CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e43a14bb41d301e932b85c0/tiga

Tiga




Part 1


Bandung, 2009


    Apa kau pernah menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan percintaan?
Jika belum, maka lihatlah kisahnya, pasti kau tidak akan pernah mau mencobanya.

Seorang gadis dua puluh satu tahun yang hobinya menulis puisi. Sahabat-sahabatnya memanggil dirinya Bya.
Jujur, pasti tidak ada yang pernah mau menjadi orang ketiga termasuk Bya.
Cinta pertamanya sendiri memang bukan cinta yang bisa dibanggakan. Cinta dalam diam, cinta dalam rahasia. Hanya Bya sendiri yang tahu bagaimana rasanya.
Apa karena ini dia memutuskan untuk jadi orang ketiga di hubungan orang lain??? Entahlah...

💗

“Aku lagi berantem sama pacar aku!” Adu Lilac pada Bya suatu hari.

Lilac adalah teman dekat Bya sejak pertama masuk di Universitas hingga sekarang. Bya tahu siapa yang Lilac maksud. Seorang laki-laki yang sudah menjadi pacar Lilac sejak tiga tahun ini dan mereka berencana untuk menikah. Bya memang tidak terlalu mengenal siapa laki-laki itu. Dia hanya tahu dari setiap curhatan Lilac padanya. Karena terlalu seringnya mereka bertengkar, Bya jadi merasa greget sendiri.

“Udah putusin aja!” Saran Bya yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Lilac.
“Jangan dong By, aku kan sayang sama dia.”
“Kalau sayang kenapa isinya berantem melulu?”
“Gak tahu nih, apa karena kita rencana mau nikah ya?”

Entah apa yang dipikirkan Bya. Awalnya dia hanya ingin membantu sahabatnya itu. Dia merasa kasihan jika setiap hari sahabatnya itu terlihat murung karena bertengkar dengan pacarnya.


Malamnya...
Bya mencari tahu siapa pacar Lilac melalui facebooknya. Karena setahu Bya, Lilac mencantumkan sedang berpacaran dengan siapa di biodata akunnya tersebut. Namanya tertera Gera, entah nama asli atau palsu? Pikir Bya.
Bya pun langsung mengirimkan permintaan pertemanan pada akun laki-laki bernama Gera itu. Maksud dalam hati tetap sama, ingin membantu Lilac sahabatnya.
Permintaan pertemanan tak kunjung diterima, mungkin dia bukan maniak facebook pikir Bya. Karena kalau melihat isi berandanya pun, jarang sekali dia membuat status sendiri. Berandanya kebanyakan berisi status Lilac yang menandai akun Si Gera ini.
^Kalau aku jadi Gera, BT juga ya, Fbku jadi banyak sampahnya gini^ Ucap Bya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri mengingat wajah kusut Lilac tadi siang.

Sepertinya ditunggu pun percuma. Akun bernama Gera itu sepertinya tidak sedang dalam keadaan Online. Jadi tidak perlu ditunggu terus. Bya pun beranjak tidur sambil tetap merasa merasa penasaran seperti apa Gera itu?


Keesokan harinya...
Seperti biasa Bya bergegas mandi dan shalat Subuh. Dia tidak mau hari ini telat lagi ikut ujian. Jadi dia bermaksud untuk datang ke kampus lebih pagi dari biasanya. Di tengah perjalanan menuju ke kampus dengan menaiki angkutan umum, Bya iseng membuka akun facebooknya. Dia ingin tahu apakah permintaan pertemanannya sudah diterima atau belum oleh pacar Lilac itu.
Ternyata belum, ya, belum diterima, tetapi ada pesan yang masuk.

°Kamu Abyatina ya, sahabatnya Lilac°

Bya sedikit kaget karena nama lengkapnya disebut. Dan ternyata pesan itu dari Gera.
^Kok malah kirim pesan sih?^tanya Bya dalam hati.
^Bales jangan ya?^Bya merasa bingung sendiri.

°Iya, Aku Abyatina, panggil aja Bya 😊, kamu Gera kan? Pacarnya Lilac?°

Akhirnya Bya memutuskan untuk membalas pesan itu. Balasan yang basa-basi menurutnya. Karena Dia kan memang sudah tahu siapa Gera, tapi kenapa harus tanya lagi?? Tiba-tiba Bya jadi merasa salah tingkah, hatinya menjadi sedikit tak karuan. Bukan karena merasa bersalah telah mengirim pesan pada pacar sahabatnya sendiri, tetapi karena....

