CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Rumah Kosong dan Meledaknya Petasan Maut
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7aaa6010d2950c8b255497/rumah-kosong-dan-meledaknya-petasan-maut

Rumah Kosong dan Meledaknya Petasan Maut



Sebuah desa di Kabupaten Malang, tempat ane tinggal, terdapat satu rumah yang sudah rusak parah.

Meski dindingnya masih berdiri kokoh, tetapi jendela, almari, dan sebagian sisi dalam rumah tersebut porak poranda akibat ledakan petasan yang terjadi saat ane masih duduk di bangku SD dulu.

Selain bekas tempat anak-anak muda merakit petasan, rumah kosong tersebut juga terkenal berhantu.

........♡♡♡........

Spoiler for rumah kosong berhantu:


"Suara apa? Suara apa baru saja?" Orang-orang kampung berhamburan keluar rumah, terkejut sekaligus penasaran dengan ledakan yang mirip suara bom.

"Duh, Gusti ... mercon meledak di rumah depan gang." Seorang perempuan paruh baya berteriak keras sembari menjinjing rok tinggi-tinggi, berlari panik.

Semua orang segera paham. Mereka berangsur menuju tempat yang dimaksud.

Berita begitu cepat menyebar. Sudah tidak terhitung jumlah kerumunan di sana. Dalam hitungan menit, orang-orang dari desa lain sudah berdatangan, ingin melihat langsung kondisi dan keadaan.

Serta tentu saja, polisi berdatangan dan garis berwarna kuning segera terpasang.

"Huwek! Nggak betah aku. Perutku mules!" ujar Tumisri. Perempuan dengan sedikit uban itu mendesak tubuhnya supaya keluar dari berjubel orang sambil menutup mulut serta hidung dengan kain jilbab yang bertengger apa adanya.

Ya, bau amis darah memang begitu terasa menusuk penciuman. Hampir semua orang yang ada di sana menutup rapat indera penciuman masing-masing.

"Ono opo, Yu Tum?" sambut perempuan paruh baya geng ghibah-nya mendekati Tumisri dengan air muka penasaran.

"Nggilani! Tubuh Purnomo sama tubuh Ma'il semuanya hancur, bola matanya ada yang nempel di kaca lemari, jari kelingkingnya ada yang nyangkut di jendela, kulitnya sama darah berceceran di lantai, campur abu mercon. Aduh, nggak kuat aku lihatnya. Pengen muntah," jelas Tumisri dengan gegas melangkah menjauh. Ia meludah berulangkali.

Orang-orang yang menyimak tampak bergidik ngeri.

Sore itu, suasana lebaran yang seharusnya menjadi ajang silaturahim serta bermaafan dalam kebahagiaan, berubah menjadi suasana mencekam dan menyedihkan, terutama bagi orangtua Purnomo juga orangtua Ma'il.

Dari rumahnya terdengar suara jerit seorang ibu yang berulangkali memanggil nama Ma'il. Dengan bersimbah air mata, tampak jelas bagaimana ia merasa sangat kehilangan.

Beberapa pelayat wanita menghibur dan membesarkan hatinya.

"Mau ke mana, Ma'il?"

"Mau ngerakit mercon sama Purnomo di rumah kosong depan gang," jawab Ma'il sebelum kejadian. Ia membawa sebuah kantong plastik besar yang tentu berisi bahan-bahan racikan mercon.

"Aku sama bapakmu mau ke rumah nenek. Kamu malah mau pergi. Nggak mau ikut?"

Ma'il tidak mengindahkan tawaran ibunya. Ia berjalan cepat keluar rumah, menuju markas tempat di mana ia biasa berkumpul bersama teman-temannya, meracik mercon, seperti seorang ahli bom yang lihai merakit molotov.

Andai Ibu Ma'il tahu jika itu adalah percakapan terakhir dengan anak semata wayangnya, sudah tentu sekuat tenaga ia akan mencegah kepergian Ma'il.

Namun, semua sudah terjadi. Kini hanya air mata pedih yang tersisa.

Di rumah lain yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Ma'il, seorang ibu berkali-kali pingsan. Jiwanya belum sanggup menerima ketiadaan putranya yang begitu cepat, dalam sebuah peristiwa tragis.

Sejak hari itu suasana desa cukup mencekam. Terutama setelah santer terdengar kabar jika penyebab meledaknya mercon adalah karena ulah hantu genderuwo yang melempar api ke arah dua remaja yang asyik meracik mercon tersebut.

