CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
"Pengarungan Puncak Puncak Tertinggi"
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd812f468cc9570b930adbc/pengarungan-puncak-puncak-tertinggi

Pembukaan Argopuro



"Koaaakk koaakk" terdengar suara burung merak di tepi sungai.

Di sebuah savana yang amat luas ada beberapa tenda yang saling berhadapan. Pagi itu, saat salah satu dari mereka keluar menyambut sinar pagi yang masih berwarna kemerahan, beberapa merak dewasa terlihat sedang mencari pangan di sisi utara didekat sungai yang terlihat memanjang. Tak jarang mereka mengeluarkan bunyi-bunyi khas seekor unggas. Laksana seorang gadis yang mencari perhatian kekasihnya, begitu pula para merak itu berhasil mencuri perhatian para pendaki dan menjadi tontonan menarik bagi mereka

Yang terlihat hanyalah sebuah padang savana berwarna kuning, beberapa bulan air hujan tak kunjung menghujam bumi, rerumputan menjadi kering, tanah berubah menjadi debu, terik matahari selalu menemani rombongan pendaki dari pagi hingga petang menjemput.

Satu-persatu para pendaki itu keluar dari dalam tenda, langit yang awal mula berwarna merah gelap perlahan berubah menjadi kuning keemasan. Pancaran indah nampak naik ke atas secara perlahan menyambut para pendaki yang sedang asik duduk menikmati kopi panas dengan uap yang masih mengebul ke atas. Burung merak yang masih setia bermandi di sebuah sungai ikut menyambut hari baru dengan terus melantunkan suara khas mereka.

Dua orang pendaki sedang menyiapkan sebuah botol. Mereka berencana mengambil air di tepi sungai sembari menonton pertunjukan yang di sajikan oleh para merak. Pagi yang amat dingin tak membatasi kedua manusia itu untuk melangkahkan kakinya menembus rerumputan yang membeku akibat suhu yang sepertinya mencapai dua hingga lima drajat.

"Hey, coba kau lihat itu, apakah mereka merasa terganggu dengan kehadiran kita?" Jerry melontarkan pertanyaan kepada rekannya dengan terus berjalan menyusuri tepi jalan, kawan sependakiannya langsung menimpali pertanyaan Jerry.

"Sepertinya iya. Tetaplah berjalan, jangan sampai sedikit pergerakanmu membuyarkan pertunjukan indah itu" Johan yang sedari tadi sudah memperhatikan para merak itu mengurangi kecepatan jalannya. Ia seperti seorang penjahat yang berjalan mengendap-endap. Embun pagi yang membasahi sebagian tubuhnya tak ia hiraukan. Dua bola matanya masih tetap fokus memandangi unggas-unggas tersebut.

Terlihat tiga ekor merak sedang bercanda di tepi sungai, satu merak dewasa meloncat kesana kemari seakan-akan tau bahwa ada penonton yang sedang melihatnya menari. Sementara dua ekor lagi sedang asik membasahi bulu-bulu cantiknya dengan bermain air sedikit ke arah tengah, berjalan ketengah kemudian kembali ketepian, berjalan ketengah lagi, lalu kembali ketepian lagi. Entah berapa kali merak muda itu melakukannya, pandangan Johan dan Jerry tak lepas dari unggas-unggas cantik tersebut.

"Istimewa. Sangat istimewa, benar bukan. Jo?" Celetuk Jerry yang masih fokus nelihat para merak bermain.

"Benar sekali. Hanya di gunung ini kau dapat menemukan pertunjukan seperti ini. Apa kau menikmatinya?" Johan menimpali Jerry dengan pertanyaan.

"Ya, benar. Seumur-umur aku melanglang buana ke berbagai gunung, hanya di tempat ini aku bisa melihat merak di alam liar. Ah sepertinya aku jatuh hati terhadap gunung ini. Apa kau merasakan hal yang sama denganku Jo?" Jawab Jerry panjang lebar yang kemudian ia berdiri berusaha mendekat secara perlahan.

