KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 47 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Back To Campus, Again

Gue mengambil cuti dua hari di hari kerja. Waktu itu gue lagi stuck banget dikerjaan makanya akhirnya gue minta cuti dadakan, untung dikasih. Jadinya gue memutuskan untuk datang ke kampus aja nemuin Dee dan juga nemuin beberapa teman dan dosen yang mungkin masih ada dikampus. Harusnya kalau dosen sih pasti masih ya.

Hari cuti gue itu rabu dan kamis. Ternyata Dee yang kala itu jadi asisten dosen salah satu mata kuliah, sedang menjalankan tugasnya sebagai pengawas UAS. Lab Dee nggak ada praktikum lapangnya. Jadi dia full di lab kalau mengajar. Beda sama lab gue yang ada praktikum lapangnya di semester genap, sementara di semester ganjil dengan mata kuliah berbeda gue nggak ada praktikum lapangnya juga.

“Yank nanti nunggu sebentar nggak apa-apa kan? Aku ngawas ujian dulu.” Katanya

“Santai aja yank, disini juga aku palingan mau muter-muter keliling, terus ketemu Mbak Yanti di TU atau ketemu si Benu di Lab atas.” Kata gue.

“Iya sih, disini teman kamu pasti masih banyak yang stay ya.”

“Ho oh. Belum lagi kalau ada waktu mungkin aku mau ketemu pembimbing skripsi aku, antara Pak Ferdi ataupun Pak Ahmad. Kalau mereka ada ditempat itu juga.”

“Iya yank. Eh yank, btw nanti skripsi aku aturannya kita dipilihin sama akademik loh buat dosen-dosen pembimbingnya. Kamu kan dulu bisa mengajukan nama dosen sendiri kan untuk direkomendasiin sebagai calon pembimbing kamu?”

“Iya dulu aku gitu. Makanya dosen-dosen favorit macem Pak Ferdi gitu peminatnya banyak banget. untung aku kepilih. Bahkan sempet bantu-bantu dia selama aku penelitian sampai sebelum aku bener-bener ninggalin kampus ini. Bagusan sekarang, jadinya merata tuh yank, dosen-dosen kebagian mahasiswa bimbingan.”

“Bener yank. Aku setujunya juga gini, jadi nggak ada kesenjangan. Kita ajuin proposal ke bagian akademik nanti mereka yang ngarahin cocoknya dosen mana yang jadi pembimbing kita.”

Lalu nggak lama obrolan kami terpotong dengan kedatangan seorang cewek teman Dee. Kami saat itu lagi ngobrol di ruang tamu kostan Dee, sebelum berangkat ke kampus. Ujian waktu itu dimulai jam 10 pagi. Cewek itu bernama Hairunissa. Satu kata doang. Anak ini berkerudung, tingginya sama dengan Dee, putih dan manis kok.

Dia kacamatanya tebel banget, sampai-sampai kalau dia membuka kacamata itu matanya keliatan kecil kayak nobita gitu dan dianya juga jadi nggak bisa liat apa-apa.

“Anis.” Katanya menjulurkan tangan ke gue.

“Ija. Salam kenal ya.” kata gue sambil senyum.

“Nah ini yank, sahabat aku dari tingkat satu dulu. Dia dari Fakultas I. itu tuh yang jurusannya banyakan cewek dan kece-kece. Maklum kuliahnya kan ecek-ecek jadi nggak perlu anak pinter disana, yang penting dandan aja yang cantik. Haha.” Ledek Dee.

“Hiiih enak aja lo Dee, gue gini-gini masuk kampus via PMDK (masuk tanpa tes karena prestasi akademik SMA) kali, sama kayak lo. Udah jangan dengerin dia Kak, anaknya suka ngiri mentang-mentang jurusan gue santai kuliahnya, nggak kayak kalian padet dan susah. Hehe.” Anis melakukan pembelaan.

“Haha iya Nis. Santai lah.”

