CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
CINTAKU TERTAMBAT DI GAZA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e15f900b840886d9c3fe8f5/cintaku-tertambat-di-gaza

CINTAKU TERTAMBAT DI GAZA





Cerpen Romance Religi






CINTAKU TERTAMBAT DI GAZA



Senja merangkak naik ke peraduan, meninggalkan semburat halus bernuansa merah jingga di atas langit Semarang. Hati kian berdebar, sembari memandangi hamparan padi dari pematang. Semakin kucoba untuk biasa saja, justru semakin meningkat detaknya.

Rasanya sungguh berat meninggalkan panti dan para penghuni. Bunda Dian, Bunda Ami, Bunda Santi, dan adik-adik yang teramat kusayangi. Nanti malam rencananya aku akan pergi ke Jakarta, menjalani pembekalan dalam rangka mendedikasikan seluruh tenaga dan kemampuanku untuk kemanusiaan.

Semenjak kuliah di Semarang, aku memang kerap mengikuti kegiatan sosial dan mendedikasikan diri sebagai relawan kemanusiaan. Entah kota terdampak bencana alam ataupun kerusuhan.

Meskipun aku tidak diinginkan dan dibuang oleh orang tua kandung, tapi aku memiliki keluarga dan banyak saudara di panti. Mereka mengajarkan banyak hal tentang kasih sayang dan hubungan antara sesama. Aku merasa inilah saat yang tepat untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.

Tangis haru, ada sesuatu yang berat terasa mengganggu pernapasan. Dengan mengucap basmallah, kaki melangkah menaiki bus jurusan Terminal Lebak bulus. Kususuri setiap angka yang tertera di atas bangku bus. Aku menyusuri lorong, mencari nomor bangku tempatku duduk. Ternyata sudah di duduki oleh pemuda yang tengah asyik bermain gadget, sementara bangku lain telah terisi penuh.

"Mas, permisi, saya duduk di bangku no.15." Kutunjukkan tiket bertuliskan angka 15 yang di lingkari dengan tinta biru.

"Lho, saya juga nomor 15, Mbak. Ini." Kulihat dengan saksama, tiket yang ditunjukkan padaku. Benar saja, Ia pemilik bangku 15, persis denganku.

Pemuda tersebut beranjak dari duduknya setelah meminjam tiket dan memintaku untuk menunggu. Tak berselang lama, ia kembali memberi instruksi agar aku duduk di bangku sampingnya. Aku lega karena tidak harus berdiri selama perjalanan ke Ibukota, hanya karena kesalahan teknis.

"Hmm maaf, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? Bukankah anda Husna?" Suara pemuda di sampingku tadi menyadarkan dari lamunan.
Kuamati lekat wajah itu, tapi nihil, sama sekali tidak ‘ku ingat memori tentangnya.

"Azzam. Ingat?" Dia menunjuk mukanya sendiri dan aku menggeleng karena memang belum mampu mengingat.

"Wudhu ... sumur ... hhmm ... Donggala. Ingat?" potongan demi potongan clue ia berikan dan aku teringat akan suatu kejadian.

"MasyaAllah, Mas Azzam?"

“Iya, duh segitunya wajah saya ini memang ya, mudah dilupakan, hehehe, ups.”

“Ih, nggak gitulah, Mas. Masalahnya Mas banyak berubah. Bukan sekadar janggutan sekarang, tapi brewokan, sampai pangling saya. Hehehe.”

Aku bahagia memandangi pemuda yang tengah tertawa lepas di sampingku. Seketika memori kembali ke masa lalu, ketika seorang pemuda datang menghampiriku yang tengah kebingungan saat hendak mengambil wudu di sebuah sumur di dekat puing reruntuhan bangunan. Aku ingat betul, memoar manis saat itu dia membantuku menuang sedikit demi sedikit air sementara aku berwudu, begitu pun sebaliknya, aku membantu menuangkan air untuknya.

Semenjak perkenalan itu, kami mulai dekat, meski tetap menjaga batasan. Banyak berbagi tentang kisah masing-masing. Bahkan tak jarang selama sepekan di sana, ia kerap mendatangi camp tempatku beristirahat hanya untuk mengantarkan makanan dan vitamin bagi tim relawan putri. Bisa di bilang, kami telah mengungkapkan rasa kagum dan ketertarikan dengan cara yang berbeda. Dengan menunjukkan perhatian dan berdialog lewat tatapan mata.

