CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XVII
Rencana Jahat Prabu Jannapati


“Jadi bagaimana menurut pendapat Raden Rangga?”

Tumenggung Widyaguna, Rakryan Rangga Wirapati dan Rakryan Wangga Aswatama diam menunggu keputusan Rangga. Tidak perlu waktu lama bagi Rangga untuk memutuskan, pertimbangan-pertimbangan yang diberikan Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan Rangga sudah cukup jelas.

“Pamanda sekalian benar, meskipun akan berakibat semakin lamanya waktu yang dibutuhkan, kita tidak bisa mengabaikan kondisi pasukan kita saat ini.”, ujar Rangga tanpa perlu berpikir panjang.

“Paman Aswatama, apakah pamanda sudah menemukan tempat yang tepat untuk kita berhenti beberapa waktu?”

“Dari laporan Senapati Bayu Bayanaka, ada beberapa tempat yang layak dijadikan tempat perhentian sementara. Ada sumber air, dekat pula dengan hutan yang cukup padat dengan binatang buruan.”, jawab Rakryan Rangga Aswatama dengan cepat.

“Coba tunjukkan lokasinya.”, kata Rangga sebelum memutuskan.

Rakryan Rangga Aswatama berjongkok dan menggunakan sebatang ranting untuk menggambar di atas tanah. Rangga, Tumenggung Widyaguna dan Rakryan Rangga Wirapati, ikut berjongkok untuk mengamati corat-coret Rakryan Rangga Aswatama.

“Ini raden, lokasi-lokasi yang menurut Senapati Bayu Bayanaka bisa jadi tempat perhentian yang layak. Saat ini kita berada di sini.”, ujar Rakryan Rangga Aswatama setelah selesai menggambar di atas tanah.

Peta yang digambar Rakryan Rangga Aswatama memang hanya gambaran kasar, namun lengkap dengan simbol-simbol yang menggambarkan kondisi geografi seperti arah mata angin, gunung, sungai, hutan dan mata air.

Rangga mempelajari peta itu beberapa lama, sebelum kemudian menunjuk ke satu lokasi, “Besok kita menuju ke tempat ini, lalu berdiam di sana untuk satu-dua minggu lamanya. Menurut paman berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di tempat itu? Dan apakah kita bisa menghidupi seluruh rombongan dengan sumber daya yang ada di sekitar tempat itu?”

“Mengapa mengambil jalan memutar? Dan selama itu kah Raden memutuskan untuk menghentikan perjalanan?”, Tumenggung Widyaguna mengerutkan alis.

Rangga menepuk pundak Rakryan Rangga Aswatama, “Karena Pamanda Aswatama benar, dengan kecepatan kita sekarang, saat kita akan menghadapi sergapan lawan, dan korban akan berjatuhan. Penduduk Kademangan Jati Asih harus belajar mempertahankan diri mereka sendiri, untuk mengurangi jumlah jatuhnya korban.”

Rangga memalingkan wajah ke arah Rakryan Rangga Aswatama, “Kirim perintah ke Paman Bayu Bayanaka sekarang juga, aku ingin sebelum besok malam tiba, sudah ada laporan dari Paman Bayu Bayanaka.”

“Siap raden.”, jawab Rakryan Rangga Aswatama dengan sigap.

------

Beratus kilometer jauhnya dari perkemahan itu, di salah satu ruang pertemuan yang ada di Istana Kerajaan Watu Galuh, terlihat dua orang dengan hormat menghadap Prabu Jannapati.

“Jadi bagaimana hasil penyelidikanmu?”, tanya Prabu Jannapati, sorot matanya tajam menyambar senapati yang duduk bersila dengan hormat di hadapannya.

Senapati yang bertugas untuk mengirimkan telik sandi ke Kademangan Jati Asih itu sudah berkeringat dingin. Untuk sesaat dia menoleh ke arah Patih Nandini. Sebelum mereka menghadap ke Prabu Jannapati, dia sudah lebih dahulu melapor ke Patih Nandini. Tapi kali ini Patih Nandini tidak membantunya untuk menjawab pertanyaan Prabu Jannapati.

Prabu Jannapati sudah mulai hilang kesabarannya, untung senapati ini buru-buru menjawab ketika melihat Patih Nandini hanya duduk diam mendengarkan.

“Kademangan Jati Asih sudah kosong, seluruh penduduknya memilih untuk mengikuti Raden Rangga dan pengikut-pengikutnya, pergi ke tempat yang baru. Telik sandi yang tertangkap, ditinggalkan begitu saja. Kami berhasil menemukan lalu membebaskan mereka.”, senapati itu buru-buru melapor.

