CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Selamat Datang di Thread Gue 
(私のスレッドへようこそ)




TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI DUA TRIT GUE SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT SELANJUTNYA INI, GUE DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK GUE DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DISINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR SERTA SEMAKIN TERLIHAT FIKSI (MENGHINDARI ANGGAPAN PENGALAMAN HIDUP GUE YANG MENURUT SEBAGIAN ORANG NGGAK MASUK AKAL. KALAU SUDAH TERASA NGGAK MASUK AKAL, LANGSUNG AJA ANGGAP BAGIAN TERSEBUT FIKSI DAN HASIL IMAJINASI GUE YA. WAJIB!).

Spoiler for Season 1 dan Season 2:


Last Season, on Muara Sebuah Pencarian - Season 2 :
Quote:



Kisah gue di Season 3 kali ini merupakan lanjutan tentang pencarian muara cinta gue, disertai dengan aneka ragam konflik yang cukup kompleks dan cukup menguras tenaga, hati dan pikiran. Gue mencari muara cinta gue dengan bekal pengalaman pahit yang harus gue terima dimasa lalu, bersama dengan checklist yang sudah gue buat untuk memudahkan gue menyeleksi siapa yang paling pantas mendampingi gue. Tentunya dengan diimbangi aktualisasi dalam diri gue sendiri.

Gaya menulis masih tetap akan sama kurang lebihnya seperti season 2, tetapi agak lebih bebas dan ceplas ceplos karena memang karakter Ija di season ini akan lebih seru, karena dia menjadi apa adanya sesuai dengan keinginan hatinya. 

Judul sedikit diubah dari dua Trit sebelumnya, mengingat algoritma Kaskus yang membacanya sebagai Trit Plagiat. hehehe.


So, tunggu update-update terbaru dari Trit ini, semoga Gansis bisa selalu terhibur dengan Trit lanjutan yang gue buat ini. 


Spoiler for INDEX SEASON 3:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 3:


Spoiler for Peraturan:




Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 46 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Bertemu dan Klarifikasi

Gue dan Emi janjian untuk ketemu di sebuah stasiun pada jam 10 pagi. Gue dan dia memutuskan untuk naik kereta, sendiri-sendiri. Tadinya gue mau jemput dia, tapi ternyata dia nolak. Biasanya kalau cewek kan ada cowok yang mau jemput pasti senang-senang aja kan. Nah ini malah nolak dengan alasan buang-buang waktu dan nggak praktis. Ini yang jadi salah satu perbedaan utama antara Emi dan cewek-cewek kebanyakan. Mikirnya logis, simpel dan nggak nyusahin. Haha.

Hari itu akhirnya tiba. Gue rada deg-degan juga mau ketemu dia. Padahal dia lebih muda dari gue, tapi entah kenapa gue kayak gugup gitu mau ketemu sama dia. Jujur aja, selama ini gue selalu pede ketemu sama cewek manapun, tapi entah kenapa, gue agak gugup mau ketemu Emi. Apa gue sadar kalau gue nggak lebih cerdas dari dia ya? atau ada yang lain? Nggak tau juga deh.

Buku bacaan selalu ada di tas ransel gue. apapun jenis bukunya. Gue sangat senang membaca. Mungkin kalau sekarang karena HP udah makin canggih bisa baca ebook atau berita langsung dari HP, tapi pada dasarnya gue tetap senang membaca sebuah buku. Makanya sampai detik ini pun gue memilih untuk membeli buku.

Gue juga bahkan mengoleksi buku series seperti Harry Potter yang berbahasa inggris lengkap, lalu buku-buku tentang teori-teori bisnis klasik dan kontemporer, buku-buku tentang sains dan ilmu pengetahuan sosial lainnya, dan utamanya adalah buku-buku tentang sejarah yang biasanya tebal-tebal. Gue bisa mendapatkannya dari toko buku resmi atau buku-buku bekas yang dijual di pusat ibukota sana.