Ada rasa penyesalan ketika aku harus lebih dulu meninggalkan Donggala tanpa memiliki kontaknya. Qodarullah, sekarang kita dipertemukan lagi.


"Maaf, sekali lagi maaf ya, Mas. Aku nggak ngenalin kamu, habis sekarang beda, sih." Aku terkekeh dengan jawabanku sendiri, karena Mas Azzam benar berbeda dari waktu terakhir bertemu. Rambut halus dibiarkan tumbuh di sekitar pipi dan dagu, membuat ia terlihat lebih dewasa.

"Ya Allah, Dik. Aku senang sekali bisa ketemu kamu lagi. Aku minta kontakmu dari Mas Anam, tapi nggak aktif."

"Iya, Mas. Handphoneku hilang saat perjalanan pulang, waktu itu. Oh, ya, bukannya Mas Azzam asli Malang, kok ada di sini?"

"Ah, iya, Dik. Aku mampir dulu ke rumah teman sebelum ke Jakarta."

Aku sama bahagianya dengan Mas Azzam. Berjumpa dengannya merupakan sebuah anugerah yang terindah di dalam hidupku. Aku sempat berandai akan bertemu lagi, dan bisa menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengannya. Kini menjadi kenyataan.

Sesampainya di tempat tujuan, kami berpisah, aku menemui kenalanku di Jakarta, salah seorang relawan saat memberi trauma heeling, kepada anak-anak korban bencana di Donggala.

Namanya Kak Marwa, dialah yang telah menggugah hatiku, membuka lebar tirai yang menutupi mata hati. Betapa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh kurang beruntung di banding diriku. Mereka membutuhkan uluran tangan dari kita.

Setelah beristirahat, Kak Marwa mengajakku berkeliling dan mempekenalkan staf di kantor pusat. Kemudian, ia memintaku menunggu di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat satu set meja dan sofa. Tidak berselang lama, Kak Marwa kembali dengan diikuti oleh empat laki-laki dan dua perempuan.

Tampak Mas Azzam ada di antara mereka. Senyum semringahnya seolah mentransfer kebahagiaan yang tiada tara dalam kalbu. Ia mengamatiku, benar, ia mengamatiku. Seketika ada rasa hangat menjalar menyeruak dalam benak. Tapi logika berhasil menyadarkanku, mencoba kembali fokus untuk menerima materi pelatihan. Masa pembekalan akan sangat penting bagi para relawan yang dikirim sebagai perbantuan ke negara konflik. Kami harus dengan cepat menyerap segenap materi.

🍁🍁🍁

Dua pekan berlalu, mengharuskan kami bersiap dan mantap dalam misi kemanusiaan di tanah Palestina. Tanah berkonflik yang memakan banyak korban setiap harinya.

Aku menangis haru ketika sampai di Yerusalem, bersama Tim kami berdoa dan saling menguatkan. Mas Azzam pun turut dalam perjalanan. Kami sempat berfoto bersama tim, di depan Masjidil Aqso Yerusalem dengan banner besar bertuliskan nama lembaga yang menaungi. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan dan ketanggapan bencana.

Usai berfoto, Mas Azzam menghampiriku dan berlutut dengan cincin di tangannya. Kurasakan darah berdesir kian tak tentu. Sementara jantung enggan mengalah dan berpacu melebihi batas normal.

"Dik Husna, berkenankah, Adik menjadi istriku? Bidadari surgaku? Aku telah memiliki rasa sejak pertemuan kita di Donggala. Jawablah!"

Bibirku kelu, tak mampu berucap meski hanya sepatah kata. Hanya air mata yang mampu menjawabnya. Aku bahagia, perasaan yang tersimpan selama ini ternyata berbuah manis. Allah memberi jawaban atas setiap doa yang dilangitkan. Doaku hanya ingin bertemu lagi dengan Mas Azzam. Namun, jawaban Allah jauh lebih indah dari yang kuminta.

Aku mengangguk dengan wajah yang tak kutahu lagi bentuknya, tersipu. Menerima lamarannya, diiringi suara sorak bahagia, dari teman sesama relawan yang hadir saat itu.

Hari ini segenap tim menjadi saksi proses perjalanan kisah cinta kita. Di depan Masjidil Aqso yang namanya telah tercantum dalam Al-quran. Berharap semoga di tempat suci ini, kami bisa diperkenankan untuk menghalalkan ikatan. Menjadi pasangan fiddini, fiddunya wal akhiroh, ilal jannah.

