Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

andrihadimadjaAvatar border
TS
andrihadimadja
KUMPULAN CERITA SERAM


1. DIMAS INGIN NASI GORENG

Beberapa tahun yang lalu, ketika aku pulang untuk liburan semester, tersiar kabar ada pembunuh berantai berkeliaran di kota kecil kami. Kabar tersebut ramai di grup Whatsapp yang pesannya meminta warga untuk berhati-hati serta waspada. Walau pun pihak kepolisian sudah mengklarifikasi bahwa kabar tersebut adalah hoaks, namun tetap saja banyak warga yang masih merasa cemas oleh kabar tersebut.

Menurut warga, pembunuh berantai itu, konon menghabisi korbannya dengan cara mencincang menggunakan golok. Lalu menguburkannya di suatu tempat yang sampai dengan saat itu, tidak berhasil ditemukan oleh polisi.

Warga juga menduga, pembunuh berantai itu adalah pasien Rumah Sakit Jiwa "Pasti Waras" yang terletak di pinggiran kota. Dia kabur melalui langit-langit rumah sakit, menerobos genting beton yang dicat ungu dan meloncat dari wuwungan gedung  untuk melintasi tembok benteng setinggi 3 meter. Dia jatuh menimpa pepohonan singkong yang tumbuh subur di luar benteng rumah sakit dengan selamat.

Pembunuh berantai itu lalu berjalan kaki secara sembarangan menembus kebun singkong itu. Sepanjang jalan yang dilaluinya, dia telah merusak puluhan pohon singkong sehingga daun dan batangnya banyak yang patah dan bahkan ada yang terjungkal. Arah jalannya membentuk semacam jalan setapak dengan kerusakan pohon-pohon singkong yang sangat parah sebagai tandanya. Dia kemudian tiba di sebuah rumah sepasang suami istri petani yang sudah tua. Membunuh pasutri tersebut dengan golok milik mereka.

Pembunuh berantai itu kemudian menghilang dengan membawa golok dan batu asahan milik petani, demikianlah cerita yang berkembang dari mulut ke mulut di kalangan warga.

Di tengah gencarnya issue yang mengerikan tersebut, Om Bagus dan Tante Tuti yang biasa bepergian ke luar kota untuk urusan bisnis, menjadi merasa sangat khawatir. Soalnya Si mbak pengasuh yang biasa nginap dan bantu-bantu urusan rumah, sudah sebulan pulang ke kampungnya di Gombong dan tak pernah memberi kabar lagi. Sedangkan Dimas, anak mereka --yang juga adalah saudara sepupuku-- masih berumur 7 tahun, masih terlalu kecil untuk dikatakan bisa menjaga diri.

Akhirnya, mereka dengan terpaksa memintaku menginap di rumahnya. Mereka hanya akan pergi selama 2 hari 1 malam dan pulangnya, mereka menjanjikan akan membawa oleh-oleh untuk aku dan Dimas.

Sebenarnya tanpa diiming-imingi oleh-oleh dan hadiah pun aku mau menjaga dan menemani Dimas. Soalnya aku tak punya adik dan dia adalah anak yang periang. Dalam beberapa hal dia bisa sangat menyenangkan. Satu hal yang tidak aku suka dari Dimas adalah sifatnya yang terkadang suka kolokan alias manja. Itu mungkin karena dia anak tunggal. Sementara Om dan tante, sejauh yang aku tahu, selalu mengabulkan permintaan dan keinginan Dimas.

Aku menyanggupi permintaan mereka dengan catatan, Dimas tidak boleh rewel dan harus mau menurut pada perintahku. Dimas setuju. Dia berjanji tidak akan rewel dan bersedia menurut. Dimas bahkan merasa sangat senang ketika aku berjanji selama dua hari tersebut aku akan mengajarinya bermain komputer.

Pada hari yang ditentukan, aku datang pagi-pagi sekali ke rumah Om Bagus. Mereka tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan. Aku membawa laptop dan beberapa novel yang akan kubaca sambil menemani Dimas.

Sebelum berangkat, Tante Tuti telah memasak  makanan yang cukup untuk kami, serta menyediakan sejumlah cemilan di toples dan di dalam kulkas.

