CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 48 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Sabtu Seru

Memasuki bulan November, kuliah Dee semakin mendekati akhir. Artinya di semester 7 ini hanya tinggal menghitung bulan akan segera selesai. Dee juga sudah memikirkan beberapa alternatif penelitian. Hanya saja dia masih bimbang menentukan akan ikut proyek atau tidak. Ketika dia bertanya kepada gue, ya gue langsung jawab tidak untuk proyek dosen. Proyek-proyek yang menurut gue hanya mengeksploitasi mahasiswa demi kepentingan segelintir orang.

Pada suatu jumat malam gue dan Dee merencanakan untuk jalan-jalan ke kota. Dee sudah meminta gue untuk membawa kendaraan. Gue sebenernya nggak masalah, hanya aja gue agak kurang setuju dengan gayanya ini. Kenapa harus naik kendaraan sendiri? Sedangkan kendaraan umum banyak dikota, walaupun memang nggak senyaman kendaraan pribadi dan akhirnya saking banyaknya kendaraan umum ini menyebabkan kemacetan yang cukup signifikan di kota, terutama akhir pekan.

“Kan harusnya naik angkot aja juga bisa yank, kenapa mesti mobil sih?” kata gue.

“Ya aku kadang kan juga kepanasan yank, masa sampai dilokasi udah kucel?” kata Dee.

“Lah kucel? Bodo amat kali aku mah. Toh kamu dandan juga buat aku kan. Misal dandanannya pudar atau nggak sesuai ekspektasi dan aku nggak masalah, harusnya nggak apa-apa dong. Kamu kan standarnya emang udah cakep, jadi nggak diapa-apain Cuma poles dikit aja udah cukup.”

“Ya tapi kan sesekali boleh yank.”

“Sesekali? Ini udah sekian kali kamu minta aku buat bawa mobil. Kamu juga harusnya ngeh kalau keluarga aku udah nggak kayak dulu lagi yank. Ini mobil tinggal kesisa satu. Satu-satunya yang bisa dipakai buat mobilisasi keluarga aku. Coba kamu bayangin udah jauh-jauh aku kesini, tau-tau Mama mau pakai itu mobil, kita malah batal sama sekali buat jalan kan?”

“Iya aku ngerti kok. Dan aku nggak masalahin keadaan keluarga kamu kayak gimana sekarang. Aku juga nggak sematerialistis itu kok yank. Cuma aku pingin lebih fresh gitu kalau jalan-jalan sama kamu.”

“Iya tau. Tapi kan aku bilang, aku sukanya simpel, nggak usah banyak dandan kayak cewek-cewek kebanyakan, Cuma mau ke mall aja dandan sampai berjam-jam, sampai di mallnya, dilirik orang juga kagak. Haha. Miris kan?”

“Iya yank…..maafin aku. Tapi please sekali ini aja. Ok?”

“Oke lah, aku bawa ya besok…”

Telpon ditutup, dan gue pun agak sedikit tersulut emosi. Emang bener ya anak-anak cewek jaman sekarang makin muda pada makin manja? Apalagi yang cakep-cakep gini. Soalnya dulu beberapa cewek yang gue kenal termasuk mantan-mantan yang semuanya good looking bisa kok diajak susah, diajak sederhana. Sekarang muka cakep dikit langsung nyadar, dan ujung-ujungnya jadi banyak maunya.

Wajar kalau banyak yang single berkepanjangan kan. Yang laki udah keburu minder duluan deketin cewek cakep, yang perempuan sok banyak kriteria, pemilih, dan kadang suka nggak berkaca diri kalau kemampuannya itu minim selain daripada fisiknya yang cakep. Gue nggak mau ngebuat Dee masuk barisan yang terakhir ini. Untungnya kalau dari sisi kepintaran dan kecerdasan, gue nggak perlu ragu untuk memilih salah satu dari sekian ribu cewek yang ada dikampus gue, lah wong masuknya aja seleksinya berlapis-lapis.