Namun, entahlah. Entah itu hanya mitos atau bukan, tetapi menurut para orang tua, rumah yang sudah lama tidak ditinggali memang banyak dihuni oleh makhluk-makhluk halus. Hantu, setan, kuntilanak, sundelbolong, genderuwo, pocong, dan kawan-kawannya. Begitulah kepercayaan yang kadung lestari.

Apalagi setelah kematian tragis Ma'il dan Purnomo di sana, rumah kosong tersebut kian menyeruakkan aroma seram.

"Buk, ada suara orang nangis," keluh Anwar kepada ibunya yang sudah tertidur pulas.

Malangnya Anwar sekeluarga yang rumahnya paling dekat dengan rumah kosong itu. Hanya berjarak 5 meter saja, berdampingan.

"Buk, suara orang nangis!" Remaja yang baru duduk di bangku SMA itu berusaha membangunkan ibunya, tetapi bergeming.

Anwar menyalakan lampu kamar, suasana senyap. Wajahnya lesu dengan napas lamban.

Penduduk desa telah tunduk dalam buai kantuk. Tidak lagi terdengar tanda-tanda kehidupan, kecuali suara denting jam dinding yang ia tengok telah melewati angka 12. Dan, suara tangis itu, begitu nyaring.

"Kenapa mirip suara Ma'il?" keluh Anwar lirih dengan air muka meringis ketakutan.

Ia tatap muka ibunya yang tetap terlelap berbalut selimut motif bunga tulip.

Sejenak ia duduk di pinggiran ranjang sang ibu, ingin kembali ke kamarnya, tetapi suara itu membuat Anwar semakin takut. Ia bergidik.

"Duh, kebelet pipis lagi. Nggak tepat banget, sih, waktunya," gerutu sebal Anwar sembari menahan pipis.

Ia goyang tubuh ibunya sekali lagi, tetapi tidak ada perubahan. Hanya menggeliat sebentar bersama wajahnya yang lelah.

Sementara hasrat buang hajatnya terasa sudah di ujung tanduk.

"Ah, ngapain juga takut," gumam Anwar menenangkan diri. Ia menarik napas dalam.

Lalu berdiri ragu, mulai melangkah mencoba santai, keluar kamar ibunya. Menyalakan lampu di semua ruangan dengan tangan bergetar.

Bulu kuduknya berdiri. Ia usap pelipisnya yang basah dengan telapak. Wajah Ma'il dan Purnomo, teman sekelas sekaligus rekan meracik mercon Anwar, tiba-tiba saja muncul dalam ingatan.

Ia celingukan ke segala sudut ruang yang ia lalui, sebab selalu merasa kedua rekannya terus mengikuti.

Spoiler for hantu:


Karena ia tidak akan lupa jika keduanya baru meninggal kemarin sore, di rumah kosong itu, tepat sebelah barat rumah Anwar.

Langkah demi langkah telah membawanya sampai di kamar mandi.

Tidak ada lagi suara tangis, tetapi dengan jelas dari kaca jendela kamar mandi, Anwar bisa melihat bagian jendela rumah yang rusak. Tampak bagian dalamnya.

Suara tangis kembali terdengar, seiring dengan bayangan hitam duduk menunduk di kursi, depan lemari kaca yang kemarin tertempel bola mata Purnomo di sana.

Keinginan buang hajat telah direnggut oleh rasa takut, tetapi rasa takut justru membuat remaja itu semakin penasaran.

"Apa hitam-hitam itu, ya?" batinnya berbisik, bertanya-tanya. Ia kucek kedua matanya berulangkali.

Kakinya bergetar, tidak terasa air kencing membasahi celana remaja yang nyalinya ciut dalam keadaan berdiri, saat menyadari bahwa bayangan hitam di sana adalah Purnomo, menatapnya dengan wajah rusak, bersimbah darah.

Wajah seorang teman yang biasa ia ajak meracik mercon, semakin jelas menampakkan wujud, menghantuinya.

"P-Pur ... Pur .... " Suara Anwar bergetar, kelu tercekat dalam tenggorokan.

Kepalanya berputar-putar. Tenaganya mendadak habis. Ia ingin keluar kamar agar tidak lagi melihat ke arah kaca jendela itu, tetapi gagal dan terpaksa ia melihat bayangan hitam yang menampilkan wajah Purnomo samar-samar semakin dekat.

Degub dada Anwar bergetar. Napasnya berat. Semua terjadi begitu cepat.

