CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e11db4fa2d1957b5b433fd0/mereaksikan-kamu-dan-aku-menjadi-kita

Reaksi Hati

Bereaksi


Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain.

Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk menangkap segala aktivitas cowok bernama Elang.

Elok duduk di kursi belakang Elang. Sekedar untuk dapat menatap punggungnya sambil menikmati makan siang.

Rindu berjalan tergesa-gesa menghampiri Elok, memanggil namanya dua kali tapi cewek itu tetap bergeming seolah berada di dimensi lain.

Rindu menarik garis khayalan dari manik mata sewarna madu itu menuju ke depannya dan taulah apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba menjadi tuli akan panggilan.

Dia menarik cepat tisu yang ada di tengah meja kayu, mengelapkan di bibir Elok dengan kasar. "Lap dulu air liurmu yang banjir ini."

Menghempaskan diri dengan kesal ke bangku yang berada di seberang Elok. Elok memberikan tatapan protes. Untung itu sahabatnya kalau nggak pasti sudah dihabisi.

"Ngapain sih? Aku kan baru makan, nggak ada air liur yang menetes seperti orang kelaparan yang belum makan tiga hari." Elok mengelap mulut menggunakan tisu yang direbut dari tangan Rindu. Menunjukkan pada cewek itu kalau tidak ada satu tetes air liur pun yang menempel pada permukaan tisu.

"Nggak salah kok kalau mengagumi ciptaaan Tuhan yang demikian memikat. Nggak usah malu mengakui kalau sedari tadi kamu lihatin Elang terus." Rindu memiringkan kepala lalu mengerling.

Elok menyibukkan diri dengan mengaduk kuah soto untuk mencari daging sapi yang sebenarnya tidak ada karena sudah dimakan semua. Apakah dia terlalu ceroboh sampai perasaannya terlihat begitu jelas.

Sudah dua tahun ini dia berusaha mengekang rasa sukanya dengan berpura-pura tidak mengenali Elang. Mereka bahkan tidak pernah berbicara satu kali pun. Ajaibnya, tidak ada yang menyadari keganjilan itu.

Kesedihan kembali merayapi Elok. Sungguh dirinya tak layak untuk berada di dekat Elang sejak kejadian naas ketika mereka lulus SD.

Kalau bukan karena sifat manjanya pasti sekarang Elang masih bisa bersama-sama dengan mamanya. Elok mendesah, memaksa menyuapkan nasi soto ke dalam mulut kecilnya.

Elok menutup wajah dengan kedua tangan, mengingat kembali kejadian itu membuat hatinya sedih. Betapa pengecutnya karena sampai sekarang tidak berani meminta maaf pada Elang. Menelan sendiri rasa bersalah itu.

"Jadi begini." Elang bangkit lalu memutari meja. Menekankan kedua tangan di atas meja, tubuhnya condong ke depan hingga semua teman-teman mengikuti.

Elang mengangkat dagu sebentar agar matanya bisa menatap pemandangan yang tadinya tidak bisa dilihat. Dahi berkerut ketika melihat objek pemandangan malah sedang menutup mata dengan tangan. Sedang sedihkah dia? Apakah kembali memikirkan masa lalu.

Elang kembali menunduk, melanjutkan percakapan yang tertunda. Namun otaknya memikirkan hal lain. Dia ingin kembali bisa dekat dengan Elok. Namun sejak awal mereka bertemu di kampus, cewek itu seperti menghindar.

Rindu menyentuh lengan Elok. "Kamu kenapa?"

Elok menyingkirkan tangan yang menutup wajah, menggeleng lemah. "Nggak papa," ujarnya sambil tersenyum lemah.

"Makannya sudah selesai kan? Sekarang sudah hampir waktunya praktik." Rindu berdiri setelah melihat jam tangan.

Elok juga ikut berdiri, berlari kecil mengejar Rindu yang sudah pergi duluan.

"Eh, maaf," kata Elok setelah tidak sengaja menabrak Elang yang tiba-tiba berhenti.

