CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e11db4fa2d1957b5b433fd0/mereaksikan-kamu-dan-aku-menjadi-kita

Reaksi Hati

Bereaksi


Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain.

Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk menangkap segala aktivitas cowok bernama Elang.

Elok duduk di kursi belakang Elang. Sekedar untuk dapat menatap punggungnya sambil menikmati makan siang.

Rindu berjalan tergesa-gesa menghampiri Elok, memanggil namanya dua kali tapi cewek itu tetap bergeming seolah berada di dimensi lain.

Rindu menarik garis khayalan dari manik mata sewarna madu itu menuju ke depannya dan taulah apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba menjadi tuli akan panggilan.

Dia menarik cepat tisu yang ada di tengah meja kayu, mengelapkan di bibir Elok dengan kasar. "Lap dulu air liurmu yang banjir ini."

Menghempaskan diri dengan kesal ke bangku yang berada di seberang Elok. Elok memberikan tatapan protes. Untung itu sahabatnya kalau nggak pasti sudah dihabisi.

"Ngapain sih? Aku kan baru makan, nggak ada air liur yang menetes seperti orang kelaparan yang belum makan tiga hari." Elok mengelap mulut menggunakan tisu yang direbut dari tangan Rindu. Menunjukkan pada cewek itu kalau tidak ada satu tetes air liur pun yang menempel pada permukaan tisu.

"Nggak salah kok kalau mengagumi ciptaaan Tuhan yang demikian memikat. Nggak usah malu mengakui kalau sedari tadi kamu lihatin Elang terus." Rindu memiringkan kepala lalu mengerling.

Elok menyibukkan diri dengan mengaduk kuah soto untuk mencari daging sapi yang sebenarnya tidak ada karena sudah dimakan semua. Apakah dia terlalu ceroboh sampai perasaannya terlihat begitu jelas.

Sudah dua tahun ini dia berusaha mengekang rasa sukanya dengan berpura-pura tidak mengenali Elang. Mereka bahkan tidak pernah berbicara satu kali pun. Ajaibnya, tidak ada yang menyadari keganjilan itu.

Kesedihan kembali merayapi Elok. Sungguh dirinya tak layak untuk berada di dekat Elang sejak kejadian naas ketika mereka lulus SD.

Kalau bukan karena sifat manjanya pasti sekarang Elang masih bisa bersama-sama dengan mamanya. Elok mendesah, memaksa menyuapkan nasi soto ke dalam mulut kecilnya.

Elok menutup wajah dengan kedua tangan, mengingat kembali kejadian itu membuat hatinya sedih. Betapa pengecutnya karena sampai sekarang tidak berani meminta maaf pada Elang. Menelan sendiri rasa bersalah itu.

"Jadi begini." Elang bangkit lalu memutari meja. Menekankan kedua tangan di atas meja, tubuhnya condong ke depan hingga semua teman-teman mengikuti.

Elang mengangkat dagu sebentar agar matanya bisa menatap pemandangan yang tadinya tidak bisa dilihat. Dahi berkerut ketika melihat objek pemandangan malah sedang menutup mata dengan tangan. Sedang sedihkah dia? Apakah kembali memikirkan masa lalu.

Elang kembali menunduk, melanjutkan percakapan yang tertunda. Namun otaknya memikirkan hal lain. Dia ingin kembali bisa dekat dengan Elok. Namun sejak awal mereka bertemu di kampus, cewek itu seperti menghindar.

Rindu menyentuh lengan Elok. "Kamu kenapa?"

Elok menyingkirkan tangan yang menutup wajah, menggeleng lemah. "Nggak papa," ujarnya sambil tersenyum lemah.

"Makannya sudah selesai kan? Sekarang sudah hampir waktunya praktik." Rindu berdiri setelah melihat jam tangan.

Elok juga ikut berdiri, berlari kecil mengejar Rindu yang sudah pergi duluan.

"Eh, maaf," kata Elok setelah tidak sengaja menabrak Elang yang tiba-tiba berhenti.

