CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 48 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Awal Mula Kekacauan

Kala itu memasuki bulan Agustus, dimana gue banyak meeting untuk proyek. Salah satu proyeknya yaitu studi kelayakan pembangunan sebuah rumah makan baru, lebih tepatnya membuka cabang baru. Gue dan Mas Sigit dikirim untuk mewakili kantor gue. Sebelumnya tim marketing dan juga si bos berhasil mendapatkan pekerjaan ini. Gue cukup senang karena ini merupakan jenis pekerjaan yang relatif baru.

Gue juga baru aja dinyatakan lulus (tanpa HER tentunya) pendidikan tingkat madya oleh asosiasi yang mana akhirnya membuat gue memegang sertifikasi madya termuda dalam sejarah asosiasi ketika itu (23 Tahun). Tetapi aturannya adalah, gue harus berpengalaman dibidang ini dulu sekitar dua tahun, sedangkan gue baru berpengalaman kurang dari dua tahun, baru Januari tahun depan gue genap dua tahun berkecimpung di bidang kerja ini dan berhak memakai predikat madya gue.

“Lo udah tau kalau dikantor pusat lagi gonjang ganjing?” kata Mas Sigit.

“Nyokap sempet nyentil sih, tapi gue nggak tau detailnya Mas.” Kata gue.

“Iya, ternyata petinggi-petinggi yang udah dipercaya dan ditolongin sama babeh dan om lo di masa lalu itu pada gila kelakuannya. Ngebikin perusahaan jadi nimbun utang gede banget. Gue nggak tau detailnya, mungkin si Ibu bisa jelasin lebih detail ke lo Ja.”

“Hmm. Mungkin nanti kali ya, gue mau konsentrasi aja ke pekerjaan yang ini. Soalnya kemarin kan gue udah lulus sertifikasi tingkat madya, jadi ini saatnya mempraktekkan ilmunya. Hehehe.”

“Haha iya yaudah. Tapi lo pantau juga yak. Takutnya malah si ibu jadi kepikiran sendirian. Ntar malah stres.”

“Oke Mas. Yaudah ayo kita jalan meeting.”

Gue dan Mas Sigit berangkat dari kantor menggunakan mobil kantor menuju ke Pusat Kota Jakarta. Kemacetan sudah menghadang kami dari awal kepergian kami dari kantor. Gue sampai ketiduran, terus bangun lagi, ketiduran lagi, bangun lagi, tapi tetap nggak sampai-sampai. Sekitar satu setengah jam kami menembus kemacetan ibukota dan sampailah kami ke gedung yang tertera di undangan via surat elektronik.

Gedung 5 lantai ini bercorak klasik tapi sangat elegan dan enak banget suasananya dipakai kerja. Mas Sigit memperkenalkan diri ke resepsionis dan kami diminta untuk menyerahkan tanda pengenal kami dan ditukar dengan kartu Visitor. Kartu ini sebagai akses masuk melewati gate yang harus di tap-in terlebih dahulu, kayak Commuter Line atau Busway lah kurang lebihnya kalau jaman sekarang.

“Dari konsultan ya? mari Silakan, saya antar ke ruang meeting.” Sapa Satpam jaga ramah.

Lalu gue dan Mas Sigit masuk kedalam. Tidak berapa lama salah seorang direksi masuk kedalam, kemudian disusul oleh pemilik perusahaan. Kemudian persentasi kami dimulai. Gue dan Mas Sigit awalnya cukup gugup, tapi akhirnya kami bisa mengendalikan situasi. Mungkin Mas Sigit lebih berpengalaman ya, jadi gue yang belum banyak pengalaman mendapatkan ilmu baru lagi. Selama kurang lebih satu jam gue dan Mas Sigit bergantian persentasi dan ada sesi tanya jawab, akhirnya disepakati kapan pelaksanaan pekerjaan, berapa lama, siapa aja tenaga ahlinya dan sampai pada output yang harus diselesaikan dalam jangka waktu yang udah disepakati.

