CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2ee7ec349d0f2ef32e30b4/kenangan-yang-abadi

KUMPULAN CERPEN

Kisah-Kisah Senang, Sedih, Mengerikan dan Sebagainya




Dalam hidup ada berbagai kisah, baik itu senang maupun sedih. Ada yang baik dan ada yang jahat. Di sini akan ada kumpulan kisah horror, romance, thriller dan lain sebagainya.



Hai! Ketemu lagi, Gaes! Kali ini ane akan menyuguhkan kumcer dari berbagai genre. Psst ... ada gorejuga loh! Hihihi ... kalo nggak kuat gore silakan skip, ya! Ada juga kisah-kisah romance yang sad or happy nantinya.
So, pantengin terus! Jangan lupa untuk berbagi cendol, ya, juga bintang dan komennya!
Okey, kita langsung aja. Cek indeks di kolom komentar, Gaes!



Kenangan yang Abadi


Adnan berjalan menuju sebuah taman di tengah kota. Ia baru saja tiba dua hari lalu di kota kelahirannya ini, setelah sebelumnya berada di luar negeri. Matanya memindai seisi taman. Tidak banyak yang berubah ternyata.

Taman itu tetap rimbun dengan beberapa kursi taman yang tersebar di sekeliling tempat itu. Di sudutnya ada tempat bermain anak-anak. Ada perosotan, ayunan, palang besi untuk memanjat dan sebuah bangunan berbentuk jamur raksasa yang bisa dimasuki.

Ingatannya melayang ke beberapa tahun silam. Saat Adnan kecil tengah berlarian dengan riangnya bersama Dinda–sahabat kecilnya–yang berusia dua tahun di bawah Adnan. Taman ini tidak jauh dari tempat tinggal Adnan dan Dinda. Setiap sore keduanya pasti bermain di tempat ini.

Ia ingat, hari itu cuaca sudah mendung, namun ia dan Dinda masih asyik bermain bersama beberapa teman sebaya mereka. Berlarian sambil tertawa riang, tanpa beban sedikit pun. Hingga tiba-tiba suara petir menggelegar diikuti oleh kilat, membuat Dinda Cumiik ketakutan. Teman-teman lainnya berlarian pulang, namun Dinda malah berlari menuju jamur raksasa dan masuk ke dalamnya.

Adnan yang melihat itu segera menyusul Dinda. Ia tahu, sahabatnya itu sangat takut dengan petir. Adnan melihat Dinda jongkok membelakangi dirinya sambil menutup kedua telinga dengan tangannya. Tubuhnya gemetar akibat ketakutan.

"Dinda, kamu nggak apa-apa?" tanya Adnan.

Gadis kecil itu tidak menjawab, ia terisak pelan. Lalu, hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Untunglah Adnan dan Dinda berada di dalam jamur raksasa sehingga keduanya tidak basah kehujanan.

Suara petir masih terdengar bersahutan, angin pun bertiup kencang. Adnan duduk di samping Dinda menatap hujan yang tengah mengamuk. Di sisinya, Dinda masih terisak, wajahnya ditenggelamkan di lututnya.

Adnan meraih tubuh Dinda dan memeluknya. "Jangan takut, Dinda. Ada Adnan yang jagain Dinda." Kata-kata itu terus terucap dari bibir Adnan sampai Dinda kembali tenang.

Adnan tersenyum mengingat memori itu. Namun, senyum itu tidak mencapai matanya. Bibir tersenyum, tetapi matanya memancarkan kesedihan. Tak lama angin bertiup sedikit kencang. Adnan memutuskan untuk pulang ke apartemen miliknya.

***
Pria itu membongkar isi kardus dan mulai menata sesuai tempatnya. Barang-barang pribadi yang ia kirim dari rumahnya di luar negeri, baru saja tiba.

Satu per satu ia susun dan rapikan. Mulai dari pakaian hingga pajangan. Sampai akhirnya tersisa satu kardus. Di atasnya tertulis 'KENANGAN'.

Adnan meletakkan benda itu di meja. Memutuskan akan membongkar nya nanti setelah makan malam. Ia memilih untuk membersihkan diri setelah seharian sibuk menata barang-barang di apartemennya.

