KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 47 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Akhir Kisah

Hari pertemuan terakhir dengan Keket sudah tiba. Gue membebaskan Keket untuk menentukan segalanya, dari mulai tempat yang akan dikunjungi, makanan yang dipilih, dan mau ngapain aja dia sama gue. Gue izin dengan Dee. Alasannya gue ada kerjaan diluar kota. Gue udah nebak kemana dia memilih destinasi.

Keket udah mempersiapkannya semua. Dari mulai tiket keberangkatan sampai pulang lagi, sudah menyewa resort yang dulu pernah jadi saksi bisu awal mula tumbuhnya rasa sayang dan berakhir pada perjalanan cinta yang sangat menyakitkan.

Singkat cerita kami udah sampai di bandara dan dijemput oleh orang travel yang bekerjasama dengan pihak resort. Nggak menunggu waktu lama, kami pun dibantu dengan driver itu memasukkan barang-barang kami. Waktu itu hari jumat. Gue emang cuti satu hari waktu itu. Begitu juga dengan Keket. kami berdua selalu menyukai ciptaan Tuhan yang sangat indah, yaitu laut. Perjalanan menuju ke resort yang melewati pesisir pantai itu kami nikmati dengan hati yang sangat cerah.

“Inget ga yank, kita selalu aja bisa berdiskusi kalau dekat sama laut? Obrolan kita jadi makin banyak dan lancar bahasannya kalau ada didekat laut?” kata Keket.

“Maaf Ket, aku nggak terbiasa dengan kata yank. Tapi untuk terakhir kali ini, aku coba ya.” kata gue.

“Iya yank, maafin aku kesannya memaksa. Ya emang maksain sih. Hehe.”

“Hmm. Iya sayang….. maaf aku kagok banget Ket.”

“Iya nggak apa-apa Ja.”

“Iya, kita seru banget kalau udah ketemu sama laut ya. Ada aja inspirasi buat dijadiin obrolan. Hehe.” kata gue mulai agak terbiasa, lagi.

Sekitar 30 menitan perjalanan kami tanpa macet, kami tiba di resort tempat semua kenangan itu berawal. Gue mengambil kamar yang berbeda dari Keket. Kemudian gue mandi terlebih dulu. Gue nggak banyak ngomong sama Keket karena gue lebih memilih untuk menikmati keindahan laut dari balkon.

Gue berdiri dibalkon dan kemudian nggak lama Keket datang tiba-tiba dan mengagetkan gue.

“Haha masih kejebak kayak dulu kamu yank.” Katanya sambil tertawa senang.

“Haha kamu ngagetin aku aja. Sini yuk.” Kata gue sambil mengajak Keket mendekat disebelah gue.

“Aduh jadi inget banget memori duku iPod kamu jatuh kesana tuh hehe.”

“Iya soalnya kamu muncul didepan muka aku dulu. Untung ga aku cium dulu. Haha.”

“Iya aku emang mau ngisengin kamu kan dulu itu. Hehe.”

“Tapi sekarang udah nggak bisa iseng lagi kamu.”

“Kenapa emang Ja?”

“Soalnya kamu udah nggak akan bisa ketemu aku lagi.”

“Iya….” Ucapnya lirih.

Gue memeluk pinggangnya yang sekarang kerasa lebih tebal dan ada beberapa lipatan. Keket lebih berisi emang deh. Keket pun menyandarkan kepalanya di bahu gue sebelah kiri.

“Andai aku bisa memiliki kamu lagi yank.” Katanya.

“Aku diawal sempet berharap kayak gitu. Tapi aku udah punya Dee dan aku sayang banget sama dia. Plus lagi kelakuan kamu bikin aku sangat membenci kamu Ket. Nyesel kan kamu sekarang?”

“Iya maafin aku yank…” suaranya bergetar.

“Kalo udah begini sekarang kan nggak ada lagi yang perlu diperbaikin. Semuanya udah jalannya kayak gini.”

“Iya Ja, aku ngerti dan ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup aku sejauh ini. Maafin aku nggak pernah bisa sempurna dan jadi apa yang kamu mau.”