Ia baru saja menyadari jika semalaman ia pingsan di kamar mandi dan orang-orang kampung membantu mengangkat tubuhnya ke kamar.

"Alhamdulillah, War. Akhirnya kamu sadar juga," ucap syukur Ibu Anwar yang duduk di tepi ranjang.

Orang-orang berkerumun sepagi itu, ingin mengetahui keadaan Anwar, sebagai sahabat, teman bermain, sekaligus rekan Ma'il dan Purnomo dalam meracik petasan.

Mereka saling bergumam sebelum kemudian berangsur pergi.

"Beruntung kamu masih diberi hidup. Ini jadi pelajaran buat kamu, enggak usah main-main sama mercon lagi meski lebaran. Bahaya. Lagipula polisi juga sudah melarang. Sing manut dadi bocah." Seorang tukang pijat memberi nasihat sembari memijit betis Anwar.

Anwar menatap hambar, tetapi dalam hati kecil ia merasa teramat sedih. Andai ia tidak pernah mengajari Ma'il dan Purnomo cara meracik mercon, peristiwa ini mungkin tidak akan pernah terjadi.

"Yok, mulai meracik!" Ajak Purnomo sore itu sembari memunjukkan sebuah karung besar. Di sana adalah bahan-bahan pembuat mercon yang sangat sensitif terhadap api.

"Akan semakin meriah desa kita kalau lebaran kali ini ada banyak merconnya." Ma'il menepuk pundak Anwar sebelum mulai beraksi.

"Bentarlah, kebelet, nih." Anwar pamit karena memang sedang ingin buang hajat.

Sehingga pada saat Anwar membuang hajat itulah, ledakan besar terjadi, meluluhlantakkan bagian dalam rumah, sekaligus mencabik tubuh Ma'il dan Purnomo menjadi potongan-potongan kecil.

Andai Anwar tidak ada acara pamit membuang hajat ....


Anwar bangkit dari kasur, dengan muka datar ia membuka selimut yang telah menutupi separuh tubuhnya.

Tukang pijat yang telah berusia senja tersebut terpaksa menghentikan aktivitasnya.

"Buk, di mana racikan merconku?" tanya Anwar segera kepada ibunya.

"Duh, Nak. Temen-temenmu udah meningal karena mercon dan kamu masih mau ngracik mercon? Mbok yang punya kapok," protes Ibu Anwar.

Anwar menatap sekilas ibunya, lantas bodoh amat bangkit dari ranjang dan berjongkok.

Tangannya menggapai-gapai sesuatu di bawah ranjang.

"Buang yang jauh benda itu!" titah tukang pijit ikut campur. Wajahnya yang diliput keriput menunjukkan tidak suka.

Cepat-cepat Anwar bangkit, membawa seplastik jumbo bahan-bahan peracik petasan keluar kamar.

"Mau diapakan? Buang jauh benda itu!" gumam Ibu Anwar sambil terus mengikuti langkah putranya yang ternyata ke dapur, mengambil sebuah cangkul.

Ada bayang Purnomo dan Ma'il menggelayut di pelupuk mata Anwar, dengan kedua tangannya sibuk menggali tanah di ladang belakang dapur.

Setelah galian cukup dalam, ia kubur racikan petasan dan berjanji untuk tidak memainkan permainan berbaya yang dilarang polisi.

Ibu Anwar bernapas lega sambil mengelus pundak putranya.

Anwar bangkit dan membalikkan badan, tetapi ....

Jantungnya seperti mau copot!

1. Mercon = petasan
2. "Ono opo, Yu Tum?" = "Ada apa, Mbak Tum?"
3. Nggilani = Jijik
4. Sing manut dadi bocah = Yang patuh jadi anak.

........♡♡♡........

Rumah kosong itu sekarang sudah dibongkar, GanSis. Jadi tinggal lantainya saja yang tersisa. Dan sekarang sudah tidak ada yang berani meracik petasan atau menyalakan petasan saat lebaran 😁

Sumber cerita: berdasarkan kisah nyata di tempat ane.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 17 lainnya memberi reputasi
Quote:


What, kok bisa meledak
Keknya gak mungkin juga gesekan dari kaleng ama pacul
profile-picture
mbak.far memberi reputasi
profile picture
doongdoongan
kaskus addict


Cukup dengan tekanan saja mesiu sudah dapat bereaksi. Apalagi dalam volume yang banyak dan padat. Coba saja petasan cabe rawit digeprek pake batu, sudah bisa meledak
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di