Setelah mereka berangkat, aku tak membuangg-buang waktu dan segera mengajari Dimas bermain komputer. Tidak perlu waktu lama untuk Dimas memahami berbagai program dan aplikasi yang terdapat dalam laptop. Dia dengan cepat menyerap dan mencerna apa-apa yang aku ajarkan. Dia ternyata anak yang cerdas!

Setelah merasa yakin Dimas tak perlu tambahan petunjuk, aku segera membiarkannya mengotak-atik laptop dan aku sendiri duduk tidak jauh darinya, tenggelam dalam novel favoritku.

Ketika waktu Dzuhur tiba, aku mengajak Dimas makan siang dan sholat. Dimas menurut dengan gembira, setelah itu dia kembali ke laptop dan mengotak-atiknya lagi. Demikian juga ketika tiba waktu ashar, aku menyuruhnya mandi dan dia menurut tanpa rewel. Aku merasa senang dengan sikapnya yang patuh itu.

Akhirnya malam pun tiba, setelah makan malam dan mencuci piring, aku menyuruh Dimas untuk menggosok gigi setelah itu baru boleh menonton TV sampai jam 9.

Jam 9 adalah waktunya tidur buat Dimas.

Dia menurut waktu kuperintahkan masuk ke dalam kamarnya untuk tidur. Aku sendiri masih duduk di sofa, mencoba menahan kantuk untuk menyelesaikan bab-bab terakhir novel yang kubaca ditemani TV yang kunyalakan dengan suara keras.

Pada jam 10.30 aku benar-benar sangat mengantuk dan novel itu pun sudah selesai kubaca sampai tamat. Tiba-tiba Dimas membuka pintu kamar dengan cara membanting sehingga mengeluarkan bunyi yang sangat keras.

Aku tentu saja terkejut oleh kelakuan Dimas itu. Selama beberapa saat kulihat Dimas berdiri di ambang pintu dan menatapku dengan cara yang aneh, dia kemudian ke luar kamar dan mengatakan ingin buang air kecil ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
"Setelah itu tidur lagi ya." Kataku dengan rasa terkejut yang masih tersisa. Dimas tidak menjawab, setengah berlari dia pergi ke kamar mandi namun dia hanya berdiri di ambang pintu dapur. Dia kemudian melangkah kembali ke arahku dengan ekspresi wajahnya tampak aneh.
"Kakak, Dimas lapar." Katanya.
"Makan jam segini jelek buat kesehatan Dimas." Kataku, menasehatinya.
"Tapi Dimas lapar Kakak."
"Sudah, masuk kamar dan tidur."
"Gak mau, Dimas lapar."

Aku merasa sebal dengan sikap kolokannya yang datang tiba-tiba seperti itu.
"Ya, udah, ini makan cemilan aja." Kataku.
"Gak mau, Dimas pengen nasi goreng!" Dia berkata dengan nada keras.
"Tukang nasi goreng jauh Dimas, di ujung jalan. Udah makan cemilan aja nih."
"Gak mau gak mau... pengen nasi goreng." Katanya dengan memaksa. Lelaki kecil yang sesiang suntuk tadi sangat penurut itu tiba-tiba berubah perangainya. Dia kemudian merengek-rengek dengan disertai suara jeritan memaksa... pengen nasi goreng! Dimas pengen nasi goreng!!!

Aku benar-benar sebal atas tingkahnya dan merasa menyesal mengapa aku mau menemani anak kolokan ini.

Akhirnya aku mengalah untuk menghentikan rengekannya dan mengambil beberapa lembar uang sepuluh ribuan untuk membeli nasi goreng. Dimas dengan tidak sabar menarik-narik tanganku ke luar dari pintu rumah. Tiba di luar, secara otomatis aku melangkah ke arah kiri di mana dari kejauhan tampak lampu angkringan nasi goreng yang masih menyala dengan terang. Tapi anehnya Dimas malah mencengkram tanganku dengan sangat kuat dan menarikku ke arah yang berlawanan.
"Kamu ini kenapa sih!" Bentakku
"Sssstttt kakak... dengar, tadi waktu Dimas ke dapur, Dimas melihat ada orang bersembunyi di kolong meja... dia membawa golok. Orangnya terlihat aneh dan jahat. Ayo Kak kita ke kantor polisi!" Kata Dimas. "Dia mungkin pembunuh berantai itu."