"Tentu saja, setiap tahun aku selalu mengunjungi tempat ini. Dan, ini adalah kesempatan keduaku bertemu dengan mereka, para merak yang kau lihat itu" Johan ikut mendekat ke arah Jerry sambil menunjuk ke arah merak tersebut.

Bagi Jerry, ini adalah keindahan yang amat luar biasa, bisa melihat seekor merak di alam liar dengan latar sebuah savana bagaikan di Afrika nan jauh disana. Tapi, bagi Johan. Merasakan damainya suasana di tempat bernama Cikasur untuk kedua kalinya merupakan nikmat yang tak bisa di bayar dengan apapun. Bagaimana tidak, untuk menuju ketempat ini saja mereka harus berjalan selama dua hari.

"Wush wush wush" Merak-merak itu terbang mengepakkan sayapnya hingga menimbulkan riak di sungai yang terlihat tenang tadi. Ekornya sangat panjang menjuntai kebawah, kilauan berwarna hijau sedikit kebiruan terlihat bercahaya saat matahari menembus dan menabrak bulu-bulu cantik itu. Hingga perlahan para merak itu hilang di telan rimbunnya hutan di ujung timur sungai Qalbu.



Perkenalkan, namaku Johan, aku biasa di panggil Jo. Hari ini aku akan melakukan pendakian bersama teman-temanku. Mendaki gunung dengan kategori tertentu membuat adrenalinku terpacu, bagaimana tidak, butuh 5 hari 4 malam untuk menyelesaikan satu kali pendakian ini. Gunung ini juga menjadi salah satu gunung yang wajib di daki oleh para pendaki. Gunung Argopuro.

Terletak di empat kabupaten, setauku hanya ada dua pintu masuk untuk mendaki gunung ini, melalui jalur Baderan di Situbondo dan juga jalur Bermi di Probolinggo.

Malam sudah menjemput, lagit yang sebelumnya terlihat sedikit kemerahan kini sudah berubah menjadi hitam pekat, ada beberapa bintang yang sedang bergelantungan di atas sana. Beberapa temanku sudah datang satu-persatu sembari menggendong tas yang terlihat besar itu. Beberapa keperluan selama pendakian sudah kami persiapkan, tak terkecuali aku yang sudah menyiapkan jauh-jauh hari peralatan tempurku.

Mobil jemputan sudah datang, kulihat arloji berwarna hitam di tangan sebelah kiri sudah menunjukkan angka dua belas lebih, itu berarti pagi ini hari sudah berganti.

Ada enam belas orang termasuk aku yang akan melakukan perjalanan panjang ini, aku memperkirakan dari tempatku berkumpul menuju ke sebuah basecamp pendakian memakan waktu lima jam. Awal perjalanan masih terasa santai, sebagian dari kita asik bercanda gurau di dalam mobil, mengabadikan moment kebersamaan atau sekedar bertanya asal masing-masing.

Lambat laun suara-suara itu hilang satu persatu, yang terdengar sekarang hanya raungan mesin mobil yang akan mengantarku ke titik awal perjalanan. Kulihat kanan-kiri teman-temanku sudah memejamkan mata terlebih dahulu, sepertinya mereka kelelahan. Aku pun memaksa untuk mengistirahatkan tubuh dan kedua mataku.

"Jo, bangun Jo, yuk kita turun ngopi-ngopi sebentar." Terdengar Jerry membangunkanku sembari menggoyang-goyangkan tubuhku.

Kukihat arah jarum jam sudah menunjukkan angka tiga, seluruh penumpang pun turun dan memaksa membuka mata mereka untuk sekedar menghangatkan tubuh dengan kopi yang mereka beli di warung-warung pinggir jalan. Kulihat di belakang warung tersebut ada sebuah bangunan yang amat sangat besar. Belakangan kuketahui itu adalah pembangkit listrik tenaga uap terbesar di jawa timur.

Lampu kerlap kerlip berwarna merah itu mendominasi bangunan raksasa tersebut, sayup-sayup terdengar mesin besar di dalam sana sedang bekerja. Terkadang suara itu tersamarkan dengan mobil yang lewat di depan jalan ini. "Ini mas kopinya." Secangkir kopi hitam yang terlihat amat pekat menjadi teman santai di pagi yang teramat dini ini.

