KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 47 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Persiapan Final

Dua minggu berlalu setelah Dee menelpon gue perkara chat teror Keket, sepanjang itu pula dia terus menerima chat teror tersebut. Gue sekarang yang mau ketemu Keket yang susah jadinya. Dia seperti sengaja menghindar dari gue. Cara Keket ini asli deh murahan banget. Norak buat cewek se-charming dan secerdas Keket.Posisi Dee saat ini udah balik lagi ke kostannya dan dia terlihat mulai frustasi dengan keadaan yang nggak pernah diduganya ini.

“Aku bingung harus gimana nyikapin ini, Zi.” Katanya khawatir.

“Keket emang udah kelewatan banget. Gila dia Dee. Tapi kamu udah disamping aku lagi sekarang. Kamu aman kok yank.” Kata gue sambil mengelus rambut bobnya.

“Aku mau cerita sama kamu.”

“Yaudah coba ceritain.”

“Jadi, pas aku pulang dari Bangka itu kan aku langsung menuju Padang. Beberapa hari setelah aku sampai dirumahku, Keket nyamperin kerumah aku coba. Cuma aku sama ibuku lagi nggak ada, bapakku kan dinas di Sawah Lunto, jadi nggak ada juga dirumah. Hanya ada adik aku aja dirumah siang itu. Aku sama ibuku lagi ke kota Zi. Malamnya pas kami pulang, ternyata aku dikasih semacam kotak berukuran sedang gitu.”

“Beruntung kamu nggak ketemu Keket Dee. Terus, lanjutin.”

“Iya, terus kan aku buka ya kotaknya, disana ada Ibuku dan Adikku yang kedua, soalnya yang kecil kan belum ngerti banget Zi. Kamu tau nggak apa isinya pas aku buka?”

“Apaan emang isinya Dee?”

“Bangkai tikus dua ekor Zi. Masih ada darah-darahnya gitu.”

“Ah yang bener kamu? Ini kok aku kayak lagi ada disinetron gini sih. Penjahatnya ngelakuin hal-hal nggak masuk akal gitu.” Kata gue mulai emosi.

“Asli yank. Aku takut banget. ini aku udah fotoin.”

Dee menunjukkan foto yang dia ambil dari ponselnya. Ternyata benar kayak disinetron-sinetron. Tinggal ada efek zoom di muka plus pemerannya ada melotot-melotot sok licik dan dipaksakan, jadi deh itu sinetron perusak mental generasi muda.

"Ibu aku sama adikku kaget dan ketakutan Zi. Ibuku jadi bertanya dengan siapa aku pacarannya sekarang? kok ada kayak gini-ginian.Takutnya nanti malah ada mistik-mistiknya. Maklum ibuku disana masih percaya kayak gituan Zi. Mana sebentar lagi kan mau final ospeknya angkatan bawah aku dua tahun. Angkatan aku kan jadi panitia inti. Aku takut banget Zi. Nanti dia dateng dan malah ngacauin semuanya yang udah kami rancang. Cuma gara-gara hubungan kita, dan kegilaannya terhadap kamu.”

“Aku udah nggak kenal Keket yang sekarang kayak apa. Tapi kayaknya kalau ngacauin acara almamaternya sendiri sih nggak aku rasa. Kalau dia mau tau kamu lebih jauh, ya mungkin-mungkin aja.”

“Iya aku Cuma mau jaga-jaga aja sama kemungkinan terburuk Zi.”

“Iya sayang. Udah tenang aja, aku kan nanti juga dateng. Kalau dia macem-macem aku bisa pastiin panitia aman dan acara bakal terus berjalan sesuai rencana.”

Kemudian gue memutuskan untuk menginap di GMRD Regency, tapi sebelumnya sampai malam gue dikostan Dee sembari terus menemaninya. Waktu itu sedang demam JKT48 dan stand up comedy. Dee menunjukkan beberapa video dari Youtube lagu-lagu dari AKB48 dan gue sebenarnya nggak terlalu suka dengan AKB48 ataupun JKT48, tapi karena kebiasaan lama-lama oke lah ya enak didengar lagunya. Sedangkan gue mulai menonton Stand up comedy dari luar negeri yang udah populer lebih dulu di amerika dan eropa. Sewaktu gue ke Perancis, ada event stand up comedy gitu tapi pakai bahasa Perancis dan gue nggak ngerti sama sekali. Haha. Jadi nggak ada ketawa-ketawanya sama sekali. Sebenarnya pelawak senior kita, Warkop DKI, di masa sebelum masuk film diawal tahun 80'an, termasuk stand up comedy juga loh.