Aku terpana sejenak, mencoba menakar kebenaran kata-kata Dimas. Namun akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan pergi ke kantor polisi yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah dan melaporkan apa yang dilihat Dimas.

Dimas sendiri dengan sangat antusias menceritakan semuanya kepada petugas, sementara aku berkali-kali menguap menahan kantuk.

Beberapa menit kemudian serombongan polisi mendatangi rumah Om Bagus dan berhasil menangkap seorang lelaki kurus bermata cekung. Dia sedang bersembunyi di kolong meja dapur persis seperti yang diceritakan Dimas. Petugas kepolisian pun membawa orang tersebut ke kantor mereka untuk dimintai keterangan. Sebuah barang bukti berupa golok yang sangat licin dan  sangat tajam karena sering diasah disita oleh petugas.

Sebelum dinaikkan ke atas bak mobil double cabin kepolisian, lelaki kurus bermata cekung itu seperti tak bisa dihentikan untuk terus menatapku. Aku mustahil melupakan tatapan matanya yang mengerikan itu. Benar-benar membuat darahku menjadi beku. Sepertinya ada suatu kekuatan misiterius di balik tatapan itu sehingga membuat aku merinding dan merasa ciut.

Keesokan harinya, ketika makan pagi, Dimas bercerita bahwa malam itu dia tidak bisa tidur dan berniat meminta izin kepadaku untuk bermain laptop. Tapi dia takut aku tidak  akan mengizinkannya. Jadi selama beberapa menit dia berdiri dan mengintipku dari pintu kamarnya yang dia buka hanya secelah mata.

Di saat dia merasa ragu untuk menggangguku, yang sedang asyik membaca novel ditemani suara TV yang keras, Dimas melihat ada orang masuk lewat jendela, persis di belakangku. Orang itu kemudian berdiri dengan senyum menyeringai sambil mengacungkan golok dan mengarahkannya ke kepalaku --tepatnya, ke leherku. Sepertinya, hanya dengan sekali sabet saja, golok kelimis itu akan langsung memutuskan leherku. Memenggal tanpa ampun untuk memisahkan kepala dengan  pundak tubuhku; di mana seharusnya kepalaku berada.

Saat itu sebetulnya Dimas sangat ketakutan. Dia membanting pintu kamar dengan sekeras-kerasnya karena didorong rasa takut serta rasa kejut yang tak terkira. Dimas sendiri tidak menyangka bantingan pintunya sedemikian kerasnya, sehingga membuat orang yang mengacungkan golok itu terkejut dan berlari dengan sangat cepat ke dapur. Orang itu kemudian bersembunyi di kolong meja.

Aku terpana mendengar ceritanya. Bahkan nyaris tak bisa mempercayainya.

***

Beberapa bulan kemudian, ketika aku kembali kuliah dan melupakan semua kejadian itu, teman-teman sekampung yang ngekost tak jauh dari tempat kostku berada, heboh mengenai terbongkarnya kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang psikopat di sebuah kota kecil di mana kami tinggal.

Kapolsek yang memimpin pengungkapan kasus itu menjelaskan modus operandi psikopat tersebut. Dalam aksinya, psikopat itu masuk melalui jendela dan menghabisi korbannya dari belakang. Lalu mencincangnya dan menguburkannya di beberapa tempat yang berbeda. Sampai dengan saat Kapolsek tersebut menjelaskan kasus tersebut, sudah ditemukan 27 lubang kuburan yang mengubur potongan-potongan  tubuh manusia. Lubang-lubang kuburan itu ditemukan di 5 titik lokasi yang berbeda di kota kecilku.
"Ada satu lubang yang kami temukan di pinggir hutan Perhutani, dekat perkebunan singkong milik warga, yang berisi potongan-potongan tubuh yang berasal dari dua orang. Kami menduga itu adalah potongan-potongan tubuh sepasang suami istri petani singkong yang dilaporkan menghilang beberap bulan lalu." Kata Kapolsek tersebut dalam sebuah siaran pers yang diliput oleh sangat banyak sekali wartawan.

Berita itu kemudian menjadi berita utama di seluruh jaringan TV  nasional selama berhari-hari dan juga menjadi viral di  berbagai media sosial.

