CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 49 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Saat Untuk Berpisah

“Hah? Keputusan? Gimana maksud kamu?” Gue bertanya.

“Aku ternyata akan dipindahkan ke Padang. Sesuai dengan domisili KTP aku.”

“Hah? Seriusan? SKnya udah keluar?”

“Katanya lagi di proses.” Katanya, matanya berkaca-kaca.

“Ya ampun. LDR dong.” Kata gue lesu.

“Maafin aku. Tapi itu kebijakannya. Bahkan aku nggak minta. Aku udah bilang kan sama kamu, kalau oke aku bakal stay disini, aku ubah semua ego aku demi kamu. Biar bareng terus sama kamu. Tapi ternyata keputusan kantor beda. Dan kebetulan disana ada yang mau dimutasi ke ibukota, jadinya dapet slot tukar.”

“Harusnya kamu bisa nolak dong.”

“Udah, aku udah nolak sekuat tenaga. Tapi yang minta tukar disana itu udah berkeluarga. Jadi alasannya lebih kuat dari aku.”

“Dan kamu berarti bakal jauh terus dari aku?”

“Aku nggak tau.” Dia kemudian menangis.

Dia kemudian memeluk gue erat banget.

“Aku nggak tau kalau jauh dari kamu yank.” Katanya tersedu.

“Sama….” Kata gue lirih.

Kami hanya berpelukan lama. Gue pun nggak terasa menitikkan air mata. Walaupun kami sering banget cekcok, nggak cocok, nggak sepaham, tapi entah kenapa kami selalu bisa kembali dan kembali lagi. Kami selalu bisa saling menyayangi kembali kayak sebelumnya nggak ada apa-apa.

Sebulan setelahnya, SK pun keluar dan Dee harus udah berada disana dalam waktu paling lambat 2 minggu. Gue pun membantunya mengurus segala sesuatunya. Terutama packing-packing barang. Ada yang dikirimkan, ada juga yang akhirnya menjadi milik gue seperti TV dan setrikaan yang memang dari awal gue belikan untuk kebutuhan di kostannya.

“Aku nggak nyangka kita akan LDR kayak gini yank. Aku nggak siap sayang.” Katanya.

“Mau gimana? Sebenarnya ini kan cita-cita kamu toh.” Kata gue.

“Iya, tapi sejak kejadian dulu kita sempat break, aku berpikir, iya, aku butuh kamu. Aku sangat bergantung sama kamu. Aku emang bisa kok mandiri, tapi aku tetap butuh kamu. Kamu partner aku yang paling sempurna yank dalam segala hal.”

“Iya, tapi nyatanya kita tetap harus terpisah jarak. Yang paling mungkin adalah nanti ketika ada pekerjaan-pekerjaan yang mengharuskan ke Padang atau wilayah-wilayah sumbar lainnya, aku akan request supaya aku yang pegang. Jadi lumayan kita bisa ketemu, dan diongkosin perginya.” Kata gue tersenyum menghibur.

“Hehe bisa ya begitu?”

“Ya bisa dong, itung-itung prestasi kerja jadi bisa request begitu yank. Kalo aku ada dibawah-bawah mah nggak akan dikasih kayak gitu. Terima-terima nasib aja pasti. Haha.”

“Yakin ya kita bisa kayak gini?” tanyanya minta diyakinkan.

“Aku sendiri nggak yakin 100% berhasil. Tapi setidaknya kita nggak akan tau kalau kita nggak nyoba dulu, ya kan? Karena mau kayak gimanapun nggak akan bisa ngubah keadaan toh.”

“Hmm. Iya yank. Yang harus kamu tau, Zi, aku sayang banget sama kamu. Aku sadar ketika kamu tegas sama aku, itu buat kebaikan aku. Dan ya, itu sangat bermanfaat buat aku, terutama di lingkungan kerja aku. Supaya aku nggak egois, supaya aku lebih ngehargain orang lain, dan semua-semuanya itu. Sangat bermanfaat buat aku. Makasih banyak ya sayang udah selalu sabar buat ngingetin aku dan buat aku jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.” Kata Dee sambil menitikkan air mata lagi.