Elok tidak memperhatikan secarik senyum yang coba disembunyikan Elang karena bisa mendengar suaranya kembali.

Praktik kali ini ada di lantai tiga. Elok menyesuaikan napas ketika memasuki ruangan. Terkesiap ketika melihat Elang sudah terlebih dahulu sampai. Pasti dia lewat tangga yang satunya.

Elok mencoba mengabaikan fakta bahwa Elang sama sekali tidak terengah-engah seperti dirinya sendiri. Pasti cowok itu sering berolahraga.

Elok berjalan melewati meja Elang untuk menuju mejanya sendiri yang hanya selisih satu bangku.

Fahmi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Dengan tidak sabar menarik tangan Elok hingga cewek itu terduduk di bangkunya.

Cowok itu membantu Elok mempersiapkan box yang berisi perlengkapan praktik. Elok hanya bisa tersenyum menerima perhatian itu. Elok menyadari perasaan Fahmi, tapi apa daya hatinya sudah tertambat ke orang lain.

"Sudah siap dengan pretest? Jangan sampai kamu tidak boleh mengikuti praktek karena nilai yang kurang." Fahmi mengerling sebelum menyiapkan perlengkapannya sendiri.

Dosen dan juga asisten sudah memasuki ruang laboratorium, tapi Elani masih belum kelihatan. Waktu teori tadi dia juga tidak kelihatan. Elok melirik bangku yang berada di samping.

"Sebelum memulai pretest, saya ada sedikit pengumuman. Elani sudah mengajukan surat berhenti kuliah. Elok, kamu pindah di sebelah Elang. Kalian jadi partner. Yang lain silakan bergeser satu bangku." Bu Weni mengawasi mahasiswa yang mulai mengemasi perlengkapan untuk pindah.

Elok memberesi perlengkapan dengan berat hati. Dua tahun ini sudah berusaha keras menghindari cowok satu itu. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa harus mulai minta maaf. Ini terlalu berat baginya.

Elang melirik Elok yang terlihat lesu. Berbanding terbalik dengan dirinya. Rasanya ingin bersorak keras-keras untuk menyerukan kegembiraannya.

Bola lampu di otak Elang menyala. Ini saatnya dia bertindak agar Elok kembali mau berbicara lagi dengannya. Ini akan menyenangkan, benak Elang tertawa bahagia.

"Jangan dikira aku mau menjadi partnermu," bisik Elang untuk Elok gusar.

Mata Elok membelalak hingga terlihat begitu bulat. Ini pertama kalinya Elang bicara padanya. Nada bicara itu membuat Elok merinding. Apakah cowok itu masih begitu marah.

"Jangan sampai menyusahkan." Peringatan kedua yang diucapkan oleh Elang menyulut emosi.

Elok bersedekap dengan dagu terangkat. "Siapa juga yang mau berpartner dengan cowok kaya kamu. Masih lebih baik Fahmi kemana-mana."

Kata-kata itu sukses mengalihkan dunia Elang karena saat ini cowok itu memandang Elok dengan tatapan membunuh. Elok tidak tahu kalau itu benar-benar menyinggung harga dirinya.

Pretest sudah usai, waktunya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar bu Weni memangggil nama mahasiswa. Kalau sampai namanya tidak dipanggil saat praktikum dimulai itu tandanya nilai terlalu rendah, tidak boleh ikut dan harus keluar dari laboratium.

Elok tersenyum ketika namanya dipanggil setelah Elang. Dia berderap maju untuk mengambil kunci laci. Masing-masing mahasiswa memiliki laci yang berisi set peralatan untuk praktikum. Harus bertanggung jawab dengan kebersihan dan kelengkapannya.

"Lho kok kuncinya macet," gerutu Elok sambil terus berusaha memutar ke kanan, tapi terasa berat.

Sebuah kunci diletakkan di meja Elok. Dia mendongak untuk memandang Fahmi yang tersenyum geli.

"Lok, kamu ambil kunci yang salah." Fahmi mengulurkan tangan untuk meminta kunci nomor lima.

