CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Hamba bersujud memohon ampunan dalam diam.
Nasehat dan tuntunan dariMu kami nantikan.
Ombak-ombak dalam kehidupan, membuat kami oleng kehilangan arah.

--- Bisik Tri Pingpitu dalam heningnya malam.


Bab VIII
(Garangnya Seorang Pendekar Tua)


Gubug itu sederhana saja, hanya ada ruang tidur dengan satu ambin kecil dan satu ruang lagi berisi meja dan kursi.

Ki Ageng Aras sedang duduk sambil merenungi semangkok ramuan di atas meja. Ramuan itu masih mengepulkan asap, baru saja dituang, setelah dijerang di atas api yang kecil beberapa lama hingga airnya menguap setengah.

Kehidupan Ki Ageng Aras, tak kalah sederhana dan sepi dibanding Rangga Wijaya. Kesetiaan-nya dalam menjalankan tugas, tak kalah dari tiga puluh tiga orang kepercayaan Rangga.

Jika dibandingkan, mereka termasuk laki-laki dari spesies yang sama. Jenis laki-laki yang akan rela mengorbankan hidup mereka demi satu prinsip. Prinsip mereka pun tak jauh berbeda, yang membedakan adalah orang yang mereka percaya.

Ki Ageng Aras, percaya pada impian dan jalan yang dipilih Prabu Anglang Bhuanna, sementara di pihak yang berseberangan, percaya pada impian dan jalan yang ditempuh Prabu Jaya Lesmana, dan ketika Prabu Jaya Lesmana mangkat, sekarang kepercayaan yang sekaligus menjadi beban itu ada di pundak Rangga.

Jika Ki Ageng Aras sekarang merenung, bukan karena dia menyesali tahun-tahunnya yang terbuang dalam sepi. Ki Ageng Aras sedang menata kembali ingatannya.

Aneh dan lucu, masa lalu yang sama, ingatan yang sama, ternyata saat dia renungkan lagi dari sudut yang berbeda, memiliki arti yang berbeda, bahkan berbeda seratus delapan puluh derajat. Selama ini dia berpikir bahwa Prabu Anglang Bhuanna memandang Rangga Wijaya sebagai ancaman.

Namun, ketika dia mempertimbangkan kembali baik perintah, maupun kejadian-kejadian yang menggiring sejarah kerajaan hingga hari ini, perintah yang sama ternyata bermakna lain. Prabu Anglang Bhuanna justru menginginkan Ki Ageng Aras untuk melindungi keturunan satu-satunya dari Prabu Jaya Lesmana.

Tiba-tiba batin Ki Ageng Aras tergetar dan lamunannya pun buyar.

Ki Ageng Aras masih duduk tenang di kursinya, tapi panca inderanya mulai bekerja keras mengamati situasi di sekitarnya. Satu per satu, keberadaan Tumenggung Widyaguna dan rekan-rekannya, tertangkap oleh panca indera Ki Ageng Aras yang tajam.

Alisnya berkerut dan dalam hati dia bertanya-tanya, 'Hee... kenapa tiba-tiba berkumpul orang berilmu tinggi sebanyak ini di Kademangan Jati Asih?'

Ki Ageng Aras mulai berhitung, namun lawannya kali ini terlalu banyak dan mengepung dengan rapat. Sadar tak mungkin melarikan diri, Ki Ageng Aras justru merasa tenang. Terkadang tidak ada pilihan, membuat manusia lebih mudah berdamai dengan keadaan daripada memiliki terlalu banyak pilihan. Tentu saja Ki Ageng Aras bisa memiliki sikap hati demikian, karena sudah matang dalam memaknai hidup dan mati.

“Kisanak, mari silahkan masuk, tapi aku mohon maaf jika tidak ada cukup kursi untuk kalian berenam.”, ujar Ki Ageng Aras dengan lantang.

Terdengar suara tertawa, mendengar undangan Ki Ageng Aras. Wajah Ki Ageng Aras menjadi pucat untuk beberapa saat ketika mendengar suara itu. Namun sebagai seorang yang sudah matang, dengan cepat keseimbangannya kembali.

