CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Hembusan nafasnya membelai pipiku, anganku membara terbakar nafsu.
Nafasnya menyatu dengan nafasku. Detak jantungnya, detak jantungku.
Oleng sudah sendi-sendi keraton yang agung, dilanda ombak hawa nafsu.

Keluh kesah Papat Pingpitu


Bab VI
(Patih Nandini Menghadap Prabu Jannapati)


Percakapannya dengan laki-laki misterius itu masih berputar-putar dalam benak Patih Nandini saat dia menghadap Prabu Jannapati untuk melaporkan segala apa yang terjadi di hari itu.

Prabu Jannapati mendengarkan laporan Patih Nandini dari atas pembaringan. Tiga orang selir baru, hadiah seorang khan dari negeri seberang, dia biarkan menemani dia di pendapa itu. Dengan telaten mereka meladeni segala keperluan Prabu Jannapati. Meskipun ada Patih Nandini di depannya, baik Prabu Jannapati, maupun ketiga selir barunya tidak malu-malu menunjukkan sikap mesra.

“Cukup, cukup... tentang urusan sehari-hari Kerajaan Watu Galuh, aku percaya penuh padamu.” Prabu Jannapati melambaikan tangannya tak sabar, ketika Patih Nandini menyampaikan laporannya satu per satu. Hal itu sudah biasa terjadi, namun Patih Nandini tidak pernah berhenti menyampaikan laporan tersebut setiap harinya.

“Baik, baginda, hamba siap melaksanakan.”, jawab Patih Nandini dengan hormat.

“Bagaimana dengan persiapan rencana yang sudah aku perintahkan pada ke-empat adipati itu?”, tanya Prabu Jannapati.

Patih Nandini tidak segera menjawab, pandang matanya mengarah ke tiga selir yang ikut hadir di situ, lalu kembali menghadap ke arah Prabu Jannapati dengan tatap mata bertanya-tanya.

“Laporkan saja.”, kata prabu Jannapati singkat.

Patih Nandini dengan patuh menjawab, “Pasukan mereka sudah berkumpul di perbatasan ibu kota baginda. Hanya tinggal menunggu perintah terakhir dari baginda. Mereka ingin diberi kesempatan untuk bertemu dengan baginda sekali lagi, sebelum pergi menjalankan titah baginda.”

“Dasar penjilat mereka semua itu.”, dengus Prabu Jannapati kesal, “Malam ini juga, kau temui mereka, katakan perintahku tidak berubah. Jika mereka masih ragu, aku bisa meminta adipati yang lain untuk melaksanakannya.”

“Siap baginda...”, ada jeda keraguan dalam jawaban Patih Nandini.

Prabu Jannapati menangkap keraguan di mata Patih Nandini. Sebelum menjadi raja, Prabu Jannapati dikenal sebagai pangeran yang cerdas dan tegas, tapi angkuh dan keras kepala. Para pejabat istana dan adipati, tidak berani menentang apa yang menjadi keputusannya. Namun tidak demikian dengan Patih Nandini, Prabu Jannapati memperlakukan Patih Nandini sebagai orang yang berkedudukan sederajat dengan dirinya. Pendapat dan nasihat Patih Nandini, mendapatkan tempat khusus dalam pertimbangan-pertimbangan Prabu Jannapati.

“Nandini, kau tidak setuju?”, selidik Prabu Jannapati.

Patih Nandini mempertimbangkan apa yang sebaiknya dia sampaikan, pada akhirnya Patih Nandini memilih untuk menceritakan pertemuannya dengan lelaki misterius yang dia temui hari ini. Prabu Jannapati mendengarkan dengan seksama. Di tengah-tengah Patih Nandini bercerita, Prabu Jannapati menghentikan ceritanya sebentar. Dia usir pergi ketiga selirnya untuk kemudian meminta Patih Nandini melanjutkan.

“Demikian baginda.”, Patih Nandini menutup ceritanya.

Mata Prabu Jannapati berkilat-kilat, jarinya mengetuk-ngetuk tiang pendapa. Cerita Patih Nandini membuat dia bersemangat.

“Menurutmu, siapa orang itu?”, tanyanya.

“Mungkin salah satu pengikut almarhum Prabu Jaya Lesmana, bukankah mereka menghilang seiring dengan diasingkannya Pangeran Rangga Wijaya?”, Patih Nandini berkerut alis berusaha mengingat-ingat wajah laki-laki itu, namun ingatannya seperti tertutup kabut yang pekat.

Prabu Jannapati menggertakkan rahangnya, “Nandini... aku tidak suka ada orang yang mengancamku.”

“Baginda... selama ini mereka tidak pernah terlibat dengan politik kerajaan. Seperti yang dikiaskan--”, Prabu Jannapati memutuskan kata-kata Patih Nandini ketika dia berusaha mendebat Prabu Jannapati, di antara semua pejabat hanya dia yang berani melakukan hal itu.

“Mereka seperti sarang tabuhan yang tidak mengganggu, dan aku seperti orang bodoh yang mencari mati, mengganggu mereka, begitu? Begitukah maksudmu Nandini!?”, Prabu Jannapati menggeram marah.