Kami berangkat bareng ke kampus dengan berjalan kaki. Gue nitip tas dikamar dia. Gue seperti biasa, pakai kaos hitam bergambar band metal kesayangan, dan cuma bawa dompet, earphone sama make topi. Nggak lupa juga kacamata.

Sepanjang jalan yang lebih bawel ini ternyata si Anis. Dia cerita katanya punya cowok yang lebih muda dari dia, beda kampus. Ketemunya juga pas lagi ada acara jazz gitu didekat rumahnya. Dia juga udah ditinggal ibunya karena sakit jantung belum lama ini. Jadi dia sekarang tinggal Cuma sama bapak dan kakaknya. Kakaknya jarang pulang karena bertugas di salah satu lembaga pemasyarakatan di Jawa Tengah.

Nggak kerasa udah sampai aja dikampus. Kampus yang memberikan gue banyak kenangan, baik yang seru, senang, sampai yang menyakitkan sekali. Gue selalu bangga menjadi lulusan kampus ini, walaupun di dunia kerja, almamater sama sekali nggak berpengaruh, yang berpengaruh adalah bagaimana cara lo bekerja dan orang-orang melihat kinerja lo setelahnya, bukan dari mana lo lulus.

“Aku briefing dulu ya yank. Kamu mau kemana ini?” tanya Dee.

“Aku paling keliling-keliling aja liat-liat sekitar mana tau ada temen atau dosen yang aku kenal.” Jawab gue.

“Lo mau kemana Nis?” tanya gue.

“Ya paling nanti kekampus aja. Sekalian gue lanjutin ngobrol sama lo aja kak.” Jawab Anis.

“Kalian ke kantin aja nunggu, kalo ngobrol juga palingan nggak berasa kan? Cuma satu setengah jam kok aku ngawasnya.” Kata Dee.

“Yaudah gampang Dee. Kamu briefing dulu gih biar ga telat. Semangat sayang.” Kata gue sambil mengacak rambut bobnya.

“Makasih Yank.” Katanya sambil tersenyum manis.

“Yaudah sambil jalan aja yuk Nis.” Ajak gue.

“Ayo kak.” Kata Anis.

“Panggil nama ajalah, males gue dipanggil-panggil pake embel-embel gitu.”

“Tapi nggak enak kak.”

“Udeh santai aja.”

“Oke deh…Ija.”

Kemudian gue menuju ke kantin bareng sama Anis. Selama dikantin gue ngobrol-ngobrol ringan aja masalah kuliahnya. Ternyata kuliah dia emang gampang ketebak banget. haha. Pantes aja lulusannya IPKnya gede semua, biasanya diatas 3,3 dan rata-rata lulus 3,5 tahun.

Lulus 4 tahun itu agak langka dijurusannya dia. Sementara di jurusan gue, lulus 4,5 tahun aja udah syukur, IPKnya juga nyampe 2,75 aja udah syukur banget. tapi pas didunia kerja, ya nggak dilihat itu gimana. Yang dilihat itu ya lulusan kampusnya, IPKnya dan kemampuan personalnya.

Anis pamit duluan mau ke fakultasnya. Jurusan dia ini relatif baru, hasil dari pemecahan dengan jurusan lain. Fakultasnya pun berubah dari yang awalnya masuk di Fakultas A sampai pada akhirnya sekarang ada di fakultas baru dijaman gue, Fakultas I. Tapi tetep aja intinya mah kuliahnya gampang. Hahaha.

Praktikumnya juga nggak ada yang di Lab. Semuanya dikelas dengan asisten dosen yang sedikit jumlahnya. Palingan ada KKN. Sedangkan jaman gue KKN belum ada dijurusan gue, sedangkan mulai angkatan Dee KKN jurusan gue pun diadakan.

Banyak perubahan sistem yang udah pernah gue ceritain di part-part cerita sebelumnya. Intinya adalah, ada perbedaan yang cukup signifikan antara angkatan gue dan angkatan Dee sampai saat ini.
Gue berinisiatif ke Lab tempat Benu, kakak kelas sekaligus kawan karib gue dikampus ini. Gue udah lama banget nggak ketemu dia.