Elok menepuk jidat pelan karena menyadari kesalahannya. Nyengir malu-malu, ini karena terbiasa mengambil kunci nomor lima padahal sekarang sudah duduk di nomor empat.

"Ceroboh."

Elok pura-pura tidak mendengar ejekan Elang itu. Mengeluarkan perlengkapan dari dalam laci lalu menata berurutan di atas meja. Sekarang tinggal mengambil mikroskop saja. Dia melangkah menuju rak penyimpanan mikroskop.

"Jangan salah lagi." Elang berjalan sambil memberi peringatan.

Elok meringis, untung diingatkan. Nyaris saja salah ambil mikroskop lagi.

Elok mengeluh dalam hati. Baru beberapa menit mereka menjadi partner tapi sudah mendengar kata-kata yang bikin bad mood. Tau gitu lebih baik tidak ikut praktik saja. Eh, sayang juga kalau harus mengulang semester gara-gara selalu tidak ikut praktik. Mereka kan sekarang jadi partner.

Anggap saja berpartner dengan cowok paling tampan di tingkat tiga. Eh, tunggu dulu, bukannya predikat itu disematkan pada Elang. Elok mendesah sebal.

Elang melirik cewek yang duduk di sampingnya. Cara ini rupanya cukup berhasil. Cewek itu pasti tidak tahan untuk menjawab setiap celaan yang terlontar dari mulutnya. Elok nggak bakal diam saja kalau terus dihina. Rupanya cewek masa kecilnya masih belum berubah banyak.

"Hari ini kita akan praktek hitung eosinofil. Di sini siapa yang punya alergi?" Bu Weni menunggu jawaban dari yang lain.

"Elok saja, Bu." Elang menunjuk Elok disertai dengan serigai liciknya.

"Memangnya Elok punya alergi apa?" Bu Weni mendekati meja mereka sambil membawa perlengkapan untuk mengambil sampel darah berupa vial yang berisi antikoagulan, spuit, alkohol swab, dan torniquet.

"Bukan alergi tapi cacingan. Lihat saja badannya yang kurus." Elang memandang Elok dari sudut mata hingga muncul kesan merendahkan.

"Ya sudah kalau begitu. Elang, kamu ambil darah Elok sebanyak 6 cc," perintah bu Weni.

Elok bergidik ngeri melihat serigai Elang. Ya ampun, 6 cc darah. Spontan menutup lengan kanan dengan memakai tangan kiri. Ini bukan mimpi kan? Semoga Elang bisa lancar mengambil darah.

"Ini tidak sakit kok." Elang memainkan alis sambil mengacungkan spuit 6 cc. Dalam hati menertawakan wajah panik Elok.

Elok menarik tangan saat Elang menggegam mantap. Elang melotot, dengan pandangan mengancam kembali menarik kembali lengan Elok agar posisinya pas. "Tenang aja."

Kata-kata dari Elang tidak membuatnya semakin santai malah makin tegang. Elok mengintip dari sela-sela telapak tangan yang harusnya digunakan untuk menutup wajah. Biasanya sih selalu berani kalau diambil darah. Namun kali ini plebotomisnya adalah Elang. Gimana kalau dia sengaja menusuk dua, tiga, atau bahkan empat kali untuk mengambil darah.

"Nggak sakit kan?" Elang menarik spuit dari lengan Elok dengan mulus.

Elok menggeleng lemah karena pikiran buruknya tidak terbukti. Bahkan tidak terasa sakit seperti kalau diambil oleh Fahmi. Dia meraih vial-vial yang sudah diisi Elang dengan darah, menutup dan mencampurnya dengan anti koagulan lalu membagikan ke pasangan-pasangan lain.



Sumber : atlm.web.id


Semua langsung berkonsentrasi untuk memulai praktikum sedangkan Elok baru saja mulai karena harus membagi vial terlebih dahulu.

Elang mengangkat tangan tanda dia sudah menemukan sel eosinofil. Bu Weni mendekat untuk melihat kamar hitung lalu memberikan tanda tangan di buku laporan. Elang menghitung jumlah Eosinofil yang ditemukan lalu segera mengumpulkan buku itu.

