CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 49 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Kebingungan Melanda

“Pasti gue akan datang dong. Hehe. pokoknya lo siapin semuanya dengan baik ya.” kata gue.

“Iya, Ja. kaget kan lo pasti? Hehehe.” Kata Feni.

“Haha iya, gue kaget banget Fen. Lo nggak tau-tauan punya cowok, tau-tau mau kewong aja. Haha. Bukan naro deposito duluan kan? Hahaha.”

“Enak aja lo. ini mah pure kali. Haha. Dia berani banget orangnya. Jadi yaudah gue melihat keseriusan dia. Lagipula umur gue kan udah cukup banget buat naik pelaminan Ja. haha.”

“Yaudah sip lah, yang penting lancar-lancar ya Fen.”

“Hehe iya Ja. gue tunggu ya pokoknya. Lo harus dateng sama cewek lo ya. Nggak mau tau gue.”

“Cewek gue sekarang penempatan di daerah asalnya, Fen.”

“Hah? Lo LDR sekarang? Waduh kering dong. Hahaha.”

“Haha, kering lah. Tapi nggak apa-apa lah gue. Asyik-asyik aja kok.”

“Yaudah yang sabar aja Ja, ok?”

“Haha iya santai aja Fen.”

Gue cukup kaget dengan kabar Feni yang mau menikah ini. Nggak tau-tauan pacaran, eh tau-tau malah mau nikah. Tapi nggak apa-apa, kalau ketuaan nikah kan juga nggak bagus buat cewek. Lebih kepada kesehatan fisiknya sih, bukan masalah apa-apa.

Hari-hari berikutnya ada undangan untuk main futsal antar angkatan di jurusan gue. mengundang beberapa alumni angkatan juga. Jadi lumayan rame sih ini harusnya. Yang ngadain acara kala itu adalah angkatan 6 tahun dibawah gue. Kebetulan yang datang juga lumayan banyak alumninya. Angkatan gue yang datang cukup untuk membentuk satu tim, sehingga angkatan gue ada satu tim sendiri.

Sebelumnya, Dewi dan Uun sudah mengabari gue perihal acara ini. Gue yang udah tau acara ini dari grup chat angkatan gue ya iya-iya aja atas informasi yang mereka berikan. Udah biar senang aja mereka ya kan. Yang jelas mereka ini gue yakin udah mulai suka sama gue. hehe. Dewi dengan Uun ini seperti sedang melakukan persaingan terbuka. Tapi gue nggak tau apakah mereka saling tau kalau mereka sedang mengejar satu orang yang sama.

Hari H main futsal tersebut sudah datang. Gue datang dengan mengendarai motor. Jarak yang lumayan jauh dari rumah orangtua gue ke kampus menyebabkan fisik gue cukup lelah. Gue tiba di tempat yang akan digunakan sebagai arena pertandingan antar angkatan di jurusan gue ini.

Disana udah ada cukup banyak penonton yang gue nggak hafal dari angkatan berapa aja. Tapi gue melihat ada Uun dan Dewi diantara para penonton yang hadir. Jadi gue asumsikan angkatan mereka masing-masing banyak yang hadir.

Gue bertemu dengan beberapa kawan gue yang datang. Wah berasa reuni dadakan ini. Bintang kelas gue yaitu si Krisna juga hadir. Gue sih nggak ada masalah dengan dia sebenarnya. Tapi mengingat kejadian yang lalu dengan cewek gue, ada sedikit rasa kesal. Cuma ya biarin aja lah. Gue nggak mau ingat-ingat lagi, daripada nanti malah jadi ribut.

Gue melihat Uun dari kejauhan. Ternyata, sangat diluar dugaan. Dia memakai pakaian dari atas sampai bawah berwarna ungu. Kerudung sampai celana panjangnya itu ungu. Sumpah ini norak banget. Gue sangat sadar ketika gue memasuki arena pertandingan sebelum mulainya acara futsal ini, nama gue dipanggil-panggil beberapa kali dan ada beberapa kali gue dengar Uun ini di "cie-ciein" sama teman-temannya. Tapi gue memilih untuk diam aja dan nggak noleh sama sekali. Gila dia yang pakai baju kayak gitu tapi gue yang malu. Hahaha.