Cuaca saat itu memang lumayan dingin, apalagi kita berhenti dekat dengan laut. Kulihat beberapa temanku sangat antusias, ada yang sedang asik berbincang, ada juga yang sekedar menikmati alunan lagu dari earphone, atau aku yang sedang menikmati secangkir kopi yang sudah mulai sisa setengah.

Kurasa sudah cukup, setelah kopi yang kuminum sudah habis aku membayar dan kembali masuk kedalam mobil, perjalanan menuju titik awal pendakian pun kita lanjutkan.

Dari sisi timur lagit sudah berwarna agak kebiruan dimana matahari akan muncul sebentar lagi. Mobil yang melaju pelan karena jalanan yang naik turun serta berkelok-kelok membuat seluruh penumpang terjaga dari sisa tidurnya. Seperti dugaanku, jam enam lebih sedikit kita sudah sampai di basecamp pendakian, satu persatu penumpang turun, setelah melakukam simaksi kita pun makan bersama mengisi perut yang semalaman tadi hanya terisi kopi.

Beberapa ojek sudah menunggu di depan, hari ini kita menggunakan jasa ojek yang akan mengantar kita sampai ke pos mata air satu untuk memangkas waktu.

Kali ini aku mendapat bagian leader bersama Nono, menjadi penunjuk jalan untuk beberapa teman-temanku, tak lupa masing-masing dari kami di bekali HT untuk berkomunikasi, karena dari enam belas orang ini hanya ada tiga orang saja yang sudah pernah kesini, termasuk aku.

Setelah berdoa dan membagi siapa siapa saja yang akan membawa HT, perjalanan pun di mulai.


Spoiler for Rules:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi

Argopuro II

Langkah pertamaku terasa sangat mantap, awal perjalanan aku langsung di suguhi tanjakan yang membuat nafas sedikit tersengal, bahkan dengan badan kurus ini aku harus membawa beban yang bisa kubilang lumayan berat.

Saat ini aku berjalan mengikuti sebuah setapak yang terlihat gersang, beberapa kali aku melangkah, tanah yang kuinjak mengeluarkan bias debu yang bisa terbang kapan saja. Terkadang aku bisa melihat dedaunan yang tak lagi hijau, daun-daun itu berwarna kecoklatan. Bukan karena kering, tapi debu-debu yang tertiup angin itulah yang menyelimuti dedaunan tersebut.

Terik matahari semakin tinggi, beruntung pohon-pohon besar itu bisa menghalau sinar matahari yang berusaha menjilati kulit-kulit tubuhku. Kulihat Nono, salah seorang temanku membasuh peluh yang membasahi dahinya. Di sebelahnya ada Laras yang masih tegap berdiri dengan nafas yang kulihat masih terartur. Aku rasa dia bukan perempuan sembarangan.

Masih dengan medan yang sama, jalan setapak yang tidak terlalu kecil namun hanya muat untuk satu orang menjadi jalan yang akan aku lewati. Ritme perjalanan ini sedikit aneh, Nono seringkali berhenti dan meminta istirahat. Saat kudekati, wajahnya sudah mulai sangat pucat. Nono sempat memuntahkan isi perutnya. Salah seorang temanku yang membawa obat-obatan langsung merespon Nono yang sudah mulai lemas, dia bilang hanya masuk angin biasa dan sedikit kecapean saat di perjalanan. Dengan berat hati aku meminta partner pengganti untuk menemani perjalanan kali ini.

Perlahan tapi pasti, setelah Nono bertukar posisi menjadi sweeper, kini keanehan terjadi padaku. Kedua pahaku terasa sangat panas seperti tertusuk-tusuk jarum, tapi aku tak menghiraukannya, aku menganggap hal tersebut adalah kejadian biasa. Semakin ke atas jalan semakin naik, vegetasi hutan yang tadi terlihat rapat kini sudah berkurang yang dengan bebasnya membuat panas matahari bisa menyengat tubuhku kapan saja. Lagi-keanehan terjadi. Tangan kiriku tak bisa aku gerakkan, bahkan untuk menggerakkan jari-jari saja aku tak sanggup. Aku seperti orang lumpuh, tangan kiriku sangat dingin. Aku tidak bisa merasakan tanganku sendiri. Melihat keanehan yang aku alami dan berkali-kali aku berhenti dengan interval waktu yang tak terlalu lama membuat Jerry curiga akan hal tersebut.