"Cepat seperti biasa." Bu Weni memuji Elang yang pertama kali menyelesaikan praktikum.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Elok yang masih berkutat dengan mikroskop. Mencari sosok eosinofil yang berbentuk seperti kacamata.

"Lima menit lagi. Segera bersihkan peralatan!" Suara Bu Weni membuat Elok semakin gugup.

Elang sudah selesai membereskan meja, malah duduk diam sambil terus memandangi. Enggan untuk membantu biar cewek itu semakin kesal.

Fahmi yang terakhir mengangkat tangan. Setelah memberi tanda tangan, Bu Weni menghampiri Elok untuk mengecek mikroskop dan memang tidak menemukan apa pun.

"Fahmi, tolong pinjamkan bilik hitungmu buat Elok," pinta bu Weni.

"Kamu cacingan ya? Sampai-sampai aku dapat banyak eosinofil. Minum obat cacingan biar gemukan sedikit," ejek Elang, tapi cewek itu masih berpura-pura tidak mendengar.

Elang tahu apa yang bisa membuat cewek itu bereaksi. "Jangan-jangan kamu punya asma. Ngik ... ngik ... ngik...." Elang memegang dada lalu berpura-pura menarik napas dengan kepayahan.

"Nggak lucu," gerutu Elok, membuang muka.

"Kalau begitu pasti alergi." Elang mencondongkan badan sambil menunjuk muka Elok.

Elok mengabaikan ucapan itu. Menyibukkan diri untuk mengemasi tas agar tidak perlu melihat wajahnya.

"Alergi kan?" Elang mengulangi pertanyaan lalu menyikut cewek itu.

Elok memberikan tatapan peringatan. Elang semakin merasa kegirangan. Wajah cewek itu malah jadi semakin menarik. Mungkin ini bisa dijadikan senjata untuk membuat cewek itu terus berbicara padanya.

Fahmi menghampiri. "Elok, ayo keluar."

Elok dan Fahmi berjalan bersisian. Mereka memang kompak sebagai partner karena sudah dari tingkat satu bersama. Sayangnya sekarang mereka terpisah.

Hampir saja Elok duduk di sebelah Fahmi. Namun cowok itu tersenyum geli sambil menunjuk kursi sebelah Elang. Elok menghembuskan napas kasar. Perubahan ini benar-benar membuatnya kacau. Capek hati dan capek pikiran kalau terus berada di dekat Elang.

"Cacingan, asma, alergi?" ejek Elang dengan nada riang.

Elok merasa heran, tumben-tumbenan cowok satu ini banyak bicara. Biasanya tampak cool. Ini sangat menyebalkan.

"Iya, aku punya alergi," ujar Elok ketus. Pada akhirnya memang harus menghadapi cowok itu.

Elang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Mendekati agar dapat mendengar lebih jelas. "Aku benar kan? Kamu alergi apa?" Dia memainkan alis demi melihat wajah Elok yang semakin memerah.

"Uhuk, uhuk, alergi kamu." Elok pura-pura batuk untuk menggoda. "Alergi dekat-dekat sama manusia bernama Elang." Kilat jail muncul dari manik sewarna madu.





Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
cyb3r_thu6 dan 57 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie

Reaksi Hati

Diajak Taruhan

Part Sebelumnya


Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Hampir saja Elok terlena dengan pelukan Elang karena ini terasa begitu hangat, tapi suara berisik dari ruang sebelah membuat Elang melepaskannya. Elok tentu saja paham atas tindakan itu, tapi kenapa seperti ada bagian yang hilang dalam hati. Sebuah lubang seketika tercipta.



"Ikut aku." Elang menarik tangan Elok dan menuruni tangga dengan cepat.

"Pelan napa, Lang? Dari tadi naik turun tangga cepat-cepat. Ngos-ngosan nih," tawarnya yang nggak digubris, Elang malah semakin mempercepat langkahnya.

"Pakai." Elang menyodorkan helm pada Elok.

