CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIII Target dan Sasaran 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efac4d0facb952ce16f54f0/penyewekan-pengasih-bagian-ke-xiii-target-dan-sasaran-2

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIII Target dan Sasaran 2

                 Ada sosok wanita, berambut putih terurai yang tumbuh jarang2 dikepalanya, berdiri tepat dibelakang adiknya Mira yang sedang merapikan rambut.

                Sosok itu terlihat telanjang dada menunjukan payudaranya menggantung panjang di tengah keremangan  petang, kedua tangannya menjulur menapkaan jari2 yang kaku panjang memegang sebuah pisau meski pergelangan tangannya terikat tali tambang.


gambar ilustrasi dari internet

                “Aaa...Aammm...Ampura..Ampura....!!(Maaf)”, aku mundur beberapa langkah, Mira melihat keanehan yang terjadi padaku membalikan bandanya,
AAAA!!”, suara Mira Cumiik kecil yang segera membekap mulutnya sendiri, Mira mematung dengan nafas tersengal-sengal.

                “Kalian kenapa?”, adiknya Mira keheranan melihat reaksi ku dan kakanya yang ketakutan, dia menengok celingukan kesamping dan kebelakang, matanya mencari seseuatu yang membuatnya penasaran, tapi wanita tua misterius melayang tepat disebelahnya seolah tidak bisa dilihat.

                Mira melepas tutupan mulutnya, perlahan mendekat ke adiknya yang berjarak 5 langkah didepannya, sementara aku telah jauh mundur sampai 10 langkah dari Mira.

                “Dik, sini, cepet sini!”, Mira berbisik menjulurkan tangan pada adiknya. “Eh kenapa sih?, sadikaon (menjelang petang) gini, jangan nakutin, Bli sekongkol sama Mbok nge-Prank aku ya?”, adiknya melalah diam melipat tangan ngambek.

                Meski aku sering melihat hal aneh dan hewan2 aneh tapi ini merupakan seseuatu yang paling menakutkan, sosok itu ada dan benar2 nampak, sepeti apa yang diceriakan Mira, aku yakin Mira tidak gila.

                “Mai enggalin!!! (cepat sini!!!)”, Mira Cumiik memaksa adiknya berlari mendekatinya. Adiknya justru memejamkan mata dan menggelang, “Auk (enggak) ah, nanti kalian Up di group STT (Sekhe Truna Truni, organisasi pemuda desa), malu tau!”, adiknya masih teteap kukuh berdiri di tepi trotoar, meski sosok wanita tua itu memalingkan wajah menatapnya berdiri,

                  “HAAAHHHH!!!”, suara nafas mendengus disertai lidah yang menjulur sepanjang dada yang sterus keluar dari mulut lebar seakan tidak pernah henti sampai bisa lidah itu mencapi perut yang dibalut kain lusuh di pinganggnya.

                “Please dik sini!”, Mira mulai mengeluarkan air mata, “jangan dia, jangan ganggu adiku”, kini Mira sudah semakin tersedu-sedu.

                “tuh gini dah kak Mira, kalo nerjain akting banget!!”, adiknya Mira malah tertawa kagum dengan kaknya yang dianggap totalitas.

                Aku mencoba perlahan maju menghilangkan rasa takutku mencoba menjadi pemberani meski kakiku terasa lemas untuk menopang badan. Sampai aku bisa di belakang Mira mencoba berlindung dibalik tubuhnya yang begitu dekat dengan sosok itu.
                “HAAAAHHH!”,sebuah dengusan kembali terdengar dari wanita bermuka rata seperti memakai topeng  yang penuh benjolan rata menutupi wajahnya sehingga hanya menunjukan mulut karena seolah wanita tua itu tidak memiliki mata.

                “Las telas mati...”, berbisik pelan tidak jelas dengan lidah yang terjulur hanya kata itu yang bisa aku dengar, tapi cukup bisa membuatku mengciut, sosk itu terus berkata tidak jelas, hanya diahir kata yang cukup aku pahami dari bisikannya.

                “Telas bapanmu, mati ibunmu, mati kabeh sanak,  panak cucu, telas kabeh, telas maring natarmu las telas”, suara serak mahluk aneh itu berahir ketika badanya melayang kini tepat disamping adiknya Mira, meski tanpa mata wanita tua itu seakan tau adiknya Mira berdiri melipat tangan disebelahnya.