°Kamu lagi mau ke kampus ya?°

Karena ini, Bya heran kok Gera bisa tahu dia sedang menuju kampus.

°Boleh Aku antar, Aku naik motor sedang berhenti di halte dekat kampus°

Ini alasan lainnya yang membuat Bya jadi tambah salah tingkah.

^Ini cowok kenapa ya?^ Batin Bya bingung.

Bya memang tidak membalas pesan itu, dia bingung harus menulis apa. Bya hanya memperhatikan keluar jendela karena sebentar lagi halte yang dimaksud akan Ia lewati. Untungnya saat melewati halte itu, angkutan yang dia naiki berjalan tidak terlalu cepat.

^Apa itu Gera ya?^

Bya melihat seorang laki-laki sedang duduk di halte bus yang dimaksud dalam pesan Gera tadi. Tanpa sadar ternyata Bya sudah turun dari angkutan yang dia naiki.

“Gera!” Sapa Bya memastikan bahwa laki-laki itu benar Gera pacar Lilac.
“Oh, hey, Abyatina ya?!”
“Bya!”
Mereka pun berjabatan tangan, berkenalan. Namun entahlah perasaan salah tingkah itu datang lagi.  Bya jadi tidak tahu harus bicara apa. Biasanya dia selalu cerewet sekali biarpun pada orang yang baru dikenal, tapi kali ini sungguh tidak ada ide kata-kata yang bisa Ia ucapkan.

“Ayo, Aku antar ke kampus!” Ajak Gera akhirnya membuyarkan lamunan Bya.
“Eh, emang Kamu gak kerja?”

Ya, Bya tahu kalau Gera sudah bekerja dari Lilac. Gera bekerja di salah satu penerbitan yang ada di kota ini.

“Aku kerja, tapi ini masih jam setengah tujuh, masih terlalu pagi.”
Bya ikut melihat layar handphonenya. Entahlah, dia merasa sangat kikuk. Dia hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Gera.

“Lilac gimana?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Bya. Ya, dia memang tiba-tiba teringat pada Lilac. Dia berpikir bukankah seharusnya lelaki ini mengantar Lilac bukan malah menawarkan diri untuk mengantarnya ke kampus.

“Memangnya hari ini Lilac kuliah?”
“Eh, memangnya ini hari apa?
“Hari Sabtu!”
“Oh iya, Lilac gak ada kuliah hari ini.”

Iya, benar juga. Lelaki ini mau mengantarkan Bya ke kampus karena tidak ada Lilac di sana. Obrolan mereka pun berlanjut hingga sampai ke kampus Bya. Bya seperti terhipnotis untuk mengikuti ajakan Gera mengantar dirinya sampai ke kampus. Buktinya tanpa terasa, mereka berdua sudah sampai di tempat parkir kampus.

“Aku sering perhatiin kamu, tapi baru sekarang berani ngobrol kayak gini, aku pikir kamu gak mau kenal sama aku!”
“Eh, kok mikirnya gitu?”

Karena kampus yang masih sepi dan ujian Bya yang pastinya belum dimulai, mereka memutuskan untuk duduk-duduk di kantin kampus Bya.

“Iya, tapi pas semalam kamu mengirim permintaan pertemanan di Facebook, ternyata aku salah, kamu mau kenal sama aku!”
Gera memasang senyum termanisnya, menurut Bya tentunya. Membuat Dia semakin salah tingkah.

“Hmm... Sebenarnya, aku Cuma ingin tahu aja siapa pacar Lilac?”
“Oh, berarti aku yang ke-GeEr-an!” Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, senyum manis di wajah Gera menghilang. Dan entah kenapa Bya menjadi merasa bersalah. Dia ingin mengkoreksi ucapannya, tapi apa, toh memang hanya itu niat dia.

“Aku kasihan sama Lilac.”
Bya mencoba mencari alasan lain agar Gera lebih yakin lagi.
“Memangnya dia kenapa?”
“Kalian sering berantem kan? Dan setiap kalian berantem, Lilac selalu merasa sedih.”
“Oh, soal itu...”
Jawaban singkat Gera membuat Bya mengerutkan dahi. Tapi sayang, dia harus menunda rasa penasarannya karena harus segera masuk ke dalam kelas.
“Lain waktu kita ngobrol lagi, terima kasih udah mengantar aku.” Bya mencoba tersenyun sewajar mungkin sambil meninggalkan Gera.


