CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXIX
Gagak Seta Keluar Dari Penjara


Kedudukan tinggi, tanggung jawab besar, Raden Rangga dan Tumenggung Widyaguna harus menanggung dan memikirkan nasib belasan ribu orang yang menaruh harapan dan masa depan mereka di pundak Raden Rangga.

Kedudukan rendah, lebih sedikit yang dipikirkan, tetapi bukan berarti tanggung jawab-nya tidak besar.

Seperti roda gigi yang kecil dalam jam mekanik yang besar, kalau satu saja gigi rodanya patah, jarum jam pun bisa menolak untuk berputar.

Gagak Seta tidak tahu secara gamblang kesulitan yang saat ini dihadapi Raden Rangga, yang dia tahu hanyalah menyelesaikan tugasnya saat ini, menyusup menjadi salah satu prajurit di Kadipaten Jambangan.

Sifatnya yang berandalan harus dia tundukkan, agar bisa meraih simpati dari perwira-perwira di Kadipaten Jambangan. Di saat yang sama, sikap keras kepalanya harus dia jaga, agar bisa meraih simpati dari rekan-rekannya sesama prajurit yang baru masuk.

Saat ini Gagak Seta duduk bersila, badannya sudah penuh dengan keringat. Di dalam ruangan itu tidak ada cahaya matahari yang bisa masuk dari luar. Lubang angin yang ada, posisinya berada di dalam bangunan. Gagak Seta tidak tahu apakah hari sudah memasuki senja, atau malam, dia pun tidak berusaha mencari tahu. Hanya ada secarik cahaya masuk dari lubang-lubang angin, cahaya itu berasal dari beberapa obor yang menyala dan menerangi sepanjang koridor.

Dia sudah memutuskan untuk memfokuskan seluruh waktunya untuk berlatih.

Saat ini tenaganya sudah terperah habis, tenggorokannya terasa kering, bahkan dadanya pun terasa sedikit sesak oleh udara di dalam ruangan yang makin panas dan pengap, karena sejak tadi dia berulang-ulang melatih jurus pertama dan kedua dari gerakan Sembilan Cakar Naga.

“Rasanya sudah cukup lama aku berada di dalam, mestinya sebentar lagi akan ada orang yang mengantar makanan dan minuman.”, gumam Gagak Seta pada dirinya sendiri.

Belum lama dia berpikir, terdengar suara pintu dibuka, diikuti suara orang berjalan mendekat.

“Tak.. tak... tak...”, suara tapak kaki terdengar jelas dan menggema di lorong bangunan yang kosong dan gelap itu, lalu berhenti tepat di depan ruangan tempat Gagak Seta dikurung.

“Glotak..glotak...”, terdengar suara sesuatu dimasukkan lewat lubang di bagian bawah daun pintu.

Gagak Seta masih duduk bersila dan menunggu, perlahan suara tapak kaki terdengar menjauh, diiringi suara daun pintu yang berat ditutup dan dipalang dari luar.

Mata Gagak Seta sudah beradaptasi dengan gelapnya ruangan itu, samar-samar dia bisa melihat kotak makanan yang baru saja diantarkan. Dengan ragu-ragu Gagak Seta berjalan mendekat, perutnya sudah lapar, tapi dari kotak makanan itu tercium bau yang tak sedap.

Semakin dekat dengan kotak makanan itu, bau tak sedap itu pun tercium makin kuat.

Wajah Gagak Seta pun berseru tertahan dengan kemarahan menyala-nyala, “Setan...!”

Tidak salah lagi, makanan yang diberikan oleh penjaga itu bercampur pula dengan kotoran kuda. Gagak Seta merunduk meraih kotak makanan itu, kemudian lewat lubang yang ada, dia melemparkan kotak makanan itu kuat-kuat ke arah pintu masuk bangunan.

Terdengarlah suara berkelontangan, saat kotak makanan itu terlempar dan berhamburan menabrak dinding.

Gagak Seta masih berdiri dengan dada naik turun menahan emosi-nya yang meledak. Perutnya sudah lapar, tenggorokannya sudah kering menahan haus. Sekian lama berusaha menahan diri, ketika mendapati makanan yang dibawakan bercampur kotoran kuda, habis juga batas kesabaran Gagak Seta.

Tidak ada suara dari luar, sunyi senyap.

Perlahan emosinya mereda, bukan berarti rasa marah-nya sudah hilang, tapi setidaknya otaknya bisa berputar dengan normal.

'Setan.... keparat kalian orang-orang Kadipaten Jambangan...', geram Gagak Seta dalam hati.

Perlahan dia berjalan menuju ke tempat dia tadi duduk bersila, sambil berpikir. Rusak sudah rencananya untuk mendalami jurus pertama dari Sembilan Cakar Garuda. Jika setiap hari, makanan dan minuman yang dikirimkan bercampur kotoran kuda, maka tubuhnya tidak akan dapat memulihkan diri setelah memeras tenaga.

Gagak Seta kembali bersila, dengan mata terpejam dia perlahan-lahan mengatur nafasnya. Seiring dengan berjalannya waktu, emosinya pun mengendap dan pikirannya jadi lebih jernih.