--

Satu hari terakhir sebelum keberangkatan Dee pulang ke kampung halamannya, Dee ingin makan di restoran AYCE (All You Can Eat) di kota. Waktu itu lagi puasa seingat gue. Akhirnya gue menemani Dee, dan membatalkan puasa gue. Haha.

“Yakin nggak kamu mau makan banyak kali ini? Aku nggak suka kalau kamu Cuma makan dikit tapi minta di all you can eat gini.”

“Janji aku makan sepuas aku. Hehe.”

Kami masuk ke dalam restoran tersebut. Pelayannya memakai kimono khas jepang dan mempersilakan kami ke tempat duduk yang kami inginkan. Kala itu hari sabtu, tapi kok sepi. Mungkin karena lagi bulan puasa kali ya. Hehe.

Benar aja ternyata, Dee makan sangat lahap dan nggak kenyang-kenyang. Haha. Dee nggak pernah kayak gini sebelumnya. Dia selalu aja kalau makan itu lapar mata alias nggak pernah sampai benar-benar habis, itulah sebabnya gue sama dia sering ribut soal ini. Bukan apa-apa, mubazir kan pastinya. Apalagi sekarang AYCE, rugi banget bayar mahal-mahal kalau ternyata makannya cuma sedikit.

Sambil santai ketika mulai kenyang, gue membuka-buka sosial media gue. Ternyata di Facebook ada beberapa Friend Request. Dari deretan itu ada yang memang gue kenal dari kolega kantor, dan satu anak yang kayaknya adik kelas jurusan gue. Tapi mutual friendnya kebanyakan angkatannya Herman dan Irfanda (angkatan 4 tahun dibawah gue).

Dewi Anggraeni.

Siapa ini orang? Kok gue nggak kenal. Tapi mutualnya temen-temen dan adik kelas sejurusan gue semua. Yaudah nggak usah ambil pusing, gue okein aja. Berarti ini mungkin adik kelas yang mau kenalan.

Dee terus makan kayak punya perut karet. Gue mengabadikannya dan memostingnya di sosial media gue. Salah satu tujuannya adalah biar orang-orang yang rese di sosmed pada berenti mention gue. Nih loh gue udah punya pacar. Masih kurang puas juga buktinya? Apa perlu nanti gue posting foto gue dan Dee lagi ciuman? Kan kayaknya nggak perlu. Haha.

Terakhir, setelah menghabiskan waktu sekitar 3 jam, kami meminta tolong sama mbak yang melayani untuk diabadikan berdua. Kata Dee foto ini akan dia cetak buat di pajang dikantor barunya nanti. Begitu juga dengan foto-foto kami berdua lainnya.

“Makasih ya sayang. Aku seneng banget. Akhirnya kesampaian juga makan disini lagi bareng kamu. Berarti selama kita pacaran udah 4 kali ya kita kesini. Hehehe.”

“Iya sayang sama-sama. Tapi baru sekali ini kita makan pas orang-orang lain lagi pada puasa. Hahaha.”

“Ssttt..diem dong, nanti pada ngeh kita nggak puasa. Hihi.”

“Hehe iya Dee. Yaudah aku bayar dulu ya.”

“Nih, gesek pake kartu aku aja. Sesekali aku yang traktir kamu boleh dong? Hehehe.”

“Beneran nih nggak apa-apa?”

“Beneran sayang. Udah gih.”

Gue kemudian jalan ke kasir dan membayar. Gue agak kaget Dee begini sekarang. Apa bener ya dia mau berubah seiring dengan perlakuan-perlakuan gue dulu? Mudah-mudahan aja. Setelahnya gue dan Dee keluar dari restoran.