Sementara aku sendiri merasa terguncang dan sekaligus bersyukur.

Bagaimana pun aku ingat persis, aku pernah sangat sebal kepada seorang anak lelaki kecil  yang merengek-rengek minta dibelikan nasi goreng pada jam setengah sebelas malam.

Kalian harus tahu, apa yang dilakukan oleh Dimas, itu adalah cara terbaik menyelamatkan diriku agar tidak dicincang dan dipotong-potong oleh psikopat itu kemudian dikuburkan di suatu tempat yang tidak akan pernah ditemukan oleh siapa pun.

Bahkan sampai dengan saat ini, aku masih sering merasa trauma jika ada teman atau saudara yang mengajakku membeli nasi goreng malam-malam.***
(Karya GALUH WARDANA SYARON, sumber: noveltoon)


zaiimport
aan1984
adief.suryanto
adief.suryanto dan 12 lainnya memberi reputasi
13
2.5K
12
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
andrihadimadjaAvatar border
TS
andrihadimadja
#6
KUMPULAN CERITA SERAM
2. SECANGKIR KOPI PAHIT

Malam itu aku sengaja bangun dan menyeduh kopi yang telah kusiapkan sejak kemarin. Kuletakkan handphone dan kuberdirikan di lemari makan, agar kamera yang kunyalakan dapat merekam detik-detik terakhir dalam hidupku. Lalu aku duduk menekur di kursi di depan meja makan yang sunyi, menghadapi cangkir kopi yang telah kuseduh itu. Airmata berlinang di pipi dan rasa putus asa yang dalam menjepit dadaku. Aku memikirkan perjalanan hidupku yang nelangsa dan berniat untuk mengakhiri hidupku saat itu.

Aku merasa, istriku telah berselingkuh dengan seseorang. Hatiku sungguh-sungguh terasa sakit dan jiwaku benar-benar terluka. Aku tidak bisa memahami mengapa dia berbuat seperti itu. Kami telah mengarungi mahligai rumah tangga yang bahagia selama 15 tahun dan aku tak bisa menerima kenyataan dia pergi meninggalkanku begitu saja. Salahku apa?

Dan anakku, satu-satunya buah kasih sayang kami, anak lelaki yang aku banggakan dan sangat aku sayangi. Dia juga pergi. Entah ke mana. Sudah satu bulan dia tidak pulang dan tidak pernah satu kali pun memberi kabar. Sebagai seorang ayah, aku telah berusaha menjalin diskusi dan keterbukaan dengannya. Agar kami dekat, agar kami saling berbagi sebagai ayah dan anak. Aku berusaha mendidiknya dengan baik dan penuh cinta kasih. Demi Tuhan, aku tidak pernah bersikap kasar kepadanya. Aku bahkan tidak pernah mencaci atau memakinya walau dia melakukan kesalahan yang sangat besar sekali pun. Tapi mengapa dia tiba-tiba pergi dan menghilang seperti ditelan bumi. Mengapa?

Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti.

Sementara di kantor, aku sedang diproses untuk dipecat. Aku dituding telah melakukan korupsi dan penggelapan uang ratusan milyar rupiah. Aku telah menandatangani surat-surat keputusan yang isinya sangat merugikan perusahaan. Ya, Tuhan. Itu semua fitnah. Aku telah bekerja selama 20 tahun dengan jujur, dedikasi yang tinggi dan loyalitas nyaris tanpa batas demi kemajuan perusahan.

Aku tidak pernah menanda tangani semua surat-surat itu.

Tidak. Demi Tuhan yang tiada berawal dan tiada berakhir; yang telah menciptakan kehidupan, yang menciptakan kematian dan hari pembalasan; Aku tidak pernah melakukan hal yang sangat menjijikan itu. Tidak. Tidak mungkin. Pekerjaan itu adalah hidupku, aku tak mungkin menghianati pekerjaanku. Itu sama saja dengan berhianat terhadap diriku sendiri. Terhadap hati nuraniku.

Tapi faktanya, jaksa telah menetapkan aku sebagai tahanan rumah dan aku akan diseret ke pengadilan dalam waktu dekat ini.