Sebelum ijab qobul berlangsung, sehari sebelumnya, aku menelepon Bunda Santi untuk meminta izin dan doa restu dari mereka. Mereka mengijinkan, dengan perasaan penuh haru, mereka mendoakanku secara bergantian. Wejangan demi Wejangan disampaikan, membuatku semakin tergugu dan menangis pilu. Aku sangat beruntung memiliki keluarga yang teramat besar kasih sayangnya. Satu persatu pesan kugantungkan dalam hati, semoga bisa mengamalkan dan menjalani dengan tawadhu kelak.

🍁🍁🍁

Hari yang dinanti telah tiba, hari dimana aku tak lagi sendiri, hari dimana Allah persatukan cinta kami. Cinta di sebatas diam. Cinta yang kita sampaikan hanya dari tatapan mata.

"Ya akhi Muhammad Khoirul Azzam ibnu Ahmad Humam, uzawwijuka'ala ma amarallahu taala bihi minimsakinbima'rufin autasriihim bi ihsan. Ya akhi Ahmad Khoirul Azzam ibna Ahmad Human, angkahtuka wazzawajtuka makhtubataka Husna Amalia binta Fulan bitaukiili waliyyuha bimahri. Bersama lantunan mahar Ayat suci surat Ar-Rahman. Halal sudah aku sebagai istri mas Azzam.

"Qobiltu nikaha watazwijaha linafsi bil mahril madzkuuri halan."

Lantunan doa yang di amini oleh para saksi menambah haru suasana pagi ini. Air mata bahagia masih menetes saat Kak Marwa menggandengku menghampiri Mas Azzam. Beliau meletakkan tangan kiri di kepalaku.

"Allahuma bariklana, wa barik alaina, wajma bainana fii khair."

Aku tertunduk dan mengamini dengan setulus hati, doa yang dilantunkan Mas Azzam berulang kali. Membuatku semakin terharu tak mampu menahan air mata. Usai melangitkan doa, kedua jemari Mas Azzam memegang lembut kepala mengecup pucuknya. Kemudian tatapan kita bertemu. Tampak jelas kebahagiaan yang terpancar dari maniknya.

Kami telah sah menjadi sepasang kekasih halal saat ini. Tapi situasi tidak mengijinkan kami untuk memadu kasih, dan meneguk hangatnya berbulan madu layaknya pengantin baru.

Hari demi hari kami lalui dengan kesibukan, yang tidak memungkinkan untuk meluangkan sejenak waktu untuk berdua. Seminggu setelah ijab qobul, para lelaki termasuk Mas Azzam harus dikirim ke Gaza Untuk perbantuan di sana. Meski hati menolak tapi dengan sekuat tenaga harus ikhlas. Sore ini, kami melepas rombongan menaiki bus yang telah di sediakan oleh tim.

Sebelumnya, Mas Azzam berpamitan dan mengecup keningku lama, lamaaa sekali. Sementara tangan kami saling menggenggam, rasanya aku ingin menggenggam tangan ini selamanya.
Terdengar teriakan memanggil nama Mas Azzam, memintanya agar bergegas menaiki mobil.

"Jaga dirimu baik-baik, Dik. Aku minta maaf karena belum sempat membuatmu bahagia. Aku mencintaimu, Istriku." Tampak pecahan kaca menggenang di pelupuknya.

"Aku mencintaimu, Suamiku. Karena Allah, dan karena Allah pula aku melepasmu berjihad di jalan-Nya. Aku bahagia InsyaAllah." Suaraku bergetar dahsyat, tak mampu lagi menahan kesedihan yang mendalam.

Mas Azzam berbalik dan pergi setelah memelukku erat. Berkali-kali ia menoleh dan melambaikan tangan. Pandangannya masih tertuju padaku meski kaca buram menghalangi. Mobil melaju perlahan lalu hilang termakan kelokkan jalan.

Malam ini kulantunkan kalam Ilahi yang dikhususkan untuk imamku. Mengobati resah yang kian menjadi. Memohon agar beliau selalu diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah, Tuhan semesta alam.

Derap langkah beberapa orang terdengar berlarian di luar tenda. Kututup mushaf dan mencium sampulnya. Dengan tergesa kuayunkan langkah menuju sumber suara. Kak Marwa menghampiri dengan berlari. Wajahnya tak karuan, penuh kesedihan dan kepanikan.

"Na, sabar, ya." Air matanya jatuh menetes. Berkali-kali ia meneguk saliva dan membuang napas kasar.

"Bus yang membawa rombongan bantuan relawan dihadang di perbatasan Gaza, Na. Bus tidak terkendali dan terjungkal." Lanjutnya lagi.

