CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e424cf628c9914fed26cf02/tamat-monster-kecil

Monster Kecil

Spoiler for Monster Kecil:


Anisa (Sasa) seorang wanita muda yang menikah dengan Indra, duda beranak satu dan sangat membenci anak tirinya sejak pertama mereka bertemu hingga Sasa menjuluki anak itu sebagai 'Monster Kecil', di haruskan tinggal satu atap bersama Lea, anak yang dibencinya selama sekitar tiga Minggu.

Dapatkah Sasa bertahan selama itu?
Apa yang akan Sasa pelajari selama tinggal bersama anak yang dia benci dan apakah Sasa akan sama dengan citra seorang Ibu tiri lainnya yang sering digambarkan sebagai sosok kejam, jahat dan hanya mencintai sang Ayah saja?

________________________________________

#fiction inspired by #realstory
#fiksi terinspirasi dari #kisahnyata
Ditulis oleh : #aandzee (goonerettekw)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alva610 dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh goonerettekw
15
Thread sudah digembok
• Part 2
#MonsterKecil
#MingguPertama
#Harike2
#Harike3

"Tangisan Maya"

• Hari ke 2

Kehadiran Lea membuatku giat bangun lebih pagi. Jika sampai bangun telat, monster itu juga akan telat pergi ke sekolah.
Jam 8:30 pelajaran baru di mulai, tapi anak-anak di wajibkan tiba di sekolah setengah jam sebelumnya yaitu jam 8.
Jadi kami meninggalkan rumah pada pukul setengah delapan dengan perjalanan sekitar 20 menit, Lea masih punya waktu sekitar 10 menit sebelum bel masuk sekolah.

Mas Indra kini tidak terlalu jadi nomor satu karna ada anaknya disini dan aku sendiri yang mengurus segala keperluannya. Siapa yang setuju dia harus tinggal disini? Nikmati saja kalau sekarang aku banyak alasan ini itu yang menyangkut Lea, biar mas Indra juga nggak manja... bikin kopi sendiri, bikin teh sendiri, ambil minum sendiri, xixixi.
Padahal aku dan Lea di kamar kadang sedang mewarnai buku gambar, sekedar nonton tv atau rebahan.

Tapi kelihatannya mas Indra malah seneng melihat aku pelan-pelan dekat dengan Lea. Dia kan yang paling memahami alasan aku benci dan tidak suka pada anaknya. Mas Indra juga tidak keberatan untuk menyeduh kopi ataupun membuat teh sendiri. Kami memang saling bekerjasama dalam rumah tangga ini, untuk urusan kebersihan rumah pun, kami saling sepakat helping each other atau saling bantu sesama. Misalnya aku yang masukin baju kotor di mesin cuci, mas Indra nanti yang jemur pakaian kami. Aku yang masak, mas Indra yang kupas bawang merah, aku yang kotorin, mas Indra yang cuci wajan dan lain sebagainya.
Pernah suatu hari, mas Indra sampai menangis karna mengupas bawang bombay. Hahaha.

Aku tau Lea pasti kesepian, di rumahnya dia hanya tinggal bersama mbak Dewi dan neneknya. Berkumpul dengan teman-temannya hanya di sekolah saja. Aku tidak tahu juga sih apakah di area rumahnya ada playground atau tempat main anak-anak dan Lea bermain dengan anak-anak lainnya.

Aku berinisiatif untuk mengajak Maya, keponakanku main di rumah ini. Kebetulan besok libur sekolah, jadi Maya bisa menginap disini dan bermain dengan Lea. Mas Indra juga mengijinkan aku menjemput Maya dan memang sudah hal biasa Lea dan Maya bermain bersama.

______________

Sebelum Lea tinggal sementara disini, di akhir pekan aku juga mengajak keponakanku ikut serta tiap kali kami jalan-jalan. Jadi Lea dan Maya juga sudah akrab karna sering bertemu dan main bareng. Tapi yang tidak aku sukai dari si monster itu adalah sifat manja, cengeng, ngambekan dan nakal nya. Maya sering mengalah karna meskipun seumuran, 'attitude' atau sikap Maya jauh berbeda dari Lea yang tampak seperti tidak punya etika.
Saat itu memang aku tidak sedikitpun peduli seberapa jauh sih kenakalan Lea? tapi semenjak beberapa hari tinggal disini, aku mulai menyadari betapa anak ini sungguh sangat nakal. Dan tangannya itu enteng sekali.

