CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dca8159337f93523d6b4c24/cinta-sepekan

Cinta Sepekan



Quote:


****


Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan

"Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau berkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."

Seketika mataku terbelalak memandangi layar ponsel, rasa curiga bercampur aduk langsung saja aku menghampiri mbk iparku yang masih asyik memasak sambil mendendangkan lagu dangdut dibarengi tarian yang entah dia ciptakan sendiri atau justru plagiat tapi gagal total. pokoknya yang ada melihat atraksi komedi bukan melihat diva sedang menyanyi.

"mbk Imah... ini pasti ulah mbk Imah" sambil menyodorkan ponsel yang kubawa tadi

"Apa sih nduk?" matanya menyipit melihat dengan seksama ponselku.

"Alhamdulillah akhirnya usaha mbk gak sia-sia ada yang mau ngajakin kamu serius itu nduk, udah cepetan dibalas, jangan kelamaan, nanti keduluan yang lainnya, mbk udah gak sabar dapat adik ipar ini. Kamu udah kelamaan menjomblo umurmu udah pangkat 3 lho".

"Jadi, beneran ini ulah mbk Imah? Mbk...." belum sempat aku bicara mbk Fatimah udah memotong pembicaraanku.

"Nduk kali ini dengarkan mbk!" Wajah serius mbk Fatimah yang jarang aku lihat selama ini

"Nduk apa salahnya dicoba dulu, kenalan kan belum tentu langsung suruh menikah hari ini juga to, kalo gak cocok juga bisa mundur, siapa tahu ini memang jodoh yang dikirim Allah buat kamu, tentang statusnya duda atau perjaka itu gak masalah yang penting pertama agamanya". Jelas mbk Fatimah, aku lalu dia. Tanpa kata apapun aku melangkah gontai menuju kamarku.

Kupandangi chat dari nomor tak bernama itu, dalam hati berkata "Zahir, okeylah aku akan coba mengenalnya." Aku mengikuti saran mbk Imah.

Ku balas chat itu "Wa'alaikumsalam, maaf saya lama balesnya jujur saya terkejut mendapat chat darimu. Kalau memang berkenan silakan berkenalan dulu tak apa-apa. Tujuanku juga serius mencari pendamping hidup". Isi chat tersebut sangat kaku.

Selang beberapa detik ponsel berbunyi, dia membalasnya lagi "Terimakasih, boleh saya telpon kamu?"

Aku berfikir agak lama akhirnya kumengiyakan. Tak lama ponsel berdering tanda panggilan masuk. Rasa gemetar tanganku meraih ponsel.

"Assalamualaikum, ini Ranum ya?." Suara serak dan sedikit berat terdengar merdu membawaku pada lamunan

"Wa....wa'alaikumsalam, iya benar, kamu eh gmn aku panggilnya?"

"Panggil Zahir biar lebih akrab, lagian kita kayaknya masih sebaya, umurku 28 tahun, kamu?"

"Apa? Aku, em...aku sudah 31 tahun." Aku agak malu menyebutkan umur karena usiaku dibilang sudah kadaluwarsa.

"Oh jadi kita selisih 3 tahun ya?"

"Iya, tapi aku lebih tua dari kamu? bagaimana?"

"Gak masalah buatku, yang penting mau aku ajak ibadah dan dalam hal kebaikan"


Lama kami terdiam saling menunggu satu sama lain membuka obrolan lagi, tapi tetap saja hening. Lalu dia kemudian mulai berbicara lagi

"Ranum, aku orang to the point aja ya, niat aku serius sama kamu, aku tidak mau pacaran aku maunya langsung menikah aja."

"Apa?"aku agak gugup karena Zahir tidak suka basa basi

" tapi apa kamu sudah yakin memilih aku, kamu kan belum kenal aku seperti apa?"

"Inshaa Allah aku yakin, jadi kamu siapnya kapan nanti aku akan ketempatmu untuk melamarmu."

" Tapi, kamukan belum tahu tentangku, misalnya saja biodataku."