“Aku nggak butuh kamu jadi orang lain, karena dengan begitu pasti ngejalaninnya juga berat karena itu bukan kamu sendiri. Jadi aja apa adanya. Banyak cowok yang mau nerima kamu yang kayak gini keadaannya kok yank.”

“Iya Ja….” Keketpun menangis.

Gue mendekapnya dalam dada gue. Keket yang gue kenal udah benar-benar kembali. Gue sempat agak kebawa perasaan tapi gue selalu ingat dengan Dee.

Sorenya kami berjalan-jalan dipantai sampai habis magrib. Kemudian kami menuju ke sebuah gua. Gua yang dulu kami jadikan tempat bertarung ringan. Hehe.

“Aku inget semua memori yang ada disini Ja.”

“Hehe masih inget ya.”

“Dan aku mau ngulangin lagi…..”

Keket seperti kebiasannya dulu, langsung nyosor aja. Bibir dia masih selembut dulu. Gue nggak membalas ciuman dia. Gue bingung harus bersikap.

“Maaf Ja.”

“Nggak apa-apa Ket.”

Lalu gue menariknya ke arah pantai pasir dan mendorongnya ke deburan ombak. Dia kaget tapi senang sekali. Raut wajahnya terlihat sangat menikmati setiap momen yang kami lewatkan bersama. Momen-momen yang sangat dia harapkan akan selamanya dia nikmati bersama gue.
Lari-lari kejar-kejaran kayak di film India pun kami lakukan di tengah gelapnya pantai. Hanya ada cahaya temaram sedikit dari warung-warung yang jelas menyalahi aturan mengenai garis sempadan pantai itu.

“Nanti pas pulang di resort aku bikinin makanan ya buat kamu?” kata Keket.

“Boleh. Kamu udah jago masak sekarang emang? Hehe.” kata gue.

“Iya dong. Aku mau bikin sushi buat kamu. Kamu kan cinta banget tuh sama jepang-jepangan.”

“Aku juga mau makan batu yank.”

“Hah? Kok batu?”

“Aku kan suka musik rock. Rock kan batu.”

“Yeee.. sok mau ngelawak ya kamu..”

“Ya daripada bete mending ngelucu aja. Hehehe.”

“Haha, kamu ni ya dari dulu. Yaudah yuk kita pulang, aku udah bawa bahan-bahannya semua. Sama kemarin aku udah request buat alat-alatnya disediain, dan pihak resort menyanggupi.”

“Kena charge nggak?”

“Hehe ya iyalah yank. Udah yuk balik.”

Gue dan Keket kembali ke resort yang sangat besar untuk kami berdua. Dulu kan kami beramai-ramai kesini. Keket lalu mengganti bajunya dengan baju yang super seksi dan menggoda iman. Kaos yang hampir sama yang dia pakai waktu kami kesini dulu plus celana hotpants warna hitam. Kaosnya ini kalau tangannya ngangkat keatas dijamin pusarnya kelihatan dengan jelas. Dan dia sering melakukan itu kalau lagi nguncir rambutnya yang diwarnain agak merah marun.

Bodi Keket emang benar jadi lebih padat dengan berkurangnya lekukan dipinggangnya dan digantikan beberapa lipatan. Tapi itu nggak mengurangi pesonanya yang bikin orang betah melihatnya. Gue kalau jomblo pas lagi ini mah udah gue pacarin lagi pasti, bodo amat dia dulu pernah nyakitin gue, bodo amat juga dia statusnya janda.

“Kenapa kamu bengong aja?” kata Keket

“Ahh.. eh nggak ket, lagi ngeliat kamu aja. Gemukan. Hehehe.”

“Ijaaaa. Iiiih. Aku semenjak abis nikah itu jadi kurang olahraga, kerjaannya dirumah doang, ngemil sambil nonton tv, jadinya aku gini sekarang. Lemak dimana-mana.” Dia berkata dengan wajah sedih yang menggemaskan.