Dia memecahkan vas bunga milikku, menarik korden dengan kencang hingga terlepas baut nya, mematahkan kaki meja laptopku dan masih banyak lagi ulah tangannya yang membuatku geram.

Aku tidak bisa marah (*lebih tepatnya aku terpaksa tidak marah) karna tiap kali monster itu melakukan kesalahan, mas Indra lah yang selalu meminta maaf padaku dan berjanji akan mengganti apa yang telah di rusakkan oleh anaknya. Aku jadi tidak enak, bukankah ini rumah kami berdua? Jika ada yang pecah atau rusak, yasudah tidak apa-apa. Pikirku saat itu meski aku sebal juga sebenarnya.

Ohya, Maya juga pernah mengadu padaku kalau Lea suka mukul. Pada saat bermain bersama, Lea si manja dan apa-apa ingin menang sendiri karna ayahnya terlalu memanjakannya, merebut mainan yang sedang di pegang oleh Maya. Maya pun merebut balik mainan itu, biasalah anak-anak seusia itu memang wajar kan? Namun yang tidak aku terima, Lea tiba-tiba memukul keponakan kesayanganku! Aku marah besar pada mas Indra dan memintanya bicara dengan mbak Dewi untuk ngajarin anaknya jangan suka main tangan. Lagi-lagi mas Indra minta maaf padaku, pada Maya dan juga kak Vera, kakak ku.
Kak Vera sendiri memaklumi karna anak-anak memang sering rebutan mainan dan berantem. Tapi aku tidak peduli, enak saja keponakanku di pukul. Aku makin benci dan tidak suka pada monster kecil itu. Huffftt

_____________

Aku dan Lea pergi menjemput Maya. Mas Indra masih di kantor dan dia mengabari kalau akan pulang telat karna ada urusan di kantor.

Lea masih terlihat arogan dan suka ngambek tiap kali main dengan Maya.
Aku memang membiarkan mereka main berdua saja sementara aku mengerjakan kerjaan rumah, membuat makanan atau sekedar rebahan.

"Ternyata capek juga ya ngurusin bocah, apalagi model si monster yang bandel bin bebel itu. Anakku jangan sampai punya 'attitude' seperti kakak tirinya kelak. Tidak akan aku biarkan itu terjadi, akan aku didik anakku dengan caraku sendiri." Gumamku sambil membayangkan bagaimana rasanya jika waktunya telah tiba dan Tuhan benar-benar mempercayakan aku dan mas Indra menjadi orang tua.
Aku tersenyum kecil sambil memandangi figura foto yang ada di meja kamarku, nantinya akan ada anggota keluarga baru dalam bingkai foto ini.

"Prrraaakkkkkk!!"

Terdengar suara dari kamar anak-anak, aku segera lari menghampiri, ternyata itu ulah si monster kecil. Dia membanting pintu kamar karna kalah adu "rock, paper, stone" dengan Maya.

"Dasar monster tengil!" teriakku dalam hati.

"Ayo Maya main sama tante Sasa aja, nggak usah ajak Lea!" aku sengaja mengeraskan suaraku agar si monster itu mendengar ucapanku.

Benar saja, beberapa detik kemudian Lea keluar dari kamar dan mendekati kami lalu mereka berdua main bersama lagi.

"Arrgghh... dasar anak-anak!" sejenak aku teringat masa kecilku dimana aku sering berantem dan rebutan mainan dengan kak Vera.

____________

Lea dan Maya sudah tidur, ini waktunya aku berduaan dengan suamiku. Tapi dasar suami manjaaa... pulang udah agak larut aja masih minta di bikinin makanan. Aku suka geram deh.

"Kenapa tadi nggak beli di luar aja sih, hun... ini udah waktunya kita 'cuddle' nyaman di kamar!" keluhku pada mas Indra yang minta di buatkan mie goreng.

"Nanti aku yang cuci piring dan pancinya, hun!" rayu mas Indra sambil masuk ke kamar mandi setelah meletakkan tasnya.

'Hun' adalah panggilan sayang kami, sebenarnya artinya 'honey', tapi kami lebih suka saling memanggil 'hun'... hehehe.