Sesampainya di lab Benu, ternyata si Benunya nggak ada. Hanya ada beberapa anak yang seingat gue angkatan Diani sedang mengintip objek di mikroskop. Lab gue dulu juga identik dengan mikroskop tapi berbeda bidang dengan Lab Benu.

Benu itu termasuk beruntung karena kawan-kawannya yang lain yang IPKnya nggak sampai 2,5 kayak dia banyak yang belum bekerja, atau bahkan Cuma bantu-bantu dosen yang penghasilannya juga nggak seberapa. Sementara dia jadi laboran yang notabene seharusnya anak-anak cerdas.

Gue nggak ngeraguin Benu dibidang Labnya ini, karena dia mengambil mata kuliah ini dua kali, waktu angkatannya dapat matkul ini, dan kemudian bareng angkatan gue karena mengulang. Haha. Plus kerjaan dia tiap hari kan ini terus, yaudah lama-lama jadi jago. Minimal jago ngeles, spesialisasinya dia dari dulu. Hahaha.

“Ting. Dimana lo?” tanya gue ditelepon.

“Gue lagi ke lab lantai atas. Lo lagi dikampus Ja?”

“Iye cuy. Turun lo buru. Gue udah di lab lo nih. Sepi bener. Haha.”

“Maklum lagi ujian cuy. Kalau ujian praktikum baru rame dah.”

“Yaudeh buru lo turun. Haha.”

Tidak berapa lama Benu udah masuk kedalam Lab dan mengagetkan gue. kami saling berpelukan karena emang udah lama banget kami nggak ketemu.

Temen tandem gue main PS direntalan atau suka dateng ke kostan gue Cuma buat main PS bareng kakak kelas pengulang rutin lainnya kayak Amal, Yuar dan Dani. Haha. Dalam beberapa kesempatan, PS gue suka dipinjem sama mereka buat dimainin dikostannya.
Kostan mereka dulu Cuma dua blok dari kostan gue. Kalau gue di Blok C, mereka di Blok A. Agak kedepan.

“Gimana kabar lo?” tanya Benu.

“Baik dong. Haha. Lo udah lama cuy jadi laboran?” kata gue.

“Haha setaunan bro.”

“Bisa lo ya? dulu aje ngulang matkul ini bareng angkatan gue. hahaha.”

“Bukan ngulang gue, itu pendalaman materi, makanya gue bisa keterima di lab ini. Soalnya banyak dan sering gue berkutat di bidang ilmu ini.”

“Haha anj*ng masih aja ngeles lo bangs*t. Segala pake dikata pendalaman materi. Ngulang mah ngulang aja Ting. Haha.”

Saat ini si Benu udah nggak gondrong lagi. Yaiyalah, kampus gue kan banyak banget aturan terutama penampilan baik, yang malah bikin manusianya jadi makin cupu.

Rambutnya udah rapi sekarang jadi nggak begitu kelihatan keriting, dan badannya makin gede. Dasarnya dia udah tinggi dan kulitnya agak sawo matang, sekarang makin makmur jadinya makin serem penampakannya, apalagi ditambah sekarang agak berewokan pula. Haha.

Gue dulu juga awalnya ngeri liat ini orang. Orangnya gayanya kalem, tapi mukanya serem. Waktu mau minta tanda tangan sekaligus kenalan sama dia, Amal, Yuar dan Dani sehabis jumatan aja gue dikerjain dulu. Bangs*t emang ini orang. Eh taunya dua tahun kemudian mana sangka dia duduk disebelah gue, kuliah bareng, sebagai mahasiswa pengulang pada beberapa mata kuliah karena hampir seluruh matkul disatu semester dia ulang. Hahaha.

“Eeeh, Ijaaa….” Kata suara dibelakang gue.

“Waaaaaa….Shella…apa kabar lo? udah balik dari Jepang lo?” kata gue. lalu bersalaman dengannya.