“Hahaha, nampaknya aku ini sudah mulai pikun. Maaf, kisanak, jika aku luput seorang dari kalian. Mari, aku undang kalian bertujuh untuk bertamu ke rumahku yang buruk ini.”, ujar Ki Ageng Aras sambil tertawa.

Ki Ageng Aras menajamkan telinga dan perasaannya, mengamati tamu-tamunya, ketika satu demi satu mereka masuk ke dalam rumah Ki Ageng Aras. Ketika giliran Bayu Bayanaka memasuki rumah Ki Ageng Aras, alis Ki Ageng Aras naik ke atas, dan matanya tajam mengamati Bayu Bayanaka. Bayu Bayanaka mengedikkan bahunya dan balas melotot.

Melihat perawakan, gerak-gerik dan kepribadian Bayu Bayanaka, Ki Ageng Aras pun teringat dengan tokoh yang satu ini. Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, masing-masing dari mereka sudah banyak berubah. Namun begitu Ki Ageng Aras mengenali Bayu Bayanaka, dengan cepat dia dapat mengenali ke-enam orang yang lain.

“Ah... hahaha, memang dasar mata tuaku yang sudah mulai lamur. Pantas langkah kaki dan gerakanmu begitu ringan, sampai telinga tuaku ini tak dapat menangkap keberadaanmu. Bayu Bayanaka, aku ingat kau sekarang.”, ujar Ki Ageng Aras sambil tertawa.

“He he he, baguslah kalau kau ingat, lalu apa maumu sekarang Ki Ageng Aras?”, sahut Bayu Bayanaka dengan nada mengejek.

“Tidak, aku tidak memiliki macam-macam kemauan. Hanya saja sekarang aku jadi ingat, siapa kalian semua ini. Benar-benar suatu kehormatan, dalam semalam tujuh orang pahlawan Prabu Jaya Lesmana datang bertamu ke rumah reotku ini.”, jawab Ki Ageng Aras, tak mau terpancing ejekan Bayu Bayanaka.

Tumenggung Widyaguna menepuk bahu Bayu Bayanaka, sebelum pendekar berangasan itu berkata apa-apa. Bayu Bayanaka pun menutup mulut dan mencari tempat untuk berdiri.

Cuma ada dua kursi dan dengan sendirinya Tumenggung Widyaguna-lah yang duduk di kursi itu, sementara yang lain berdiri di tempat pilihannya masing-masing. Mereka berdiri di sekeliling ruangan, dengan sendirinya Ki Ageng Aras dan Tumenggung Widyaguna berada di tengah, seakan terkepung oleh keenam pendekar itu.

Ki Ageng Aras menghela nafas dalam hati. Seandainya dia tidak berubah pikiran mengenai tugas yang diamanahkan Prabu Anglang Bhuanna pada dirinya, saat ini tentu dia sudah bertarung mengadu nyawa. Namun sekarang, Ki Ageng Aras berharap, pertemuan mereka ini bisa berakhir dengan damai.

“Ki Tumenggung Widyaguna, kulihat rambut dan jenggotmu sudah berwarna putih semua.”, ujar Ki Ageng Aras tanpa ada nada bermusuhan dalam suaranya.

Tumenggung Widyaguna juga seorang yang sudah sangat matang, telinga dan hatinya peka menangkap nada suara Ki Ageng Aras, sambil tersenyum dia menjawab, “Sama juga seperti dirimu bukan?”

“Hahaha, ya...ya... kita sudah sama-sama tua.”, jawab Ki Ageng Aras.

“Aku merasa aneh, mengapa Ki Ageng Aras, orang yang sakti mandraguna, kepercayaan seorang raja, biarpun raja yang telah mangkat, bisa tiba-tiba muncul di sebuah kademangan nun jauh di perbatasan?”, Tumenggung Widyaguna bertanya dengan sorot mata yang tajam menatap Ki Ageng Aras.