Mas Indra terlihat kelaparan, kebiasaan tu orang ngerepotin istri malem-malem suruh masak. Maksudku, mbok ya makan di luar aja atau beli makanan bawa pulang kek kalau udah malem gini baru pulang. Aku kan juga udah beresan, masa mau di kotorin lagi sih?
Eh, tapi tadi mas Indra janji mau nyuci ding.

Aku masak dua bungkus mie instant goreng sementara mas Indra sedang mandi, aku dengar suara pintu kamar mandi di buka yang artinya mas Indra telah selesai dan akan segera keluar ke ruang makan. Aku membawa sepiring mie goreng dan air putih ke meja makan tepat saat mas Indra juga keluar dari kamar.
Sepertinya suamiku ini memang kelaparan, dia makan dengan sangat lahap. Dalam hitungan menit, sepiring mie instant dan dua telor ceplok itu bersih tak tersisa!

"Sayang, piring nya aku cuci nanti dulu ya... kenyang banget ini, makasih ya udah buatin makanan yang enak." Mas Indra mencium pipiku sambil merayu karna belum akan mencuci piring sekarang. Aku tahu itu.

"Iya hun, tapi jangan lupa di cuci sendiri yaa!" jawabku mengingatkan.

____________

"Pillow talk" malam ini membahas pekerjaan mas Indra dan hari yang kami lalui seharian. Tiba-tiba aku teringat siang tadi saat aku menjemput Lea untuk pertama kalinya, Miss Rahel menanyakan tentang buku yang aku tidak tahu buku apa itu. Mas Indra menyarankanku untuk bertanya pada mbak Dewi, tapi aku malas banget sih kalau harus hubungin mbak Dewi... kenapa bukan mas Indra aja? gezzzz....

*****

• Hari ke 3

Hari ini tanggal merah, jadi anak-anak tidak sekolah. Ku lihat mereka masih terlelap. Aku membuatkan kopi dan sarapan untuk mas Indra, hari ini kami berencana untuk mengajak anak-anak pergi ke taman bermain. Pasti mereka senang deh.

Di tempat permainan, Lea dan Maya terlihat asyik mencoba berbagai permainan dan main di perosotan, mandi bola dan lainnya. Aku dan mas Indra berduaan menunggu mereka di luar. Udah kayak lagi pacaran. Hahaha

Karna sudah bermain dari pagi, aku mengajak anak-anak pulang. Orang-orang yang melihat kami sering mengira Lea dan Maya adalah anakku karna mereka nempel terus.

Usiaku dan mas Indra beda 5 tahun, saat seusiaku, mas Indra menikah untuk pertama kalinya dengan mbak Dewi. Jadi alasan aku memanggil ibunya Lea dengan sebutan 'mbak' karena usianya juga jauh diatasku.
Kak Vera juga seusia dengan mbak Dewi dan mas Indra.

Aku menyuruh anak-anak untuk istirahat dan tidur siang karna mereka pasti lelah bermain. Aku dan mas Indra juga tiduran di kamar. Tapi tidak lama kemudian, kudengar suara yang sangat kukenal.

"Tante Sasa, hiks... hikss..." suara Maya terdengar menangis

Aku langsung menghampirinya dan mencari tahu apa yang terjadi?
Dan ternyata monster kecil itu menendang punggung keponakanku karna Maya tidak meminjami pensil warna yang sedang ia gunakan untuk mewarnai buku gambar. Tapi apakah harus menendang Maya hingga dia menangis kesakitan?

"Mas Indraa siinii masss!" aku berteriak memanggil mas Indra yang terlelap di kamar.

"Ada apa, hun?" mas Indra menghampiri kami di kamar.

"Lihat tuuu anakmu nakal banget sih! dia nendang Maya mas! keponakanku sampai nangis kesakitan gini!" aku marah sekali, ku peluk Maya lalu aku kemasi barang-barangnya, akan aku antar Maya pulang sekarang. Aku tidak terima monster itu menendang bahkan menyentuh keponakan kesayanganku!

Tak tahu kenapa, air mataku mengalir begitu deras mengetahui Maya di kasari oleh Lea hanya karna masalah sepele.
Mas Indra tidak berkutik waktu itu, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Si monster itu sendiri sedang diam di pojokan lalu mas Indra menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi.