“Oh... ?” Prabu Jannapati sedikit terkejut mendengar telik sandi yang mereka kirimkan masih hidup.

“Semua telik sandi ditahan di tempat yang sama? Apa hanya kita yang mengirim telik sandi ke sana?”, tanya Prabu Jannapati.

“Benar gusti, mereka semua terkumpul di salah satu rumah dalam keadaan terikat erat. Ada beberapa petugas telik sandi yang bukan berasal dari Kerajaan Watu Galuh, gusti.”, jawab senapati tersebut.

“Hmm...? Di mana mereka sekarang?”, tanya Prabu Jannapati tertarik ingin tahu.

“Semuanya kami tangkap dan interogasi. Sekarang mereka ada di ibukota, di penjara kerajaan.”, jawab senapati tersebut.

Prabu Jannapati terlihat berpikir beberapa saat, matanya berkilat-kilat, tak lama kemudian dia berkata, “Bebaskan mereka semua.”

“Eh?”, senapati itu terkejut, tapi belajar dari pengalaman-nya yang lalu, buru-buru dia menjawab, “Siap laksanakan! Apakah gusti prabu ingin hamba membebaskan mereka sekarang juga?”

Prabu Jannapati mengangguk sambil tersenyum kecil, “Panggil dan tugaskan salah seorang bawahanmu untuk membebaskan mereka, lalu segera kembali untuk melanjutkan laporanmu.”

“Siap laksanakan baginda.”, jawab senapati itu tegas, lalu bergegas dia pamit dan meninggalkan ruangan.

“Baginda tidak kuatir, salah seorang dari mereka yang mengawasi Kademangan Jati Asih akan membantu Rangga?”, tanya Patih Nandini sesaat setelah tinggal mereka berdua saja di ruangan itu.

“Tidak.”, jawab Prabu Jannapati dengan penuh keyakinan.

“Kalaupun ada, aku yakin jumlahnya tidak akan terlalu banyak. Mereka dulu diam ketakutan saat ayahanda mengambil takhta kerajaan, apa bedanya dengan sekarang? Saat ini aku justru ingin air kolamnya makin keruh, biar ikan-ikan yang biasanya bersembunyi di dasar kolam, keluar semua.”, lanjut Prabu Jannapati menjelaskan.

“Hati-hati baginda, jangan sampai baginda salah mengukur kekuatan sendiri.”, ujar Patih Nandini dengan alis berkerut.

“Hehehe... Nandini, apa kau jadi penakut sekarang?”, ejek Prabu Jannapati.

“Hamba harap baginda lebih berhati-hati, itu saja.”, jawab Patih Nandini sambil menghela nafas.

Prabu Jannapati mengangguk tak sabar, “Sudah cukup, aku mengerti. Apa yang sudah dilaporkan senapati tadi?”

“Namanya Senapati Arya Pameling--”, Patih Nandini hendak menjawab.

“Aku tidak peduli siapa namanya! Dan tidak usah kau ulang laporan dia, kau ceritakan saja kesimpulanmu.”, tegas Prabu Jannapati memotong.

Patih Nandini menggeleng-gelengkan kepala, terkadang dia merasa putus asa dengan sifat junjungannya ini, tapi akhirnya dia tetap menjawab juga, “Rangga sudah pasti berkumpul kembali dengan pengikut-pengikut setianya. Tumenggung Widyaguna, Rakryan Rangga Wirapati, Rakryan Rangga Aswatama, dan tiga puluh senapati, bersama mereka sekitar enam sampai tujuh ratus prajurit.”

“Hmm...”, Prabu Jannapati memperhatikan dengan seksama.

“Jika seluruh penduduk kademangan mengikuti dia, artinya sekitar tiga puluh ribu orang mengikuti dia, katakan seperlima dari mereka adalah laki-laki dewasa, maka setidaknya ada enam ribu tambahan.”, Patih Nandini melanjutkan.

“Hmm... enam ribu orang yang belum pernah pergi berperang, aku bisa memimpin lima ratus orang prajurit pilihan dan membantai bersih mereka.”, ujar Prabu Jannapati merendahkan.

Patih Nandini menggelengkan kepala, “Baginda jangan lupa, penduduk pertama Kademangan Jati Asih adalah prajurit Prabu Jaya Lesmana.”

“Orang-orang tua yang sudah bau tanah.” sahut Prabu Jannapati dengan cepat.