Tinggal sekarang mau fisiknya yang cakepnya kayak apa, atau yang sifatnya gimana, atau yang sikapnya gimana. Nggak bisa itu fisik bagus, sifat bagus dan sikapnya juga bagus. Sepengalaman gue mengenal beragam jenis cewek terutama dikampus gue dulu, 3 unsur yang menurut gue bisa saling melengkapi itu nggak bisa semuanya sempurna. Pasti ada yang rendah, ada tinggi. Nggak ada yang tinggi semua ratingnya. Kalau yang mau cakep, anggun, cantik, sikap dan sifatnya baik, tinggal pilih aja cewek-cewek yang saat itu lagi ikutan beauty pageant. Dijamin semua kriteria itu terpenuhi. Tapi setelah ajang itu selesai? Baru deh ketauan asli-aslinya, ya kan? Hahaha.

Gue nggak bisa memaksa Dee untuk jadi jelek, dia nggak jelek. Sifat juga udah bawaan dari sananya. Yang bisa gue atur itu adalah penyikapan dia terhadap segala sesuatu. Itu yang menurut gue kelak bisa membentuk dirinya dalam versi terbaik. Sama dengan yang gue lakukan dulu ke Zalina dan Keket, juga Ara. Tapi ada ketakutan juga pada akhirnya ketika mereka berada dilevel permainan terbaik mereka, mereka malah meninggalkan gue. Nggak semua salah mereka juga sih emang, ada salahnya gue juga. Gue juga punya cacat dimata mereka kok. Makanya mereka memutuskan untuk menjauh dari gue.

--

Sabtu pagi gue berangkat dari rumah dan setelah beberapa jam menempuh perjalanan, gue sampai didekat kostan Dee. Mobil gue nggak bisa masuk kedalam karena nggak muat jalanannya. Hanya bisa motor, itu juga satu. Kalau motornya papasan, mesti ngalah salah satu. Kebayang kan kondisinya begitu, kayak apa emak-emaknya kalau bergosip? Hehehe. Ghibah dibarengi dengan julid serta nyinyir berkesinambungan udah jadi makanan sehari-hari mahasiswa/i yang kost didaerah sini.

Gue selalu bersikap sok asyik aja sama emak-emak yang dari pagi udah nongkrong bersama sambil gendong anak dan berbincang membicarakan tetangganya sendiri. Tebar senyum sana sini biar dikata sok iye juga gue lakuin demi menghindari julidan emak-emak yang kelamaan ditinggal suaminya kerja di Kalimantan ini. Haha.

“Aku Dee.”

“Masuk aja yank.”

Gue pun masuk kedalam kamar Dee. Dia baru beli aromatherapy yang aromanya sangat menyejukkan pikiran dan sepertinya ada sedikit mengarahkan kearah sange ya. hahaha. Tapi ini masih siang banget. kalau berisik ntar banyak yang denger. Ya jangan berisik dong, susah banget.

“Udah siap?” kata gue.

“Sebentar lagi ya.” kata Dee sambil bedakan.

“Udah gitu aja sih, udah cakep.”

“Sebentar dong yank.”

“Kamu nggak mau aku katain kayak cewek-cewek pesolek lainnya kan?”

“Iya sabar. Cerewet amat sih mulutnya. Kuncir juga nih bibirnya.”

“Siang jelang sore pasti macet yank. Kan kamu juga udah tau, udah pernah ngerasain gimana ngebeteinnya kalau macet.”

“Iyaaaaaaaaa…..”

“Yaudah buru. Pake lipgloss aja. Nggak usah pake blush on kamu. Ngapain sih udah kayak mau kemana aja. Ini juga kamu kaosan aja yank, nggak usah ribet-ribet pakaiannya.”

“Kok ngerti-ngertian soal make up sih kamu?”

“Laaah. Kan aku kalau manggung dandan yank. Dan aku selalu make make up Mama atau nggak adik aku. Jadi ya lama-lama ngerti. Aku aja kalau make eyeliner sendiri nggak dibantuin. Hahaha.”

“Hehe. iya juga ya yank. Kamu kalo manggung diacara komunitas pasti dandan, yang santai itu kalau manggung di acara rock.”

“Metal yank..metal…”

“Sama aja ah…”

“Beda lah. Rock mah kurang greget buat aku.”

“Samaaaa………” kata Dee meledek.