Elok tidak memperhatikan secarik senyum yang coba disembunyikan Elang karena bisa mendengar suaranya kembali.

Praktik kali ini ada di lantai tiga. Elok menyesuaikan napas ketika memasuki ruangan. Terkesiap ketika melihat Elang sudah terlebih dahulu sampai. Pasti dia lewat tangga yang satunya.

Elok mencoba mengabaikan fakta bahwa Elang sama sekali tidak terengah-engah seperti dirinya sendiri. Pasti cowok itu sering berolahraga.

Elok berjalan melewati meja Elang untuk menuju mejanya sendiri yang hanya selisih satu bangku.

Fahmi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Dengan tidak sabar menarik tangan Elok hingga cewek itu terduduk di bangkunya.

Cowok itu membantu Elok mempersiapkan box yang berisi perlengkapan praktik. Elok hanya bisa tersenyum menerima perhatian itu. Elok menyadari perasaan Fahmi, tapi apa daya hatinya sudah tertambat ke orang lain.

"Sudah siap dengan pretest? Jangan sampai kamu tidak boleh mengikuti praktek karena nilai yang kurang." Fahmi mengerling sebelum menyiapkan perlengkapannya sendiri.

Dosen dan juga asisten sudah memasuki ruang laboratorium, tapi Elani masih belum kelihatan. Waktu teori tadi dia juga tidak kelihatan. Elok melirik bangku yang berada di samping.

"Sebelum memulai pretest, saya ada sedikit pengumuman. Elani sudah mengajukan surat berhenti kuliah. Elok, kamu pindah di sebelah Elang. Kalian jadi partner. Yang lain silakan bergeser satu bangku." Bu Weni mengawasi mahasiswa yang mulai mengemasi perlengkapan untuk pindah.

Elok memberesi perlengkapan dengan berat hati. Dua tahun ini sudah berusaha keras menghindari cowok satu itu. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa harus mulai minta maaf. Ini terlalu berat baginya.

Elang melirik Elok yang terlihat lesu. Berbanding terbalik dengan dirinya. Rasanya ingin bersorak keras-keras untuk menyerukan kegembiraannya.

Bola lampu di otak Elang menyala. Ini saatnya dia bertindak agar Elok kembali mau berbicara lagi dengannya. Ini akan menyenangkan, benak Elang tertawa bahagia.

"Jangan dikira aku mau menjadi partnermu," bisik Elang untuk Elok gusar.

Mata Elok membelalak hingga terlihat begitu bulat. Ini pertama kalinya Elang bicara padanya. Nada bicara itu membuat Elok merinding. Apakah cowok itu masih begitu marah.

"Jangan sampai menyusahkan." Peringatan kedua yang diucapkan oleh Elang menyulut emosi.

Elok bersedekap dengan dagu terangkat. "Siapa juga yang mau berpartner dengan cowok kaya kamu. Masih lebih baik Fahmi kemana-mana."

Kata-kata itu sukses mengalihkan dunia Elang karena saat ini cowok itu memandang Elok dengan tatapan membunuh. Elok tidak tahu kalau itu benar-benar menyinggung harga dirinya.

Pretest sudah usai, waktunya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar bu Weni memangggil nama mahasiswa. Kalau sampai namanya tidak dipanggil saat praktikum dimulai itu tandanya nilai terlalu rendah, tidak boleh ikut dan harus keluar dari laboratium.

Elok tersenyum ketika namanya dipanggil setelah Elang. Dia berderap maju untuk mengambil kunci laci. Masing-masing mahasiswa memiliki laci yang berisi set peralatan untuk praktikum. Harus bertanggung jawab dengan kebersihan dan kelengkapannya.

"Lho kok kuncinya macet," gerutu Elok sambil terus berusaha memutar ke kanan, tapi terasa berat.

Sebuah kunci diletakkan di meja Elok. Dia mendongak untuk memandang Fahmi yang tersenyum geli.

"Lok, kamu ambil kunci yang salah." Fahmi mengulurkan tangan untuk meminta kunci nomor lima.

