CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Bisik Kematian (Based On True Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cafc8572f568d4e05260a43/bisik-kematian-based-on-true-story

Bisik Kematian (Based On True Story)


Sumber : pixabay.com


Cerita yang ada di sini adalah berdasarkan kisah nyata yang berhubungan dengan kematian. Percaya atau tidak, aku mengalami semua kejadian ini. Mungkin bagi kalian ini hal yang biasa, buatku ini mengerikan.

Jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan cerita selanjutnya. Jangan lupa kasih cendol dan komentar juga ya. Mohon maaf kalau tidak sesuai bayangan kalian.

...

Kami berdua di rumah, tentu saja tidak boleh ikut ke rumah sakit. Kabar mengejutkan itu datang dari keluarga ibu. Buliknya saat ini sedang berada di rumah sakit.

"Ibu pulang jam berapa?" tanyaku pada adik yang sedang asik nonton ftv kesukaannya.

"Mungkin sore, tadi nggak bilang apa-apa sih."

Aku memang belum di rumah ketika bapak ibu berangkat. Rumah terasa sepi, jadinya ikut nonton sama adik.

"Mbak," panggil Kemala.

"Masuk aja," teriak adikku tanpa mengalihkan perhatian.

Bukan hanya Kemala yang masuk rumah, ternyata ada Wanda dan juga Lydia. Mereka ikut bergabung dengan kami.

Sering kali orang salah menilai rumah kami. Penuh dengan anak gadis dan pintu yang berderet membuat orang mengira ini adalah kos-kosan. Padahal kami berkumpul karena semua orang tua sibuk bekerja jadi lebih baik menghabiskan waktu di satu tempat.

Hari-hari kami seperti ini. Bermain bersama, nonton tv dengan heboh. Apa lagi kalau nonton tayangan vampir, hantu cina yang melompat-lompat.

Suara teriakan terdengar. Buru-buru tutup mata tapi masih ngintip dikit-dikit karena penasaran. Vampir buat kami tegang yang nonton.

Menjelang sore, teman-teman berpamitan mau mandi. Sebentar lagi orang tua mereka datang. Kalau hari-hari normal sih orang tua kami yang pulang duluan, tapi ini tidak seperti biasanya.

"Sudah jam segini kok belum pulang juga ya, Mbak?"

"Mungkin nggak ada yang gantiin nunggu." jawabku.

"Makan dulu aja, yuk."

Belum juga beranjak untuk mengambil makanan, telepon yang ada di ruang keluarga berdering. Adikku melesat mengangkat telepon mendahului. Pasti sudah kangen banget sama ibu.

"Ibu kapan pulang?"

"..."

"Oke," balasnya sebelum menutup panggilan.

Adik menatap lesu ke arahku. "Ibu pulang malam, Mbah Lik dirawat di ICU. Nggak ada yang nungguin."

Aku maklum dengan tindakan ibu karena Mbah Lik yang sedang sakit sudah seperti orang tua kedua bagi beliau. Sejak dari kecil ibu sudah bersama keluarga Mbah Lik.

"Paling juga nggak lama lagi meninggal," ujarku tanpa bisa dicegah.

Bola mata adik membesar. "Mbak ini lho. Kalau ngomong dijaga. Gimana kalau keluarga Mbah Lik ada yang dengar? Pasti tersinggung. Masa nyumpahin cepet meninggal."

Aku tahu ini salah, tapi perkataan ini meloncat keluar tanpa bisa diperiksa. Aku bahkan tidak memikirkan hal itu. Memang terdengar keterlaluan. Mungkin harus menahan mulut baik-baik biar nggak terlontar kata-kata seperti itu lagi.

Dering telepon kembali terdengar. Adik mengangkatnya sambil masih memandang tajam diriku. Sudah seperti ibu memarahi anaknya saja.

"Apa? Iya, kami ke sana." Tubuh adik gemetaran ketika menutup telepon.

"Ada apa?" Kusentuh bahunya.

"Mbah Lik meninggal, kita harus segera ke rumahnya."