Mau dikata sombong juga bodo amat. Yang jelas gue malu aja punya kenalan cewek yang norak kayak gitu. Udah mana agresif banget lagi. Haha. Kalau Dewi sempat nyamperin gue ketika gue berkumpul dengan teman-teman angkatan gue ketika jeda pertandingan. Anak ini juga ternyata sama agresifnya. Padahal, gue ke mereka itu nggak ada gimana-gimana atau berusaha pedekate sama mereka. Semua chat normal dan membosankan, walaupun gue tau mereka akhirnya suka sama gue. hehe.

Yang membuat gue aneh adalah, kok bisa ya dengan tidak menawarkan kenyamanan seperti yang biasa gue lakukan dengan cewek-cewek terdahulu, karena emang gue mau asyik-asyikan sama mereka, dua orang ini bisa suka sama gue. Pertanyaan yang sampai detik ini nggak bisa gue temukan jawabannya.

Pertandingan dilaksanakan dengan lancar. Seperti biasa, Krisna selalu bermain all out. Tapi seperti biasa juga, karena merasa paling jago, dan nggak ada aturan dan manajemen pertandingan, dia jadi suka-sukanya. Main sendirian aja, nggak mau bagi-bagi atau oper-operan sama yang lain. Sebuah kebiasaan yang akhirnya selalu merugikan tim kelas gue ketika bertanding. Nggak cuma tim kelas gue doang, tapi tim jurusan gue ketika bertanding antar jurusan di Fakultas. Tapi kalau nggak ada dia, sayang juga, karena emang dia yang paling jago. Haha.

Seperti biasa pula, setelah pertandingan, banyak sekali adik kelas cewek yang kepincut dengan aksi-aksinya. Tentunya bukan aksinya sebenarnya, tapi lebih ke penampilan fisiknya yang emang kece banget. apalagi sekarang ini Krisna udah mulai bisa dandan. Bisa dandan dalam artian, udah mulai keren cara berpakaiannya. Beda ketika jaman kuliah dulu yang penampilannya kayak anak dari luar kota kebanyakan. Biasa-biasa aja. Tapi kalau sekarang? Wah tampilannya selalu matching. Mungkin karena faktor lingkungan pekerjaan dan juga kekuatan finansial yang udah mulai oke. Makin jatuh cinta lah cewek-cewek sama dia.

“Kak, ini aku bawain minum buat kakak.” Kata Dewi.

“Haha makasih ya Dew.” Kata gue canggung.

“Nanti abis pulang kita ketemu dulu boleh nggak? Aku mau ngobrol-ngobrol aja sama kakak.”

“Hmm. Bisa aja sih kalau nggak kemaleman.”

“Oke deh. Sampai nanti ya kak.” Katanya sumringah.

Gila gue kaget tiba-tiba dia nyamperin gue diantara para seniornya yang lain yang angkatannya beda tujuh tahun. Gue aja dulu sama senior yang cuma beda tiga tahun aja ada sungkannya. Lah ini nyamperin ke sekelompok senior beda angkatan yang cukup jauh nggak ada ragunya sama sekali. Haha. Gokil dah.

“Bah, udah ada aja yang nyangkut sama si Ija.” Ujar Adi F.

“Hahaha, nggak heran ye, dari dulu lancar aja kalau urusan cewek mah.” Tanto menyahut.

“Yah, namanya juga usaha.” Ujar gue.

“Tapi tetep aja kalah sama Krisna noh.” Kata Tanto menunjuk ke Krisna yang lagi ngobrol dengan beberapa orang adik kelas cewek.

“Kalau dia mah nggak usah ditanyain lagi, emang bangs*t tu anak pesonanya. Hahaha. Udah mana ganteng, pinter, jago olahraga pula kan. Hampir nggak ada kurangnya tu bocah.” Kata gue.

“Eeeh, ada kurangnya cuy. Biasanya orang yang secara fisik oke dan talenta otak mumpuni, pel*rnya kecil. Hahahaha.” Celetuk Adi F.

“Bengkok lagi kan. Hahahaha.” Kata gue.

Semua teman gue yang duduk disekitar kami otomatis ngakak nggak karuan. Krisna yang merasa sedang diomongin langsung menoleh ke arah kami dan tersenyum. Dia seperti udah biasa diomongin gitu. Haha.