"Astagfirullah, Mas Azzam bagaimana, Kak? Bagaimana keadaannya?"tanyaku.

Kepanikan melanda jiwa, dibarengi kesedihan yang tak mampu kutahan.

"Azzam, menjadi salah satu korban meninggal,” ujar Kak Marwa sambil tergugu.

Aku hancur. Bagai di sambar petir, seketika kepalaku terasa berat dan pening. Hati rasanya terserak berkeping-keping tak kuasa menahan rasa yang teramat sakit di dadaku. Luka jiwa ini berdarah-darah, langit tempatku bernaung telah runtuh. Runtuh untuk selamanya.

"Mas Azzam .... Suamiku .... "
Tubuhku tersungkur ke tanah, rasa letih dan lunglai menyergap secara leluasa, hanya isakan tangis yang berbicara, sedangkan tubuh telah mati rasa.

"Husna ...."
"Astagfirullah ...."
Terdengar suara riuh kepanikan, perhatian mereka tujukan padaku. Ada yang sibuk mencari obat-obatan, wewangian, dan lain sebagainya.

Rasa kehilangan yang teramat hebat ini tidak kehilangan kesadaran. Hanya saja tidak mudah menerima kenyataan yang teramat pahit. Sungguh teramat pahit.

Satu persatu dari tim, berbela sungkawa. Mereka berusaha mentransfer kekuatan. Namun, aku memilih bergeming. Rasanya benar-benar kebas rasa. Tidak mampu sekadar menyunggingkan seulas senyum, atau berbasa basi. Aku tak lagi utuh, aku bukan lagi Husna yang sama. Aku pahami apa yang mereka rasa, sama sepertiku, kehilangan teramat dalam. Namun, izinkan sejenak aku memilih hening, demi menjaga kewarasan diri. Demi iman yang masih kuat bersarang agar tak tergoda bisikan syaithon untuk mempertanyakan keadilan Tuhan.

Kulalui hari demi hari dengan kekosongan yang menyeruak dalam kalbu, sampai tak terasa misi kemanusiaan di Yerusalem telah usai, mengharuskan aku dan tim agar segera kembali ke tanah air.

🌹🌹🌹

Aku Husna Amalia, seorang janda yang masih begitu merindukan almarhum suaminya. Kupatrikan hati agar ikhlas menjalani kehidupan tanpa kehadiran Mas Azzam disisi. Senyumnya masih melekat erat dalam sanubari, menjalar di setiap desir darah yang mengaliri tubuh. Aku merasakan dia senantiasa hadir menemani.

Sesampainya di tanah air, aku kembali mengabdi kepada negara. Menyumbangkan tenaga untuk membantu sesama yang mengalami musibah. Aktivitas sosial yang memadati waktu, begitu membantu meringankan beban nan bertumpu di pundak. Ada tujuan yang harus kucapai. Berbuat baik selagi aku mampu.

🍁🍁🍁

Hari berganti begitu cepat, tanpa terasa sudah hampir empat tahun kujalani hidup penuh kehampaan, tapi tak lantas membuat terpuruk dan menyerah. Aku meyakini, Mas Azzam di alam sana, takkan rela, takkan tenang bila di sini aku terpuruk. Melanjutkan jejak kebaikannya, adalah hal terbaik bagi dalam membunuh rindu. Menjadi satu bentuk abdiku sebagai istrinya.

Beberapa hati hadir meminta izin untuk berlabuh, tapi aku menolak. Bagiku saat ini, menikah dengan Mas Azzam sudah cukup menyempurnakan syariat dan separuh keimananku dalam beragama. Aku pernah menjadi istri yang berusaha sebaik mungkin menjadi sholihah di depan suami. Dan ingin disandingkan kembali dengan suamiku di jannahNYA, nanti.

Pagi ini, ada kabar terbaru tentang pemberangkatan relawan ke Palestina. Aku bersyukur kembali terpilih menjadi salah satu dari mereka. Rasanya sungguh rindu dengan tanah itu, tanah yang menjadi saksi bisu cinta kita berlabuh. Tanah yang menyimpan selaksar peristiwa bahagia hingga mengharu biru. Tanah di mana aku bisa merasa akan disandingkan lagi dengan kekasih yang telah menunggu. Tanah tempatku menambatkan hati untuk satu orang, suamiku.