“Yank disini ada tau komunitas stand up comedy.” Kata Dee.

“Masa? Tapi mesti mahasiswa sini kan?” kata gue.

“Nah itu aku nggak tau. Waktu itu aku pernah nonton sama temenku.”

“Oh iya? Siapa temen kamu? Kok nggak bilang?”

‘’Iya sama temen-temen kelas aku. Performernya lucu-lucu banget yank. Ngangkat isu sehari-hari gitu deh.”

“Kayaknya kalo aku ikutan bisa ya yank? Hehe.” kata gue.

“Emang kamu bisa ngelucu? Hehe.”

“Yang bikin kamu seru dan terus sayang sama aku apaan kalau aku nggak lucu yank?”

“Hehe iya sih, Zi. Pokoknya aku dan kamu itu bakalan together forever ya yank.”

“Iya dong. Aku udah capek yank mau cari-cari lagi. Kita udah selama ini, udah sejauh ini, ya harus diseriusin dong.”

“Iya dong sayang. Sini peluk aku.” Dee merentangkan tangannya.

Kami berpelukan lama dan gue merasakan rasa sayang yang besar dari Dee untuk gue. Begitu juga gue yang merasakan hal yang sama. kemudian setelahnya kami membahas hasil pengambilan sampel Dee selama di Bangka kemarin. Ternyata ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Tapi karena nggak mungkin lagi kembali kesana, akhirnya mesti diakalin dulu. Gue coba mencari beberapa alternatif perhitungan dengan rumusan-rumusan baru disesuaikan dengan data yang didapatkan. Bukan di manipulasi melainkan dipercantik aja tampilannya agar grafiknya nggak jomplang.

“Kok kamu bisa ngakalin kayak gini sih Zi?”

“Ya ini sih dari logika sama yang terjadi dilapangan aja Dee. Aku dulu kuliah kan nggak Cuma menikmati perkuliahan secara teoritisnya doang, tapi juga dari segi logika berpikir yang masuk akal atau nggak ketika dikaitkan dengan apa yang terjadi dilapangan. Kadang kala soalnya suka nggak nyambung apa yang ada diteori dengan yang terjadi dilapangan. Untuk mahasiswa yang orientasinya nilai, nggak akan mereka bisa berkreasi kayak gini Dee. Makanya aku selalu bilangin kamu kalau kuliah itu jangan langsung percaya sama teori 100%. Perlu ada pembuktian. Kalau dipraktikum aja sebenarnya boleh kok kita sanggah Dee ketika si asisten mulai nggak masuk akal jelasinnya. Atau menurut teori A tapi hasilnya B, itu bisa disanggah kalau kita punya hipotesis yang kuat.”

“Iya yank. Itu kan selalu kamu ingetin ke aku. Makasih ya sayang itu kepake banget waktu aku sampling kemarin. Metode sampling aku jadi lebih simpel karena nggak melulu ngikutin metodologi dasar yang nggak fleksibel. Hehe.”

“Iya dong harus kayak gitu. Masa mahasiswa dicekokin teori 100% mulu, kapan mau maju pemikirannya ya kan? Hehe.”

“Iya bener yank. Hehehe.”

Lalu kami kembali membahas tentang teknikalnya. Setelah selesai kami kemudian keluar mencari makan malam. Kami makan disebuah rumah makan ayam bakar. Nggak berapa lama kami menunggu, kemudian pesanan kami datang. Hampir bersamaan dengan itu juga, Anin menyapa gue dan Dee.

“Hai Ja. Weekend ada disini lo ya. hehe.” kata Anin.

“Eeeh, Anin. Sini Nin gabung.” Kata gue.

“Kenalin, gue Anin. Lo pasti pacarnya Ija ya. gue teman seangkatan Ija, tapi gue di fakultas B.” kata Anin ramah sambil mengulurkan tangan ke Dee.

“Hehe iya kak. Salam kenal ya, aku Dee.” Kata Dee sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa nih gue gabung disini?” kata Anin.

“Oh iya kak, nggak apa-apa kok.” Kata Dee.