“Haha emang gendutan mau gimana lagi? Tapi nggak apa-apa, nggak masalah juga, yang penting kamu tetap sehat Ket.”

“Aku nggak mau deh Ja, kamu ngomongin badan aku. Jadi nggak pede akunya.” Kali ini dia agak serius nadanya.

“Iya, iya. Maaf ya Keket sayang.”

“Yaudah aku bikin dulu ya. kamu mau nonton DVD?”

“Aku nonton channel yang ada disini aja. Hehe. langganan kali ya ini resort. Berasa sultan bener ini aku. Hehe.”

“Haha yaudah coba-cobain aja yank.”

Gue menonton dan akhirnya malah ketiduran. Pada akhirnya gue dibangunkan oleh Keket yang mengingatkan bahwa makanannya udah jadi, dan udah dihidangkan di meja makan.

“Yuk makan dulu.”

“Eh, maaf ya sayang, aku ketiduran.”

Secara spontan karena mungkin gue belum ngumpul nyawanya, malah mencium punggung tangan kiri Keket.

“Makasih ya Ja.” kata sambil tersenyum.

“Haa. Eh maafin aku ya Ket.”

Gue dan Keket makan malam dengan masakan buatan Keket. Emang nggak mirip banget sama aslinya, tapi lumayan lah. Pada saat makan itu juga kami chit chat masalah pekerjaan, dan rencana-rencana kedepan. Keket rencananya akan dipindahkan ke Bali untuk mendapatkan posisi lebih baik diperusahaannya saat ini. Salah satu alasan kenapa dia menerima mutasi ke Bali adalah biar bisa jauh dari gue, dan memulai kehidupan barunya disana. Hampir sama dengan Ara ya alasannya.

Malam sudah semakin larut dan obrolan kami tentang kenangan masa lalu kami masih aja berlanjut. Hanya saja sekarang kami duduk di bean bag yang membuat badan jadi lebih rileks. Keket dan gue semakin mendekat karena dinginnya udara malam dari arah laut cukup menusuk.

“Aku janji aku nggak akan pernah gangguin kamu lagi Ja. Aku juga akan berusaha untuk bersikap dingin sama kamu setelah pertemuan kita ini berakhir. Anggap aja nanti kalau suatu saat kita ketemu, kita hanya kenalan biasa. Bukan dua manusia yang pernah menorehkan kenangan yang indah dan juga menyakitkan.”

“Iya, aku akan selalu pegang janji kamu Ket.”

Kami bertatapan cukup lama dan kemudian kami saling berpelukan. Kami berpelukan lama sekali, hampir selama waktu di hotel dulu sebelum berita yang sangat menyesakkan bagi gue itu sampai ketelinga gue. pelukan tersebut berlanjut dengan ciuman hangat pakai hati dari kami berdua. French kiss kali ini sangat gue nikmati, entah kenapa. Setelah lama agak lama dan terasa pegal, barulah kami menyudahinya. Aroma Bvlgari Amethyste menyeruak dengan indahnya di hidung gue.

“Ini buat kamu.” Keket menyerahkan sebungkus Kitkat.

“Wah, kamu bawa Ket?”

“Iya, inget nggak di gua dulu, kamu juga bawain ini buat kita makan? Hehehe.”

“Hehe. iya juga ya. Masih inget ya kamu.”

“Inget nggak gimana aku bisa tau semua yang kamu lakuin, tapi malah aku milih ciuman sama kamu daripada ngasih tau rahasianya? Hehehe.”

“Wah ngenang teroooossss. Hehe. iya sayang aku inget. Aku juga inget kamu pernah bilang kalau kenyamanan ini nggak ditentuin berdasarkan dari kuantitas waktu bertemunya, tapi itu biar waktu yang bermain. Kebetulan aku bisa bikin kamu nyaman dalam waktu singkat, inget? Hehe.”