Tanpa diketahui oleh Bya, Gera sebenarnya berniat menunggu sampai Bya selesai kuliah. Karena sebenarnya hari ini, kerjanya libur.
Entah apa yang Gera pikirkan, sebenarnya bukan Bya saja yang merasa salah tingkah tetapi laki-laki bertumbuh tinggi dan berkulit sawo matang ini pun berlaku demikian.
Dia merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan selama dia berpacaran dengan Lilac, biarpun hubungan mereka sudah berjalan sangat lama.
Menurut Gera, Bya itu beda. Di mata laki-laki duapuluh lima tahun ini, dia melihat Bya bukanlah perempuan manja. Tentu saja dia tahu semua tentang Bya dari pacarnya, Lilac.
Gera memang tidak tahu persis perasaan apa yang sedang hadir saat ini, hanya saja rasa ingin mengenal Bya lebih jauh lagi yang membuatnya berani untuk melakukan hal seperti yang sedang ia lakukan saat ini.
Dua jam berlalu sejak Bya masuk kelas dan mengikuti ujian, akhirnya selesai juga.
Bya keluar dari kelas dan berniat menuju ke kantin karena tiba-tiba dia merrasa lapar, mungkin karena efek ujian yang menurutnya agak sulit.

Belum sampai ke tempat duduk yang dituju, Bya menghentikan langkahnya karena matanya yang mendapati Gera masih duduk di bangku yang sama saat tadi pagi mereka berbincang.
“Gera, kok masih ada d sini?”
“Eh, By, udah selesai ujiannya?”
“Udah, kamu gak kerja?”
“Hehe,sebenarnya hari sabtu itu kerjaku libur, daripada iseng gak tahu mau kemana, jadi ya aku tungguin kamu aja di sini,  gak apa-apa kan?”
“Hmm, gak apa-apa sih, emangnya gak ada janji sama Lilac? “
“Gak ada, kalau gak salah dia ada acara keluarga hari ini.”
“Ooh!”

Bya masih memandang wajah Gera dengan wajah bingung. Rasa laparnya tiba-tiba jadi hilang. Sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa. Perasaannya semakin tak karuan.

“Setelah ini kamu ada kelas?”
“Gak, kenapa?”
“Aku lapar, hehe, mau ajak kamu makan, tapi gak di sini!”
“Dimana?”
“Hmm, terserah kamu!”

Bya tertawa, tawa pertamanya sejak tadi pagi. Tanpa sadar dia lakukan dan Gera pun jadi ikut tertawa menutupi ketertarikannya.
Mungkin memang Bya tidak secantik Lilac, tapi Bya memiliki definisi cantik yang lain menurutnya.

Mereka pun meluncur ke tempat makan favorit Bya.
Bya sendiri adalah anak kosan di Bandung ini, sedangkan seluruh keluarganya tinggal di Surabaya. Bya memilih melanjutkan kuliah di Bandung, selain karena memang sengaja mendaftar di salah satu universitas negeri di Bandung, tetapi juga karena Bya termasuk tipe anak yang senang bertualang. Dia bosan sedari kecil tinggal di Surabaya yang terkenal dengan udaranya yang panas itu.
Selama menempuh pendidikan S1 nya di fakultas sastra, gadis yang bernama lengkap Abyatina Nadhifah ini punya tempat makan langganan, selain karena harganya yang ramah di kantong, suasananya juga asyik untuk berlama-lama jika dia merasa bosan sendiri di kosan.

“Nah, kita makan di sini aja ya, enak kok makanannya, murah lagi.”

Bya menjelaskan pada Gera setibanya di tempat makan favoritnya. Gera pun tersenyum menanggapi penjelasan Bya. Baginya entah kenapa, dimana pun bukanlah masalah buatnya, karena yang terpenting baginya saat ini dia bisa mengenal lebih dekat gadis sedikit tomboy yang sedang sibuk memilih menu di depannya.

“Panas-panas gini, enak deh kalau makan baso, kamu mau?”

Bya mendapati Gera sedang melamun sambil menatap lekat dirinya.

“Hey!” Sambil Bya memukul pelan bahu Gera.
“Iya, kenapa?”

^Dia benar melamun^ Batin Bya.