Elok menepuk jidat pelan karena menyadari kesalahannya. Nyengir malu-malu, ini karena terbiasa mengambil kunci nomor lima padahal sekarang sudah duduk di nomor empat.

"Ceroboh."

Elok pura-pura tidak mendengar ejekan Elang itu. Mengeluarkan perlengkapan dari dalam laci lalu menata berurutan di atas meja. Sekarang tinggal mengambil mikroskop saja. Dia melangkah menuju rak penyimpanan mikroskop.

"Jangan salah lagi." Elang berjalan sambil memberi peringatan.

Elok meringis, untung diingatkan. Nyaris saja salah ambil mikroskop lagi.

Elok mengeluh dalam hati. Baru beberapa menit mereka menjadi partner tapi sudah mendengar kata-kata yang bikin bad mood. Tau gitu lebih baik tidak ikut praktik saja. Eh, sayang juga kalau harus mengulang semester gara-gara selalu tidak ikut praktik. Mereka kan sekarang jadi partner.

Anggap saja berpartner dengan cowok paling tampan di tingkat tiga. Eh, tunggu dulu, bukannya predikat itu disematkan pada Elang. Elok mendesah sebal.

Elang melirik cewek yang duduk di sampingnya. Cara ini rupanya cukup berhasil. Cewek itu pasti tidak tahan untuk menjawab setiap celaan yang terlontar dari mulutnya. Elok nggak bakal diam saja kalau terus dihina. Rupanya cewek masa kecilnya masih belum berubah banyak.

"Hari ini kita akan praktek hitung eosinofil. Di sini siapa yang punya alergi?" Bu Weni menunggu jawaban dari yang lain.

"Elok saja, Bu." Elang menunjuk Elok disertai dengan serigai liciknya.

"Memangnya Elok punya alergi apa?" Bu Weni mendekati meja mereka sambil membawa perlengkapan untuk mengambil sampel darah berupa vial yang berisi antikoagulan, spuit, alkohol swab, dan torniquet.

"Bukan alergi tapi cacingan. Lihat saja badannya yang kurus." Elang memandang Elok dari sudut mata hingga muncul kesan merendahkan.

"Ya sudah kalau begitu. Elang, kamu ambil darah Elok sebanyak 6 cc," perintah bu Weni.

Elok bergidik ngeri melihat serigai Elang. Ya ampun, 6 cc darah. Spontan menutup lengan kanan dengan memakai tangan kiri. Ini bukan mimpi kan? Semoga Elang bisa lancar mengambil darah.

"Ini tidak sakit kok." Elang memainkan alis sambil mengacungkan spuit 6 cc. Dalam hati menertawakan wajah panik Elok.

Elok menarik tangan saat Elang menggegam mantap. Elang melotot, dengan pandangan mengancam kembali menarik kembali lengan Elok agar posisinya pas. "Tenang aja."

Kata-kata dari Elang tidak membuatnya semakin santai malah makin tegang. Elok mengintip dari sela-sela telapak tangan yang harusnya digunakan untuk menutup wajah. Biasanya sih selalu berani kalau diambil darah. Namun kali ini plebotomisnya adalah Elang. Gimana kalau dia sengaja menusuk dua, tiga, atau bahkan empat kali untuk mengambil darah.

"Nggak sakit kan?" Elang menarik spuit dari lengan Elok dengan mulus.

Elok menggeleng lemah karena pikiran buruknya tidak terbukti. Bahkan tidak terasa sakit seperti kalau diambil oleh Fahmi. Dia meraih vial-vial yang sudah diisi Elang dengan darah, menutup dan mencampurnya dengan anti koagulan lalu membagikan ke pasangan-pasangan lain.



Sumber : atlm.web.id


Semua langsung berkonsentrasi untuk memulai praktikum sedangkan Elok baru saja mulai karena harus membagi vial terlebih dahulu.

Elang mengangkat tangan tanda dia sudah menemukan sel eosinofil. Bu Weni mendekat untuk melihat kamar hitung lalu memberikan tanda tangan di buku laporan. Elang menghitung jumlah Eosinofil yang ditemukan lalu segera mengumpulkan buku itu.