“Ada enam sampai tujuh ratus orang prajurit yang sudah kenyang makan asam garam, berkelana dalam dunia persilatan selama puluhan tahun, di antara ribuan orang itu.”, sambung Patih Nandini.

“Hmmm....”, Prabu Jannapati berpikir.

“Kadipaten kecil tidak bisa menghentikan mereka.” gumam Prabu Jannapati.

Patih Nandini menganggukkan kepala setuju, lalu diam membiarkan Prabu Jannapati berpikir dengan tenang.

“Kirimkan orang untuk menemui para kepala begal di Gunung Awu. Terserah cara apa yang mau kau pakai, aku ingin mereka menyerang rombongan Rangga itu. Runtuhkan semangatnya, buat mereka berdarah sedikit demi sedikit...”, Prabu Jannapati masih bergumam sambil berpikir.

“Apa kalian sudah bisa menduga ke mana mereka akan pergi?”, tiba-tiba Prabu Jannapati bertanya.

“Mereka bergerak ke arah selatan. Dugaan hamba mereka akan mengitari Gunung Awu dan hutan di lereng Gunung Awu, menjauhi kita, kemudian ke arah timur, di mana masih banyak wilayah tak bertuan.”, jawab Patih Nandini.

“Ke arah selatan? Kau yakin mereka tidak punya rencana untuk bergabung dengan Adiyasa?”, tanya Prabu Jannapati sambil mengerutkan alis.

Patih Nandini dengan yakin menjawab, “Hamba rasa tidak, jika mereka terus ke selatan, maka mereka akan memasuki Kadipaten Jambangan, namun dengan situasi saat ini, Adipati Jalak Kenikir, tidak akan berani menghadang dia--”

“Karena takut Adipati Panjalu dan Adipati Guntur Aji bisa menyerang kadipatennya.”, potong Prabu Jannapati sambil memukul lututnya.

“Benar, Adipati Panjalu dan Adipati Guntur Aji juga tidak akan berani menghadang dia, karena artinya pasukan mereka akan masuk terlalu dalam ke wilayah kita.”, lanjut Patih Nandini.

“Hee.... bagaimana misalnya kalau kita berdiam diri dan tidak melakukan tekanan ke bajingan-bajingan tua itu?”, Prabu Jannapati bertanya.

“Tidak... tidak... tidak..., percuma saja, karena keberadaan kita sudah menjadi ancaman sendiri. Jika kita tidak mengirim pasukan ke perbatasan, lebih menguntungkan bagi mereka untuk menyerang dan menguasai wilayah kita, daripada menyerang Rangga yang hanya lewat.”, Prabu Jannapati menjawab pertanyaannya sendiri.

Patih Nandini mengangguk setuju. Prabu Jannapati tertawa lebar karena bisa menebak jalan pikiran Rangga, namun sesaat kemudian dia merengut marah, “Sial!”

Patih Nandini baru hendak membuka mulut ketika Prabu Jannapati berdiri dan dengan mata menyala-nyala memberi perintah, “Dengarkan aku Nandini, aku perintahkan kau untuk menyiapkan pasukan untuk menyerang bajingan-bajingan tua yang memanfaatkan Adi Adiyasa dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kita akan menyerang mereka sedemikian ketat, sampai mereka hanya bisa bertahan. Kemudian tugaskan Adipati Jalak Kenikir untuk menghabisi Rangga dan seluruh mereka yang mengikuti dia.”

Patih Nandini menatap wajah Prabu Jannapati yang merona merah, matanya menyala-nyala dan rahangnya bergemeretak keras. Patih Nandini pun tahu, tidak akan ada kata-kata yang mampu mengubah keputusan Prabu Jannapati.

Patih Nandini pun membungkuk hormat dalam-dalam dan menjawab, “Siap laksanakan paduka.”

----

Di salah satu hutan kecil, di lereng Gunung Awu, terlihat ratusan rumah-rumah panjang sementara yang dibangun cepat-cepat dan ala kadarnya. Anak-anak kecil bermain di tepian sungai, sesekali terdengar mereka berteriak-teriak, berebut ingin mengambil peran menjadi salah satu jagoan yang ceritanya mereka dengar setiap malam.

Di dataran rumput yang luas, di sisi lain dari Sungai Serayu, ribuan laki-laki yang mampu mengangkat senjata, terlihat berlatih perang-perangan di bawah arahan prajurit-prajurit yang berpengalaman.

“Jangan terpisah dari kelompokmu!”

“Pemimpin kelompok, selalu perhatikan panji-panji!”

“Ingat, empat orang bertahan, satu orang mencari kesempatan untuk menyerang!”