Perjalanan berlangsung lancar, tidak ada kendala yang berarti. Tidak seperti kedatanganku sebelumnya, saat ini aku langsung bertugas di Gaza. Membantu pekerja medis merawat anak-anak dan lansia yang menjadi korban kekejaman tentara Israel.

Bangunan tak selayaknya menjadi rumah bagi mereka, puing reruntuhan berserakan, darah berceceran. Setiap detik mereka lalui dengan kengerian. Anak kecil menangis, mereka menjerit ketakutan. Rasa lapar tak lagi menjadi kebutuhan utama, melainkan nyawa prioritasnya.

Aku melihat seorang Ibu meraung memeluk jenazah putranya yang terbujur kaku. Pemandangan yang terlampau biasa setiap harinya. Tubuhku gemetaran, membersihkan darah yang mengucur dari robekan kulit di sekujur badan bocah tak berdosa. Tubuhnya tertimpa beton yang ambruk sesaat setelah suara ledakan keras terdengar.

Lalu seorang lelaki paruh baya berteriak menggunakan bahasa yang tidak kupahami. Dari isyarat tangannya, ia seperti menginstruksikan agar kami cepat beranjak dan pergi dari tempat ini. Aku berdiri dengan mendekap erat bocah yang bersimbah darah, tangan lemahnya menggelantung di balik punggung, berlari sekuat yang kubisa dengan tanpa henti menyebut asma Allah. Hingga kurasakan, kaki tersandung dan jatuh tersungkur. Bocah dalam gendong terlepas hingga jarak yang tak bisa tergapai. Tanganku meraba-raba di tanah, mencoba meraih apa saja yang sekiranya bisa kujadikan alat menopang badan.

"Allah ... Allah ...."

Sesak di dada kian menjalar menuju kerongkongan, napas tersengal dan merangsek naik, lalu gelap. Sesaat aku merasakan ada tangan-tangan yang menyentuh tubuh. Bahkan indra penciuman pun membaui aroma obat-obatan. Tapi mata tak mampu terbuka. Seluruh tubuh terasa sakit. Tulang belulang seakan hendak terlecut dari raga. Suara-suara semakin samar. Hingga akhirnya benar-benar hilang pandang. Sepi.

“Husna ... Husna ... Allohurobbi, kawan kawan ....” Aku mendengar suara seoarang rekanku dari bagian medic.

Kupaksakan mata, mengazzamkan segenap kekuatan, agar mampu menyampaikan pesan. 'Allah, jika tiba waktuku, mohon beri sedikit waktu.'

“Husna sadar, cepat kemari!” Suara yang amat kukenali, suara Kak Marwa lantang terdengar di telingaku. Kucekal lengan Kak Marwa yang tampak bergeser dari tempat duduknya.

“Kak, tolong dengarkan aku, jangan pergi,” terbata-bata dengan suara lemah aku mencoba berbicara.

“Husna, sebentar ya, kakak panggil tim medis dulu, sabar, kuat ya.”

“Kak, waktu Husna sudah sampai, mereka sudah menjemput. Tolong pusarakan Husna disamping makam suamiku,” lirih suaraku, mencoba menyampaikan keinginan.

“Husna, bicara apa kamu!” Tiba-tiba terdengar suara Kak Marwa meraung, pilu memanggil namaku, terasa dia menepuk-nepuk lembut pipiku. Sementara mataku tak memiliki kekuatan sedikit pun untuk terbuka. Lambat laun suara Kak Marwa kian pelan, rasanya seperti menjauh, berdenging dan menggema hingga akhirnya hening. Waktu seolah terhenti seiring degub jantungku yang kian melambat. Rasa nyeri mendera di sekujur tubuh menghebat sekejap, lalu mati rasa.

Allah aku ikhlas, ampuni aku, Mas Azzam tunggu aku. Laa illa Hailallah Muhammadarrasulullah, terima syahadatku Rabbi meski hanya mampu terlafadz dalam hati. Dapat kurasakan nafas ini tersengal seiring sepi. Tak lagi terdengar tangisan Kak Marwa. Semua hening. Damai.

🌹🌹🌹

"Wahai jiwa yang tenang!"
"Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya."
"Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,"
"dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-30)


TAMAT

Anggadireja, 08-01-2020
Tsurayya Tanjung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 41 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ayya83

CINTA YANG SALAH

Perjalanan Hati





Cinta yang Salah




Andaikan aku memiliki kemampuan melumpuhkan waktu atau sekadar melambatkannya. Andai pula aku mampu memilah masa atau justru menerobos zaman. Semua akan kulakukan.