"Cepat seperti biasa." Bu Weni memuji Elang yang pertama kali menyelesaikan praktikum.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Elok yang masih berkutat dengan mikroskop. Mencari sosok eosinofil yang berbentuk seperti kacamata.

"Lima menit lagi. Segera bersihkan peralatan!" Suara Bu Weni membuat Elok semakin gugup.

Elang sudah selesai membereskan meja, malah duduk diam sambil terus memandangi. Enggan untuk membantu biar cewek itu semakin kesal.

Fahmi yang terakhir mengangkat tangan. Setelah memberi tanda tangan, Bu Weni menghampiri Elok untuk mengecek mikroskop dan memang tidak menemukan apa pun.

"Fahmi, tolong pinjamkan bilik hitungmu buat Elok," pinta bu Weni.

"Kamu cacingan ya? Sampai-sampai aku dapat banyak eosinofil. Minum obat cacingan biar gemukan sedikit," ejek Elang, tapi cewek itu masih berpura-pura tidak mendengar.

Elang tahu apa yang bisa membuat cewek itu bereaksi. "Jangan-jangan kamu punya asma. Ngik ... ngik ... ngik...." Elang memegang dada lalu berpura-pura menarik napas dengan kepayahan.

"Nggak lucu," gerutu Elok, membuang muka.

"Kalau begitu pasti alergi." Elang mencondongkan badan sambil menunjuk muka Elok.

Elok mengabaikan ucapan itu. Menyibukkan diri untuk mengemasi tas agar tidak perlu melihat wajahnya.

"Alergi kan?" Elang mengulangi pertanyaan lalu menyikut cewek itu.

Elok memberikan tatapan peringatan. Elang semakin merasa kegirangan. Wajah cewek itu malah jadi semakin menarik. Mungkin ini bisa dijadikan senjata untuk membuat cewek itu terus berbicara padanya.

Fahmi menghampiri. "Elok, ayo keluar."

Elok dan Fahmi berjalan bersisian. Mereka memang kompak sebagai partner karena sudah dari tingkat satu bersama. Sayangnya sekarang mereka terpisah.

Hampir saja Elok duduk di sebelah Fahmi. Namun cowok itu tersenyum geli sambil menunjuk kursi sebelah Elang. Elok menghembuskan napas kasar. Perubahan ini benar-benar membuatnya kacau. Capek hati dan capek pikiran kalau terus berada di dekat Elang.

"Cacingan, asma, alergi?" ejek Elang dengan nada riang.

Elok merasa heran, tumben-tumbenan cowok satu ini banyak bicara. Biasanya tampak cool. Ini sangat menyebalkan.

"Iya, aku punya alergi," ujar Elok ketus. Pada akhirnya memang harus menghadapi cowok itu.

Elang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Mendekati agar dapat mendengar lebih jelas. "Aku benar kan? Kamu alergi apa?" Dia memainkan alis demi melihat wajah Elok yang semakin memerah.

"Uhuk, uhuk, alergi kamu." Elok pura-pura batuk untuk menggoda. "Alergi dekat-dekat sama manusia bernama Elang." Kilat jail muncul dari manik sewarna madu.





Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
cyb3r_thu6 dan 57 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie

Reaksi Hati

Beda Golongan


Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint




Elang menggertakkan gigi ketika melihat tubuh Elok gemetaran ketika hendak menyeberang jalan. Sampai tiga kali warna hijau menyala, tapi cewek itu masih ragu untuk melangkah.

Itu membuat Elang melangkah lebih cepat hingga bisa berada di sisi Elok ketika warna lampu lalu lintas bergulir menjadi hijau. Meraih tangan cewek itu tanpa melihat kesamping.

Amarah meliputinya, bukan marah pada Elok, tapi pada kejadian masa kecil yang sudah merenggut kebahagiaan mereka. Elang bahkan melupakan keberadaan Elok yang tangannya terus digenggem erat.

