CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXX.
Kesempatan Bagi Gagak Seta.


“Gagak Seta...”, Ki Lurah Basuki memanggil, dia hanya berdiri di depan pintu yang terbuka, entah kenapa kakinya tak mau disuruh melangkah.

Seorang dari prajurit yang berjaga di depan, berjalan masuk, “Ada apa ki?”

Ki Lurah Basuki menengok ke belakang dan dengan kesal bertanya, “Apa maksudmu ada apa? Kalian yang harusnya menjawab, apa ini yang kalian buat.”

Ki Lurah Basuki menunjuk ke arah ceceran makanan bercampur kotoran kuda di lantai, “Apa itu?”

Prajurit itu mengangkat bahu dan menjawab. “Kalau Ki Lurah merasa kami berlebihan, silahkan Ki Lurah laporkan pada atasan kami.”

Ki Lurah Basuki mendengus kesal, tapi tidak berani pula menekan lebih jauh. Di belakang prajurit-prajurit ini ada Senapati Glagah Wiru. Sejak kejadian bentrokan antara tiga orang prajurit dengan Gagak Seta, sudah terjadi beberapa kali bentrokan kecil lain. Bedanya kali ini ada Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana yang melindungi masing-masing pihak dari konsekuensi disiplin militer.

Suasana di Kadipaten Jambangan semakin memanas dengan konflik-konflik di dalam pasukan mereka sendiri.

Baru saja tadi pagi keluar peringatan keras, langsung dari Adipati Jalak Kenikir sendiri di depan ribuan prajurit, baik yang baru maupun yang lama. Sedikit banyak, kedua belah pihak menahan diri, namun permusuhan tidak sepenuhnya hilang.

“Gagak Seta... Kau tidak apa-apa?”, sekali lagi Ki Lurah Basuki memanggil.

“Aku tidak apa-apa ki.”, terdengar Gagak Seta menjawab dan Ki Lurah Basuki pun merasa lega.

Sebenarnya bukan hanya dia, prajurit yang menjaga bangunan itu pun sedikit banyak, merasa kuatir jika sampai terjadi sesuatu atas Gagak Seta, karena baru saja pagi ini Adipati Jalak Kenikir memberikan teguran kepada mereka semua.

“Hukumanmu sudah selesai Gagak Seta, keluarlah, aku akan mengantarmu kembali pada kesatuanmu.”, ujar Ki Lurah Basuki.

Gagak Seta berjalan keluar. Tiga hari tidak makan dan tidak minum, membuat dia terihat makin kurus.Garis-garis wajah pemuda itu menajam, demikian juga dengan tubuhnya, garis-garis tulang rusuk dan ototnya terlihat jelas.

Namun bukannya terlihat lemah, perubahan itu justru membuat dia terlihat lebih garang.

“Gagak Seta... kau... tidak apa-apa?”, tanya Ki Lurah Basuki terbata.

Gagak Seta memejamkan mata sebentar, dan menghirup udara dalam-dalam. Meskipun bau kotoran masih mengambang di udara, tapi udara di lorong masih jauh lebih segar dibandingkan ketika dia selama tiga hari ini berada di dalam ruangan yang tertutup rapat.

Melangkah ringan keluar, Gagak Seta tersenyum ramah, “Aku tidak apa-apa Ki Lurah.”

“Baguslah kalau begitu, sekarang kau ikuti aku, Adipati Jalak Kenikir telah menetapkan tempat yang baru bagi kalian, prajurit-prajurit yang baru bergabung.”, ucap Ki Lurah Basuki.

Sesaat setelah Gagak Seta dan Ki Lurah Basuki meninggalkan tempat itu, prajurit-prajurit yang berjaga bercakap-cakap di antara mereka sendiri.

“Pemuda aneh...”, ujar prajurit yang sempat ikut masuk ke dalam.

“Aneh?”, tanya rekannya.

“Ya... entah kenapa, tapi waktu melihat tatapan matanya, aku tiba-tiba merasa takut.”, jawab yang ditanya sambil bergidik ketika teringat tatapan mata Gagak Seta.

“Menurutmu dia ingin membalas dendam pada kita karena mencampur ransum makannya dengan kotoran kuda?”, tanya seorang prajurit yang lain.

“Entahlah...?', jawab rekannya terdengar ragu.

“Hmph, jangan kuatir, kalau dia berani cara gara-gara biar aku yang menghadapi. Aku justru gatal ingin mengukur ilmunya.”, Jawab prajurit yang memimpin penjaga-penjaga di tempat itu.

