CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Mengapa Bangsa Kita Gemar Mengkafirkan Kapitalisme?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc77c968d9b1766e12de780/mengapa-bangsa-kita-gemar-mengkafirkan-kapitalisme

Mengapa Bangsa Kita Gemar Mengkafirkan Kapitalisme?

Sederhananya, karena buta akan sejarah saja.

Banyak lapisan masyarakat Indonesia yang menganggap kapitalisme adalah ideologi yang jahat, kejam, dan sudah irelevan dengan perkembangan zaman. Mulai dari teriakan saat berunjuk rasa, tulisan cerdas yang dimuat di jejaring sosial, dan gerakan yang bertujuan membela rakyat kecil semua kritik keras diarahkan kepada kapitalisme.



Gambaran yang diberikan kepada kapitalisme adalah elit yang rakus, yang suka ketidak-adilan, yang tidak memikirkan masyarakat, yang membenci lingkungan, kumpulan orang yang siap menghisap waktu dan tenaga anda untuk keuntungan pribadinya. Benarkah seperti itu?

Kapitalisme sejatinya adalah ideologi yang berasaskan kepemilikan pribadi. Dalam pelaksanaannya, alat produksi yang digunakan adalah milik pribadi. Entah kamu seorang petani yang memiliki cangkul dan sepetak lahan, atau seorang blogger yang memiliki akun adsense dan handphone, atau Mitra Quora yang memiliki ribuan pertanyaan, ataupun seorang multi-milyuner yang memiliki puluhan pabrik, kamu adalah seorang kapitalis. Banyak yang beranggapan kapitalisme diciptakan oleh Adam Smith, seorang tokoh yang hidup pada awal revolusi Industri. Padahal, sejatinya kapitalisme telah ada jauh lebih tua dari itu, mungkin beriringan dengan munculnya kesukuan pertama (tribal chieftain) dalam sejarah manusia. Misalnya orang zaman dulu menggunakan sistem barter untuk bertransaksi.

Quote:


Perdagangan ialah kunci dari pertumbuhan peradaban manusia. Surplus produksi di satu wilayah, akan tersebar dengan rata kepada wilayah lain dengan adanya perdagangan. Transaksi dalam kapitalisme sejak awal dan hingga kapanpun tidak pernah bisa dipaksakan. Transaksi ini berdasarkan kerelaan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan, menukarkannya dengan properti atau keahlian pribadi yang dianggap bernilai setara. Untuk memudahkan penilaian, akhirnya manusia menciptakan alat tukar berupa uang. Ini perlu diingat karena sampai detik ini masih banyak yang gagal paham soal uang dan menganggapnya sebagai alat opresif penguasa terhadap rakyat.

Quote:


Benar kita pernah dijajah oleh kapitalisme kroni semacam VoC, namun disisi lain bangsa ini sejak jaman kerajaan dahulu besar dari perdagangan, kapitalisme. Pergerakan besar dalam kemerdekaan kita juga lahir dari rahim kapitalisme. Ingat Syarikat Dagang Islam, apakah mereka bukan kapitalis? Tentu beberapa tokoh disana menghujat kapitalisme. Namun ada kesalah-pahaman besar karena narasi yang masuk ke Indonesia pada jaman itu banyak yang menggunakan narasi Marxian, karena pelajar Indonesia yang belajar di Eropa pada jaman itu dekat dengan ideologi dan dosen Marxist yang ada disana. Pedagang adalah kapitalis, dan proses perdagangan adalah roda dari sistem kapitalisme.

Bagaimana kita bisa berdagang kalau kita tidak kenal dengan konsep kepemilikan? Absurd.

Quote:


Sibuk menghujat kapitalisme, namun lupa bahwa bagian yang terbaik dari negara kita sejak jaman Baros tertulis di buku sejarah bangsa Mesir adalah kapitalisme, perdagangan berdasarkan kepemilikan masing-masing. Kesalah-pahaman ini mengakar secara sistematis dan terstruktur selama puluhan tahun di Indonesia. Tidak ada negara di dunia yang pernah menjalankan sistem selain kapitalisme. Uni Soviet dan Komunisme mereka? Salah.

Mereka adalah state-capitalist, penguasaan properti dan alat produksi yang dikuasai oleh pemerintah. Begitupun negara lain dan tokoh lain yang membawa ideologi lain. Lagipula komunis adalah sebuah end-game, cita-cita dari seorang Karl Marx bahwa dunia akan lebih baik kalau semua manusia akan lebih baik kalau tidak mengenal properti pribadi dan secara sadar menjadi martyr-volunteer memberikan propertinya buat kemajuan umat.

Apakah ini akan berhasil? Saya menyebutnya ini sebuah utopia yang tidak akan pernah terwujud karena untuk mencapai kesana, kita harus merelakan ego manusia. Padahal ego adalah sebuah faktor penting dan krusial untuk menunjang perkembangan dan penemuan besar dalam sejarah peradaban manusia.