Aku tertegun, perkataan yang keluar ini benar-benar terjadi. Ini pasti hanya sebuah kebetulan semata.

-bersambung-

Jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan cerita selanjutnya. Kasih cendol dan komentar juga ya. Ini salah satu penyemangat TS buat update 😊
profile-picture
profile-picture
profile-picture
awangho dan 70 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie

(New) Bisik Kematian

Part 1 Mimpi Ular


Sumber : pixabay.com


Lori berubah pikiran nih. Semangat banget mau update lagi. Sebelum baca cerita ini, sekali lagi Lori mau ngasih tau kalau cerita yang bakal di update selanjutnya terinspirasi dari cerita sebelumnya dan mengalami banyak perubahan.


...

Satu, dua, tiga... entah berapa banyak jumlah ular yang memenuhi lantai kamar membuat kaki Tia lemas gemetaran. Dia sudah tidak mau berhitung lagi karena memusatkan perhatian pada pintu dan jalan keluar dari semua ini hingga memaksa otaknya bekerja lebih keras karena tidak mau terkurung dengan binatang melata yang sangat ditakutinya itu.

Matanya memindai sekeliling dan merasa heran, menghilang kemana semua barang-barang yang ada di kamar dan kenapa berubah menjadi ular-ular yang mendesis begitu berisik. Kemana pula teman-teman sekamarnya menghilang, kenapa hanya ada dia ditemani oleh puluhan ular.

Kerasnya tongkat terasa dalam genggaman tangan Tia, ini kesempatan untuk menyingkirkan ular-ular yang menghalangi jalan menuju ke pintu kamar. Herannya, ular-ular itu dapat dengan mudah dihalau pergi membuat Tia merasa lega.

Namun itu rencana itu tidak berjalan mulus karena ada sepasang ular berwarna hitam yang tak mau beranjak dari jalannya meskipun sudah disodok menggunakan tongkat kayu.

Ular yang berukuran sebesar paha orang dewasa bersiap-siap menyerang sedangkan yang lebih kecil merayap mendekati Tia. Tubuh cewek itu membeku ketakutan ketika merasakan belitan ular kecil mengencang di pergelangan kaki.

Dia berteriak minta tolong, tapi tak ada suara yang terdengar seperti ada yang menutup mukanya dengan bantal lalu menekannya keras-keras.

Ketika pandangannya bertemu pandang dengan mata ular besar, terdengarlah bunyi mendesis. Tia terhuyung ketika menghindari serangan ular besar. Ketika ular itu kembali memamerkan lidah bercabang dan gigi taringnya, Tia tahu kalau serangan kedua akan diluncurkan, tapi terlambat karena dia sudah tidak bisa menyeimbangkan tubuh lalu terjatuh.

Namun sensasi perut bergejolak yang harusnya dibarengi dengan rasa sakit pada pantat karena jatuh terduduk tidak dialami oleh Tia. Dia malah merasakan tubuhnya terayun ke depan. Ketika kembali membuka mata, dia terkejut karena mendapati berada di dalam kamar asramanya dengan suasana normal.

Udara malam yang dingin membuat tubuh Tia mengigil, sepertinya Lastri kembali lupa menutup jendela. Dia memperhatikan lantai dengan seksama untuk mencari jejak puluhan ular yang tadinya berada di sini sebelum memberanikan diri menjejakkan kaki di lantai. Ini pasti mimpi, dia tadi pasti bermimpi. Semoga hanya sekadar bermimpi, tapi dia sama sekali tidak pernah bermimpi normal. Semua mimpinya terasa nyata dan mengerikan.

Sore harinya setelah pulang kuliah Tia segera meluncur ke rumah. Memanggil Papa dan Mama dengan kepanikan tingkat tinggi ketika mendapati pintu ruang tamu tidak terkunci dan lampu-lampu masih belum dinyalakan padahal hari sudah menjelang malam. Tia menyalakan lampu satu-satu, hingga akhirnya mendapati Mama yang duduk di lantai dapur, kepalanya bersandar lemah pada pintu kulkas. Terdapat jejak air mata di wajahnya. Tia berlari mendekat lalu ikut duduk di lantai.