Kemudian kami bertiga mengobrol ringan di rumah makan tersebut. Dee cepat sekali akrab dengan Anin. Memang pada dasarnya Anin sangat ramah orangnya. Gue melihat beberapa orang cowok yang mungkin masih mahasiswa terlihat beberapa kali melirik kearah meja gue. haha. Gue berasa don juan raja minyak, karena gue semeja sama cewek-cewek kece yang biasanya Cuma bisa ditemuin di fakultas H. Bahkan ini dua-duanya kuliahnya eksakta murni, nggak ada bau-bau ekonominya.

“Gue minta nomer lo dong Dee.” Kata Anin

“Oh iya kak.” Kata Dee

“Wedeh, lo nggak perlu nomer gue Nin? Haha.” Kata gue sok becanda.

“hehe, ngapain lo? mau ikutan girl talk juga emang?” kata Anin.

“Tau ah kamu Zi mau ikutan amat. Hahaha.”

Setelah selesai makan, gue dan Dee berpisah dengan Anin. Entah kenapa gue ingin banget curhat masalah Keket ke Anin. Ini sekarang posisinya bisa berubah gini ya, dulu Anin ngaco banget, sekarang Keket yang ngaco, Anin malah jadi bener. Haha. Mungkin itulah perjalanan hidup masing-masing orang yang berbeda.

Gue mengantar Dee kekampus dulu sebelum pulang ke kostannya dia. Dia mau ngecek persiapan untuk perjalanan ke curug esok hari. Tempat yang sama seperti sebelumnya digunakan untuk final ospek jurusan gue.

“Ini panitianya mantep bener persiapannya. Haha. Beda banget sama angkatan si Diani. Gobl*k banget tu angkatannya. Haha.”

“Gitu-gitu angkatan dia pinter-pinter tau yank. Mereka jadi asisten dulu enak-enak ngajarinnya diangkatan aku. Tapi plis, jangan kasar ngomongnya yank, aku nggak suka.”

“Ya itu kan kalau sendiri, kalau bareng-bareng kan kayak orang beg*. Haha.”

“Udah ah, kamu mah ngeledekin aja. dikata aku nggak suka kamu ngomong kasar kayak gitu, kamu mah ih. Aku kesitu dulu ya.”

Dee bergabung dengan temannya, Manda. Manda kala itu pacaran dengan salah seorang personil GMRD Regency, Yudha. Disana juga lengkap personil GMRD Regency, Yudha, Teguh, Ari dan Dony. Gue juga melihat ada beberapa angkatan Diani yang masih ada dikampus juga turut memantau.

“Hai kak.” Sapa seorang dari belakang gue.

“Eh Liana. Apa kabar Li?” kata gue.

“Alhamdulillah baik Kak. Kakak apa kabar? Tumben malam-malam kesininya? Hehe.” katanya.

“Gue lagi nganter Dee.”

“Oh kalian masih pacaran ya kak. Hehe.”

“Iya, emang lo pikir udah putus gitu? Hehee.”

“Ya kali aja gitu kak, biar aku ada peluang.”

“Yahahaha. Emang lo suka sama gue?”

“Haha bisa aja kak. Perasaan orang nggak ada yang tau.”

“Haha iya deh. Terserah aja. Lo sama siapa kesini?”

“Aku sendirian kak. Kebetulan kostan aku baru pindah kan ke kota, terus katanya ada final ospek mulai besok, jadinya aku kesini numpang nginap di kostan temanku yang lagi S2.”

“Hoo gitu. Lo dimana emang sekarang kerja?”

“Aku di Kementrian xxxx kak, jadi biar lebih dekat aku kost dikota.”

“Lah kenapa nggak pindah ke Jakarta aja Li? Kan lebih dekat.”

“Ongkos sewanya mahal kak. Kan aku masih honorer.”

“Ya lo kan sama juga ngeluarin ongkosnya mahal juga kalo berangkat dari kota.”

“Iya sih, tapi nggak apa-apa lah, yang penting aku udah nyaman kost disana.”

“Emang disana kalo honorer dibayar berapa?”

“….. rupiah kak.”

“Seriusan? Anjir. Itu hampir sama kayak gaji OB dikantor gue dulu Li. Geblek beneran tuh segitu jumlahnya?”

“Iya bener kak.”

“Sadis banget anjir. Beneran dah.”

“Iya emang kak. Aku aja tiap bulan lumayan kecekik juga dengan pengeluaranku. Hehe.”

“Cari pacar aja yang kerja, atau cari duda, sapa tau bisa ke cover semuanya. Hahahaha.”

“Hahaha, ya nggak gitu lah kak.”