Quote:


Siapa yang menemukan bola lampu? Thomas Alfa Edison, seorang kapitalis.



Siapa yang menemukan pesawat terbang? Wright bersaudara, seorang kapitalis.



Siapa yang menemukan ide mensejahterakan buruh? Henry Ford, seorang kapitalis.



Komputer? Handphone? Internet? Ojek Online? Dan semua benda yang kita pakai untuk berdaya guna dalam hidup ini adalah karya dari seorang yang mengenal kepemilikan pribadi. Mereka berniat untuk menyumbang pikir serta usaha untuk mempermudah hajat hidup bagi orang banyak dan dirinya agar lebih baik.

Quote:


Jika pelaku kapitalisme melakukan kerusakan terhadap kehidupan manusia, maka akan dengan cepat terganti oleh pelaku kapitalisme yang lain. Tidak ada orang yang sanggup bertahan menjadi orang kaya tanpa usaha dan memikirkan produknya agar diterima masyarakat.

Buktinya? Dalam 100 tahun terakhir, tidak ada satupun orang yang sanggup “duduk” terus menerus dalam daftar 20 orang terkaya dunia, bahkan Rotschild yang gemar digaungkan oleh para penggemar teori konspirasi pun tidak. Siapapun bisa menjadi kaya bila mempunyai produk yang bisa berguna dan terbukti diinginkan oleh peradaban manusia. Di situlah nilai luhur dari kapitalisme berdiri.

Jadi, apakah kita akan terus menulis kritik tentang kapitalisme dengan bahasa yang tinggi penuh jargon tanpa makna, berteriak dan menghujat serta melakukan kekerasan tanpa dasar yang jelas, atau secara sadar menerima kapitalisme?

Yang dengan begitu, kita lalu dapat menyumbang karya dan produk yang berguna bagi masyarakat dan menjadi seseorang yang makmur serta terpandang dalam berkehidupan?


Sumber referensi :
State capitalism - Wikipedia

Nikola Tesla Wasn't God And Thomas Edison Wasn't The Devil

Wright Bersaudara - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Henry Ford - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

https://kognisi.com/kapitalisme-ideo...daban-manusia/
profile-picture
profile-picture
profile-picture
corobikang dan 19 lainnya memberi reputasi
Balasan post samradler
Quote:


dulu jaman mulai dari Ms dynamic ax juga sama banyak orang awam bilang begitu mas, pas ngalamin develop dynamic ax di salah satu anak perusahaan *LN di negeri ente, ane nyaksiin ujungnya hasil entri data dari dynamic ax diposting ke SAP kok hahaha....

dari situ gw nyaksiin dynamic ax itu kecil banget mungkin sama kelasnya sama SAP business one (versi gratis).

"60% konsumen SAP sekarang gamau beli produk" ini dari jaman dulu sampe perusaahaan sekelas **tra internasional pun ane pernah ikut develop disitu system buat ngereplace SAP, ditiap-tiap anak perusahaanya ujung-ujungnya cuman masalah ngurangin budget penggunaan SAP yg terlalu malah hahahaha....

market research lu mungkin bener <-- gw akuin ini, tapi tetep sesuatu yang awam yg gw lihat dari elu adalah elu gak nyaksiin tentang seberapa berani perusahaan ninggalin SAP untuk mulai pakai yg baru, dengan biaya development customisasi yang lumayan mahal juga (walau gak semahal SAP) & waktu yang lama juga (perjalanan yang susah diukur dengan biaya) & ujung-ujungnya gagal karena memang belum selesai, perubahan struktur orang yg ngerjain dah berubah dan upgrage teknologi penyesuaian baru lagi mungkin sebagian perusahaan besar masih menganggap sesuatu yg gak pasti ini cuman buang-buang duit.

dari Dynamic Ax ke Ms Dynamic 365<---ini versi yg beda cuman berlangsung berapa lama?

SAP dari tahun jebot teknologinya cuman begitu doang, cuman bedanya yang selalu berkembang itu dilevel bisnis proses, ente gak nyaksiinkan kan ketika setiap negara lagi galau dengan adanya perubahan pajak misal pph21 waktu itu? itu sebelum pajak disahkan, SAP udah ngadain training untuk orang-orang funsionalnya tentang regulasi pajak yang baru hahaha....

Sekarang walaupun gw ada di negeri rantau (masih jualan gorengan) hahaha.....balik ke kapitalisme menurut gw orang yg bener-bener ngerti tentang sosialis bakal bisa jadi kapitalis yang baik (ngeliat dari Ms foundation, apple dll.), cuman yg sekedar baca tentang sosialis mungkin cuman sampe level komunis (ngutip ari pendapat mantan presiden USA entah yg keberapa ane lupa), nah ane gak tau nih ente nih kyknya lebih bagus pancasila aja deh menurut ane, soalnya demen banget referensi wakakakakakak......

piss ya gan, jangan diambil hati emoticon-Nyepi
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di