Setelah makan malam seadanya, Adnan duduk di karpet di ruang santainya. Ia meraih kardus kenangan itu dan membukanya. Adnan mengeluarkan isinya satu per satu. Mulai dari foto-foto masa kecilnya. Baik itu sendiri maupun bersama Dinda. Lalu, ada buku harian yang sudah usang. Bukan miliknya, tetapi milik Dinda yang ia ambil saat akan berangkat ke luar negeri. Dibukanya buku itu dan mulai membaca halaman demi halaman. Hingga ia sampai pada satu kenangan. Kenangan yang mengingatkannya akan sebuah janji.

Adnan ingat, ia berusia 14 tahun saat itu. Ia pergi ke rumah Dinda, namun gadis itu tidak ada. Adnan berinisiatif untuk pergi ke taman, siapa tahu Dinda berada di sana. Benar saja. Adnan melihat sahabatnya duduk di ayunan membelakangi dirinya. Ia menghampiri gadis itu dan begitu melihat wajahnya, Adnan tahu ada yang salah.

"Kamu kenapa?" tanya Adnan.

Hening sesaat. Dinda tidak menjawab pertanyaan Adnan. Ia masih duduk di ayunan sambil merenung. Adnan tidak memaksa Dinda untuk bercerita, ia memilih untuk duduk di ayunan satunya lagi.

Adnan mulai bersenandung pelan. Lama-lama suaranya semakin keras. Entah lagu apa yang ia nyanyikan.

"Kamu nyanyi lagu apa, sih?" tanya Dinda akhirnya.

Mendengar itu Adnan tersenyum. "Nyanyi lagu 'Bikin Dinda Senyum', bagus, 'kan?" Ia memamerkan giginya yang berderet rapi.

Dinda memberengut. "Apaan, tuh? Aneh banget lagunya?"

"Jadi aneh soalnya kamu nggak senyum. Coba deh, denger lagunya sambil senyum. Nih, aku ulang, ya. Tapi kamu senyum dulu!"

Setelah memastikan Dinda tersenyum, Adnan kembali mengulang lagu hasil karangannya. Kemudian, senyum Dinda berubah menjadi tawa berderai.

"Aneh banget, sih, lagunya," ujar Dinda ditengah tawanya.

Melihat itu Adnan ikut tertawa. "Kalo kamu ketawa, berarti lagunya sukses."

Keduanya terbahak beberapa saat. Dinda mengedarkan pandangan. Sepi. Wajar saja, soalnya sudah mendung. Bisa dipastikan sebentar lagi akan turun hujan.

"Pulang, yuk!" ajak Adnan.

Dinda menggeleng. Adnan mengernyit heran. Tiba-tiba suara gemuruh terdengar.

"Dinda, udah mau ujan. Pulang, yuk." Adnan memandang langit dengan gelisah.

"Kalo kamu mau pulang, ya, pulang aja. Aku di sini."

"Emang kenapa?"

"Aku takut dimarahin mama lagi. Aku takut dijewer lagi. Mama nggak sayang sama aku." Air mata menetes di pipi Dinda. "Aku benci mama."

"Kata mama aku kita nggak boleh benci sama orang. Dosa. Ya udah, kita ke rumah aku aja, yuk!" bujuk Adnan lagi.

Dinda menggeleng, namun Adnan mencengkram jemarinya dan menarik Dinda.

"Ayo! Lihat, udah mulai gerimis!" seru Adnan sambil berlari dengan menarik tangan Dinda.

Saat hujan turun dengan deras, saat itu pula kedua anak itu tiba di teras rumah Adnan. Keduanya duduk di teras sambil melihat hujan.

"Kenapa, sih, Nan, mama nggak sayang sama aku?" kata Dinda tiba-tiba. "Salah aku apa? Aku udah berusaha mengerjakan semua dengan baik, kok. Ngerjain PR, beresin rumah juga. Tapi kok mama marah-marah terus, ya? Aku selalu takut ketemu mama."

Adnan terdiam. Bocah itu tidak tahu harus berkata apa.

"Nggak ada yang sayang aku. Papa juga. Malah pergi ninggalin aku." Isakan tangis kembali terdengar.

Sedih melihat sahabatnya menangis, Adnan mengusap air mata Dinda. "Ingat Dinda, ada aku juga yang sayang sama kamu. Ada mama aku, ada papa aku juga. Jangan sedih, ya. Aku sayang kok sama kamu."

Isakan tangis Dinda mulai mereda. "Janji ya, Adnan. Jangan tinggalin aku kayak papa, terus tetap sayang sama aku. Jangan berubah kayak mama."

Adnan tersenyum lebar. "Janji! Aku akan selalu ada untuk kamu. Jadi jangan nangis lagi, ya." Jemarinya kembali menghapus air mata yang masih setia berada di pipi sahabatnya.