Elang melepaskan genggaman tangan lalu duduk di bangku belakang supir sedangkan Elok memilih terus masuk dan duduk di bagian pojok belakang yang berseberangan dengan Elang.

Mereka duduk diam walau hanya berdua saja di bangku penumpang. Perjalanan dalam waktu lima belas menit itu tetap hening sampai di tempat tujuan.

"Kiri," seru Elang ketika mendekati gang Kenari, tempat tinggal Elok.

Elok yang sedari tadi melamun jadi tersadar lalu buru-buru turun tanpa mengatakan sesuatu pada Elang.

"Gang Nuri," kata Elang ketika mereka sudah mulai menjauh.

"Gimana sih Mase ini. Gang Nuri kan tempatnya sebelum gang Kenari. Kenapa tadi diam saja waktu kita lewat?" protes supir angkot yang merasa dipermainkan.

Elang menggaruk kepala lalu berpura-pura tertawa malu. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin memastikan kalau pacar saya selamat sampai rumah."

Terpaksa mengarang cerita agar suasana tidak semakin keruh. Mengingat dia belum sampai di rumah, jangan sampai diturunkan di sini dan harus jalan jauh untuk sampai ke rumah.

"Pacar kok duduknya jauh-jauhan, diam-diaman. Pasti baru marahan ya?" goda supir angkot sambil terkekeh.

"Iya, Pak. Maaf ya."

Angkot itu akhirnya memutar di gang berikutnya agar bisa sampai di gang Nuri. "Jangan terlalu lama yang marahan. Nanti ceweknya disamber orang."

Elang hanya bisa tertawa pelan lalu melambai ketika angkot kembali berjalan. Wajahnya kembali datar tanpa senyum ketika mengingat kembali gemetaran yang dialami oleh Elok.

...

"Rasanya pengen jitak Hera deh. Gemes banget. Dia tahu kalau kamu takut nyebrang sendiri. Eh, malah ditinggalin. Udah gitu pake boong kalau jalan ma aku." Rindu menggebrak meja ketika mendengar cerita Elok.

"Sudah, Rin. Yang penting aku bisa nyebrang dengan selamat," ujar Elok untuk menenangkan.

"Gimana ceritanya kamu bisa nyebrang? Nggak karena digotong ramai-ramai karena pingsan kan? Aku ingat pas telat nemuin kamu waktu itu. Kamu gemetaran sambil nangis di tengah perempatan sampai-sampai supir-supir kompakan ngeluarin sumpah serapah dan klakson." Rindu bergidik ngeri mengingat hari naas itu.

Pipi Elok memerah tanpa bisa ditahan membuat Rindu menggangkat alis. "Jangan bilang kalau ada cowok tampan yang membantumu?"

Elok tersipu ketika mengingat kejadian kemarin ketika Elang tiba-tiba menggenggam tangannya dan membawanya menyeberang jalan bak seorang pangeran pemberani. Sayangnya kenyataan tidak seindah yang dibayangkan.

Dunia kembali seperti semula saat suara klakson menyadarkan dari lamunan. Elang memang memegang tangan Elok tapi sama sekali tidak tersenyum, wajah datarnya menatap lurus ke depan. Sepanjang jalan Elang hanya diam sambil memandang pemandangan diluar angkot.

"Ya ampun, Lok. Elang sweet banget ya sampai mau nolong kamu. Udah deh, Lok. Jangan kelamaan memendam rasa. Ntar doi balikan ma Jesi kamu nangis bombai."

Perkataan Rindu membuat hati Elok bimbang. Pantaskah dia berjuang buat Elang? Mengingat saingannya sekelas Jesi yang seperti foto model. Lagi pula keadaan diantara mereka tidak begitu bagus.

"Aku pengen jadi pacar Elang tapi malu-maluin nggak ya, kalau aku yang pedekate?" Elok tertawa malu-malu ketika menyerukan yang selama ini ada di dalam hati.

"Semangat dong. Aku dukung kamu." Rindu meremas tangan Elok.