“Iya. Di titik itulah aku ngerasa aku jatuh cinta sama kamu yank. Dan setelah itu pun aku berkomitmen untuk menunggu kamu. Walaupun aku harus bermain dengan hati. Aku menyakiti hatiku sendiri ketika melihat kamu masih jadian sama orang lain. Masih sayang sama orang lain. Tapi ya itu tadi, biar waktu yang menjawab dan akhirnya aku bisa bareng-bareng sama kamu. Aku juga sempat menyesal kenapa dulu ketika kamu nyatain perasaan ke aku, aku malah nolak kamu dengan alasan yang konyol. Tapi beneran aku takut banget kehilangan kamu ketika kita komitmen untuk menjalani hubungan yang serius Ja. aku takut ketika kita putus nanti kamu akan ninggalin aku. Dan itu kejadian pada akhirnya.” Kata keket sambil menitikkan air mata di pipinya.

Gue menyeka air matanya yang turun deras tak terbendung. Gue merasakan pedih hatinya ketika itu. Semuanya yang pernah dia lakukan ke gue, seperti disesalinya seumur-umur. Gue memeluknya lagi. Gue bisa merasakan kegalauan hatinya.

“Apalagi hari ini adalah hari terakhir dimana aku bisa bareng-bareng kamu. Untuk kemudian menghilang dari hidup kamu selamanya. Aku mau ini jadi lebih panjang. Lebih banyak waktu lagi. Tapi ini semuanya udah nggak akan mungkin lagi. Aku udah janji sama diri aku sendiri, sama Dee dan sama kamu. Maafin semua yang pernah aku lakuin sama kamu ya.”

“Iya udah. Aku udah maafin kamu. Yang penting aku selalu doain kamu yang terbaik semoga kamu bisa nemuin yang terbaik buat kamu. Kamu jangan mematok kriteria yang sama persis sama aku karena setiap orang punya kemampuan yang beda-beda.”

“Iya aku ngerti. Aku mau bilang terima kasih yang banyak banget buat kamu ya Ja. Kamu bener-bener udah bisa ngasih sesuatu yang sangat spesial dalam perjalanan hidup aku terutama untuk urusan hati ini. Makasih udah mewarnai hati aku selama ini. Makasih juga udah ngasih kasih sayang yang tulus buat aku. Makasih udah membuat aku merasa nyaman dengan semua kebaikan dan sikap kamu ke aku.”

Dia memeluk gue lagi dan kemudian mencium gue tepat di bibir. Gue sangat larut dalam perasaan harunya saat itu. Gue akhirnya membalas ciuman pakai hatinya dengan ciuman pakai hati gue. cukup lama kami berciuman sampai akhirnya kami ketiduran didepan TV dalam keadaan berpelukan.

Paginya setelah sarapan gue sempat berjalan-jalan dulu dengannya untuk membeli beberapa oleh-oleh. Kami mencari oleh-oleh khas daerah sana. Sampai akhirnya tiba, kami sudah diantarkan kembali ke bandara. Pesawat kami saat itu berangkat pukul 14.30 siang waktu setempat. Selama perjalanan pulang sampai akhirnya tiba dibandara Soetta, kami nggak berhenti mengobrol karena komitmen kami setelah ini untuk tidak lagi saling bertegur sapa, seolah menjadi orang yang nggak pernah saling mengenal.

“Ja, makasih buat semuanya ya. aku nggak tau lagi harus bales gimana semua kebaikan kamu. Aku udah terlalu banyak nyakitin kamu.” Katanya sambil memeluk gue. dia kembali menangis.

“Udah, nggak usah mikir bagaimana membalasnya. Kamu cukup jadi diri kamu sendiri aja. Nggak usah nengok lagi ke belakang ke masa lalu. Karena waktu terindah kita berdua udah habis dan nggak akan bisa diulang kembali. Semoga kamu bisa mendapatkan yang terbaik buat kamu suatu hari nanti. Kamu boleh mengenang memori-memori kita, tapi kamu nggak usah pernah lagi muncul dihadapan aku. Dan aku pun begitu. Aku akan mengenang perjalanan kita ini selamanya.” Gue membalas pelukan Keket untuk terakhir kali.