“Ma? Apa yang terjadi? Mana Papa? Kenapa Mama menangis?” Tia menyentuh bahu Mama lalu membantunya bangkit agar bisa duduk di kursi.

Suara yang keluar dari mulut Mama begitu lirih hingga nyaris tidak bisa ditangkap sepenuhnya. “Apa? Sepertinya aku kurang jelas yang dengar. Tadi Mama bilang apa?” Tia mendekat sambil menyisipkan poni yang sudah mulai panjang ke belakang telinga.

Suara helaan napas terdengar begitu putus asa. “Papa baru di rumah sakit, menunggu selingkuhannya yang sedang sakit.”
Tubuh Tia lemas seperti tak bertulang hingga harus menjatuhkan diri ke sofa terdekat.

Aura kegelapan bergulung-gulung terasa seperti mencekik leher membuatnya kesulitan bernapas. Mungkin ini sebabnya dia begitu ingin pulang ke rumah sampai dibela-belain izin ke ibu asrama karena belum saatnya pulang.

Firasat buruk ini bukan menyangkut kesehatan orangtuanya, tapi tentang kehadiran pelakor dalam rumah tangga mereka. Belum pernah dirinya sampai sekaget ini ketika mendengar kabar buruk.

“Tia!” Mama bangkit lalu menghampiri anak semata wayang yang terlihat begitu terpukul. Dia lalu bersimpuh agar dapat memeluk Tia.

“Sejak kapan Mama tahu kalau Papa berselingkuh di belakang Mama?” Tia memandang jauh ke depan, inginnya hanya memandang tembok, tapi sepasang mata ramah bertemu pandang dengannya. Sesosok wanita berwajah pucat memakai kebaya berwarna senada itu tersenyum, tapi menyiratkan kesedihan. Tia merasa terhubung begitu dekat karena wajahnya terlihat akrab. Perlahan-lahan sosok itu memudar. Namun sebelum meghilang sepenuhnya, Tia masih bisa menangkap anggukan kepala yang membuat perasaannya bergejolak. Butiran air mata mulai turun membasahi pipi mulus Tia.

Mama menelan ludah dengan susah payah. Akhirnya tiba juga hari dimana dia harus berterus terang pada anaknya. Di sisi lain dia merasa lega karena dapat mengeluarkan beban yang sudah begitu lama menghimpit hingga membuatnya kesulitan bernapas. Perlahan-lahan diuraikannya pelukan itu lalu duduk bersimpuh.

“Zahra dulu adalah satu-satunya sahabat Mama, kemana-mana selalu bersama. Dia cantik dan sering berganti pacar karena cepat bosan. Hingga akhirnya Mama bertemu dengan Papa, kami sering kencan berempat. Tanpa Mama tahu kalau Zahra juga mendekati Papa dan mereka mulai menjalin hubungan di belakang Mama.” Ada jeda cukup lama, Mama terlihat merenung. Enggan untuk melanjutkan.

Tangan Tia terulur untuk menggenggam tangan Mama yang masih halus walau pun usianya sudah menjelang empat puluh tujuh. Mama mengangkat kepala untuk melihat ke dalam mata Tia, mencari tahu tentang reaksinya.

“Mama kira setelah mereka ketahuan, hubungan mereka akan berakhir karena Papa langsung melamar Mama. Bodohnya Mama mempercayai Papa dengan begitu dalam hingga tidak melihat kalau itu hanya cara Papa untuk menenangkan amarah Mama.

Suatu hari Mama kembali melihat mereka berdua jalan bergandengan tangan dengan begitu mesra. Perut Zahra buncit, Mama langsung tahu kalau anak yang dikandung Zahra adalah anak Papa. Padahal waktu itu Mama juga sedang mengandungmu.” Mama mengelus rambut Tia dengan penuh kasih sayang.

