CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XV - Part 1
(Riak-Riak Menyebar Ke Seluruh Penjuru Bhumi Adyatma)


Jauh di ujung paling barat dari Kerajaan Watu Galuh, menjadi sebuah daerah batas antara Kerajaan Watu Galuh dengan Kerajaan Pakuan yang menguasai ujung barat Bhumi Adyatma, adalah Kadipaten Penambang.

Sebuah kadipaten yang luas dan dihormati kadipaten-kadipaten lain di sekitarnya.

Memiliki ikatan yang erat dengan Kerajaan Watu Galuh sejak berkuasanya Prabu Jaya Lesmana, dan di luar banyak dugaan orang, masih terus berlanjut setelah Prabu Jaya Lesmana digantikan oleh adiknya Prabu Anglang Bhuanna.

Adipati Merak Salaka dengan cermat menekuni gulungan lontar yang melaporkan keadaan di Kerajaan Watu Galuh, bersama dengan beberapa adipati dari kadipaten tetangga. Mereka terjalin dalam satu persekutuan bersama, Kekuatannya mungkin sejajar dengan kekuatan satu kerajaan kecil.

“Bagaimana kakang, jika di Kerajaan Watu Galuh sampai pecah perang saudara, ada kemungkinan Prabu Jannapati akan mengirim utusan dan meminta kita mengirimkan bantuan. Apa yang harus kita lakukan?”, tanya salah seorang adipati.

“Benar kakang, kami semua punya pertanyaan yang sama seperti pertanyaan Adi Gelang Wesi.”, seorang adipati yang lebih tua ikut menguatkan.

Adipati Merak Salaka menghela nafas panjang dan memijit-mijit dahinya yang dihiasi garis-garis penanda usia dan uban, “Ananda Prabu Jannapati terlalu keras sifatnya...”

Suasana jadi hening, tak ada yang berbicara. Semua laporan sudah disampaikan dengan lengkap. Adipati-adipati yang lain sekarang menunggu keputusan Adipati Merak Salaka dengan sabar. Memang seperti inilah adat kebiasaan Adipati Merak Salaka. Yang tidak kenal dia mungkin akan menganggap Adipdati Merak Salaka lamban dan tak pantas jadi pemimpin. Kenyataan-nya adipati yang sudah berusia mendekati 90 itu, berhasil menjaga kedaulatan kadipatennya melalui masa-masa sulit.

Selama ratusan tahun, sejak Bhumi Adyatma terpecah-pecah menjadi banyak kerajaan kecil dan kadipaten-kadipaten yang merdeka, ketupan-letupan besar dan kecil tak pernah sepi dari waktu ke waktu.

Baru setelah naiknya Prabu Jaya Lesmana menjadi raja Kerajaan Watu Galuh dan kemudian dilanjutkan Prabu Anglang Bhuanna, perang kecil dan besar mulai mereda. Kedua raja ini berhasil menguasai kira-kira seperempat wilayah Bhumi Adyatma yang berpenduduk, baik lewat perang maupun diplomasi.

Posisi-nya yang di tengah-tengah pulau yang besar ini, membuat kedudukannya seakan mengancam semua pihak. Sehingga sisa-sisa kadipaten dan kerajaan kecil yang tidak tunduk pada Kerajaan Watu Galuh tidak berani berperang di antara mereka sendiri, karena siapapun pemenangnya, akan menjadi santapan yang mudah bagi Kerajaan Watu Galuh.

Sendiri-sendiri mereka tidak cukup kuat untuk mengancam Kerajaan Watu Galuh. Untuk bersatu juga tidak mau, apalagi Kerajaan Watu Galuh juga dengan aktif membangun persekutuan dengan beberapa kadipaten dan kerajaan kecil lain di Bhumi Adyatma.

Salah satunya adalah persekutuan sebagian adipati-adipati di Bhumi Adyatma bagian barat, yang dipimpin oleh Adipati Merak Salaka ini.

Adipati Merak Salaka menutup mata, seperti tertidur pulas, sementara para adipati yang lain diam menunggu dengan sabar.

Lama sekali akhirnya Adipati Merak Salaka berujar, “Kita jangan ikut terjun dalam air yang keruh ini. Jika sampai ada utusan dari Prabu Jannapati, katakan pada mereka untuk menemuiku. persekutuan tujuh kadipaten ini, aku yang memimpin dan aku yang memberi keputusan.”

“Baik kakang”, jawab para adipati serempak dan dengan hormat.

Tidak banyak penjelasan dari Adipati Merak Salaka, hanya sebuah keputusan. Namun, keputusan yang tanpa penjelasan itu seperti jadi pegangan bagi adipati-adipati yang lain, menyapu kekhawatiran yang tadi menaungi wajah-wajah mereka.