Kuceritakan saja apa yang menimpaku saat itu, tanganku tak bisa aku rasakan, sesaat memudian kaki kiriku juga mengalami hal yang sama. Dan sekarang setengah badanku juga tak bisa aku rasakan, aku seperti kehilangan disfungsi sebagian dari tubuhku. Melihat kondisi yang aku alami, Jerry langsung membuat panggilan darurat dengan HT yang ia bawa.

"Kontek kontek, medis cepat kedepan, ada sedikit kendala yang menimpa Jo." Dengan sigap Jerry menghubungi tim medis.

Beruntungnya saat itu salah satu rombongan kami ada yang berpropesi sebagai dokter, tak perlu menunggu lama, perempuan yang belakangan ku ketahui bernama Evi tersebut adalah ahli medis di kota besar di Jawa Timur.

Bu Evi hanya tersenyum simpul, dan dia mengatakan tidak apa-apa yang membuatku sedikit lega.

"Jo sudah tidak apa-apa, lanjutkan saja perjalanan kalian, biar Jo aku yang mengurusnya untuk beberapa waktu." Celetuk Bu Evi terhadap Jerry.

Sekali lagi sebelum Jerry melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh itu ia menanyakan kondisiku, dan sekali lagi aku meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.

Kulihat beberapa temanku sudah mulai berjalan dan pergi meninggalkanku yang hanya menyisakanku dan Bu Evi saja. Pun, rombongan belakang juga belum terlihat.

"Berapa kilo beban yang kamu bawa, Jo?" Tanya Bu Evi.

"Dua puluh keatas sepertinya, bu." Jawabku sambil memijit-mijit tangan kiriku sendiri.

"Pantas saja, aliran darahmu tersumbat. Dan karena itulah sebagian tubuhmu mengalami disfungsi sementara." Sergah Bu Evi yang mencoba mengankat tas ku.

"Tas lama ya?" Lanjut Bu Evi sambil membersihkan kondisi tasku yang terlihat kotor karena kuletakkan begitu saja di tanah.

"Iya bu." Jawabku singkat - yang kemudian Bu Evi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Kulihat Bu Evi mengeluarkan syal berwarna abu-abu dan memberikannya kepadaku, syal tersebut polos dan sangat tebal, kulihat rumbai-rumainya sepertinya masih baru, baunya wangi khas bau seorang perempuan.

"Busa tasmu terlalu tipis, syal itu bisa kamu pakai untuk melapisi busa di pundakmu."

"Iya itu baru saja kubeli saat aku pergi ke Jogja beberapa hari lalu." Lanjut Bu Evi.

Bagaimana bisa Bu Evi mengetahui apa yang aku pikirkan, kukira Bu Evi selain seorang dokter dia juga seorang psikolog.

Setelah aku merasa sedikit lebih baik aku kembali melanjutkan perjalanan untuk menyusul Jerry yang sudah di depan, begitupun Bu Evi yang juga menginkuti ritme jalan ku yang sedikit lebih cepat. Mengetahui hal tersebut aku sedikit mengurangi kecepatan jalanku, selain debu yang berterbangan karena hentakan kakiku, dia juga sedikit tersengal.

Dengan ritme yang kembali normal aku bisa mendengar suara Jerry yang sedang tertawa, kulihat dia sedang asik bercerita, mungkin menceritakan sebuah lelucon atau humor receh yang entah dari mana ia mendapat semua itu.

Melihat aku yang langsung meletakkan tas di sebelahnya, Jerry langsung menyodorkan sebotol air minum. Ah, dahaga ini hilang seketika saat beberapa tegukan air melintasi dan membasahi tenggorokanku. Ada Laras, Danu, Arvin di depanku, mereka masih asik berbincang. Sedangkan Jerry masih saja menanyakan kondisiku, aku pun enggan menjawab pertanyaan yang sudah bekali-kali aku jawab itu, pun dengan Bu Evi yang hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Jerry yang entah sudah berapa kali ia menanyakan pertanyaan yang sama.