-----

Sambil mengantarkan Gagak Seta ke tempat prajurit-prajurit yang baru bergabung sekarang dikumpulkan, Ki Lurah Basuki menjelaskan apa saja yang terjadi selama Gagak Seta berada di dalam kurungan.

“Jadi begitulah keadaannya. Aku harap kau tidak perlu menyimpan dendam dalam hatimu. Cobalah bersabar, aku yakin seiring dengan berjalannya waktu, segala sesuatunya akan menjadi lebih baik. Jangan sampai karena kemarahan sesaat, justru kau merusak masa depanmu.”, ujar Ki Lurah Basuki.

“Terima kasih untuk peringatanmu ki, jangan kuatir aku tidak akan berbuat bodoh dengan melanggar peraturan keprajuritan.”, jawab Gagak Seta dengan sopan.

“Baguslah kalau begitu..., kau yakin kau tidak perlu makan dulu? Tempat kalian yang baru, agak jauh di luar tembok ibu kota kadipaten.”, tanya Ki Lurah Basuki untuk kesekian kalinya.

“Tidak perlu ki, aku sudah merasa jauh lebih baik setelah minum degan tadi. Terimakasih banyak ki.”, jawab Gagak Seta.

“Hmm... tidak perlu sungkan-sungkan.”, ujar Ki Lurah Basuki.

“Selain ada teguran dari Ki Adipati, aku juga menerima berita dari beberapa rekan-rekanku yang bertugas jadi abdi dalem kadipaten. Ini kabar bagus untukmu, tapi jangan ceritakan pada orang lain, karena ini belum jadi pengumuman resmi.”, setelah terdiam beberapa saat Ki Lurah Basuki berkata.

“Berita apa itu ki?”, Gagak Seta merasa tertarik mendengar itu.

Ki Lurah Basuki tampak agak ragu-ragu, “Hmm... kau jangan ceritakan ini pada orang lain. Mengerti?”

Gagak Seta mengangguk, “Jangan kuatir ki, aku pasti menyimpan rahasia ini baik-baik.”

Ki Lurah Basuki tersenyum, “Sebenarnya juga bukan rahasia besar atau sesuatu yang perlu dirahasiakan, hanya saja sebelum diumumkan secara resmi, lebih baik kau jangan ceritakan hal ini pada orang lain.“

Gagak Seta tertawa kecil dan berkata, “Ki Lurah justru membuatku makin penasaran saja.”

“Hahaha... baiklah aku akan ceritakan padamu. Jadi menurut yang kudengar, satu bulan lagi dari sekarang, akan diadakan kompetisi bela diri antar prajurit baru. Dari hasil kompetisi itu nanti, Ki Adipati akan mengangkat Lurah dan bahkan Bekel, yang akan bertugas untuk membantu Ki Senapati Lesmana memimpin pasukan.”, akhirnya Ki Lurah Basuki membocorkan rahasia tersebut.

Dalam hatinya Gagak Seta berpikir, 'Kesempatan...!'

Namun dia berusaha menyembunyikan perasaan-nya tersebut, dengan alis sedikit berkerut dia bertanya, “Ada ribuan prajurit baru yang diterima, jika dilakukan kompetisi bela diri, bisa berhari-hari tak akan ada selesainya. Lagipula mengapa Ki Adipati tidak mengangkat perwira-perwira dari angkatan yang lama, untuk memimpin kesatuan yang baru dibentuk ini?”

Ki Lurah Basuki menghela nafas, “Kau tahu sendiri, saat ini antara angkatan yang baru dan angkatan yang lama, masih belum terbentuk ikatan yang baik. Malah terjadi banyak salah paham dan konflik. Sehingga Ki Adipati dan para senapati khawatir, kesatuan yang baru dibentuk ini justru tidak bisa bekerja dengan baik jika dipimpin oleh prajurit-prajurit lama.”

Gagak Seta mengangguk paham, “Tapi, tetap saja Ki, bagaimana akan melakukan pertandingan bela diri dengan ribuan orang peserta?”

Ki Lurah Basuki mengangguk setuju, “Soal itu aku juga tidak tahu, tapi menurut yang kudengar, mereka yang ingin mengikuti pertandingan ini, harus melewati ujian tertentu.”

“Ki Lurah tahu ujian apa yang harus kami lewati agar bisa mengikuti pertandingan itu?”, Gagak Seta merasa tertarik dan bertanya.

“Haha... hatimu tergerak juga rupanya?', ujar Ki Lurah sambil tertawa.