“Mau makan apa? Kalau aku mau makan baso, kamu mau gak?”
“Iya, boleh! “
“Ngelamunin apa sich? Lilac ya?” Goda Bya sambil tertawa.

Yang digoda menggeleng kepala cepat. Karena dia memang tidak sedang memikirkan pacarnya itu.

“Terus ngelamunin apa?” Rasa ingin tahu Bya pun muncul, kali ini tanpa tawa menggoda.
“Aku lihat kamu waktu pertama kali antar Lilac kuliah.”

Gera membuka perbincangan lagi setelah beberapa saat diam karena asyik dengan makanan dan pikiran masing-masing.

“Kok aku baru lihat kamu ya?” Sambil berhehe ria, Bya mencoba mencairkan suasana.
“Hehe, soalnya aku gak pernah lihat kamu dari dekat.”
“Mungkin Lilac takut kamu jadi suka sama aku?”

Bya pun tertawa lebar, diikuti Gera yang sebenarnya mengiyakan kata-kata Bya. Itulah kata yang tepat pikir Gera, dia menyukai Abyatina sahabat pacarnya. Tapi sudut lain hatinya menolak perasaan itu sehingga dia merasa bingung sendiri.

“Lilac sering cerita tentang kamu, sedikit banyak aku jadi tahu gimana kamu.”
“Lilac pasti cerita yang jelek-jelek ya, he he!” Bya selalu menutupi salah tingkahnya dengan menambahkan candaan di setiap kata-katanya.

Dia berusaha sebisa mungkin menutupi kekikukannya.
Pada akhirnya tak ada obrolan yang serius antara mereka. Bya yang senang bercanda memberikan energi yang baru bagi Gera.
Sampai Gera mengantarkan Bya pulang ke kosannya pun mereka hanya berbincang-bincang ringan yang mengalir begitu saja. Tentang film, tentang lagu favorit, tentang kerjaan dan kuliah.
Tapi kesan yang ditinggalkan dari percakapan mereka sepanjang hari ini adalah kesan yang akan membawa mereka pada perasaan baru. Perasaan yang tidak pernah mereka bayangkan akan merasakannya.

💗💗💗



Bersambung....


Part 2

Part 3

Part 4 [Selesai]


@agityunita 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alva610 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agityunita
Awal Kenal

Aku tertawakan diriku sendiri dahulu
Agar tak malu jika satu waktu nanti kita bertemu lagi
Rasa ingin tahuku yang mengantarkanmu padaku
Yang sebenarnya tidak perlu ada
Yang seharusnya tidak perlu kau ladeni

Aku simpan senyumku di sini kini
Mengenang semuanya kini lebih lega terasa
Berdamai dengan perasaan itu lebih baik ternyata
Tak ada yang perlu disesali
Karena perkenalan kita pun salah satu jalan hidup yang Tuhan sediakan




Sebulan sebelum pernikahan Gera dan Lilac...

Pagi itu, si Anonim mengirim pesan yang aneh pada Bya. Bagaimana tidak aneh, di dalam pesannya berbunyi jika si Anonim menunggu Bya di taman tengah kota. Bya membalas pesan si Anonim dengan rasa bingung. Lama tak mengomentari lagi tulisannya dan terakhir hanya memberinya puisi itu, sekarang dia bilang ada di sini?

°maksud kamu?°

Namun sayang, sepertinya si Anonim sengaja mematikan handphonenya. Karena pesan sepertinya tidak terbaca. Dan benar saja saat Bya mencoba untuk meleponnya, nomor si Anonim tidak aktif.
Awalnya Bya berpikir kalau mungkin saja si Anonim ini sedang iseng padanya. Namun karena penasaran akhirnya Bya memutuskan untuk pergi ke taman yang dimaksud si Anonim, toh hanya pergi ke sana, jika si Anonim itu ternyata tak ada, di hanya harus pulang ke rumah. Begitu pemikiran Bya mencoba mencari jalan keluar dan berdamai dengan rasa penasarannya.

Sesampainya di taman...

^Dipikir-pikir gimana aku bisa tahu si Anonim itu ya?^

Bya jadi merasa lucu sendiri pada apa yang dia lakukan di taman itu. Dalam pikirannya si Anonim jelaslah orang yang belum dia kenal. Bagaimana di bisa tahu seperti apa orangnya jika tidak ada penjelasan dari si Anonim soal ciri-ciri fisiknya seperti apa.