Ya Tuhan, hidupku telah hancur. Masa depanku musnah. Aku tak berniat melanjutkan hidup yang penuh kepedihan seperti ini. Aku ingin bunuh diri. Aku ingin segera menghadap ke haribaanMU dan memprotes semua ketidakadilanMU.

Apabila tindakan bunuh diri ini adalah sebuah dosa... Wahai Tuhan, aku tidak peduli. Setidak-tidaknya jika aku nanti mati dan menghadap kepadaMU, berilah sedikit penjelasan, mengapa? Mengapa semua ini terjadi? Mengapa aku tidak bisa memahami semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan? Mengapaaaaaa????

***

Aku terus menatap cangkir kopi itu. Buihnya yang tipis kecoklatan sungguh menggoda. Aku ingin menyesapnya dan mengakhiri seluruh penderitaanku. Namun sebelum itu aku lakukan, aku mendengar jendela dibuka pelahan dari luar lalu tiba-tiba kurasakan sebuah besi yang dingin dan tajam menempel di leherku.
"Diam, jangan bergerak!" Suara itu menyentakku dengan nada keras mengancam. Aku menoleh ke arah pemilik suara itu namun seketika besi tajam itu --sedikit dan tipis-- mengiris leherku. Darah pun menetes. Rasanya pedih dan perih. Tapi tidak sepedih dan seperih penderitaan jiwaku. Satu kali aku tekan saja sedalam beberapa mili meter, besi tajam yang ternyata adalah sebilah pisau kualitas terbaik itu, akan langsung memutus urat leherku.

Dan apabila pisau itu kemudian ditarik ke samping --baik secepat kilat atau secara lambat pelahan-- itu akan melubangi leherku dan menyebabkan darah menyembur dari tenggorokanku. Aku akan menggelepar-gelepar sebentar dan kemudian mati.

Ah... syukurlah, aku tak perlu bunuh diri. Ini akan mengurangi sedikit dosa. Aku memang ingin segera mati. Tetapi biarlah perampok itu yang membunuhku saja.

Aku melihat perampok itu mengenakan topeng masker kain berwarna hitam, sepasang matanya yang nyalang penuh kelicikan dan ketamakan menatapku dengan tajam.
"Sudah, jangan banyak cingcong. Bunuh saja aku." Kataku, pasrah.

Dari balik topengnya, dia tertawa menyeringai.
"Tidak secepat itu... he he he." Katanya. Dia dengan gesit menelikung tanganku ke belakang kursi dan mengikat kedua lenganku dengan menggunakan lakban. Lalu kedua pergelangan kakiku dililit juga dengan lakban hingga rapat dengan sangat keras ke kaki-kaki kursi.

Aku membiarkan kelakuan perampok itu tanpa melawan. Toh pada dasarnya aku ingin mati.
"Nah..." Kata Perampok itu. "Cepat atau lambat kau akan kubunuh mati. Sekarang kau katakan saja dengan terus terang dan sejujurnya, di mana kau simpan surat tanah warisan kakekmu seluas 10 hektar yang berlokasi di Jakarta Selatan?" Katanya.
"Dari mana kamu tahu aku punya sertifikat tanah itu? Aku takkan menjualnya. Itu warisan turun temurun yang akan kupertahankan."
"Aku akan mencungkil matamu jika kau tak mengatakannya. Ayo, cepat. Di mana?"
"Ya, sudah. Toh cepat atau lambat aku akan mati. Kau jangan cungkil mataku, tapi tusuklah jantungku agar aku bisa mati dengan cepat."
"Aku janji aku akan membunumu dengan cepat jika kau mengatakan di mana sertifikat itu kau simpan." Perampok itu berkata dengan sedikit lunak. Mendengar suara itu, aku tiba-tiba teringat kepada sahabatku yang sekaligus rekan kerjaku di kantor. Nada suara dan intonasinya sangat mirip.
"Aku menyimpannya di dalam tas koper kulit warna coklat, di dalam lemari baju deretan paling bawah. Di bawah tumpukan selimut-selimut bekas."

Perampok itu bergerak dengan cepat dan masuk ke dalam kamarku. Beberapa saat kemudian dia ke luar dengan koper coklat itu.
"Berapa angka kombinasinya? Katakan dengan jujur."
"02-02-2002." Kataku.