Gagak Seta ikut tertawa sambil berusaha menenangkan perasaannya, lalu menjawab, “Tentu saja ki, siapa yang tidak ingin mendapatkan kedudukan yang lebih baik.”

Sebenarnya Ki Lurah Basuki tidak menaruh curiga sama sekali, hanya perasaan Gagak Seta sendiri sebagai prajurit telik sandi yang terlalu berhati-hati. Ki Lurah yang tidak memperhatikan perubahan wajah Gagak Seta berkata, “Bagus kalau kau punya keinginan seperti itu. Anak muda harus memiliki semangat untuk mengembangkan dirinya. Menurutku kau punya potensi yang besar untuk menjadi prajurit yang baik, jadi jangan sia-siakan itu dengan menanggapi hal-hal yang kecil dan tidak perlu.”

“Terima kasih ki untuk nasehatnya.”, jawab Gagak Seta dengan sopan.

Dalam hati Gagak Seta berpikir dan mengingatkan dirinya sendiri 'Aku terlalu tegang, wajar saja kalau seseorang ingin karier-nya menanjak, berusaha menyembunyikan itu justru mengundang rasa curiga.'

“Bentuk ujiannya seperti apa, aku sendiri tidak tahu, tapi yang pasti ujian ini akan menyingkirkan sebagian besar dari kalian dan menyisakan mungkin ratusan sampai puluhan orang saja.”, jawab Ki Lurah Basuki.

Gagak Seta pun berkata, “Terimakasih untuk berita ini Ki..., seandainya Ki Lurah tahu lebih banyak..., jika Ki Lurah tidak keberatan...”

Ki Lurah Basuki menjawab, “Tentu saja, aku punya kesan baik tentang dirimu. Jika aku mendengar sesuatu, aku akan memberi tahu dirimu. Hanya sekali lagi aku harap kau mengingat baik-baik nasihatku. Tidak perlu terpancing oleh prajurit-prajurit lama yang mungkin memancing-mancing perkelahian.”

“Aku mengerti ki.”, jawab Gagak Seta yang dengan tulus berterima kasih.

Dalam hati Gagak Seta terselip rasa bersalah terhadap Ki Lurah Basuki, dalam hati dia beberapa kali mengingatkan dirinya sendiri, 'Ini tugasku sebagai prajurit telik sandi... aku bukan seorang pengkhianat, tapi seorang prajurit telik sandi.'

Ketika mereka sampai di tempat kesatuan yang baru sekarang ditempatkan, beberapa orang prajurit yang mengenal Gagak Seta menyapanya dengan ramah.

“Hai... kau sudah bebas?”

“Kau terlihat kurusan, keparat-keparat itu berusaha menyulitkan dirimu?”

“Aku melihatmu hari itu, sayang Ki Glagah Wiru menghentikan pertarungan itu, jika tidak kau tentu sudah menghajar mereka habis-habisan.”

Kedatangan Gagak Seta pun menarik perhatian lebih banyak prajurit-prajurit baru. Ki Lurah Basuki merasa tak nyaman, karena beberapa orang dari mereka, ada juga yang menatap dirinya dengan sikap bermusuhan.

Ki Lurah Basuki diam-diam menghela nafas, “Gagak Seta, kita sudah sampai dan tentu nanti akan ada rekan-rekanmu yang bisa mengantarmu. Aku akan kembali ke kesatuanku sendiri.”

Gagak Seta merasa kasihan dan sekaligus berterima kasih. Di depan rekan-rekannya, dia dengan sopan menjawab, “Terima kasih banyak Ki Lurah atas semua bantuanmu.”

Ki Lurah Basuki tersenyum dan dalam hati merasa lega dan senang dengan sikap Gagak Seta, “Sudah bagian dari tugasku sebagai sesama prajurit.”

Melihat dan mendengar bagaimana Gagak Seta bersikap pada Ki Lurah Basuki, sikap rekan-rekan Gagak Seta terhadap Ki Lurah Basuki pun ikut membaik. Ketika Ki Lurah Basuki sudah meninggalkan tempat itu, Gagak Seta berbalik pada rekan-rekannya dan berkata, “Tidak semua prajurit lama memusuhi kita.”

Beberapa orang mengangguk setuju, beberapa hanya mengangkat bahu, dan ada juga beberapa orang yang lain yang terlihat tidak senang.

“Gagak Seta, tak kusangka kau rupanya sejenis penjilat juga.”, dengus seorang prajurit.

Gagak Seta menoleh ke arah prajurit yang mengejeknya itu, “Oh... rupanya kau Sabrang, apakah aku penjilat atau bukan, itu bukan urusanmu. Kalau tanganmu terasa gatal, kau tunggulah beberapa hari, biarkan tubuhku pulih lebih dahulu.”

