CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Jokowi Dianggap Offside, Istana Bukan untuk Melancarkan Kepentingan Politik keluarga
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f1435570577a962cc2f7f91/jokowi-dianggap-offside-istana-bukan-untuk-melancarkan-kepentingan-politik-keluarga

Jokowi Dianggap Offside, Istana Bukan untuk Melancarkan Kepentingan Politik keluarga




Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Research and Consultant, Pangi Syarwi Chaniago menilai, Presiden Joko Widodo telah menyalahgunakan fasilitas negara karena membahas kontestasi Pilkada Solo di Istana Kepresidenan.
“Jelas menyalahgunakan fasilitas negara. Beliau harus bedakan mana kepentingan negara mana kepentingan keluarga,” kata Pangi, kemarin.

Hal ini disampaikan Pangi menanggapi pengakuan bakal calon walikota yang ditugaskan DPC PDI-P Solo, Achmad Purnomo. Purnomo mengaku dipanggil oleh Presiden Jokowi ke Istana Negara Jakarta, Kamis (16/7/2020) kemarin.

Di Istana, Purnomo mengatakan kalau dirinya diberitahu oleh Presiden Jokowi bahwa pasangan calon yang direkomendasi DPP PDI-P maju dalam Pilkada Solo 2020 itu bukan dirinya, melainkan Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakoso.


Menurut Pangi, obrolan itu tidak sebaiknya dilakukan di Istana Kepresidenan, semestinya di kediaman pribadi. “Apa susahnya pulang ke rumah sebentar, bahas pilkada, ngobrol santai di rumah saja. Kenapa harus di Istana?” kata Pangi, melansir kompas.com.Pangi mengaku sudah mengingatkan sejak awal bahwa langkah Gibran maju dalam Pilkada Solo sangat rawan konflik kepentingan. Menurut dia, harusnya Gibran dan seluruh anggota keluarga Jokowi menunggu untuk terjun ke politik sampai Jokowi tak lagi menjabat.

“Ini bukan kali ini saja, Presiden juga sering kali melakukan hal yang blunder, apakah engak diingatkan? Atau Presiden tahu beliau salah, tapi tetap saja enggak mau diatur-atur,” kata dia.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menilai apa yang dilakukan oleh Kepala Negara merupakan suatu kesalahan besar. Jokowi dinilai telah melanggar etika dan memanfaatkan Isatan untuk kepentingan politik praktis putra sulungnya.

“Cara Presiden Jokowi melakukan negosiasi dan menawarkan jabatan kepada pesaing putranya Gibran Rakabumingraka dalam Pilkada Kota Surakarta di Istana Negara merupakan kesalahan besar seorang presiden,” demikian kata Umam melansir Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (18/7/2020).

Dalam pengamatan Umam, Jokowi tidak hanya sekali memanfaatkan Istana untuk pertemuan politik praktis. Sebelumnya Maret 2018, Jokowi pernah mendatangkan elite partai pendukungnya ke Istana. Meski Istana saat itu beralibi bahwa pertemuan bukan inisiatif Presiden, namun demikian pemanggilan Achmad Purnomo jelas merupakan kehendak dari Jokowi.

Istana Negara tambah Umam, merupakan simbol negara, sehingga tidak patut memperbincangkan urusan politik praktis. Apalagi, hanya untuk memuluskan langkah anak kandungnya.

“Jokowi sudah offside, jelas itu out of the line, melanggar etika dalam memanfaatkan simbol negara Istana presiden merupakan simbol negara, yang seharusnya digunakan untuk urusan politik kebangsaan, bukan tempat negosiasi politik praktis, apalagi untuk melancarkan kepentingan anak dan keluarga penguasa untuk mencapai kekuasaan,” demikian uraian Umam.

Di lain pihak, Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN), Adib Miftahul mengatakan sangat tidak etis bagi Jokowi mempertontonkan transaksional politik kepada masyarakat secara vulgar. “Ini sangat tidak etis, jelas-jelas kita dipertontonkan transaksional politik. Jokowi memanggil Purnomo untuk memuluskan jalan anaknya Gibran. Karena kita tahu sejak awal Purnomo yang mendapat rekomendasi dari PDIP Surakarta untuk maju Pilkada Solo,” kata Adib.
“Tapi biar Purnomo legowo, (oleh Jokowi) ditawari sebuah jabatan, ini jelas politik transaksional yang dipertontonkan,” tandas Adib menegaskan.

Langkah Jokowi itu, Adib menilai sangat berbahaya lantaran politik transaksional dapat memuluskan adanya oligarki dalam politik. Hal ini tidak baik bagi pendidikan politik Indonesia sehingga publik nantinya akan menganggap bahwa politik itu bukan lagi soal adu gagasan untuk membangun, namun hanya sebatas kedekatan keluarga. “Ini preseden buruk bagi demokrasi, bahwa demokrasi itu masih dipegang oleh orang yang punya pengaruh, uang dan kuasa. Ini tidak etis memberikan pendidikan politik yang buruk kepada masyarakat,” pungkas Adib.[asa]

Offside


Pendidikan politik ala joko.  Menuju Indonesia yang Gemah Ripah Loh Jinawi makmur agawe santoso
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 18 lainnya memberi reputasi
Ya jangan pilih anak dan mantunya cukup pilih kotak kosong biar dapat malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hendi38 dan 5 lainnya memberi reputasi
profile picture
jilme
kaskus maniac
bener banget gan.. nggak usah diributin.
sekiranya nggak suka, ntar kalo sdah pilkada.. ya nggak usah dipilih. pilihnya kotak kosong aja, kalau tdak ada lawannya nanti
profile picture
dibanned.melulu
aktivis kaskus
kaga mungkin, orang solo mau yg nyalonin sempaknya jokowi juga bakalan dicoblos, apalagi anaknya.
profile picture
aldean1605
kaskus addict
Tapi berita nya si mas gibran iniih calon tunggal, klo ga salah lawan politik nya dia ngundurin diri deh
profile picture
galakto
aktivis kaskus
@aldean1605 pasti ada lawannya, walopun itu bayaran, tunggu aja
profile picture
dimashardi
kaskus maniac
@aldean1605 @galakto lawan formalitas kan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 5 dari 5 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di