Hari semakin siang dan panas semakin terasa. Jalanan yang aku lewati masih sama, kecil, gersang, kering, dan berdebu.

Aku kembali memimpin mereka untuk melanjutkan perjalanan, kucocokkan arlojiku dengan ritme jalan, kurasa sebentar lagi aku akan sampai di pos mata air dua.

Benar saja, sebuah tempat lapang yang bisa kubilang hanya cukup untuk menampung tiga tenda itu adalah pos mata air dua. Di sudut tempat itu terlihat plang penanda berwarna hijau yang terbuat dari plat besi, dengan karat yang menutupi hampir sebagian tulisan. Ada jalan kecil ke arah kanan dengan kemiringan yang amat. Lantas, aku menunggu beberapa tim sweeper untuk makan siang bersama.

Aku melihat salah satu temanku ada yang langsung terlelap dengan tas keril yang masih melekat di punggungnya. Sungguh kasihan, aku rasa ia sangat kelelahan. Mengingat jalur yang aku lewati tadi memang hampir tidak ada bonus sama sekali, belum lagi cuaca panas dan musim kemarau yang membuat nafas sedikit terganggu karena menghirup debu di jalur pendakian. Aku berbagi tugas dengan beberapa temanku, ada yang memasak, ada yang sedang membuat dokumentasi, dan aku adalah orang yang akan mengambil air ke sumber yang ada di bawah sana.

Kuperkirakan kemiringannya bisa mencapai lima puluh drajat dengan jarak kira-kira empat puluh meter, tak butuh waktu lama bagiku untuk menuju tempat tersebut, tak ada satu menit berjalan maka kita akan sampai ke sebuah sumber air yang sangat jernih.

Disini aku bisa melihat pantulan wajahku sendiri dari air tersebut, atau juga melihat bebatuan di dasar sungai. Aku bisa merasakan hawa yang sangat beda. Berada di dekat sumber air rasa panas dan peluh hilang seketika. Berbanding terbalik saat aku berada di atas sana tadi, apalagi suara gemericik air menambah kesan tenang. Terkadang hembusan angin membuat tubuh ini enggan beranjak dari tempat tersebut, daun-daun basah tersapu air yang mengikuti jalurnya sendiri, bebatuan tempatku duduk menjadi sangat dingin saat aku tak sengaja membuatnya basah karena ulahku.

Beberapa teman yang ikut mengambil air kembali satu persatu dan hanya menyisakan aku seorang diri. Kubasuh mukaku dengan aliran air yang amat tenang, rasanya tak cukup jika hanya sekali dua kali air-air itu membasahi pori-pori wajahku. Aku sangat terlena dengan semua ini, bahkan aku tak sadar sudah berapa lama aku berdiam diri di tempat tersebut, badanku sudah sedikit gemetar karena merasakan dingin yang sudah mulai menyerang, selain tempat yang sedikit lembab, tempat ini juga sangat rindang, bahkan panas di siang itu tak mampu mengalahkan dingin di hilir sungai yang menjadi tempat para pendaki mengisi ulang botol-botol mereka.

HT yang ku bawa berbunyi, ada panggilan masuk dari temanku di atas sana, mereka mengira ada sesuatu yang menimpaku karena aku tak kunjung kembali ke atas. Memang benar aku sudah terlalu lama di sini, akhirnya aku memutuskan untuk kembali dengan membawa dua botol air. Di atas, setelah semua di rasa cukup, aku pun kembali melanjutkan perjalanan dan aku kembali menjadi penunjuk jalan bagi mereka.

Jalur yang aku lewati masih sama seperti sebelumnya, kecil, bedebu, dan vegetasi pohon yang mulai jarang sekarang di ganti dengan semak belukar. Hanya saja jalur sedikit landai dan cenderung menurun.