Begitulah, janji kecil itu terucap. Adnan terus mengingatnya hingga hari ini. Ia tersenyum, di saat bersamaan hatinya pun terasa sakit mengingat kembali potongan kenangan indahnya bersama Dinda. Seorang sahabat yang selalu ia sayangi.

***
Kalau boleh memilih, Adnan enggan untuk kembali ke kota ini. Ia lebih memilih tetap tinggal di negeri Paman Sam untuk melanjutkan hidup. Kembali ke sini artinya membuka lagi kenangan lama yang ingin ia lupakan. Kenangan tentang sahabatnya sekaligus orang yang ia sayangi.

Adnan mengingat Dinda sebagai orang yang tegar, selalu tertawa disetiap masalahnya. Ia hanya akan menangis di hadapan Adnan. Adnan sendiri selalu berusaha terus hadir dalam hidup Dinda.

Adnanlah yang selalu menghibur dan menghapus air mata Dinda setiap gadis itu bersedih. Setiap gadis itu merasa tidak kuat lagi menjalani hidupnya, Adnan akan selalu berada di samping Dinda.

Pria itu sangat tahu, hidup yang dijalani oleh Dinda tidaklah mudah. Tante Anya–mama Dinda–selalu saja menyiksa gadis itu, seolah ia tidak boleh melakukan satu kesalahan kecil pun. Jika sudah begitu, tugas Adnanlah menghibur Dinda agar ia kuat.

Bukan tanpa alasan Adnan melakukan itu semua. Mungkin awalnya bagi Adnan, Dinda adalah seorang sahabat kecil yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Posisi Adnan sebagai anak tunggal, menjadikan ia menginginkan sosok seorang saudara. Kemudian, Dinda hadir dalam hidupnya dengan segala keceriaan yang mampu membuat orang tertawa di sampingnya.

Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa ada kesedihan dan penderitaan di balik keceriaan itu. Tidak pula dengan Adnan pada mulanya. Tidak pernah terlintas dalam bayangan bocah berusia 10 tahun itu, bahwa gadis yang baru ia kenal itu menyimpan begitu banyak kepedihan.

Pertama kali ia mengetahui sisi lain Dinda ketika ia hendak mengajak gadis itu bermain bersama di taman seperti biasa. Adnan berjalan memasuki halaman rumah Dinda, dan saat ingin mengetuk pintu, ia mendengar suara teriakan Tante Anya memarahi Dinda. Lalu, secara tiba-tiba pintu di hadapannya terbuka memperlihatkan sosok gadis kecil dengan wajah basah penuh air mata.

"Jangan pulang kamu sebelum Mama izinin! Muak Mama liat muka kamu!" Suara Tante Anya terdengar oleh Adnan.

Dinda terpaku melihat Adnan di hadapannya. Tanpa basa-basi, ia menarik tangan Adnan pergi dari rumahnya.

"Kamu kenapa tadi dimarahin?" tanya Adnan begitu mereka tiba di taman.

Tangis Dinda belum sepenuhnya reda, isakan pelan masih lolos dari bibirnya.

"Kamu buat salah apa?" tanya Adnan lagi

Bukan jawaban yang Adnan dapat, melainkan tangis Dinda yang kembali pecah. Ia menangis terisak-isak seolah melepaskan semua sesak yang menghimpit dadanya.

Adnan kecil tentu bingung. Ia panik melihat Dinda menangis. Kepalanya celingak-celinguk melihat sekeliling, untunglah taman sore ini sepi. Jadi, Adnan tidak akan dituduh menjahili Dinda hingga menangis.

Dalam tangisnya, Dinda bercerita bahwa ia selalu dimarahi serta dipukuli sang mama. Ada saja alasan Anya memukul Dinda. Alasan Dinda berada di taman tiap hari karena Anya selalu mengusirnya. Ia tidak boleh pulang sebelum diizinkan Anya. Menurutnya, Anya membenci Dinda sampai tidak suka harus berhadapan dengan Dinda sepanjang hari.

Sejak itu, Adnan menaruh perhatian lebih pada Dinda. Awalnya ia kasihan lama-lama keduanya menjadi dekat. Bahkan jika melihat Dinda bersedih, ia juga seolah bisa merasakan kesedihan itu.

***
Adnan berjalan menyusuri deretan toko bunga, kemudian memasuki salah satu dari toko-toko itu. Seorang penjaga menghampirinya.