“Aku juga bisa menanyakan hal yang sama pada Ki Tumenggung.”, jawab Ki Ageng Aras dengan tenang namun nadanya berubah sedikit mengeras.

Ki Ageng Aras memang sudah memiliki pemikiran yang berbeda tentang Rangga, namun harga dirinya sebagai seorang pendekar rupanya tetap terusik mendengar pertanyaan Tumenggung Widyaguna yang menyelidik. Jika saat ini, mereka hanya berdua, mungkin hal itu justru tidak terjadi. Namun karena saat ini Ki Ageng Aras berada dalam situasi yang tidak mungkin menang, rasa kelelakiannya terusik. Ki Ageng Aras merasa hina, jika dia harus menjelaskan perubahan hatinya saat ini. Seakan-akan Ki Ageng Aras mencari selamat, takut mati menghadapi keroyokan lawan.

“Hmm, kami semua berada di sini, karena Raden Rangga berada di sini. Apa anehnya jika seorang prajurit, berada di dekat junjungannya? Yang aneh itu justru dirimu Ki Ageng Aras, tempatmu itu di ibukota Kerajaan Watu Galuh, bukan di Kademangan Jati Asih ini.”, jawab Tumenggung Widyaguna sambil tersenyum tipis.

Terasa pedih hati Ki Ageng Aras, diingatkan akan kematian Prabu Anglang Bhuanna. Saat ini dirinya seperti orang yang habis manis sepah dibuang. Setelah mengabdikan dirinya dengan setia, menghabiskan puluhan tahun dalam pengasingan demi tugas, sampai ketika akhirnya Prabu Anglang Bhuanna tutup usia dan digantikan puteranya, sama sekali tidak ada kabar dari junjungan-nya. Bahkan lebih menyakitkan, tidak ada lagi orang yang ingat akan dirinya. Tidak ada utusan yang mengabarkan mangkatnya Prabu Anglang Bhuanna. Tidak ada perintah baru dari Prabu Jannapati, atau setidaknya perintah yang menguatkan perintah yang lama.

Tumenggung Widyaguna dan rekan-rekannya tidak tahu apa yang sudah dialami oleh Ki Ageng Aras, mereka tidak bisa menebak apa yang sekarang bergejolak dalam hatinya.

Yang bisa mereka rasakan adalah perubahan sikap Ki Ageng Aras. Jika di awalnya Ki Ageng Aras terlihat bersahabat, saat ini terlihata kilatan kemarahan dalam tatapan matanya.

Namun, bagi Tumenggung Widyaguna dan yang lainnya, kemarahan Ki Ageng Aras itu justru sesuatu yang lumrah. Sejak Prabu Anglang Bhuanna mengambil kerajaan dari tangan Rangga, mereka sudah berada sebagai pihak yang berseberangan, bermusuhan. Jadi sikap Ki Ageng Aras yang sekarang inilah yang mereka pandang sebagai sejatinya sikap dan perasaan Ki Ageng Aras terhadap mereka.

“Hehehe... Ki Tumenggung mungkin tidak tahu. Tapi aku berada di sini karena menerima perintah dari Prabu Anglang Bhuanna, sebelum beliau mangkat. Berbeda dengan Ki Tumenggung dan kalian semua, meskipun Prabu Anglang Bhuanna sudah mangkat, perintahnya tetap akan aku laksanakan.”, ujar Ki Ageng Aras dengan senyum pahit.

“Aras...”, geram Bayu Bayanaka, “jaga mulutmu Aras!”

“Hehe, apa aku salah? Apa Prabu Jaya Lesmana meminta kalian untuk lari menyembunyikan diri? Ketika kami datang, kalian bukannya melindungi Raden Rangga dan apa yang menjadi hak-nya. Kalian justru pergi menghilang. Ha ha ha ha ha.”, Ki Ageng Aras menjawab sambil tertawa terbahak-bahak, dalam tawanya terselip kesedihan.