Namun, tiada yang bisa melakukan semua itu. Justru waktulah yang akan membunuh semua nyawa dari raga. Kini, yang mampu dilakukan hanyalah memperbaiki semua yang terbuang percuma, masa yang hitam jelaga penuh nista.


***

"Jadi, kamu mau pilih siapa?"

"Entahlah ... aku bingung," jawabku.

"Jangan bingung! Bagaimana pun kamu tetap harus memilih aku atau dia," ujar Satya tegas.

"Jika perlu, salatlah! Pintakan yang terbaik bagimu kepada Tuhan," lanjutnya lagi.

Matanya lurus menatap ke depan, tak sedikit pun dia melihatku saat berbicara. Mungkin Satya sengaja menyembunyikan manik matanya, tak ingin terlihat gundah olehku. Lelaki, tentu saja harus tampak sekokoh karang, meski sepertinya hati itu berkecamuk. Lelaki, tentu saja tak boleh tampak terguncang, andaikan pena nasib tak mempertemukan asa kepada takdir yang diharapkan.

Kami terdiam, lamunan membawaku ke masa itu. Saat pertama kali kami bersua, kurang lebih sekitar dua bulan yang lalu. Tak pernah kukira dia hadir membawa cinta, di saat diri ini telah melabuhkan pilihan kepada Tobby, pria yang telah menemani hari selama kurang lebih tiga tahun lamanya.

Satya hadir menyempurnakan pencarianku selama ini. Ada hal yang tak kudapati dari Tobby maupun Mas Heru, pria yang meninggalkanku untuk menikahi gadis lain, tatkala aku berkomitmen dengan khitbahnya lima tahun silam.

Satya lelaki karismatik juga humoris, komposisi karakter nan unik. Dari segi penampilan memang dia tidak sesempurna Tobby yang modis. Namun, dia manis, lesung pipit di pipinya tatkala tersenyum selalu menyejukkan pandangku. Setidaknya, dia selalu mampu membuat kagum dengan gaya bicara dan sudut pandang dalam menyikapi segala sesuatu. Sejalan dengan bidang keilmuan yang dikuasai sebagai sarjana komunikasi UNPAD.

Mungkin karena itu pula, dia hadir memberikan rasa nyaman sedemikian sempurna selain memang juga memilik akhlak yang baik. Katanya, dia bergabung dengan perkumpulan remaja rohani ketika kuliah. Padanan tutur kata halus, banyak menguasai hukum syariat, sungguh semua itu membuatku terkagum.

“Jujur saja, Mas Sat, hatiku memilihmu. Namun, kau hadir terlambat. Kau tahu, ‘kan, jika aku ini sudah bertunangan? Ini tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Terutama, karena Tobby itu kekanakan. Pernah aku mencoba mengakhiri hubungan dengannya, tak kusangka dia malah mengiris pergelangan tangan. Membuatku terkunci, tak punya pilihan selain menjalani hubungan dengannya. Takutnya, dia akan mengulangi kebodohan itu lagi. Apalagi, kali ini status kami bertunangan,” ucapku. Kembali membuka percakapan.

“Itulah yang salah dari kamu, Cinta. Membiarkan Tobby mengikatmu dengan cara itu, padahal dia juga tidaklah bersiap untuk menikahi, sebab kalian seumur. Untuk wanita, usiamu adalah usia yang matang, sementara bagi Tobby usianya masih cukup belia memasuki pernikahan. Dia hanya mengikatmu, bagiku dia lelaki yang kurang bertanggung jawab.” Satya mendengkus napas kasar sambil menatapku.

“Kamu berharga, Cinta ... lamaranku ini tidak akan datang dua kali. Takkan kusediakan ruang hati untuk luka yang terlampau lebar, meski sungguh aku menginginkanmu.” Satya menarik napas panjang.

“Aku ini lelaki, kodratku memilih, bukan dipilih, camkan itu!”

“Mas Satya, aku ....”

“Ssst! Tak perlu kau bicara apapun dulu, cukup kau dengarkan aku!” Dia berdiri lalu duduk di seberangku.

“Cinta, mungkin rasaku ini salah. Aku jatuh hati pada wanita yang telah dilamar, sunnatullah-nya dilarang bagi seorang pria muslim meminang wanita yang telah dipinang orang lain. Tapi niatku Lillah, aku ingin membantumu terbebas dari hubungan yang salah, bukan sekadar menggugu hawa nafsu. Secara hukum syar’i tidak ada tunangan dalam ajaran agama kita! Khitbah, itulah yang benar. Tunangan itu budaya barat, batasannya tak jelas. Apalagi sudah hampir dua tahun dia menggantungmu. Cobalah kau tanyakan sendiri logikanya, apakah yang kukatakan ini salah? Kadang perasaan membutakan, Cinta.” Kali ini Satya bicara sambil mondar mandir di depanku, tampak sedikit gusar.

