CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Hikmat datang dari ajaran yang benar.
Narasi yang agung dapat mencerahkan hati.
Olah kepekaan dan ketajaman akal budimu.
Olah juga kekuatan dan kebesaran jiwamu.

Kata Tri Pingpitu


Bab VII
(Kawan Lama)


Di utara Kademangan Jati Asih, memanjang hutan yang lebat, seakan menjadi pagar Gunung Awu yang menjulang tinggi, menjadi tembok pembatas antara Kademangan Jati Asih dengan wilayah liar, wilayah tak bertuan yang tak terjamah oleh jangkauan tangan-tangan peradaban.

Dahulu Kademangan Jati Asih pun termasuk wilayah yang berbahaya, tempat bandit, begal dan berbagai macam orang-orang buangan melarikan diri.

Barulah ketika di masa pemerintahan Prabu Jaya Lesmana, dikeluarkan titah untuk membersihkan daerah itu dari pada kelompok begal yang sering menyusahkan rakyat. Memimpin beberapa orang senapati dan pasukannya, Prabu Jaya Lesmana turun tangan sendiri babat alas. Tandang-nya ngregisi, saat itu tak ada ampun bagi para pemimpin begal yang masih nekat bercokol di Alas Sakaloka ini.

Pilihannya hanyalah keluar dari wilayah Kerajaan Watu Galuh, atau mati. Karena memang tidak ada pemukiman di daerah itu, kecuali para begal dan orang yang menyembunyikan diri dari hukum, maka Prabu Jaya Lesmana pun dengan sederhana memberi perintah, babat alas, dan siapapun orang di luar pasukan Kerajaan Watu Galuh yang ditemukan, akan dihukum mati. Bisa dikatakan, inilah awal nama Prabu Jaya Lesmana mengguncang empat penjuru Bhumi Adyatma.

Tentu saja pada awalnya raja-raja begal yang bercokol di Alas Sakaloka tidak tinggal diam, tapi Prabu Jaya Lesmana turun tangan sendiri, bersama dengan belasan senapati dan tumenggung yang dia andalkan.

Sementara pasukan kerajaan bekerja keras membuka hutan, orang-orang pilihan dan kesatuan-kesatuan khusus ditugaskan untuk menjaga mereka.

Dengan semakin luasnya alas yang dibabat, semakin sempit pula ruang begal-begal itu untuk bergerak.

Beberapa kali terjadi pertarungan yang dahsyat, yang mengirimkan beberapa orang raja begal menemui Dewa Yama di neraka. Setelah dipaksa untuk mengakui kesaktian Prabu Jaya Lesmana dan senapati-senapati pilihannya, begal-begal itu pun memilih mundur, lebih jauh lagi memasuki hutan dan menjauh dari daerah yang dibuka oleh Prabu Jaya Lesmana.

Prabu Jaya Lesmana pun tidak mendesak dan menutup jalan lari mereka, kepentingan Prabu Jaya Lesmana hanya pada mengamankan wilayah kedaulatan Kerajaan Watu Galuh.

Setelah babat alas itu selesai, Prabu Jaya Lesmana menganugerahkan tanah tersebut pada pasukan kerajaan sudah yang bekerja membuka lahan. Mereka yang bersedia untuk tinggal, akan mendapatkan tanah, persediaan makan, bibit, uang dan berbagai macam bantuan lain. Sepanjang masa pemerintahannya, Prabu Jaya Lesmana tidak pernah lupa untuk mengirimkan satu-dua orang senapati, untuk mengawasi sisa-sisa Alas Sakaloka, bagaimanapun juga, di atas Gunung Awu itu masih banyak tempat menjadi sarang penyamun dan begal.

Setelah mangkatnya Prabu Jaya Lesmana, ada Rangga Wijaya yang tinggal menetap di kademangan itu. Keberadaannya juga mampu menghadirkan rasa aman bagi penduduk kademangan tersebut.