-----

Sementara itu di ruang dalam Kerajaan Pakuan Pangandaran, terlihat Prabu Sanjaya sedang mengadakan pertemuan dengan para menteri dan panglima perangnya.

“Dalam hitungan bulan atau bahkan minggu, udara di Bhumi Adyatma akan kembali memanas. Pangeran Adiyasa hampir bisa dipastikan akan didukung dengan belasan kadipaten yang selama ini terpecah-pecah di sekitaran selatan Kerajaan Watu Galuh.”, ujar salah seorang dari menteri yang hadir.

“Ini kesempatan kita, selama ini posisi Adipati Merak Salaka menjadi aman dengan Kerajaan Watu Galuh berjaga di belakangnya. Sekarang Pangeran Adiyasa mendapat sokongan dari kadipaten-kadipaten di luar Kerajaan Watu Galuh. Prabu Jannapati pasti akan menuntut Adipati Merak Salaka dan sekutu-sekutunya untuk membantu dia.”, seorang panglima perang menimpali.

Prabu Sanjaya mendengarkan dengan tenang, tapi terlihat jari-jarinya mngetuk-ngetuk kursi dengan bersemangat.

Kesempatan yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba, tapi Prabu Sanjaya tidak mau terbutu-buru, dia melihat ke arah pejabat-pejabat yang lain, “Menurut kalian bagaimana?”

“Hamba kira tidak demikian, jika persekutuan tujuh kadipaten itu berani menggerakkan prajurit mereka membantu Prabu Jannapati, mereka akan terjebak dalam peperangan yang memakan waktu, biaya dan nyawa. Adipati Merak Salaka pasti paham benar akan hal ini, hamba kira, dia pasti menolak permintaan Prabu Jannapati untuk mengirimkan bala bantuan.”, ujar seorang menteri yang sudah lanjut usia.

“Hamba setuju dengan apa yang dikatakan Rakryan Tumenggung Hadikesuma. Adipati Merak Salaka mungkin pekewuh kalau yang meminta bantuan itu mendiang Prabu Jaya Lesmana. Mungkin dia gentar jika yang meminta bantuan itu Prabu Anglang Bhuanna. Tapi dia tidak punya alasan untuk takut, ataupun sungkan pada Prabu Jannapati.”, seorang menteri mendukung ucapan Tumenggung Hadikesuma.

Alis Prabu Sanjaya berkerut, “Paman patih, bagaimana menurut paman?”

Patih Dyah Jumenang tersenyum sinis, “Apa yang sulit? Kedudukan Adipati Merak Salaka bisa menjadi kuat, karena di belakangnya ada tembok yang kuat, sehingga dia bisa memusatkan seluruh kekuatan mereka untuk mengawasi kita.”

Prabu Sanjaya tersenyum puas, patihnya ini tidak pernah mengecewakan dia, “Ha.. paman benar, jadi bagaimana paman?”

Patih Dyah Jumenang berdiri dengan dada terbuka lebar, “Hamba rasa, apa yang dikatakan Tumenggung Hadikesuma itu benar. Menilik sifat Adipati Merak Salaka, dia pasti memilih jalan yang paling aman bagi wilayah kekuasaannya.”

Para menteri dan panglima diam mendengarkan, mereka yang memiliki kedekatan dengan Tumenggung Hadikesuma merasa dadanya mengembang. Sementara Prabu Sanjaya terlihat tak sabar ingin mendengar penjelasan Patih Dyah Jumenang lebih lanjut, yang dia inginkan adalah menyingkirkan Adipati Merak Salaka yang sudah jadi batu sandungan selama puluhan tahun bagi Kerajaan Pakuan Pangandaran.

“He hee... tapi tembok yang melindungi punggunnya itu sekarang sudah melemah, itu kenyataan yang tidak bisa dia hindari. Pada saat tembok itu runtuh, saat itu pula titik mula keruntuhan tujuh kadipaten itu, dan tembok itu sudah pasti akan runtuh!”, ujar Patih Dyah Jumenang dengan nada suara yang makin lama makin tinggi.

“Bagus!”, seru Prabu Sanjaya.

“Tapi bagaimana Pamanda patih yakin bahwa Kerajaan Watu Galuh pasti runtuh? Kudengar Prabu Jannapati adalah seorang yang garang, dia dibantu pula oleh patihnya yang cakap dalam berbagai ilmu.”, tanya Prabu Sanjaya dengan ragu-ragu sesaat kemudian.