“Hhmm ... aku tahu itu, Mas Sat, aku pun terkadang berpikir demikian, tapi lagi-lagi kuabaikan. Jujur saja aku pun lelah dengan Tobby, ibu dan keluarga besarku selalu saja mempertanyakan langkah kami, tapi aku tak pernah mampu memberikan penjelasan. Tobby pun tak pernah bisa diajak serius kuajak bicara, telah acapkali kucoba. Namun, nihil.”

“Bicarakanlah baik-baik, jangan lupa libatkan Allah dalam keputusanmu, semoga Dia Maha pemilik kalbu, memudahkanmu. Untuk satu bulan ini aku akan menjauh, Cinta. Memberimu ruang untuk melangkah, agar adil untuk Tobby juga untukku,” ucapnya sambil membelakangiku.

“Aku mencintaimu karena Allah, Cinta,” lirih suara Satya, nyaris tak terdengar.

Aku tertunduk, mendengarkan dengan saksama semua yang Satya utarakan. Sungguh semua yang pria ini ucapkan begitu menenangkan, andaikan saja bisa dengan mudah kumantapkan langkah menerimanya. Namun, ada Tobby yang harus kujaga pula hatinya.

“Sudah mau magrib, Cint, ayo kita pulang. Tidak baik kita berdua-duan menjelang malam begini di taman. Jika pun dosa ini kulakukan ini karena aku tak berdaya. Andai aku bukanlah orang yang hadir di tengah-tengah hubungan orang lain, haaah .... Allah ampuni aku, ampuni kami, aamiin," ujar Satya panjang lebar, mengenyakkan hatiku pada rasa bersalah yang kian meraja.

Satya bangkit dari duduknya menyusuri jalan di taman, melangkah menuju masjid di seberang jalan dan aku mengikuti dengan gontai. Kami salat di sana lalu memutuskan berpisah untuk pulang, dengan kendaraan kami masing-masing.
Seolah ada gundah menggantung dalam raut wajah Satya. Begitu pun denganku, gulana menyerlah, rasa takut menguar dalam lakuna jiwa. Tiba-tiba takut kehilangan Satya, bagaimana jika nasib tak mengizinkan hati kami berpaut?

***

Satya telah sepekan menghilang. Jangankan melihat batang hidungnya, sekadar sapaan kata ‘hai’ lewat pesan gawai pun tak ada. Seperti yang dia katakan minggu lalu, pria itu sedang menjauhiku.

Hari ini aku meminta Tobby datang, cukup lama dia tidak berkunjung ke rumah. Kuputuskan untuk meminta kejelasan arah hubungan kami kepada pria itu. Jika dia menyetujui segala persyaratanku, maka otomatis karamlah asa yang tersimpan untuk Satya.

Bismillah, bantu aku memperbaiki keadaan yang berlarut-larut salah ini, Allah. Aamiin.

“Hai, Cint ... akhirnya dijawab juga WA aku, ditelpon enggak pernah diangkat, lama banget kamu ngambeknya.” Tiba-tiba Tobby muncul di teras rumahku, membuyarkan lamunan.

“Hai, sudah lama datang? Duduk, Tob. Masuk dulu, ya, ambil tas dulu. Aku mau kita bicara banyak, tapi bukan di rumah!”

Aku dan Tobby memilih untuk berbicara di sebuah kedai, kurang lebih jaraknya lima ratus meter dari rumah. Kebetulan sore itu kedainya cukup sepi, kondisi yang menguntungkan untuk mengutarakan maksudku.

“Tob, kapan kita menikah? Maaf, aku mau tanya, sudah sejauh mana persiapanmu?” tanyaku, sambil menatap lekat wajah Tobby yang tiba-tiba tampak gusar.

“Belum ada,” balas Tobby datar.

“Apa maksudmu, Tobby? Kamu kemanakan hasil kerjamu selama ini, haaah? Bahkan kurang apa aku membantumu agar kamu mampu mengumpulkan dana. Aku tahu penghasilanmu kecil. Bahkan, setiap kali kau merengek kehabisan uang saku atau bensin pun aku bantu, ‘kan?”