Ya, gue adalah pecinta buku sejati. Jadi ya kemanapun gue pergi, minimal ada satu buku yang gue bawa diransel. Saat gue ketemu Emi, gue sedang membaca buku tentang 24 protokol zion(isme) yang akhirnya memunculkan berbagai teori konspirasi, juga teori cocoklogi. Hahaha. Oh iya, kalau jenis bukunya seperti ini, gue nggak akan segan untuk membuat coret-coretan didalam buku tersebut mengenai keterkaitan satu teori dengan teori lainnya, lalu membuat hipotesis sendiri.

Dasar terorinya nggak akan kuat, karen ini buat konsumsi gue sendiri sebenernya. Nah, gue belum tau nih, Emi bakalan suka juga nggak dengan bahan obrolan seperti ini. Gue belum berani ngobrolin lebih jauh untuk urusan yang masih “abu-abu” kayak gini ke orang lain, apalagi kalau orangnya logis macem Emi.

Lagi asik-asik gue mempersiapkan beberapa barang yang akan gue bawa di ransel, Emi chat gue.

“Kamu izin dulu sama semua yang perlu kamu mintain izin. Jangan bikin rusak mood di event hari ini cuma gara-gara kamu nanti ribut sama fans dan pacar kamu karena ketauan jalan sama aku ya.”

Lah gue bingung setengah mati nih. Kenapa dia tiba-tiba chat macem begini? Kayak gue abis ketauan selingkuh aja. haha. Jadi ya gue diemin aja udah. Kan toh gue juga nggak ngapa-ngapain, jadi ya ngapain ditanggepin juga.

--

Emi sudah diperjalanan, sementara gue udah sampai duluan di stasiun tempat kami janjian. Gue mau sedikit tes dia. Apakah dia mengenali gue atau nggak. Haha. Gue hari itu memakai setelan khas gue, kaos dan celana serba hitam, topi hitam, jam tangan juga hitam, tapi untungnya kacamata nggak hitam.

“Kamu udah turun kan? Jangan kemana-mana dulu ya. Kamu berdiri di sana dan liat sebrang kamu pas keretanya udah jalan nanti.”

Lalu gue melambaikan tangan kearahnya. Gue melihat Emi memakai kaos berwarna hitam dengan tambahan manset hitam, kerudung hitam, dan celananya, sepertinya legging, bergaris hitam dan putih. Anak ini terlihat kecil dari kejauhan. Dia hanya tersenyum kebingungan. Gue menyuruhnya untuk ketemu di bagian bawah stasiun sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi Jak Japan Matsuri.

Gue sangat gugup ketika itu. Jadinya untuk mengatasinya gue turun duluan dan mencari sebuah tempat duduk. Gue akhirnya membaca buku yang gue bawa. Selain gugup, gue juga ingin mempelajari Emi secara kasat mata terlebih dahulu. Jadi gue membaca, sambil mengamati. Entah dia menyadarinya atau nggak. Haha.

“Sebentar ya, aku selesain ini satu bab, nanggung. Hehehe.”

“Oke bang.” Katanya sambil tersenyum kecil.

Oke, gue sangat menyukai caranya berpakaian. Simpel. Nggak banyak dandan. Gue nggak terlalu suka cewek yang banyakan polesan make up di mukanya sebenernya. Haha. Jadi dia yang make upnya simpel, hanya bedakan, sedikit eye liner (khas anak jepangan kalau mau ke event), dan lip gloss serta semprotan wewangian anak SMA. Sebentar. Wangi anak SMA? Ini mah bukan parfum. Tapi cologne. Haha. Tapi gue nggak masalahin itu. Karena pas dicium juga kan kerasa wangi. Mungkin karena dia masih kuliah jadi belum sanggup beli parfum yang harganya lumayan.

Dia juga memakai cat kuku warna hitam di setiap kukunya. Ini yang gue suka. Dandanan simpel hitam-hitam kayak gini yang sangat gue idamkan dari seorang cewek. Siapapun itu. Dan dia memakai seperti ini. Haha. Pas udah. Mukanya Emi ini masih cocok banget kalau jadi anak SMA. Alisnya juga tebal banget, beda dengan gue yang alisnya tipis. Pipinya juga agak tembam, walaupun badannya kecil. Pokoknya kalau ketemu anak ini pasti bawaannya mau nyubitin karena gemash. hahaha.