^Aku sepertinya hanya dijahili^

Sambil senyum-senyum sendiri Bya pun berniat pergi meninggalkan taman itu. Biar nanti dia coba mengirim pesan lagi pada Si Anonim itu pikir Abyatina.
Namun langkahnya harus terhenti demi mendengar namanya dipanggil.

“Abyatina!”

Spontan Bya menoleh ke belakang arah suara itu berasal.
Sungguh tidak dia duga sama sekali siapa yang kini ada di hadapannya. Sosok yang hampir bisa Bya lupakan.

“Geranium?!”

Ya, pada akhirnya Gera datang untuk menemui Abyatina sebulan sebelum pernikahannya dilaksanakan. Berbekal alamat yang dia dapat saat berpura-pura menjadi si Anonim beberapa waktu yang lalu


“Aku kangen kamu By!”
Gera membuka kesunyian yang sedari tadi terjadi. Bya hanya bisa menunduk, dia tidak mau menatap mata itu lagi. Dia tidak mau jatuh lagi. Dia tidak mau cinta lagi.

“Kamu?” Tanya Bya menggantung, entah apa yang ingin dia pastikan.
“Aku si Anonim itu.” Penjelasan Gera ini mampu membuat Bya mengangkat wajahnya
“Kenapa?”
“Karena aku serius dengan perasaanku, aku ingin kamu tahu, tapi kamu malah pergi ninggalin aku!”

Kali ini Gera yang merasa tak karuan. Dia memutuskan datang ke Surabaya ini untuk memastikan sesuatu, sebelum semuanya benar-benar berakhir.

“Aku kangen kamu By!”

Lagi-lagi kata-kata itu yang meluncur dari bibir Gera. Rindu itu memang jujur dari dalam hatinya. Perasaannya pada Bya bukan sekedar nafsu belaka. Ada cinta yang murni yang hadir bukan cinta yang terpaksa seperti yang Gera rasakan pada Lilac.

“Lebih baik kamu pulang Gera!” Perintah Bya akhirnya.

Namun berbanding terbalik dengan tatapan dan perasaannya. Dia seperti ingin menyuruh Gera tetap ada di sini. Dalam hati sebenarnya dia ingin bilang, jika dia senang bisa melihat Gera lagi. Tapi semua itu sama sekali tidak dia ucapkan.

“Aku bakal pulang By, tapi sebelum aku pulang, aku ingin kamu jujur sama aku tentang satu hal?!”
“Apa??”

Gera menggenngam tangan Bya, mencoba merasakan apa yang sebenarnya gadis ini rasakan. Gera tahu, perasaan itu disembunyikan rapi oleh gadis di sampingnya ini. Perasaan yang sama dengan dirinya.

“Aku sayang sama kamu By, perasaan aku ini bukan karena aku membandingkan dirimu dengan Lillac. Tapi ini memang perasaan yang tidak pernah aku rasakan pada Lilac. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Pernikahanku dengan Lilac bukan hanya pernikahan kami berdua tetapi juga pernikahan keluarga kami. Aku terpaksa melakukan ini. Setelah ini, aku janji. Semuanya benar-benar selesai. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Tetapi sebelum itu, aku ingin kamu jawab pertanyaanku! Apa kamu juga mencintai aku?”

Air mata Bya kali ini sama sekali tak bisa diajak kompromi, pipinya basah, dia berusaha berhenti menangis namun air mata itu terus keluar. Bibirnya tak mampu berkata apa pun. Dia memang juga sangat mencintai Gera. Tapi apa ada gunanya jika cinta itu terucap? Apa Gera akan menjadi miliknya setelah itu? Tentu saja tidak, bukankah Gera sudah menjelaskan semuanya. Jadi apa gunanya kata cinta itu Bya ucapkan. Jika hanya akan menambah lukanya saja. Gera merengkuh bahu Bya akhirnya.

“Maafkan aku By, semua ini salahku.” Gera mencoba menenangkan Bya.
“Seharusnya aku bisa menahan untuk tidak mendekati dirimu, perasaanku ini telah melukaimu, maafkan aku!”

Bya semakin hilang dalam tunduknya. Gera pun berlutut di hadapan Bya dan mengangkat dagunya, menghapus air mata Bya perlahan.

“Maafkan aku!”

