang baik bagi kalian, untuk mencari kesempatan untuk mendapatkan kedudukan yang baik dalam pasukan Kadipaten Jambangan.”

Senapati Manggala diam sejenak, sambil mengamati pemuda-pemuda yang berbaris rapi di sekitarnya.

“Jadi sekarang ini adalah tugas kalian untuk berusaha memberikan kesan yang baik, pada pimpinan pasukan kalian, dan juga melebarkan pengaruh kalian di antara prajurit-prajurit yang baru saja diterima menjadi pasukan Kadipaten Jambangan. Sebisa mungkin, sebelum pertempuran antara kita dan mereka terjadi, kalian sudah berhasil mendapatkan kedudukan dalam kesatuan yang baru dibentuk oleh Kadipaten Jambangan.”, Senapati Manggala melanjutkan penjelasannya.

Para prajurit telik sandi yang sebagian besar masih muda itu, mendengarkan dengan penuh disiplin. Meskipun terasa ketegangan, terasa mereka tak setenang sebelumnya, namun semuanya tetap mendengarkan dengan tenang dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Senapati Manggala mengamati mereka dan mengangguk puas, lalu melanjutkan penjelasannya, “Untuk membantu kalian dalam menjalankan tugas kalian saat ini, Raden Rangga Wijaya telah mengeluarkan keputusan, mulai malam ini, sampai saat yang tidak ditentukan, selama situasi memungkinkan. Kalian akan berkumpul di tempat ini, untuk mendapatkan pelatihan khusus dari Ki Ageng Aras.”

Terdengar desahan nafas tertahan dari mereka yang berkumpul di tempat itu. Tidak ada yang berbicara, semua tetap menunggu dalam diam, namun bisa terasa semangat mereka terbakar dan bangkit mendengar berita itu. Mereka semua sudah mengenal siapa itu Ki Ageng Aras, seorang pendekar tua yang ilmunya tak kalah tinggi dari Tumenggung Widyaguna.

“Ki Ageng Aras, aku persilahkan.”, ucap Senapati Manggala sambil tersenyum kecil, melihat semangat prajurit-prajurit di bawah pimpinannya itu terbakar oleh berita yang dia bawa.

Senapati Manggala melangkah mundur selangkah dan mempersilahkan Ki Ageng Aras untuk maju ke depan.

Ki Ageng Aras maju selangkah dan setelah mengitarkan pandangan matanya ke pemuda-pemuda yang berbaris rapi di depannya, dia bertanya, “Di antara kalian, siapa yang sudah berhasil mempelajari setidaknya tahap pertama dari gulungan lontar yang berisi Aji Braja Apsara?”

Seketika itu juga terdengar suara gemerisik suara baju dan gerakan badan, karena mereka semua yang berbaris itu saling pandang, melihat ke kiri dan ke kanan, ingin tahu siapa dari mereka yang sudah berhasil. Untuk beberapa saat tidak ada yang mejawab, sampai akhirnya seseorang mengangkat tangan.

“Aku... rasanya sudah sedikit berhasil ki.”, terdengar suara Gagak Seta memecahkan kesunyian.

Serentak semua mata memandang ke arah Gagak Seta. Gagak Seta menurunkan tangan sambil setengah cengar-cengir melihat ke kanan dan ke kiri. Dari wajah teman-temannya Gagak Seta bisa menangkap rasa penasaran ingin bertanya memastikan, tapi di saat yang sama harus menahan diri karena mereka masih berada dalam barisan.

Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras berpandangan sekilas, dalam hati Senapati Manggala merasa terkejut, ternyata ada di antara mereka yang berhasil menguasai Ajian Braja Apsara, meski menurut pengakuannya, hanya selapis saja.

Ki Ageng Aras sebaliknya merasa tergerak hatinya, usianya sudah lanjut dan selama dua puluh tahun dia dipaksa hidup dalam kesendirian karena tugas. Sebagai seorang pendekar, dalam hatinya ada rasa tak rela jika harus mati sebelum bisa mewariskan ilmu-ilmu yang dia pelajari pada seseorang.

Melihat Tumenggung Widyaguna yang seumuran dengan dirinya, namun sudah memiliki beberapa orang murid resmi, salah satunya Senapati Watu Gunung, Ki Ageng Aras pun menyimpan keinginan yang sama.

Sayangnya dia belum menemukan orang yang tepat. Saat dia mendapatkan tugas dari Rangga, diam-diam Ki Ageng Aras menyimpan harapan.

“Maju.”, ujar Ki Ageng Aras singkat.

Gagak Seta pun maju dengan hati sedikit berdebar. Ki Ageng Aras berjalan hingga berdiri berhadapan dengan jarak dua langkah jauhnya dari Gagak Seta.

“Kau merasa sudah menguasai sebagian dari Aji Braja Apsara?”, tanya Ki Ageng Aras menegaskan.

Dengan hormat Gagak Seta menjawab, “Benar Ki, tapi hanya selapis tipis saja.”

“Sudah berapa lama kau berhasil mempelajarinya?”, Tanya Ki Ageng Aras.