Perampok itu tertawa. Suara tawanya benar-benar sangat familiar dengan telingaku. Mengapa suaranya sangat mirip dengan Hendra Budiman? Mana mungkin? Dia adalah sahabatku. Dia juga adalah rekan kerja sekantorku.

"Aku juga tahu kau memiliki emas batangan dan cincin berlian merah delima. Cepat katakan di mana kau menyimpannya?"

Aku menarik nafas berat. Mengapa aku semakin yakin dia adalah Hendra Budiman?

"Aku menyimpannya di dalam peti besi di atas loteng, kunci kombinasinya adalah 1234." Kataku menjawab dengan sejujurnya.

Perampok itu bergerak dengan sangat cepat menuju loteng dan kembali lagi dengan emas batangan dan cincin berlian merah delima warisan ayahku. Dia tertawa-tawa senang dan menari-nari seperti anak kecil. Sekarang aku mulai setengah yakin kalau dia adalah Hendra Budiman, sahabatku yang sekaligus rekan kerjaku.

Sebelum duduk di sebrang meja di depanku, dia melepaskan tas ransel yang digendongnya. Meletakannya di meja. Dia memasukkan pisau yang tadi dipergunakan untuk mengancamku dan mengeluarkan pistol colt 1911. Dengan tenang dia memasang peredam pada ujung laras pistol lalu mengarahkannya tepat ke wajahku.

Sekarang aku yakin dia adalah Hendra Budiman. Sebab dialah satu-satunya orang yang pernah memintaku secara paksa menemaninya ke sebuah pasar gelap di wilayah Jakarta Timur untuk membeli pistol itu. Aku mengenal pistol itu dengan baik, aku pernah mengamatinya dari dekat dan secara seksama.

Waktu itu aku sempat bertanya kepada sahabatku, untuk apa kamu membeli pistol?
"Untuk menembak kening orang yang paling aku benci." Begitu jawabnya. Dulu.

Dari balik topeng maskernya, kulihat dengan jelas perampok itu tersenyum lebar. Dia mengurungkan niatnya untuk menembakku. Dia meletakan pistol itu di atas meja, memasukkan koper coklat dan emas batangan ke dalam tas ranselnya. Sedangkan cincin berlian merah delima itu dia kenakan di jari manisnya. Sejenak dia mengamat-amati cincin itu lalu terkekeh-kekeh tertawa.

Aku diam membeku. Tak bergerak. Aku terikat. Setelah ditinggalkan oleh keluargaku, dianggap penjahat oleh perusahaanku dan penegak hukum... sekarang sahabatku datang untuk merampok seluruh kekayaanku.

Tuhanku, alasan apalagi yang kuperlukan agar aku tak ingin mati. Agar aku tetap melanjutkan hidup sebagaimana orang-orang lain ingin melanjutkan hidup.

"Baiklah..." Katanya, "memakai atau tidak memakai topeng kau pasti sudah mengetahui siapa aku sebenarnya." Berkata begitu dia melepaskan topeng maskernya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Benar. Ternyata dia adalah Hendra Budiman.

"Kamu sudah tahu, pistol ini sangat mematikan. Colt 1911. Pistol legenda. Selama lebih dari 10 dekade dia menjadi salah satu mesin pembunuh manusia yang paling efektif. Dengan kecepatan 375 meter per detik, dalam jarak seperti ini --satu koma 2 meter-- peluru yang dimuntahkannya akan langsung melubangi keningmu hingga tembus melewati batok kepalamu dan kau akan mati dengan cara yang sangat cepat, tidak akan terasa sakitnya... he he he." Katanya dengan seringai yang licik.

Dia mengeluarkan kemasan sebuah rokok filter, menjumput isinya satu batang. Dan menyalakannya. Dia lalu mengisapnya dengan kuat dan penuh kenikmatan. Dia menyemburkan asapnya ke wajahku.

"No no no... kau tidak perlu menatapku dengan keheranan seperti itu... jangan pula bertanya mengapa aku melakukan semua ini... no no no... kita telah bersahabat sejak SMA... kau selalu membantuku, selalu menolongku. Kau setia kawan. Kau selalu membelaku dengan cara yang bijak, padahal kau tahu aku dalam posisi bersalah...