"Cari bunga apa, Pak?"

"Bunga lily ada?"

Penjaga itu mengangguk dan mengantar Adnan ke bagian bunga yang ia pinta.

"Yang warna pink ini atau putih, Pak?"

"Saya mau yang putih, tolong dibikin buket sekalian, ya."

Kemudian penjaga toko itu mulai mengambil bunga-bunga dan menyusunnya. Adnan memperhatikan dengan pikiran kembali melayang ke masa lalu.

Lily putih ini adalah bunga kesukaan Dinda. Waktu itu Dinda dan Adnan sedang dalam perjalanan pulang sekolah. Keduanya sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Dalam perjalanan, keduanya melewati sebuah toko bunga. Dinda berhenti sejenak memperhatikan bunga-bunga yang tersusun rapi.

"Kenapa, Din?"

Gadis itu menggeleng. "Bunga-bunganya cantik."

Adnan melirik ke arah toko bunga kemudian berdecak. "Ada yang lebih cantik dari bunga-bunga itu."

Dinda menoleh, mengernyitkan kening. "Apa?"

"Kamu." Adnan tersenyum usil.

Mendengar jawaban Adnan, Dinda mencibir. "Cih, Adnan sekarang ngegombal mulu. Genit."

"Loh, kok gombal? Serius."

"Nggak percaya!"

"Ya udah, kalo nggak percaya." Adnan memperhatikan toko bunga itu lagi. "Dinda suka bunga apa? Mawar?"

Tidak disangka gadis itu malah menggeleng.

"Loh, bukan? Biasanya cewek suka mawar."

"Dinda nggak suka mawar. Sukanya bunga lily. Yang warna putih itu." Dinda menunjuk salah satu bunga di deretan belakang.

"Bedanya apa sama mawar?"

"Ish, ya beda dong. Dari bentuknya aja udah beda, Adnan."

Adnan mengangguk-angguk.

"Yuk, pulang."

"Loh, kirain mau beli bunganya?" tanya Adnan.

Dinda tertawa. "Aku mana punya uang buat beli bunga itu. Lagian kalo aku pulang bawa-bawa bunga, apa kata mama nanti? Yang ada malah bikin masalah."

Adnan memperhatikan gadis yang telah mengisi hatinya itu. "Nanti aku beliin, deh."

Sontak Dinda menoleh ke arah Adnan yang rupanya tertinggal di belakangnya. Wajahnya terlihat semringah.

"Adnan mau beliin bunga? Buat aku?" tanya Dinda bersemangat.

Ah, Adnan rela membelikan beratus-ratus bunga untuk melihat wajah bahagia Dinda seperti saat ini. "Iya. Dinda mau?"

Kepala gadis itu mengangguk dengan semangat. "Makasih, Adnaaan!" seru Dinda memeluk lengan Adnan.

Adnan tersenyum sedih mengingat kenangan itu. Ia lalai menunaikan janjinya membelikan bunga ini untuk Dinda. Hingga saat ini.

"Ini, Pak, bunganya."

Adnan menyelesaikan transaksi pembayaran bunga yang ia beli, lalu melangkah keluar toko menuju mobilnya yang ia parkir tidak jauh dari sana.

Di dalam mobil, ia meletakkan buket bunga itu di jok belakang dengan hati-hati. Tidak ingin bunga itu rusak sebelum sampai ke tujuannya.

Perlahan ia melakukan mobil, menembus kemacetan ibukota.

***
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebagai manusia, kita hanya bisa berencana, namun hasil akhirnya tetap Tuhanlah yang menentukan. Seperti halnya dengan Adnan. Ia boleh merencanakan berjuta hal dalam hidupnya, akan tetapi keputusan akhir ada di tangan Tuhan.

Adnan melihat Dinda di taman tempat keduanya sering bermain saat kecil. Dinda tampak murung duduk di salah satu bangku taman. Adnan tahu ada yang tidak beres dengan gadisnya, maka ia berlari menghampiri Dinda.

"Dinda." Ia memegang bahu Dinda pelan. "Kamu kenapa?"

Gadis itu hanya terdiam, namun satu bulir bening jatuh dari mata indahnya. Hati Adnan sakit melihat gadisnya menangis. Gadis yang memberikan warna lain di hati Adnan. Gadis yang menemaninya dari kecil hingga ia kuliah. Dengan lembut ia menghapus air mata yang mulai mengalir deras di pipi Dinda.

"Aku nggak kuat lagi, Nan," bisik Dinda lirih. "Aku nggak kuat hidup kayak gini terus."