Itu sebabnya, Kademangan Jati Asih, memiliki tempat yang khusus di hati Prabu Jaya Lesmana dan Rangga. Demikian pula sebaliknya, kedua orang itu memiliki tempat yang khusus di hati penduduk Kademangan Jati Asih.

----

Malam itu, di salah satu tebing di Gunung Awu, terlihat empat sosok orang berbaju hitam sedang mengamati Kademangan Jati Asih yang terlihat jauh di bawah kaki gunung.

“Berapa lama kita harus menunggu?”, salah seorang dari mereka bertanya.

“Tidak lama lagi”, jawab seorang yang lain, tubuhnya gemuk gempal, dia Bayu Bayanaka.

“Aku menyesal mengikuti kata-katamu, seharusnya aku bergegas menuju ibu kota, mengawal keselamatan Raden Rangga.”, laki-laki tadi mengomel.

“Kau mau melawan perintah Raden Rangga?” Bayu Bayanaka balik bertanya dengan kesal.

“Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan Raden Rangga, tidak seperti dirimu yang membiarkan dia menghadapi bahaya sendirian.” Laki-laki tadi balik menjawab dengan ketus.

“Gajah Petak, jangan memaki orang sembarangan. Atau mungkin kau ingin mencicipi telapak tanganku?”, geram Bayu Bayanaka yang merasa tersinggung oleh ucapan laki-laki yang rupanya bernama Gajah Petak itu.

“Diam.”, seorang yang lain menegur pendek keduanya.

Suaranya dingin dan tegas. Rambut dan jenggotnya yang panjang sudah memutih, namun badannya tinggi tegap berisi. Dia berdiri tegak dengan tangan bersilang di depan dada, sorot matanya melekat erat ke arah Kademangan Jati Asih yang berada nun jauh di bawah sana.

“Bukan aku yang mulai kakang”, jawab Bayu Bayanaka setengah bersungut-sungut.

“Menurut pendapat kakang bagaimana? Haruskah kita terus menunggu di sini? Bagaimana jika ternyata saat ini Raden Rangga sedang mengalami kesulitan di ibu kota?”, Gajah Petak bertanya.

“Adi Bayu, kau yang sudah bertemu dengan Raden Rangga, bagaimana menurut pendapatmu tentang kemajuan ilmu Raden Rangga saat ini?”, laki-laki tadi bertanya pada Bayu Bayanaka.

“Ilmu Raden Rangga sudah semakin matang, kami bertarung dalam gelap dan dalam jarak dekat. Aku pun sudah mengerahkan 7-8 bagian kekuatanku, tapi Raden Rangga mampu mengimbangi.”, jawab Bayu Bayanaka menjelaskan.

“Kalau ilmumu yang dipakai untuk mengukur, rasanya kurang berguna.”, ejek Gajah Petak.

“Gajah Petak...”, Bayu Bayanaka menggeram dengan tangan mengepal.

“Kakang Bayu, bukan maksudku mengejek. Namun, sesungguhnya kau malang melintang di dunia persilatan, karena kecepatanmu.”, seorang yang lain menimpali.

“Watu Gunung, apa kau sekarang jadi pengikut Gajah Petak?!”, Bayu Bayanaka mendengus kesal dengan mata melotot.

“Bukan begitu kakang, tapi Kakang Gajah Petak juga ada benarnya. Pada dasarnya kita semua di sini, berkumpul karena kita setia pada Raden Rangga.”, jawab Watu Gunung dengan sabar.

“Kakang Tumenggung Widyaguna, menurut kakang bagaimana?”, Watu Gunung mengalihkan perhatian mereka semua, kembali ke laki-laki yang berambut dan berjenggot putih tadi.

“Hmm... Raden Rangga memang sengaja menempatkan Bayu Bayanaka di sana karena kecepatannya. Jika kau perhatikan bagaimana Raden Rangga menempatkan kita semua, mereka-mereka yang punya ilmu meringankan tubuh yang mumpuni, ditempatkan sedemikian rupa, sehingga bila ada perintah dari Raden Rangga, maka dengan cepat perintah itu akan sampai pada kita semua.”, jawab Tumenggung Widyaguna dengan berwibawa dan bijak.