"Kenapa Lea nendang Maya?" tanya mas Indra lirih.

"Maya nggak boleh aku ikut warnain," jawab Lea bohong.

Padahal kenyataannya punggung Maya di tendang karna Lea mau pakai pensil warna yang sedang di pakai oleh Maya.

Sambil menahan marah, aku berganti baju dan mengambil kunci mobil, aku akan mengantarkan Maya pulang, aku tidak akan bawa Maya main sama si monster itu lagi!

Mas Indra keluar dari kamar dan mencegahku pergi. Dia bilang Maya juga salah bla bla blaa....

Anehnya, Maya keponakanku ini tidak mau aku ajak pulang! dia betah disini, di rumahku.
Maya menangis tidak mau pulang, mas Indra juga mencegahku pergi. Aku sangat marah pada monster kecil itu yang berani menyakiti Maya! aku semakin membencinya. Ingin rasanya aku pukul dan ku tendang bocah itu dengan kaki dan tanganku!

Aku mengunci diri di kamar dan tidak membiarkan mas Indra masuk, dia menggedor-gedor pintu memintaku untuk membuka pintu tapi aku bungkam, aku menangisi Maya yang disakiti oleh anak tiriku yang ku benci setengah mati.

Mas Indra tidak habis akal, dia mencari kunci cadangan dan membuka pintu. Aku masih menangis di sudut ranjang. Mas Indra mencoba mendekatiku dan meminta maaf atas nama Lea. Dia ingin aku memaafkan Lea dan melupakan hari ini.

"Enak saja." Jeritku dalam hati.

Mas Indra terus membujukku dan minta maaf, akupun akhirnya luluh dan memaafkan Lea atas kejadian hari ini dengan syarat dia tidak boleh main tangan lagi atau aku yang akan mewakilkan Maya membalas pukulan maupun tendangan yang Lea lakukan.

Aku keluar kamar dan mengecek apa yang sedang dilakukan dua anak itu, ternyata mereka sedang main bersama.

"Ahh... Dasar anak-anak."

Tapi aku tidak bisa memaafkan jika sampai monster kecil itu menyakiti fisik keponakanku lagi.

_____________

Sekitar jam 7 malam, aku mengantarkan Maya pulang. Aku menceritakan semuanya pada kak Vera dan Ibu. Kedua bidadariku menasehati agar aku bisa lebih bersabar dengan Lea, turunkan emosi dan buang rasa benci. Tapi sumpah, untuk melakukannya sulit sekali. Ibu dan kak Vera juga bilang walau bagaimanapun, Lea adalah anakku juga, jadi akupun berkewajiban untuk merubah Lea menjadi lebih baik lagi. Tapi itu akan sulit, aku ragu Lea bisa berubah.

Aku mengecek HP dan ku lihat ada 14 panggilan tak terjawab serta banyak pesan masuk dari mas Indra menanyakan "kapan aku pulang?"

Sebenarnya aku ingin sekali menginap di rumah ibu, aku ingin tidur dan di peluk ibu malam ini. Tapi ibu malah menyuruhku pulang karna suami dan si monster itu menungguku.

"otw home." Aku mengirimkan pesan singkat untuk mas Indra.

"i'm waiting, i miss you, i love you, hun... i'm so sorry that i hurts you. (Aku tunggu, aku kangen kamu, aku mencintai kamu, hun... aku sungguh minta maaf telah melukai kamu)." Balasan mas Indra tidak sempat aku baca karna batre HP ku keburu habis.

Arrgghh... aku terjebak macet. Untung tidak bawa mobil sendiri, jadi bisa tiduran dulu. Aku sudah berpesan pada bapak driver untuk memanggilku jika sudah sampai rumah.
Kepalaku pusing dan sakit sekali. Ini pasti karna aku menangis tadi.

_______________

Di rumah, mas Indra mungkin khawatir sekali karna aku tak kunjung tiba, di luar juga sedang hujan lebat, apalagi ponselku tak bisa di hubungi.

_______________

#fiction inspired by #truestory
#fiksi terinspirasi dari #kisahnyata
Ditulis oleh : #aandzee
profile-picture
profile-picture
itkgid dan anasabila memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di