Adnan tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia tidak ingin memaksa Dinda untuk bercerita. Jadi, yang ia lakukan adalah merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

"Jangan ngomong kayak gitu. Ada aku di sini, ingat?"

Tangis Dinda semakin deras walau tak ada suara yang keluar.

"Kenapa, sih, nggak ada yang sayang sama aku, Nan? Aku punya salah apa sama orang-orang? Di rumah aku disiksa sama orang tua aku sendiri. Sewaktu kita sekolah pun dulu aku selalu dikucilkan bahkan kadang dibully. Aku salah apa?!"

Adnan semakin mengeratkan pelukannya pada Dinda. Ia membiarkan gadis itu menumpahkan semua keluh kesahnya.

"Dinda jangan sedih, ya. Aku janji akan selalu ada buat kamu. Aku janji akan memberikan kebahagiaan untuk kamu. Aku janji, ini akan jadi air mata terakhir. Aku janji!"

Saat itu, Adnan sudah meniatkan hati untuk melamar Dinda. Ia akan melepaskan gadis itu dari penderitaannya selama ini.

"Aku akan hapus semua kesedihan kamu dengan kebahagiaan."

Itulah janji Adnan pada Dinda. Akan tetapi, garis takdir tidak mengizinkan mereka bersama. Keesokan harinya, Adnan mendapat kabar bahwa Dinda telah tewas bunuh diri di kamarnya dengan cara memotong urat nadinya.

Dunia Adnan runtuh. Ia bahkan tidak mempercayai berita itu walau dirinya sendiri telah melihat jasad Dinda saat disemayamkan. Hatinya kosong melihat gadis yang ia cintai telah pergi selamanya.

Ia tidak mau percaya pada kenyataan, namun hal itu terjadi di depan matanya. Terbayang olehnya canda tawa Dinda. Wajah bahagia Dinda. Suara Dinda. Semua tentang Dinda.

Kedua orang tua Adnan bahkan harus mengungsikan putra mereka ke luar negeri agar ia bisa melupakan kesedihannya. Agar ia bisa melanjutkan hidupnya.

***
Mobil yang dikendarai Adnan berhenti di depan sebuah pemakaman umum. Pria itu meremas setang mobil dengan perasaan tidak menentu. Berkali-kali ia menghembuskan napas. Beberapa saat kemudian ia meraih bunga lily di jok belakang dan keluar dari mobil.

Adnan melangkah perlahan menyusuri jalan setapak menuju satu titik. Terakhir kali di ke tempat ini adalah sesaat sebelum dirinya berangkat ke luar negeri enam tahun lalu.

Pria itu berhenti di sebuah gundukan tanah yang sudah mengering tidak terurus. Sungguh miris. Bahkan tempat pembaringan terakhirnya pun tidak ada mempedulikan.

Adnan membersihkan makam seadanya. Setelah itu ia membacakan doa dengan khusyuk. Ia mendoakan ketenangan jiwa seseorang yang telah lama pergi meninggalkan dunia yang penuh dengan penderitaan ini.

Selesai berdoa Adnan hanya berdiam diri. Terlalu banyak kata yang ingin ia ungkapkan, namun semua itu tertahan di lidahnya. Ia meletakkan bunga lily di atas gundukan itu.

"Hai, maaf aku baru dateng lagi," ujar Adnan. "Gimana kabar kamu? Sekarang kamu udah bahagia, ya, di sana. Nggak ada yang bikin kamu sedih lagi." Ia berhenti sejenak. "Tinggal aku yang masih berjuang di sini."

Hening kembali menyeruak. "Ternyata butuh waktu lama untuk aku bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan kalau kamu bener-bener udah nggak ada dan itu cukup sulit ternyata."

Adnan menarik napas dalam dan menghembuskan kembali dengan cepat.

"Kamu yang tenang, ya. Aku udah baik-baik aja sekarang."

Pria itu mengusap nisan bertuliskan nama DINDA ARUNI DEWI perlahan.

"Terima kasih, Dinda."

Adnan bangkit dan berjalan menjauhi makam itu. Seiring langkahnya, perasaannya mulai meringan. Kini, ia bisa menerima semua dengan lapang dada. Adnan telah mengikhlaskan cintanya pergi mendahuluinya. Mulai saat ini, Dinda hanyalah bagian dari kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Kenangan yang selalu terpatri dalam ingatannya. Sekarang yang perlu ia lakukan adalah menata hidupnya kembali. Ia akan bangkit dari keterpurukan ini.


