CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e761fb5f0bdb236a32a7a7e/sebening-cinta-arumi

Sebening Cinta Arumi

Pagi ini aku ikut nenek ke sawah. Nenek akan membantu Mbah Suryo memanen cabe di sawahnya. Dari kejauhan terlihat Mbah Suryo bersama anak dan menantunya. Mbah Suryo hanya memiliki seorang anak laki-laki, Pakde Darman dan istrinya bernama Karsih. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang usianya sepuluh tahun diatasku, namanya Dewa, dan seorang anak perempuan yang seusia denganku. Mereka menamainya Dewi.

Waktu kecil aku selalu mengatakan kepada orang-orang kalau aku adalah pacarnya Mas Dewa. Aku sangat marah saat ada anak perempuan yang berusaha mendekati Mas Dewa. Mas Dewa tidak suka dengan sikapku. Ia sering merengut dan membuang muka saat bertemu denganku. Tapi aku tidak peduli, aku tetap suka dengan sikapnya. Kesukaan ini hanyalah karena aku merindukan kakak laki-lakiku yang seumuran dengan Mas Dewa. Kakakku dibawa ibu, setelah ayah dan ibu berpisah. Aku ikut ayah dan tinggal bersama nenek karena ayah pergi merantau ke negeri seberang. Lima tahun kemudian ayah benar-benar meninggalkan aku untuk selamanya karena beliau mengalami kecelakaan saat bekerja.

Di sawah inilah dulu kami sering bermain bersama, menangkap ikan, belalang dan mandi-mandi di sungai. Pernah suatu kali saat mandi di sungai aku hampir tenggelam, untung Mas Dewa cepat menolongku. Sejak kejadian itu aku makin sayang kepada Mas Dewa, tetapi rasa sayangku hanyalah sebatas menyayangi seorang kakak. Dan sikap Mas Dewa pun mulai berubah, tidak lagi jutek padaku.

“Arumi, ayo ke sini. Salim dulu sama Mbah Suryo,Pakde dan Bude Karsih.” Suara nenek membuyarkan lamunanku.

“Iya, Nek” jawabku dan segera menyusul nenek yang sudah sampai di pondok.

“Assalammualalikum” ucapku saat memasuki pondok.

“Wa’alaikumussalam” jawab mereka serentak.

Aku langsung menyalami dan mencium tangan Mbah Suryo, Pakde dan Bude Karsih. Bude Karsih membawaku dalam pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku ke dadanya. Aku selalu melakukannya saat bertemu wanita yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Ada embun disudut mataku, setiap kali ia memelukku.

“Apa kabarmu, Nduk ?” tanya Bude Karsih.

“Alhamdulillah, sehat Bude. Mbah, Pakde dan Bude juga sehat kan?” ucapku sambil melemparkan senyuman pada mereka.

“Alhamdulillah, sehat.”jawab Mbah Suryo.

Pakde Darman hanya mengangguk sambil tetap tersenyum.

“Bagaimana khabar Dewi Bude, sudah berapa orang anaknya ?”

“Alhamdulillah baik, sudah mau dua, Insya Allah bulan depan akan lahiran anak keduanya” jawab Bude Karsih.

“Aku kangen sekali dengan Dewi” ucapku lirih.

“Rencananya hari ini mereka akan pulang, Dewi akan melahirkan di sini” ujar bude.
“Beneran Bude ?” tanyaku dengan penuh antusias.

Bude memberikan jawaban dengan anggukan dan senyuman. Aku sudah tidak sabar lagi bertemu dengan sahabat kecilku. Dewi bukan hanya seorang sahabat bagiku, tapi ia sudah kuanggap seperti saudara perempuanku sendiri. Bahkan orang-orang selalu memanggil kami anak kembar. Karena dimana ada Dewi pasti ada aku.

Setelah tamat SMA, aku melanjutkan kuliah di kota dimana ibu tinggal. Sejak kepergian ayah, ibu berusaha ingin membawaku namun aku menolaknya. Aku tidak mau meninggalkan nenek sendirian. Karena hanya aku keluarga beliau yang tinggal setelah ayah tiada. Saat lulus SMA nenek menyarankan untuk tinggal bersama ibu, karena nenek tidak mempunyai biaya untuk kuliahku. Awalnya aku tidak mau, karena tidak ingin berpisah dengannya. Untung ada keluarga Mbah Suryo yang bersedia menjaga nenek selama aku kuliah. Setiap libur semester aku pulang ke rumah nenek. Seperti kepulanganku kali ini, aku sedang menikmati liburan setelah menyelesaikan ujian skripsiku. Itu artinya satu bulan lagi aku akan di wisuda.