“Sorang, kau tak usah cari perkara. Gagak Seta, apa mereka menyiksamu?”, salah seorang prajurit menengahi keduanya.

“Tidak, hanya saja mereka mencampurkan kotoran kuda pada ransum makananku, mau tidak mau, aku harus berpuasa selama tiga hari ini.”, jawab Gagak Seta mengundang kemarahan rekan-rekannya.

“Dasar binatang mereka.”

“Pengecut, mereka hanya berani main curang.”

Dan banyak makian lain.

“Kau tak apa-apa?”, tanya prajurit yang tadi menengahi.

“Aku tak apa-apa Kakang Partajaya. Hanya merasa sedikit lemas saja. Ki Lurah Basuki tadi sudah memberiku segelas degan, sebelum mengantarku ke mari.”, Jawab Gagak Seta.

Kemudian dia berbalik menghadapi rekan-rekannya yang lain, “Gagak Seta bukan penjilat, tapi aku juga tidak akan memusuhi orang yang sudah memperlakukanku dengan baik.”

“Sudahlah, tak usah kau ambil hati perkataan Sabrang, dia memang iri denganmu.” ujar salah seorang prajurit yang lain.

Prajurit yang bernama Sabrang mendengus mendengar komentar rekan-rekannya.

Namun tidak terjadi konflik yang berkepanjangan.

Prajurit yang dipanggil Partajaya menepuk pundak Gagak Seta dan berkata, “Mari kami antar kau ke barak kita yang baru.”

Keduanya pun berjalan meninggalkan rekan-rekan mereka yang lain dan berjalan menuju ke salah satu rumah panjang yang berbaris berjajar beberapa ratus meter dari gerbang masuk.

Ketika keduanya sudah cukup jauh dari prajurit yang lain, Partajaya berbisik, “Di... kebetulan sekali kau menyelesaikan kurunganmu hari ini.”

“Kenapa Kang?”, tanya Gagak Seta dengan suara berbisik pula.

“Ada perintah dari atas, malam ini kita semua diminta berkumpul.”, jawab Partajaya.

“Berkumpul? Kita semua?”

“Ya, kita semua. Di hutan kecil di barat barak ini.”, jawab Partajaya.

Gagak Seta mengerutkan alis, “Hmm....”

Partajaya tertawa kecil, “Jangan kuatir, kau tahu sendiri keadaan di sini, sama sekali tidak ada disiplin. Tentu saja kita tetap harus berhati-hati.”

Gagak Seta mengangguk, “Baiklah...aku mengerti.”

“Sekarang kau beristirahatlah baik-baik. Benar kau berpuasa penuh tiga hari tiga malam?”, tanya Partajaya.

“Ya, mereka mencampur kotoran kuda di ransum makanku.”, jawab Gagak Seta.

“Hmph... mereka memang keterlaluan.”, geram Partajaya.

“Hahaha... tapi bukankah itu yang kita mau?”, jawab Gagak Seta sambil tertawa kecil.

“Hehehe.... ya... Kemarin Adi Gandaru sempat berkelahi juga dengan salah satu dari mereka.”, ujar Partajaya.

“Mereka masih berani mencari gara-gara? Kudengar Adipati Jalak Kenikir sendiri sampai mengeluarkan teguran.”, tanya Gagak Seta.

“Oh, itu terjadi sebelum ada teguran dari Adipati Jalak Kenikir. Dan bukan mereka yang mencari gara-gara, memang Adi Gandaru yang memancing masalah.”, jawab Partajaya.

“Oh... begitu rupanya.”, gumam Gagak Seta.

Merekapun akhirnya sampai di barak tempat Gagak Seta ditempatkan.

“Kau beristirahatlah dulu, jangan lupa, nanti tengah malam.”, ujar Partajaya pada Gagak Seta.

“Siap kang.”, jawab Gagak Seta.

Dalam hati pemuda itu bertanya-tanya, karena ini pertama kali muncul perintah untuk berkumpul. Sempat terselip kekhawatiran dalam hati Gagak Seta, bagaimana jika perintah ini adalah jebakan dari pihak Kadipaten Jambangan, tapi segera dia menepis kemungkinan itu.

'Tidak mungkin Kakang Partajaya menipuku dan berkhianat...', pikirnya dengan segera.

Bersambung ke Bab XXXI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Update lg...
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@pulaukapok Moga2 1 chapter/day terus sampai tamat gan............
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 2 dari 2 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di