                “Eda adin tinge diolas da!! (jangan adiku jangan!!)”, sekarang Mira semakin keras menangis, sementara aku membungkuk dibelakang tubuh Mira, tidak ada orang, motor, bahkan jalan ini seperti tanpa kehidupan hanya ada 3 manusia dan 1 mahluk yang tidak jelas, bahkan suara hewan malam menjadi bisu.

                “Mbok yang sing demen keto! (kak aku gak suka gitu!)”, menghentakan kaki, merasa candaan kakanya kelewatan,

               “HEHEHEHE!!” mahluk itu tertawa menjeritan keras Cumiakan seluruh penjuru namun anehnya hanya aku dan mira saja yang menengarnya, kedua tangannya yang terikat tali tambang memegang erat pisau, dan dengan cepat mengarahkan ujung logam tajam kearah perut adiknya Mira.

                “AAAAA!!!!!”, Mira menjerit, adiknya terkejut, salah satu kakinya terpeleser  dari trotoar ke aspal membuatnya tak seimbang dan melayang miring,  pisau itu sedikit saja bisa mengeluarkan seluruh usus adiknya Mira, tapi untung tidak sempat sampai disana.

                “Bruk!!”, badan itu membentur aspal, membuat si pemiliknya lemas tidak sadarkan diri, “HUAHH!!!”, mahluk itu menggeram kencang menunjukan kemarahan atas sasarannya tidak bisa ia tikam. Seperti kedipan mata mahluk itu hilang.

                “Bruuummm!”, bersamaan dengan deru mobil yang melintas cepat , “Hee!, Awas!”, aku tersadar sebagai pahlawan kesiangan, berlari kearah adiknya Mira yang terbaring melintang diaspal, menyeretnya beberapa detik sebelum mobil itu  melintas dan menggilas rata tubuh adiknya Mira.

                Syukur tubuh itu bisa aku seret menjauh kemudian aku angkat kembali ke depan rumahnya, Mira belutut memeluk tubuh adiknya dia menangis sejadinya melihat adiknya tak berdaya  diatas trotoar dalam pelukannya, sementara aku hanya jongkok tegang disebelah mereka.

                “HERRRRR!!”, aku medengar suara seperti geraman harimau yang marah, diseberang jalan sana, mahluk itu kembali muncul, membuatku terkejut dan mendekatkan diri berlindung dibalik tubuh adiknya Mira.

                Lidahnya sudah tak menjulur lagi, hanya saja taringnya yang muncul begitu panjang di sela bibirnya yang begitu lebar sampai ke pipi.

                Mahluk itu menggeram menatap kami yang duduk di atas trotoar depan rumah Mira, amarah mahluk itu sangat terdengar dari suaranya yang terus menggeram, wajahnya berpaling me dalam rumah, kearah Sanggah (pura keluarga), “HERRRRR!!”, mahluk itu lebih marah lagi ketika melihat atap ijuk bangunan Sanggah yang terlihat dibalik tembok. “Byur”, kilatan api melenyapkan mahluk itu,

                “Ini nyata!”, aku menampar pipiku sendiri, “Aku udah bilang!!”, Mira menangis sesengukan terus mengusap wajah adiknya yang masih lemas menutup mata dalam pelukannya.

                “Dik!!.. bangun!!”, Mira menggoyangkan badan itu, tapi tidak ada reaksi, tangisnya makin kencang beberapa saat ketika.

                “Aduh!, ija ne (dimana nih?)”, adiknya membuka mata dan panik, terlebih lagi menyadari dia didekapan kakanya sendiri, “Lebang (lepasin) ihh jijk!!”, adiknya Mira segera berdiri melepaskan paksa kedua tangan Mira.

                “Cing belig ajaan nok! (njing licin sekali sih!)”, adiknya Mira mengumpat pada beton trotoar yang membuatnya terpleset, “Aku pingsan tadi ya?”, dia menatap Mira yang mengelap air mata dan memaksakan diri tersenyum,

“Iya, kamu pingsan ngorok kayak katak!”, Mira tersenyum, wajah adiknya gugup medekatiku yang sudah berdiri disebelah kakanya.