“Baru saja ki, baru hari ini aku menuntaskan syarat berpuasa tiga hari lamanya, dan kira-kira kemarin, di hari kedua, aku merasa menguasai tahap pertama dari Aji Braja Apsara.”, jawab Gagak Seta dengan lancar.

“Hmm.... seberapa banyak yang kau ingat dari isi gulungan lontar itu?”, tanya Ki Ageng Aras lebih lanjut.

“Seluruhnya sudah saya hafal ki. Isi tiga gulungan lontar itu sudah saya hafalkan di luar kepala.”, jawab Gagak Seta tanpa keraguan.

Bagus... bagus... nah sekarang bersiaplah. Aku akan menguji seberapa jauh kau menguasai Aji Braja Apsara.”, ujar Ki Ageng Aras setelah menganguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Gagak Seta.

Tanpa banyak cakap, Gagak Seta segera mengambil kuda-kuda dan mengumpulkan semangat dan berkonsentrasi penuh. Orang tua di hadapannya ini adalah seorang pendekar besar, tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati Gagak Seta mengenai hal itu. Berhadapan dengan Ki Ageng Aras, Gagak Seta tak berani meremehkan orang tua itu sedikit pun.

Ki Ageng Aras tersenyum melihat kesigapan Gagak Seta, dalam hati dia memuji. Diamatinya sikap Gagak Seta, tidak ada rasa takut atau gentar yang terlihat.

Kuda-kudanya terlihat mantap, tanpa kehilangan keluwesan untuk bergerak. Sorot mata Gagak Seta tajam mengamati setiap gerak-gerik Ki Ageng Aras.

“Awas serangan.”, seru Ki Ageng Aras sebelum kesepuluh jari tangannya mengembang dan menyerang.

Gagak Seta mengenali jurus serangan itu, jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Serangan Ki Ageng Aras datang dengan cepat, tapi Gagak Seta tak kalah sigap. Dengan gesit dia menghindar sambil menangkis serangan.

Belum sempat Gagak Seta melakukan hal lain, serangan yang berikutnya sudah menyusul kembali. Lagi-lagi serangan yang sama, jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda, namun dari sudut yang berbeda dan menggunakan tangan yang berbeda.

Gagak Seta sekali lagi bergerak menghindar, namun ketika kakinya bergeser, Ki Ageng Aras dengan gesit merendahkan badan dan satu kakinya bergerak menyapu kuda-kuda Gagak Seta.

Gagak Seta pun melompat menghindar, dia mengenali sapuan kaki itu, sapuan kaki itu adalah sebagian gerakan dari jurus ke-empat dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Belum sempat kakinya mendarat, Ki Ageng Aras sudah kembali menyerang. Tubuh Ki Ageng Aras menggeliat dan tangannya menyerang ke arah Gagak Seta yang posisinya berada di belakang tubuhnya.

Jurus kelima dari Silat Sembilan Cakar Garuda.

Cepat tangan Gagak Seta bergerak menangkis serangan Ki Ageng Aras, sekaligus menggunakan tenaga benturan itu untuk menyurut mundur, menjauh dari Ki Ageng Aras.

“Dess!”

Tangan Gagak Seta terasa sedikit kesemutan akibat benturan itu. Namun pemuda itu mengeraskan hatinya dan mencoba balas menyerang. Dengan gesit dia melompat maju, sambil melontarkan sebuah pukulan.

Namun, belum sampai tangannya mengenai sasaran, Gagak Seta dipaksa menarik pukulan, karena Ki Ageng Aras dengan cepat sudah mengubah kedudukan dan menyusup maju mendekat, mengancam pinggangnya yang terbuka.

Lagi-lagi dengan jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Sebat gerakan Ki Ageng Aras, selapis lebih cepat dari serangan sebelumnya, menyerang dari sudut yang tidak terduga.

Rekan-rekan Gagak Seta menonton pertarungan itu dengan hati berdebar-debar, tak terasa ikut membayangkan diri mereka berada di posisi Gagak Seta. Serangan Ki Ageng Aras hanya menggunakan tiga jurus yang sama, namun cara dia mengambil sudut serangan, mengombinasikan ketiga jurus itu dan menempatkan diri, membuat Gagak Seta kerepotan.

Sekian lama mereka bertarung, pemuda itu belum menemukan kesempatan untuk balas menyerang.

Serangan Ki Ageng Aras pun semakin mengganas dan membuat Gagak Seta beberapa kali harus menyurut mundur, berlompatan kian kemari dan memeras seluruh konsentrasinya untuk menghindar.

Otak Gagak Seta berputar dengan cepat, sorot matanya menyala-nyala, darah mudanya menggelegak menghadapi alotnya perlawanan Ki Ageng Aras.

Bersambung ke Bab XXXII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
Lanjut gannn
profile picture
Tulisane panjang tapi isinya sedikit gan....lanjut
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@Gurabessi Ya harap maklum gan, penulis amatiran.
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Cocok .... gaasssss
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 4 dari 4 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di