Harapan yang sempat muncul, ketika menyadari apa maksud titah Prabu Anglang Bhuanna yan sesungguhnya, meredup dan mulai padam.

Ki Ageng Aras merasakan sikap bermusuhan dari pengikut Rangga. Dia tidak melihat ada jalan bagi dirinya untuk keluar hidup-hidup, tanpa mengorbankan kehormatan dirinya.

Seandainya Rangga ada di sini, tentu berbeda yang terjadi.

Seandainya Rangga memberitahukan pada Bayu Bayanaka akan keberadaan Ki Ageng Aras, mungkin akan berbeda yang terjadi.

Apa mau dikata? Tumenggung Widyaguna dan pengikut Rangga yang lain, menemukan jejak keberadaan Ki Ageng Aras, sementara Rangga belum tiba di Kademangan Jati Asih untuk mendamaikan mereka.

Mungkin jika Ki Ageng Aras mau merendahkan diri, Tumenggung Widyaguna akan menahannya sampai Rangga tiba.

Namun harga diri Ki Ageng Aras tidak mengijinkan hal itu terjadi. Melihat penantian yang panjang tiba-tiba akan berakhir dengan kematian yang sia-sia, Ki Ageng Aras yang sudah berumur matang, tiba-tiba kehilangan keseimbangan jiwanya. Apalagi sebelum kedatangan Tumenggung Widyaguna, Ki Ageng Aras sempat melihat secercah harapan.

Seakan harapannya dibawa terbang tinggi, sebelum kemudian dihempaskan dengan keji.

Demikianlah tiba-tiba berbagai emosi yang gelap, merasuki hati dan pikiran Ki Ageng Arsa. Wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi kelam. Hawa pembunuhan terasa pekat mengisi rumah itu.

“Tak perlu banyak bicara lagi Ki Tumenggung.”, ujar Ki Ageng Arsa, perlahan-lahan berdiri.

“Mari kita ke halaman depan, ruangan itu terlalu sempit untuk kita berolahraga.”, ujarnya sambil tersenyum mengejek.

Tumenggung Widyaguna mendengus, “Hmph... Ki Ageng Aras, menyerah sajalah. Saat Raden Rangga datang, mungkin dia akan jatuh kasihan padamu. Seorang tua yang terlunta-lunta. Kehilangan pijakannya.”

Delapan orang laki-laki di rumah itu, tak satupun ada yang tak pernah menumpahkan darah. Leher dan lutut mereka semuanya keras seperti karang, tak akan menunduk, tak akan berlutut.

Dua pihak dengan sifat yang sama kerasnya berbenturan dan api pertarungan memercik membakar darah mereka.

Kemarahan Ki Ageng Aras terasa meletup-letup keluar dari ujung kepalanya, “Widyaguna! Tutup mulutmu! Aku tahu tak mungkin bisa menang dari kalian bertujuh! Tapi jangan harap Ki Ageng Aras menundukkan kepalanya di depan kalian!”

Delapan orang itu pun sudah berdiri dengan seluruh panca indera, syaraf-syaraf dan otot-otot mereka dalam keadaan siap tempur.

Ki Ageng Aras menyipitkan matanya, pandang matanya menyapu ke kiri dan ke kanan, “Siapa dari kalian yang ingin maju lebih dahulu? Atau kalian ingin mengeroyok Ki Ageng Aras!? Heheheh, boleh.... boleh... majulah kalian bertujuh!”

“Cuih..! Kakang Tumenggung, biarkan aku yang menghajarnya!”, Gajah Petak yang berangasan berkelebat menyerang Ki Ageng Aras, mendahului yang lain.

Tubuhnya tinggi dan seluruh anggota tubuhnya berukuran besar, sesuai dengan namanya. Gerakannya tak selincah Bayu Bayanaka, namun dalam serangannya tersimpan tenaga yang besar dan seperti memenuhi udara. Namun Ki Ageng Aras tidak gentar untuk membenturkan tenaganya melawan Gajah Petak.