Mulustrasi Emi saat itu, 94,73% mirip cewek ini


“Oke, aku udah beres. Yuk kita jalan. Mau pesan taksi, ojek, apa jalan kaki?” tanya gue.

“Ah elah, lebay amat bang. Jalan kaki aja, deket kan. Haha. Kan biasanya dikampus juga jalan kaki.” Katanya.

Yak, satu lagi nilai plusnya muncul. Mau diajak susah ini kayaknya anaknya. Haha. Ditawarin beragam moda, malah milih jalan kaki. Gue juga tau sebenernya emang dekat dan bisa jalan, tapi gue tes aja dulu. Dan jawabannya diluar dugaan.

“Biasa jalan kaki karena miskin atau emang hobi jalan kaki?” lanjut gue.

“Bangs*t amat bang! Haha. Enak aja. gini-gini gue aktivis pecinta lingkungan dan penjaga hati yang terluka bang. Jadi walaupun banyak duit, gue bakalan suka jalan kaki. Hahaha.” Katanya, lalu berhenti didepan gue.

Gue melihat ternyata dia pendek. Hahaha. Tinggi gue 178 cm, sementara dia kayaknya 160 cm aja nggak nyampe, sekitar 155 cm mungkin ya gue tebak-tebak waktu itu.

“Khatam amat mulut kalo ngomong kasar? Haha.” Kata gue, lalu berdiri kesamping dia.

“Udah mendarah daging bang.” Katanya, “Sori bang, Gue ga bisa dijaim-jaim-in di depan lo. Gue orangnya begini. Nggak bisa dipaksain make aku-kamu kalo nyamannya gue-lo. Gue nggak bisa nggak ngomong kasar kalo nyamannya sama lo begitu. Gue bisa kok menempatkan diri gue, tapi ya pasti bakalan canggung banget bang.” Lanjut dia panjang lebar.

Ini dia! Ini dia yang sangat gue sukai. Dia jujur, apa adanya. Nggak dibikin-bikin supaya terlihat bagus dan baik dihadapan orang lain. Gue sangat menyukai orang yang jujur dan apa adanya seperti ini, nggak sok jaim. Gue mengingat sosok Keket sekilas ketika Emi menyatakan hal seperti ini.

Keket adalah orang yang apa adanya, bedanya dia nggak ngomong kasar. Kalau Emi, dia ngomong pakai kata-kata kasar, tapi gue suka dengan dia yang seperti itu. Ngomong anj*ng mah anj*ng aja, bangs*t ya bangs*t aja, gue kan juga ngomongnya begitu, jadi ya gue sebenarnya nggak ada hak untuk ngelarang siapapun ngomong kasar, termasuk Emi.

“Jadi diri sendiri aja, Mi. yang penting lo nyaman ok?” kata gue sambil mengulas senyum tipis ke dia.

“Lo ada lesung pipi?” tanya dia.

“Manis ya? Suka ya? Ew* yuk? Gue langsung triggered.

“Bangs*t! ngomongin lesung pipi malah langsung ngajak ngew*.”

Gue dan dia tertawa berbarengan. Gue menemukan kenyamanan ada disamping dia, dan akhirnya gue memutuskan untuk merangkul dia, karena kebetulan dia pendek jadi gampang dirangkul. Dia juga oke-oke aja kok. Hehe.

Kami berjalan sekitar 10 menitan. Diperjalanan menuju lokasi acara pun kami banyak ngobrol, terutama perkembangan komunitas jepangan yang udah nggak kami tau lagi sejak lama. Gue apalagi, gue udah nggak aktif lebih dari dua tahun. Pun demikian, lagu-lagu jepang koleksi gue pun nggak bertambah.

Gue malah lebih banyak mengoleksi lagu-lagu metal. Beda dengan Emi, yang masih mengikuti perkembangan musik, terutama band kesukaannya, the GazettE.

Sesampainya disana, ternyata antrian untuk masuknya juga udah lumayan panjang. Tapi yauda dinikmatin aja. gue sempat menemukan fakta lainnya. Ketika gue akan bayar, ternyata dia nggak mau dibayarin. Wah ini dia nih. Beda nih anak sama cewek-cewek kebanyakan. Biasanya kan oke-oke aja kalau cowok mau bayarin. Tapi ini dia nggak begitu mikirnya. Ketika bisa untuk bayar sendiri-sendiri kenapa harus dibayar-bayarin? Sungguh ini pemikiran yang langka banget. gue nggak sadar jadi menatap dia agak lama dan diam aja.