'Hmm... tak mungkin aku membuang waktu percuma selama tiga hari.', Gagak Seta mulai berpikir.

'Sampai sekarang, aku belum mempelajari gulungan lontar yang pertama, Ajian Braja Apsara, karena salah satu syarat awalnya adalah berpuasa tiga hari, tiga malam. Lagipula dituntut untuk menemukan pusat-pusat kekuatan yang ada dalam tubuh manusia.', dalam hati Gagak Seta akhirnya mengambil keputusan.

Sebenarnya Gagak Seta tidak terlalu tertarik dengan ilmu-ilmu yang mengarah pada penggunaan tenaga dalam, ataupun olah kebatinan. Pemuda itu merasa lebih senang menggerakkan tubuh, memaksa otot-ototnya bekerja dan tulang-tulangnya menahan hantaman. Saat dia merasakan penempaan pada tubuh wadagnya ini, seperti muncul semacam kepuasan ketika dia berhasil melaluinya.

Berdiam diri, berusaha mengheningkan cipta dan menajamkan rasa, sungguh bukan sesuatu yang biasa dia lakukan.

Namun kali ini dia tidak memiliki pilihan lain, dengan tidak adanya makanan dan minuman yang bisa dia konsumsi. Pilihannya hanyalah menghabiskan waktu tiga hari rebahan saja dan sia-sia. Atau melatih dirinya dengan latihan yang paling tidak dia sukai.

Buat Gagak Seta, pilihannya jelas.

Maka pemuda itu perlahan-lahan berusaha mengingat penjelasan yang tertulis pada gulungan lontar yang mengajarkan Ajian Braja Apsara.

Setelah mengulangi lagi beberapa kali penjelasan yang pernah dia baca, sampai dia benar-benar yakin tidak ada yang salah, barulah Gagak Seta memulai usahanya untuk menguasai tahap pertama dari Ajian Braja Apsara. Penjelasan yang tertulis di gulungan lontar itu benar-benar dimulai dari hal-hal yang paling mendasar.

Bagaimana merasakan pusat-pusat energi yang ada di dalam tubuh, bagaimana pusat-pusat energi itu bisa diaktifkan dan nantinya digunakan.

Sebagai seorang yang belum pernah menyentuh sisi ini dalam olah kanuragan, Gagak Seta seperti orang buta yang dilemparkan ke suatu wilayah yang benar-benar baru sama sekali. Namun sifat keras kepalanya membuat dia tidak terpikir sedikitpun akan menyerah.

Mengikuti berjalannya waktu, pikirannya semakin tenggelam pada latihan yang dia lakukan. Rasa lelah, haus dan lapar pun terlupakan.

-----

Tiga hari akhirnya berlalu, Senapati Glagah Wiru diam-diam tidak lupa untuk mengingatkan rekannya, Senapati Lesmana untuk memastikan Gagak Seta dikeluarkan dari tempat kurungan. Bukan hanya Senapati Glagah Wiru yang menyimpan kesan yang baik terhadap Gagak Seta.

Ketika Ki Lurah Basuki bertemu dengan Senapati Lesmana yang saat itu sudah resmi ditugaskan menjadi pimpinan kesatuan yang baru dibentuk, Ki Lurah Basuki dengan hormat menyampaikan perihal keadaan Gagak Seta.

Singkat cerita, hari itu Ki Lurah Basuki pergi seorang diri membawa surat tugas untuk mengeluarkan Gagak Seta dari kurungan.

Prajurit yang berjaga tidak mempersulitnya, memang ada ketidak sukaan dalam hati mereka, melihat tiba-tiba ribuan orang-orang baru datang bergabung, sebagian besar dari mereka keras kepala dan ugal-ugalan. Tak mengerti tata keprajuritan dan mengukur segala sesuatunya dengan kekuatan.

Lebih tak suka lagi karena banyak berita burung yang beredar, dari antara prajurit-prajurit yang baru itu akan diangkat perwira-perwira mulai tingkat bawah, sampai tingkat menengah. Tentu saja hal ini menimbulkan kecemburuan, bagi mereka yang sudah lama mengabdi.

Sebagian dari prajurit-prajurit lama, tentu memahami kesulitan yang dihadapi oleh Adipati Jalak Kenikir dan para senapati, seperti misalnya Ki Lurah Basuki. Ada banyak prajurit, terutama yang sudah berpangkat, memahami situasi yang dihadapi Kadipaten Jambangan saat ini. Pada akhirnya prajurit-prajurit yang baru masuk itu, tak lebih akan menjadi pion-pion yang pertama kali dimajukan di medan perang, menjadi garis pertama yang gunanya hanya untuk menguras pasukan lawan.

Namun ada banyak juga yang tidak mau memahami situasi, lebih condong hanya merasa iri pada kesempatan yang dimiliki oleh prajurit-prajurit baru itu, tidak memandang resiko yang juga harus ditanggung.

Apalagi disebabkan karena Adipati Jalak Kenikir ingin memperkuat kekuatan militernya dalam waktu sesingkat mungkin, maka ada banyak tawaran-tawaran yang menggiurkan, demi menjaring sebanyak-banyaknya orang, terutama yang sudah membawa bekal ilmu. Tentu saja ini menambah kecemburuan prajurit yang lebih awal mengabdi.