“BLAAR !”, ledakan udara akibat benturan dua tenaga raksasa, menghancurkan gubuk kecil itu.

Untuk sesaat lamanya, debu pasir, hujan ijuk dan serpihan bambu memenuhi tempat itu. Ketika suasana sudah mereda, terlihat sosok dua orang laki-laki yang saling berhadapan, dikelilingi enam orang laki-laki yang lain.

Ki Ageng Aras masih berdiri teguh di tempatnya, sementara Gajah Petak yang menyerang justru tersurut mundur beberapa langkah.

Senyum mengejek mengembang di wajah Ki Ageng Aras, “Gajah Petak... Gajah Petak... percuma kau memakai nama gajah. Panggilah kawanmu yang lain. Aku takut nanti tinjuku membuat wajahmu bengkak-bengkak dan seekor gajahpun akan lebih tampan darimu.”

Mata Gajah Petak membeliak membulat lebar, “Jangan sombong Aras! Aku robek mulutmu!”

Sekali lagi Gajah Petak bergerak menyambar, meskipun kemarahannya membakar ubun-ubun kepala, namun Gajah Petak tak kehilangan nalarnya. Serangan-nya tak sekuat tadi, namun dalam menyerang dia masih menyimpan pula sebagian tenaga untuk bertahan.

“Kakang Tumenggung, biarkan aku membantunya.”, Bayu Bayanaka melompat ke samping Tumenggung Widyaguna dan meminta ijin untuk terjun ke dalam pertarungan itu.

Tumenggung Widyaguna tidak perlu berpikir lama untuk mengangguk menyetujui permintaan Bayu Bayanaka. Gajah Petak bukanlah tandingan Ki Ageng Aras. Bayu Bayanaka mengangguk lega dan dengan segera melompat ke arah Ki Ageng Aras, kedua tangannya terbuka menyambar ke arah pundak Ki Ageng Aras.

“Gajah linglung, kubantu kau!”, serunya sambil menyerang.

“Bah! Bajang gendut, jangan menghalangi jalanku!”, sergah Gajah Petak sambil menyerang pula ke arah Ki Ageng Aras.

Keduanya saling beradu mulut, namun serangan mereka terjalin dengan rapi. Bayu Bayanaka dengan kecepatan dan cengkeramannya yang mengancam tempat-tempat yang lemah. Sementara Gajah Petak dengan serangan yang berat, yang menggempur lawan tanpa melihat apa yang menjadi sasarannya.

Namun Ki Ageng Aras ternyata masih mampu mengimbangi serangan mereka berdua. Gerakan dan serangannya tak kalah ganas dan sebat. Kedua lengannya sudah berwarna merah membara, membuat udara di sekitar dirinya terlihat berlekuk-lekuk.

“Ha ha ha ha ha ! Rangga! Rangga! Hari ini akan kucabut nyawa dua orang pengikutmu!”, suara tawa Ki Ageng Aras tertawa berkakakan sambil menggempur sepasang pendekar di depannya, terselip rasa sedih dan kecewa dalam tawanya.

Tumenggung Widyaguna mengerutkan alis, di luar dugaannya Ki Ageng Aras bukan hanya masih bisa mengimbangi Gajah Petak dan Bayu Bayanaka, bahkan serangan-serangannya tidak jarang membahayakan dua orang tersebut.

“Kakang?”, Watu Gunung dan Sentanu hampir serempak meminta pendapat dari Tumenggung Widyaguna.

Mata Tumenggung Widyaguna menyorot tajam, mengamati pertarungan tiga orang pendekar di hadapannya. Pembuluh darahnya terlihat menyembul dari dahi, berkedut-kedut menghadapi keadaan yang berkembang di luar dugaannya ini.

Tumenggung Widyaguna menggertakkan giginya, “Sentanu, Galah Cemani, Branjangan! Maju!”

Bersambung ke Bab IX
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abahekhubytsany dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Siepppp to....
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@pulaukapok Moga2 menghibur....
emoticon-Shakehand2
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 3 dari 3 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di