"Ini sotonya, Mbak." Suara dari ibu penjual membuat senyum mereka merekah karena sudah sangat kelaparan.

Tangan Elok mencoba menggapai tempat sambal yang letaknya agak jauh ke sisi satunya. Berhubung tidak sampai, dia harus berdiri untuk mencapainya. Namun tempat sambal itu sudah berpindah tempat di samping mangkuknya tanpa dia perlu berdiri.

"Terima ka ... sih," kata Elok dengan tergagap karena saat menoleh ternyata Elang yang sudah membantunya. Tubuhnya langsung menegang.

"Su ... sudah dari tadi, Lang?" Elok nyaris tidak bisa bernapas hingga membuat wajahnya terlihat pucat pasi, begitu pula dengan Rindu.

"Nggak, baru saja duduk."

Jawaban Elang membuat Elok dan Rindu diam-diam bernapas lega. Semoga saja dia tidak mendengar apa-apa. Jangan sampai pernyataannya tadi terdengar, bisa sangat memalukan.

Elang mengambilkan lepek yang berisi jeruk nipis sekaligus piring sate. Tumben banget Elang baik kaya gini.

"Kalian nggak lagi pura-pura mesra supaya aku cemburu kan?" tanya Fahmi sambil memainkan alis. Tanpa ijin dia duduk di seberang Elang.

"Kamu cemburu denganku? Kamu naksir Elang?" Elok menutup kedua mulut dengan telapak tangan, pura-pura terkejut.

"Kamu gay? Sungguh tak kusangka." Lanjut Rindu dengan gerakan mendramatisir yang lebay.


Sumber : dokpri


"Jangan kebanyakan baca Trapped by Love nya Chriztpie. Otakmu jadi aneh gini. Nggak semua cowok ganteng itu gay. Kalau aku jelas masih normal." Elang mengetok dahi Elok dengan sendok yang masih bersih.


Sumber : dokpri


Elok mengelus bagian yang terkena sendok sambil memajukan bibirnya lima senti agar terlihat seperti orang yang merajuk. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu. "Chriztpie ga nulis kalau semua cowok ganteng itu gay. Eh, btw kok kamu tahu aku suka baca TBL?" Segera saja memutar tubuh menghadap Elang sambil berharap kalau Elang mengetahui hal itu karena perhatian dengannya.

"Fahmi yang cerita." Elang menggerakkan dagu menunjuk Fahmi.

Mata Elok dengan cepat beralih memandang Fahmi, yang ditatap malah garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum nggak jelas.

"Aku sering lihat kamu share adegan di TBL. Iseng-iseng ikut baca biar ada bahan obrolan sama kamu."

Elok terpukul, kenyataan memang tidak seindah angan-angan. Kirain Elang beneran seniat itu buat pedekate sampai cari info sana sini, ternyata  yang kegeeran.

"Lang, kamu kok makan di sini sih? Aku nyariin kamu ke kantin." Jesi menarik salah satu kursi dan bergabung di meja mereka. Dia dengan tidak tahu malu duduk mepet-mepet Elang.

"Memangnya kenapa kalau makan di sini?"

"Kan nggak higienis," ucap Jesi sambil matanya melirik ke sana kemari untuk memastikan meja bersih.

Soto pesanan Elang dan Fahmi datang juga. Elang tanpa basa-basi memakannya tanpa menghiraukan Jesi memperhatikan dengan penasaran.

"Enak ya? Mau incip juga dong," katanya dengan manja.

Jesi sudah mencondongkan tubuh sambil membuka mulut minta disuapi tapi Elang masih menyendok untuk dirinya sendiri membuat Elok yang melihat kejadian itu terpaksa menahan tawa agar nasi yang ada di mulut tidak menyembur.

"Uhuk ... uhuk." Mata Elok memerah, ternyata menahan tawa itu bukan tindakan yang bagus ketika sedang makan. Buktinya, dia tetap tersedak.