Bayu Bayanaka menjadi ragu, “Jadi menurut Kakang Tumenggung... apakah sebaiknya kita menyusul ke ibu kota?”

Gajah Petak memasang telinganya baik-baik, menanti jawaban dari Tumenggung Widyaguna.

Tumenggung Widyaguna terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “Tidak.”

“Aku percaya pada pertimbangan Raden Rangga. Jika dia merasa kepergiannya kali ini cukup berbahaya, dia bisa meninggalkan pesan pada Adi Bayu Bayanaka dan memerintahkan seorang atau beberapa orang dari kita untuk menyusulnya ke ibu kota.”, sambung Tumenggung Widyaguna menjelaskan.

Gajah Petak menghela nafas kecewa.

Watu Gunung tertawa kecil dan berkata, “Kakang Gajah Petak, apa kau merasa lebih cerdik dari Raden Rangga? Ketika dia berusia sepuluh tahun, dia sudah mengalahkanmu berkali-kali dalam permainan catur.”

Bayu Bayanaka terkekeh geli mendengar itu, sementara wajah Gajah Petak sedikit memerah mendengar tawa Bayu Bayanaka dan mendengus kesal, “Apa yang kau tertawakan? Ketika Raden Rangga berumur enam tahun pun kau sudah tidak mampu mengalahkannya bermain catur.”

“Tapi setidaknya aku tahu diri.”, jawab Bayu Bayanaka tak mau mengalah.

Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung tertawa saja mendengarkan keduanya bersilat lidah. Mata Tumenggung Widyaguna masih menatap jauh ke bawah. Tiba-tiba dia menajamkan matanya untuk beberapa saat, sebelum kemudian kembali seperti tidak ada apa-apa. Tidak seperti Gajah Petak dan Bayu Bayanaka, Watu Gunung cukup peka untuk menangkap perubahan Tumenggung Widyaguna. Namun cukup lama dia berusaha mengamati kegelapan di depan mereka, sebelum akhirnya menemukan apa yang dilihat Tumenggung Widyaguna.

Semuanya ini tidak lepas dari pengamatan Tumenggung Widyaguna, terlihat seulas senyumnya melihat kepekaan Watu Gunung pada keadaan sekitar.

Tidak berapa lama kemudian, tiga orang laki-laki bergabung dengan mereka.

“Kakang Tumenggung..”, ujar tiga orang itu sambil memberi hormat pada Tumenggung Widyaguna.

“Hmm..”, Tumenggung Widyaguna menganggukkan kepala kepada mereka, lalu bertanya, “apa yang berhasil kalian temukan?”

“Semuanya aman Tumenggung, tidak terlihat ada bahaya yang mengancam kademangan ini. Hanya saja ada satu kejutan kecil.”, jawab seorang dari mereka.

“Kejutan? Kejutan apa Kakang Sentanu? Jangan terlalu lama berteka-teki.”, tanya Bayu Bayanaka tak sabar, di sampingnya Gajah Petak ikut menanti jawaban Sentanu.

“Ternyata di dekat kademangan ini, ada kawan lama.”, jawab Sentanu sambil tersenyum-senyum.

“Keparat, sudah dibilang jangan berputar-putar.”, dengus Gajah Petak.

“Hehehe, sepasang badut ini sudah seperti sepasang suami isteri tua.”, ujar seorang yang lain mengundang tawa.

“Ah setan tua kau Branjangan!”, sergah Bayu Bayanaka.

“Branjangan kau sudah bosan hidup!?”, geram Gajah Petak di saat yang bersamaan.

Menyadari kekompakan mereka, Gajah Petak dan Bayu Bayanaka saling berpandangan dengan mata melotot, kemudian mendengus dan membuang muka.

Mereka pun tertawa melihat kedua badut itu.