“Lah ... itu kamu tahu, kalau gajiku kecil. Ya, habislah!” jawab Tobby suaranya meninggi.

“Astagfirullah, Tobby, lalu bagaimana? Sampai kapan aku menunggu lagi? Paman-pamanku sudah kasak-kusuk. Aku kasihan pada Ibu yang mendapatkan tekanan, seolah beliau tak pandai mendidik anak gadisnya. Terlampau lama kita berkawan setan dengan jeratan pacaran. Padahal kukira takkan seperti ini," protesku pada Tobby.

“Aku kecewa, Tobby, dulu saat temanmu Rangga mengenalkanmu, ucapnya kau ingin berta'aruf denganku. Saat mengutarakan maksudmu, aku menerima dan mau mencoba menjalani. Saat merasa kita tak sepaham, aku meminta akhiri tradisi pacaran laknat ini, lalu kau mencoba bunuh diri. Aku cape, Tobby! Tidakkah kamu menilai seberapa banyak pengorbananku selama ini. Tatkala aku bisa menerimamu dan rasa sayang tumbuh, lalu sesuka hati kau menggantungku.” Lanjutku dengan nada bicara meninggi.

“Aaah ... udah, ah, males tau. Udahlah nikah mah gampang kapan-kapan lagi juga bisa. Yang penting kamu ‘dah jadi milikku ... tunanganku, sehingga tidak mudah lelaki lain untuk menyukaimu.”

“Apa? Jadi itu niatmu mengajak bertunangan, hah? Sekadar mengikat buat menghalangi jodohku, iya, gitu?”

“Iya, memangnya kenapa, hah? Aku kesal dulu kau susah sekali kudapatkan, lagian kamu juga udah tunangan gak ngapa-ngapain sama aku!”

“Apa maksudmu, Tobby? Aku jadi jijik sama kamu. Kebaikan yang ada pada dirimu tiba-tiba hilang saat ini di mataku. Caraku memandang sosok dan pribadimu, sungguh berputar seratus delapan puluh derajat kini, aku muak!”

“Jika kamu gak mau menungguku, cari saja lelaki lain!” bentak Tobby.

Kaki ini rasanya tak bertumpu, limbung seketika. Tak kunyana ternyata Tobby punya niat buruk selama ini. Kupikir dia hanyalah seorang pecinta yang terlampau naif dan kekanakkan. Ternyata hatinya busuk. Bukan hanya hati yang kukorbankan, tetapi juga finansial terutama waktu. Astagfirullah ... Allah, inikah petunjuk-Mu?

Tak kukira, di balik sifat posesif pria itu terbersit dendam. Dengan teganya dia memanfaatkan kepolosanku. Meski tak sepenuh hati jatuh hati, tetapi aku tulus menyayangi dan menerima dia apa adanya. Rasanya sakit, mengingat masa yang kulewati bersamanya sia-sia, malah berbuah dosa.

Ampuni aku Rabbi ....
Mas Satya kamu di mana? Aku beruntung Allah mengirimkanmu. Mungkin, ini hikmah hadirmu di hidupku. Bismillah, jika engkau masih memiliki niat yang sama ingin menghalalkan aku, bi’idznillah akan kuterima.

***

Dua bulan sudah, aku tidak bertukar kabar dengan Satya. Rasanya duniaku runtuh, di saat bersamaan hancurnya pertunanganku dengan Tobby. Satya pun menghilang bagai ditelan masa, rasanya seperti tertimpa tangga setelah jatuh.

Senja di ufuk barat, mengantarkan memorial biru sosok Satya.
Di sini, di taman kota berukuran kecil ini, kami—aku dan Mas Satya—biasa menghabiskan waktu empat bulan lalu. Damai menghampiri kalbu saat menatap langit, melantunkan doa yang tersemat di dada. Menjelang magrib adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa, begitulah ucapan Satya dulu.

Tiba-tiba suara yang sangat kukenal mengucapkan salam, itu milik Satya. Sontak kubuka mata, dan memang dia.

Mata kami bersirobok, sesaat sebelum akhirnya Satya menundukkan pandangan dariku. Ada banyak kata yang tersirat di matanya. Pun denganku, benak ini memiliki banyak tanya atas menghilangnya dia selama dua purnama terakhir.

Hatiku membuncah, segenap rasa syukur kupanjatkan. Allah mengabulkan doaku sedemikian cepat. Fabbi ayyi alaa irobbika maa tukadzzibaan.

TAMAT

Bandung, 16 Januari 2020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ayya83
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di