“Nggak usah sok senyum-senyum gitu bang. Gue nggak bakalan demen sama lo. hahaha.” Katanya tiba-tiba mengagetkan gue.

“Dih, apaan. Siapa yang bilang lo bakalan demen sama gue?” kata gue, sambil mengejar dia yang mulai berjalan kedalam lokasi.

“Udah jujur aja, lo ngomong apa ke Debby tentang pergi hari ini? Debby emang ngizinin lo?” katanya datar.

Gue bingung, kenapa Debby dibawa-bawa. Gue sangat nggak ngerti. Lalu gue menarik tangan dia buat ngomongin yang jelas dulu.

“Apaan Debby? Lo kenapa sih?” tanya gue bingung.

“Lah, kenapa apaan?” katanya nggak kalah bingung.

“Debby ngomong apaan sama lo?”

“Debby mendadak tadi pagi bilang ikhlas sama gue kalo hari ini gue pergi sama lo. Gue nggak mau jadi orang ketiga diantara lo sama dia. Gue nggak mau juga jadi ribut sama Uun dan Ria cuman gara-gara jalan sama lo. Gue nggak berharap banyak sama hubungan lo dan gue. Gue pingin hubungan kita itu kayak gue dan Bang Benu atau kayak gue dan Bang Teguh.” Katanya.

Sebentar. Gue sangat bingung dengan pernyataan ini. Bangs*t banget ini si Debby kalau ternyata dia mengaku-ngaku ada hubungan yang spesial dengan gue. Lalu ternyata dia kenal sama Teguh dan Benu? Teman-teman dekat gue dulu jaman dikampus? Wah ini menarik banget sekaligus sukses membuat gue makin bingung. Apalagi ada Uun dan Ria yang dulu gue pernah ajak ketemu dan makan ternyata ribut? Apa-apaan ini? Dititik ini gue juga menjadi agak emosi.

“Sebentar. Apaan? Orang ketiga sama Debby? Uun sama Ria ribut? Benu sama Teguh? Wait! Kita duduk dulu dimana deh, gue butuh lo ceritain SEMUA yang terjadi di kampus. SEMUANYA! Jangan sampe ada yang ketinggalan!” kata gue, sambil menunjuk satu tempat di rerumputan taman.

“Gue butuh makanan. Beliin gue ramen, baru gue cerita.”

“Dih, si anak setan amat. Haha. Tadi bilang katanya nggak mau ditraktir, sekarang minta ramen biar bisa cerita. Ngehe bener lo jadi orang sumpah!” kata gue sambil berjalan menuju antrian stand ramen terdekat.

Nggak lama kemudian gue kembali dengan sebotol ocha dan semangkuk ramen. Karena gue lapar juga, jadi gue makan juga, eh ternyata kebablasan dikit. Haha. Si Emi jadi kebagian dikit. Dia lalu memakannya dengan raut muka cemberut. Lucu banget ini. Haha.

“Udah kenyang?” kata gue.

“Kenyang bapak lo!” sergah dia.

Gue kaget. Kali ini gue agak kurang nyaman dia berkata kayak gitu. Tapi yaudah itu hanya sekilas aja. kan dia nggak tau juga kalau bapak gue udah nggak ada.

“Bapak gue udah meninggal Mi. Udah kenyang dia sama hidup ini.”

“Aduh bang, maafin gue.” Emi terlihat jadi nggak enak sama gue.

“Hahaha. Santai aja kali. Gue udah ikhlas kok bokap udah nggak ada. Lagian lo juga kan nggak tau kalo bokap udah meninggal. Udah ya jangan bahas bokap.” Kata gue menenangkannya.

“Ceritain semuanya Mi, apa yang lo tau.” Lanjut gue.

“Masalah Debby. Jawab dulu. Lo udah jadian sama Debby sejak kapan? Lo jadi orang keempat di hubungan Debby!” katanya lugas.