                “Jangan bilang sama pemuda lain ya!, lek atine Bli! (malu kak!)”, aku mengangguk mendengar itu, kemudian dia salah tingkah berjalan cepat masuk kerumah.

ietika langkah itu terdengar sudah jauh kedalam rumah, perlahan tubuh Mira gontai tidak bisa menahan beban tubuhnya yang Cumiasa membuatnya duiduk diatas trotoar

                “Dia mau menyakiti keluargaku juga!,  aku harus apa?, ini sudah sering terjadi, dia sudah bisa masuk pekaranganku, saat kamu tak ada dan tidak bisa aku hubungi, dia setiap malam selalu mengelilingi bangunan rumahku berharap salah satu dari keluargaku keluar kamar saat malam huhuhu!!”, Mira kembli menagis, tidak malu dengan motor yang mulai ada yang melintas.

                “Sekarang kamu sudah bisa ngeliatnya kan?!, sekarang aku kamu dah percaya, dan please tolong aku lagi sekali saja”, Mira kembali memegang lenganku, aku masih diam ketakutan kalau mahluk itu muncul lagi.

                “Aku tau kamu gak mau menolongku lagi!, tapi setidaknya batu keluargaku!, aku gak mau mereka kenapa2!, aku gak bisa hidup sendirian tanpa adik, bapak dan ibuku!”, ucapan terahir Mira membuat kembali ingatan itu yang memaksa tanpa sadar mulutku berucap “Hidup tanpa bapak dan ibu”
-----------------------

                “Wahyu, terus nganggeh meli mie dogen?, (terus ngutang saja beli mie instant?), meme jak bapa ne ija sing ada ngenah (ibu dan bapakmu dimana kok gak ada keliatan?)”, ibu penjaga warung menyerahkan mie kuah kesukaanku, aku tersenyum menerimanya

               “Jumah sirep (dirumah tidur), buka dua dot genang mie! (mereka pingin dibuatin mie!)”, aku berlari kencang masuk ke gang.

              “Auuung!...Aunggg!”, sayup2 suara anjing tetangga meraung membuatku ketakutan, kesalahan terbesarku sehabis makan, bukannya mencuci mangkuk dan menghidupkan seluruh lampu rumah, aku malah rebahan di kasur.

              Kini sudah terlambat ketika aku bangun dari tidurku semuanya gelap gulita, hujan gerimis dan tergadang kelip kilat membuatku terpaksa menjatuhan diri dari dipan dan merayap masuk ke kolong tempat tidur, meringkuk berlindung dari segala marabahaya yang berada diluar sana, wanita yang akan memakanku hidup2.

            Aku hanya bisa berdoa dan menunggu “Meme (ibu), bapak ija  ne? (dimana ini?). adi sing mulih2? (kenapa tidak pulang2?)”, berharap mereka memanggil namaku dan datang menjemptku dari temapat kotor berdebu ini.
--------------------------

                 Hembusan nafasku yang berat membuat aku tidak sanggup mmengenangnya lebih jauh, aku tarik lengan Mira supaya berdiri sejajar denganku, “Baiklah aku bantu”, sebuah kata yang bisa membuatnya tersenyum dalam tangis meski aku tidak ingin melakukannya.

                “Sebagai permintaan maaf, terima ini ya!”, kedua tangannya memegang kresek merah bersama sebuah kotak kecil didalamnya, entah dari mana benda itu bisa ada.

                “Tidak usah, tidak perlu repot2”, aku menolak pemberiannya secara halus, tapi dia tetap memaksa “Gak apa, aku ada banyak kok, please terima ya!”, dengan ragu tanganku mengambil bungkusan itu danku gantungkan di stang motorku.

                “Makasi Kak Wahyu, tolong banget ya”, aku menagguk dan pergi berlalu, meninggalkannya yang masih berdiri didepan rumah menatap penuh harap akan diriku bisa membantunya, meski aku tidak tau harus berbuat apa.

                Dikejauhan Poskamling berbaris beberapa sepeda motor yang tentunya sudah aku kenali milik siapa. “Wee!!, Bosqu!!, sini dulu!”, teriakan riuh ketika motorku melintas tepat disana, segera aku berbalik mematikan motor di depan Poskamling.

