CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
WHO Tak Sarankan RI Deteksi Kasus Corona Lewat Rapid Test
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e9f067d82d4954402200faf/who-tak-sarankan-ri-deteksi-kasus-corona-lewat-rapid-test

WHO Tak Sarankan RI Deteksi Kasus Corona Lewat Rapid Test

Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak menyarankan penggunaan rapid test anti-bodi atau tes cepat untuk mendeteksi kasus virus corona (Covid-19).

Perwakilan WHO untuk Indonesia, dr. Navaratnasamy Paranietharan, mengatakan selama ini WHO hanya melakukan rapid test untuk keperluan penelitian saja, bukan untuk mengonfirmasi kasus positif atau negatif corona.

"WHO tidak merekomendasikan penggunaan diagnosa rapid test berdasarkan anti-bodi sebagai pemeriksaan penanganan wabah corona atau penanganan pasien. Kami tidak merekomendasikan itu," kata Paranietharan saat mengisi webinar yang digagas Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI secara pada Selasa (21/4).


Pernyataan itu diutarakan Paranietharan saat menjawab pertanyaan Wakil Ketua BKSAP, Charles Honoris, terkait apakah rapid test digunakan di negara-negara lain dalam hal penanganan penyebaran wabah corona.


Sebab, menurut Charles, pemerintah Indonesia menggunakan dua metode yaitu antibodi rapid test dan Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RTPCR) atau tes PCR dalam pemeriksaan corona.

Paranietharan menuturkan sejauh ini WHO menilai tes PCR merupakan standar utama. Ia menegaskan bahkan WHO tidak pernah memasukan hasil pemeriksaan menggunakan rapid test ke dalam perhitungan kasus corona yang terkonfirmasi.

"Kami tidak menghitung hasil rapid test sebagai kasus terkonfirmasi. PCR adalah standar emas dan kami selama ini mempertimbangkan kasus terkonfirmasi berdasarkan hasil tes PCR," ucap Paranietharan.

Dalam webinar bertajuk Peran Parlemen dalam Kerja Sama Internasional Penanggulangan Covid-19, Wakil Ketua Dewan Rakyat Malaysia, Mohd Rashid Hasnon, turut bertukar pengalaman bahwa Negeri Jiran juga tak menggunakan rapid test untuk mendeteksi kasus corona dan menekan angka penularan.

Rashid menuturkan pemerintah Malaysia sejauh ini mengandalkan pemeriksaan tes PCR atau melalui pengambilan cairan saluran pernapasan (swab) yang dinilai lebih akurat.

Malaysia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki kasus corona cukup tinggi tetapi dengan angka tingkat kematian yang rendah. Per hari ini, berdasarkan Worldometer, Malaysia tercatat memiliki 5.425 kasus corona dengan 89 kematian.

Pertanyaan mengenai perbedaan rapid test dan tes PCR memang terus bermunculan, terutama setelah pemerintahan Presiden Joko Widodo berencana melakukan pemeriksaan massal rapid test untuk mendeteksi kasus virus corona di dalam negeri.

Dalam rapat terbatas melalui telekonferensi pada 19 Maret lalu, Jokowi menginstruksikan agar segera dilaksanakan rapid test corona massal di Indonesia agar bisa mendeteksi dini indikasi awal seseorang terpapar Covid-19.

Agar rapid test Covid-19 berjalan lancar, Jokowi meminta Kementerian Kesehatan agar segera memperbanyak alat dan tempat tes. Tak hanya Kemenkes, Jokowi juga meminta rumah sakit pemerintah, BUMN, TNI-Polri, hingga swasta turun tangan demi kelancaran rapid test massal.

Jokowi menyatakan pelaksanaan rapid test sudah dimulai sejak 20 Maret lalu, terutama di wilayah paling rawan termasuk DKI Jakarta.

Cara rapid test adalah dengan mendatangi rumah warga yang terindikasi melakukan kontak dengan pasien positif, untuk kemudian dilaksanakan tes corona.


https://m.cnnindonesia.com/internasi...wat-rapid-test


Sungguh pembelian rapid tes dan clorokuin yang sia sia emoticon-Imlek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sebelahblog dan 65 lainnya memberi reputasi
blm lama padahal who menyarankan tes, tes dan tes dgn segala daya. giliran skrg udh pada gerak cepat rapid tes dibilang ga berguna.

pantes aja di cut trump dananya klo who isinya tukang stempel doang macam dpr gini...kemaren disinfektan dilarang pdhl cina make duluan, skrg rapid tes.

kimak kali ini lembaga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
arofi13 dan 23 lainnya memberi reputasi
profile picture


Ya who nya jg plin plan.. Kmrn itu bilang yg pake masker cuma untuk org sakit.. Gw sampe kasih edukasi jg ke orang2 sekitar krn banyak yg make masker pdhl sehat