"Tumben bawa helm dobel?" Helm berwarna baby pink dengan gambar hello kitty tentu saja bukan helm sembarangan. Pasti ini milik orang yang spesial. Apakah ini dulu milik Jesi. Elok masih menimang dan mengamati helm itu karena curiga tingkat berat. Cuma sekadar curiga, bukan menjurus ke cemburu. Elok bahkan berusaha mengingkari perasaannya.

"Tadi abis nganterin Winnie."

"Oooooo," ucap Elok dengan meragukan. Tentu saja cowok itu tidak akan mengaku kalau ini milik mantan. Bisa-bisanya bawa-bawa nama sepupunya yang masih SMP.

"Cepat naik!" bentak Elang dengan tidak sabaran.

Helm itu sudah direbut paksa Elang dan langsung memakaikannya di kepala Elok. Meski pun begitu masih terasa ada kelembutan dan juga perhatian dari caranya memastikan kalau helm terpasang dengan aman dan nyaman.

Elok sudah langsung memaafkan bentakan cowok itu. Semua ini pasti karena Elang masih dalam kondisi labil karena emosi dan kesedihan.

Tanpa harus disuruh, Elok segera saja naik motor agar tidak lagi dibentak. Sejujurnya sekarang dia malah bingung bagaimana harus bersikap. Apa tidak masalah kalau memeluk Elang dari belakang.

"Pegangan."

"Pegangan? Kamu nggak mau ngebuuuuuutttt ... kan?" Elang sudah tancap gas, tidak menunggu kata-kata Elok sampai selesai. Itu membuat Elok mengambil keputusan dengan cepat untuk mencengkeram tas Elang.

"Lang, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak dong." Elang membelok dengan cepat sampai-sampai Elok memejam karena takut kalau terjadi kecelakaan. Selama ini Elang tidak  pernah terlihat mengendarai motor dengan kecepatan gila-gilaan seperti saat ini.

Elang membelokkan motor di warung bakso lalu parkir dengan kecepatan yang sama gilanya membuat Elok melompat turun segera setelah Elang turun. Kembali ngos-ngosan karena menyamakan langkah dengan Elang.

Kenapa sih Elang buru-buru seperti dikejar maling saja. Buset, jangan-jangan Elang lupa sudah mengajak Elok ke sini, makanya ngeluyur sendirian tanpa mau menunggu.

"Lang, mau cerita nggak?"

Elang menghembuskan napas dengan kasar, sejujurnya ini masih topik tabu untuknya. Namun Elang curiga kalau sebenarnya Elok sudah mengetahuinya.

Terasa kehangatan yang menyebar dari tangan yang digenggam oleh Elok  hingga ke hati Elang.

"Sekuat-kuatnya orang pasti butuh orang lain untuk bersandar. Kamu bisa percaya sama aku."

Ketulusan yang terpancar dari mata sewarna tanah liat membuat Elang memutuskan untuk membagi luka hati.

"Kamu sudah tahu ceritanya kan?" Elang menerawang menatap penjual bakso yang sedang sibuk membuat pesanan. Warung bakso ini ramai sekali tapi mereka masih dapat tempat kosong di pojokan.

"Tapi aku tidak tahu gimana perasaanmu yang sebenarnya. Selama ini kamu pintar sekali menutupinya dengan topeng sedingin es."

Perhatian Elok mau tak mau membuat Elang tersenyum dalam hati. Ini membuktikan kalau Elok selalu mengamati dirinya sejak awal kuliah atau itu ilusi yang ingin dipikirkan olehnya agar merasa lebih dicintai. Mungkin saja yang kedua adalah hal yang sebenarnya terjadi.

Elang menunduk, menata keberanian agar tidak kembali terbawa suasana dan kembali menangis. Seorang laki-laki sampai menangis di depan perempuan merupakan kejadian yang memalukan. Kalau sampai dua kali, entah bakal ditaruh di mana muka Elang nantinya.

"Ayah sangat menyayangiku meski aku bukan anak kandungnya. Itu membuatku merasa tidak enak padanya. Pasti dia melihat wajah orang yang menghamili ibu saat melihatku, membuatku merasa terhina. Aku tidak habis pikir mengapa ibu tega mengkhianati orang sebaik ayah."