Setelah acara ini, gue memenuhi ajakan Dewi untuk ngobrol-ngobrol dengannya di sebuah rumah makan. Uun yang melihat gue dan Dewi keluar bersamaan dari arena tersebut terlihat kecewa berat. Gue sih bodo amat juga. Kan bukan siapa-siapa gue juga. Gue dan Dewi ngobrol-ngobrol ringan dan basi menurut gue.

Tapi menurut Dewi, dia sangat senang ngobrol dengan gue karena menurutnya, pengetahuan gue cukup luas. Dia mau nanya apa aja rata-rata bisa gue jawab. Walaupun nggak detail jawabanya, tapi dia merasa udah cukup puas. Ini gue curiga dia mah senang-senang aja dengan aneka jawaban gue, karena dia sebenarnya udah cukup senang bertemu dan ngobrol langsung dengan gue.

--

Hari H pernikahan Feni tiba. Gue memilih untuk datang bareng dengan Anin. Gue memberi kabar sebelumnya. Dia menyanggupinya. Jadilah dia yang jadi pasangan sementara gue dinikahan Feni. Hehe.

“Ja, gue juga mau nikah.” Kata Anin.

“Oh iya Nin? Haha. Selamat dulu lah kalau gitu. Kapan tuh?” Kata gue.

“Rencana taun depan sih. Tapi nggak tau juga nih. Itu kan baru rencana. Soalnya gue ada rencana juga mau ambil S2 di Amerika.”

“Hmm. Kalau kata gue sih mending nikah dulu aja, baru lo sekolah lagi Nin.”

“Gue juga berpikir kayak gitu sih Ja. Soalnya cowok gue kan juga terbang. Jadinya amannya nikah. Jadi walaupun gue harus LDR-an jadi nggak masalah karena udah ada ikatan.”

“Nah iya gitu maksud gue Nin.”

“Iya Ja. Tapi permasalahannya ya gitu, gue nggak benar-benar yakin 100% sama cowok gue Ja.”

“Hah? Kok nggak yakin sih? Emang kurang apa lagi?”

“Nggak kurang gimana-gimana sih. Tapi kadang gue ragu kalau sama pilot itu. Takut kegoda sama Pramugari. Hahaha.”

“Hahaha. Nggak usah mikir kayak gitu kali Nin. Ketika lo bisa ngasih yang terbaik buat laki lo, kenapa lo harus nggak pede melawan semua pramugari itu? Kan toh secara hukum lo yang jadi pemenangnya.”

“Tapi namanya meleng kan nggak mandang hukum Ja.”

“Haha iya sih Nin, tapi udahlah nggak usah berpikir gimana-gimana. Santai aja, kalau lo emang jodoh, mau kayak gimanapun galau dan ragunya lo, pasti nanti akan ketemu dan bersatu dengan dia Nin.”

“Iya Ja. Lo bijak amat tumben. Hahaha.”

“Sok bijak kali-kali bolehlah Nin.”

“Haha, iya sih.”

“Eh ini kita udah nyampe, cepet juga ya. gue pikir jauh ini tempatnya.”

“Haha kita ngobrolnya selalu asyik sih Ja. makanya jadi nggak kerasa. Nah, salah satu keraguan gue itu adalah kayak gini. Gue nggak pernah bener-bener asyik kalau ngobrol atau komunikasi sama cowok gue Ja. kayak kurang ngalir aja gitu. Nggak kayak gue kalau ngobrol sama lo. asyik banget pokoknya.”

“Ya jangan dibanding-bandingin Nin. Kan tiap orang pembawaannya beda-beda. Jadi kalau misalnya gue bikin lo nyaman, bukan berarti laki lo nggak bisa buat nyaman, ada cara yang beda-beda yang nunjukin kalau si laki lo juga bisa bikin lo nyaman. Dan itu juga kan sebabnya akhirnya lo nerima dia sebagai cowok lo. ya kan?”

“Iya sih Ja. semua emang punya gayanya sendiri-sendiri. Hahaha.”

“Nah yaudah, sekarang saatnya lo kasih hati dan pikiran lo, full buat dia. Nggak usah mikirin gue lagi. Haha. Anggap aja gue udah jadi masa lalu lo Nin.”

