CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e12bc7ec0cad71a2a7bce23/andira

ANDIRA




Part 1



Aku menatap tak percaya pada wanita berbaju putih itu, Mba Anita, konselor yang diajukan dokter untukku. Meskipun telah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang ada, tetap saja ini terlalu berat untuk kuterima. Ini tak mungkin terjadi padaku, bukan? Bagaimana bisa? Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang hampir selalu menghabiskan waktu di rumah. Kenapa terjadi padaku? Kenapa harus aku? 

 

Bibirku bergetar demi menahan bendungan air mata yang menggenang. Sesuatu dalam hatiku bergejolak dan meronta. Sakit. Sementara wanita itu menatapku dengan pandangan iba. 

 

Positif. Bagaimana bisa hasilnya positif? Sejak kapan? Dari mana? 

 

Bertubi-tubi pertanyaan mendesak di kepalaku. Rasa tak mengerti membuatku tak sanggup mempercayai. Aku telah terinfeksi virus laknat itu. 

 

“Seperti yang udah kita bahas sebelumnya, kalau hasil testnya positif ada baiknya si kecil juga ikut menjalani pemeriksaan. Untuk meminimalisir resiko ke depannya," ujar wanita itu lagi. 

 

Aku tersentak mendengar kata-katanya. Shenaku? Gadis kecilku itu harus ikut menjalani pemeriksaan? Apakah ia juga ...?

 

Ya Tuhan, hukuman macam apa ini? Aku tak sanggup membayangkan jika Shena kecilku juga terinfeksi virus keparat itu. Ia masih terlalu kecil.

 

Dadaku bergemuruh. Ingin rasanya aku berteriak marah pada semua yang ada di sekitarku. Ini tak adil untukku. Tak adil untuk kami.


Kupilih untuk meninggalkan ruangan itu. Tak sanggup jika harus terus duduk di sana, dan melihat pandangan iba darinya.


Berjalan dan terus berjalan. Teriknya matahari tak lagi kuhiraukan. Apa bedanya bagiku kini? Aku sekarat. Kematian sedang menungguku. Seperti Mas Tama yang kini terbaring di rumah sakit itu.


Ah ... Mas Tama. Bagaimana bisa ini terjadi pada kami? Ia adalah suami terbaik sepanjang yang bisa kuingat. Tak pernah ia menyakiti hatiku, atau bahkan sekedar membuatku kecewa. Lantas bagaimana penyakit terkutuk itu mendatangi kami? Bagaimana? 


Suara klakson motor Cumiakkan telinga mengejutkanku. Umpatan dari si pengendara tak begitu jelas kudengar. Sepertinya aku telah berjalan terlalu ke tengah hingga ia nyaris menabrakku.


Aku merasa seperti kehilangan akal. Bahkan aku seolah kehilangan diriku sendiri. Tubuh dan pikiran ini kini di luar kendaliku. Aku merasa kosong. 


Kulangkahkan kaki kembali ke  trotoar, lalu duduk di bangku pengguna jalan. Berbagai bayangan silih berganti memenuhi pikiran. Bayangan senyum manis Shena, putri kecilku yang tahun ini genap berumur tiga tahun. Si kembar Alfia dan Ulfa, putri pertama dan keduaku. Juga Mas Tama, suamiku.


Mas Tama. Ia adalah satu-satunya cinta yang kutahu. Kami bertemu dalam acara reuni sekolah sepuluh tahun yang lalu. Mudah baginya membuatku jatuh cinta, dan mengatakan iya untuknya. Ia tampan, dan penuh kharisma. 


Tak butuh waktu lama bagi kami  memutuskan untuk menikah. Rumah tangga kami hampir selalu bahagia, apalagi dengan kehadiran dua putri kembar Alfia dan Ulfa yang seolah semakin melengkapi. Hanya sesekali kami terlibat perselisihan, dan Mas Tama akan selalu mengalah lebih dahulu. Bagiku ia adalah suami yang sempurna.


Namun, kondisi kesehatan Mas Tama menurun drastis beberapa bulan belakangan. Batuk yang kian hari kian menjadi. Juga beberapa kali ia terkena diare. Berkali-kali kucoba mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, ia selalu saja menolak.


“Paling kecapekan aja, masuk angin. Ntar juga sembuh. Kamu nggak usah khawatir,” ucapnya selalu sembari tersenyum menenangkanku. 


Hingga puncaknya dua minggu yang lalu ia mendadak kehilangan kesadaran, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Aku merasa sangat takut kehilangannya. Merasa bodoh karena tak berdaya setiap kali ia menolak ajakanku ke rumah sakit. 