Tia memejam untuk menikmati rasa sayang itu. Namun sedikit demi sedikit amarah menggelegak di dalam hati. Ingin rasanya dia mendatangi Papa saat ini juga dan menariknya menjauh dari rumah sakit. Menjauh dari duri yang menusuk rumah tangga kedua orang tuanya.

Suara dering yang menandakan panggilan masuk di gawai Mama membuat mereka berdua tercekat. Nama Papa tertulis di layar membuat Mama segera mengangkat panggilan itu.

“Papa akan menginap di rumah sakit. Beliau akan pulang sebentar untuk makan malam dan mengambil baju ganti. Sebaiknya Mama menyiapkan makanan dan mulai mengemasi baju Papa," kata Mama setelah menutup panggilan. Beliau lalu bangkit sambil memijit-pijit kakinya yang kesemutan karena terlalu lama bersimpuh.

Tangan Tia menarik tangan Mama membuat beliau menghentikan langkah, menoleh untuk menanyakan maksud anaknya.

“Kenapa Mama masih mau melakukan ini semua?” Tia menyembunyikan wajah mendungnya dengan menunduk.

“Karena kamu. Mama tidak mau kamu memiliki keluarga yang hancur karena orang tuanya berpisah.”

Isak tangis yang tadinya sudah berhenti kini malah terdengar lebih keras. “Maafkan Tia, Ma. Selama ini terlalu menuntut perhatian kalian hingga Mama mengorbankan perasaan agar Tia bahagia.”

Senyum terukir di wajah Mama, tapi Tia tahu kalau itu terpaksa dilakukan Mama agar perasaan Tia menjadi lebih baik. Tia melepaskan tangan Mama lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.

Entah berapa lama Tia larut dalam diam. Dirinya kembali bisa berpikir ketika mendengar deru mobil Papa yang di parkir di garasi. Rasanya dia tidak bisa menghadapi Papa untuk saat ini hingga memilih untuk kabur ke kamar.

Tia tertawa pilu ketika tak sekali pun Papa menanyakan keberadaannya selama berada di rumah. Beliau berangkat lagi ke rumah sakit juga tanpa berpamitan padanya. Malahan Mama yang mengunjunginya ke kamar sambil membawa piring berisikan nasi dan sayur kangkung serta tempe goreng kesukaannya.

Gelengan lemah dari Tia tidak membuat Mama beranjak menjauh, beliau malah duduk di tepi ranjang dan berusaha membujuk agar mau makan.

Tia membuang muka, kemudian kembali mendapati sosok wanita berkebaya itu kembali menatapnya. Ini sudah kedua kalinya Tia kontak mata dengan makhluk halus, ini benar-benar di luar kebiasaan. Selama ini dia sudah berhasil berpura-pura tidak bisa melihat jenis makhluk halus yang sering kali bermunculan. Namun kali ini sungguh tak mampu untuk berpaling.

Sosok wanita berumur awal empat puluhan itu menggeleng kuat-kuat seolah-olah tidak membenarkan tindakan mogok makan yang dilakukan oleh Tia. Dia menggerakkan dagu ke arah Mama membuat Tia menoleh untuk melihat Mama. Hatinya seolah-olah diremas dengan kuat ketika melihat tatapan kosong Mama.

“Ma, Tia mau makan,” ucapnya.

Tubuh Mama menegang kemudian menyuapi Tia dengan penuh haru. “Tia yang kuat ya,” pintanya.

Piring itu berpindah tangan ke Tia karena tidak mau melihat Mama tambah bersedih kalau dia tidak mau makan. Sekejab kemudian piring sudah licin tanpa ada satu butir nasi pun yang tersisa. Mama dan Tia sama-sama tersenyum.

Dari sudut matanya, Tia dapat melihat sosok berkebaya itu juga tersenyum sebelum kembali menghilang.

...

Jangan lupa share cerita ini kalau kamu menyukainya. Biar lebih banyak lagi yang baca.

Indeks cerita bisa di klik di sini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie
profile picture
jiyanq
kaskus addict
Pembukaan yg suram...
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di