“HAH? APAAN? INI KITA NGOMONGIN DEBBY YANG SAMA BUKAN? SI DEBORAH HARTONO KAN?” nada gue meninggi.

“Iya Debby yang itu. Kenapa emang?”

“Mana ada gue jadian sama dia. Debby add facebook gue abis gue dateng ke Upgrading. Dia mendadak chat gue dan minta nomor handphone gue. Secara nih ya, gue orangnya RAMAH DAN TIDAK SOMBONG, gue kasih nih nomor handphone gue. Kalo mau ngomong kasar sekarang, gue tunggu.”

“BANGS*T, SOK GANTENG!” jerit dia.

“Nah, oke. Gue lanjut ya. Terus dia nelpon gue mendadak buat curhat tentang cinta segitiga antara dia, Herman, sama Irfan. Ya gue dengerin semua cerita dia dan kasih nasehat yang dia butuhin. Udah aja. Gue nggak ngehubungin dia lagi sampe kemaren gue ngehubungin dia. Cuman nanya-nanya gitu doangan kok.” Gue menjelaskan.

“BOONG! Lo ngajak dia jalan dan ngasih lagu buat dia karena lo cemburu!” tuduh Emi.

“Gue nggak ada ngajak Debby jalan. Gue bilang ‘nanti kalo gue ke Kampus, kita lanjutin aja ceritanya SAMBIL MAKAN’ nggak ada gue bilang ‘Eh Deb, jalan yuk?’. Gue nggak tertarik sama dia dan naj*s juga gue harus rebutan cewek model begitu.” Kata gue.

“Terus kenapa ngasih dia lagu segala?” dia bertanya lagi.

“Lagu apaan sih?” gue makin bingung.

“Itu, lagunya Dir en Grey yang Jealous Reverse di soundcloud lo.”

Lagu jealous reverse? Buat Debby? Sejak kapan gue ngasih tu lagu buat dia. Lagu itu bahkan udah gue rekam di studio punya Sion bersama Drian beberapa tahun lalu. Cuma emang baru gue upload ke soundcloud karena emang waktu itu gue baru bikin akun dan masukin lagunya baru itu doang, belum ada rekaman-rekaman lagi.

“AH JEALOUS REVERSE??? Ih itu mah gue udah upload dari kapan tau nj*ng! Dia minta soundcloud gue karena gue bilang gue suka nyanyi. Yaudah gue kasih link soundcloud gue. Kebetulan soundcloud gue isinya baru lagu itu doang, itu juga karena gue suka lagunya. BUKAN CEMBURU SAMA DIA. Bangs*t amat. HAHAHA.” Gue mengklarifikasi.

“HAHAHA. Jadi si Debby itu ke-geer-an apa gimana? Tapi ini lo sumpah ya kalo beneran nggak boong?” kata Emi mencari pencerahan.

“SUMPAH DEMI ALLAH DAH GUE, MI! BUSET! Kalo boong, lu bisa cipok gue sepuasnya dah sampe bibir gue jontor!” kata gue.

“Idih najis.”

“Terus kenapa urusan Uun sama Ria? Mereka ribut kenapa?”

“Lo pernah makan bareng mereka kan?”

“Iya, sekali kalinya itu juga. Nggak pernah lagi.”

“Nah abis lo makan bareng mereka, malemnya mereka ribut. Sampe sekarang mereka nggak deket lagi cuma gara-gara lo. LO APAIN ANAK ORANG, JA? BUSEEET! HAHAHA.” Kata Emi bersemangat.

“Buset! Gue cuman ngajak mereka makan bareng ya sama kayak gue ajak Debby gitu. Gue bilang kalo ke Kampus kita lanjutin aja ceritanya SAMBIL MAKAN. Terus pas makan juga nggak ada tuh bahasan lain selain gue ngedongeng urusan Kampus jaman dulu. Mana tau gue mereka ribut karena apaan. Haduh, suseh.” Kata gue.

“SUMPAH DEMI ALLAH, EMI!” gue melanjutkan, karena Emi terlihat nggak percaya omongan gue.

“Jadi mereka semua ke-geer-an gitu maksud lo?”