END



Link kumcer lainnya 👇🏻👇🏻
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alva610 dan 27 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh wiispica
Kamu Bisa, Rui!



Ruina mengendap-endap melangkah keluar rumah. Secara perlahan ia berusaha membuka pintu tanpa menimbulkan suara, dan ... berhasil! Dengan terburu-buru ia keluar lalu kembali menutup pintu dengan sangat hati-hati.

Ia hanya punya waktu selama dua jam untuk kembali sebelum neneknya terbangun, dan mencari dirinya. Ruina sudah menginstruksikan pelayan di rumah sang nenek untuk tidak memberitahukan tentang kepergiannya.

Secepat kilat ia berlari keluar gerbang dan segera naik ke atas motor ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya. Tanpa membuang waktu, Ruina meminta sang pengemudi segera melakukan kendaraannya.

Sepuluh menit kemudian, ia sudah tiba di tempat tujuannya.

BALLET SCHOOL

Begitulah tulisan yang tertera di bangunan itu. Tanpa ragu, gadis berambut panjang itu langsung melesat masuk.

"Hai, Tina," sapa Ruina pada salah satu murid di sekolah balet itu.

"Hai, Rui. Kau datang juga hari ini?" tanya Tina begitu ia melihat Ruina.

"Tentu saja aku datang. Hari ini, hari penting, 'kan?" Wajah Ruina tampak semringah ketika mengatakan hal itu.

Ya, hari ini merupakan hari penilaian untuk seluruh murid, semacam ujian. Akan tetapi, bagi murid tingkat lanjut, bila memperoleh nilai yang sudah ditetapkan standarnya atau bahkan lebih, akan mewakili sekolah untuk maju ke olimpiade tingkat nasional.

Hal ini tentu disambut antusias oleh semua murid termasuk Ruina. Ia tidak ingin perjuangannya selama ini sia-sia.

Katrina, nenek Ruina, tidak pernah mengizinkannya untuk mengikuti kelas balet. Menurutnya, balerina itu tidak mempunyai masa depan yang tetap. Ia lebih menginginkan Ruina sebagai penerus perusahaannya kelak.

Maka dari itu, selama ini Ruina mengikuti kelas balet secara diam-diam. Untunglah Katrina selalu menghabiskan waktu istirahat siangnya dengan mengunci diri di dalam kamar selama dua jam. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Tidak ada yang boleh mengganggu jika ia sedang beristirahat.

Ruina memasuki ruang kelas, setelah mengganti kostum bersama Tina dan mulai melakukan pemanasan sebelum pengambilan nilai dimulai.

***
"Baiklah, kalian semua telah melakukan yang terbaik. Hasil penilaian hari ini akan diumumkan dipertemuan selanjutnya. Semoga yang terbaik bisa menjadi wakil sekolah kita untuk ikut serta dalam olimpiade nasional bulan depan." Senyum terpatri di wajah Ambar, sang pelatih. "Sekarang kalian boleh pulang."

Ruina bergegas mengganti baju di ruang ganti, waktunya tidak banyak. Hanya tersisa dua puluh menit sebelum Katrina keluar dari kamarnya. Disela kegiatannya mengganti baju, Ruina menyempatkan untuk memesan ojek online. Untunglah, ia tidak perlu menunggu lama. Secepat kilat ia melesat keluar setelah berpamitan dengan Tina.

Begitu tiba di depan gerbang rumahnya, Ruina segera berlari dan membuka pintu perlahan. Kepalanya celingak-celinguk melihat sekeliling. Merasa aman, Ruina bergegas masuk dan langsung melangkah naik ke tangga menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Setelah masuk ke kamar, barulah Ruina menghembuskan napas lega.

***
Hari ini, Ruina tampak bersemangat. Tentu saja, hari ini nilai test balet beberapa hari lalu akan diumumkan. Ruina tentu tak sabar ingin mengetahui, siapakah yang akan maju ke olimpiade bulan depan.

Sore hari, seperti biasa setelah melihat neneknya masuk ke dalam kamar, Ruina langsung bergegas pergi menuju tempat ia belajar balet selama ini. Ia terlambat lima menit dari jadwal, semua sudah berkumpul di ruang kelas. Untunglah, Ambar tidak marah.