Prajurit yang menjaga pendapa itu terlihat tegang. Wajah yang tak berubah sedikitpun mendengar percintaan Prabu Jannapati dan ketiga selirnya, berubah oleh nada kemarahan dalam geram Prabu Jannapati. Tangan-tangan mereka tanpa sadar menggenggam erat-erat tombak-tombak di tangan mereka.

Namun, Patih Nandini yang menjadi sasaran kemarahan Prabu Jannapati terlihat tenang, dia membungkuk dalam-dalam lalu berkata, “Demikianlah pendapat hamba, jika baginda tak berkenan, silahkan baginda cabut keris di pinggang baginda dan tebas leher hamba ini.”

“Nandini.... apa kau ingin mati!?, seru Prabu Jannapati gusar.

“Tentu saja tidak baginda.”, jawab Patih Nandini.

“Jadi mengapa kau menghalangiku untuk menghancur leburkan mereka yang berani menentangku Nandini !?”, tukas Prabu Jannapati dengan nada keras.

“Baginda sendiri tentu bisa menjawabnya, bahkan ayahanda baginda pun memilih untuk mengabaikan mereka. Pangeran Rangga terikat oleh sumpahnya, jika dia melanggar sumpahnya maka dia akan kehilangan dukungan dari para pengikut setia ayahnya. Sebaliknya jika kita melanggar titah yang sudah disabdakan ayah baginda, maka mereka yang selama ini dia bersembunyi entah di mana, akan bergerak, menimbulkan kekacauan di mana-mana.”, jawab Patih Nandini masih menundukkan kepala.

Ketika Patih Nandini merasa kemarahan Prabu Jannapati mereda, dengan hati-hati diangkatnya pandangannya melihat ke arah Prabu Jannapati.

“Aku tidak suka ada yang mengancam diriku Nandini.”, kembali Prabu Jannapati mengulangi kalimat itu, tapi kali ini nadanya tak lagi berapi-api.

Dalam ketenangannya, Prabu Jannapati justru lebih menyeramkan dibanding ketika dia dalam keadaan marah.

Patih Nandini menjawab, “Mereka ada di tempat yang gelap, sementara kita berada di tempat yang terang. Baginda juga baru saja menduduki takhta kerajaan, sebelum baginda berhasil menyatukan seluruh kekuatan di bawah tangan baginda, sebaiknya kita lupakan dulu mereka.”

“Bagaimana jika Rangga Wijaya menggunakan kesempatan ini untuk mencoba merebut kembali takhta kerajaan Watu Galuh?” Prabu Jannapati bertanya.

“Untuk melakukan itu, Pangeran Rangga harus mengumpulkan terlebih dahulu para pengikutnya yang setia. Mereka akan kehilangan satu-satunya keuntungan mereka saat ini. Di saat yang sama baginda juga memiliki alasan yang kuat, untuk mengerahkan pasukan dan membabat habis Pangeran Rangga Wijaya bersama pengikutnya.”, jawab Patih Nandini dengan lancar.

Jauh sebelum bertemu dengan Prabu Jannapati, pertemuannya dengan laki-laki misterius itu membuat dia berpikir panjang tentang kedudukan Rangga dalam peta perpolitikan Kerajaan Watu Galuh.

“Apakah kau juga berpikir bahwa aku harus membatalkan rencana itu?”, tanya Prabu Jannapati, kemarahannya yang tadi meledak-ledak tersapu bersih oleh penjelasan Patih Nandini.

Patih Nandini menggelengkan kepala, “Tidak baginda, hamba setuju dengan pendapat baginda tentang masalah itu.”

“Kalau begitu, kau temui empat kura-kura itu, suruh mereka bergegas menyelesaikan tugas yang kuberikan pada mereka. Jika tidak …. hmm.... kalau kepala mereka tak bisa digunakan untuk berpikir, tak ada gunanya lagi kepala itu menghiasi pundak mereka.”, mata Prabu Jannapati kembali menyala oleh kemarahan.

“Hamba laksanakan.”, jawab Patih Nandini singkat dan tanpa membuang waktu dia pun pergi melaksanakan perintah Prabu Jannapati.

-----

Malam itu, dari empat penjuru ibu kota terdengar teriak dan isak tangis. Warna merah membara mewarnai langit ibu kota Kerajaan Watu Galuh. Gedung-gedung terbakar, bau anyir darah memenuhi udara.

Sejarah di kemudian hari mencatat, malam itu tidak kurang dari enam ribu orang tewas oleh pedang.

Puluhan kuil-kuil tempat pamujan Dewa Siwa dibakar habis hingga rata ke tanah. Mereka yang dicurigai mendukung Pangeran Adiyasa untuk menjadi putera mahkota, tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup.