Sesekali aku menjajal seberapa kuat daya tahan tubuh temanku termasuk Laras yang kulihat masih tegap berdiri. Aku sengaja membuat jarak dengan mereka semua, dimana dengan jarak tersebut membuat mereka harus mengimbangi langkah kakiku agar tidak tertinggal terlalu jauh. Tapi karena aku yang terlalu fokus dengan jalanan yang semakin menurun membuat suara langkah kaki di belakangku kembali tak terdengar, sepertinya mereka tertinggal agak jauh.

Aku berhenti di sebuah belokan dengan bekas pohon tumbang di sebelahnya, duduk di atas dengan menyandarkan tas yang sedari tadi menemani perjalananku, kurogoh salah satu tembakau dari tas selempang yang masih melekat di dadaku. Aku sengaja menyiapkan beberapa lintingan dari rumah untuk menjadi bekal santai di perjalanan dan ku hisap di saat-saat seperti ini. Korek yang berada di tangan kananku mengeluarkan api, lantas saja aku mendekatkan api tersebut kemulutku lalu membakar kertas putih yang menyumpal bibirku sedari tadi.

Memainkan lintingan tembakau dari jari ke jari sepertinya menarik, aku melakukannya berkali-kali, dalih ingin membunuh rasa bosan karena menunggu beberapa teman yang berada di belakang, terkadang aku lupa kalau lintingan itu harusnya kuhisap bukan untuk kumainkan.

Asap putih keluar dari cerobong asap yang kusebut mulut, relaksasi yang kubuat dengan caraku sendiri berhasil. Aku sempat terbawa suasana, angin panas bercampur dengan dinginnya hawa pegunungan perlahan membuat mata sedikit berat, kaki kanan sengaja kusilangkan di atas kaki kiri yang tak menyentuh tanah, terkadang aku mengayunkan kedua kakiku yang entah kenapa aku melakukanya. Siang itu aku sama sekali tak mendengar suara-suara penghuni hutan Argopuro, hanya suara angin yang menabrak cemara gunung seperti badai yang hendak menikamku dari belakang. Tembakau yang kuhisap berubah menjadi abu. Sekarang benda merah panas yang membakar lintingan di antara jari telunjuk dan jari tengahku semakin mendekat, bahkan kedua jariku sudah bisa merasakan panas dari lintingan yang sudah semakin pendek karena terbakar. Aku pun mematikan sisa lintingan dan membakarnya hingga tak bersisa.

Sebuah lonceng terdengar samar dari kejauhan, kukira itu adalah lonceng milik Jerry, karena dari beberapa temanku hanya dia yang selalu membawa lonceng saat bepergian ke gunung. Di ujung belokan sebelum mereka mendekat ke arahku, aku melihat empat manusia sedang berjalan saling beriringan, dengan langkah gontai mereka mendekatiku dan ikut duduk di atas pohon secara memanjang, tapi tidak dengan Laras. Dia benar-benar beda.

Dengan muka oriental sedikit kecoklatan dan sedikit peluh membasahi wajahnya membuat Laras terlihat sangat eksotis, apalagi aku kerap curi-curi kesempatan tatkala ia sedang tertawa atau sedang berbicara serius dengan teman-temannya. Aku yang memang agak sedikit pendiam hanya bisa menjadi penonton saat mereka membicarakan hal yang bagi mereka sangat menarik. Terkadang aku hanya menjawab seperlunya saja saat mereka bertanya tentang ini-itu dan sebagainya, tapi tidak dengan Laras saat menanyakan sesuatu, tak terkecuali saat bertanya tentang gunung argopuro, sesekali dia memergoki aku yang sedang melamun katanya, padahal aku sedang memikirkan jawaban apa yang harus aku siapkan dengan kata-kata sehalus mungkin.