“Tapi nggak segampang itu Ja. Gue dulu udah sukses bikin lo setengah mati benci sama gue. tapi akhirnya lo bisa maafin gue dan bahkan sekarang hubungan kita seasyik ini. Itu berharga banget buat gue. lo juga yang udah banyak andil bikin gue jadi kayak sekarang. Udah berubah dari Anin yang dulu, jadi Anin yang sekarang ini.”

“Ya itu kan perjalanan hidup lo. Emang harus ada lika liku kayak gini. Gue aja dulu sempat ragu mau berteman lagi sama lo. Tapi gue cuma mikir, nggak ada orang sejahat itu terus menerus. Dan lo udah buktiin kalau orang itu bisa berubah kok.”

“Iya Ja.”

Lalu Anin tiba-tiba memeluk gue yang udah memarkirkan mobil sport mewah milik Anin di parkiran. Gue hanya diam dan tersenyum aja.

“Udah meluknya? Hehehe.”

“Masih mau terus sih sebenarnya. Hehehe.”

“Ntar kita nggak kebagian makanan.”

“Haha itu dia. Yuk ah turun.”

Resepsi Feni kala itu mengambil tempat di salah satu gedung dibilangan selatan ibukota. Resepsinya meriah banget dengan tema serba cokelat muda. Feni juga bikin pangling ketika itu. Kenapa? Karena di memutuskan untuk mengenakan kerudung. Itu membuat dia makin terlihat manis disamping emang make upnya yang bagus banget. Gue dan Anin naik keatas panggung dan menyalami Feni. Feni senang banget gue bisa datang.

Seminggu setelahnya, sahabat gue Arko, yang juga menjadi drumer gue di band, menikah juga. Kali ini gue datang dengan adik gue dan juga Mama. Keluarga gue udah saling mengenal dengan semua personil band gue. karena band gue ini udah benar-benar kayak keluarga. Walaupun saat itu kami sedang vakum dan nggak ada kegiatan band sama sekali, tapi kami tetap keep in touch dan sesekali kumpul, makan-makan sambil ngobrol-ngobrol segala macam isu yang ada.

“Jangan lupa nyusul. Udah nggak usah ganti-ganti lagi. Gue aja capek ngeliat lo cewek yang digandengnya lain-lain terus. Haha.” Kata Arko sesaat setelah resepsinya berakhir.

“Haha maunya gitu bro, tapi gimana, belum ada yang benar-benar pas. Lo ngerasa nggak sih, kalau cewek gue si Dee itu kayaknya nggak pernah benar-benar mau berteman baik dengan anak-anak diband?”

“Hehe, iya emang. Gue juga ngerasa gitu. Gue juga nggak mengenal dia dengan baik, jadi gue nggak mau nyimpulin atau menilai dia lebih jauh. Lo yang paling tau keadaan cewek lo Ja.”

“Gue ngerasa semenjak LDR ini hubungan gue jadi sangat hambar, Ko. Apalagi dia selalu nuntut minimal dalam sehari itu ada telpon atau video call. tapi setiap gue telpon atau video call dan dia minta gue cerita apapun, pasti ditengah-tengah selalu dipotong sama dia, dan dia ganti cerita tentang keluhannya di pekerjaan. Lah kan gue jadi bingung, dia yang minta gue cerita-cerita, tapi pas gue cerita dan belum selesai, udah dipotong duluan dan dia gantiin sama cerita dia yang intinya sebenarnya itu-itu aja. Hahaha.”

“Hmmm. Aneh juga yak. Tapi lo udah pernah ngomongin ini?”

“Udah Ko, gue udah bilang, kalau gue lagi cerita jangan dipotong dulu, biar gue tetep semangat nyeritainnya, dan nggak lupa lagi apa lanjutan cerita yang mau diceritain. Gitu sih.”

“Terus reaksi dia gimana?”

“Dia selalu minta maaf, tapi kejadiannya tetep terus berulang kayak gitu. Sekarang jadinya gue agak males Ko untuk telponan sama dia. Jadi basi banget Ko hubungan gue. udah mana yang diceritain atau ditanyain juga itu-itu aja. Gue seperti kehabisan bahasan dengan dia. Itu sebabnya gue jadinya mulai buka hubungan komunikasi dengan orang lain. Gue nyari yang benar-benar fit in ke gue Ko. Dan itu susah banget.”

