CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XXV
Pasukan Telik Sandi Beraksi


Setelah mengalami pertempuran yang pertama, bukan hanya anak-anak muda yang terpilih untuk menjadi prajurit yang merasakan gemblengan mental. Seluruh penduduk Kademangan Jati Asih pun seperti menjadi lebih tatag dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mereka.

Dalam hitungan hari, bangunan-bangunan semi permanen sudah berdiri dengan kokoh, terlihat kasar namun semuanya berfungsi dengan baik. Atap tak bocor, dinding cukup rapat menahan angin malam yang dingin, dan lantai yang tak lembab di waktu hujan. Kandang-kandang tempat hewan peliharaan pun sudah dibuat agak jauh dari pemukiman penduduk, di luar tembok pertahanan.

Tembok pertahanan yang mengelilingi tempat itu juga sudah terbangun dengan kuat.

Setiap beberapa saat selalu ada sekelompok pemuda yang berpatroli.

Tiap-tiap orang sudah memiliki tugasnya masing-masing, bahkan perempuan dan anak-anak pun tidak berdiam diri menganggur. Tiap keluarga memiliki kewajiban membuat 10 anak panah tiap hari, hasil itu nantinya ditukar dengan jatah ransum makan mereka.

Jumlah 10 anak panah itu jangan dianggap sedikit, setidaknya ada 3000 keluarga yang mengikuti Rangga, artinya ada 30000 anak panah per hari.

Selain diwajibkan mengumpulkan anak panah, tiap keluarga juga memiliki kewajiban untuk menyiapkan busur panah yang baik bagi tiap anggota keluarga. Diharapkan dalam waktu 2 bulan, setiap orang akan memiliki busur panahnya masing-masing.

Tiap-tiap penduduk kademangan yang sudah berusia di atas 12 tahun, diharuskan pula menjalani latihan keprajuritan, meski terbatas sifatnya. Bagi yang remaja dan wanita, semuanya harus berlatih memanah.

Mereka bukan berlatih memanah untuk mengenai sasaran, tapi memanah sesuai perintah pemimpin barisan. Pemimpin kesatuan akan memberikan perintah berupa sudut anak panah secara vertikal, horisontal dan berapa kuat tarikan yang harus mereka lakukan.

Sementara yang laki-laki berusia lebih dari 15 tahun, diwajibkan menjalani latihan untuk menggunakan tombak panjang.

Di salah satu bangunan Rangga dan Rakryan Rangga Wirapati terlihat percakapan yang serius.

“Jadi simpanan makanan kita hanya akan bertahan sampai tiga bulan?”, tanya Rangga setelah selesai mendengarkan laporan Rakryan Rangga Wirapati.

“Benar raden, itu pun sudah dengan menghitung buruan dan macam-macam sumber makanan lain yang dikumpulkan setiap harinya, kecuali jika raden menghentikan latihan bagi sebagian besar penduduk dan mengalihkan kegiatan mereka untuk mengumpulkan makanan.”, jawab Rakryan Rangga Wirapati.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak bisa paman, pertama sumber makanan yang ada di sekitar kita memang terbatas. Kedua, jangan lupa dengan orang-orang Prabu Jannapati, kita hanya bisa berburu di area yang sudah diamankan.”

Rakryan Rangga Wirapati menghela nafas panjang, “Bagaimana kalau misalnya kita menugaskan sebagian orang untuk mulai bercocok tanam? Setidaknya sayur-sayuran yang bisa cepat dipanen.”

Rangga terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian menggelengkan kepala, “Menurut paman berapa orang yang dibutuhkan agar hasil panennya benar-benar punya pengaruh besar terhadap cadangan makanan kita?”

Rakryan Rangga Wirapati pun terdiam tak bisa menjawab.

Rangga berdiri dan membuka pintu, terlihat di kejauhan wanita dan anak-anak yang baru akil baliq berlatih memanah.

“Paman, beri aku waktu dua bulan. Dalam dua bulan kita lakukan perhitungan kembali.”, ujar Rangga.

“Baik raden.”, jawab Rakryan Rangga Wirapati singkat.

-------

Di tempat lain, di pinggiran jalan yang menghubungkan Kadipaten Jambangan dengan Kadipaten Seruya di mana kesatuan-kesatuan dari kadipaten-kadipaten yang setia pada Kerajaan Watu Galuh berkumpul, berhadapan dengan kadipaten-kadipaten yang berada di pihak Adipati Gading Kencana, terdapat sebuah bangunan rumah, dengan warung makan sederhana di sampingnya.