"Nah, semua sudah lengkap sekarang. Jadi, tanpa berbasa-basi lagi, kami akan mengumumkan siapa yang berhak mewakili sekolah kita untuk maju ke olimpiade bulan depan." Pelatih bertubuh tinggi semampai itu membuka catatan miliknya. "Yang mewakili kita semua adalah ... Ruina!"

Ruina terkejut mendengar namanya. Teman-teman lainnya bertepuk tangan memberikan ucapan selamat dan juga semangat padanya, yang ia terima dengan rasa bahagia. Senyum lebar merekah di wajahnya.

"Setelah ini, Ruina akan mengikuti pelatihan intensif. Jadi, sementara kamu tidak bergabung dengan yang lainnya," kata Ambar. Ruina mengangguk paham.

Sejak saat itu, Ruina menjadi lebih sering berlatih. Jika biasanya ia berlatih seminggu dua kali, maka untuk persiapan olimpiade, latihannya bertambah menjadi empat kali dalam seminggu. Namun, seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga. Begitu pun dengan Ruina.

Seminggu menjelang olimpiade berlangsung, saat ia pulang latihan dan masuk ke dalam rumah, Katrina sudah berdiri menunggunya dengan tangan terlipat di dada.

"Dari mana kamu, Ruina?" Suara sang nenek terdengar tajam.

Ruina membeku di tempatnya berdiri, ia tidak berani menatap Katrina.

"Jawab!" seru Katrina.

"Dari ... latihan balet, Oma." Ruina berujar pelan.

Mendengar itu, amarah Katrina meledak.

"Bukankah Oma sudah melarang kamu, Rui?! Kamu sudah berani menentang Oma sekarang?!" Katrina menatap cucunya dengan tajam. "Berapa kali harus Oma katakan kalau tidak ada masa depan untuk penari balet! Tugasmu itu belajar yang benar karena semua perusahaan kelak kamulah yang mewarisinya. Jadi, tidak ada waktu untuk impian kosong dan tidak berguna itu, Rui!"

"Tapi ini cita-cita Rui, Oma. Rui ingin jadi balerina. Seperti mama!"

"Hentikan!" Suara Katrina menggelegar mendengar perkataan Ruina. "Tidak akan ada yang jadi balerina," desisnya. "Mamamu adalah kesalahan."

"Mama meninggal bukan karena ia seorang balerina, Oma. Tapi, karena kecelakaan pesawat!"

"Memang! Tapi alasan dia naik pesawat itu untuk mengikuti pertandingan balet! Itu sama saja artinya balet telah membunuh dirinya!"

"Tapi, Oma ...."

"Cukup! Hentikan pembicaraan ini. Oma tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang balet. Dan kamu!" Katrina menunjuk Ruina tepat di wajahnya. "Jangan pernah pergi diam-diam lagi ke sekolah balet itu. Mengerti?!"

Air mata Ruina menggenang. Ia tidak menjawab perkataan Katrina, gadis itu berlari menuju kamar dan membanting pintu sekeras ia bisa.

***
Sudah empat hari sejak pertengkaran Ruina dan Katrina, selama itu tidak ada komunikasi antara keduanya. Baik itu saat sarapan atau pada kesempatan lainnya. Ruina mogok bicara, sedangkan Katrina tetap pada pendiriannya.

Penjagaan terhadap Ruina diperketat. Sang nenek bahkan tidak pernah lagi beristirahat siang di kamarnya seperti biasa. Membuat pergerakan Ruina untuk pergi ke tempat balet terhalang.

Gadis itu tampak frustasi. Beberapa hari lagi olimpiade dimulai dan ia belum bisa meluluhkan hati sang nenek. Tina beberapa kali menghubunginya, menanyakan kabar yang berakhir dengan tangisan Ruina kala menceritakan hal yang sesungguhnya. Tina berjanji akan meminta tolong pada pelatih mereka untuk menghubungi Katrina dan meminta izinnya secara langsung. Keduanya berharap, Katrina akan mempertimbangkan lagi keputusannya jika pelatih mereka yang berbicara.

***
"Rui," panggil Katrina saat melihat cucu satu-satunya memasuki rumah sepulang ia sekolah.

Gadis cantik itu menoleh ke arah neneknya. "Ada apa, Oma?" tanya Ruina.

"Ada yang ingin Oma bicarakan. Kamu ganti baju, setelah itu makan siang. Oma tunggu di ruang kerja." Katrina langsung berjalan memasuki ruangan tempat ia biasa menyelesaikan pekerjaannya tanpa memandang Ruina lagi.

