CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
5 Langkah Awal Mengetuk Pintu Penerbit Mayor
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec71b11c342bb0f572fe8a1/5-langkah-awal-mengetuk-pintu-penerbit-mayor

5 Langkah Awal Mengetuk Pintu Penerbit Mayor




Sumber: Pixabay, Glints.com

"Bun, Naskah ane dikembalikan dengan catatan, banyak kesalahan penulisan."

" Ane bun, sudah berbulan-bulan kagak ada kabar, tolong bantu dong. "

Dua kalimat langsung itu saya terima terkait naskah yang dikirimkan penulis kawan ane ke Gramedia, salah satu penerbit Mayor di Indonesia. Eits, sebut merek, tak apa yah, bukan bermaksud promo wong ane juga kagak dibayar. Hanya memperjelas saja sebagaimana teori 5 W + 1 H, what,who, where, when dan How, ketika menyajikan tulisan. Penerbit mayor itu sudah gede tanpa ane harus ikut mompa. Hehe, balon kelees.

Jadi gini, ceritanya tuh teman ane yang telah malang melintang di dunia menulis platform digital semacam Kaskus ini, merasa sudah pantas tulisannya diterbitkan Mayor.

Biasanya indie bareng ane sih. Lalu untuk menguji diri dia kirimlah naskah itu ke penerbit mayor. Berhari ditunggu, berbulan dinanti, seperti Bang Toyib yang tak pulang-pulang, naskah itu tak ada berita, hingga datang kabar tak mengenakkan.

Ditolak, pinangan kawan saya yang pertama dikembalikan. Nyeseknya sampai ke ubun ubun. Belum sempat merasakan kencan, tembakan mental. Uring-uringan, sewotnya sampai ke ane pula.

Quote:


Dia masih untung ada kabar, meski mengecewakan. Dibanding kawan ane satunya, naskahnya puss, lenyap bak ditelan bumi. Salahnya, dia tak mau konfirmasi. Macam ingin ta'arufan tapi takut berhadapan, cuma ajuan saja. Ya mana ditanggapi, cinta itu butuh perjuangan Mas Gaess, Agan dan Sista.

Termasuk bertanya bagaimana kabarmu hari ini, butuh teman hidupkah, kalau dijawab iya lakukan langkah selanjutnya. Kalau tidak, manuver lain. Ih, kok ngotot amat. Ya namanya berjuang. Ahay

Omong punya omong, ternyata naskah itu dikoreksi dulu. Begitu kata editor senior di penerbit yang ane kenal lewat sebuah workshop, sebelum intens komunikasi membicarakan beberapa agenda. Seperti naskah yang ane kirim padanya. Hasil nulis bareng- bareng dengan komunitas, KomalkuRaya, Komunitas Menulis Buku Malang Raya dan Sekitarnya.

Seneng sih diperhatikan, meski via chat saja. Secara ane memang punya kontaknya, jadi ane nguber bener. Demi kawan- kawan juga, supaya bisa segera diterbitkan. Mayor euy, sesuatu kan? Meskipun antologi. Langkah awal buat pembelajaran sebelum jadi solois.

Koreksi itu tentang pengiriman naskah. Dia minta lewat e mail, lengkap, jangan ada revisi susulan. Jadi naskah yang dikirim harus sudah fiks, jangan dirubah lagi.

Spoiler for 5 Langkah Awal Mengirim Naskah Ke Penerbit Mayor:


Kelima hal itu akan diperhatikan penerbit mayor untuk melanjutkan penilaian atas karya agan dan sista. Kalau layak terbit maka kita akan dihubungi, membicarakan kontrak juga royalty.

Kalau tidak, kadang diberitahukan, kadang tidak pula. Baiknya kita yang pro aktif menanyakan. Sebab naskah yang masuk ke mereka juga seabrek. Setiap hari ada saja penulis yang mengirim naskah. Mencoba peruntungan untuk diterbitkan.

Nah agan dan sista yang punya keinginan menerbitkan naskah lewat mayor 5 langkah pembuka itu bisa dicoba. Jangan takut ditolak coba saja dulu. Dari tulisan tulisan kita di Kaskus ini bisa juga loh. Mayor tidak membatasi, asal belum pernah diterbitkan tempat lain oke saja. Kriteria utama menurut saya sebetulnya adalah, layak dijual apa tidak. Adakah pangsa pasarnya?

Kalau agan dan sista merasa karya yang dipunya bakal laku keras di pasaran. Kirim saja, jangan ragu. Siapa tahu dewi fortuna sedang berpihak kepada kita. Okeh. Yuk Gan ngirim naskah ke Penerbit Mayor.










profile-picture
profile-picture
profile-picture
liliek.pur dan 70 lainnya memberi reputasi
memiliki buku yang diterbitkan penerbit ternama tentunya ada prestise tersendiri karena proses penerimaan naskah untuk diterbitkan yang tidak mudah (utamanya yang belum pernah sebelumnya) dan kualitas dari tulisan tentu memiliki bobot yang lebih mantab dari obesitas.

tapi menurut saya dengan transformasi telepon pintar yang dapat berubah wujud menjadi apa saja (jadi televisi, bioskop, pasar jual beli, uang, buku, kertas dan pena) memiliki peran terhadap naik turun penjualan buku, atau juga koran dalam bentuk fisik.

yang saya penasaran adalah bagaimana menjadi seorang penulis buku profesional apakah bisa menjadi penopang kehidupan dalam perekonomian saat ini? tentunya akan sangat subyektif juga jawabannya, jika laris manis bisa kaya raya atau tiada penjualan pasti tanpa royalty.

saya jadi ingat teman yang menyusun buku memberikan komentar bahwa seorang penulis di luar negeri menghasilkan 1 buku mampu untuk sumber penghidupan setengah tahun atau setahun bahkan lebih.

kalau jadi penulis buku di Indonesia jangan berharap begitu (ucapan beliau).

akan lebih spesifik lagi yang saya penasaran, bagaimanakah kans untuk penulis buku yang newbie atau pemula berharap menyandarkan perekonomian dari hasil royalty? bisa digambarkan hehehe...

profile-picture
aniesday memberi reputasi
profile picture
TS aniesday
kaskus addict
awaw..kalau dpt dari buku itu sm dg rejeki ya. Sdh ada yg mengatur. penulis ternama kadang bukunya tidak laku. sebaliknya yang tidak populer bisa laris manis. Menyandarkan dari profesi menulis? Boleh, asal profesional. jadikan pekerjaan. tentu harus siap pula jatuh bangun seperti usaha lain sebelum meraih kesuksesan.

Kans penulis newbee? sama kok. Peruntungan tetap tergantung Tuhan. Menulis di Kaskus salah satunya, kalau dijadikan profesi bisa dijadikan sumber penghasilan. Beberapa kaskuser mampu meraih jutaan rupiah tiap bulan dari hanya menulis saja. keren bukan? salam
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di