                “Uli ija ne (dari mana nih) Arjuna?”, Bima langsung berdiri dan mendekatiku, “Indeng-indeng gen (jalan2 aja)”, jawabku singkat sambil memberinya Tos 5jari  gaya Pandawa, “Ngindeng tekuli ija? (jalan2 kemana?)”,suara Nakula berteriak bersaing dengan speaker aktif memutar remix DJ.

                “Sebenarnya sih tadi nyari Meme!”, jawabku agak berteriak, “Ohh uba atehine mulih tuni kin adine to (udah dianterin pulang tadi sama adiknya itu)” sangkuni menunjuk arah jalan menuju rumah menyamarkan nama orang yang sejatinya baru saja aku temui.

                Aku turun dari motor kemudian duduk lesehan di Poskamling, “Eh cang dadi ngorto dik ne?! (boleh aku ngomong dikit nih?!)”, aku berteriak karena speaker tepat dibelakangku, “Nah curhat gen (iya curhat saja) santai Yu!”, Bli Darmawangsa menjawab dengan asap mengepul tepat duduk dihadapanku, “Nakula!”, ucapan Darmawangsa dipahami Nakula yang segera mengecilkan volume hingga suara kami kembali terdengar jelas.

                Aku bingung bagaimana memulainya, “Kene nok (begini), tuni cang ketemu jak to (tadi aku ketemu sama itu)” kepalaku menggeleng mirib seperti sangkuni tadi menjelaskan si To (itu).

                “wah kleng (sialan), ngudiangin ci biin berususan jak to! (ngapain kamu berusrusan lagi dengan itu!)”, Bima langsung marah menatapku. Begitu juga temanku yang lain menggerutu matarah. Terkecuali Yudistira yang haya diam mendengar, “We ndep nake konden pegat satwane! (diem dulu, belum selesai berceritanya!)”, dia menyuruh teman yang lain diam, dan aku melanjutkan berbicara.

                “Tapi serius ne cang ngorahang jak semeton Pandawa gen, tuni cang ditu...(ini aku cuma cerita sama saudara Pandawa saja, tadi aku disana...)” aku bercerita tentang yang aku alami pada mereka karena yakin kawan2ku ini sering berbagi cerita pengalaman gaib saat minum2, pastinya mereka akan percaya.

                “Wih sekenan (beneran)?”, suara mereka bersautan menanyakan kembali ceritaku, “ci jak makejang nawang cang kan? (kalian semua tau aku kan?), mana pernah aku berbohong!”, aku meyakinkan mereka.

                “Wah yen kene (kalau begini) bahaya Yu!, bisa2 kamu juga ikut kena kalo ngebantu dia!”, ujar Bima yang duduk diatas motorku.

                “Jelas lah, itu yang ngincer dah ngelihat kamu tadi!”, Sangkuni setuju dengan Bima. Nakula angkat tangan seperti siswa menjawab soal,

            “Tapi kamu sudah janji juga sama dia, meski dia menuduh kamu dulu, aku kasian juga kamu yang diarepin”, Nakula memberi saran yang berlawanan dengan Bima.

           “Jelas lah, yang diarepin bantu itu wahyu, kalo mereka mati, trus ditanyain ke orang pintar bisa kamu dihantuain karena gak bantu Yu!”, Sangkuni sekarang setuju dengan Nakula. Aku mengigit bibir menatapnya kesal.

            “Adah!, ci jeleme kenken ne!? (kamu sebenarnya bagimana ini?!)”, Bli Yudistira angkat bicara, “Mira gak bakal ada yang membantu, seandainya berita ini di dengar waga desa, justru mereka akan merayakan kematian keluarga itu”, perkataan penglingsir  (tetua) kami membuat aku, Bima, Nakula, dan Sangkuni, terkejut. 

            “Kenapa begitu Bli (bang)?”, aku bertanya lagi, Yudistira tidak langsung menjawab melainkan mengacungkan telunjuknya keatas, Nakula kemudian sedikit menaikan Volume Sound System, hingga suara kami sedikit tersamar dan kami duduk merapat.

            Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mastercasino88 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lanjutttt
profile picture
TS pionic24
newbie
gass full
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di