Kami pulang menuju ke kostan Dee. Sebagian besar barang-barang udah diberesin, tinggal seprai yang membungkus kasur aja yang belum dimasukkan kedalam koper. Malam ini gue akan menginap dikostan ini buat yang terakhir kali. Ini juga kali terakhir gue bersama Dee sebelum dia benar-benar pisah dengan gue untuk beberapa waktu.

Gue menghabiskan waktu bersama Dee dengan banyak ngobrol. Sampai dini hari kami ngobrol nggak berasa banget.

“Aku sebenarnya udah nyangka bakalan kayak gini kejadiannya. Jauh sebelum kamu lulus kuliah bahkan.” Kata gue.

“Kok gitu? Kamu tau darimana?” katanya.

Feeling aja dari dulu. Karena asumsi aku yang paling utama itu adalah, kamu datang nggak dari daerah sini, tapi nyebrang pulau. Kamu itu anak sulung, dan kamu adalah penyayang orangtua. Itu alasan utama kenapa akhirnya aku berpikir kamu akan begitu.”

“Iya, aku sayang banget sama keluargaku Zi. Tapi bukan berarti aku nggak mau berkorban buat kamu. Liat kan apa yang udah kita lewatin bersama? Terlalu banyak kenangan di kota ini dan kota-kota yang pernah kita datangin buat samapi di titik ini. Baik itu kenangan manis, ataupun pahit. Tapi aku enjoy kok selalu.”

“Iya aku tau dan aku ngerasain banget apa yang udah kamu kasih buat aku.”

“Aku nggak bisa ninggalin memori aku disini sama kamu gitu aja. Tapi entah kenapa aku mau ninggalin semua memori aku selama kuliah dulu. Termasuk teman-teman aku dulu dijurusan. Aku mau ninggalin mereka semua. Aku nggak mau lagi dihubungin sama mereka semua. Aku bener-bener mau hilang aja dari jurusan AB selamanya. Karena memang dari awal kan aku selalu bilang sama kamu, aku nggak nyaman sama jurusan ini. Aku nggak nyaman sama dosen-dosennya yang kaku, aku nggak nyaman sama pertemanan di dalam kelas aku, di angkatan aku. Keren diluar tapi bobrok dan busuk banget didalam. Aku nggak mau pokoknya nginget-nginget momen yang ada selama aku jadi mahasiswa disana bersama dengan mereka.”

“Kok gitu banget kamu? Kayaknya dendam banget. Gitu-gitu kan yang memberikan kamu gelar S1 yank. Yang akhirnya bisa bantu kamu dapetin kerjaan di Bank ini. Jurusan itu nggak salah, tapi isinya yang salah. Aku juga tau kan keadaan angkatan kamu gimana. Selalu dibandingin lebih baik dari angkatan atas kamu setahun yang berantakan dan gagal total sampai nggak dianggap dijurusan kita sendiri. Bahkan Mbak Yanti orang TU aja memuji angkatan kamu setinggi langit. Padahal ketika kamu cerita, hahaha. Sampah juga angkatan kamu sebenernya, nggak lebih baik dari angkatan atas kamu setahun.”

“Kamu kok kayaknya sensi banget sama angkatannya Kak Diani? Kan dulu yang ospek angkatan mereka kan angkatan kamu.”

“Iya, mereka ini rebelnya parah, dan gilanya orang-orangnya pada nggak bisa diajak kerjasama, baik itu di kuliahan, maupun pas mereka jadi asisten dosen. Nggak bisa banget diajak kerjasama. Haha. Sampah emang itu angkatan. Makanya Mbak Yanti dan juga si Benu, angkatan-angkatan atas, semua nggak pernah ngganggep angkatan itu ada. Mereka juga dulu kan awalnya yang bikin angkatan aku dan angkatan bawahku ribut besar. Ribut antar angkatan yang harusnya kerjasama buat ngospek angkatannya si Diani.”

“Iya, tapi kejadian itu emang parah sih. Masa dosen sampe nutup gitu aja ospek angkatan Kak Diani, padahal rangkaiannya belum selesai. Ngadu apa ya mereka ke dosen? Hahaha.”