"Itu bukan salahmu. Ayahmu sangat menyayangimu, mungkin dia masih mencintai ibumu sampai sekarang dan kamu adalah satu-satunya orang yang bisa mengobati kerinduannya. Matamu hitam seperti ibumu. Ekspresi wajahmu saat berpikir sangat mirip dengan beliau. Kalau kamu tidak yakin dengan perkataanku, tanyakan langsung pada ayahmu. Berdamailah dengan masa lalu. Ini bukan salahmu."

Elang diam, tidak mau berbicara lagi dan malah sibuk dengan hpnya membuat Elok manyun. Dia juga nggak mau kalah, dari pada dicuekin mending main  Hay Day saja pikirnya. Saking asiknya bermain sampai tidak sadar kalau baksonya sudah datang.

Tiba-tiba Elok mendapatkan sebuah ide. Iseng-iseng memutar tubuh hingga duduk membelakangi Elang, mumpung objek aksinya masih sibuk dengan hp pasti tidak bakal menyadari apa yang dilakukan oleh Elok yaitu memotret dirinya sendiri dengan latar belakang Elang.

Elok tersenyum puas melihat hasil fotonya. Meski pun wajah Elang tidak begitu jelas tapi kalau foto ini terpampang di instagram pasti banyak yang mengenali.

"Kok belum dishare di Ig atau Fb?" Elang mendongak untuk menatap Elok dengan pandangan menantang.

Ups, rupanya ulahnya sudah ketahuan. "Iseng kok. Aku hapus deh."

Elang memiringkan kepala, pandangannya menunjukkan kalau tidak bakal semudah itu dibohongi. Dia lalu meraih hp yang tergeletak di atas meja.

"Lang, aku bisa hapus sendiri kok." Elok berdiri, berusaha merebut kembali hp miliknya. Namun Elang lebih gesit sehingga bisa menepis setiap serangan hanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan digunakan untuk membuka aplikasi di hp.

"Nih." Elang mengembalikannya setelah selesai mengutak-atik.

Cemas melanda Elok ketika mengecek galeri. Apakah foto Elang yang lain bakal ditemukan juga, foto yang selalu diambil diam-diam. Dia memejam erat-erat, membuka mata dengan lebar setengah cm untuk mengintip. Mata itu kini terbuka lebar hingga membulat karena foto itu masih ada. Bahkan foto yang lain juga masih utuh.

Sebentar kemudian suara notifikasi terdengar bersahut-sahutan membuat Elok hampir melempar hp-nya karena terkejut. Rupanya itu bukan satu-satunya cobaan yang harus diterima karena Elok lebih kaget setelah menemukan foto Elang di ig-nya, lengkap dengan komentar dari teman-teman mereka.


Dinda Omg itu Elang kan? Tambah ckep aja. Clbk nih

Jesi Pasti hanya setingan saja

Hera Sirik ya Jesi?

Rindu Kapan jadian kok CLBK sih, Dinda?

Dinda Cinta lm blm klar, hahaha

Jesi Kamu ngarep cintanya Elang ya, Elok? Siap-siap patah hati.

Hera Iri tuh si Jesi

Fahmi Wah, aku cemburu!

Rindu Cemburu sama Elok? Km hombreng, Fahmi? hehehe

Fahmi Hati-hati dengan jarimu, Rindu.


"Puas?" Layar hp Elok dihadapkan ke depan wajah Elang, tapi cowok itu malah terkekeh.

"Kamu yang mulai duluan."

"Kan udah mau dihapus," rajuk Elok sambil menutup wajah. Tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi besok di kampus. Dia bahkan tidak berani membuka whatsapp yang dari tadi terus memanggil untuk dikunjungi.

"Btw, dulu kamu naksir aku ya?" goda Elang dengan memainkan alis. Rasanya semua masalah jadi hilang kalau lihat pipi cewek itu yang menggelembung dengan menggemaskan saat merajuk. Membuat Elang jadi ketagihan menggoda Elok.