Setelahnya kami dijamu makan siang oleh klien kami. Pada saat inilah gue melihat sosok yang udah sangat lama nggak gue lihat dan gilanya dia makin cakep dengan rambut tetap sebahu tapi diujung-ujungnya dibikin ikal gitu.

Anin.

Gue sampai bingung kenapa selalu ketemu Anin disaat-saat yang nggak terduga, dulu di mall pas direstoran yang ternyata punya bapaknya, dan sekarang disini, di proyek yang jangan-jangan direktur utamanya itu bapaknya juga. Gue nggak pernah tau nama lengkap dia. Gue juga nggak berteman dengannya di sosial media. Gue mau mengubur dalam-dalam keberadaan dia dalam hidup gue. Dia yang udah sukses membuat Zalina jadi rusak serusak-rusaknya, dan pemikiran licik lainnya yang membuat gue sangat muak. Tapi entah kenapa, gue liat Anin yang sekarang sangatlah berbeda.

Anin yang didepan gue dan Mas Sigit saat ini adalah Anin yang jauh lebih cantik dari jaman kuliah, ramah, humble dan tutur katanya juga sangat lugas dan jelas. Beda ketika waktu kuliah dulu yang logatnya agak dipaksakan dengan logat ala anak selatan.

Spoiler for Mulustrasi Anin Saat Cerita Ini:


“Ijaaa…. Ya ampun apa kabarnya lo?” kata Anin terlihat surprise.

“Eh, Anin. Kabar baik banget Nin. Lo gimana?” kata gue sok asyik.

“Jadi yang nanganin proyek ini kantor lo Ja?”

“Hehe begitulah Nin. Ini gue sama atasan gue, Pak Sigit.” Kata gue memperkenalkan Mas Sigit.

“Halo Pak, selamat datang ya. Saya Anin. Kebetulan saya yang nanti bantu operasional selama proyek ini berjalan. Bapak bisa hubungi saya terkait data-data atau dokumen yang diperlukan ya pak.” Kata Anin lugas dan selalu tersenyum manis.

“Saya Sigit. Baik Bu, nanti paling yang berhubungan dengan Ibu adalah Mas Ija aja, karena sepertinya Ibu dan Mas Ija sudah kenal sebelumnya.” Kata Mas Sigit sopan.

“Iya pak, kami kebetulan teman kampus dulu.” Kata Anin.

Setelah Anin masuk, suasana jadi lebih cair. Ternyata sesuai dengan dugaan gue, bapaknya Anin adalah pemilik perusahaan ini. Berarti bapaknya ini beli franchise restoran baru lagi ya. padahal dulu aja udah ada. Pebisnis yang sukses. Pikir gue.

“Ja, kalau emang ditakdirin untuk ketemu, kita bakal ketemu terus dimanapun ya.” bisik Anin.

“Hehe iya Nin.” Kata gue gugup.

“Nomer gue masih yang lama….”

“Oke ntar gue hubungin kalau ada waktu.”

“Saat ini lo pasti ada waktu buat gue Ja.”

Gue nggak menyahut lagi pernyataan terakhir Anin. Gue bimbang. Apakah Anin yang sekarang adalah Anin yang sama seperti yang dulu gue pernah kenal? Ataukah saat ini dia udah berperilaku lebih baik? Kalau mau tau jawabannya ya gue harus memulai komunikasi dengannya kembali. Sesuatu yang agak berat untuk gue lakuin, tapi entah kenapa gue penasaran.

Gue dan Mas Sigit berpamitan setelah selesai makan siang bersama. Anin juga mengantar sampai ke lobi. Dia lalu mengode untuk ditelepon dan gue hanya bisa tersenyum aja. Nggak ada raut licik seperti dulu, gue melihat Anin yang udah sangat berbeda saat ini. Jauh lebih dewasa, mudah-mudahan. Gue nggak ada hati sama sekali sama anak ini, gue hanya penasaran apa yang membuatnya sekarang lebih anggun dan lebih menjaga sikap. Apakah karena ada dikantor? Apakah karena ada bokapnya didepannya ketika itu? Ah gue nggak tau lagi. Bodo amat juga.

