CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Dilema Trend “Sobat Hijrah”
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e941d80b84088505320d911/dilema-trend-sobat-hijrah

Dilema Trend “Sobat Hijrah”

      


            Hijrah, berasal dari bahasa Arab yang berarti 'meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat'. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syariat Islam. Makna hijrah pada era sekarang adalah meninggalkan yang buruk dan mendekati yang baik. Nah, pada era modern seperti sekarang ini, semangat gerakan hijrah kembali digaungkan oleh para ustadz, influencer, dan para pemuda/pemudi yang mencari jati diri dalam beragama.
            
            Namun, banyak tingkah-tingkah pemuda/pemudi yang melakukan hijrah hingga mungkin barangkali membuat kita gemas. Beberapa faktor penyebabnya adalah pandangan mereka tentang hijrah itu sendiri, modernitas kehidupan, dan pengaruh lingkungan. Di era sekarang ini untuk mengaji tidak harus pergi ke pondok pesantren ataupun harus datang ke pengajian di suatu tempat. Alih-alih harus pergi ke suatu tempat, di era sekarang untuk mengaji bisa di dalam kamar tanpa harus keluar rumah. Mudah, kan.




           Di era sekarang, untuk berdakwah tidak melulu harus berada di mimbar, ustadz bisa menggunakan media sosial sebagai tempat untuk berdakwah. Media yang digunakan untuk berdakwah oleh para ustadz beragam, Whatsapp, Telegram, Instagram, Twitter, Facebook, dan Youtube, atau dengan mengetik nama ustadz di search engine, kita bakal dapat dengan mudah menemukan materi-materi kajian yang disampaikan oleh ustadz tersebut. Mudah memang, namun kita harus dapat memilah mana ustadz yang benar dan mana yang ya gitu deh, kita harus cermat dalam memilih dan memilah, seperti latar belakang ustadz tersebut, lulusan mana, belajar sampai tingkat apa. Barangkali sepertinya sekarang ini untuk menjadi ustadz tidak terlalu sulit, sebut saja Ustadz Bangun Samudra, hanya dengan mualaf dan mengaku lulusan S3 Vatikan, bisa jadi ustadz yang terkenal. Di tempat lain, ada ustadz yang berdakwah dengan berapi-api, menyerukan perang, mencap siapaun yang tidak sepemikiran sebagai kafir. Hmm, bukankah Nabi mengajarkan untuk berdakwah dengan santun?




             Sobat hijrah, dalam keseharianya ber-sosmed biasanya pasang status WA, IG, dan Facebook dengan gambar gambar dengan caption untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, namun terkadang, mereka share status berita hoax, dan ketika ditanyai, jawaban yang diterima adalah, “Lha, saya dapet dari grup dan disuruh nyebarin” Hmmm, menggelikan memang, apalagi sudah berada di bangku kuliah, yang seharusnya cara berpikir sudah modern dan menggunakan logika secara tepat sehingga tidak mudah dibohongi oleh hoax. 




             Sobat hijrah, menggaungkan ajakan untuk mengikuti sunnah. Sunnah, secara bahasa memiliki arti Jalan, dan Gaya Hidup, dalam pengertian hukum, berupa apabila dikerjakan mendapat pahala, dan jika tidak dikerjakan tidak apa apa, dan dalam pengertian ilmu hadist, sunnah berarti ucapan atau tindakan yang dilakukan Nabi. Ini saya kira sebuah hal yang bagus, tapi jangan lupa dengan hal yang wajib ya, wkwkwk.