"Kata siapa?" Mata Elok tertuju pada mangkuk bakso agar Elang tidak bisa membaca matanya. Dia termasuk tukang bohong yang payah. Rindu saja selalu bisa menangkap kebohongannya.

"Komen Dinda tuh." Elang menunjukkan tulisan Dinda.

"Ih, geer." Elok menjulurkan lidah tepat saat Elang mengambil foto.

Suara notifikasi kembali terdengar. Jantung Elok berdebar lebih kencang saat membuka halaman facebook. Sekarang apa lagi.

Sebuah foto dirinya yang sedang menjulurkan lidah, lengkap dengan keterangan yang berbunyi : Bikin gemes - bersama dengan Elok di akun fb Elang membuat dirinya menerima berbagai komentar dari banyak orang yang bahkan tidak dikenalnya.


Jesi 😱😱Jangan bilang kalau hp Elang dibajak Elok?

Fahmi Aku juga gemes 😍

Kilat Dedek emeshnya Elang, ntar kalau sudah bosan dengan Elang tinggal hubungi aku 😉

Reno cute, emg bikin gemes

Lasmi cute apaan, kerempeng mana keren. Lebih mending aku dong yang semok ini.

Rindu Sumpah demi apa, kamu beneran kencan ma Elang????

Hera Nunggu traktiran nih

Prih Gemes pengen cium

Kirana Uh, masih cantikan aku kelez

Jesi Jangan berani dekati Elang , Kirana

Kirana Apa urusanmu? Cuma mantan ini

Isti Baru tahu kalau Elang juga bisa seiseng ini sama kamu, Elok

Raditya Hai, cewek. Kamu bukan pacar Elang kan? Pacaran sama aku aja. Lupain Elang.

Kilat Woi Raditya, antri sesuai urutan dong. Jangan main nyelonong.


Elok bahkan tidak berani membaca komentar-komentar di bawahnya. Baru satu menit tapi yang komentar sudah puluhan. Ternyata Elang terkenal juga. Fansnya pasti banyak, mengingat cewek-cewek berkomentar jelek tentang dirinya.

"Ayo pulang." Elang menutupi layar hp dan memaksanya berdiri.

...

Pagi-pagi Elok sudah diculik ketika hendak ke kantin. Beruntung tidak ada gudang di kampus hingga dia tidak harus khawatir kalau disekap di tempat favorit para penculik.

Padahal Elok sudah sangat lapar dan ingin segera sampai di kantin. Dasar Elang kurang kerjaan. Dia malah dibawa ke tangga yang menuju ruang laboratorium. Apa mereka nggak bisa bicara baik-baik di kantin sambil sarapan gitu.

"Ya, ampun Elang. Bikin takut saja," Elok memukul bahu Elang sebagai wujud rasa kesalnya.

"Nih, roti selai. Dimakan." Elang mengeluarkan setangkup roti dari dalam tempat bekalnya. Sebuah senyuman tersungging dengan manis saat Elok ragu-ragu menerima roti itu.

"Tumben bawa bekal?" Namun roti lapis selai strawberry ini terlihat menggoda. Elok mengigit dalam gigitan kecil untuk mencicipi.

"Udah dimakan saja. Enak kok, atau mau kusuapi?"

Tawaran Elang sukses membuat Elok tersedak, tapi Elang dengan sigap memberikan minum dan menepuk punggung sebelum berdiri dan pergi. "Ke kelas duluan ya. Makannya dihabiskan."

Beberapa saat kemudian Elok yang sudah menghabiskan bekal menyusul Elang untuk masuk kelas. Hampir saja dia duduk di sebelah Elang tapi melihat ekspresi datarnya membuat cewek itu memutuskan untuk duduk di belakang dengan Rindu dan Hera. Lagian siapa dirinya sampai bisa duduk di dekat Elang selama kelas teori.

Sepanjang hari Elang sama sekali tidak mengajak Elok berbicara, memandang wajahnya pun tidak. Sepertinya dia dalam mode bunglon. Tadi pagi lumer seperti es krim yang mencair, sekarang seperti es balok.