“Sudah cukup, Sentanu, lanjutkan laporanmu.”, ujar Tumenggun Widyaguna meredakan tawa mereka.

“Adi Galah Cemani, menemukan Ki Ageng Aras tinggal di sebuah hutan bambu dekat perbatasan Kademangan Jatih Asih.”, jawab Sentanu.

Berita itu tentu saja menarik perhatian Gajah Petak dan Bayu Bayanaka. Namun belajar dari pengalaman sebelumnya, mereka berdua menahan mulut mereka untuk bertanya.

“Ki Ageng Aras?”, tegas Tumenggung Widyaguna, pandangan matanya beralih tertuju pada Galah Cemani.

“Benar kakang, aku sudah mengamati cukup lama dan memastikan bahwa orang itu adalah Ki Ageng Aras, sebelum melapor kembali pada Kakang Sentanu.”, jawab Galah Cemani dengan mantap.

“Kakang Tumenggung, bagaimana pendapat kakang, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Sentanu.

Bayu Bayanaka dan Gajah Petak belum berani bersuara. Namun mata mereka mulai berapi-api, mendengar kabar tentang keberadaan Ki Ageng Aras di dekat Kademangan Jati Asih.

Tumenggung Widyaguna tanpa ragu menjawab, “Kita kunjungi kawan kita itu malam ini juga.”

“Bagus!”, desis Gajah Petak dan Bayu Bayanaka bersamaan.

Keduanya kembali saling berpandangan dengan mata melotot, sebelum membuang muka. Watu Gunung, Sentanu dan yang lain, tertawa kecil melihat kekompakan kedua orang badut itu. Sementara tanpa menunggu yang lain, Tumenggung Widyaguna mulai berjalan menuruni lereng Gunung Awu.

“Galah Cemani, kau tunjukkan jalannya.”, seru Tumenggung Widyaguna.

“Baik Kakang”, jawab Galah Cemani yang dengan sigap segera mendahului di depan.

Yang lain, buru-buru mengikuti di belakang.

Gajah Petak tak tahan berdiam diri dan bertanya, “Kakang Tumenggung, apa tidak perlu memberi kabar pada saudara-saudara yang menunggu?”

Tumenggung Widyaguna bertanya balik, “Apa kau mau kembali ke sana?”

“Bukan, kan ada Bayu Bayanaka yang larinya cepat.”, ujar Gajah Petak dengan cepat.

“Setan kau!?”, Bayu Bayanaka terkejut dan kesal mendengar itu.

“Tidak perlu membuang waktu, biarkan mereka yang di perkemahan beristirahat dengan tenang. Tidak akan perlu waktu lama untuk membereskan Ki Ageng Aras.”, ujar Tumenggung Widyaguna sambil menepuk pundak Bayu Bayanaka.

Bayu Bayanaka menyengir dan meleletkan lidah ke arah Gajah Petak. Gajah Petak hanya megedikkan bahu, tak menanggapi lebih jauh ejekan Bayu Bayanaka. Ketujuh orang itu memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Jalan yang terjal dan gelap, mereka lalui dengan mudah.

Galah Cemani membawa mereka ke satu hutan bambu, beberapa pal jaraknya dari gapura perbatasan Kademangan Jati Asih.

Ketika mereka sudah mendekati kediaman Ki Ageng Aras, mereka berhenti berlari. Dengan langkah kaki ringan tanpa suara, mereka berjalan ke arah tempat tinggal Ki Ageng Aras. Samar-samar tercium bau ramuan obat-obatan.

Tumenggung Widyaguna tanpa suara memberikan perintah pada yang lain. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya. Lagipula, Prabu Jaya Lesmana sudah mengembangkan serangkaian isyarat khusus untuk orang-orang kepercayaan-nya ini. Tanpa perlu kata-kata, dengan mudah mereka saling memahami.

Tujuh orang itu pun bergerak mengepung rumah Ki Ageng Aras.

Bersambung ke Bab VIII
profile-picture
profile-picture
profile-picture
onta890 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Jleb....
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di