"Aku sudah tahu kok, kan sudah dapat bio datamu, nama,alamat, nama ayah, cita citamu, semua aku tahu dari biro jodoh online"

"hah??" Aku kaget seingatku aku tidak pernah mengikuti ajang biro jodoh, aku berpikir keras jangan-jangan waktu itu, yah aku ingat waktu itu mbk Imah memintaku menulis biodata selengkap-lengkapnya alasannya untuk mencarikanku pekerjaan, oh ternyata mbk Imah dibalik semua ini.

"Halo, kamu masih dengar suara aku?"

"Iiya...ya aku dengar kok!"

"Ya sudah nanti disambung lagi, aku mau tugas dulu."

"Tunggu sebentar!, aku mau tanya kamu duda karena bercerai atau istri meninggal?"

"Istri aku meninggal waktu melahirkan si kembar, oh ya aku kirim foto anak-anakku ya."

Aku memandangi ponsel ku buka chat di wa, aku menerima foto anak kecil mungil dengan bola mata bulat, cantik sekali.

"Ya aku udah lihat anak-anak, anak-anak sekarang sama siapa kalau kamu kerja?"

"kalau aku kerja sama pengasuhnya, okey udah dulu ya nanti disambung lagi, assalamualaikum."
Ia mengakiri salam dan aku membalas salam itu seketika itu tlp mati. Aku masih terpaku sambil menggenggam ponselku.

Ke esokan harinya, pagi-pagi aku sudah mendapat wa darinya , "assalamualaikum, kamu lagi ngapain?".

Entah kenapa hati ini mulai berdebar membaca pesan itu, lalu kubalasnya.

****


Selama empat hari berurut-turut, kami hanya ngobrol lewat pesan saja. Tapi itu sudah cukup membuat aku bahagia, dan aku sudah mulai menyukainya. Ya...aku sudah jatuh cinta.

Hari kelima, aku memandangi ponsel berharap dapat pesan darinya, tapi tidak. Rasa kangen mulai muncul dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja aku tidak berani menulis pesan terlebih dahulu.

Hari keenam, aku bercerita kepada mbk iImah tentang Zahir dan sejauh mana kami merencanakan pernikahan yang dibilang dadakan. Belum bertemu, aku sudah mantap, yang kutahu hanya namanya dan nama kedua anaknya selebihnya aku tidak tahu apapun.

Mbak imah menyarankan. aku untuk bicara ke Bapak, tapi sebelm itu mbk Imah memintaku untuk menanyakan identitasnya lengkap karena hanya itu yang bisa mdnjadi gambaran dan acuan.

Hari ketujuh, sudah dua hari kami tidak komunikasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk langsung meneleponnya. Panghilan siara aktif telepon berdering namun tiba tiba panggilan ditolak. Aku penasaran aku ulangi panggilan telpon lagi. Tapi tetap saja ditolak.

Aku mulai khawatir selang beberapa detik wa darinya

"Hmm"

"Kamu lagi ngapain, kok telponku gak diangkat?"

" Aku lagi nyantai, wa aja ya, aku lagi gak pengen terima telpon"

"Lho kenapa, aku mau bicara kan lebih enak bicara langsung dari pada nulis pesan."


Ada perasaan aneh yang aku pun tidak bisa menggambarkannya. Aku mulai tidak yakin bahwa Zahir ini bener-benar serius.

"Oh ya anak-anak mana?" Ku mulai menanyakan anaknya lewat chat

"Dah tidur"

"Fotoin ya, aku mau lihat mereka"

"Ah ribet."


"Lho kok gitu, aku hanya minta foto, aku pengen lihat, aku memang suka sama anak-anak. Ayolah fotoin, oh ya mana biodata kamu? Kok gak kamu kasih sih?" bujukku

" kamu ini belum menikah sudah minta ini itu."

"Apa?" Aku terkejut dengan balasanya itu.
"Lho aku minta apa to? Kan katanya kamu serius sama aku, aku cuma minta biodata dan fotoin anakmu. Kok kamu bilangnya begitu,

"Akhir bulan ini kan aku ketempatmu nanti tahu sendiri to."