“Adipati Gading Kencana adalah seorang tua yang licik, tak kalah liciknya dengan Adipati Merak Salaka, dia akan jadi lawan yang menyulitkan bagi Prabu Jannapati.”, ujar Patih Dyah Jumenang.

“Selain itu....”, Patih Dyah Jumenang menambahkan, diiringi dengan senyuman misterius.

“Selain itu apa paman?”, Prabu Sanjaya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Hehehe, tangan dan kaki Adipati Merak Salaka terikat oleh kita, tak bisa bergerak membantu Prabu Jannapati. Tapi kita... hehehe, kita masih punya ruang gerak untuk memastikan Kerajaan Watu Galuh runtuh.”, jawab Patih Dyah Jumenang.

“Apakah kita akan mengirim pasukan ke sana?”, tanya Prabu Sanjaya terkejut.

“Hehehe, tidak perlu..., sama sekali tidak perlu. Kita hanya perlu mengirim surat ke Jendral Van Der Loewig di Ujung Kulon.”, mata Patih Dyah Jumenang terlihat berkilau licik saat berkata.

“Jendral Van Der Loewig dengan senang hati akan mengulurkan bantuan untuk siapa pun di antara dua pihak yang sedang berseteru, yang mau menjalin kerja sama dengan dirinya. Tentu dengan harga yang sangat mahal. Setiap kali pergi berperang, pasukan pilihan-nya menghabiskan biaya yang tidak sedikit.”, Patih Dyah Jumenang menjelaskan, beberapa wajah menteri dan panglima perang terlihat mulai paham.

Prabu Sanjaya pun perlahan-lahan mulai mengerti, “Hahahaha, paman benar-benar cerdas, tak salah kalau gelar ahli strategi nomer satu disandang Pamanda Patih. Begitu Jenderal Van Der Loewig ikut campur, salah seorang dari mereka pasti akan menanda tangai perjanjian dengan dirinya, karena siapa yang menolak bantuannya, bisa dipastikan akan mengalami tekanan yang berat.”

Patih Dyah Jumenang menganggukkan kepala sambil tersenyum puas, “Benar sekali baginda, yang perlu kita siapkan hanyalah mengamankan jalan dari Ujung Kulon menuju Kerajaan Watu Galuh. Sekaligus pula kita melebarkan sayap kita ke selatan.”

“Dan Adipati Merak Salaka hanya bisa menonton sambil menghitung hari. Hahahahaha.”, Prabu Sanjaya menepuk-nepuk lututnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Para menteri dan panglima perang tentu saja ikut tertawa. Akhirnya kerikil yang keras kepala dan tak mau pergi dari dalam sepatu mereka bakal tersingkir. Adipati Merak Salaka sudah berkali-kali membuat manuver militer dan politik yang membuat mereka harus menahan diri dan mundur dengan malu.

Sekarang akhirnya mereka bisa melihat Adipati Merak Salaka bertekuk lutut di hadapan Kerajaan Pakuan Pangandaran.

-----

Hari-hari itu pula, di pesisir utara Bhumi Adyatma, di sebuah kota pelabuhan yang besar, dengan kapal-kapal pedagang dari negeri seberang berjajar di dermaga.

Pendapatan terbesar Kadipaten Laweyan berasal dari pajak pelabuhan yang selalu ramai oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia. Beberapa negeri seberang bahkan memiliki kantor dagang mereka sendiri-sendiri. Sebagai kadipaten di mana berbagai negara datang berkunjung dan berdagang, untuk menjaga agar situasi tetap kondusif, Kadipaten Laweyan pun harus memiliki kekuatan armada laut dan darat yang disegani.

Sebuah benteng dari batu, dengan meriam-meriam berjajar menghadap ke arah laut, adalah bangunan yang menjadi kebanggaan rakyat Kadipaten Laweyan.

Di salah satu ruangan dalam benteng itu, terlihat Adipati Pradnaja, para senapati, serta menteri-menteri kepercayaan-nya. Ruang itu bertembok tebal dengan beberapa lubang ventilasi di sisi luar. Langit-langitnya sangat tinggi, dan cahaya matahari kesulitan untuk menerangi ruangan.

Pintu ruangan itu terbuat juga dari kayu jati yang tebal.

Saat pintu sudah tertutup seperti sekarang ini, maka tak ada sedikitpun suara yang menyelusup keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan sedari tadi terasa hening, padahal di dalam ruangan itu baru saja terjadi perdebatan sengit.

Di dalam ruangan, wajah beberapa orang senapati masih terlihat merah padam. Adipati Pradnaja duduk dengan tegak di kursinya, tatapan matanya menyambar ke kiri dan ke kanan. Tak ada yang berani membuka mulut.