Tujuanku jelas, agar dia tidak kaget dengan jalur pendakian yang lumayan panjang ini, mungkin baginya tak masalah sepanjang apa jalur yang akan ia lewati, karena saat kulihat style yang ia gunakan waktu itu, bisa kukatakan Laras seperti seorang yang sudah lama malang melintang di dunia pendakian, mungkin saja aku kalah jam terbang dengannya, mengingat apa yang melekat di tubuhku adalah barang-barang titipan, tas yang melekat di punggung adalah tas pinjaman dari temanku, sepatu yang melapisi kedua kakiku adalah sepatu pinjaman dari pihak penyelenggara agar semua panitia kompak memakai sepatu yang sama, kaos yang aku pakai pun pemberian dari seorang kawan karena aku sudah mau menemaninya berkeliling jawa saat itu. Hanya celana pendek berwarna krem dengan kantong sebelah kanan yang sudah bolong inilah satu satunya barang yang benar benar milikku. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dikenakan Laras saat itu.

Kalaupun aku merasa tertarik dengannya aku pun sadar aku siapa, mungkin lebih tepatnya aku mengaguminya, iya benar aku mengaguminya.

Lagipula dari sikap Arvin terhadap Laras sepertinya dia memiliki hubungan khusus, tak mungkin jika mereka hanya berteman terlihat sangat akrab dan sangat dekat, bahkan cara bicara mereka berdua sangat intim. Kalau kata seseorang yang sedang kasmaran, dunia seperti milik mereka berdua. Sayangnya aku hanya bisa mengagumi Laras dari kejauhan. Yasudah.

"Yuk lanjut, sebentar lagi kita sampai di alun-alun kecil." Kataku yang sudah mulai siap untuk berdiri.

Tak ada suara dari mereka semua termasuk Jerry, mungkin mereka percaya dengan apa yang aku katakan, mengingat di tim depan ini hanya aku saja yang sudah pernah kesini.

Memang benar, dari apa yang keluar dari mulutku, perjalanan dari tempatku beristirahat tidak banyak memakan waktu, terlebih jalanan saat ini di dominasi jalan yang menurun.

Aku kembali berjalan dan mengatur ritme langkah yang kehilangan iramanya, sudah menjadi kebiasaan jika aku berhenti terlalu lama maka untuk kembali menemukan lantunan yang pas terhadap dua kakiku agak lama. Beberapa saat kemudian aku sudah menemukan iramaku, aku kembali berjalan dengan langkah yang sedikit panjang, begitupun Laras, Arvin, Danu, dan juga Jerry. Mereka terus membuntutiku di belakang hingga mereka kembali tak menemukanku.

Kedua kakiku sudah sangat panas, berhenti sebentar saja rasanya tak nyaman, untuk menyiasati hal tersebut aku menitipkan pesan kepada Jerry selaku partnerku yang setia membackup ketiga temanku.

"Sepertinya aku akan sedikit mempercepat langkahku, tolong kau jaga mereka bertiga, kakiku tidak bisa diajak untuk berjalan secara pelan, jalurnya hanya satu dan jika kalian sudah menemukan sebuah sabana itulah yang di namakan alun-alun kecil." Ucapku kepada Jerry menitipkan ketiga temanku.

"Ok Jo, jangan lupa gunakan HT mu jika terjadi sesuatu." Jerry menimpali perkataanku sembari mengangkat jempolnya.

Kuanggap Jerry bisa menjadi leader pengganti saat aku merasa sedikit keanehan kembali menimpaku.

Aku kembali mempercepat langkah kakiku, Jerry bilang aku sedang berlari menuruni jalan yang sedikit curam, terlebih lagi di tengah jalur yang kulewati ada cekungan bekas roda sepeda motor yang kapan saja bisa membuatku tergelincir jika aku salah berpijak. Aku sedang tidak berlari, lebih tepatnya aku berjalan cepat, aku merasa tubuhku merasa sangat kuat, aku terus mempercepat langkah hingga aku benar-benar berlari, aku tidak tau kenapa dengan tubuhku. Rasanya aneh, tubuhku sangat ringan, walaupun beban yang aku bawa lumayan berat, hingga di kejauhan aku bisa melihat padang savana yang sedikit kekuningan, di tengah savana tersebut ada sebuah plang besi yang amat sangat besar bertuliskan himbauan untuk para pendaki. Di sebelah plang tersebut ada satu pohon yang lumayan besar, terlihat sangat rindang dari kejauhan.