“Ja, itu temen lo? anjir cakep sia.” Kata Mas Sigit dengan logat sundanya.

“Cakep-cakep lah temen-temen gue mas. Hehe.” kata gue bangga.

“Bisa atuh dikenalin ke gue.”

“Lah lo kan udah kenalan tadi?”

“Haha maksudnya lebih intens gitu.”

“Lo kan udah punya anak istri Mas. Mana cantik juga istri lo kali. Haha. Gelo lo mah ah.”

“Ya mereka kan diluar kota, kalo disini kan gue sendiri Ja. hehe.”

“Yaudah usaha sendiri atuhlah. Hahaha.”

“Heeeuh sia mah kumaha sih.”

“Laaah, ya usaha dong, situ GM, mau dapet siapapun bisa Mas. Emang gue karyawan rendahan. Hehehe.”

“Hahah, ntar pada masanya lo juga bisa ada di posisi gue, bahkan bisa punya usaha sendiri. Darah pengusaha itu udah ada dikeluarga lo Ja.”

“Haha nggak tau lah mas, pokoknya gue jalanin aja yang menurut gue asik. Hehe.”

Mobil sudah sampai dikantor lagi dan Feni langsung nyamperin gue.

“Ja, malam ini gue nginep dikostan lo ya?” kata Feni.

“Oke Fen. Emang ada apaan tumben banget lo?” kata gue.

“Gue dapet beberapa gosip tentang kantor ini dan juga kantor pusat.”

“Ha? Gosip apa?”

“Skandal para petinggi kantor ini. Masalahnya sampe nyeret-nyeret pemilik kantornya juga.”

Gue langsung diam membisu. Yang ada dipikiran gue saat itu cuma Mama. Ada apa dengan semua ini? Kenapa jadi kacau semua? Dari dulu kayaknya udah belasan bahkan puluhan tahun kantor ini dibangun, satu tahun setelah gue lahir sampai sekarang, bahkan sempat melewati krisis moneter besar tahun '98 dimana banyak perusahaan pesaing yang gulung tikar, sekarang ikut-ikutan krisis. Dan penyebabnya ada skandal besar para petingginya? Berarti petinggi-petinggi ini yang dulu ditolongin bapak gue dan om gue dong, yang semuanya diberikan pendidikan dan pengetahuan dari nol sampai jadi stakeholder perusahaan sebesar ini? Ah gue bingung.

--

Hari jumat sudah tiba, sedangkan pikiran gue terhadap gosip yang diomongin Feni dikostan mengenai kekacauan manajemen dikantor pusat yang berimbas ke beberapa perusahaan lainnya terus menghantui gue. jadi gue memutuskan untuk pulang saja kerumah. Gue mau mendengarkan penjelasan versi Mama. Mas Sigit yang juga udah gue ajak ngobrol mengatakan hal yang sama, bahkan lebih detail dari Feni. Tapi yang jelas, sumber informasi yang pasti akurat itu ada ditangan Mama seorang. Mama juga akhirnya mengetahui setelah sekian lama kalau anaknya ini kerja disalah satu perusahaan milik Papa dengan diam-diam. Dia bangga karena nggak banyak yang tau tentang keberadaan gue dikantor kecuali Mas Sigit yang emang udah kenal lama sama keluarga gue dan keluarga Om gue.

Gue udah sampai dirumah jumat malam dan santai-santai dulu. Kebetulan Mama masih ada urusan diluar dan belum pulang. Dania yang seangkatan dengan Dee juga masih sibuk dengan kuliahnya dan otomatis nggak ada dirumah. Entah kenapa, gue malah ingin telponan dengan Anin waktu itu.