Warung makan itu setiap harinya tentu ada saja yang mampir untuk membeli makanan, atau sekedar melepas lelah dan memesan minuman.

Warung makanan itu dijalankan oleh dua keluarga kakak-beradik.

Siang itu kebetulan tidak banyak pelanggan, dua orang laki-laki paruh baya duduk sambil menikmati gorengan. Kulit wajah mereka kusam dengan sedikit bopeng di sana-sini. Meskipun berotot, namun yang seorang terlihat bengkok punggungnya, yang lain saat berjalan untuk mengambil makanan terlihat jalannya terpincang-pincang.

“Hari ini tak ada pelanggan sama sekali.”, ucap seorang dari mereka.

“Kemarin lumayan, seharian kita berjualan, ada hampir tiga puluh orang pelanggan.”, jawab yang lain.

“Hmm..hmm... tapi terasa dari hari ke hari, semakin lama semakin jarang orang lewat.”

“Tentu saja, situasi di perbatasan makin memanas, sudah beberapa kali terjadi bentrokan kecil-kecilan.”

Demikian keduanya bercakap-cakap. Percakapan mereka tiba-tiba terhenti, dan tak lama kemudian sayup-sayup terdengar suara kuda menderap. Seorang pemuda yang gagah dengan pedang terselip di pinggang memacu kudanya ke arah warung tersebut.

Ketika melihat pemuda itu, wajah dua orang paruh baya itu terlihat cerah.

Melihat dua orang paruh baya itu, pemuda yang menunggang kuda tadi dengan cepat melompat turun, lalu menuntun kudanya dengan hormat.

“Ki Senapati...”, bisik pemuda itu dengan hormat, setelah melihat ke sekeliling.

Salah seorang dari laki-laki paruh baya itu menghela nafas dan berkata, “Tidak ada orang lain. Hanya ada orang-orang kita.”

Pemuda itu pun mengangguk lega dan hendak membuka mulut, ketika laki-laki di depannya dengan cepat menyela, “Gagak Seta, apa pun yang terjadi, sampai tugas kita selesai, kau adalah Gagak Seta seorang pemuda yang berhasil menjadi prajurit di Kadipaten Jambangan, dan kami hanyalah penjaga warung biasa.”

Ya, pemuda itu adalah Gagak Seta, yang sekarang sudah menjadi seorang prajurit di Kadipaten Jambangan. Adipati Jalak Kenikir membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi para pemuda untuk mengisi pasukannya dan dengan mudah Gagak Seta pun lolos dalam salah satu ujian masuk yang diadakan hampir setiap hari.

Sementara dua orang paruh baya yang menjaga warung itu, tidak lain adalah Senapati Dyah Pekik dan Ki Trengganu, seorang bekel yang menjadi pembantu utamanya.

Sejak turunnya Kesatuan Darespati dari Kerajaan Watu Galuh, Rangga menugaskan Rakryan Rangga Aswatama untuk membentuk kesatuan telik sandi tandingan. Seratus orang prajurit pilihan yang dipimpin langsung oleh Rakryan Rangga Aswatama saat ini menjadi garis pertahanan utama menghadapi ancaman dari lawan gelap. Tidak berhenti di situ, Rakryan Rangga Aswatama juga membentuk satuan telik sandi di bawah pimpinan Senapati Watu Gunung yang dibantu Senapati Dyah Pekik dan Senapati Manggala.

Ada ratusan orang pemuda, diam-diam direkrut dan dilatih. Saat ini mereka mendapatkan tugas menyusup ke Kadipaten Jambangan dan kadipaten-kadipaten lain di sekitarnya, termasuk Kadipaten Serayu di mana pasukan Kerajaan Watu Galuh saat ini berpusat.

Mengingat masa pelatihan yang sangat singkat, tugas pasukan telik sandi yang baru ini, hanyalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan melaporkan informasi tersebut pada Senapati Watu Gunung, Senapati Dyah Pekik dan Senapati Manggala, yang bersama beberapa orang kepercayaan mereka menyamar dan menyebar di tiga titik.

Gagak Seta dengan cepat menyadari kesalahannya, “Maafkan aku Ki.”