Elang menyodorkan gelas es teh yang langsung saja disambar Elok. Hal berikutnya bukan membuat reda batuk-batuknya malah semakin hebat, kali ini karena kaget dengan ulah Elang menepuk-nepuk pelan punggungnya. Ya, Tuhan cobaan apa lagi ini. Elang bikin Elok terharu.

Jesi yang terbakar cemburu mengambil sendok dan memakan soto Elang. "Enak juga, Lang. Kita makan berdua ya. Sini aku suapi."

Jesi menyodorkan sendok yang berisi nasi serta kuah soto pada Elang tapi dengan santainya cowok itu malah menarik tangan Elok yang hendak menyuap nasi ke mulutnya sendiri dan mengalihkan jalurnya hingga masuk ke mulut Elang.

Mulut Elok yang sudah terbuka malah makin terbuka lebar. Kesempatan itu dipakai Elang buat menyuapkan nasi ke mulut lalu memegang dagu Elok, mendorongnya ke atas hingga mulut cewek itu menutup.

Elok baper beneran jadinya. Nggak apa-apa kalau dimanfaatin buat bikin Jesi cemburu. Yang jelas dia bahagia banget. Perlakuan Elang bikin mereka terlihat seperti orang yang sedang pacaran.

Rindu dan Fahmi memandang dengan mulut membuka yang tak kalah lebar, tapi Elang masih melanjutkan aksi makan bergantian hingga nasi soto yang ada di mangkok Elok habis.

"Buruan. Kita tugas persiapan." Elang berdiri dan melangkah buat membayar semua soto mereka.

Langkahnya yang lebar membuat Elok harus berlari untuk mengejar. Dia sudah tidak memperdulikan Jesi yang menatap dengan pandangan marah. Masa bodoh, kali ini Elang memilihnya daripada Jesi. Elok diam-diam tersenyum.

Elang juga diam-diam tersenyum. Rasanya menyenangkan kalau menjadi pacar pura-puranya Elok. Apa dia harus membuat ini jadi beneran, bukan sekadar pura-pura.

Asisten dosen menyerahkan menyerahkan nampan berisi reagen golongan darah yang diterima Elang dengan berat hati. Bibirnya menipis ketika mengingat secuil kenangan tentang golongan darah.

Elang terus menunduk ketika menata reagen-reagen itu di masing-masing meja. Sebenarnya dia bisa merasakan tatapan Elok yang terus menerus tertuju padanya. Dia tidak ingin dikasihani, apa lagi oleh Elok.

"Tusuk saja! Jangan lama-lama melamun!" Suara Elang yang sedikit keras membuat Elok berjingkat kaget. Tangannya refleks bergerak menusukkan lancet ke ujung jari Elang tanpa menyadari kalau terlalu banyak memakai tenaga hingga menyebabkan luka tusukan itu menjadi lebih dalam dari seharusnya.

"Pelan napa? Sakit!" Elang meringis menahan sakit.

"Maaa ... maaf. Kamu ngagetin sih." Elok meringis ketika memijat lembut jari Elang untuk mengeluarkan darah. Sepertinya dia bertindak ekstra hati-hati agar tidak dibentak gara-gara terlalu kasar.

Elang tersenyum kecil melihat wajah Elok yang menahan cemas. Mulai sekarang bakal lebih mudah memandang wajahnya dalam jarak sedekat ini.

Dia bahkan bisa memperhatikan betapa lentik bulu mata cewek itu. Rasanya tidak akan bosan kalau berada dalam posisi ini dalam waktu yang lama.

Telapak tangan Elang dibalik hingga darah mengarah ke bawah dan menempel pada kertas golongan darah. Elok dengan sigap menutup luka Elang dengan kapas bersih.

Elang menekan ujung jari tengah dengan ibu jari agar perdarahan berhenti. Merasakan hatinya yang semakin tidak karuan ketika melihat Elok meneteskan reagen Anti-A, Anti-B, dan Anti-D.

Menunggu darah-darah itu ber-aglutinasi hingga membentuk gumpalan-gumpalan yang menunjukkan golongan darahnya.