Quote:


Pembicaraan selanjutnya lebih kepada kenangan-kenangan masa kuliah dulu dan gue menyetujui untuk makan siang dengannya di jam kerja lain waktu. Kalau weekend gue udah bilang gue akan kekostan Dee untuk pacaran. Ternyata Anin belum lulus dan kostan sultannya itu masih diperpanjang, jadi ada peluang kalau weekend dia juga ada disekitar kampus untuk menyelesaikan skripsinya, sementara hari kerja dia membantu ayahnya dikantor sambil menyicil skripsinya juga. Emang lulusannya ini membutuhkan waktu lebih dari empat tahun untuk lulus dan jadi sarjana. Entah kenapa bisa begitu. Kalau gue jujur aja udah muak banget kuliah eksakta terus. Hahaha.

Gue mendengar deru mobil Mama diluar. Mama udah pulang. Ini saatnya gue harus tau penjelasannya.

“Mama udah tau apa yang mau kamu tanyain, Le.” Kata Mama dengan wajah lelah.

“Iya Ma. Sekarang kan Aku udah kerja juga, jadi bisalah mama berbagi pikiran Ma. Jangan dipikirin sendiri. Ya Ma?”

Lalu Mama kekamarnya dulu untuk berganti baju dan membersihkan mukanya dari make up. Setelahnya Mama bergabung dengan gue dimeja makan sekalian makan malam bersama.

“Le, kamu kuat nggak sih kalau kita hidup sederhana?”

“Hah? Sederhana gimana?”

“Ya nggak punya apa-apa lagi, nggak ada lagi rumah besar ini, nggak ada lagi mobil yang jumlahnya lebih dari satu, nggak ada lagi uang berlebih dan segala macamnya.”

“Ma, aku sih udah biasa kan hidup kayak gitu semenjak dulu kejadian mudik dikampungnya Bi Yuni, tapi kenapa kita bisa kehilangan semuanya?”

Mama bercerita dari A-Z tentang semua permasalahan yang ada dikantor Papa gue. Gue nggak akan detailkan ceritanya disini karena terlalu rumit. Intinya adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang kepercayaan papa dan om gue. Mereka seperti orang rakus dan suka-sukanya aja mengelola perusahaan. Awalnya perusahaan akan diserahkan kepada gue dan sepupu gue, Edmiral, biasa dipanggil Emir sebagai keturunan langsung Papa dan Om gue.

Kebetulan Emir seumuran sama gue dan lulusan salah satu universitas berskala internasional di Jakarta. Tapi karena gap usia yang kelewat jauh, ketika Papa meninggal dan Om yang sudah nggak banyak aktif berkecimpung di bisnis, kemudian jadinya diserahkan oleh orang-orang yang ditolong sama Papa dan om di masa lalu. Benar-benar dididik dari nol, nggak bisa apa-apa, nggak punya apa-apa, sampai akhirnya bisa segalanya dan punya segalanya. Tapi itu hanya membuat mereka lupa daratan. Pada akhirnya tampuk kepemimpinan nggak pernah sampai ke gue dan Emir. Itu yang membuat gue sangat sakit hati dan menumpuk dendam hingga saat ini, bukan karena gue nggak bisa menikmati instannya kepempimpinan, tapi lebih kepada mereka yang nggak tau terima kasih dan malah meninggalkan luka dalam setelah dulu dibantu.

Ibaratnya, kalau kata om gue, bapaknya si Emir, ini orang-orang dulunya diangkat dari comberan, busuk, lusuh, kotor. Terus dibawa masuk kedalam oleh tuan rumah (Papa dan Om). Dibersihin, terus disekolahin biar pinter, nantinya biar bisa bantu ngebimbing anak yang punya rumah ke level maksimumnya dimasa depan dan bersama-sama mereka merengkuh kesuksesan. Eh nggak taunya malah pergi dari rumah ninggalin t*i, udah gitu t*inya yang suruh bersihin adalah tuan rumah yang dulu membuatnya jadi kinclong dan penuh ilmu pula. Bukannya mau pamrih, tapi apa yang dilakukan mereka ini sungguh diluar perkiraan. Gue aja berpikir, untung bapak gue udah meninggal, kalau dia masih hidup dan melihat kekacauan luar biasa ini, bisa mati berdiri beneran ini bapak gue.

Gilanya, mereka ini bekerja sama untuk membuat perusahaan yang setipe dengan usaha yang dirintis Papa dan Om gue dan menggunakan aset dari perusahaan papa, entah gimana caranya. Akhirnya yang menanggung harus owner dan berakhir pada habisnya seluruh kepemilikan harta benda baik dari pihak Papa dan Om gue. gue harus bersiap pindah ke rumah gue yang lama di daerah asal gue, dan tidak lagi tinggal di ibukota karena rumah ini sudah bukan milik keluarga kami lagi.

Gue shock ternyata sampai sebegitunya mereka berkhianat. Gila. Untung adik gue disana menggunakan beasiswa, kalau nggak dia bisa putus ditengah jalan kuliahnya. Gue sih menerima karena emang gue biasa untuk hidup sederhana. Tapi adik gue sepertinya nanti bakalan susah deh. Padahal dari dulu gue udah ingatkan supaya dia itu bisa mengurangi gaya hidup berlebih-lebihannya, karena masa depan siapa yang tau. Dan sekarang kejadian kan.

Keluarga kami udah nggak punya apa-apa. Tinggal nunggu eksekusi diakhir taun aja. Walaupun masih banyak proyek yang gue tangani sampai akhir taun, tapi gue udah tau duluan kalau seluruh perusahaan akan ditutup diakhir taun ini. Gue langsung berpikir bagaimana nasib para karyawan dikantor? Yang dikantor gue aja udah banyak, belum dikantor-kantor Papa lainnya. Aduh kepala gue langsung pusing seketika. Mama gue lebih parah lagi. Pantas dari sebelum gue lulus mama suka keluar malam itu ternyata berdiskusi tentang ini kepada para kolega ataupun saudara.

“Dee, aku mau cerita…”

Gue pun bercerita ditelepon mengenai ini semua. Entah kenapa gue percaya banget ke dia. Dee sempat menangis dan terus memberikan semangat, tapi entah kenapa, yang gue butuhin bukan sekedar semangat di mulut, tapi do something buat gue, kuatin gue. itu yang nggak pernah dilakuin Dee, dia selalu menyemangati hanya di omongan saja tanpa banyak action pasti yang bikin mental gue jadi bagus lagi.

Sabtu siang dibulan Agustus juga gue memutuskan untuk nggak ketempat Dee, karena gue masih ngerasa dia kurang perhatian ke gue. sementara gue selalu siap sedia untuknya dalam keadaan apapun. Bahkan ketika kostan dia mati listrik pada suatu malam ditengah minggu aja, gue pun datang mengunjunginya dan mengarahkannya untuk menumpang meningap di GMRD Regency tempat teman-temannya bermukim, tentunya dengan gue yang meminta disediakan kamar untuknya.

“Kita makan dimana Ja?” kata Anin.

All You Can Eat itu aja mau?” kata gue

“Ayo. Gue juga pingin makan banyak nih. Hehehe.” Kata Anin.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
profile picture
Martincorp
kaskus addict
Widih, bang ija punya perusahaan konsultan ternyata yah hahahaha.... Ente biasa dapet proyek apa om, jd perencana atau pengawas?

Kayaknya kita satu ilmu deh om, teknik sipil soalnya pas baca part ini, bidang kerjanya sama tapi beda instansi
Pantesan bang ija jago urusan "penetrasi dan konsolidasi" sm cewek hahahahahaha
profile picture
deawijaya13
kaskus addict
Nebar jala dlu ah... baru baca n coment like n share hahahahah
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di