“Yaudah ntar kapan waktu kalau mau ketemu lagi ya di Jakarta aja ya. ntar gue traktir makan deh, kesian kayaknya lo nggak pernah makan makanan yang enakan dikit gitu ya? hehehe.”

“Ye, jangan ngeledek gitu dong kak. Haha. Tapi emang iya sih. Yaudah nanti kabar-kabarin aja ya kak.”

“Hehe gampang. Nomor lo masih yang lama kan?”

“Iya masih kak.”

Liana Fiandita. Teman sekelas Harmi dan Tahir. Teman satu daerah asal dengan Dee. Anak ini dulu pacaran mulu kerjaannya waktu jaman kuliah. Bahkan ketika Harmi aja masih jomblo, dia udah ganti ganti pacar sampai berapa kali gitu. Padahal kalau dari tampilan luar, masih lebih cantik Harmi kemana-mana. Tapi Liana ini pergaulannya luas banget dan nggak canggung buat bergaul dengan cowok. Jadinya ya lebih gampang dapet cowok.

Beberapa hari setelah gue selesai sidang, Harmi sempat bilang kalau Liana itu suka sama gue. dari lama. Bahkan dari sebelum gue dekat dengan Harmi. Gila juga. Segitunya dulu dia udah punya cowok, dan beberapa kali ganti, tapi malah bilang sukanya sama gue. hahaha. Kalau kata Harmi sih, dia udah keburu minder duluan karena melihat gue dan Keket yang klop banget. Apalagi dapet predikat beauty-some bullsh*t itu juga lagi kan dulu. Haha. Sekarang pun kayaknya sih masih suka. Cuma udah terlambat karena gue udah keburu jadian sama Dee. Tau gitu kan lumayan juga dulu sebelum gue ketemu Dee bisa dulu lah icip-icip dikit. Hahaha.

Dee tiba-tiba berlari kearah gue dan Liana, kemudian memeluk gue dengan erat. Dia menangis. Gue melihat ekspresi Liana sangat canggung dan bingung mau ngapain. Nggak lama Manda dan Yudha juga ikutan menyusul.

“Dee lo nggak apa-apa kan?” tanya Manda.

“Dee lo sakit apa gimana? Kok tiba-tiba habis ditelepon orang langsung lari. Eh ternyata malah nangis gini.” Kata Yudha.

“Udah-udah, biarin dia nyelesaiin nangisnya dulu aja. Lo berdua mending balik lagi aja, Dee biar sama gue ya.” Kata gue.

“Iya bang, nitip Dee dulu ya bang. Kami belum selesai soalnya.” Ujar Yudha.

“Oke sip. Udah gih selesaiin dulu.”

“Yaudah kak, gue kesana dulu ya.” kata Liana.

“Iya Li, sampai ketemu besok ya.” kata gue.

“Kamu nggak apa-apa yank?” tanya gue.

“Keket Zi…..” jawabnya sambil terus menangis.

“Kenapa lagi si Keket?” kata gue mulai emosi.

“Dia ngancam aku, besok mau dipermalukan. Tunggu aja waktunya.”

“Seriusan dia bilang gitu?”

“Iya aku yang bagian acara, takutnya nanti dibombardir nggak jelas. Soalnya kan acara biasanya yang jadi sasaran utama para alumni di evaluasi yank. Aku takut.”

“Yaudah tenang. Besok coba aku cover sebisa aku ya, nanti dikostan jelasin detail acaranya gimana ya. biar nanti dia nggak coba cari celah.”

“Iya nanti aku jelasin ya Zi.”

“Yaudah Ini udah beres belum?”

“Udah sih kalau acara.”

“Oke kamu pamit aja dulu ya. Baru kita pulang.”

“Oke deh. Aku pamitan dulu.”

Yak, Keket lagi. Sakit ini anak. Gue makin pusing dengan keberadaan dia. Semoga aja besok alumni lain nggak ada yang kena racun omongannya dia.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 24 lainnya memberi reputasi
profile picture
g.azar
kaskus addict
Makin mirip psikopat nh keket buat rebut ija..

Kalo ane jadi ija sh, dijadiin serep kayanya enak juga si keket.. 😋
profile picture
adityasatriaji
kaskus addict
Roman romannya Ija dapet korban lagi nih
profile picture
Martincorp
kaskus addict
Buat mencegah neng keket melakukan hal yg enggak2, serahin aja sm ane om, ane cukup ahli dalam menghadapi cewek2 freak, psikopat dan masokis hahahahaha
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di