Sumber : www.galena.co.id

Sebenarnya Elok juga ikut cemas ketika darah-darah itu mulai bereaksi. Memang baru dia mengecek golongan darah Elang tapi sudah sangat tahu hasil akhirnya. Disetiap kolom terlihat aglutinasi, bisa dipastikan kalau golongan darah Elang adalah AB dengan rhesus positif.


Sumber : www.galena.co.id

Sekarang gantian Elang yang mengambil sampel, tapi Elok sama sekali tidak merasakan nyeri ketika ujung lancet menembus kulit hingga terlihat darah. Matanya hanya terpaku pada ekspresi wajah Elang yang mengeras.

Mereka sudah menyelesaikan praktikum dan tinggal menunggu buku praktik dikembalikan. Elok membereskan perlengkapan dengan cepat lalu kembali memperhatikan Elang. Cowok itu mengepalkan tangan dengan erat membuat Elok bertindak tanpa berpikir panjang untuk menggengam tangannya.

Kepalan tangannya perlahan mengendur, tapi ekspresi wajah Elang yang semula terkejut malah kembali mengeras.

"Aku tidak butuh dikasihani," ujar Elang sambil menarik tangannya.

Elok tersenyum lemah. "Aku tahu. Aku hanya ingin menggegam tanganmu saja."

Nggak kebayang betapa merah muka Elok ketika Elang kembali memandangnya dengan tatapan bingung.

Elok berdehem beberapa kali sebelum melepaskan tangannya. Semoga saja Elang tidak mengira sedang dimodusin karena kali ini niat Elok murni untuk menghiburnya.

Mereka tetap berada di dalam ruang praktik untuk membereskan perlengkapan ketika sudah selesai. Elok mendesah ketika tak mendapati Elang ketika dia selesai mengembalikan kunci kulkas reagen pada penjaga Lab.

Itu membuat Elok menuruni tangga dengan langkah gontai. Kelompok lain sudah selesai praktek. Hera sudah pulang duluan, Elang juga. Bagaimana caranya pulang kali ini. Dia masih belum berani menyeberang perempatan sendiri. Kemarin ada Elang tapi hari ini Elok sempat melihat motornya di parkiran.

Wangi Elang terhidu oleh Elok membuatnya merinding. Apa lagi ini sudah sangat sore, langit juga sudah menggelap. Dia menyaris teriak saat merasakan ada yang memeluk dari belakang. Namun hembusan napas hangat dan juga aroma yang makin kuat membuatnya menarik kesimpulan.

"Lang, lepas. Nggak enak kalau ada yang lihat. Besok Jesi bisa nyakar-nyakar aku." Elok bergerak-gerak sambil mencoba melepas tangan Elang yang melingkar di perut. Sesuatu yang susah untuk dilakukan karena cowok itu menggenggam lengannya sendiri dengan erat hingga sulit dilepaskan.

"Golongan darahku AB. Kami beda golongan. Aku bukan anak Ayah." Suara Elang membuat mata Elok berkaca-kaca.

Elok tahu itu bagaimana sakitnya hati Elang. Memang tidak mungkin kalau ayah bergolongan darah O sedangkan ibu bergolongan darah A bisa menghasilkan anak bergolongan darah AB. Elok sudah mengetahui kenyataan itu sejak pertama kali mereka melakukan praktik golongan darah sejak mereka di semester 1.

Isak tangis tertahan membuat Elok memejamkan mata. Dia harus menahan tangis ini dan bersikap kuat agar bisa menghibur Elang.

...

Catatan :
Aglutinasi dalam kedokteran dan zoologi adalah penggumpalan dalam suatu cairan akibat pemberian suatu bahan ke dalamnya. Kata berasal dari bahasa Latin agglutinare, yang berarti "untuk menempel pada". Contoh aglutinasi adalah peristiwa penggumpalan protein dalam darah sebagai reaksi atas pemberian suatu antigen.
Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Aglu...nasi_(biologi)


Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie
profile picture
jiyanq
kaskus addict
Makin dekat aja.. emoticon-Betty
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di