            Ketika pergi ke masjid pakaian yang dulu memakai kaos, celana jeans, sekarang berganti menjadi gamis, dan  perempuan, yang dulu jilbab sampai pundak sekarang diganti jilbab yang panjang, dan memakai niqab. Di sisi lain, yang sudah bertahun-tahun ngaji di pesantren menggunakan baju batik atau kadang baju koko yang sederhana dan memakai sarung, dan peci khas berwarna hitam seperti yang digunakan bapak-bapak di belakang buku iqro. Sebenarnya tidak ada masalah dengan pakaian, namun ketika mereka lantas merendahkan orang lain yang tidak memakai gamis/niqab, dan menganggap merekalah paling dekat dengan Tuhan, itu yang barangkali kurang benar. Panggilan mas, mbak, sekarang berganti menjadi akhi, ukhti, aneh memang, saya malah baru mengenal istilah itu pada saat semester 1 kuliah pada 2018. Yang dulu profil picture WA nya foto selfie, kini berganti dengan kaligrafi arab. Yang dulunya koleksi lagu dan musik sampai ratusan, kini dihapus dan diganti koleksi murrotal. Yang dulu tidak peduli dengan kehidupan orang lain, sekarang berubah menjadi polisi moral dengan dalil yang didapat dari hasil browsing. Mungkin kita masih mengingat apa yang terjadi di Sragen beberapa waktu yang lalu, anggota rohis yang meneror siswi hanya karena tidak mau mengenakan jilbab, sampai menghina ayahnya karena tidak mau menasehati siswi tersebut. Hmmm, ngeri. Yang dulu masih berpacaran, diputusin dengan alasan ingin menghindari zina dan ingin mendekatkan diri kepada Allah. Di tempat lain, ada seorang teman saya yang dulu aktif mengajak untuk mengikuti kajian di masjid kampus, dan dia juga mengatakan kepada saya untuk tidak pacaran, karena menurutnya pacaran itu dosa, selang beberapa bulan, malahan teman saya itu mendapatkan pacar, hmmm. Apa mungkin saya terlalu polos menganggap teman saya itu sudah menanggalkan keinginan untuk berpacaran atau karena faktor yang lain sata tidak tahu.



            Trend sobat hijrah bisa menjadi positif dan negatif, tergantung jika dilihat dari sudut mana. Seperti apa yang dikatakan oleh Mbak Kalis Mardiasih, Hijrah jangan jauh-jauh, nanti nyasar, wkwkwkwk.

            Sekian artikel saya yang sederhana ini. Ini hanya berisi opini, pengalaman pribadi. Saya meminta maaf jika ada kesalahan dalam menulis artikel ini.
Sekian dan terimakasih.

Spoiler for Sumber ::


profile-picture
profile-picture
profile-picture
infinitesoul dan 52 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agungwahyukw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhammadafdal15 dan 21 lainnya memberi reputasi
profile picture
TS agungwahyukw
aktivis kaskus


Mantab gan.
emoticon-2 Jempol
profile picture
anti.suap
kaskus geek


Adat budaya nusantara yang seperti apa sih? Budaya asli.
Bahasa indoneaia juga bukan budaya asli.
Bung karno pake jas, peci juga bukan budaya nusantara.
Demokrasi juga produk import.
Apalagi komunis jaman soekarno. Asli prodeuk import
profile picture
echotechno007
kaskus maniac
@anti.suap
Bukan itu intinya. Intinya adalah "Pisahkan agama dengan budaya"

Bahasa Indonesia emang bukan budaya asli, tetapi bahasa Indonesia udah "diakui" sebagai budaya Indonesia.

Gw muslim, gw suka pakaian tertutup (ala arab) walau gw gak make, tapi gw gak suka ada orang merendahkan sarung hanya karena dia pakai gamis, merendahkan orang yang pake loe-gue karena dia pakai akhi-ukhti.

Di mata gw, mau pakai gamis, sarung, goni, ato daun sekalipun sama aja selama menutup aurat dengan baik.