Perwira-perwira seperti Ki Lurah Basuki berusaha meredam kecemburuan mereka dengan berbagai cara, tapi kurang berhasil.

Demikianlah hingga akhirnya para senapati dan Adipati Jalak Kenikir, diam-diam memasang Senapati Glagah Wiru untuk menekan prajurit-prajurit yang baru masuk, menjadi saluran bagi ketidak sukaan prajurit-prajurit yang lama dan menyatukan mereka di bawah panjinya.

Sementara Senapati Lesmana akan bertindak yang sebaliknya, dan menyatukan prajurit-prajurit yang baru di bawah panjinya.

Tiga hari selama Gagak Seta berada di dalam kurungan, diam-diam terjadi banyak pergolakan yang terjadi di kesatuan militer Kadipaten Jambangan. Senapati Lesmana diresmikan sebagai pimpinan atas kesatuan militer yang baru. Hal ini menarik banyak gosip tak sedap atas dirinya. Sebagai senapati yang termuda, dia dianggap memiliki ambisi yang besar dan mengambil kesempatan dengan membujuk Adipati Jalak Kenikir untuk menyatukan seluruh prajurit yang baru ke bawah pimpinannya.

Hanya para senapati dan Adipati Jalak Kenikir yang benar-benar paham latar belakang munculnya kesatuan yang baru ini.

Idealnya tentu saja prajurit yang baru, secara perlahan-lahan diintegrasikan menjadi bagian dari kesatuan-kesatuan yang sudah ada sebelumnya. Namun hal ini tidak mungkin mereka lakukan karena jumlah prajurit yang baru terlampau banyak. Ditambah lagi prajurit-prajurit yang baru masuk ini memiliki individualisme dan harga diri yang tinggi. Tak mudah membuat mereka merasa hormat terhadap prajurit yang lama.

Hal ini tentu jauh berbeda dengan yang terjadi dalam pasukan Rangga. Anak-anak muda kademangan Jati Asih yang sebagian besar tidak memiliki pengalaman bertempur ataupun berkelana, memandang dengan hormat dan kagum pada prajurit-prajurit yang datang bersama para senapati.

Demikian juga nama-nama tiga puluh tiga perwira yang datang itu bukan jagoan kandang, nama mereka sudah harum dan terkenal di dunia persilatan berpuluh tahun lamanya.

Berbagai faktor inilah yang membuat Rangga dengan mudah menambah jumlah pasukannya, tanpa terjadi goncangan dan gesekan. Sungguh jauh berbeda dengan situasi yang saat ini dihadapi Adipati Jalak Kenikir.

Bukan berarti Adipati Jalak Kenikir dan ke-empat senapatinya adalah orang-orang yang bodoh. Situasi ini pun sudah mereka perhitungkan dan bagi mereka inilah harga yang siap mereka bayar. Mereka pun sejak awal sudah menempatkan prajurit-prajurit yang baru ini tak ubahnya anak panah yang bisa dibuang setelah selesai dipakai.

Mereka tak ragu membayar mahal dan menjanjikan banyak hal, dengan perhitungan sebagian besar dari prajurit-prajurit baru ini akan gugur dalam pertempuran melawan Rangga.

Mereka tak ingin mengorbankan kekuatan inti mereka, demi memuaskan keinginan Prabu Jannapati.

Namun mereka juga berharap bisa mempertahankan mereka-mereka yang memiliki potensi yang bagus untuk di-intergrasi-kan dengan kesatuan yang menjadi inti kekuatan militer mereka. Prajurit-prajurit seperti Gagak Seta sebisa mungkin harus dipertahankan.

Itulah salah satu tugas yang diemban Senapati Lesmana.

Ki Lurah Basuki sampai pula di tempat Gagak Seta dikurung, dengan surat yang dia bawa, prajurit-prajurit yang berjaga tidak mempersulitnya. Tanpa banyak pertanyaan, mereka membuka pintu dan mempersilahkan Ki Lurah Basuki masuk.

Ki Lurah Basuki memasuki gedung itu dengan hidung berkerenyit mencium bau yang busuk.

Tanpa harus mencari tahu, Ki Lurah Basuki sudah bisa membayangkan apa yang terjadi selama tiga hari itu. Cahaya matahari yang masuk dari pintu yang terbuka, menyinari bekas makanan yang masih mengotori lantai.

Ki Lurah Basuki menghela nafas panjang, meskipun bersimpati pada Gagak Seta, dia juga tak ingin menyinggung rekan-rekan yang sudah bersama mengabdi selama bertahun-tahun.

Ki Lurah Basuki menuju ke tempat Gagak Seta dikurung, membuka palang dan membuka pintu dengan hati-hati.

“Gagak Seta..., kau baik-baik saja?” Tanya Ki Lurah Basuki dengan hati-hati, matanya berusaha mencari sosok Gagak Seta dalam ruangan yang gelap itu.

Bersambung ke Bab XXX
profile-picture
profile-picture
profile-picture
singomenggolo dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di