Alun-alun kecil, akhirnya aku sampai, aku terus menuruni jalan tersebut dengan berlari dan aku langsung meletakkan tas berwarna merah dengan strip hitam di tengahnya, ku letakkan begitu saja di rerumputan dekat pohon besar kemudian aku berlari ke tengah dan menjatuhkan diri di panasnya terik matahari.

Kulihat kulit tanganku mulai menghitam, aku sudah menduganya karena aku sudah berminggu-minggu keluar masuk hutan dan tak kunjung pulang, aku rasa saat aku pulang nanti orang-orang terdekatku akan sedikit kaget, terutama perubahan kulit yang aku alami ini.

Terdengar teriakan yang seperti teriakan bahagia dari beberapa temanku, kukira itu adalah Laras dan kawan-kawan, ternyata aku salah, suara itu dari temanku yang menjadi tim sweeper. Ternyata aku tertidur sangat lama di tengah savana. Bahkan pose tidurku yang terlihat aneh di abadikan dengan kamera ponsel untuk di jadikan bahan lelucon. Ah biarlah, lagipula aku sudah cukup kebal dengan lelucon yang kadang sedikit membuat aku merasa sinis dibuatnya.

Aku terbangun bukan karena teriakan-teriakan temanku, tapi aku terbangun karena panas yang terasa amat ini. Kepalaku masih pusing, aku bisa merasakan rambutku berantakan akibat angin yang bertiup sedikit kencang. Aku berdiri kembali menuju tempat awal saat aku baru sampai di alun-alun kecil.

Aku teringat dengan salah satu titipan seseorang yang mengatakan; carikan aku bunga dandelion, kudengar dandelion di gunung argopuro berbeda dengan dandelion di gunung-gunung lain. Memang sebelumnya aku melihat bunga yang sedikit aneh menurutku, berwarna kuning, dan aku ingin mengabadikan bunga tersebut kedalam kamera ponsel yang aku bawa.

Dan beruntungnya aku, saat aku menemukan banyaknya bunga berwarna kuning tersebut aku melihat bunga dandelion yang hanya ada satu diantara bungan berwarna kuning itu. Satu melawan puluhan. Aku rasa mungkin dandelion ini yang di maksud. Aku mengambil beberapa kali gambar dandelion yang terlihat seperti minoritas disana, semua berwana kuning, sementara hanya dandelion itu saja yang berwarna putih. Aku duduk di depan bunga itu tak mempedulikan panas yang dengan leluasa membakar kulitku.

Sangat berani, dandelion itu berani tumbuh dan berdiri sendiri, terlihat seperti keterasingan yang membelenggu tapi ia tetap tumbuh dengan yakin. Aku melihat diriku saat melihat dandelion tersebut. Lakukanlah apa yang menurutmu benar karena yang tau itu hanya dirimu sendiri.

Kata-kata itu selalu terngiang, kata-kata dari kakak kelas saat aku baru memasuki bangku smp, aku selalu terintimidasi dengan keanehan-keanehan yang aku buat sendiri.

Lakukan apa yang menurutmu benar karena yang tau itu hanya dirimu sendiri. Setelah mengucapkan itu ia pergi ke sebuah lorong kelas. Seorang perempuan dengan rambut sebahu yang ujung rambutnya berwana merah dan selalu menggunakan bando berwarna pink, berkulit kuning langsat, memiliki lesung pipi di sebelah kanan dan bodohnya aku sampai saat ini belum mengetahui siapa namanya.

"Hei Jo, kemarilah, ada sedikit makanan untukmu." Teriakan dari Om Pandu membuyarkan imajinasiku tentang bunga dandelion dan kakak kelasku.

Aku berdiri berjalan secara berlawanan meninggalkan bunga dandelion dan imajinasiku dibalakang sana, berjalan maju menuju tempat yang sedikit lebih rindang, aku berkumpul bersama teman-temanku, sekedar bercanda dan mengisi perut dengan sedikit makanan ringan menjadikan siang yang panas berubah menjadi kehangatan dengan tawa kebahagiaan dari beberapa temanku.

Hingga semua dari kita menghilang satu-persatu di sisa siang itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lapar.bang
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di