“Nah itu yang nggak pernah angkatan aku dan angkatan bawahku tau. Siapa juga orang yang ember ke dosen itu kita nggak pernah tau. Tapi emang harus diakui, angkatan aku pun bermasalah di internal. Ketua ospeknya aja kabur entah kemana, karena masalah pribadinya sendiri. Lari dari tanggung jawab. Sampai aku harus bantu turun tangan, padahal himpunan sama urusan ospek kan nggak ada hubungannya. Resiko gede banget aku sebagai ketua himpunan buat ikut campur masalah ospek.”

“Iya semua rusak gara-gara ospek nggak guna itu ya yank. Ya nggak sih?”

“Yap bener banget. makanya aku kurang setuju sama konsepsi ospek sebenernya. Kalau kita bisa kenalan baik-baik kenapa pake ngerja-ngerjain dulu sih? Mau dikata sok eksis? Kakak kelas yang gobl*k-gobl*k itu nggak pernah ngeh ya, kalo ada kemungkinan mereka sekelas dan duduk bareng adik-adik kelas yang dulu mereka kerjai pas ospek, karena si kakak-kakak kelas tol*l ini pada ngulang mata kuliah? Haha.”

“Iya makanya itu. Itu teman kamu aja masih ada yang ngulang sama angkatn aku tau yank dulu. Gila banget, masa udah beda tiga angkatan masih ngulang aja, harusnya mah udah jadi asisten dosen, lah ini masih duduk dan ikutan praktikum, bukannya ngajarin. Haha. Diasistenin adik kelas lagi. Kan pasti dulunya si temen kamu itu salah satu pengospek adik-adik kelas yang sekarang ngajarin dia di lab, atau yang duduk bareng dia kalau lagi ada kuliah. Hahaha.”

“Tau emang si Zim gobl*k banget. hahaha. Dulu sok galak sama adik kelas, eh tau-taunya jadi pengulang rutin dibanyak mata kuliah. Akhirnya malah jadi kuliah bareng mereka-mereka yang dulu sok di omel-omelin sama dia. Hahaha.”

“Yah pokoknya aku nggak mau aja berhubungan lagi sama semua yang ada dikampus. Teman-teman aku biarin aja lost contact sama aku. Nggak ada untungnya juga buat aku kan kalo keep contact sama mereka. Dulu aja anak-anak ini juga pada oportunis, maunya enaknya doang. Giliran lagi ada yang susah pada cabut nggak mau bantuin. Aku nggak suka anak-anak model begini Zi.”

“Padahal citra angkatan kamu dimata dosen, orang TU, kakak kelas, adik kelas, itu bagus banget ya.”

“Hebat ya angkatan aku nutupin busuknya, biar nggak ketauan dari luar. Hahaha. Tapi tetap aja aku nggak nyaman sama pertemanan model begini. Isinya kebanyakan bullsh*tnya Zi.”

“Iya sih. Yaudah kan yang penting nanti kamu keep contactnya sama aku yank. Hehe.”

Dee tiba-tiba mencium gue. bertubi-tubi dia menciumi gue. Dia begitu agresif, sampai membuka kaos gue duluan, kemudian langsung membuka ikat pinggang dan menurunkan celana panjang gue sekaligus dalamannya. Gila gue di bugilin duluan coy. Hahaha. Dee langsung menggenggam rocky dengan tangan kanannya. Gerakan naik turun dilakukan dengan halus tapi bikin enak banget. Dee jelas udah ahli, kan udah dibiasain. Hehehe. Selanjutnya nggak pakai lama, kuluman dahsyat Dee yang selalu mengejutkan langsung mendarat di seluruh tubuh rocky. Dalam juga ya rongga mulut Dee, soalnya muat tuh si rocky. Hehe.