Gue mencium keningnya. Gue membelai rambutnya. Setelah selesai, gue melepasnya untuk pergi dari hadapan gue selamanya. Gue sempat sangat ingin menariknya kembali, tapi itu semua udah nggak mungkin lagi. Gue nggak bisa terjebak dalam memori masa lalu. Yang gue punya sekaranglah yang menjadi hal berharga saat ini dan kedepannya. Setidaknya ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari sikap Keket kepada gue, dan sikap gue kepada Keket.

“Aku mau kamu dengar ini buat kamu. Nanti aja ya pas kamu udah pulang. Maaf ya, nggak bisa sebagus kamu. Tapi aku udah aku usahain supaya nggak mengecewakan.” Katanya sambil tersenyum manis.

Dia menyerahkan sebuah CD audio. Sepertinya ini suaranya yang direkam. Entah omongan apa yang ada didalam sini. Tapi nanti akan gue dengarkan sepulangnya gue dari sini.

“Ja, aku pamit. Sekali lagi makasih buat semuanya ya. Maafin aku, aku akan selalu cinta sama kamu.” Katanya, kemudian memeluk gue lagi.

“Iya Ket. Semoga kamu bisa segera menemukan kebahagiaan kamu ya. Maaf aku nggak bisa jadi penyempurna hati kamu.” Gue membalas pelukannya.

Keket melepas pelukannya. Raut wajahnya memancarkan tanda muram. Sorot matanya menyiratkan sebuah kepedihan dan kehilangan yang luar biasa besar ditambah dengan air mata yang mengalir sangat deras dari matanya. Senyum terakhir yang gue lihat adalah senyum getir penuh kesedihan. Gue pun merasakan hal yang sama. Tapi tak ada air mata. Setelah momen ini, gue udah benar-benar hilang kontak dengannya selama bertahun-tahun sampai akhirnya kami bertemu kembali tahun kemarin.

Kathy Wilysa Permata.

Sebuah kisah masa lalu yang indah. Sebuah pelajaran yang hebat bagaimana hati ini memilih jalan kebahagiaannya. Sebuah pelajaran pula bagaimana hati ini dihancurkan berkeping-keping. Hingga akhirnya semua harus diakhiri dengan sebuah kenangan, bukan kebersamaan.

Keket menyanyikan lagu ini untuk gue. Gue nggak nyangka suara Keket jadi sebagus itu, sepertinya karena dari hati nyanyinya. Lagu ini kena banget buat gue saat itu. Ungu - Aku Bukan Pilihan Hatimu


profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 32 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
profile picture
deawijaya13
kaskus holic



Ijin koment dlu bang. Walaupun belum selesai bacanya.

Wah.. kali ini salah tebakan ane..

Ternyata muara pencarian abang ija. G ke teh keket my idola wkwkwk.

Tp qoute di atas. Jika bang ija masih jomblo mau juga kembali ke keket ...
(Semoga aja kembali. Muara nya ke keket. Tpa kek nya g mgkin ) ..hiks hiks


Ow.. tahun kemarin ketemu ya ama teh keket.

Next end of story nya
Please...
Ane request ceritain . Wanita di yg pernah di sekeliling abang. Terutama teh kekekt wkwkw

Salim ndlosor...
profile picture
laynard22
kaskuser
Buat ane... part yg ini... sangat memorable bgt... karena ada Kathy..
profile picture
deawijaya13
kaskus holic
@laynard22 ane.. setuju sama agan ini.. keket oh keket.. tokoh idola pokoknya ...

Tenang nt bang ija bikin satu page menceritakan dia kok .. heheh
profile picture
yudhis147
kaskus maniac
@deawijaya13

Sebenernya kalo bener2 mantengin dr awal ini cerita serta komen2nya Ija, Ija pernah mention kalo sempet ketemu Keket akhir2 ini, which means Keket bukan muara pencarian Ija emoticon-Big Grin
profile picture
yanagi92055
kaskus addict
@deawijaya13 kalo story2 selanjutnya kayaknya ga ada gan, soalnya ga tau kaabar2nya gimana heehe
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di