Lalu gue menepuk pantat Dee dengan agak keras. Dia malah ketawa dan mengancam akan memukul balik. Gue sih bodo amat yang penting ini udah buruan dah selesai dandannya. Dee lalu berganti dari kaos tidurnya ke kaos berwarna merah yang ternyata kaos titipan gue. Gue emang menitipkan beberapa kaos gue daripada gue susah kalau dadakan datang nggak bawa ganti kaos. Gue kebetulan senang kaos yang pas di badan, nggak kegedean. Kalau kata orang dulu itu kaosnya jangkis. Haha.

“Sini aku lipetin dulu lengannya.” Kata gue.

“Ih emang bagus?” katanya.

“Udahlah nurut aja.”

Gue lalu melipatkan bagian kaos dilengan kiri dan kanan. Ternyata begitu berkaca, Dee suka dengan gaya seperti ini.

“Aku aja dulu jas lab aku lipet gini tau yank. Pokoknya beda dari yang lain aja. Hehehe.”

“Oh iya? Kok kamu nggak pernah cerita?”

“Ya ini makanya aku cerita, Dee.”

Lalu gue menceritakan pengalaman gue menjadi seorang asisten dosen yang mana juga dia lakonin saat ini. Gue ceritakan sambil jalan keluar dari kostannya dia menuju ke mobil gue yang terparkir dipinggir jalan raya disebrang gerbang kampus. Dia sangat senang dengan cerita gue kala itu. Seperti ada kebanggaan tersendiri mungkin ya punya cowok yang dulunya dipercaya sebagai seorang asisten dosen yang juga pernah menjadi koordinator asisten, serta menjadi orang kepercayaan dosen senior sekaliber Bu Ratna.

“Kita ke komplek yang di Barat kota kan? Tapi sabar ya, macet banget kalau kesana.” Ujar gue didalam mobil.

“Iya kita kesana. Kan ada wahana permainan tuh disana. Aku penasaran yank. Kayaknya masih baru nggak sih?”

“Setau aku baru dua tahun lalu berdiri itu wahananya. Yaudah kita cobain aja liat kesana ya.”

Perjalanan gue yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 20 menit sekarang malah udah nyaris dua jam. Untung aja pakai mobil pribadi. Tapi justru disitu ketakutan gue. gue kalau udah nyetir itu gampang banget emosi. Bisa maki-maki orang bahkan kalau perlu diselesaikan dengan turun dari mobil, gue turun. Kalau udah ngata-ngatain ya otomatis kebun binatang dan segala jenis umpatan kasar berkumandang didalam kabin mobil. Dee sangat nggak suka dengan hal ini.

“Kamu bisa nggak sih sabaran dikit gitu.”

“Ini kalau dikasih terus ntar kita nggak masuk-masuk, ntar nggak sampai-sampai ke lokasi yank. Udah kamu tu tenang aja. Kamu tau jalan nggak?”

“Nggak tau yank. Tapi kamu sabaran lah dikit. Jangan ngomong kasar gitu aku nggak suka yank.”

“Dari dulu kan aku kayak gitu ngomongnya yank. Oke aku rem, tapi jangan dilarang, daripada nanti kita malah ribut.”

“Aku nggak suk……”

“BANGS*T! Angkot gobl*k. Main selip aja dari kiri. Mony*t banget ini, anj*ng.” kata gue sambil terus memaksakan mobil dengan menggerung gas agak kencang.

“Bisa nggak kamu nggak maki-maki kayak gitu? Kalau kayak gitu aku mending nggak usah pergi.”

“Aku kan bilang, aku kalau bawa mobil kayak gini, kamu yang nggak mau kan naik angkot? Kamu yang maksa aku buat bawa mobil? Sekarang gaya aku kayak gini kamunya protes. Macet protes. Padahal tadi juga yang lama dandan siapa.”

“Terserah kamu Ja.” kata Dee ketus.

“Ya emang terserah aku, yang nyetir kan aku Dee.” Kata gue nggak kalah ketus.

Gue saat itu emang terbawa emosi karena sudah macet, ini angkot-angkot dan pemotor juga pada ngaco jalannya dan nggak nurutin aturan. Jadinya malah tambah macet. Gue juga ada di sisi pemotor kok tapi karena mungkin gue lebih dulu bisa mengendarai mobil daripada motor, gue jadi lebih santun dan taat aturan dalam mengendarai motor. Itu juga karena gue tau apa yang dirasakan pengendara mobil ketika para pemotor ini pada suka-sukanya aja dijalan.

Ada juga aturan nggak tertulis yang paling ngehek dan bangs*t yang ada di jalanan manapun di Indonesia. Yang gede pasti salah kalau terlibat kecelakaan atau minimal senggolan. Absurd banget. dimana logikanya? Harusnya ya diliat dulu kronologisnya jangan main asal tuduh yang salah pasti pengendara yang mengendarai kendaraan yang lebih besar.

Kayak misalnya sudah ada garis marka pembatas jalan, lalu si motor nyalip mobil disebelah kanan sehingga si motor memakan hak jalan pengendara dari arah berlawanan, sementara dari arah berlawanan itu datang sebuah truk tronton atau mobil dengan kecepatan tinggi dan kemudian terjadi adu banteng. Masa iya truk atau mobil auto salah? padahal si motor yang nggak hati-hati dan jelas menyalahi aturan. Atau atas ketidaksabaran orang-orang, akhirnya banyak pengendara tersambar kereta lewat lalu kemudian menyalahkan keretanya. Pemikiran gobl*k nggak logis macam apa yang perlu dibenarkan dijalanan negara ini? Ironisnya, itu selalu aja terjadi dihampir seluruh daerah di negara ini, nggak dikota nggak didesa.

Dengan kesal gue berhasil melewati macet yang cukup ruwet untuk kemudian masuk kedalam kompleks perumahan. Perumahan yang cukup elit dikota, yang gue taksir minimal harganya rumahnya diatas 1,2 Miliar ketika itu. Rumah-rumah ini juga berdiri diatas tanah sekitar 100-200 meter persegi, dan pastinya dua lantai. Gue juga melihat minimal setiap rumah itu memiliki dua buah mobil. Namun sayangnya dengan adanya wahana yang dibuka untuk umum ini, serta taman dan pemandangan danau yang bahkan gratis untuk dijadikan tempat berkumpul atau pacaran, keasrian dan keindahan penataan komplek ini jadi tercoreng.

Sampah bisa terlihat dimana-mana, ada juga yang vandal dengan mencoret-coret fasilitas umum, dan yang paling mengganggu adalah, parkiran yang sembarangan aja. Terutama motor. Wah parah kalau ini. Satpamnya mesti kerja ekstra untuk menghalau para pemotor yang mau tamasya di luar wahana, karena ternyata masuknya cukup pricey, tapi karena disekitarannya dibuat spot yang kalau jaman sekarang dikata “instagramable” maka pemotor-pemotor yang gagal pacaran elegan didalam wahana, jadi mereka mengambil spot sesuka hatinya yang menurutnya bagus, kemudian memarkirkan motornya sembarangan yang penting jaraknya dekat dengan spot tamasyanya itu.

“Itu liat wahananya, keren juga ya dari luar..” kata Dee sumringah.

“Hehe iya ya, nggak nyangka ada kayak ginian di kota sini ya. pantes orang-orang dari ibukota para piknik kesini. Kadang orang-orang ibukota
itu ngeselin yah, disana kurang fasilitas apa coba kalau ujung-ujungnya nyari wahana kayak gini, nyari mall, padahal disana jauh lebih bagus.”
Kata gue.

“Entahlah yank. Pemikiran orang kan suka aneh-aneh emang. Hehehe.”

“Jadi, kamu udah nggak kesel lagi nih yank?” goda gue.

“Ehhmm…menurut kamu?”

“Udah nggak, itu udah senyum lagi soalnya.”

“Hehe. udah ah masa kesel-kesel terus, kan ketemunya kita juga nggak bisa tiap hari kan yank.”

“Iya makanya jangan suka bikin kesel kamu Dee.”

“Lah yang bikin kamu kesel kan supir angkot yank. Kok jadi aku?”

“Haha iya juga ya.”