Cepat dia menyerahkan segulung kecil kulit sapi, kemudian bergegas melanjutkan perjalanannya, dalam hati dia bersyukur, kebetulan saat ini tidak ada pengunjung lain di warung itu, sehingga kesalahannya tidak berakibat fatal.

Senapati Dyah Pekik dan Ki Bekel Trengganu membaca berita yang tertulis di gulungan kulit tersebut. Wajah mereka tampak serius dan tegang.

“Berita yang dibawa Gagak Seta, cocok dengan berita-berita dari pasukan telik sandi yang sudah melapor sebelumnya. Tampaknya Adipati Jalak Kenikir tidak main-main kali ini.”, ujar Senapati Dyah Pekik.

“Jumlah pasukan mereka berkembang dengan pesat, tapi masih ada satu kelemahan.”, jawab Ki Trengganu.

Senapati Dyah Pekik menganggukkan kepala, “Adipati Jalak Kenikir membuka kesempatan seluas-luasnya, bahkan mengirimkan orang-orang kepercayaannya untuk menarik orang-orang dunia persilatan. Secara kekuatan pasukan mereka berkembang dengan pesat, namun tidak mudah menyatukan orang-orang tersebut menjadi sebuah pasukan.”

“Pertempuran nanti, tidak akan berbeda dengan sewaktu kita melawan begal-begal dari Gunung Awu. Bagaimana menurut Ki Senapati?”, tanya Ki Trengganu.

Senapati Dyah Pekik menggelengkan kepala, “Beda Ki Trengganu, pertama, setidaknya ada kurang lebih seribu lima ratus orang dari pasukan Adipati Jalak Kenikir adalah prajurit-prajurit yang sudah dilatih selama bertahun-tahun.”

“Yang kedua, meskipun dari segi kesetiaan dan kemampuan bertempur sebagai kesatuan, pasukan yang baru dibentuk ini masih banyak kelemahan, tapi dibandingkan dengan begal-begal yang liar, mereka masih jauh lebih berdisiplin.”, sambung Senapati Dyah Pekik.

Wajah Ki Trengganu jadi suram, “Jika demikian, apakah kita masih punya kesempatan? Pertempuran antara Prabu Jannapati melawan adiknya mungkin akan berlangsung cukup lama, tapi semakin lama kita menunggu, semakin kuat pula kerja sama yang terbentuk di antara prajurit-prajurit baru Adipati Jalak Kenikir.”

Senapati Dyah Pekik tidak bisa menjawab, akhirnya dia hanya menggertakkan gigi dan berkata, “Kita harus percaya pada kemampuan Raden Rangga. Kau atur seseorang untuk menyampaikan berita ini pada Ki Rangga Rakryan Aswatama.”

Ki Trengganu mengangguk, “Siap ki.”

-----

Sementara itu, Gagak Seta akhirnya sampai di Kademangan Jambangan, di sebuah kompleks keprajuritan yang dibangun dengan terburu-buru.

Di satu sisi terlihat puluhan rumah panjang berbaris rapi. Di sisi lain terlihat barisan prajurit yang berlatih baris-berbaris mengikuti berbagai macam instruksi.

Gagak Seta harus meninggalkan kudanya sebelum memasuki kompleks keprajuritan, di tempat di mana kuda-kuda pasukan Kadipaten Jambangan dikumpulkan. Dengan berjalan dia menuju ke salah satu bangunan yang terbaik di antara rumah-rumah panjang yang lain. Terlihat belasan prajurit berjaga di depan pintu bangunan itu.

Sambil berjalan dia mengamati latihan baris-berbaris yang sedang dilaksanakan, dilihatnya sebagian besar dari pasukan itu melakukan latihan dengan malas-malasan. Sayup-sayup dia mendengar percakapan mereka.

“Kalau saja tidak ditawari gaji besar, aku sudah minggat dari tempat ini.”

“Benar, aku tidak mengerti apa gunanya latihan semacam ini.”

“Aku pikir latihan keprajuritan itu seperti apa, kalau hanya berlatih berbaris dan berjalan seperti ini, lebih baik aku tiduran saja di dalam.”

“Buang-buang waktu saja.”

“Apa kau tahu kenapa Adipati Jalak Kenikir tiba-tiba membuka pendadaran prajurit di mana-mana?”