Baru ketika emosi para senapati dan menteri terlihat mereda, Adipati Pradnaja membuka mulutnya, “Jangan sampai kita bertengkar di antara diri kita sendiri. Ingat, kita ini orang Kadipaten Laweyan, bukan orang dari sebrang timur, barat, atau manapun. Tanah yang kita injak dan menghidupi kita adalah Tanah Laweyan!”, tegas Adipati Pradnaja dengan keras.

“Jangan pula kalian pernah berpikir utusan-utusan dari negara lain itu tidak memikirkan kepentingan mereka sendiri? Dalam setiap uluran persahabatan dan kerja sama, pasti yang mereka dahulukan adalah kepentingan negara mereka. Bukan kepentingan kita! Kitalah yang harus memperjuangkan kepentingan Tanah Laweyan ini!”, Adipati Pradnaja tidak menyembunyikan kemarahan dalam tiap kata-katanya.

Para senapati dan menteri pun menunduk mendengarkan teguran Adipati Pradnaja. Entah apakah di dalam hati mereka, mereka itu sepakat atau tidak, yang pasti di depan Adipati Pradnaja tidak ada yang berani menyanggah kata-katanya itu.

Setelah cukup lama mereka terdiam, salah seorang menteri memberanikan diri bertanya, “Jadi bagaimana keputusan Adipati mengenai geger di Kerajaan Watu Galuh?”

“Dasar anak-anak muda bau kencur...”, gumam Adipati Pradnaja kesal sambil mengerutkan alis.

Adipati Pradnaja tidak segera menjawab, tapi para abdi dalemnya pun tidak ada yang berani menyela, beberapa saat kemudian Adipati Pradnaja berkata, “Kadipaten Laweyan bisa hidup dengan tenang, karena adanya Kerajaan Watu Galuh, karena itu, dengan cara apapun Kerajaan Watu Galuh harus tetap berdiri, menancap dengan kuat di pusat Bhumi Adyatma.”

“Di pihak siapa kita akan berdiri?”, tanya salah seorang menteri.

“Sudah pasti di pihak Prabu Jannapati. Di belakang Pangeran Adiyasa ada adipati-adipati yang bermain, bila dia menang, maka keadaan Kerajaan Watu Galuh hanya akan tambah kacau saja. Prabu Jannapati mungkin terlalu keras, tapi Kerajaan Watu Galuh yang dipimpin dengan tangan besi akan menguntungkan kita. Aku tidak perduli apakah rakyat Kerajaan Watu Galuh sejahtera atau tidak, yang aku inginkan adalah kestabilan di kerajaan itu.”, jawab Prabu Jannapati.

“Apakah tidak melemahkan kekuatan militer kita di Kadipaten Laweyan jika kita mengirim pasukan membantu Prabu Jannapati?”, tanya salah seorang senapati.

“Hmm... angkatan laut kita memang banyak ditempa di medan yang sesungguhnya, membereskan perompak yang terkadang mengganggu wilayah di Laut Utara. Tapi sebaliknya angkatan darat kita lebih banyak berlatih di sanggar dan lapangan, daripada di medan laga yang sesungguhnya. Perang ini bisa kita gunakan untuk mengasah kemampuan mereka.”, jawab Adipati Pradnaja.

“Tapi.... akan ada banyak korban berjatuhan...”, salah seorang senapati berujar ragu-ragu, dia salah seorang senapati yang memimpin angkatan dara Kadipaten Laweyan.

“Hmph! Lebih baik aku menghidupi seratus orang prajurit yang kenyang makan asam garam peperangan, daripada seribu gentong nasi.”, jawab Adipati Pradnaja, matanya menyorot tajam menatap senapati yang berucap tadi.

“Maksud Senapati Rengganis bukan demikian Ki Adipati.... hanya saja untuk menjaga kedaulatan Kadipaten Laweyan yang luas juga butuh jumlah yang tidak sedikit.”, buru-buru seorang senapati yang lebih tua membantu rekannya yang salah ucap itu.

“Tidak ada masalah, pada saat nanti perang sudah dimulai, buka kesempatan yang sebesar-besarnya, bagi siapapun yang ingin mengabdi pada Kadipaten Laweyan sebagai prajurit. Janjikan mereka kehidupan yang layak, tapi itu nanti, setelah mereka lulus ujian.”, Adipati Laweyan tersenyum meremehkan.

“Lulus ujian di medan peperangan yang sesungguhnya.”, lanjut Adipati Laweyan dengan sorot mata dingin.

-----
bersambung ke part 2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
singomenggolo dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di