Betah banget Dee memainkan rocky yang berdiri vertikal, karena gue dalam posisi rebahan. Telaten banget lagi. Dee kemudian membuka kaosnya dengan alasan gerah. Padahal ya emang gerah sih. Terlihat branya yang berwarna biru tua. Dee terus memperlakukan rocky seperti anak sendiri. Disayang-sayang banget lah pokoknya. Akhirnya, Dee mengulum kembali rocky.

“Aku mau keluar ni yank. Telen ya, biar selalu sehat dan selalu inget aku.”

Dee hanya melirik ke arah gue dan tersenyum sedikit karena mulutnya full terisi rocky. Setelah semua keluar dimulut, dia menelannya semua seperti biasa. Kemudian Dee berdiri dan membuka kait celana panjangnya, menurunkan retsleting dan menurunkan sendiri celananya. Nggak pakai lama, Dee langsung menerjang gue yang masih rebahan. Kami berciuman kembali, bercampur antara pakai hati dan pakai nafsu. Dee menciumi gue dileher, dada, perut, paha, kemudian naik lagi mengulum telinga kanan gue. Aduh itu seru banget.

Tangan gue yang udah gatel mau bergerak pun akhirnya berhasil membuka kaitan branya dipunggung Dee. Terlihat gunung kembarnya yang nggak terlalu besar tapi padat merayap itu. Langsung aja gue mainkan dan nggak lupa ada proses penyerapan dengan mulut juga biar enak. Dee lalu membalikkan badannya, dan sekarang berada di posisi terbalik. Gue berhadapan langsung dengan lubang surga Dee yang udah bersih perkebunannya dipangkas. Haha. Ini yang gue senang kan. Dee mengurus rocky lagi.

“Yank, masa didiemin?” katanya.

“Iya sayang.” Dan gue pun beraksi.

Prosesi ini lumayan lama juga sampai ada tumpahan cairan dimuka gue. cukup pegal juga rahang dan lidah gue waktu itu. Tapi kami benar-benar nggak mau kehilangan momen sama sekali, karena kemungkinan ini adalah yang terakhir sebelum kami nanti akan bersama lagi setelah pernikahan. Gue dan Dee memanfaatkan momen ini sampai berakhir di ronde ke 6. Keringat gue dan Dee udah banyak banget. Apalagi kipas anginnya juga udah diberesin. Jadi benar-benar panas kamar itu.

Dee memeluk gue yang duduk dikasur. Karena panas banget makanya kami belum memakai pakaian.

“Aku sayang kamu banget Zi. Jangan pernah tinggalin aku. Walaupun kita jauh. Ya?” kata Dee, dia menangis.

“Iya sayang. Aku akan jaga hubungan ini terus. Kamu juga disana baik-baik ya? inget selalu sama aku ya?” kata gue sambil mengelus kepala belakangnya.

“Pasti sayang. Pokoknya kita harus kontak terus ya, nggak boleh nggak. Minimal satu hari harus ada telponan ya. Aku mau dengar suara kamu yank.”

“Nanti aku nyanyiin sekalian ya yank. Mau kan?”

“Mau dong. Kan suara kamu lumayan, jadi enak kalau didengerin. Hehehe.”

Kami nggak tahan akan kantuk. Kami ketiduran tanpa pakaian sampai pagi. Tau-tau udah kedinginan aja soalnya udara pagi dikota itu sangat sejuk karena banyaknya pohon-pohon besar yang ada disekitar kota, dan terutama yang dekat dengan kostan tersebut.

Dee kebangun duluan dan ketika gue bangun dia udah siap. Lalu nggak lama gue mandi. kemudian mengurus ke pemilik kost sekalian pamit. Gue yang udah memanggil taksi kemudian memasukkan barang-barang yang bisa dibawa. Gue tau perasaan gue dan Dee sendiri udah sangat nggak karuan. Tapi kami bergerak dalam diam menyembunyikan perasaan sedih kami.

Kami menuju ke bandara dengan menggunakan bis bandara. Cukup repot juga karena membawa banyak barang, segitunya aja udah dikirim sebagian via ekspedisi.