Skrg semua orang disuruh pake masker.. Dah kayak orang tolol gw dalam sebulan kasih edukasi yg kontradiksi emoticon-Cape d... (S)
profile picture
@anggreiawan1989 sebenerny ga salah kok WHO
masker itu d pake.biar yg sakit tuh bersinnya ga nular (krn ga bisa nyemprot kan ketahan masker)

knp skrg wajib pake masker ? krn positif undetect & tanpa gejala tu ga jelas ada brp
Bisa aja lo ketemu d mall ternyata positif
Ato jgn2 temen kantor lo positif
Ato jgn2 lo sendiri positif

paling gampang ya se dunia maskeran aja
jdi ga bisa nular & case cepat berlalu
profile picture
@carlito256gmail nah kan kenapa gk dr awal gitu aja? Ini hitungan hari lho berubah nya.. Kalau bedanya beberapa bulan masih mending.. Itu baru masker, belum disinfectant..

Mungkin test ini itu jg gitu kali atau mungkin kedepannya obat dan vaksinnya..

Intinya sih karena virus ini masih baru dikenali jd jangan gegabah dalam memberikan info.. Takutnya nnti sudah diambil kebijakan tahunya salah, kan amsyong jdnya.. Ujung2nya nnti dijadikan alat sm oposisi dlm menjatuhkan pemerintahan emoticon-Hammer (S)
profile picture
@anggreiawan1989 awal2 kan masih dikit bgt
masih gampang ter tracking jg

skrg soalny ud ga jelas smua
itu data d worldmeter jg aslinya ga jelas kok
gw yakin yg positif bisa 10x drpd data
wong yg undetect banyak bgt


itu disinfektan kan bkn saran WHO
WHO lebih menyarankan cuci tangan 20 detik
ga tau sapa yg awalnya bikin hand sanitizer & disinfektan hype
profile picture
@carlito256gmail serem bener kalau sampe 10x drpd yg didata..

Gw serasa mimpi nih.. Perasaan baru tahun baru kemarin merayakan tahun baru dengan banjir2an tau2 skrg dah kena wabah yg gk jelas kapan kelarnya? Apa obatnya? Dan terus bertambah korbannya.. Dah kayak di film2 aja emoticon-Hammer (S)
profile picture
@anggreiawan1989 kalo buat kita2 sih aman bro
dr data korea aja.umur 20 - 30 tuh yg fatal (ampe masuk RS pake bantuan nafas) cuma 0.1% dr yg positif
yg meninggal 1:4
yg artinya.umur2 kita tu rate mati cuma 0.025%
99.9% lainnya hanya positif tanpa gejala
0.075 jegok2 d RS
Gw rasa kalo kita mati ya udah takdirlah emoticon-Ngakak


yg menakutkan yg ortu
org tua 60+ rate masuk RS 10%++
dgn rate kematian 7%
dan sampe hari ini.sudah 4 org yg gw kenal meninggal krn covid (org tua)
anaknya ? sehat walafiat tanpa gejala smua kok yg umur 30 an
padahal serumah



Knp indo tinggi ?
Ya krn tadi itu
Yg ga kedata banyak bgt
Jujur 2 org yg gw kenal itu.sudah meninggal dr feb
Dan sampe skrg ga masuk data meninggal krn covid
profile picture
@carlito256gmail ya teorinya kan seperti itu. Tp realita di lapangan, semuanya takut keluar rumah.. Yg tua bs mati karena corona, yg muda bs stress atau mati krn gk bs kerja.. Kudu bayar cicilan dan kudu makan

Jd ujung2nya semua lini kena impact jg
profile picture
@anggreiawan1989 emang ekonominya yg lebih serem
gw lebih prefer kata2 trump sih
smua balik kerja.biarkan seleksi alam yg bekerja
krn klo ekonomi jebol.yg chaos + mati kelaparan bakal lebih banyak
profile picture
Terawan ngomong masalah masker juga sumbernya WHO malah terawan yg dibully emoticon-Ngakak
profile picture
striver
aktivis kaskus
@anggreiawan1989 @carlito256gmail mulai corona di indo kan maret gan
profile picture
@striver @anggreiawan1989 itu kan claimnya presiden
emang lu percaya dr maret ? 😂😂
wong penerbangan indo - wuhan tuh ada kok
profile picture
dr.anonymous
kaskus maniac
@PneumonoCyclone nah ini yg anehnya dr +62.

negara2 lain hanya ikutin protokol keselamatan terkait covid19 doang kok, sisanya who cm nyuruh cuci tangan doang. ya wajar negara2 lain cari cara utk segera matiin ini wabah termasuk disinfectan dll. gw dirumah bikinin disinfectan alami dr sirih dan cuka apel ples aromaterapi malah diketawain tetangga, ya udah lu hirup aja itu kimia emoticon-Ngakak
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 12 dari 12 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di