Karena perubahan sikap Elang, Elok jadi meminta mas Bagus untuk menjemput. Lagian kan nggak mungkin mengharapkan Elang untuk terus menerus mengantar pulang setiap hari, kejadian kemarin dan kemarinnya lagi hanya kebetulan saja. Hera juga sudah mulai pulang sendiri karena janjian dengan pacarnya, sedangkan Rindu memiliki jadwal praktikum yang berbeda dengannya.

Selesai praktek Elok buru-buru menuruni tangga menuju lantai satu. Kasihan kalau Mas Bagus menunggu terlalu lama. Kaki Elok hampir menyentuh anak tangga terakhir saat tubuhnya didorong hingga membentur dinding.

"Aku mau bicara." Jesi memegangi tangan Elok dengan erat dan setengah menyeretnya menuju taman belakang.

"Lepasin. Aku harus segera pulang."

"Aku mau ngajak kamu taruhan. Kalau dalam seminggu, Elang balikan lagi sama aku. Kamu harus jauh-jauh dari Elang." Jesi mendorong Elok hingga tersungkur di bangku semen yang ada di taman.

Dagu Jesi terangkat tinggi untuk mengintimidasi Elok yang berada di posisi lebih rendah.

Namun Elok menolak untuk kalah, karena dia bukan pengecut. "Gimana harus jauh-jauh. Kami sekarang kan partner."

"Kamu tahu maksudku. Jangan pura-pura bodoh!" bentak Jesi sambil menunjuk muka Elok dengan telunjuknya yang montok.

"Urusan hati bukan untuk menjadi bahan taruhan." Elok berdiri lalu menepuk celana kremnya agar bersih dari debu, sekaligus untuk menyiratkan dia tidak menganggap ucapan Jesi masuk akal.

"Huh, aku bahkan berani bertaruh kalau kedekatan kalian selama ini hanya untuk membuatku cemburu. Elang sengaja dekati kamu agar aku cemburu dan mau jadian lagi dengannya."

"Terserah apa katamu. Aku tidak peduli." Elok membentangkan lima jari kanan di depan muka Jesi. Menegaskan agar cewek itu berhenti bicara omong kosong.

"Kamu bodoh atau pura-pura bodoh? Sampai-sampai tidak sadar kalau dipermainkan?" ejek Jesi.

"Terserahlah. Aku pulang." Elok gantian mendorong Jesi agar menyingkir dari jalannya lalu memilih berlari kencang agar cepat terbebas dari cewek halu macam Jesi itu.

Bagus mematikan panggilan saat melihat Elok berlari mendekati. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Namun Bagus tidak menunjukkan ke khawatirannya. Ini bukan tempat untuk mencari tahu masalah yang sudah dihadapi oleh adiknya. Alih-alih bertanya apakah Elok ada masalah, dia malah bertanya dengan ketus. "Kok lama."

"Ayo pulang, Mas." Suara Elok bergetar menahan tangis.

Mau tak mau ucapan halu Jesi meresap dan mengendap dalam pikirannya. Apakah benar kalau dia hanya dimanfaatkan saja? Bukannya kemarin dia sempat berkata dalam hati kalau tidak masalah dijadikan pelampiasan agar Jesi cemburu.

Elok merasa bodoh sekarang karena sempat memikirkan hal itu. Seharusnya harga dirinya tidak mengizinkan untuk diinjak-injak sekejam ini. Hati bukan untuk dipermainkan.

"Menangislah kalau kamu memang ingin menangis. Kembali tersenyum saat sudah sampai rumah. Jangan sampai mereka tahu kalau kamu bersedih. Kamu tidak ingin membuat mereka bersedih juga kan?"

Perkataan Bagus membuat Elok memaksakan diri untuk berhenti menangis karena tidak ingin orang tua yang sangat dicintainya ikut bersedih.

...

Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie
profile picture
aniesday
kaskus addict
Hehe.. Masih tajem pula tulisan cerita mu.. Mantab
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di