Yang gw gak setuju adalah mereka yang merasa "lebih islami" hanya karena pakai gamis dan panggilan akhi-ukhti kemudian merendahkan orang lain (yang bahasanya sopan dan sudah menutup aurat)

Gw gak suka orang yang sok inggris, sok arab, sok jepang dll. Kalo mau pake bahasa arab ya sekalian aja totalitas semua pake bahasa arab, begitupun dgn bahasa lain, gak usah dicampur campur gitu
profile picture
anti.suap
kaskus geek
@echotechno007
pisahkan agama dan budaya?
coba lu ngomong gitu sama orang kristen, hindu, budha.
di kristen pendeta pake baju adat?
hindu sama budha gimana?

kalau mau membahas agama harus fair. karena agama yg di indonesia semua nya import.
otomatis budaya nya juga ikut import juga.
pakaian pendeta, bhiksu, nama baptis itu budaya import semua.
gimana cara misahin nya?
profile picture
cantik2502
kaskus holic


Kristen ama yahudi beda agama kan.. Atau sama 🤔
profile picture
echotechno007
kaskus maniac
@anti.suap
kayaknya gw salah pilih diksi deh jadi salah paham. gw liat di bawah ada yang penjelasannya lebih mudah dipahami. entar gw SS.in

Maksud gw misahin tuh gini, Kristen di Roma dan Kristen di batak bisa jadi pakaiannya beda, tapi apakah pendeta di batak lebih buruk dari pendeta di Roma?
itu poin gw

Edited

Spoiler for "ini post yang gw maksud":
profile picture
echotechno007
kaskus maniac
@cantik2502 beda, twit yang gw ambil sebenernya kurang pas juga menurut gw. Kristen dan Yahudi itu agama yang berbeda, Yahudi = agama, Israel = suku bangsa

Israel identik dengan Yahudi, kayak Arab yang identik dengan Islam. Walau salah tapi itu udah terlanjur jadi stereotipe
profile picture
anti.suap
kaskus geek
@echotechno007 ane jelasin gan biar nggak salah persepsi.
dalam islam tuntunan agama itu ada 2.
Al Quran dan hadist.
nah hadist paham kan secara ente islam.
nih ane comot penjelasanya dari google
adalah perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad yang dijadikan landasan syariat Islam.
Jadi sebenernya umat islam bukan ngikutin budaya arab.
Tapi ngikutin Rasulullah.
Nah Rasulullah orang arab. Jadi mau nggak mau ya kita jadi ambil sebagian budaya arab yang Rasulullah lakukan.

Banyak kok budaya arab yang bukan budaya islam.
Tidak semua budaya arab adalah budaya islam.
Jadi jangan salah persepsi.
Kita orang islam ngikut budaya Rasulullah. Bukan budaya arab
profile picture
anti.suap
kaskus geek
@echotechno007
balik lagi yang ente bilang pisahkan budaya dan agama.
ya nggak bisa.
di kristen sendiri ada gereja batak, gereja jawa, ada yg kiblat nya vatican yang ane ga tau apa namanya. ada yang saksi jehovah.
itu semua menggabungkan agama dan budaya.
pernah liat gereja batak tapi pake budaya jawa atau minang?

kalo masalah merasa lebih baik atau merasa lebih tinggi itu ikutnya sudah masalah personal. bukan agama nya lagi.
tergantung orang nya gan.
ada yg celana cingkrang, jenggot tebal, jidat hitam tapi orang nya rendah hati. merasa dirinya manusia penuh dosa. selalu istigfar.
ada yang sombong juga.
jadi nggak semua yang pake gamis, ngomong ukhti akhi jadi sombong semua merasa ahli surga.
dalam islam sendiri sombong itu dosa.
iblis aja di vonis masuk neraka gara gara sombong
profile picture
echotechno007
kaskus maniac
@anti.suap kok gw setuju ama pendapat elu, terus ngapain tadi kita debat? emoticon-Hammer2

Maksud gw "misahin" tadi bukan agamanya suruh melepaskan diri dari budaya gan, tapi orang2 yang menyamakan antara budaya dan agama (misal muslim yang menutup aurat dengan gamis merasa lebih mulia daripada muslim yang menutup aurat pake sarung). Mereka merasa telah menerapkan "agama" padahal yang mereka terapkan adalah "budaya" (contohnya masalah bahasa akhi-ukhti itu)
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 10 dari 10 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di