“Bu, mohon maaf kami harus menyampaikan hal ini ...,” ucap dokter siang itu. 


Jantungku berdegup sangat kencang. Ruangan putih ini mendadak terasa begitu sempit. Ada apa dengan hasil pemeriksaan suamiku? Apa penyakitnya sungguh parah? Jantungkah? Gagal ginjal? Kanker? Astaga ... semua pikiran itu hampir membuatku gila. 


“Dari hasil pemeriksaan kami menemukan bahwa bapak positif terinfeksi HIV, dan sudah memasuki fase AIDS ...,” ucap dokter hati-hati.


Aku mengerutkan kening mencoba memastikan bahwa aku tak salah mendengar pernyataan dokter. Bagaimana mungkin suamiku mengidap penyakit ... seperti itu?


“AIDS merupakan gejala lanjutan dari HIV yang telah merusak sistem imun ....”


“Nggak mungkin, Dokter! Pasti ada kesalahan! Suami saya nggak mungkin mengidap hal seperti itu,” ucapku setengah tertawa. Mereka tak mengenal suamiku.


"Bu, kami sudah melakukan pemeriksaan secara ....”


“Ya, mungkin ada kesalahan. Sampel darahnya tertukar atau apa gitu ...,” jawabku mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyebabkan kesalahan dalam pemeriksaan.


Dokter itu menegakkan sedikit duduknya, dan kembali berbicara dengan raut wajah serius. “Kami mengerti dengan keterkejutan Ibu, tapi pemeriksaan telah dilakukan terhadap suami Ibu, dan hasilnya bapak positif mengidap AIDS. Kami telah menyampaikan hal ini kepada bapak sebelumnya, dan beliau telah setuju untuk menyampaikan hal ini pada Ibu, ” ucap dokter itu lagi.


Aku mencoba kembali membuka suara, tetapi urung. Apakah yang dokter katakan itu benar? Suamiku mengidap penyakit itu? Ah ... bahkan menyebutnya saja membuatku bergidik ngeri.


Tak terlalu kudengarkan lagi penjelasan dari dokter. Pikiranku dipenuhi tanda tanya. Ini terlalu mustahil bagiku. 


“Mohon maaf sebelumnya, apakah Ibu menggunakan pengaman setiap kali berhubungan suami istri?” tanya dokter kemudian. Aku tersentak, dan menggeleng lemah. Bingung, bagaimana harus menghadapi situasi ini.


“Kami menyarankan Ibu agar ikut menjalani pemeriksaan untuk memastikan apakah virus HIV telah ditularkan kepada Ibu sebagai istri beliau, dan kami akan merujuk Ibu pada seorang konselor yang akan membantu Ibu nantinya ...,” lanjut dokter kembali.


Aku terpana mendengar kata-kata yang baru saja kudengar. Apakah virus itu telah ditularkan padaku sebagai istri? 


Limbung. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa? Separuh hatiku tak percaya. Namun, untuk apa dokter itu berbohong? Bagaimana jika semua itu benar?


Mas Tama, bagaimana mungkin suamiku mengidap AIDS. Ia bukanlah seorang pecandu, juga bukan tipe lelaki hidung belang. Rasanya tak ada celah yang bisa menyebabkan ia mengalami semua itu. Tetapi, kenapa hasil pemeriksaannya seperti ini.


Namun, aku tetap mengikuti saran dokter untuk ikut menjalani pemeriksaan, dan hasil yang kuterima siang ini seolah menghancurkan hidupku. Satu pertanyaan terus berputar di kepalaku. Dari mana penyakit itu ia dapatkan? Bagaimana bisa? 


Aku telah melakukan pencarian di mesin pencari ponsel mengenai segala hal tentang HIV dan AIDS sebelumnya. Aku benar-benar tak menemukan celah bagaimana virus itu bisa menyerang kami.


Mas Tama tak mungkin mengkhianatiku. Tak mungkin!


*****


Aku kembali ke rumah sakit menjelang pukul tujuh malam. Perlahan kubuka pintu ruang rawat Mas Tama. Ia terbaring dengan berbagai macam alat untuk menopang hidupnya. Kupandangi tubuhnya yang kini begitu kurus. Ia kehilangan hampir dua puluh kilogram berat tubuhnya.


Kusentuh lembut jemari tangannya, dan lagi semua pertanyaan itu menghantui pikiranku. Bagaimana penyakit itu bisa mendatangi kami? 


Mas Tama membuka matanya, dan menatapku sendu. Mata itu kini terlihat begitu sayu. Cukup lama kami hanya berpandangan dalam diam. Bibirku seolah kelu, tak mampu berkata apa-apa.