Sementara Dewi temanku, ia tidak melanjutkan kuliah. Setelah tamat, ia langsung dilamar oleh Mas Amran, anak Pak Lurah. Setelah menikah mereka tinggal di ibu kota, karena Mas Amran bertugas sebagai pegawai pemerintahan di sana.

Menjelang sore, pekerjaan kami telah selesai. Aku membantu bude membawa rantang makanan yang telah kosong. Beberapa orang pekerja mengangkut hasil panen hari ini ke mobil yang diparkir di pinggir jalan. Cabe-cabe tersebut akan langsung dibawa ke pemasok. Dan siap untuk dipasarkan ke pasar-pasar tradisional dan ada juga yang dibawa ke kota.

Saat kami berkemas-kemas , dari kejauhan terlihat seorang laki-laki tinggi bertubuh tegap melambaikan tangan sambil berjalan ke arah pondok. Jantungku serasa mau copot saat mengetahui siapa yang berjalan ke arah pondok. Aku seperti terhipnotis dengan ketampanannya yang dulu pernah kukagumi. Aku langsung mengalihkan pandanganku.

“Dewa... kapan kamu sampai nak?” Ucap Pakde sambil memeluk anak laki-laki kesayangannya.

“Barusan, yah. Karena nggak ada orang di rumah makanya aku langsung menyusul ke sini, aku kangen dengan kalian semua” jawab Dewa sambil menyalami dan mencium tangan mereka bergantian.

Mbah Suryo memeluk cucu kesayangannya itu lama sekali. Seperti tak ingin melepaskannya. Tak lupa Dewa juga menyalami nenek. Saat langkahnya terhenti di depanku, iris kami saling beradu. Ada debaran aneh yang kurasakan.

Astaghfirullah, Arumi.... tundukkan pandanganmu. Dia bukan mahrommu.

Cepat-cepat kualihkan pandangan sebelum setan menguasai pikiranku.

“Apa kabar dek Rumi,” kata Dewa sambil menangkupkan tangannya di dada.

“Kabar baik, Mas.” Aku mejawabnya sambil menunduk dan melakukan hal sama, menangkupkan tanganku di dada.

“Ayo kita pulang, nanti keburu sore, kangen-kangennya dilanjutkan nanti saja di rumah” ajak Mbah Suryo.

“Arumi dan nenek kami tunggu di rumah nanti malam ya, kita makan bersama sambil merayakan kepulangan Dewa,” kata bude Karsih  saat kami berjalan beriringan di pematang.

Aku memilih berjalan paling belakang. Di depanku Mas Dewa berjalan sambil membawa rantang yang tadi ada di tanganku. Sepanjang perjalanan pulang aku lebih banyak diam, aku berusaha mengatur debaran hati ini.

Setelah sholat Magrib, aku dan nenek ke rumah Mas Dewa. Ternyata Dewi dan suaminya pun sudah datang sebelum Magrib tadi. Kami saling melepaskan rindu setelah hampir satu tahun lamanya tidak bertemu. Kami terakhir bertemu saat lebaran tahun lalu. Aku membantu bude menyiapkan makan malam. Malam ini menjadi malam yang sangat bahagia bagi Mbah Suryo, karena kedua cucu kesayangannya telah berkumpul.

“Kamu kapan nyusul aku, Rumi ?” tanya Dewi saat kami duduk-duduk di teras setelah makan malam.

“Nggak ada yang mau sama aku, wi” jawabku sambil tersenyum.

“Siapa bilang ? Masa calon bu dokter nggak punya pacar”

“Kamu kan tahu siapa aku, wi. Mana mau aku pacaran, dosa tau...” jawabku.

“Hehehe...iya bu dokter sholeha” ucap Dewi sambil memencet hidungku.

“Atau kamu jadi kakak iparku aja, kan dulu kamu sangat suka sama Mas Dewa” Dewi mulai menggodaku.
“Apaan sih, wi. Itu kan dulu, waktu aku masih ingusan” ujarku.

“Yeee...tapi kamu suka kan, itu buktinya mukamu merah.” Lagi-lagi Dewi menggodaku.

“Siapa takut, kalau Mas Dewa mau melamarku hari ini, aku siap menerimanya.” Tantangku sambil bercanda.

 “Mas Dewa....mau nggak jadi suaminya Arumi.” Tiba-tiba Dewi berteriak kearah Dewa yang sedang duduk di ruang tamu bersama keluarganya dan nenek.

Aku sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Dewi. Sontak tanganku membekap mulutnya. Aku tidak menyangka ia akan melakukannya. Mukaku terasa memanas, pasti sekarang sudah merah bak kepiting rebus karena malunya.
 
'6���
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Leny.Khan dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh desifatma77
Quote:


Siap...Insya Allah emoticon-Shakehand2
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di