“Haha. Baik Ja. gue udah sekitar empat bulan disini. Gue sekarang di Lab lo. yang bantuin Bu Ratna buat ngoordinir asisten sekarang gue Ja.” kata Shella.

“Haha oh iya? Lo kok kagak ngabarin gue Shel?”

“Yah, gue aja disini belum ngabarin semuanya. Orang rumah aja baru bokap aja yang dikabarin, nyokap belum.”

“Adik-adik lo gimana?”

“Mereka alhamdulillah lancar banget semuanya, sekolahnya lancar, yang adik gue dibawah gue dua tahun juga lancar aja kuliah, udah skripsi juga dia.”

Shella Tizana. Kawan karib gue yang nggak banyak gue ceritain dicerita gue sebelumnya. Dia adalah sahabat beda kelamin gue dikampus. Selain sahabat-sahabat angkatan Benu, dan sahabat-sahabat Kostan gue, dia adalah sahabat sharing gue. Tempat gue curhat segala macam. Dari mulai kesulitan kuliah gue sampai urusan asmara. Pun dia juga begitu.

Dia banyak bercerita tentang masalah pribadinya yang nggak pernah di share sama orang lain. Oh iya, anak ini agamanya termasuk kuat, pake kerudungnya juga agak panjang, tapi nggak konservatif banget pemikirannya. Itu yang gue respek banget sama dia.

Dia juga teman diskusi gue masalah-masalah yang terjadi sama bangsa ini, masalah politik, ideologi, agama, mencoba melihat masa depan bangsa dari kacamata sains, dan sebagainya. Dia juga suka tentang sejarah atlantis, sama kayak gue.

Gue dan Shella pernah dateng ke seminar bedah buku tentang atlantis yang diadakan oleh LIPI yang ada di ibukota yang mana mengundang pengarang bukunya langsung yang didatangkan dari Inggris. Shella ini luar biasa encer otaknya. Dia adalah lulusan terbaik angkatan gue, tapi wisudanya lebih duluan dari gue.

“Berasa reuni kecil ini…” Benu menyahut.

“Haha iya kak, gue udah lama banget nggak liat si Ija ini. Udah lama juga nggak ngobrol sama dia.” Kata Shella.

“Iyee Ting. Udah lama gue nggak ngobrol ma dia. Haha.”

“Mau lanjut ngobrol didalam aja kagak? Enak diruangan gue ada ACnya..” tawar Benu.

“Gue mau balik dulu ke Lab Kak. Gue lagi bantu Bu Ratna ngoreksi ujian praktikum soalnya.” Kata Shella.

“Eh yaudah gue ikut lo ya Shel. Gue mau ketemu Bu Ratna. Hehe. ntar gue balik lagi kemari ya Ting.” Kata gue.

Gue kemudian jalan bareng sama Shella. Lab Benu sama Lab gue nggak terlalu jauh, tapi lab gue ada di bagian belakang gedung yang menghadap ke kolam fakultas gue. gue dan Shella menuju ke ruangan Bu Ratna yang ada dibagian depan gedung fakultas, di lantai yang sama dengan Lab Benu.

“Assalamualaikum Bu Ratna.” Kata gue.

“Waalaikumsalam. Waaah. Ijaaa. Ya Allah sempet ya kamu kesini. Gimana kabarmu Ja?” Kata Bu Ratna

“Alhamdulillah baik Bu. Ibu gimana? Sehat-sehat kan ya Bu?” kata gue.

“Wah aku sih sehat dong. Kan selalu olahraga dan giat minum jamu resep turun temurun dari keluarga.” Kata Bu Ratna Sumringah.

Bu Ratna, salah satu dosen senior yang aslinya kalau ngajar jutek banget tapi enak dan mudah dimengerti. Beliau selalu memperhatikan kebersihan dan kerapihan. Apalagi kalau praktikum lab gue sedang berlangsung. Beliau sangat hobi untuk nendang-nendangin sepatu mahasiswa yang sedang praktikum kalau kelihatan berantakan, padahal udah ada rak sepatu didepan lab. Berantakan dikit pasti langsung ditendang-tendangin sampai jatuh kelantai dasar.