Sahabatku, kau orang baik. Bahkan sangat baik. Bahkan aku bisa masuk kerja di perusahaan ini pun semua adalah karena jerih payahmu... kau... kau... sempurna!

baik!!!

Selama bertahun-tahun aku memendam kebencian ini karena kau tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan! Kau mengerti? Kau tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Aku ingin kau mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu.

Ya, dan aku menjadi jijik kepadamu setelah kau menikahi perempuan itu. Pancaran wajahmu yang bahagia itu membuat aku semakin ingin membunuhmu. Aku ingin merenggut semua kebahagianmu.Dan juga kekayaanmu.

Kuhasut istrimu agar tak mematuhi laranganmu pergi ke luar malam, lalu kusekap dia di sebuah gudang tua yang terlupakan hingga akhirnya mati.

Kuculik anakmu dan kubunuh, lalu kukubur di halaman belakang rumahku.

Aku juga yang memalsukan tanda tanganmu sehingga perusahaan menjadi rugi ratusan milyar... ha ha ha... aku sekarang merasa bahagia. Aku bahagia bisa menyengsarakanmu sebagaimana kamu telah menyengsarakan hidupku selama bertahun-tahun.

Kamu tahu, aku lelaki sepenuhnya ketika kunyatakan cintaku kepadamu bertahun-tahun lalu di belakang sekolah. Tapi kau malah mentertawakanku. Kau katakan jiwaku sakit dan otakku tidak waras.

Tidak, jiwaku tidak sakit dan otakku waras, sangat waras.

Kau tahu aku mencintaimu dan kau sengaja menolakku. Dan karena itu kau harus mati. Kenapa? Karena aku tahu semua kebaikan yang kau lakukan kepadaku semata-mata hanyalah untuk menutupi kejijikanmu terhadapku.

Betul kan? Akui saja secara jujur bahwa kau memang jijik kepadaku. Ya, kau memang jijik kepadaku.

Sekarang baiklah, mari kita akhiri semuanya malam ini juga secara tuntas." Dia berkata dengan panjang lebar, lalu mengisap filternya kuat-kuat.

"Aku akan menembakmu di kening dan itu adalah kematian yang sangat cepat dan tidak menyakitkan." Katanya lagi.

Aku memejamkan mata. Pasrah. Harapanku cuma satu, seandainya aku mati, dia tak menemukan HP itu dan menghapus rekaman video yang sedang berlangsung saat itu. Aku berharap polisi akan menemukan HPku dan mengungkap semua kejahatan yang dilakukan oleh sahabatku.

"Di atas segala-galanya, kau sebenarnya adalah teman yang baik." Katanya dengan nada yang dingin dan penuh percaya diri. "Sebagai pengingat atas semua kebaikanmu selama hidupku serta derita dan rasa benci yang kau timbulkan dalam hatiku... aku akan mengangkat cangkir kopi ini untukmu." Katanya sambil meraih cangkir kopi yang berada di hadapanku.

Aku tiba-tiba gemetar menyadari apa yang sebenarnya akan terjadi.

"Terimakasih aku ucapkan atas ratusan bahkan mungkin ribuan cangkir yang telah kau seduhkan untukku. Aku akan selalu mengingatmu sebagai penyeduh kopi terbaik di dunia." Katanya dengan senyum menyeringai penuh kemenangan. Dia kemudian menenggak kopi yang suhunya sudah menjadi hangat itu secara sekaligus.

Hanya dalam beberapa saat saja tiba-tiba matanya menjadi melotot, seakan-akan hendak meloncat ke luar. Tubuhnya kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan buih. Lalu dia tergeletak mati dalam keadaan sangat mengenaskan.

Dia tidak tahu, sejak awal aku berniat bunuh diri dengan meminum kopi yang telah kucampur dengan sianida itu. Ya, aku telah benar-benar berniat bunuh diri dengan meminum racun yang kuseduh ke dalam kopi.

Tapi niat itu kini hilang sirna. Aku ingin hidup dan membawa rekaman itu ke polisi.***
[size="7"](Karya GALUH WARDANA SYARON, sumber: noveltoon]
Diubah oleh andrihadimadja 08-07-2020 14:37
Hago.lovers
rezaandreansyah
akusiapa99
akusiapa99 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup