CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Poetry /
Ketika Aksara Berbicara
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc10f49f0bdb21fff75ee9e/ketika-aksara-berbicara

Ketika Aksara Berbicara




Kutulis puisi dan kuselipkan di telingamu.
Kelak ia akan ditemukan oleh seseorang yang bukan aku.
Untuk sekarang, kau belum bisa membacanya, atau mendengarkannya.
Meski memang ia tercipta untukmu.

Puisi ini barangkali tidak bagus. Aku tahu.
Tapi kelak kau akan menyukainya.
Ketika orang lain mengambilnya dari telingamu. Membacanya keras-keras.
Tanpa intonasi. Tanpa ekspresi.
Seluruhnya, kau bersedia untuk mendengarkan.

Kau bertepuk tangan. Memujinya.
Sebenarnya bukan lelaki itu.
Tetapi puisi ini. Sebab ia memberimu banyak ketulusan yang belum pernah kau temukan. Meski sebenarnya, ia telah dimiliki olehmu sejak lama.
Terselip di telingamu.

Hanya saja belum pernah kau baca.
Dan belum pernah kau dengarkan.
Karena aku hanya mampu menulisnya
tanpa berani membacakan.

Maka biarkan kutulis puisi ini untuk telingamu.
Dan kuselipkan di sana.
Sampai ada orang lain yang menemukannya.


sudut sunyi/lin, September 2019
***


Berteman Angin

pekat, ya hanya pekat saat ini yang menguasai hati
sepekat kopi yang tersaji di teras ini
menikmati tiap teguk pahit dan panasnya sungguh tak bisa kuceritakan

aku tak ingin ada manusia yang menemaniku di sini
biarkan bangku sebelahku kosong
sepertinya lebih nyaman berteman dengan angin, dia teman baik
walau tak berucap dia pendengar paling setia
walau tak nampak senyum nya, bisa menghilangkan gerah.
tapi jangan tanya bila amuknya menyapa.

dia pandai menyimpan rahasia kesahku
tak perlu lagi ada nyanyian pilu meragu, bahkan terbuang jauh

senja ini aku bersamanya
Menikmati dingin dan mendung yang mulai merapat menyelimuti bumi, bersama semilirnya yang datang dan pergi.
aku hanya meminta, jangan dinginkan kopi ini! biar tetap bisa kuteguk hangatnya hingga ke tulang rusuk ini.


sudut luka, 02.11.2019
***


Pulang

Setangkup kembang sudah kusiapkan
Dalam getar genggaman
Berjalan menyusuri pematang yang basah karena rinai siang ini

Rintiknya masih mengiringi
Membasah dalam hati
Langkahku terhenti manakala masih kuingat tentang senyummu, tentang rayumu tentang senda guraumu

Sial! semua hanya drama yang kau bangun dalam mimpiku

Kini takkan kujumpai lagi tentang semua itu
Aku datang pada pemakaman rasa yang tak perlu lagi menghantui langkahku

Kutabur kembang kebencian pada pusara kekecewaan dan luka.


sudut kecewa, 05.11.2019
***


Lukisan Luka

Siang ini mentari masih terik menemani seorang perempuan yang memanggang hatinya

Dia begitu luka, manakala mimpi-mimpi yang telah digambar pada hatinya musnah

Perempuan luka hanya menunggu senja menyembunyikan segala duka
cemburu yang tumbuh adalah kecewa yang tertanam

tentang ranting patah, daun yang berguguran, juga kemarau yang menyakitkan.

gurat-gurat muram telah dilukiskan dalam dada oleh manusia-manusia tanpa rasa. dan dia harus tetap melangkah diatas serpihan luka.


sudut mimpi, 05.11.2019
***


Selarik Aksara Tunggu

baiklah
aku sudah datang dengan caraku
dari merayap hingga berjalan tegak
tapi sepertinya waktu masih belum berpihak

aku rasa ini gurauan yang memang harus tercipta
di sela-sela kesunyian di relung qalbu
walau sudah ku gantungkan kejujuran pada daun pintumu ataupun daun jendela itu
agaknya masih belum cukup mengusik sanubarimu

di tepi malam diujung September
angin berbisik padaku, agar aku tak lagi menunggu cinta yang semu
sebelum kuberlalu, ijinkan aku menggantungkan selarik aksara di daun telingamu, walau kau tak sudi mendengar itu
mungkin suatu saat ia bisa bercerita padamu tentang sebuah makna tunggu.


sudut kecewa, 05.11.2019

###

terima kasih telah hadir membaca sajak ini


to be continue


emoticon-Nyepi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
delia.adel dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh S.e.m.e.d.i
Kamboja di Kepalaku

Hari ini hujan mengguyur kotaku, basah dan dingin menyapa menusuk dalam pori-pori jatungku
Sedari pagi hanya namamu terbaca di hati dan wajahmu di pelupuk mata

Lalu aku bertanya sendiri
"Sedang apa kau di sana?"

Isi kepalaku hanya ada dirimu dan rasanya aku enggan untuk menggantikan dengan yang lain.

Menarilah menggemulai indah
Bersenandunglah mengiringi langkahku
Tetaplah di sana memahkotai kisah-kisahku selanjutnya

Seperti yang sudah kau katakan, kau memilihku untuk dekat denganmu
Kita rajut sebuah cerita dari garis yang telah langit turunkan
Bagai kamboja-kamboja yang berkilau di bawah terik mentari pagi



ujung rindu, 31 Desember 2019

Next poem
Diubah oleh S.e.m.e.d.i
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di