Ruina menatap Katrina heran. Namun, ia tetap melaksanakan perintah sang nenek untuk segera mengganti seragam sekolah dan juga makan siang.

Selesai makan, Ruina mengetuk pintu ruang kerja Katrina dan membuka pintunya. Katrina meminta Ruina untuk duduk di kursi tepat di hadapannya.

"Jadi, bagaimana sekolahmu?" tanya wanita paruh baya itu.

"Baik. Nggak ada masalah," jawab Ruina. Ia masih menebak-nebak apa kiranya yang ingin dibicarakan neneknya itu.

Katrina mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tadi pagi Oma bertemu dengan pelatih baletmu."

Ruina tersentak. "A-apa?"

"Dia banyak menceritakan tentang kamu pada Oma."

"Cerita apa?"

"Semua."

Ruina terdiam, menunggu Katrina berbicara lagi.

"Oma sadar, selama ini terlalu keras padamu." Katrina menghela napas pelan. "Tidak seharusnya kamu menjadi pelampiasan Oma, yang kecewa atas kematian mama kamu, Rui." Setetes air mata jatuh di pipi wanita paruh baya itu.

"Oma ...." Ruina menggenggam jemari sang nenek, berharap itu bisa menenangkannya.

"Oma hanya takut, Rui. Oma nggak punya siapa-siapa lagi. Saat mendengar kabar tentang mamamu, dunia Oma serasa runtuh. Seharusnya, Oma tidak membiarkan ia berkarir sebagai seorang penari balet. Seharusnya, Oma melarangnya jadi dia masih hidup saat ini. Bahkan, papamu sendiri juga tidak sanggup mengatasi kesedihannya. Tapi, ia beruntung bisa bertemu mamamu lebih cepat karena penyakitnya."

Air mata juga mengalir deras di wajah Ruina. Kini, ia memahami arti penolakan Katrina pada cita-citanya. Pada impiannya. Ia menggenggam jemari Katrina lebih erat lagi.

"Oma, maafin Rui," bisiknya lirih.

Katrina menggelengkan kepala. "Rui nggak perlu minta maaf, justru Oma yang minta maaf ke Rui. Maafin Oma, ya. Mulai sekarang, Oma nggak akan ngelarang Rui lagi. Oma sadar, Rui sama mama itu berbeda. Apa yang terjadi pada mama Rui, belum tentu terjadi padamu juga. Maafin, Oma, ya," pinta Katrina. "Pelatihmu itu adalah teman baik mama Rui. Ia banyak bercerita tentang berbagai hal. Dia juga yang akhirnya membuka mata Oma tentang kamu."

Ruina tersentak kaget. Tidak tahu sama sekali mengenai hal itu.

"Benarkah, Oma?" tanyanya tidak percaya.

Katrina mengangguk sambil tersenyum.

"Nah, sekarang Oma mau anter kamu ke tempat latihan. Oma mau lihat sejago apa cucu Oma ini."

Senyum Ruina mengembang. Ia beranjak lalu memeluk Katrina dengan erat.

"Terima kasih, Oma."

***
"Baiklah, Rui. Lima belas menit lagi giliran kamu. Nggak usah gugup, anggap aja ini latihan seperti biasanya," ujar Ambar.

Hari ini adalah hari pertandingan terakhir yang menentukan siapa juara olimpiade balet tahun ini. Ruina yang didampingi sang nenek, menghembuskan napas gugup. Ia memilin-milin jemarinya.

"Rui," panggil Katrina memutar tubuh cucunya agar menatap dirinya. "Rui pasti bisa. Jangan gugup, ya."

"Oma ... kalau ... Rui nggak menang gimana? Rui takut ngecewain semuanya."

"Rui pasti menang, kok. Tapi ... kalau emang seperti itu, Rui tetap jadi kebanggaan Oma, juga pelatih Ambar dan teman-teman lainnya. Jangan bebankan dirimu untuk jadi juara. Menarilah dengan perasaan senang, dengan begitu semua akan baik-baik saja."

Ruina tersenyum. Rasa gugupnya mulai berkurang.

"Rui, ayo bersiap!"

Ruina menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia memejamkan mata berdoa untuk pertandingannya kali ini. Menjadi balerina adalah impiannya. Cita-citanya. Ia akan memuluskan jalannya dengan kemenangan pada pertandingan final ini. Begitu selesai ia membuka matanya dan tekad yang kuat terpancar dari kedua bola mata nan indah tersebut.

"Rui." Katrina menepuk bahu cucunya. "Kamu bisa!"
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di