Runtuh sudah pertahanan Bya, dia pun menghamburkan pelukannya pada Gera. Tangisnya pun pecah.

“Aku sayang kamu Gera!” Ucap Bya akhirnya.
Dekapan Gera pun semakin kuat.

Gera merasa menyesal telah memecahkan porselin cantik ini.
Cukup lama mereka berpelukan, beban Bya pun sedikit menghilang. Ternyata hanya itu yang Bya perlukan untuk menghilangkan sesak di dadanya. Dia hanya perlu jujur pada apa yang dia rasakan. Hatinya memang terluka. Hatinya memang akan kosong. Tetapi bukankah itu yang terbaik.
Hatinya memang harus kosong lagi setelah ini.

“Kita bisa benar-benar menjadi teman setelah ini?”
“Entahlah, mungkin lebih baik kita tidak perlu saling tahu dan mencari tahu lagi!”
“Baiklah jika itu yang kamu mau, sekali lagi maafkan aku!”

Bya mencoba tersenyum, bahkan dia mencoba tertawa. Berdamai dengan perasaanya.

“Semua ini benar-benar lucu ya?”
Gera menatap Bya dengan bingung
“Iya, aku gak pernah bermimpi menjadi orang ketiga di tengah cinta orang lain, tapi sekarang aku pernah merasakannya!” Jelas Bya.

Gera mencoba tersenyum, senyum yang terasa pedih.

“Selamat ya, bulan depan kamu dan Lilac akan menikah, maaf aku gak bisa datang!”

Kali ini Bya yang menggenggam tangan Gera lebih dulu.

“Terimakasih!” Ucap Bya dengan penuh kelegaan.
“Untuk apa?”
“Kamu mengajarkan bentuk cinta yang baru padaku, aku tahu kita sama-sama terluka. Tetapi besok lusa, luka itu pasti akan sembuh. Kamu akan bahagia hidup dengan Lilac dan aku, doakan aku agar tak pernah jadi orang ketiga lagi!”

Sambil Bya meletakkan kepalanya di bahu Gera. Hatinya kali ini benar-benar sudah lega. Dia sudah bisa tersenyum ikhlas. Biarlah cinta ini menjadi rahasia antara mereka berdua.

💗💗💗

Gera pun kembali ke Bandung, sebelum pergi dia memberikan sesuatu pada Bya.

“Anggap saja ini adalah penebus rasa bersalahku!”

Gera melingkarkan kalung berliontim inisial nama Bya. Gera pun mencium kening Bya dan segera berlalu menaiki kereta api untuk pergi selamanya dari kisah cinta antara dirinya dan Abyatina.
Sambil meraba liontin berbentuk ‘A’ itu, Bya hanya berucap terimakasih dengan lirih.

Setelah ini Bya pun akan kembali ke Bandung untuk meneruskan kuliahnya.
Tidak akan ada lagi yang mengantar jemputnya setiap hari Sabtu, tidak akan ada lagi yang menjemputnya setiap sore dia pulang kuliah. Tidak akan ada lagi canda dan tawa di atas motor bersama Gera.
Semua kenangan indah itu akan tersimpan rapi dalam ingatan Bya.

Sebelum Bya kembali ke Bandung, dia menulis puisi terakhirnya menamatkan kumpulan puisi dalam blognya. Karena di Bandung nanti, dia pasti akan sibuk mempersiapkan kelulusannya, lalu mencari pekerjaan, dan mencari cinta yang baru. Tetapi tentu saja bukan untuk menjadi orang ketiga lagi.


Kita Hari Ini

Berdamai dengan waktu
Memeluk erat semua kenangan
Berbaikan dengan segala rasa

Kini kita bisa saling menyapa dengan lebih leluasa
Tanpa pernah takut akan terjebak pada cerita yang sama
Karena kita hari ini teman
Dan untuk selamanya

Kini kita bisa saling bercerita
Tanpa pernah merasa akan melakukan kesalahan yang sama
Karena kita hari ini sahabat
Semoga tak akan pernah berubah





SELESAI
profile-picture
profile-picture
aimannurrozikyn dan jiyanq memberi reputasi
profile picture
jiyanq
kaskus addict
Duuh,endingnya gitu amat ya...Saling cinta tapi harus saling merelakan. Tapi keren ceritanya.
Ditunggu karya selanjutnya,sis. emoticon-Toast emoticon-Toast emoticon-Toast
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di