Bu Ratna juga suka membahasakan dirinya dengan Aku, daripada saya. Katanya biar lebih akrab dengan mahasiswa.
Kebetulan beliau adalah dosen pengampu mata kuliah lab gue. Gue sangat dekat dengan Bu Ratna karena gue sempat menjadi asistennya untuk praktikum dan sempat menjadi koordinator asisten yang otomatis selalu banyak berinteraksi dengan beliau.

Awalnya Bu Ratna kurang suka dengan gue karena penampilan gue yang dulunya gondrong, pakai celana jeans sobek-sobek dan pakai kaos doang. Tapi setelah gue jelaskan bahkan sempat adu argumen, gue tetap diterima dengan alasan gue yang masuk akal, salah satunya adalah “Kecerdasan mahasiswa tidak serta merta berbanding lurus dengan penampilannya. Yang rapi tidak otomatis cerdas Bu.” Hahaha. Hanya gue yang boleh berantakan dimata Bu Ratna, mahasiswa lain nggak ada yang boleh. Mungkin sampai beliau pensiun, aturan tentang kebersihan dan kerapihan hanya bisa dilanggar dan dilegalkan untuk gue.

Gue, Bu Ratna dan Shella terlibat dalam obrolan ringan yang hangat. Bu Ratna udah kayak ibu gue sendiri dikampus ini. Sangat mengayomi. Dia juga sering memberikan gue keringanan dalam urusan perkuliahan karena gue sering membuktikan kalau ketika gue absen tidak berarti gue ketinggalan pelajaran. Dan itu gue buktikan ketika ujian. Hehe. akhirnya gue malah membantu ngoreksi ujian praktikum angkatan bawahnya Dee, yang saat itu sedang dalam masa ospek.

“Assalamualaikum.” Dee mengetuk pintu ruangan Bu Ratna.

“Waalaikumsalam. Eh, siapa namamu nak? Desty kan ya?” kata Bu Ratna.

“Iya ibu. Saya mau cari Kak Ija Bu.” Kata Dee.

“Ada apa kamu cari anakku, Desty?” kata Bu Ratna.

Dee hanya tersenyum. Bu Ratna dan Shella terdiam sejenak dan kemudian melempar pandangan ke gue. lalu gue tersenyum ke mereka.

“Ooooooh. I See. Kamu pacaran sama anakku?” kata Bu Ratna.

“Hehehe. Begitulah bu.” Kata gue.

“Wahahaha, kok bisa aja lo Ja nyari adik kelas kita. Mana beda 3 tahun lagi.” Kata Shella.

“Yah namanya rejeki nggak kemana Shel. Haha.”

“Wah, semoga langgeng ya. kalian kalau masih satu kampus bisa jadi pasangan beauty-some loh. Kayak dulu kamu sama…….”

“Buuu……” gue memotong. Bu Ratna emang suka keceplosan alias spoiler.

“Hehe. maaf ya Ja.” kata Bu Ratna.

“Kayak dia sama Kak Kathy kan Bu maksudnya? Aku udah tau kok bu. Hehehe.” Kata Dee.

“Atuhlaaaah….” Kata gue males.

Lalu Dee bergabung didalam obrolan ini, yang intinya ngebongkar kelakuan gue selama dikampus, yang mereka tau, sampai akhirnya perut kami keroncongan tanda minta diberi asupan.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
profile picture
deawijaya13
kaskus holic
Horeeee updatedddd
profile picture
Martincorp
kaskus addict
Ane bener2 iri nih sama bang ija yang selalu dikelilingi cewek2 Cakep yg baik hati dan tidak freak... emoticon-Matabelo

Oiya, ane jg sm kayak bang ija, gak penah ngalamin KKN selama kuliah, seandainya dulu ada KKN, mungkin skrg ane bikin trit cerita "KKN di desa yang dipenuhi Gadis Cantik, Milf dan loli" emoticon-Ngakak
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di