Mas Tama kemudian membalas sentuhanku pada tangannya. Wajahnya semakin terlihat pilu dan menderita.


“Dira, aku menghianatimu. Maaf...," ucapnya lemah.

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
feliia dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh friya1
Quote:


Part 3



Aku pulang dalam keadaan kacau. Merasa buta. Bagaimana bisa aku tertipu? Dua bulan ia bersama wanita itu, dan aku bahkan tak pernah sedikitpun merasa curiga padanya. Apakah aku yang terlalu bodoh, ataukah ia memang mahir menyembunyikan bangkai kebohongannya?


Benci. Aku benar-benar membencinya. Jika hanya hidupku yang dihancurkan, masih bisa kuterima sebagai konsekuensi mencintai bajingan sepertinya. Namun, ia membuat Shena harus menanggung semua ini. Ayah macam apa dia?


Penuh kemarahan kukemasi seluruh pakaian Mas Tama dari lemari. Aku tak mau lagi melihat barang-barangnya di rumah ini. Akan kubakar semua miliknya. Ia tak punya hak lagi padaku dan anak-anak. Biar saja ia mati dalam kesendirian.


Selanjutnya, kukemasi seluruh barang dari meja kerjanya. Daerah yang selama ini terlarang bagiku. Mas Tama tak pernah membolehkanku membereskan daerah kerjanya itu. Ia tak suka jika pekerjaannya terganggu.


Namun, sebuah amplop berwarna coklat menarik perhatianku saat sedang memeriksa satu persatu laci meja. Entah kenapa amplop itu disembunyikan di bagian paling bawah dari berkas-berkas lainnya. Rasa penasaran mendorongku untuk memungutnya. 


Segera saja kubuka amplop itu dan melihat isi di dalamnya. Sebuah foto dari hasil pemeriksaan laboraturium. Mas Tama melakukan pemeriksaan dan tidak memberitahuku? Foto ini... menunjukkan bahwa Mas Tama positif terinfeksi HIV. Jadi, ia sudah tau tapi merahasiakannya dariku? Bagaimana bisa ia mengambil keputusan seegois itu? Tidakkah ia berpikir bahwa tindakannya itu mengancam masa depanku? 


Aku kembali berteriak sekuat-kuatnya.  Aku semakin membenci lelaki itu. Aku sangat membencinya. 


******


Kulangkahkan kaki pelan mendekati pintu berwarna biru itu. Rumah Ibu. Sudah beberapa hari aku mencoba menghubungi keluargaku, tapi tak satu pun dari mereka menjawabnya. Bahkan tidak dengan Ibu.


Mereka tak mungkin mencampakkanku seperti yang dilakukan oleh keluarga Mas Tama, bukan? Bagaimanapun mereka adalah keluargaku. Mereka tak mungkin melakukan itu.


Kuketuk pintu perlahan, dan mengucap salam. Langkah kaki di dalam sana menjadi jawaban untukku. Pintu terbuka, dan wajah Ibu yang kurindukan muncul di sana.


Tangisku pecah, aku berjalan mendekati Ibu untuk memeluknya. Aku butuh pelukan Ibu saat ini, butuh kekuatan darinya. Namun, suara di belakang sana membuatku urung lebih mendekat. 


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Mas Ilham, kakakku. Ia segera merengkuh Ibu menjauhi ku. 


“Mas, aku ....”


“Di sana aja! Jangan masuk. Gila apa kamu datang ke sini? Di rumah ini banyak anak kecil, Dira! Kamu mau menularkan virusmu itu pada seluruh keluarga?” tanya Mas Ilham keras.


Aku terpana mendengar ucapannya. Kata-kata itu keluar dari mulut kakakku sendiri? Benarkah ia kakak yang selama ini kusayangi? 


“Mas ....” 


“Seluruh tetangga pada ngomongin keluarga kita, tahu nggak kamu! Malu, Andira! Kami malu! Ibu bahkan nggak berani ke luar rumah. Sekarang kamu malah nekat datang ke sini?” bentak Mas Ilham lagi. 


Hatiku benar-benar hancur mendengar kalimatnya. Mereka malu karena keadaanku ini? Tidakkah mereka sadar aku juga korban di sini? Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. 


Luruh air mataku jatuh. Tubuh ini lunglai, dan aku terduduk di lantai yang dingin. Isakku semakin keras menerima kenyataan bahwa keluarga pun tak mau menerimaku. 


Ibu pun ikut menangis, tetapi Mas Ilham menahan Ibu untuk mendekatiku. 


“Kasihan adikmu Ilham,” ratap Ibu memohon.