“Ya entah. Gue nggak pernah ngajak siapapun, SIAPAPUN JALAN DI KAMPUS SEKARANG.”

“Even anak 2011?”

“Anak 2011? Nindy sama Dewi maksud lu?”

“Oh anak satu lagi tuh si Dewi. Oke-oke I see.”

“Gue cuman temen chat-an sama mereka. Nggak lebih, Mi. Kalo urusan mereka nyangkut sama gue mah gue nggak tanggungjawab lah. Itu urusan hati. Gue berarti emang ganteng.”

“NJ*NG.”

“Semoga nyokap lo orangnya sabar ya punya anak mulutnya sesampah lo. Hahaha.” Gue meledek sambil mengusap kepalanya yang ditutup kerudung.

“BANGKEK!” ucap dia. Gue tertawa melihat gimmick Emi. Natural banget ini anak.

“Baru aja gue bilang. Hahaha. Beneran ya anak jaman sekarang, deket dikit langsung ngerasa memiliki gitu. Satu-satunya cewe di Kampus sekarang yang beneran gue niatin buat diajak jalan ya cuma lo, Mi. Tapi lo nggak ada geer-geernya begini. Gue berasa ketemu temen lama tau ga?”

“Ya bagus dong? Lo berarti nggak bisa bikin gue geer kayak mereka. Hahaha.”

“Iya, gue mesti usaha banget bikin lo geer kalo gitu. Lo kenal Benu sama Teguh gimana ceritanya? Gue pengen tau detailnya, di chat kurang lengkap.”

“Bang Benu kan laboran di Kampus. Gue deket sama dia sejak gue jadi Asisten Dosen Praktikum di Laboratorium dia. Kalo sama Bang Teguh, gue deket sejak dia ngedampingin penelitian gue.”

Dunia benar-benar sempit ternyata. Gue heran, dari sekian banyak alumni atau teman gue yang lain, kenapa yang dikenal dekat oleh Emi adalah dua orang yang juga gue kenal baik ini?

“Mi, lo itu stalking idup gue apa gimana?”

“Apaan sih su?”

“Benu itu sohib gue dari jaman dulu banget. Gue manggil dia kiting. Makanya kemarin gue pingin ketemu sama Bang Benu pas gue ke kampus, tapi nggak kesampaian. Terus sekarang lo bilang kalo lo bro sama dia? Gokil buset. Terus Teguh? Teguh itu sohibnya cewek gue, dulu.”

Mendadak memori gue dan Dee kembali terlintas dibenak gue.

“Cewek lo?” tanya Emi.

Belum sempat gue menjawab, dari panggung mini yang ada disekitar tempat kami duduk, ada band lokal yang membawakan lagu One Ok Rock yang Wherever You Are. Pas banget gini ya, dari awal Emi menyebut nama Teguh gue ingat Dee, eh sekarang malah ada lagu ini pula dibawain. Pas banget. haha. Gimana kabar Dee sekarang ya?

“Kenapa bang?” Emi membuyarkan lamunan gue.

“Ini lagu yang gue kasih buat dia pas kami LDR-an.” Kata gue.

Lebih tepatnya, ini lagu yang dia kasih ke gue ketika kami mengakhiri kisah kami, dan untuk mengingat bahwa kami bubar bukan karena udah nggak cinta lagi.

“Lo sayang banget ya sama dia, Bang?”

“Kalo ada kata yang melebihi kata ‘sayang’ dan ‘cinta’ gue bakalan pakai itu buat gue kasih ke dia.”

“Terus dia dimana sekarang?”

“Jauh, di Pulau Sumatra. Dia memilih mimpi dan ego dia daripada gue. Dia pergi ketika gue mau ngajakin dia nikah. Padahal gue udah serius banget sama dia. Bahkan gue udah nyari-nyari cincin buat ngelamar dia. Tapi dia nggak mau tinggal di sini. Gue nggak bisa LDR-an begitu.”

“Bang Ija, Yuk ah kita jalan-jalan lagi.” Kata Emi, mengalihkan perhatian gue.

“Yaudah ayo.”


profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 27 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
profile picture
adityasatriaji
kaskus addict
Njir gw baca part yg ini berasa baca cerita si emi disebelah😄😄😄😄



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di