“Mana aku tahu, mungkin ada hubungannya dengan perang antara Kerajaan Watu Galuh melawan Adipati Gading Kencana?”

Gagak Seta mencibir dalam hati, melihat betapa berbeda dengan suasana latihan yang diadakan oleh pasukan Tumenggung Widyaguna dan para senapati. Meskipun bila melihat jumlah pasukan yang terkumpul, hatinya pun jadi berdebar-debar, khawatir dengan nasib rekan-rekannya nanti.

Tak lama dia berjalan, sampailah Gagak Seta ke tempat yang dia tuju, seorang prajurit dengan sigap menghentikannya.

Gagak Seta memberi hormat dan berkata, “Aku baru menyelesaikan tugas dari Ki Lurah Basuki untuk mengantarkan pesan ke Kadipaten Serayu dan ingin melaporkan hasilnya.”

Prajurit itu bertanya, “Apa kau menerima surat balasan dari Kadipaten Serayu?”

Gagak Seta menunjukkan segulung lontar yang ada di tangannya, “Ada balasan dari Kadipaten Serayu.”

“Baik, tugasmu sudah selesai, serahkan padaku dan aku akan menyampaikannya ke Ki Lurah Basuki.”, jawab Prajurit itu sambil mengangsurkan tangannya meminta gulungan lontar itu.

Gagak Seta menggelengkan kepala, “Maaf kang, Ki Lurah Basuki yang memberikan tugas padaku, dan aku akan memberikan gulungan lontar ini langsung padanya. Jika tidak bagaimana nanti aku mempertanggung jawabkan tugasku jika Ki Lurah Basuki menanyakannya?”

Prajurit itu mengerutkan alisnya, “Ki Lurah Basuki sedang sibuk saat ini, tidak mungkin bisa menemuimu.”

Gagak Seta tersenyum dan menjawab dengan sopan, “Kalau begitu, mohon diijinkan aku menunggu dan tolong kakang sampaikan ke Ki Lurah Basuki nanti saat beliau sudah tidak sibuk.”

Prajurit itu mengeraskan suaranya, “Kau tidak percaya padaku?”

Dua orang prajurit lain berjalan mendekati mereka, salah seorang bertanya, “Ada apa kang? Ada masalah?”

Prajurit yang menghadang Gagak Seta menoleh dan menjawab, “Hehe, ada prajurit baru yang mau cari gara-gara.”

Gagak Seta bergeser mundur beberapa langkah, tak ingin terkepung dari tiga arah yang berbeda sambil menjawab, “Jangan salah paham, aku tidak ingin mencari masalah, hanya ingin menunaikan tugasku dengan baik.”

“Kau mau menyerahkan surat itu padaku atau tidak?”, tanya prajurit yang pertama dengan lebih keras.

Gagak Seta menggelengkan kepalanya, “Aku hanya akan menyerahkan surat ini pada Ki Lurah Basuki, karena itu perintah yang aku terima.”

Perdebatan itu pun mulai mengundang perhatian banyak prajurit lain yang ada di sekitar tempat itu. Namun tidak ada yang berusaha menghentikan mereka, malah kebanyakan justru sepertinya menanti-nanti terjadi perkelahian.

Situasi ini tak lepas pula dari pengamatan Gagak Seta, kurangnya disiplin, tidak ada ikatan yang erat antar prajurit.

Ada jurang pemisah yang cukup dalam, antara prajurit yang sudah lama mengabdi pada Adipati Jalak Kenikir, dengan prajurit-prajurit yang baru saja bergabung.

Keadaan makin memanas, tiga orang prajurit yang berjaga dengan perlahan berusaha mengepung Gagak Seta, sementara Gagak Seta terus menghindar. Belum terjadi saling menyerang, tapi terasa ketegangan perlahan-lahan meningkat.

Mata Gagak Seta tak pernah lepas mengamati keadaan di sekitarnya, tapi tiga orang lawannya cukup berpengalaman. Di luar perhitungan Gagak Seta, gerakannya makin lama, makin terbatas. Pemuda itu pun mengeluh dalam hati.

Tiga orang prajurit yang menjadi lawan Gagak Seta tersenyum mengejek.

“Kau masih belum menyerah?”, tanya seorang dari mereka.

Gagak Seta menggertakkan gigi dan menjawab, “Tentu saja tidak.”

Bersambung ke Bab XXVI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Kentang goreng KFC...
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di