"Lho ya gak gitulah, aku kan belum bilang sama bapakku, makanya aku minta biodata sama kamu, la terus apa yang harus kuceritakan sama bpk, aku aja hanya kenal namamu tak lebih dari itu."

"kamu itu ribet ya"

"okey kalau emang kamu gak mau kasih data ke aku, aku tak mundur aja dari perkenalan kita, apalagi kamu bilang aku suka minta hal-hal yang aneh, menurutku itu wajar lho. Aku malah ada kesan curiga sama kamu."

" Jadi kamu mundur berarti selama ini modusin aku, kamu php aku ya?."

"Mana ada aku serius kok, justru aku itu ragu sama kamu".

" ya udah gak usah wa aku lagi, bye...".


Seketika nomorku sudah diblokir, dan aku mencoba menulis pesan terakhir entah itu terkirim atau tidak

" aku minta maaf, selama ini aku percaya sama kamu, sudah kugantungkan harapan kepadamu, dan ada ruang kosong yang aku khususkan untuk kau tempati di hatiku, tapi seketika kamu telah menghancurkannya. Biarlah Allah nanti yang menjelaskan bahwa selama ini aku tidak penah mempermainkanmu, wakaupun cuma sepekan tapi tetap saja kamu punya tempat terindah disini wassalamu'aikum".


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 27 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Enisutri

Part 15 Seluruh Cinta

Aku dan Abid menikmati suasana itu, hangat, hening tak bersuara, aku melingkarkan tangan di badan Abid semakin erat dan kuremas baju kemeja putih Abid. Ciuman terindah yang membuat jantungku semakin berdetak kencang, aku juga merasakan detak jantung Abid pun sama. Kami menyudahi.


Abid tersenyum menatapku, akupun membalas senyumannya, dia memberi isyarat dengan matanya. Pertanda menginginkan hal yang lebih. Aku lalu merespon dengan menggeleng kepala. Mata Abid lalu mendelik, aku tahu ia butuh penjelasan.


Aku dekatkan bibirku ke telinganya “Maaf Mas, aku lagi datang bulan,” bisikku.
Seketika tawa Abid meledak “huuustt ... jangan keras-keras takut kedengaran yang lain,” kataku memperingatkan Abid. Dengan cepat Abid membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.


“Ya sudah, Mas mandi dulu ya, kalo kamu capek, tidur saja dulu, Mas, masih mau sholat malem,” kata Abid.


“Iya Mas,” jawabku.

“Jadi, sudah tidak marah lagi sama Mas?” tanya Abid mulai menggoda.

“Eh ya masih lah, pokonya Mas harus jelaskan semuanya, kalo enggak ... “ belum aku lanjutkan Abidsudah memotongnya.

“Kalo enggak apa?” kata Abid sambil tersenyum dan terlihat dia menggoda.

“Iiihh ... pokonya janji adalah utang,” jawabku sambil memonyongkan bibir.

“Iya jangan marah dong, Mas bercanda,” kata Abid mendekatiku lalu mencium keningku.

“Sekarang, gak marah lagi kan?” tanya Abid sambil menatapku dengan penuh cinta. Aku menggeleng kapala.

“Mas, ambil dulu koper yang ada di ruang tengah, tadi lupa belum di bawa masuk,” kata Abid.

“Pindahan ya Mas, dari luar negeri ke kamarku?” celetukku.

“Eh mulai lagi ya, jangan cari gara-gara dong, kita kan udah suami istri, yang romantislah, kata-katanya harus penuh kasih sayang, jangan kayak waktu kita pacaran,” Kata Abid.

“Pacaran? Sapa juga yang pacaran sama Mas.” Sambil menjulurkan lidah.

“Eh ya kita kan belum pernah pacaran ya, kita dulu sahabatan ya, Mas lupa,” kata Abid lagi sambil membuka pintu kamar, kemudian menuju ruang tengah.