Lalu kami memarkirkan mobil disekitaran wahana. Kami masuk dan ternyata wahana ini sangat erat dengan basah-basahan. Jadinya kami urung masuk kesana. Maklum lah kami nggak bawa baju ganti waktu itu. Ntar kalau basah-basahan malah masuk anj*ng, eh masuk angin.

“Kita ke taman itu aja yuk yank, kayaknya bagus juga buat foto-foto.” Kata Dee.

“Haha bisa, gratisan ye.” Kata gue.

Kami kemudian menuju ke taman yang menghadap ke danau, nggak jauh dari tempat gue memarkirkan mobil. Taman yang menghadap danau ini ternyata dibentuk seperti bukit kecil yang makin mendekati danau, tanahnya semakin menurun. Didanaunya juga ada tumbuhan teratai kecil dan besar yang cantik banget. Kami mengambil beberapa kali momen, bergantian, maupun bersama-sama dengan cara swafoto.

Kebersamaan walaupun dengan sederhana ini yang mau terus gue tanamkan ke Dee, agar ketika suatu saat kita dalam posisi susah, dia nggak kaget. Setelah sekitar satu jam saling bergantian memfoto kemudian jalan-jalan disekitar danau, kami kembali ke mobil dengan membeli beberapa cemilan dan minuman. Saat itu sudah sore dan mendung banget jadi gue memutuskan untuk istirahat karena agak capek dan jalanan juga pasti makin macet.

“Kita tiduran dulu bentar disini ya. aku nyalain AC mobilnya.” Kata gue.

“Iya yank aku juga capek dulu. Jalanan juga kayaknya makin sore makin macet kan.” Kata Dee.

Gue dan Dee terlelap tidur. Kami nggak sadar ternyata kami nggak buka kacanya sedikit. Jadinya berembun deh. Walaupun nggak tebal, tetap aja menghalangi pandangan. Apalagi kaca mobil gue itu gelap banget dan mobil gue adalah mobil yang cukup besar dan agak tinggi. Gue tersadar ketika ada yang mengetuk kaca. Ternyata satpam.

“Ini anda sedang apa ya disini?” tanya satpam curiga.

“Oh maaf pak kami ketiduran disini.” Kata gue.

“Banyak embun disekitar kacanya, tolong dibuka sedikit kacanya biar tidak mencurigakan dik.”

“Iya baik pak. Maaf ya.”

“Sebaiknya adik segera pulang karena lahan parkir ini akan ditutup sekitar satu jam lagi.”

Gue melihat jam sudah jam 16.00 saat itu. Berarti tutupnya jam 17.00 ya. Udah kayak jam orang pulang kerja aja. Haha. Gue lalu membangunkan Dee dengan menyentuh pipi sebelah kanannya. Agak lama juga dia bangunnya ya. mana tidurnya rada bunyi lagi. Haha.

Nggak lama dia kemudian bangun dan tersenyum ke gue. sejurus setelah menggerakkan badan khas orang baru bangun tidur, dia langsung menarik gue dan melingkarkan tangannya dileher gue. Kemudian nggak pakai ancang-ancang dia langsung nyosor aja bibir gue yang belum sepenuhnya siap. Gue yang udah kaget, yaudah lanjutin aja lah ya. Ternyata dapat serangan dadakan itu seru juga. Cukup lama lah french kiss dan bermain lidah sampai pegel, sampai akhirnya berhenti sendiri karena pada kecapekan. Hehehe.

“Kita lanjutin di kostan aja deh.” Kata Dee.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 19 lainnya memberi reputasi
profile picture
ferimartin22
kaskuser
WAHHHH ayo apa yang akan terjadi setelah ini , Kita saksikan permisa hahaha
profile picture
ferimartin22
kaskuser
Apa kah nanti seprti naswi ketika di hotel sama hayati haha
profile picture
Martincorp
kaskus addict
@ferimartin22 digerebek pas lagi pemanasan maksudnya om? emoticon-Ngakak
profile picture
ferimartin22
kaskuser
Nah tepat hahaha
profile picture
yonefian
kaskuser
wayahe wayahe wayahe wkwkwk
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di