“Dulu kenapa nggak jadian sama Ara aja sih lo? dia kan sayang banget sama lo dari jaman kita SMA. Haha.”

“Haha. Iya sih gue juga kepikiran kayak gitu. Tapi nggak deh, gue udah anggap dia sebagai sahabat gue. sahabat kita. Apalagi sekarang Ara juga udah punya cowok.”

“Wah beneran? Alhamdulillah akhirnya si Ara move on dari lo ya. hahaha.”

“Iya makanya. Gue juga senang liatnya dia sekarang udah ada cowok.”

“Yaudah sekarang mendingan lo selesaiin dulu urusan sama Dee, kalau lo mau seriusin, tempel terus. Tapi kalau nggak, yaudah nggak usah dipaksain. Pasti nanti nemu kok.”

“Haha iya bro. Tenang aja. Gue juga nanti pasti nyusul kayak gini (nikah) kok.”

Satu persatu akhirnya teman-teman gue menikah. Hebat sekali ya memutuskan untuk menikah itu. Gue emang juga ada keinginan seperti ini. Tapi gue sendiri jadi ragu, apa iya Dee adalah tujuan akhir gue? terlebih dengan keadaan hubungan gue yang semakin hambar ini. Dee dan gue saling menyayangi, tapi entah kenapa kok makin kesini seperti habis bahasan kami.

Apa perlu diomongin dulu ya? Ah gue bingung banget ini. Mana si Dewi dan Uun ini juga makin agresif aja lagi nih. Makin berani mereka. Nggak jarang juga mereka me-mention akun sosmed gue di sosmed mereka. Tapi tetap aja nggak ada satupun yang gue tanggapi.

Risihnya adalah, mereka mengklaim sudah sangat dekat dengan gue. seolah gue ini adalah pacar mereka. Padahal mah, yaelah, orbolan basi gitu mana bisa nyangkut sama gue. haha. Tipikal cewek-cewek yang nggak bisa melihat kekurangan cowok kayak gini mah nggak akan pernah gue pilih. Mereka selalu menganggap gue selalu bisa apa aja, sehingga terlihat sudah paling sempurna aja. Gue sendiri agak terganggu dengan keadaan ini. Gue senang dipuji atau diapresiasi. Tapi kalau berlebihan sampai nggak bisa menemukan atau menyebut kekurangan gue, itu adalah nilai minus mereka di mata gue.

Jelang akhir tahun, aktivitas gue di sosial media juga makin aktif. Yang berkurang adalah intensitas waktu telpon atau video call gue dengan Dee. Dari yang awalnya bisa berjam-jam, jadi hanya cukup setengah jam bahkan hanya sekitar 10-15 menitan aja. Gilanya, gue masih aja bimbang dengan keadaan ini. Keadaan dimana gue harus bisa memutuskan harus lanjut atau tidak dengan Dee.

Logikanya, ketika hubungan ini semakin dingin, harusnya ada wacana kelanjutan hubungannya gimana, tapi ini nggak. Gue terlalu takut dan sayang untuk mengakhiri hubungan ini. Udah terlalu lama kami menjalin hubungan. Dan seperti yang udah-udah, gue takut untuk memulai dari awal lagi.

Friend Request masuk lagi di Facebook gue.

Nindy Novianty.

Siapa lagi ini?

profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 27 lainnya memberi reputasi
profile picture
IzyMom020
kaskuser
Ternyata masih panjang perjalanan nya buat sampai ketemu Emilyaemoticon-Wow
profile picture
laynard22
aktivis kaskus
Emangny kiteee Call center... cm untuk nampung keluhan... kita jg kadang butuh berkeluh kesah dong... kadang kita jg perlu didengar bukan hanya untuk mendengar kalian punya masalah.. hey para2 cewe... tolong lebih hargai pasangan anda..
profile picture
laynard22
aktivis kaskus
https://www.instagram.com/p/B5NMbuCjYp0/?igshid=1sckgldmh4tv1 Foto Dee lg di pantai..
profile picture
yanagi92055
kaskus maniac
@laynard22 betulll..harus saling gnertiin. kalo nggak, pasti susah ujungnya wkwkwk
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di