Dari luar pasukan dari empat kadipaten bergerak masuk dengan cepat dan rapi, menutup semua jalan untuk kabur. Dari dalam, pasukan chakra bhirawa yang berada langsung di bawah pimpinan Patih Nandini bergerak cepat membantai habis keluarga dan pengikut Rakryan Tumenggung Nayottama. Pemimpin dan tiang utama penyangga para pejabat yang mendukung Pangeran Adiyasa.

Malam itu Patih Nandini membuktikan kemampuannya dalam olah kanuragan. Tumenggung Nayottama dibantu dua orang senapati kepercayaan-nya tak mampu mengalahkan Patih Nandini yang bertarung sendirian.

Empat adipati yang mendapatkan kepercayaan dari Prabu Jannapati pun berlomba, secepat mungkin menyelesaikan pengikut-pengikut Pangeran Adiyasa yang lain, sesuai dengan daftar tugas yang mereka miliki masing-masing.

Mereka berharap dapat merebut hati Prabu Jannapati dengan menangkap Tumenggung Nayottama yang terkenal kesaktiannya, atau setidaknya membantu Patih Nandini menangkapnya.

Namun, ternyata ketika empat adipati itu sampai di tempat kediaman Tumenggung Nayottama, semuanya telah usai. Patih Nandini sedang duduk membelakangi kediaman Tumenggung Nayottama yang dihiasi lidah-lidah api menyala-nyala. Di depannya, berjajar rapi tiga buah kepala, kepala Tumenggung Nayottama dan dua orang senapati pengawalnya.

“Selesai?”, tanya Patih Nandini singkat.

Berdebar dada ke empat orang adipati itu. Patih Nandini jauh lebih muda dari mereka, tapi perbawa-nya mampu membuat mereka merasa gentar. Patih Nandini yang biasanya terlihat tenang, malam itu berubah seperti jelmaan Rahwana, garang, haus darah.

“Selesai Ki Patih.”, jawab Adipati Banyubiru, dia yang paling cepat mendapatkan kembali ketenangannya.

“Bagus... ikuti aku. Kita temui baginda prabu.”, Patih Nandini bangkit berdiri, tangannya dengan cekatan meraih ketiga butir kepala yang ada di depannya.

Sambil menenteng kepala Tumenggung Nayottama dan dua kepala yang lain, Patih Nandini melompat ke atas kudanya dan menderap menuju ke Taman Nawa Kamma. Ke empat adipati saling berpandangan sejenak, sebelum bergegas mengikutinya.

----

Saat itu semua terjadi, Rangga sendiri sedang berlari kembali ke Kademangan Jati Asih. Laki-laki misterius yang menemui Patih Nandini itu tentu saja adalah dirinya.

Setelah menemui Patih Nandini, Rangga segera pergi meninggalkan ibu kota. Malam itu, ketika di ibu kota terjadi pembantaian besar-besaran, Rangga sudah berada jauh di luar ibukota. Namun dari kejauhan dia masih bisa melihat, langit di ibu kota yang menyala merah membara.

“Gila... Dimas Puguh benar-benar sudah menjadi gila.”, desisnya menyaksikan hal itu.

Terkenang dia akan Pangeran Puguh yang masih kanak-kanak. Sejak kecil, wataknya keras, tak mau mengalah pada siapapun. Dalam hal itu, dia mewarisi watak ayahnya.

Rangga memandangi langit di atas ibu kota Watu Galuh yang berpendar merah dan mendesis, “Tapi Pamanda Israya, tidak akan pernah melakukan hal ini...Puguh.. kau bodoh!”

Sambil menggeram marah, Rangga membalikkan badan dan kembali berlari ke arah Kademangan Jati Asih. Tindakan Prabu Jannapati malam itu, meyakinkan Rangga, dirinya tak mungkin bisa menjejak bumi yang sama dengan sepupunya itu.

Selama dia masih hidup, Prabu Jannapati tidak akan tenang dalam tidurnya. Selama Prabu Jannapati hidup, maka dirinya dan orang-orang yang penting bagi dirinya, berada dalam bahaya. Ada banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak Rangga.

Apa peran Patih Nandini dalam pembantaian malam ini? Seperti apa hubungan Patih Nandini dengan Prabu Jannapati? Apakah dia hanya seorang patih yang tahu mengikuti perintah rajanya? Atau Patih Nandini dengan aktif membisikkan rencana-rencana ke telinga Jannapati?

Apa pula yang akan dilakukan Jannapati setelah ini?

Pikiran-pikiran itu berputaran dalam benak Rangga, tanpa bisa dia hentikan.

Bersambung ke Bab 7
profile-picture
profile-picture
profile-picture
krisnhawan dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
profile picture
muantabb Ki Lonelylontong
ceritanya menarik, thanks updated nya
emoticon-2 Jempol
profile picture
aiiihh baca d chapter ini jadi kebawa suasana era Majapahit an atau sebelumnya 👍👍
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@brigadexiii emoticon-Toast
Enak jaman dulu gan, ga ruwet kayak sekarang.
profile picture
TS lonelylontong
kaskus maniac
@prayudo25 thank you gan. Mohon dukungan dan doanya spy sampai sls dan ga kentang
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 4 dari 4 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di