“Pertahankan formasi!”

Sayup-sayup terdengar teriakan-teriakan di tengah gelanggang pertempuran yang cukup besar. Rangga dan para panglimanya lebih menitik beratkan latihan pada kerja sama dan pengenalan akan berbagai macam formasi dalam medan perang.

Di sebuah bukit kecil, Rangga dan Ki Ageng Aras memperhatikan latihan perang-perangan yang terjadi.

“Tidak buruk den, bagaimana pun juga, sebagian dari mereka dulunya adalah prajurit. Sebagian lagi adalah keturunan prajurit, mereka sudah memiliki dasar-dasar keprajuritan. Latihan formasi perang seperti ini menambal apa yang kurang dari mereka.”, kata Ki Ageng Aras.

Rangga mengangguk dengan seulas senyum di wajahnya, “Benar...”

“Sepertinya raden masih menyimpan beban.”, tanya Ki Ageng Aras melihat awan di wajah Rangga.

Rangga menoleh ke arah Ki Ageng Aras dan keduanya berpandangan beberapa saat. Rangga menghela nafas dan menjawab, “Beri mereka waktu beberapa bulan dan mereka akan siap untuk pertempuran, tapi apa kita punya waktu beberapa bulan?”

“Prabu Jannapati akan disibukkan dengan Prabu Jayabhuanna... setidaknya mungkin untuk satu-dua bulan ke depan.”, ujar Ki Ageng Aras ragu-ragu.

“Dan kita harus sudah berada jauh dari Kerajaan Watu Galuh sebelum perang di antara mereka usai.”, sambung Rangga.

Mereka berdua terdiam, memandang ribuan laki-laki yang sedang berlatih perang-perangan jauh di bawah sana. Pada saat perang yang sesungguhnya, korban akan berjatuhan.

Mereka berdua masih terdiam dengan pikirannya masing-masing, saat terdengar suara kuda menderap cepat ke arah mereka. Rangga dan Ki Ageng Aras menoleh ke arah datangnya suara. Seorang prajurit memacu kudanya, tanpa melambat sedikitpun. Baru ketika dia mencapai kaki bukit, dia mengurangi kecepatan.

Beberapa langkah jauhnya dari Rangga, dia melompat turun dari kudanya dan berlutut di depan Rangga.

“Bangunlah...., kabar apa yang kau bawa?”, ujar Rangga dengan sopan.

Prajurit itu bangkit berdiri dan melaporkan kabar yang dia bawa sesingkat dan selengkap mungkin, lalu diam menunggu perintah dari Rangga. Prajurit itu adalah bagian dari kesatuan yang menjadi pengintai dan mengamankan wilayah di sekitar tempat perhentian. Menurut kabar yang dibawa prajurit itu, selama satu hari itu sudah terjadi belasan kali bentrokan kecil-kecilan dengan beberapa begal dan bandit dari arah Gunung Awu.

Senapati Respati yang memimpin mereka, meminta bantuan untuk mengamankan keadaan. Selain itu dia juga menduga, akan ada serangan yang lebih besar.

Ki Ageng Aras bergumam, “Sepertinya memang ada upaya untuk menguji dan mencari-cari lubang kelemahan dalam pertahanan kita.”

Rangga dengan cepat mengambil keputusan, “Ki Ageng Aras, mohon sampaikan perintahku pada Tumenggung Widyaguna, tugaskan dua kesatuan lagi untuk membantu Senapati Respati. Setelah itu, minta Pamanda Widyaguna, Wirapati dan Aswatama, juga para senapati yang sedang tidak bertugas segera menemuiku di sini untuk memikirkan rencana yang lebih matang.”

“Baik raden”, jawab Ki Ageng Aras dan tanpa membuang waktu, berkelebat pergi ke arah salah satu bangunan di seberang Sungai Serayu.

Rangga kemudian memberi perintah pada prajurit itu, “Katakan pada Senapati Respati, bantuan akan segera datang. Tunggu sampai datang perintah berikutnya. Pastikan kalian selalu meninggalkan tanda-tanda, agar kami mudah menemukan kalian.”

“Siap laksanakan raden.”, jawab prajurit itu, dan tanpa membuang waktu dia pun melompat dan memacu kudanya, ke tempat di mana Senapati Respati menunggu.

Bersambung ke Bab XVIII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
onta890 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
kalau ada yg punya ide, judul yang lebih pas buat bab ini, mohon dilemparkan.

Soalnya saya kurang sreg dengan rencana jahat, namanya perang kayaknya ga ada baik/jahat ya???
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di