“Biarin aja, Bu. Dia yang memutuskan menikahi laki-laki itu. Ini akibat dari keputusannya sendiri. Kita bisa apa? Penyakitnya itu menular, Bu! Ibu nggak mau ‘kan seluruh keluarga ketularan?” jawab Mas Ilham tegas. Air mataku dan Ibu tak bisa meluluhkan hatinya. 


“Mending kamu pergi dari sini, Dira. Sebelum ada tetangga yang lihat kamu.”


Mas Ilham membanting pintu di hadapanku. Suara tangisan Ibu masih terdengar di dalam sana. Namun, Mas Ilham akan tetap dengan keputusannya. Mereka mencampakkanku.


****


Sudah berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Hidupku sudah tak ada gunanya lagi. Semua orang menjauhi dan membenciku. Bahkan keluarga pun enggan berada dekat denganku. Mereka terlalu takut akan tertular virus ini. Tak ada gunanya lagi aku hidup. 


Tangisan Shena di luar sana semakin menjadi. Sejak pagi ia tak hentinya menangis. Beberapa hari ini kubiarkan ia dan kakaknya sendirian. Apa yang bisa kulakukan? Mereka harus bisa hidup tanpa aku. Kematian akan segera menjemputku.


“Ma ....” Suara Alfia kembali memanggilku. Aku tahu, ia kini juga menangis. Namun, mereka harus belajar hidup tanpa aku. 


“Buka pintunya, Ma ....” pintanya memelas. Tangisan ketiga anakku kini bercampur menjadi satu. 


“Ma ....”


Sakit. Hatiku sakit mendengar tangisan mereka. Namun, aku bisa apa? Aku akan segera mati. Mereka harus bisa menerima itu. 


Air mataku kembali jatuh. Kesedihan, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Kenapa semua ini terjadi pada kami?


Dulu, keluarga kami utuh, bahagia, dan selalu terasa sempurna. Namun, dalam sekejap saja semua keadaan itu berbalik. Jangankan untuk tertawa, untuk tersenyum pun aku tak lagi memiliki alasan yang cukup. 


Ya Tuhan, kenapa harus aku? Kenapa harus anak-anakku?


Dalam benakku kembali terbayang wajah cantik ketiga putriku. Alfia, Ulfa, mereka pasti ketakutan di luar sana. Namun, aku tak bisa membiarkan mereka ikut menanggung derita ini. 


Kembali terngiang di telingaku kata-kata Mas Ibram dan Mas Ilham. Mungkin mereka benar. Aku bisa menularkan penyakit ini jika terus berada dekat dengan mereka. Aku ini kotor, dan menjijikkan. Aku tak pantas lagi untuk dunia ini.


Alfia dan Ulfa, mereka tak boleh berada di dekatku lagi. Aku tak mau mereka tertular. Tak ingin mereka menerima cibiran sepertiku. Cukup aku dan Shena. Ya... cukup aku dan Shena. 


Bergegas kuhampiri pintu, dan perlahan membukanya. Pemandangan di luar sana membuat jantungku kembali berdenyut sakit. Semuanya berantakan. Alfia dan Ulfa, mereka terlihat sangat tidak terawat. Mata mereka bengkak karena menangis, rambut mereka tak lagi terikat rapi seperti biasa. Aku tak bisa melihat mereka seperti ini. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 


Kuambil Shena dari pangkuan kakaknya, dan menyodorkan beberapa lembar uang pada Alfia. 


“Pergi dari sini, Nak. Pergi ke rumah nenek! Bawa uang ini! Mama nggak mau kalian menderita di sini. Pergilah!” perintahku pada mereka berdua.


“Mama ... Mama kenapa?” tanya Ulfa terisak. 


“Kalau kami salah, kami minta maaf, Ma. Kami janji nggak akan nakal lagi. Mama jangan begini,” ucap Alfia dengan dua tangan di dadanya.


Air mataku semakin deras mengalir. Namun, kuyakinkan hati bahwa semua ini demi kebaikan mereka berdua.


“Pergi dari sini! Pergi dari rumah ini. Mama sayang kalian, Mama nggak mau menularkan penyakit ini pada kalian. Pergi!” perintahku lagi sembari membanting kembali pintu kamar dan menguncinya. 


Kudekap Shena dalam pelukanku. Kami bertangisan bersama-sama. Alfia dan Ulfa masih terus mengetuk pintu dan memanggil namaku.


“Ma ... buka, Ma,” pinta mereka terus menerus, membuat hatiku semakin teriris. 


“Pergilah, Nak. Pergi dari rumah ini! Kalian nggak boleh sakit,” jawabku lemah. Aku tak pantas lagi menjadi ibu mereka.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
feliia dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh friya1
profile picture
jiyanq
kaskus addict
emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di