“Udah di cek nggak ada yang ketinggalan ya yank?” kata gue.

“Kan kalau ketinggalan ada kamu, biar kamu ada alasan buat ngunjungin aku kerumah. Hehe.” kata Dee.

“Haha iya juga ya yank.”

“Nanti kalau aku kehabisan stock parfum refill, kayak biasa ya yank, nitip beli ditempat langganan. Nanti tolong dikirimin aja, paketin.”

“Emang disana nggak ada kang parfum? Repot amat loh ngirim dari sini. Haha.”

“Aromanya paling awet dan paling mirip aslinya itu di toko itu yank. Ya? plisss.”

“Iya iya. Gampang udah. Hehe.”

“Makasih sayang.” Dee memeluk gue.

Pelukan ini malah kebablasan jadi lama banget. Mau bablas dicium tapi nggak mungkin, rame coy dibandara. Gue melepaskan pelukan dan gue melihat pipi Dee sudah basah dengan air matanya sendiri.

“Aku akan kangen terus sama kamu yank.” Katanya.

“Aku udah beliin kamu webcam dengan kualitas bagus, nanti kita bisa video call ya sayang.” Kata gue.

“Iya yank. Nanti kita webcaman ya, soalnya kadang nggak puas kalau cuma dengar suara doang. Aku kan pingin liat muka kamu juga.”

“Rocky juga mau diliatin nggak?”

“Emmm, boleh. Hehe.”

Dee mulai tersenyum kembali. Tapi gue dengan sangat jelas melihat dari sorot matanya, ada kesedihan yang luar biasa disana. Apa yang dia rasakan, sama dengan apa yang gue rasakan saat itu. Pedih sekali rasanya harus nerima kenyataan seperti ini.

“Sampai ketemu lagi ya sayang. Aku akan selalu nunggu kamu buat kesana ya yank.” Katanya.

“kamu baik-baik ya disana. Semoga ada rejeki selalu ya biar aku bisa main kesana. Mudah-mudahan kamu ada pelatihan disini kek, biar bisa kita ketemu.” Kata gue.

“Bakalan rindu kamu banget yank.” Dee memeluk gue lagi, tangisnya pecah lagi.

“Sama, ini berat yank buat aku.” Kata gue sambil mengelus punggungnya.

Dee menghabiskan waktu terakhirnya saat itu dengan memeluk gue dalam waktu lama. Dee udah nggak peduli mau diliatin kayak apa juga sama orang lain. Konsentrasinya adalah ke gue.

“Andai aku bisa begini terus sama kamu…..” kata Dee.

“Pasti bisa. Tunggu aku disana sayang.” Kata gue.

Setelah selesai berpelukan, Dee masuk kedalam. Nggak lupa dia melambaikan tangan. Raut wajahnya sedih dan sangat kecewa dengan keadaan. Gue pun sama seperti itu juga. Akhirnya Dee menghilang dari pandangan gue. gue pun pulang dengan rasa sedih yang luar biasa.
Dee, dia emang bukan cewek yang sempurna. Dia bukan yang paling baik. Tapi dibalik ketidaksempurnaannya itu dia berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Hanya untuk gue seorang. Tapi takdir mengatakan lain. Kami harus dipisah jarak. Setidaknya sampai hari yang sakral itu tiba nantinya. Rencana yang bahkan nggak ada satu pun orang yang tahu selain kami berdua. Walaupun masih wacana, tapi kami akan usahakan semaksimal mungkin merealisasikan hal bahagia ini.

Lagu ini direkam Dee di HP gue saat gue masih tertidur malam sebelum dia pulang. Kerispatih - Lagu Rindu


profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 22 lainnya memberi reputasi
profile picture
Rainbowmaker
kaskus maniac
Kok gw jadi kasian sama dee yaaaa emoticon-Frown


Haaaaah bingung
profile picture
irvansadi
newbie
brebes mili aku mas gegara kisahmu
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di