CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
hingga Malam Hari, Banjir di Underpass Kemayoran Belum Surut
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2b371d09b5ca378f2fc1af/hingga-malam-hari-banjir-di-underpass-kemayoran-belum-surut

hingga Malam Hari, Banjir di Underpass Kemayoran Belum Surut



Jakarta - Banjir di underpass Kemayoran, Jakarta Pusat, belum juga surut. Hingga malam ini, ketinggian air belum berubah signifikan sejak siang hari tadi.
Pantauan detikcom pukul 20.40 WIB WIB, Jumat (24/1/2020), air masih merendam beton-beton penyangga underpass. Sampah-sampah di genangan banjir pun masih terlihat.

"Saat ini masih kami upayakan penyedotan yang dilakukan dari Damkar Jakpus, SDA, dan Kementerian PU. Kami masih terus coba ya. Ada empat mesin pompa yang kami gunakan," kata petugas Operasional Damkar Jakarta Pusat Mulandono kepada detikcom di lokasi, Jumat (24/1/2020).

Dia juga mengungkapkan sampai hari ini timnya telah berhasil menurunkan ketinggian banjir sekitar 1 meter. Pihaknya masih terus mencoba melakukan penyedotan agar banjir segera surut.

"Jadi alhamdulillah sekarang kita sudah turun ya 1 meter. Bisa terlihat itu sisi-sisi gedung sudah terlihat ya, walau memang masih dalam banjirnya," ujarnya. [url=https://news.detik.com/berita/d-4872543/hingga-malam-hari-banjir-di-underpass-kemayoran-belum-juga-surut Banjir di underpass Kemayoran, Jakarta Pusat, belum juga surut hingga malam hari ini.]Sumber berita : Detik Online[/url]

Opini Ts

Jakarta Banjir Lagi, Jakarta Butuh Pemimpin Eksekutor Bukan Konseptor

Dalam dua tahun seolah kita disadarkan kondisi jakarta yang kian merana. Berbagai kondisi amburadulnya pengelolaan jakarta yang asal asalan seolah jakarta kian tak terurus manajemen kotanya. Kondisi hari ini semakin menyadarkan kita bahwa rakyat jakarta salah milih pemimpinnya. Banjir berjilid jilid dan yang terbaru banjir underpass kemayoran belum surut adalah bukti lemahnya pengelolaan jakarta.

Underpass kemayoran yang belum surut hingga semalam sebuah penanda penting yang mampu menyadarkan kita bahwa pilkada harus jadi pondasi penting memilih gubernur yang faham pengelolaan kotanya.

Dalam dua tahun kita dibelalakkan kondisi jakarta yang kian carut marut. Pengelolaan anggaran jakarta yang buruk dan tidak transparan. Proses pembangunan yang asal asalan tidak berdasarkan prioritas kebutuhan rakyat jakarta. Hingga soal pengelolaan pembangunan yang asal asalan cenderung bongkar pasang membuat jakarta seolah tidak ada kontrol manajemen terbaik.

Kritik sebagian besar warganet menganggap bahwa gubernur Anies Baswedan terlalu sibuk merangkai kata tanpa makna tapi tak seindah fakta.

Lalu apa sebenarnya seperti apa model kepemimpinan yang cocok dengan kondisi jakarta yang multi komplek masalahnya.

Dari berbagai dinamika dua tahun ini dengan berbagai macam masalah yang menghadang jakarta ,serta proses penanganan gubernur Anies Baswedan dalam mengendalikan jakarta. Ditambah lagi kita dikejutkan dengan jakarta banjir lagi bahkan hari ini sudah jilid kesekian mengganggu aktivitas warganya. Maka ada catatan penting dari berbagai peristiwa jakarta dua tahun ini bahwa jakarta cocoknya dipimpin oleh seorang eksekutor bukan konseptor.

Jakarta tidak butuh narasi narasi yang mengawang awang demi menghibur warganya lewat rangkaian kata. Tapi jakarta butuh pemimpin yang hadir untuk memberi solusi konkret perubahan yang dihadapi warganya.

Solusi konkret dari pemimpin yang hadir untuk rakyat sangat krusial dibutuhkan dan dinantikan. Dua tahun ini pemimpin jakarta disibukkan dengan konsepsi yang mengawang seolah persoalan konkret lupa untuk dipecahkan.

Pemimpin konseptor biasanya jago dalam narasi retorika tanpa makna, tapi lemah dalam mengaplikasikan narasi kayalannya menjadi upaya konkret nyata bagi rakyatnya.

Amburadulnya penanganan trotoar yang bongkar pasang, pohon pohon ditebangi tak tentu arah, anggaran dibawah kendali para mafia hingga problem banjir dan macet yang tak tentu arah.

Gambaran tersebut menjadi alasan nyata jakarta butuh pemimpin eksekutor bukan konseptor. Karena pengalaman jokowi dan ahok menjadi kekuatan besar bahwa pemimpin eksekutor mampu memecahkan masalah jakarta yang sudah begitu akutnya.

Pengalaman jokowi ahok menyelesaikan masalah rakyat bantaran sungai, sistem transportasi terpadu yang dimulai lewat pembangunan MRT, KRL hingga Busway. Bahkan masalah anggaran lebih fokus pada prioritas solusi menjawab problem jakarta yang sudah parah.

Belajar dari refleksi kinerja tersebut maka jakarta butuh kembali memilih pemimpin eksekutor bukan konseptor. Pemimpin yang memahami masalah jakarta dan mampu memberikan solusi konkret sebagai cara pemimpin hadir untuk rakyatnya.

Semoga renungan reflektif ini bisa dijadikan pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa pilkada memang ajang kontestasi kepentingan tapi harapannya dengan momentum pilkada kita bisa menentukan figur pemimpin yang cocok dengan karakter kotanya. Sehingga kota nya bisa maju dan tidak terjadi salah urus gara gara milih pemimpin sembarangan atau asal asalan.

Gan dan sis yukk doakan semua rakyat jakarta diberi ketabahan ditengah kondisi jakarta yang kian amburadul dalam dua tahun ini.

Dan semoga pengalaman jakarta menjadi refleksi bersama dalam menentukan figur pemimpin yang terbaik bagi kotanya...

Tabahkan hatimu .....wahai rakyat jakarta....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinariris999 dan 5 lainnya memberi reputasi
Ane kira sengaja digenangkan biar air terserap ke tanah, ntar kalo sisa baru dibuang...itu kata ahli tgupp.

Sampai detik ini Ane juga nggak paham maksud sengaja digenangkan. Apa dikira warga Jakarta punya insang dan sirip jadi banjir dibiarin ajah ditunggu surut secara alami?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ambarawan dan 5 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di