Beberapa menit Abid sudah membawa koper masuk ke kemar.

“Lho kok belum tidur? Ini sudah jam satu lho,”kata Abid melihatku masih dengan posisi duduk.

“Mau nunggui Mas saja, kan aku yang baik,” jawabku dengan pedenya.

“Ya sudah Mas mandi dulu ya, awas jangan ngintip,” kata Abid.

“Yee siapa juga yang mau ngintip, pede amat sih,” jawabku dengan cemberut.
Abid hanya tersenyum. Diaa mulai membuka koper, mencari sesuatu.

“Aduh ... aku lupa bawa handuk,” kata Abid panik.

“Ada Apa Mas?” tanyaku ingin tahu.

“Aku enggak bawa handuk Dek, ketinggalan di rumah,” jawabnya.

Aku tersenyum melihat raut muka Abid, dan beranjak dari ranjang, mengambil handuk yang ada di lemari pakaianku.


“Ini pake aja,” kataku sambil menyodorkan handuk yang masih terlipat rapi.

“Aku harus pakai handuk ini,” ucapnya sambil menunjuk handuk yang aku sodorkan.

“Iya, kenapa memang? Ada yang salah? Kita kan udah suami istri, gak apa-apa kali kalo pake punyaku, dari pada gak ada.” Kataku heran.

“Bukan masalah itu, tapi, pink lho warnanya,” kata Abid seraya menutup mata dengan telapak tangannya.

“Halah, udah pake aja jangan bawel,” kataku sambil meneruh handuk di punggungnya.

Akhirnya Abid menuruti dan masuk kamar mandi. Aku menatapnya dengan senyuman.

***

Abid sudah selesai mandi, dia keluar dengan handuk pink yang melingkar menutupi auratnya. Aku tak perlu menceritakan bentuk lekuk tubuh Abid dan seluruhnya, yang jelas poster tubuh dan semua yang ada pada Abid adalah idaman semua wanita.

“Hay pinky boy,” sapaku menggodanya. Dia hanya menoleh sambil memajukan bibirnya.


Tidak tahu mengapa aku tak bisa sungkan dengan Abid, mungkin dulu sering saling mengejek alhasil seperti ini, walaupun sudah menikah. Jika mau suasana sungkan jadi terlihat kaku. Dalam fikiranku terlintas "Dosa tidak ya aku songong sama suami kan aku cuma bercanda".


“Dek berbalik, Mas mau ganti baju, malu kalau kamu lihatin terus,” kata Abid


“Iya iya, siapa juga yang mau ngliatin,” kataku sambil berbalik arah.

“aku hitung sampe sepuluh ya,” godaku

“Jangan! Pokoknya jangan! Kamu ngeselin deh,” kata Abid panik.


Beberapa menit Abid sudah berganti pakaian dengan baju koko hitam dan sarung polos senada. Dia terlihat tampan sekali apalagi kulitnya yang putih bersih, makin mempesona.


Dia mulai mengambil sajadah dan tasbih dari kopernya, membentangkan ke arah kiblat dan mulai sholat. Aku hanya memandanginya dengan penuh cinta.
Abid sudah selesai sholat dan berdoa. Dia kemudian melipat sajadahnya dan menoleh ka arahku.


“Lama nunggunya,” kata Abid dengan nada yang lembut. Aku menggelengkan kepala.


“Ayuk kita tidur,” ajak Abid.

“Aku matikan lampunya ya, kamu gak apa-apa kan?” katanya Abid.


Aku memberi isyarat dengan senyuman. Abid mematikan memencet saklar lampu. Kemudian berjalan kearah ranjang. Kami lalu tidur satu ranjang. Abid memelukku sampai kami pun terlelap tidur.


Quote:



Bersambung.

Home
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Enisutri
profile picture
falestari
kaskuser
Narasi malam pertama nya agak gimana gituh ya mbak,, coba mbak baca cerpen "diorama sepasang albana" bagus tuh mbak penulisnya nyeritain malam pertama nya..
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di